Anda di halaman 1dari 11

6

BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Mikrobiologi Air

Air menyediakan habitat bagi berbagai jenis mikroorganisme. Bakteri

yang paling umum ditemukan dalam air alami antara lain : bakteri belerang,

bakteri besi, bakteri spiral yang hidup bebas, jenis dan tertentu yang berpigmen

dan tidak berpigmen, serta beberapa pembentuk spora. Karena air berhubungan

dengan tanah, biasanya terdapat banyak penghuni tanah yang umum, seperti

jenis-jenis bacillus, akan tetapi yang penting untuk diingat tentang flora normal

ialah mikroorganisme patogen tidak menyusun bagian flora normal di daerah

manapun, oleh karena itu air menjadi berbahaya jika terkontaminasi dari sumber

luar yang mengandung mikroorganisme patogen (Volk & Wheeler, 1993).

Jumlah dan jenis mikroorganisme yang terdapat di dalam air bervariasi,

tergantung dari berbagai faktor. Menurut Volk dan Wheeler (1993), faktor-faktor

tersebut adalah sebagai berikut :

1. Sumber air

Jumlah dan jenis mikroorganisme di dalam air dipengaruhi oleh sumber air

tersebut, misalnya air atmosfer (air hujan, salju), air permukaan (danau,

sungai), air tanah (sumur, mata air) air tergenang, air laut dan sebagainya.

2. Komponen Nutrien dalam air

Air sering mengandung komponen-komponen yang diperlukan oleh spesies

mikroorganisme tertentu, seperti bahan-bahan organik, mineral.


7

3. Komponen Beracun

Komponen beracun yang terdapat dalam air mempengaruhi jumlah dan jenis

mikroorganisme di dalam air tersebut. Selain itu komponen-komponen

metalik, asam-asam organik maupun anorganik, alkohol, antibiotik, klorin

dan sebagainya. Dapat membunh mikroorganisme dan kehidupan lainnya di

dalam air.

4. Organisme Air

Adanya organisme lain di dalam air dapat mempengaruhi jumlah dan jenis

mikroorganisme air. Adanya protozoa dan bakteriofage mengurangi jumlah

bakteri di dalam air karena kedua organisme tersebut dapat membunuh

bakteri. Selain itu beberapa bakteri air memproduksi antibiotik yang dapat

membunuh bakteri lainnya.

5. Faktor Fisik

Jumlah dan jenis mikroorganisme juga dipengaruhi oleh faktor fisik air

seperti suhu, pH, tekanan osmotik, tekanan hidrostatik, aerasi dan penetrasi

sinar matahari serta jenis polutan.

B. Penyakit yang Ditularkan Melalui Air

Potpaz (2000) menuliskan dalam laporan komisi kesehatan dan

lingkungan World Health Organization (WHO) (tanpa tanggal), WHO

menggambarkan tiga mekanisme transmisi water borne disease, ada tiga cara

transmisi, yaitu :
8

a. Water Borne Disease

Muncul dari kontaminasi air oleh tinja manusia dan hewan atau urin yang

terinfeksi virus atau bakteri patogen, dimana bakteri patogen ditransmisikan

secara langsung ketika air diminum atau digunakan untuk mempersiapkan

makanan.

b. Water Washed Disease

Air bekas dan susah didapat membuat mencuci dan kebersihan air perorangan

buruk dan tidak frekuen. Hal ini menyebabkan prevalensi penyakit diare dan

penyakit kulit menular serta infeksi mata.

c. Water Based Disease

Air merupakan habitat untuk organisme host intermediate dimana beberapa

parasit melalui sebagian siklus hidup mereka. Melalui organisme ini sejumlah

patogen dapat menginfeksi manusia.

C. Pemeriksaan Bakteriologi Air

Standarisasi bakteriologis air ditentukan dengan perkiraan terdekat

jumlah kuman golongan coli dalam setiap 100 ml contoh air, disebut dengan

istilah Most Probable Number of Coliform Organisme (MPN) (Ryadi, 1984).

MPN atau jumlah perkiraan terdekat (JPT) bakteri coliform per 100 ml air

digunakan sebagai indikator kelompok mikrobiologis.


9

Suatu bakteri dapat dijadikan indikator bagi kelompok lain yang patogen

berdasarkan atas berapa hal sebagai berikut ;

a. Tidak patogen

b. Berada di air apabila kuman patogen yang ada atau mungkin sekali ada, dan

dalam jumlah yang jauh lebih besar

c. Jumlah kuman indikator harus dapat dikorelasikan dengan probabilitas

adanya kuman patogen

d. Mudah dan cepat dapat dikenali dengan cara laboratorium yang sederhana

e. Harus dapat dikuantifikasi dalam tes laboratorium

f. Harus tidak berkembang biak apabila kuman patogen tidak berkembang biak.

g. Dapat bertahan lebih lama daripada kuman patogen di dalam lingkungan yang

tidak menguntungkan.

h. Terdapat dalam air tercemar dan tidak terdapat dalam air yang tidak tercemar

(J Pelczar dkk, 1988).

Berbagai metode untuk mengidentifikasi bakteri patogen diperairan telah

banyak dikembangkan. akan tetapi, penentuan semua jenis bakteri patogen ini

membutuhkan waktu dan biaya yang besar, sehingga penentuan grup bakteri

coliform dianggap sudah cukup baik dalam menilai tingkat higienitas perairan.

Penentuan bakteri coliform total sebagai indikator adanya pencemaran

tinja pertama kali dilakukan di Amerika Serikat pada tahun 1914. Bakteri

coliform total meliputi semua jenis bakteri aerobik, anaerobik fakultatif dan

bakteri bentuk batang (ror-shape) yang dapat memfermentasi laktosa dan

menghasilkan gas dalam waktu 48 jam pada suhu 35ºC (Hefni Effendi, 2003).
10

Ragam Laktosa Broth (LB) yang digunakan ada 3 macam, yaitu :

1. Ragam I : 5 x 10 ml, 1 x 1 ml, 1 x 0,1 ml.

Untuk spesimen yang sudah diolah atau yang angka kumannya diperkirakan

rendah

2. Ragam II : 5 x 10 ml, 5 x 1 ml, 5 x 0,1 ml.

Untuk spesimen yang belum diolah atau yang angka kumannya diperkirakan

tinggi. Kalau perlu penanaman dapat dilanjutkan dengan 5 x 0,01 ml dan

seterusnya. Yang biasa diperiksa dengan cara ini ialah sumur gali, air mata air,

air hujan, air sungai, air kolam renang, dan sebagainya.

3. Ragam III : 3 x 10 ml, 3 x 1 ml, 3 x 0,1 ml

Adalah ragam alternatif untuk ragam II, apabila jumlah tabung terbatas,

begitu pula persediaan media juga terbatas. Cara pelaksanaannya seperti

ragam II (Soemarno, 2000).

D. Coliform

1. Pengertian

Coliform adalah grup bakteri yang terdapat di faeces, tanah, air,

sayuran, dan bahan lainnya. Bakteri ini merupakan penghuni biasa (flora

normal) dalam usus besar manusia dan hewan berdarah panas, sehingga

keberadaannya di luar tubuh bersamaan dengan tinja yang dikeluarkan host

(Sudarmono & Chatim, 1994). Yang termasuk bakteri Coliform adalah E.coli,

Enterobacter Sp, Klebsiella Sp, Shigella sonnei, Pasteurella multocida,

Pseudomonas Sp dan Vibrio Sp. (Pusdiknakes, 1989).


11

Bakteri coliform memiliki ciri morfologi sebagai bakteri yang

berbentuk batang, baik aerob maupun anaerob, gram negatif, tidak

membentuk spora, dapat memfermentasi laktosa dan membentuk gas dalam

waktu 48 jam pada suhu 37ºC (Volk dan Wheeler, 1993). Bakteri coliform

total terdiri atas Escherichia, Citrobacter, Klebsiella, dan Enterobacter (Hefni

Effendi, 2003).

2. Metabolisme Coliform

Metabolisme bakteri coliform adalah dengan merubah karbohidrat

dalam bentuk glukosa menjadi 6 fosfoglikonat, kemudian diubah menjadi

ketodeoksiglukonat yang kemudian diubah menjadi piruvat dan gliseraldehid.

Melalui proses fermentasi, piruvat dapat dipecah menjadi alkohol, asam

laktat, asam butirat, asam propionate, asetat dan sebagainya. Dalam pH 6,

enzim hidrogenliase format memecah asam format menjadi CO2 dan H2 atau

proses pembentukan gas (Sudarmono dan Chatim, 1994).

E. Kolam Renang

1. Pengertian

Kolam renang adalah badan air yang berada dalam jumlah terbatas

dalam suatu wadah penampung. Airnya pada umumnya diklorinasi untuk

mencegah perkembangbiakan bibit penyakit (Netherland Goverment,2000)

Kualitas air kolam tergantung pada efektifitas desinfeksi, jumlah orang yang
12

mandi dikolam pada suatu waktu dan total pemandi perhari (Green berg, et

al,1980).

Menurut Permenkes Nomor 416/MENKES/PER/IX/1990 yang

dimaksud air kolam renang adalah air di dalam kolam renang yang digunakan

untuk olah raga dan kualitasnya harus memenuhi syarat kesehatan.

Kualitas air kolam renang harus dijaga, karena air kolam renang yang

tidak memenuhi syarat dapat menimbulkan berbagai penyakit dan gangguan

kesehatan lainnya terhadap perenang (Departemen Kesehatan RI, 1990).

2. Jenis Kolam Renang

Menurut Pedoman Pengawasan Sanitasi Tempat-tempat Umum

(Suparlan, 1988), untuk mempertahankan kualitas air kolam dapat dibedakan

tiga jenis kolam renang berdasarkan pengolahan airnya, yaitu :

a. Fill-draw type

Air yang sudah nampak kotor diganti seluruhnya dengan air yang baru

dan bersih. Penentuan kotor tidaknya ditetapkan dari keadaan fisiknya

(kelihatan keruh, kotor) atau dari jumlah orang yang mandi di dalamnya.

Tipe ini adalah tipe yang kurang baik.

b. Flow-through type

Air kolam tersebut mengalir terus-menerus setiap waktu sehingga

senantiasa airnya tidak akan keruh karena selalu diganti dengan yang

baru. Tipe ini dianggap terbaik, tetapi membutuhkan air yang banyak.
13

c. Recirculating type

Air yang telah dikotori disaring dalam filter-filter dan dipompa kembali

ke dalam kolam pemandian yang setelah bersih dan setelah didesinfektir

melalui saringan Diatomasceus.

3. Syarat-syarat Kolam Renang

a. Out Door Pool

Out Door Pool atau kolam renang terbuka harus memenuhi syarat sebagai

berikut :

1) Harus terletak pada tempat yang tinggi dan kering

2) Harus terletak pada tempat-tempat yang aman dan bebas dari

kemungkinan bahaya kecelakaan dari pengunjung.

3) Sebaiknya jauh dari pohon-pohonan dengan maksud : kolam dapat

langsung disinari oleh matahari, mengurangi kecelakaan yang

disebabkan robohnya pohon-pohon, menghindari terjadinya

pengotoran-pengotoran daun-daunan, cabang-cabang dan ranting-

ranting yang jatuh pada kolam.

4) Jauh dari tempat yang ramai

5) Terletak dekat tempat-tempat bertamasya lainnya yang telah

mempunyai fasilitas-fasilitas tempat parkir, dan tempat bermain anak.

b. In Door Pool

Dibangun menurut arsitektur yang baik, sehingga dijamin keamanan dan

kesehatan pemakai.
14

c. Konstruksi

Konstruksi air sesuai dengan syarat-syarat, misalnya :

1) Adanya bak-bak klor untuk mendesinfeksi kaki para perenang dan

pancuran untuk membersihkan badan sebelum masuk kolam.

2) Jalan masuk ke kolam harus terletak pada bagian kolam yang dangkal

3) Harus memenuhi syarat bakteriologis dan kimia

4) Jumlah air harus cukup memenuhi kebutuhan

5) Harus mempunyai instalasi-instalasi pengolahan air, seperti filter, alat

pembubuk kimia (Suparlan, 1988)

d. Syarat Kualitas air kolam renang secara bakteriologis

Menurut Permenkes No.416/Menkes/PER/IX/1990, nilai maksimum

coliform total per 100 ml adalah nol (0) dan jumlah kuman 200 koloni per

1 ml air.

4. Pengelolaan kolam renang

Pengelolaan kolam renang umum memiliki tanggung jawab untuk

memastikan bahwa fasilitas yang mereka sediakan aman dan higienis. Kolam

harus kering dan dibersihkan pada selang waktu yang teratur dan airnya harus

diberi perlakuan secara kimia dengan pemberian klor pada konsentrasi yang

diperlukan untuk keamanan kesehatan (Volk dan Wheeler, 1993).

5. Penyakit yang berhubungan dengan kolam renang

Adapun penyakit-penyakit yang berhubungan dengan kolam renang

yang terpenting ialah penyakit kulit, seperti Scabies, impetigo, dermatitis,

eczeemringworm dll ; penyakit infeksi mata atau conjunctivitis, telinga,


15

hidung (sinusitis), tenggorokan dan lain-lain penyakit jalan pernafasan

seperti pilek, Typhus abdominitis-paratypus ; Disentri amuba dan disentri

baciler ; Gastroenteritis ; swimmer-itch atau yang disebut penyakit “rang” ;

poliomyelitis ; leptospirosis kecelakaan dilokasi. Gangguan yang lebih umum

dialami perenang adalah infeksi pada mata karena kadar klor dalam air yang

terlalu tinggi dan pH yang terlalu rendah (asam). (Suparlan,1988).

F. Landasan Teori

Kolam renang telah disebutkan sebagai sumber dari Water Borne Disease.

Dalam rangka penjagaan keamanan kesehatan pengawasan kualitas air kolam

renang harus dicek secara regular. Menurut rekomendasi WHO (2000) parameter-

parameter berikut harus dimonitor secara regular antara lain adalah residu

desinfektan dan Escherichia coli (coliform) (Hendy, 1995).

Pengendalian bakteri asal air kolam renang tidak cukup hanya dengan

memberi fasilitas air kolam renang yang sehat, karena hygiene perenang juga ikut

menentukan insidensi infeksi bakteri asal air ini (Slamet, 1994).

Untuk memastikan keefektifan pengelolaan dan perawatan air kolam,

maka dapat dilakukan analisa bakteriologik dengan memantau nilai MPN

coliform (Netherland Government, 2000). Nilai MPN coliform ini digunakan

untuk memonitor kontaminasi dari pengguna kolam, hewan, peliharaan, rodent,

dan masuknya air hujan (Greenberg et al, 1980).


16

Metode MPN coliform yang digunakan peneliti adalah ragam 555, dimana

air kolam renang pemandian air panas Tanuhi tanpa pengolahan terlebih dahulu

dan diperkirakan angka kumannya tinggi.