Anda di halaman 1dari 56

KONSEP PERAWATAN KELOMPOK

RENTAN SAAT BENCANA


Diajurkan untuk menyelesaikan tugas mata kuliah Keperawatan Gawat Darurat Dan
Menajemen Bencana

DISUSUN OLEH :

KELOMPOK 7

Tingkat III C

1. Gilda Sharasati 34403014103


2. Grissly Isnaini 34403014104
3. Karina Febianti 34403014107
4. Sifa Fauziah 34403014126
5. Tami Sarasmita 34403014129

AKADEMI KEPERAWATAN JAYAKARTA


DINAS KESEHATAN PROVINSI DKI JAKARTA
2017

1|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


KATA PENGANTAR

Puji syukur kepada Allah swt atas karunia, hidayah dan nikmatnya kami dapat

menyelesaikan makalah “Konsep Perawatan Kelompok Rentan Saat Bencana

“Penulisan makalah ini bertujuan untuk memenuhi salah satu tugas yang diberikan

dosen mata kuliah Keperawatan Gawat darurat dan Bencana, tak lupa juga kami

mengucapkan terima kasih kepada pengajar mata kuliah tersebut atas bimbingan dan

arahan dalam penulisan makalah ini. Kami juga berterima kasih kepada teman-teman

mahasiswa yang telah mendukung sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini.

Kami berharap dengan membaca makalah ini dapat memberi manfaat bagi kita

semua. Semoga makalah ini dapat menambah wawasan kita. Makalah ini masih jauh

dari kata sempurna maka kami mengharapkan kritik dan saran dari pembaca demi

perbaikan menuju arah yang lebih baik.

Demikian makalah ini kami buat semoga makalah ini dapat bermanfaat bagi kami

dan yang membacanya sehingga menambah wawasan dan pengetahuan tentang mata

kuliah ini.

Jakarta , 14 Maret 2017

Penyusun

Kelompok

2|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................... i


DAFTAR ISI ........................................................................................................................ ii
BAB I PENDAHULUAN .................................................................................................... 1
A. Latar Belakang ....................................................................................... 1
B. Rumusan Masalah .................................................................................. 1
C. Tujuan .................................................................................................... 2
BAB II TINJAUAN TEORI ................................................................................................ 3
A. Identifikasi Kelompok Beresiko ............................................................ 3
B. Faktor Resiko dan Pelindung pada Kelompok Rentan ......................... 10
C. Efek dari Bencana ................................................................................ 10
D. Tindakan Yang Sesuai Untuk Kelompok Berisiko .............................. 11
E. Sumber Daya Yang Tersedia Di Lingkungan Untuk
Kebutuhan Kelompok Beresiko ........................................................... 16
F. Lingkungan Yang Sesuai Dengan Kebutuhan Kelompok Berisiko ..... 17
G. Kegiatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Untuk Masyarakat ................ 18
H. Pelayanan kesehatan di pengungsian ................................................... 15
BAB III PEMBAHASAN KASUS ..................................................................................... 37
BAB IV PENUTUP ........................................................................................................... 50
A. Simpulan ............................................................................................ 50
DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................ 52

3|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Kelompok rentan dalam situasi bencana adalah individu atau kelompok yang
terdampak lebih berat diakibatkan adanya kekurangan dan kelemahan yang
dimilikinya yang pada saat bencana terjadi menjadi beresiko lebih besar
meliputi bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung /
menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia(UU No
24/2007,55: 2).

Indonesia merupakan negara yang sangat sering didera bencana alam, seperti
gempa tektonik yang diikuti gelombang tsunami, erupsi gunung merapi, tanah
longsor, banjir, angin putting beliung, dan bencana alam lainnya. Akibat dari
terjadinya bencana alam tersebut, telah menyisakan banyak penderitaan bagi
masyarakat di daerah yang terkena bencana bahkan masyarakat lainnya.
Berdasarkan rekapitulasi data kejadian bencana dari Direktorat Perlindungan
Sosial Korban Bencana Alam Kementerian Sosial RI pada bulan Januari
sampai dengan Februari 2010 tercatat jumlah korban bencana yang meninggal
dunia/hilang sebanyak 75 jiwa, sementara yang menderita karena kehilangan
sanak saudara dan harta benda tercatat sebanyak 22.162 Kepala Keluargadan
101.893 jiwa.Disisi lain dalam situasi bencana, kelompok rentan menjadi
kelompok yang terdampak lebih besar dan berat karena kekurangan dan
kelemahannya, seperti bayi, balita, dan anak-anak; ibu yang sedang
mengandung / menyusui; penyandang cacat (disabilitas); dan orang lanjut usia.

B. Rumusan masalah
Apa yang diketahui tentang konsep perawatan kelompok rentan saat bencana?

4|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


C. Tujuan
Untuk membantu mahasiswa keperawatan untuk menentukan kelompok
rentan saat bencana.

5|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


BAB II
TINJAUAN TEORI

A. Identifikasi Kelompok Beresiko


Kelompok rentan sering di sebut "kelompok dengan kebutuhan khusus",
"kelompok yang beresiko", "beresiko karena kondisi fisik, psikologis, atau
kesehatan social" setelah bencana. Banyak upaya yang telah dilakukan dalam
persiapan menghadapi bencana, namun jarang yang memperhatikan
kebutuhan kelompok rentan, adapun orang yang disebut sebagai kelompok
rentan adalah :
1. Orang dengan kebutuhan khusus baik secara fisik ataupun psikologis
2. Wanita
3. Anak-anak
4. Orang tua
5. Orang dipenjara
6. SES (Social Economic Status) Minoritas dan orang yang mengalami
kendala bahasa.

Individu yang mengalami bencana bereaksi terhadap bencana sesuai dengan


caranya masing-masing dan antara satu individu dengan yang lainnya sangat
berbeda. Setiap bencana memiliki dampak demografik tertentu, budaya, dan
riwayat kejadian sebelumnya.

Undang-undang No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana


mengartikan bencana sebagai suatu peristiwa luar biasa yang mengganggu dan
mengancam kehidupan dan penghidupan yang dapat disebabkan oleh alam
ataupun manusia, ataupun keduanya. Untuk menurunkan dampak yang
ditimbulkan akibat bencana, dibutuhkan berbagai dukungan termasuk
keterlibatan perawat yang merupakan petugas kesehatan yang jumlahnya

6|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


terbanyak didunia dan salah satu petugas kesehatan yang berada dilini
terdepan saat bencana yang terjadi(Power &daily,2010). Peran perawat dapat
dimulai sejak tahap mitigasi (pencegahan), tanggap darurat bencana dalam
fase prehospital dan hospital, hingga tahap recovery.

Terdapat individu atau kelompok-kelompok tertentu dalam masyarakat yang


lebih rentan terhadap efek lanjut dari kejadian bencana yang memerlukan
perhatian dan penanganan khusus untuk mencegah kondisi yang lebih buruk
pasca bencana. Kelompok-kelompok ini diantaranya: anak-anak, perempuan
terutama ibu hamil dan meyusui, lansia, individu-individu yang menderita
penyakit kronis dan kecacatan.identifikasi dan pemetaan kelompok beresiko
melalui pengumpulan informasi dan data demografi akan mempermudah
perencanaan tindakan kesiap siagaan dalam menghadapi kejadian bencana
dimasyarakat (Morro.1999, powers &daily, 2010; world health organization
(WHO) & International Council of Nursing(ICN), 2009) :

1. Bayi dan anak-anak


Bayi dan anak-anak sering menjadi korban dalam semua tipe bencana
karena ketidakmampuan mereka melarikan diri dari daerah bahaya. Ketika
Pakistan diguncang gempa oktober 2005, sekitar 16.000 anak meninggal
karena gedung sekolah mereka runtuh. Tanah longsor yang terjadi diLeyte,
Filipina, beberapa tahun lalu mengubur lebih dari 200 anak sekolah yang
tengah belajar didalam kelas (Indriyani,2014). Diperkirakan sekitar 70%
dari semua kematian akibat bencana adalah anak-anak baik itu pada
bencana alam maupun bencana yang disebabkan oleh manusia
(Power&Daily, 2010).

Selain menjadi korban, anak-anak juga rentan terpisah dari orang tua atau
wali mereka saat bencana terjadi. Diperkirakan sekitar 35.000 anak-anak
Indonesia kehilangan satu atau kedua orang tua mereka saat kejadian
tsunami 2004. Terdapat juga laporan adanya perdagangan anak(child-

7|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


traffcking) yang dialami oleh anak-anak yang kehilangan orang tua/wali
(powers&daily,2010).
Pasca bencana, anak-anak beresiko mengalami masalah-masalah
kesehatan jangka pendek dan jangka panjang baik fisik dan psikologis
karena malnutrisi, penyakit-penyakit infeksi, kurangnya skill bertahan
hidup dan komunikasi, ketidakmampuan melindungi diri sendiri,
kurangnya kekuatan fisik, imunitas dan kemampuan koping. Kondisi
tersebut dapat mengancam nyawa jika tidak diidentifikasi dan ditangani
dengan segera oleh petugas kesehatan (powes&daily 2010;
Veenema,2007).

2. Perempuan
Diskriminasi terhadap perempuan dalam kondisi bencana telah menjadi
isu viral yang memerlukan perhatian dan penanganan khusus. Oleh karena
itu, intervensi-intervensi kemanusiaan dalam penanganan bencana yang
memperhatikan standar internasional perlindungan hak asasi manusia
perlu direncanakan dalam semua stase penanganan bencana.
(Klynman,kouppari,& mukhier,2007).

Studi kasus bencana alam yang dilakukan di Bangladesh mendapati bahwa


pola kematian akibat bencana dipengaruhi oleh relasi gender yang ada,
meski tidak selalu konsisten. Pola ini menempatkan perempuan, terlebih
bagi yang hamil, menyusui dan lansia lebih beresiko karena keterbatasan
mobilitas secara fisik dalam situasi darurat(Enarson,2000; Indiriyani,2014;
Klynman et al,2007).

Laopran PBB pada tahun 2001 yang berjudul “Women Disaster Reduction
and Sustainable Development” menyebutkan bahwa perempuan menerima
dampak bencana yang lebih besar. Dari 120 ribu orang yang meninggal
karena badai siklon diBangladesh tahun 1991, korban dari kaum

8|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


perempuan menempati jumlah terbesar. Hal ini disebabkan karena norma
kultural membatasi akses mereka terhadap peringatan bahaya dan akses
ketempat perlindungan (Fatimah,2009 dikutip dalam Indriyani,2014).
3. Lansia
Lansia merupakan salah saat kelompok yang rentan secara fisik, mental
dan ekonomik saat dan setelah bencana yang disebabkan karena
penurunan kemampuan mobilitas fisik dan atau karena mengalami
masalah kesehatan kronis (Klynman et al,2007). Di Amerika serikat, lebih
dari 50% korban kematian akibat dari badai Katrina adalah lansia dan
diperkirakan sekitar 1.300 lansia yang hidup mandiri sebelum kejadian
badai tersebut harus dirawat dipanti jompo setelah bencana alam itu terjadi
(Powers & daily,2010).

Pasca bencana, kebutuhan lansia sering terabaikan dan mengalami


diskriminasi, contohnya dalam hal distribusi kebutuhan hidup dan
finansial pasca bencana. Hak-hak dan kebutuhan spesifik lansia kadang-
kadang terlupakan yang dapat memperparah masalah kesehatan dan
kondisi depresi pada lansia tersebut (Klynmman et al,2007).

4. Indvidu dengan keterbatan fisik (kecacatan) dan penyakit kronis


Menurut WHO, terdapat lebih dari 600 juta orang yang menderita
kecacatan diseluruh dunia atau mewakili sekitar 7-10% dari populasi
global. 80% diantaranya tinggal dinegara berkembang. Angka ini terus
meningkat seiring dengan peningkatan jumlah penduduk, angka harapan
hidup dan kemajuan d bidang kesehatan (Klynman et al, 2007).

Di Amerika serikat, setelah kejadian banjir di grand forks, north Dakota


tahun 1997, barulah dibangun rumah perlindungan yang dapat diakses
oleh korban bencana yang menggunakan kursi roda. Pada saat terjadi
bencana kebakaran di California, tahun 2003, banyak individu-individu

9|Konsep perawatan kelompok rentan saat bencana


cacat pendengaran tidak memahami level bahaya bencana tersebut karena
kurangnya informasi yang bisa mereka pahami (powers &daily,2010).

Orang cacat, karena keterbatasan fisik yang mereka alami beresiko sangat
rentan saat terjadi bencana,Namun mereka sering mengalami diskriminasi
dimasyarakat dan tidak dilibatkan pada semua level kesiap-siagaan,
mitigasi dan intervensi dan penanganan bencana (Klynman et.al, 2007).

5. Narapidana yang dipenjara


Karena status mereka sebagai tahanan, sehingga mereka sangat tergantung
dengan pemerintah sebagai pemegang otoritas. Narapidana tidak dapat
melakukan evakuasi sendiri, mencari pertolongan medis sendiri, ataupun
mencari makanan ataupun tempat penampungan sendiri. Lebih lanjut,
dalam situasi bencana yang sangat besar, kalau narapidana melakukan
semuanya sendiri ada kemungkinan penyerangan yang dilakukan oleh
sesama anggota narapida ataupun penyerangan kepada masyarakat.

6. Social Economic Status (SES) minoritas dan orang yang mengalami


kendala bahasa
Kelompok dengan SES rendah yang tidak memiliki asuransi untuk
mengcover kondisi mereka setelah bencana sehingga membuat beban
psikologis menjadi lebih berat. Kelompok dengan kendala bahasa juga
sangat susah dalam mengkomunikasikan hal-hal apa yang mereka
butuhkan sehingga relawan bisa membantu secara cepat dan
tepat. Keluarga yang sebelumnya sejahtera dan mengalami kebangkrutan
karena kejadian bencana dan menerima bantuan dari orang lain juga
rentan untuk mengalami stress akibat bencana.

7. Penduduk asli setempat (indigenous people)

10 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Indigenous people termasuk kelompok rentan karena status mereka
sebagai orang pinggiran yang termarginalkan, kondisi fisik dan rumah
yang tidak baik, problem terkait dengan kehilangan budaya dan kesedihan
yang dapat menyebabkan stress dan trauma. Mereka juga mungkin akan
dipindahkan dari “tempat penting” menurut budaya mereka.

8. Pengungsi dan migran


Riset sebelumnya menunjukkan bahwa pengungsi yang berasal dari
Negara lain rentan untuk terkena PTSD ketika terjadi bencana. Namun
penelitian terbaru menunjukkan hal yang bertolak belakang bahwa PTSD
dikalangan pengungsi rendah meskipun menghadapi berbagai macam
kejadian traumatis. Hal ini karena adanya dukungan yang tepat membuat
mereka bisa settle di Negara baru mereka, dan memberikan kontribusi
terhadap perkembangan masyarakat di Negara baru mereka (Silove, 1999;
Silove et al, 1993). Jadi hanya pengungsi minoritas saja yang mengalami
hal-hal terkait dengan PTSD dan depresi.

Memahami secara utuh batasan tentang bencana dan fokus konseptual


penanggulangan bencana adalah manusia yang potensial sebagai korban,
maka 2 hal mendasar yang perlu menjadi fokus utama adalah mengenali
kelompok rentan (vulnerable group) dan meningkatkan kapasitas masyarakat
sebagai subjek penyelenggaraan penanggulangan bencana.

Kerentanan adalah keadaan atau sifat (perilaku) manusia atau masyarakat


yang menyebabkan ketidakmampuan menghadapi bahaya atau ancaman dari
potensi bencana untuk mencegah, menjinakkan, mencapai kesiapan, dan
menanggapi bahaya tertentu. Dalam undang-undang penanggulangan bencana
pasal 55 dan penjelasan pasal 26 ayat 1, disebutkan bahwa masyarakat rentan
bencana adalah anggota masyarakat yang membutuhkan bantuan karena
keadaan yang disandangnya, diantaranya bayi, balita, anak-anak, ibu hamil,

11 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
ibu menyusui, penyandang cacat dan lanjut usia. Kerentanan ini dapat
menimbulkan beragam penyebab, mencakup:

1. Kerentanan fisik
Kerentanan yang dihadapi masyarakat dalam menghadapi ancaman
bahaya tertentu, misalnya kekuatan bangunan rumah bagi masyarakat
yang tinggal didaerah rawan gempa dan tanggul pengaman banjir bagi
masyarakat didekat bantaran sungai.

2. Kerentanan ekonomi
Kemampuan ekonomi individu atau masyarakat dalam pengalokasian
sumber daya untuk pencegahan dan mitigasi serta penanggulangan
bencana. Pada umumnya masyarakat miskin atau kurang mampu lebih
rentan terhadap bahaya karena tidak punya kemampuan finansial yang
memadai untuk melakukan upaya pencegahan atau mitigasi bencana.

3. Kerentanan sosial
Kondisi sosial masyarakat dilihat dari aspek pendidikan, pengetahuan
tentang ancaman bencana dan resiko bencana serta tingkat kesehatan yang
rendah juga berpotensi meningkatkan kerentanan.

4. Kerentanan perilaku atau lingkungan


Keadaan lingkungan sekitar masyarakat tinggal. Misalnya, masyarakat
yang tinggal dilereng bukit atau lereng pegunungan rentan terhadap
ancaman bencana, tanah longsor, sedangkan masyarakat yang tinggal
didaerah sulit air akan rentang terhadap bencana kekeringan.

12 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
B. Faktor Resiko dan Pelindung pada Kelompok Rentan
Seperti yang telah dipaparkan sebelumnya mengenai faktor resiko seperti jenis
kelamin, SES, perpisahan dengan orang yang disayangi, diskriminasi dan
prejudice pada Negara baru (host country), usia, efek dari kejadian bencana,
paparan (exposure) ke bencana dan sejarah gangguan psikologi sebelumnya.
Agama, keyakinan, kepastian politik dan persiapan terhadap bencana
merupakan faktor pelindung untuk kelompok rentan.

C. Efek dari Bencana


Karakteristik yang mempengaruhi rasa trauma :
1. Rasa horror yang terjadi ketika melihat event/kejadian tersebut
2. Durasi dari bencana
3. Kejadian yang tidak diharapkan (kejadian yang tidak ada peringatannya
berdampak lebih besar pada kondisi psikologis seseorang).
4. Rasio dampak bencana, ancaman yang dilihat dari: rasio akibat bencana,
kehilangan yang diakibatkan oleh bencana pada level komunitas

13 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
5. Perubahan sosial kultur seperti kegiatan dalam keseharian, kontrol
terhadap kejadian, dukungan sosial setelah bencana
6. Simbolism dari kejadian bencana (cara memaknai kejadian antara
“kehendak Tuhan” atau “manusia”)
7. Kemampuan memanage stress
8. Akumulasi dari sebelum dan sesudah bencana, seperti kepribadian
seseorang ataupun kondisi emosi individu tersebut.

D. Tindakan Yang Sesuai Untuk Kelompok Berisiko


Untuk mengurangi dampak bencana pada individu dan kelompok-kelompok
rentan diatas, petugas-petugas yang terlibat dalam perencanaan dan
penanganan bencana perlu (Morrow, 199; Powers & Daily, 2010) :
1. Mempersiapkan peralatan- peralatan kesehatan sesuai dengan kebutuhan
kelompok-kelompok rentan tersebut contohnya : ventilator untuk anak,
alat bantu untuk individu yang cacat, alat-alat bantuan persalinan, dsb.
2. Melakukan pemetaan kelompok-kelompok rentan
3. Merencanakan intervensi-intervensi untuk mengatasi hambatan informasi
dan komunikasi.
4. Menyediakan transportasi dan rumah penampungan (shelter) yang dapat
diakses.
5. Menyediakan pusat bencana yang dapat diakses.

Adapun tindakan-tindakan spesifik untuk kelompok-kelompok rentan tersebut


akan diuraikan pada pembahasan berikut :

1. Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada bayi dan anak
a. Pra-bencana
1) Mensosialisasikan dan melibatkan anak-anak dalam stimulasi
bencana kebakaran atau gempa bumi
2) Mempersiapkan fasilitas kesehatan yang khusus untuk bayi dan
anak pada saat bencana

14 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
3) Perlunya diadakan pelatihan-pelatihan penanganan bencana bagi
petugas kesehatan khusus untuk menangani kelompok-kelompok
berisiko, contohnya Pediatric Disaster Life Support (PDLS).

b. Saat bencana
1) Mengintegrasikan pertimbangan pediatric dalam sistem triase
standar yang digunakan saat bencana.
2) Lakukan pertolongan kegawatdaruratan kepada bayi dan anak
sesuai dengan mempertimbangkan aspek tumbuh kembangnya,
misalnya menggunakan alat dan bahan khusus untuk anak dan
tidak disamakan dengan orang dewasa.
3) Selama proses evakuasi, transportasi, sheltring dan dalam
pemberian pelayanan fasilitas kesehatan, hindari memisahkan anak
dari orang tua, keluarga atau wali mereka.

c. Pasca bencana
1) Usahakan kegiatan rutin sehari-hari dapat dilakukan sesegera
mungkin contohnya : waktu makan dan personal hygine teratur,
tidur, bermain dan sekolah.
2) Monitor status nutrisi anak dengan pengukuran antropometri
3) Dukung dan berikan semangat kepada orang tua
4) Dukung ibu-ibu menyusui dengan dukungan nutrisi adekuat, cairan
dan emosional
5) Minta bantuan dari ahli kesehatan anak yang mungkin ada dilokasi
evakuasi sebagai voluntir untuk mencegah, mengidentifikasi,
mengurangi risiko kejadian depresi pada anak pasca bencana
6) Identifikasi anak yang kehilangan orang tua dan sediakan penjaga
yang terpercaya serta lingkungan yang aman untuk mereka

15 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
7) Berkonsultasi dengan pemerintah atau NGO yang bekerja dalam
pelacakan korban bencana sebagai usaha untuk mempertemukan
anaka dengan orang tua, keluarganya.
8) Libatkan agensi-agensi perlindungan anak.

2. Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada ibu hamil dan
menyusui
a. Pra-bencana
1) Melibatkan perempuan dalam penyusunan perencanaan
penanganan bencana (disaster plan)
2) Mengidentifikasi ibu hamil dan ibu menyusui sebagai kelompok
rentan
3) Membuat disaster plans dirumah yang disosialisasikan kepada
seluruh anggota keluarga
4) Melibatkan petugas-petugas kesehatan reproduktif dalam mitigasi
bencana.

b. Saat bencana
1) Melakukan usaha/ bantuan penyelamatan yang tidak meningkatkan
risiko kerentanan ibu hamil dan ibu menyusui, misalnya :
meminimalkan guncangan pada saat melakukan mobilisasi dan
transportasi karena dapat meransang kontraksi pada ibu hamil,
tidak memisahkan bayi dari ibunya saat proses evakuasi.
2) Petugas bencana harus memiliki kapasitas untuk menolong korban
ibu hamil dan ibu menyusui.

c. Pasca bencana
1) Dukungan ibu-ibu menyusui dengan dukungan nutrisi adekuat,
cairan dan emosional

16 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
2) Melibatkan petugas-petugas kesehatan reproduktif dirumah
penampungan korban bencana untuk menyediakan jasa konseling
dan pemeriksaan kesehatan untuk ibu hamil dan menyusui.
3) Melibatkan petugas konseling untuk mencegah, mengidentifikasi,
mengurangi risiko kejadian depresi pasca bencana.

3. Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada lansia


a. Pra- bencana
1) Libatkan lansia dalam pengambilan keputusan dan sosialisasi
disaster plan dirumah.
2) Mempertimbangkan kebutuhan lansia dalam perencanaan
penanganan bencana.

b. Saat bencana
1) Melakukan usaha/ bantuan penyelamatan yang tidak meningkatkan
risiko kerentanan lansia, misalnya meminimalkan
guncangan/trauma pada saat melakukan mobilisasi dan transportasi
untuk menghindari trauma sekunder.
2) Identifikasi lansia dengan babtuan/ kebutuhan khusus contohnya :
kursi roda, tongkat,dll.

c. Pasca Bencana
Program inter generasional untuk mendukungsosialisasi komunitas
dengan lansia dan mencegah isolasi social lansia, diantaranya :
1) Libatkan remaja dalam pusat perawatan lansia dan kegiatan-
kegiatan social bersama lansia untuk memfasilitasi empati dan
interaksi orang muda dan lansia (community awareness).
2) Libatkan lansia sebagai strory tellers dan animator dalam kegiatan
bersama anak-anak yang diorganisir oleh agensy perlindungan
anak di posko perlindungan korban bencana.

17 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
3) Menyediakan dukungan social melalui pengembangan jaringan
social yang sehat di lokasi penampungan korban bencana.
4) Sediakan kesempatan belajar untuk meningkatkan pengetahuan
dan skill lansia.
5) Ciptakan kesempatan untuk mendapatkan penghasilan secara
mandiri.
6) Berikan konseling untuk meningkatkan semangat hidup dan
kemandirian lansia.

4. Tindakan yang sesuai untuk kelompok berisiko pada orang dengan


kecacatan dan penyakit kronik
a. Pra-bencana
1) Identifikasi kelompok rentan dari kelompok individu yang cacat
dan berpenyakit kronis
2) Sedangkan informasi bencana yang bisa diakses oleh orang-orang
dengan keterbatasan fisik seperti : tunarunggu, tuna netra, dll.
3) Perlunya diadakan pelatihan-pelatihan penanganan
kegawatdaruratan bencana bagi petugas kesehatan khusus untuk
menangani korban dengan kebutuhan khusus (cacat & penyakit
kronis).
b. Saat bencana
1) Sediakan alat-alat emergensi dan evakuasi yang khusus untuk orang
cacat dan berpenyakit kronis (HIV/AIDS dan penyakit infeksi
lainya) : alat bantu berjalan untuk korban dengan kecacatan, alat-
alah BHD sekali pakai,dll.
2) Tetap menjaga dan meningkatkan kewaspadaan universal untuk
petugas dalam melakukan tindakan kegawatdaruratan.

18 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
c. Pasca bencana
a) Sedapat mungkin, sedangkan fasilitas yang dapat mengembalikan
kemandirian individu dengan keterbatasan fisik di lokasi evakuasi
sementara contohnya : kursi roda, tongkat, dll.
b) Libatkan agensi-agensi yang berfokus pada perlindungan individu-
individu dengan keterbatasan fisik dan penyakit koronis.
c) Rawat korban dengan penyakit kronis sesuai dengan kebutuhannya.

E. Sumber Daya Yang Tersedia Di Lingkungan Untuk Kebutuhan


Kelompok Beresiko
Untuk mengurangi dampak yang lebih berat akibat bencana terhadap
kelompok-kelompok berisiko saat bencana baik itu dalam jangka pendek
maupun jangka panjang, maka petugas kesehatan yang terlibat dalam
penanganan bencana perlu mengidentifikasi sumber daya apa saja yang
tersedia dilingkungan yang dapat digunakan saat bencana terjadi diantaranya
(Enarson,2000, Federal Emergency Management Agency (FEMA),2010 ;
Power & Daily,2010, Veenema , 2007) :

1. Terbentuknya desa siaga dan organisasi kemasyarakatan yang terus


mensosialisasikan kesiapan-kesiagaan terhadap bencana terutama untuk
area yang rentan terhadap kejadian bencana.
2. Kesiapan rumah sakit atau fasilitas kesehatan menerima korban bencana
dari kelompok berisiko baik itu dari segi fasilitas maupun ketenagaan,
seperti : berapa jumlah incubator untuk bayi baru lahir , tempat tidur untuk
`bayi baru lahir, tempat tidur untuk pasien anak,ventilator anak, fasilitas
persainan , pasien anak, ventilator anak, fasilitas persalinan, fasilitas
perawatan pasien dengan penyakit kronis, dsb.
3. Adanya simbol –simbol atau bahasa yang bisa dimengerti oleh individu-
individu dengan kecacatan tentang peringatan bencana, jalur evakuasi,
lokasi pengungsian, dll.

19 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
4. Adanya system support berupa konseling dari ahli-ahli voluntir yang
khusus menangani kelompok berisiko untuk mencegah dan
mengidentifikasi dini kondisi depresi pasca bencana pada kelompok
tersebut sehingga intervensi yang sesuai dapat diberikan untuk merawat
mereka.
5. Adanya agensi-agensi baik itu dari pemerintah maupun non pemerintah
(NGO) yang membantu korban bencana terutama kelompok-kelompok
berisiko seperti : agensi perlindungan anak dan perempuan, agency
pelacakan keluarga korban bencana (tracking center), dll.
6. Adanya website atau homepage bencana dan publikasi penelitian yang
berisi informasi-informasi tentang bagaimana perencanaan kegawat
daruratan dan bencana pada kelompok-kelompok dengan kebutuhan
khusus dan berisiko.

F. Lingkungan Yang Sesuai Dengan Kebutuhan Kelompok Berisiko


Setelah kejadian bencana adalah pentingnya sesegera mungkin untuk
menciptakan lingkungan yang kondusif yang memungkinkan kelompok
bersiko untuk berfungsi secara mandiri sebagaimana sebelum kejadian
bencana, diantarannya (Enarson,2000, Federal Emergency Management
Agency (FEMA),2010 ; Power & Daily,2010, Veenema , 2007) :
1. Menciptakan kondisi / lingkungan yang memungkinkan ibu menuyusui
untuk terus memberikan ASI kepada anaknya dengan cara memberikan
dukungan moril, menyediakan konsultasi laktasi dan pencegahan depresi.
2. Membantu anak kembali melakukan aktivitas-aktivitas regular
sebagaimana sebelum kejadian bencana seperti : penjaga kebersihan diri,
belajar atau sekolah dan bermain.
3. Melibatkan lansia dalam aktifitas-aktifitas social dan program lintas
generasi misalnya dengan remaja dan anak-anak untuk mengurangkan
risiko isolasi social dan depresi.

20 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
4. Menyediakan informasi dan lingkungan yang kondusif untuk individu
dengan keterbatasan fisik misalnya area evakuasi yang dapat diakses oleh
mereka.
5. Adanya fasilitas-fasilitas perawatan untuk korban bencana dengan
penyakit kronis dan infeksi.

G. Kegiatan Pemenuhan Kebutuhan Dasar Untuk Masyarakat ( Bio,Psiko,


Social,Cultural, Dan Spritual)
1. Pemenuhan kebutuhan air bersih masyarakat saat bencana
Pada saat terjadi bencana banyak infrasktur yang rusak dengan demikian
kebutuhan air untuk kebutuhan minum dan lainya dibutuhkan segera.
Perawat tempat bencana harus bisa menilai dari air bersih layak
dikonsumsi ( bersih, bening, tidak bau, dan tidak berasa ) dan memetakan
dan berkerja sama dengan instansi terkait untuk pemenuhan kebutuhan
tersebut karena jika kebutuhan air tidak terpenuhi segera di khawtrikan
resiko-resiko yang lainya akan muncul seperti resiko penyebaran penyakit
dan resiko dehidarsi pada korban bencana. Sumber air bisa di dapatkan
dari hulu atau mata air di gunung yang tidak tercemar tapi mudah akesnya
atau melakukan panggilan mata air baru,hal itu tergantung dari mana yang
telah mudah dan cepat pengadaannya.

2. Pemenuhan kebutuhan toilet umum masyarakat saat bencana


Toilet umum dan sanitasinya yang lainya sangat diperlukan dan termasuk
kebutuhan pokok terutama untuk korban bencana yang ada didaerah
pengusian dimana satu lokasi pengungsian bisa dihuni oleh ratusan orang
atau ribuan.

Kebutuhan toilet ini sangat diperlukan karena hal ini merupakan hal yang
mendasar bagi pengunsi kebersihan dan ketersedian yang cukup
merupakan hal yang utama. Pengadaan toilet umum bisa dilakukan oleh

21 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
perawat dengan berkerja sama dengan instansi terkait misalkan dengan
dinas kebersihan atau instansi lainya yang dianggap lebih focus pada hal
ini. Dalan menghitung beberapa kebutuhan toilet untuk pengungsi yang
ada. Perawat juga harus mampu menilai wc sehat ( model leher angsa, ada
septiktank, jarak septikdengan sumber air minum > 10 meter, air
memadai )

3. Pemenuhan kebutuhan berobat


Perawat komunitas sebagai petugas kesehatan dilapangan harus bisa
melakukan pengobatan sederahana saat bencana.

Diawali oleh tindakan tiase yang memakai kode.


a. Merah : paling penting, prioritas utama, keadaan yang mengacam
kehidupan sebagian besar pasien mengalami hipoksia, syok, trauma
dada, perdarahan internal, trauma kepala dengan kehilangan kesadaran,
luka bakar derajat I-II.
b. Kuning : penting, prioritas kedua prioritas kedua meliputi injury
dengan efek sistemik namun belum jatuh kekeadaan syok karena
dalam keadaan ini sebenrnya pasien masih dapat bertahan selama 30-
60 menit. Injury tersebut antara lain fraktur tulang multipel, fraktur
terbuka, cedera medulla spinalis, laserasi, luka terbuka derajat II.
c. Hijau : prioritas ketiga yang termasuk kategori ini adalah fraktur
tertutp, luka bakar minot, minor laserasi, kontusio, abrasio, dan
dislokasi.
d. Hitam : meninggal ini adalah korban bencana yang tidak dapat selamat
dari bencana, ditemukan sudah dalam keadaan meninggal.

4. Pemenuhan Kebutuhan Makanan Sehat Saat Bencana

22 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Makanan sehat sangat diperlukan unuk peningkatan gizi supaya para
korban segera sebuh dan terbebas dari penyakit. Untuk itu perlu di buat
dapur umum adapun untuk dapur umum tersebut perlu memerhatikan :

a. Lokasi
Dalam menentukan lokasi dapur umum agar memperhatikan hal-hal sebagai
berikut :
1) Letakan dapur umum dekat dengan posko atau penampungan supaya
mudah dicapai atau dikunjungi oleh korban.
2) Hygenis lingkungan cukup memadai
3) Aman dari bencana
4) Dekat dengan transpotasi umum
5) Dekat dengan sumber air

b. Peindrustian
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pendistribusian makanan kepada
korban bencana antara lain :
1) Distribusiandilakukan dengan menggunakan kartu distribusi.
2) Lokasi atau tempat pendistribusian yang aman dan mudah dicapai oleh
korban.
3) Waktu pendistribusian yang konsisten dan tepat waktu, misalnya
dilakukan 2 kali sehari makan pagi/ siang dilaksanakan jam 10.00-12
wib, makan sore/ malam 16.00-17.00 wib.
4) Pengambilan jatah sebaiknya diambil oleh kepala keluarga atau
perwakilan sesuai dengan kartu distribusi yang salah
5) Pembagian makanan bisa menggunakan daun, piring, kertas atau sesuai
dengan pertimbangan aman, cepat, praktis dan sehat.

Contoh Kartu :

Nomor Dapur :........................................................................................................

Nomor Kode
23 | K DU
o n:.....................................................................................................
sep perawatan kelompok rentan saat bencana

Nama Kepala
Keluarga :...........................................................................................
5. Pemenuhan Kebutuhan shelter saat Bencana
Setiap orang membutuhkan shelter tempat istirahat dan tidur agar
mempertahankan status, kesehatan pada tingkat yang optimal. Tidur dapat
memperbaiki berbagai sel dalam tubuh. Apabila kebutuhan istirahat dan
tidur tersebut cukup maka jumlah energi yang di harapkan dapat
memulihkan status kesehatan dan mempertahankan kegiatan dalam
kehidupan sehari-hari terpenuhi. Selain itu orang yang mengalami
kelelahan juga memerlukan istirahat dan tidur lebih dari biasanya.shelter
berfungsi sebagai tempat yang aman untuk berkumpul dan istirahat bagi
korban bencana. Shelter juga dapat berfungsi sebagai tempat bermain
untuk anak-anak untuk mengurangi stress pada anak. Perawat harus
mampu mengkaji lokasi pendirian shelter yang aman.

H. Pelayanan kesehatan di pengungsian


1. Pelayanan Kesehatan Dasar di Pengungsian
Pola pengungsian di Indonesia sangat beragam mengikuti jenis bencana,
lama pengungsian dan upaya persiapannya. Pengungsian pola sisipan
yaitu pengungsi menumpang di rumah sanak keluarga. Pengungsian yang
terkonsentrasi di tempat-tempat umum atau di barak-barak yang telah
disiapkan. Pola lain pengungsian yaitu di tenda-tenda darurat disamping
kanan kiri rumah mereka yang rusak akibat bencan. Apapun pola
pengungsian yang ada akibat bencana tetap menimbulkan masalah
kesehatan. Masalah kesehatan berawal dari kurangnya air bersih yang
berakibat pada buruknya kebersihan diri dan sanitasi lingkungan yang
menyebabkan perkembangan beberapa penyakit menular.

24 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Persediaan pangan yang tidak mencukupi juga memengaruhi pemenuhan
kebutuhan gizi seseorang serta akan memperberat proses terjadinya
penurunan daya tahan tubuh terhadap berbagai penyakit. Dalam
pemberian pelayanan kesehatan di pengungsian sering tidak memadai
akibat dari tidak memadainya fasilitas kesehatan, jumlah dan jenis obat
serta alat kesehatan, terbatasnya tenaga kesehatan. Kondisi ini makin
memperburuk masalah kesehatan yang akan timbul. Penanggulangan
masalah kesehatan dipengungsian merupakan kegiatan yang harus
dilakukan secara menyeluruh dan terpadu serta terkoordinasi baik secara
lintasprogram maupun lintas-sektor. Dalam penanganan masalah
kesehatan di pengungsian diperlukan standar minimal yang sesuai
dengan kondisi keadaan di lapangan sebagai pegangan untuk
merencanakan, memberikan bantuan dan mengevaluasi apa yang telah
dilakukan oleh instansi pemerintah maupun LSM dan swasta lainnya.
Pelayanan kesehatan dasar yang diperlukan pengungsi meliputi:

a. Pelayanan pengobatan
Bila pola pengungsian terkonsentrasi di barak-barak atau tempat-
tempat umum, pelayanan pengobatan dilakukan di lokasi
pengungsian dengan membuat pos pengobatan. Pelayanan
pengobatan dilakukan di Puskesmas bila fasilitas kesehatan
tersebut masih berfungsi dan pola pengungsiannya tersebar
berada di tenda-tenda kanan kiri rumah pengungsi.

b. Pelayanan imunisasi
Bagi pengungsi khususnya anak-anak, dilakukan vaksinasi
campak tanpa memandang status imunisasi sebelumnya. Adapun
kegiatan vaksinasi lainnya tetap dilakukan sesuai program untuk
melindungi kelompok-kelompok rentan dalam pengungsian.

25 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
c. Pelayanan kesehatan ibu dan anak
Kegiatan yang harus dilaksanakan adalah:
1) Kesehatan Ibu dan Anak (pelayanan kehamilan, persalinan,
nifas dan pasca-keguguran)
2) Keluarga berencana (KB)
3) Deteksi dini dan penanggulangan IMS dan HIV/AIDS
4) Kesehatan reproduksi remaja

d. Pelayanan gizi
Tujuannya meningkatkan status gizi bagi ibu hamil dan balita
melalui pemberian makanan optimal. Setelah dilakukan
identifikasi terhadap kelompok bumil dan balita, petugas
kesehatan menentukan strategi intervensi berdasarkan analisis
status gizi.Pada bayi tidak diperkenan diberikan susu formula,
kecuali bayi piatu, bayi terpisah dari ibunya, ibu bayi dalam
keadaan sakit berat.

e. Pemberantasan penyakit menular dan pengendalian vector


Beberapa jenis penyakit yang sering timbul di pengungsian dan
memerlukan tindakan pencegahan karena berpotensi menjadi
KLB antara lain: campak, diare, cacar, malaria, varicella, ISPA,
tetanus. Pelaksanaan pengendalian vektor yang perlu
mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah pengelolaan
lingkungan, pengendalian dengan insektisida,serta pengawasan
makanan dan minuman. Pada pelaksanaan kegiatan surveilans
bila menemukan kasus penyakit menular, semua pihak termasuk
LSM kemanusiaan di pengungsian harus melaporkan kepada
Puskesmas/Pos Yankes di bawah koordinasi Dinas Kesehatan
Kabupaten sebagai penanggung jawab pemantauan dan
pengendalian.

26 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
f. Pelayanan promosi kesehatan
Kegiatan promosi kesehatan bagi para pengungsi diarahkan
untuk membiasakan perilaku hidup bersih dan sehat. Kegiatan
ini mencakup:
1) Kebersihan diri
2) Pengolahan makanan
3) Pengolahan air minum bersih dan aman
4) Perawatan kesehatan ibu hamil (pemeriksaan rutin,
imunisasi)

Kegiatan promosi kesehatan dilakukan melekat pada kegiatan


kesehatan lainnya.Standar minimal mencakup:

1) Pelayanan kesehatan
Pelayanan kesehatan masyarakat Berfungsi untuk mencegah
pertambahan (menurunkan) tingkat kematian dan jatuhnya
korban akibat penyakit.
a) Menggunakan standar pelayanan puskesmas
b) 1 (satu) Pusat Kesehatan Pengungsi untuk 20.000 orang
c) 1 (satu) Rumah Sakit untuk 200.000 orang.

2) Kesehatan reproduksi
Kegiatan yang harus dilaksanakan mencakup:
a) Keluarga Berencana (KB)
b) Kesehatan Ibu dan Anak: pelayanan kehamilan,
c) persalinan, nifas dan pasca keguguran
d) Deteksi dini dan penanggulangan IMS dan HIV/AIDS

27 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
e) Kesehatan reproduksi remaja

2. Pencegahan dan pemberantasan penyakit menular


a. Vaksinasi
Sebagai prioritas pada situasi pengungsian, bagi semua anak usia
6 bulan – 15 tahun menerima vaksin campak dan vitamin A
dengan dosis yang tepat.

b. Masalah umum kesehatan di pengungsian


Beberapa jenis penyakit yang sering timbul di pengungsian
memerlukan tindakan pencegahan. Contoh penyakit tersebut
antara lain, diare, cacar, penyakit pernafasan, malaria, meningitis,
tuberkulosa, tifoid, cacingan, scabies, xeropthalmia, anemia,
tetanus, hepatitis, IMS/HIV-AIDS.

c. Manajemen kasus
Semua anak yang terkena penyakit menular selayaknya dirawat
agar terhindar dari risiko penularan termasuk kematian.

d. Surveilans
Dilakukan terhadap beberapa penyakit menular dan bila
menemukan kasus penyakit menular, semua pihak termasuk
LSM kemanusiaan di pengungsian, harus melaporkan kepada
Puskesmas dibawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten
sebagai penanggung jawab pemantauan dan pengendalian .

28 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Surveilans penyakit dan faktor risiko pada umumnya merupakan
suatu upaya untuk menyediakan informasi kebutuhan pelayanan
kesehatan di lokasi bencana dan pengungsian sebagai bahan
tindakan kesehatan segera. Secara khusus, upaya tersebut
ditujukan untuk menyediakan informasi kematian dan kesakitan
penyakit potensial wabah yang terjadi di daerah bencana;
mengiden-tifikasikan sedini mungkin kemungkinan terjadinya
peningkatan jumlah penyakit yang berpotensi menimbul-kan
KLB; mengidentifikasikan kelompok risiko tinggi terhadap
suatu penyakit tertentu; mengidentifikasikan daerah risiko tinggi
terhadap penyakit tertentu; dan mengidentifikasikan status gizi
buruk dan sanitasi lingkungan.

Langkah-langkah surveilans penyakit di daerah bencana


meliputi:
1) Pengumpulan data
Data kesakitan dan kematian :
a) Data kesakitan yang dikumpulkan meliputi jenis penyakit
yang diamati berdasarkan kelompok usia
b) Data kematian adalah setiap kematian pengungsi,
penyakit yang kemungkinan menjadi penyebab kematian
berdasarkan kelompok usia
c) Data denominator (jumlah korban bencana) diperlukan
untuk menghitung pengukuran epidemiologi, misalnya
angka insidensi, angka kematian, dsb.

2) Sumber data
Data dikumpulkan melalui laporan masyarakat, petugas pos
kesehatan, petugas Rumah Sakit, koordinator
penanggulangan bencana setempat.

29 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
3) Pengolahan dan penyajian data
Data surveilans yang terkumpul diolah untuk menyajikan
informasi epidemiologi sesuai kebutuhan. Penyajian data
meliputi deskripsi maupun grafik data kesakitan penyakit
menurut umur dan data kematian menurut penyebabnya
akibat bencana.

4) Analisis dan interpretasi


Kajian epidemiologi merupakan kegiatan analisis dan
interpretasi data epidemiologi yang dilaksanakan oleh tim
epidemiologi.
Langkah-langkah pelaksanaan analisis:
a) Menentukan prioritas masalah yang akan dikaji
b) Merumuskan pemecahan masalah dengan mem-
perhatikan efektifitas dan efisiensi kegiatan
c) Menetapkan rekomendasi sebagai tindakan korektif.

5) Penyebarluasan informasi
Penyebaran informasi hasil analisis disampaikan kepada
pihak-pihak yang berkepentingan.

Kegiatan surveilans yang dilakukan di pos kesehatan, antara


lain:

1) Pengumpulan data kesakitan penyakit yang diamati dan


kematian melalui pencatatan harian kunjungan rawat jalan
2) Validasi data agar data menjadi sahih dan akurat, Pengolahan
data kesakitan menurut jenis penyakit dan golongan umur
per minggu

30 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
3) Pembuatan dan pengiriman laporan Dalam kegiatan
pengumpulan data kesakitan penyakit yang ditujukan pada
penyakit-penyakit yang mempunyai potensi menimbulkan
terjadinya wabah, dan masalah kesehatan yang bisa
memberikan dampak jangka panjang terhadap kesehatan
dan/atau memiliki fatalitas tinggi.

Apabila petugas kesehatan di pos kesehatan, maupun puskesmas


menemukan atau mencurigai kemungkinan adanya peningkatan
kasus-kasus tersangka penyakit yang ditularkan melalui
makanan (foodborne diasease) ataupun penyakit lain yang
jumlahnya meningkat dalam kurun waktu singkat, maka petugas
yang bersangkutan harus melaporkan keadaan tersebut secepat
mungkin ke Puskesmas terdekat atau Dinas Kesehatan
Kabupaten/Kota .

3. Pengawasan dan pengendalian penyakit


Penyakit menular merupakan masalah yang perlu mendapat perhatian
besar, mengingat potensi munculnya KLB penyakit menular pada periode
paska bencana yang besar sebagai akibat banyaknya faktor risiko yang
memungkinkan terjadinya penularan bahkan KLB penyakit.

Upaya pemberantasan penyakit menular pada umumnya diselenggarakan


untuk mencegah KLB penyakit menular pada periode pascabencana.
Selain itu, upaya tersebut juga bertujuan untuk mengidentifikasi penyakit
menular yang perlu diwaspadai pada kejadian bencana dan pengungsian,
melaksanakan langkah-langkah upaya pemberantasan penyakit menular,
dan melaksanakan upaya pencegahan kejadian luar biasa (KLB) penyakit
menular.
Permasalahan penyakit menular ini terutama disebabkan oleh:

31 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
1) Kerusakan lingkungan dan pencemaran.
2) Jumlah pengungsi yang banyak, menempati suatu ruangan yang
sempit, sehingga harus berdesakan.
3) Pada umumnya tempat penampungan pengungsi tidak
memenuhi syarat kesehatan.
4) Ketersediaan air bersih yang seringkali tidak mencukupi jumlah
maupun kualitasnya.
5) Diantara para pengungsi banyak ditemui orang-orang yang
memiliki risiko tinggi, seperti balita, ibu hamil, berusia lanjut.
6) Pengungsian berada pada daerah endemis penyakit menular,
dekat sumber pencemaran, dan lain-lain.Potensi munculnya
penyakit menular yang sangat erat kaitannya dengan faktor
risiko, khususnya di lokasi pengungsian dan masyarakat sekitar
penampungan pengungsi, adalah:
a) Penyakit Campak
b) Penyakit Diare
c) Penyakit Pnemonia
d) Penyakit Malaria
e) Penyakit Menular Lain Spesifik Lokal

4. Pencegahan dan penanggulangan penyakit diare


Penyakit Diare merupakan penyakit menular yang sangat potensial
terjadi di daerah pengungsian maupun wilayah yang terkena
bencana, yang biasanya sangat terkait erat dengan kerusakan,
keterbatasan penyediaan air bersih dan sanitasi dan diperburuk oleh
perilaku hidup bersih dan sehat yang masih rendah.
Pencegahan penyakit diare dapat dilakukan sendiri oleh para
pengungsi, antara lain:
a Gunakan air bersih yang memenuhi syarat.
b Semua anggota keluarga buang air besar di jamban.

32 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
c Buang tinja bayidan anak kecil di jamban.
d Cucilah tangan dengan sabun sebelum makan, sebelum
menjamah/memasak makanan dan sesudah buang air besar.
e Berilah Air Susu Ibu (ASI) saja sampai bayi berusia 6 bulan.
f Berilah makanan pendamping ASI dengan benar setelah bayi
berusia 6 bulan dan pemberian ASI diteruskan sampai bayi
berusia 24 bulan.

Penyediaan air bersih yang cukup dan sanitasi lingkungan yang


memadai merupakan tindakan pencegahan penyakit diare,
sedangkan pencegahan kematian akibat diare dapat dilakukan
melalui penatalaksanaan kasus secara tepat dan kesiapsiagaan akan
kemungkinan timbulnya KLB diare.

Langkah-langkah pertolongan penderita diare di rumah tangga,


antara lain:

a Berikan segera oralit atau cairan yang tersedia di rumah dan


tempat pengungsian, seperti air teh, tajin, kuah sayur dan air sup.
b Teruskan pemberian makanan seperti biasa, tidak pedas dan
tidak mengandung serat.
c Bawalah segera ke pos kesehatan terdekat atau ke Puskesmas
terdekat, bila ada suatu tanda : Diare bertambah banyak/sering,
Muntah berulang-ulang, Ada demam, Tidak bisa minum dan
makan,Kelihatan haus sekali, Ada darah dalam tinja, Tidak
membaik sampai 2 hari.

Langkah-langkah pertolongan penderita diare di sarana kesehatan


atau pos kesehatan, antara lain:

a Rehidrasi oral dengan oralit


b Pemberian cairan intravena dengan Ringer Lactate untuk
penderita diare dehidrasi berat dan penderita tidak bisa minum.

33 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
c Penggunaan antibiotik secara rasional
d Memberikan nasehat pada keluarga tentang pentingnya
meneruskan pemberian makanan, rujukan dan upaya
pencegahan.

5. Air bersih dan sanitasi


Seperti diketahui air merupakan kebutuhan utama bagi kehidupan,
demikian juga dengan masyarakat pengungsi harus dapat terjangkau oleh
ketersediaan air bersih yang memadai untuk memelihara kesehatannya.
Bilamana air bersih dan sarana sanitasi telah tersedia, perlu dilakukan
upaya pengawasan dan perbaikan kualitas air bersih dan sarana sanitasi.

Tujuan utama perbaikan dan pengawasan kualitas air adalah untuk


mencegah timbulnya risiko kesehatan akibat penggunaan air yang tidak
memenuhi persyaratan. Pada tahap awal kejadian bencana atau
pengungsian ketersediaan air bersih bagi pengungsi perlu mendapat
perhatian, karena tanpa adanya air bersih sangat berpengaruh terhadap
kebersihan dan meningkatkan risiko terjadinya penularan penyakit seperti
diare, typhus, scabies dan penyakit lainnya.

Standar minimum kebutuhan air bersih :


Prioritas pada hari pertama/awal kejadian bencana atau pengungsian
kebutuhan air bersih yang harus disediakan bagi pengungsi adalah 5
liter/orang/hari. Jumlah ini dimaksudkan hanya untuk memenuhi
kebutuhan minimal, seperti masak, makan dan minum.
Hari I pengungsian: 5 liter/org/hari
Pada hari kedua dan seterusnya harus segera diupayakan untuk
meningkatkan volume air sampai sekurang kurangnya 15–20 liter/orang/
hari. Volume sebesar ini diperlukan untuk memenuhi kebutuhan minum,
masak, mandi dan mencuci. Bilamana hal ini tidak terpenuhi, sangat besar

34 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
potensi risiko terjadinya penularan penyakit, terutama penyakit penyakit
berbasis lingkungan.

Hari berikutnya: 20 liter/org/hari


Bagi fasilitas pelayanan kesehatan dalam rangka melayani korban bencana
dan pengungsian, volume air bersih yang perlu disediakan di Puskesmas
atau rumah sakit: 50 liter/org/hari.

Sumber air bersih dan pengolahannya :


Bila sumber air bersih yang digunakan untuk pengungsi berasal dari
sumber air permukaan (sungai, danau, laut, dan lain-lain), sumur gali,
sumur bor, mata air dan sebagainya, perlu segera dilakukan pengamanan
terhadap sumber-sumber air tersebut dari kemungkinan terjadinya
pencemaran, misalnya dengan melakukan pemagaran ataupun
pemasangan papan pengumuman dan dilakukan perbaikan
kualitasnya.Bila sumber air diperoleh dari PDAM atau sumber lain yang
cukup jauh dengan tempat pengungsian, harus dilakukan pengangkutan
dengan mobil tangki air.Untuk pengolahan dapat menggunakan alat
penyuling air (water purifier/water treatment plant).

Tangki penampungan air bersih di tempat pengungsian :


Tempat penampungan air di lokasi pengungsi dapat berupa tangki air
yangdilengkapi dengan kran air. Untuk mencegah terjadinya antrian yang
panjang dari pengungsi yang akan mengambil air, perlu diperhatikan jarak
tangki air dari tenda pengungsi minimum 30 meter dan maksimum 500
meter. Untuk keperluan penampungan air bagi kepentingan sehari hari
keluarga pengungsi, sebaiknya setiap keluarga pengungsi disediakan
tempat penampungan air keluarga dalam bentuk ember atau jerigen
volume 20 liter.

35 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Perbaikan dan pengawasan kualitas air bersih :
Pada situasi bencana dan pengungsian umumnya sulit memperoleh air
bersih yang sudah memenuhi persya-ratan, oleh karena itu apabila air yang
tersedia tidak memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis,
perlu dilakukan. Buang atau singkirkan bahan pencemar dan lakukan hal
berikut :
a Lakukan penjernihan air secara cepat apabila tingkat kekeruhan
air yang ada cukup tinggi.
b Lakukan desinfeksi terhadap air yang ada dengan
menggunakan bahan bahan desinfektan untuk air
c Periksa kadar sisa klor bilamana air dikirim dari PDAM
d Lakukan pemeriksaan kualitas air secara berkala pada titik-
titik distribusi.

Sanitasi dan pengelolaan sampah :

Kegiatan yang dilakukan dalam upaya sanitasi pengelolaan sampah,


antara lain:

a Pengumpulan Sampah
1) Sampah yang dihasilkan harus ditampung pada tempat
sampah keluarga atau sekelompok keluarga
2) Disarankan menggunakan tempat sampah yang dapat ditutup
dan mudah dipindahkan/diangkat untuk menghindari lalat
serta bau, untuk itu dapat digunakan potongan drum atau
kantung plastik sampah ukuran 1 m x 0,6 m untuk 1 – 3
keluarga.

b Penempatan tempat sampah maksimum 15 meter dari tempat


hunian

36 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
1) Sampah ditempat sampah tersebut maksimum 3(tiga) hari
harus sudah diangkut ke tempat
2) pembuangan akhir atau tempat pengumpulan sementara.

c Pengangkutan Sampah
Pengangkutan sampah dapat dilakukan dengan gerobak sampah
atau dengan truk pengangkut sampah untuk diangkut ke tempat
pembuangan akhir.

d Pembuangan Akhir Sampah


Pembuangan akhir sampah dapat dilakukan dengan beberapa
cara, seperti pembakaran, penimbunan dalam lubang galian atau
parit dengan ukuran dalam 2 meter lebar 1,5 meter dan panjang
1 meter untuk keperluan 200 orang. Perlu diperhatikan bahwa
lokasi pembuangan akhir harus jauh dari tempat hunian dan
jarak minimal dari sumber air 10 meter.

6. Penanganan gizi darurat


a. Penanganan gizi darurat pada bayi dan anak
Penanganan gizi darurat pada bayi dan anak pada umumnya ditujukan
untuk meningkatkan status gizi, kesehatan, dan kelangsungan hidup
bayi dan anak dalam keadaan darurat melalui pemberian makanan
yang optimal. Sementara, secara khusus, penanganan tersebut
ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan petugas dalam pemberian
makanan bayi dan anak baduta; meningkatkan ketrampilan petugas
dalam mengenali dan memecahkan masalah pada pemberian makanan
bayi dan baduta dalam keadaan darurat; dan meningkatkan
kemampuan petugas dalam mendukung terhadap pemberian makanan
yang baik dalam keadaan darurat.

37 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
b. Makanan pendamping ASI
Dalam keadaan darurat, bayi dan balita seharusnya mendapat MP-ASI
untuk mencegah kekurangan gizi. Untuk memperoleh MP-ASI yang
baik yang dibuat secara lokal, perlu diberi tambahan vitamin dan
mineral pada makanan waktu akan dihidangkan. Jenis-jenis MP-ASI
dapat dilihat dari buku standar.

Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam pemberian makanan bayi dan


anak baduta yang dihadapi di lapangan, sebagai berikut:
1) Memahami perasaan ibu terhadap kondisi yang sedang dialami
2) Memberikan prioritas kepada ibu menyusui untuk mendapatkan
distribusi makanan tepat waktu
3) Anjurkan ibu agar tenang dan bangkitkan motivasi ibu untuk
menyusui bayinya
4) Anjurkan ibu agar mengonsumsi makanan bergizi seimbang yang
cukup jumlahnya
5) Memastikan ibu mendapat tambahan makanan dan cairan yang
mencukupi
6) Beri pelayanan dan perawatan kesehatan yang memadai
7) Memberikan perhatian khusus dan dukungan terus-menerus pada
ibu untuk mengatasi mitos atau kepercayaan yang salah tentang
menyusui
8) Memberikan penyuluhan pada tokoh masyarakat, tokoh agama dan
keluarga yang dapat mendukung ibu untuk menyusui
9) Menyediakan tempat-tempat untuk menyusui yang memadai atau
kamar laktasi
10) Mengawasi sumbangan susu formula serta menolak sumbangan
yang tidak memiliki label, kemasan yang rusak, bahasa yang tidak

38 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
dipahami pengguna, batas kedaluarsa (minimal 6 bulan sebelum
tanggal kadaluarsa)
11) Jika ibu bayi tidak ada (meninggal), ibu sakit berat, atau ibu tidak
dapat menyusui lagi, maka kepada bayi diberikan alternatif lain
yaitu:
1) Mencari kemungkinan donasi ASI dari ibu yang sedang
menyusui
2) Khusus untuk bayi 0-6 bulan dapat diberikan susu formula,
dengan menggunakan cangkir dan tidak boleh menggunakan
botol atau dot. Susu formula diberikan sesuai dengan petunjuk
penggunaan
3) Susu formula harus dipersiapkan dengan menggunakan air
masak.
4) Tidak dianjurkan diberikan makanan lain
5) Susu kental manis tidak boleh diberikan pada bayi (<1 tahun).

c. Makanan ibu hamil dan menyusui


Ibu hamil dan menyusui memerlukan tambahan zat gizi. Ibu hamil
perlu penambahan energi 300 Kal dan Protein 17 gram, sedangkan ibu
menyusui perlu tambahan Energi 500 Kal dan Protein 17 gram.
Suplementasi vitamin dan mineral untuk ibu hamil adalah Fe 1 tablet
setiap hari. Khusus ibu nifas (0-42 hari) diberikan 2 kapsul vitamin A
dosis 200.000 IU, yaitu 1 kapsul pada hari pertama, dan 1 kapsul pada
hari berikutnya (selang waktu minimal 24 jam). Pemberian vitamin
dan mineral dilakukan oleh petugas kesehatan.

d. Makanan usia lanjut


Kebutuhan energi pada usia lanjut pada umumnya sudah menurun,
tetapi kebutuhan vitamin dan mineral tidak. Oleh karena itu diperlukan
makanan porsi kecil tetapi padat gizi. Dalam pemberian makanan pada

39 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
orang tua harus memperhatikan faktor psikologis dan fisiologis agar
makanan yang disajikan dapat dikonsumsi habis. Selain itu, makanan
yang diberikan mudah dicerna serta mengandung vitamin dan mineral
cukup. Dalam situasi yang memungkinkan usila dapat diberikan
blended food berupa bubur atau biscuit.
BAB III
PEMBAHASAN KASUS

Kasus I

Posko bencana korban banjir sudah 3 hari di tenda pengungsian. Beberapa balita
mengalami diare dan sebagian lainnya bermain ceria namun tampak kotor
penampilannya, khususnya tangan dan kakinya.

Pembahasan :

Berdasarkan kasus tersebut kebutuhan yang diperlukan untuk pengungsi yaitu air
bersih, MCK, baju bersih, dan peralatan mandi. Sector yang terlibat untuk kasus
tersebut yaitu posko balai kesehatan, posko dapur , posko MCK dimana fungsinya
untuk mengobati balita yang menderita diare, dapur umum di butuh kan untuk
monitor status nutrisi pada balita dan kebutuhan toileting.

Dalam manajemen pasca bencana terdapat lima aspek yang harus diperhatikan yaitu
kespro, surveillance, penyakit menular, gizi dan obat, serta sanitasi. Pada aspek
kespro perlu diperhatikan juga pada balita karena akibat bencana dapat meningkatan
resiko kesehatan reproduksinya untuk itu perlu diperhatikan agar terhindar dari
perburukan kesehatan. Surveillance , Manajemen survailans perlu di perhatikan
dalam menetukan tindakan yang di butuhkan secara cepat bagi penderita sehingga
terhindarkan dari KLB. Penyakit menular, pasca bencana, anak-anak berisiko
mengalami masalah-masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang baik fisik
dan psikologis karena malnutrisi, penyakit-penyakit infeksi, kurangnya skill bertahan

40 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
hidup dan komunikasi, ketidakmampuan melindungi diri sendiri, kurangnya kekuatan
fisik, imunitas dan kemampuan koping. Kondisi tersebut dapat mengancam nyawa
jika tidak diidentifikasi dan ditangani dengan segera oleh petugas kesehatan.
usahakan kegiatan rutin sehari-hari dapat dilakukan sesegera mungkin contohnya:
waktu makan, dan personal hygiene teratur, tidur, bermain. Gizi dan obat , perhatikan
dalam pemberian nutrisi untuk meningkatkan status gizi balita pasca bencana agar
kebutuhan nutrisi terpenuhhi agar KLB dapat terhindari.manajemen obat-obatan
diperhatikan agar ketersediaan obat-obatan pada balita yang menderita diare dapat
terpenuhi dan tidak kekurangan. Sanitasi , perhatikan manajemen untuk pembuatan
MCK dan kebersihan lingkungan sekitar agar sarana untuk memperbaiki personal
hygine balita.

Dari ke lima aspek diatas sangat penting di perhatikan untuk mensosialisasikan dan
meningkatkan kesiap-siagaan terhadap bencana terutama untuk area yang rentan
terhadap kejadian bencana sehingga resiko atau dampak yang lebih berat akibat
bencana terhadap balita saat itu dapat terhindari.

Tindakan keperawatan spesifik untuk korban pasca bencana pada kasus tersebut
yaitu:
1. Promotif , memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit yang diderita.
Alasan : Agar keluarga dapat memahami tentang penyakit tersebut dan
memahami cara menjaga kesehatan yang baik.
2. Preventif, mengajarkan dan membiasakan mencuci tangan.
Alasan : Agar keluarga dapat membiasakan cara mencuci tangan yang baik dan
benar.
3. Kuratif, pengobatan yang diberikan kepada penderita penyakit tersebut.
Alasan : Supaya masalah yang dialami oleh penderita teratasi.
4. Rehabilitatif, pemulihan (melakukan terapi aktif bermain).
Alasan : Untuk mengurangi dampak psikologis balita akibat bencana tersebut.
5. Resosiatif,

41 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Alasan : untuk mengembalikan individu, keluarga dan kelompok khusus di dalam
pergaulan masyarakat pasca bencana.

Aspek etik dan legal dari tindakan keperawatan yang dapat dilakukan pada situasi
bencana diantaranya Otonom ,Berbuat baik (Beneficience), Keadilan, Tidak
merugikan , Kejujuran, Menepati janji , Kerahasian , Akuntabilitas. Aspek
pendukungnya yaitu banyaknya dukungan dari pihak - pihak yang terkait terhadap
penanggulangan bencana juga semangatnya para korban untuk memulihkan kondisi
maupun dari psikis, mental, dan spiritual. Sedangkan faktor penghambatan dalam
pelaksanaan tindakan keperawatan diantaranya Minimnya petugas kesehatan maupun
pihak - pihak yang terkait mengenai penanggulangan bencana, kurang cepat dan
tepatnya bantuan dari pihak pemerintah, kurangnya pelayanan pengobatan, gizi,
kesehatan jiwa, dan kesehatan reproduksi, dan sebagian individu kurang kooperatif
dalam upaya penanganan.

Dari hasil diskusi kelompok mengenai kasus tersebut banyak pendapat dari
kelompok tetapi kami dapat mengatasi nya dan menyamakan persepsi masing-
masing.

42 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Kasus II

Salah satu posko pengungsi banjir adalah kelompok usia lanjut. Beberapa di
antaranya cenderung terlantar dalam hal kebutuhan dasar seperti urusan toileting dan
makan sehari-hari.

Pembahasan :

Pasca bencana, kebutuhan lansia sering terabaikan dan mengalami diskriminasi,


contohnya dalam hal distribusi kebutuhan hidup dan finansial pasca bencana.
Diantaranya kebutuhan toileting dan makanan sehari-hari. Kebutuhan toilet ini sangat
diperlukan oleh para lansia karena hal ini merupakan hal yang mendasar bagi para
pengungsi. Pada lansia terjadinya penurunan fungsi eliminasi, maka lansia lebih
sering pergi ke toilet. Oleh karena itu kebutuhan toileting sangat penting bagi lansia.
Maka toilet ditempat bencana harus lebih dekat dengan posko bencana untuk lebih
memudahkan para pengungsi khususnya bagi lansia. Toilet pada lansia juga harus
mendukung pada kebutuhan yang diperlukan oleh lansia karena lansia mengalami
penurunan fungsi fisiologis, maka toilet harus dipasang pegangan, hindari kelicinan
atau jika tidak memungkinkan sebaiknya lansia ketika ingin ke kamar mandi jangan
dbiarkan sendiri untuk menghindari kejadian yang tidak diinginkan. Kebutuhan
makanan juga penting bagi lansia karena Kebutuhan energi pada usia lanjut pada
umumnya sudah menurun. Oleh karena itu diperlukan makanan porsi kecil tetapi
padat gizi.Selain itu, makanan yang diberikan pada lansia yaitu makanan yang mudah

43 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
dicerna serta mengandung vitamin dan mineral cukup. Dalam situasi yang
memungkinkan usila dapat diberikan blended food berupa bubur atau biskuit.

Sector yang terlibat adalah posko balai kesehatan seperti posko MCK agar kebutuhan
toileting pada lansia dapat terpenuhi dan posko dapur agar kebutuhan nutrisi pada
lansia dapat terpenuhi, dan pengobatan kesehatan khusus seperti psikologinya yang
membuat lansia merasa tenang dan nyaman.

Dalam manajemen pasca bencana terdapat lima aspek yang harus diperhatikan yaitu
kespro, surveillance, penyakit menular, gizi dan obat, serta sanitasi. Pada aspek
kespro perlu diperhatikan juga pada lansia karena akibat bencana dapat meningkatan
resiko kesehatan reproduksinya untuk itu perlu diperhatikan agar terhindar dari
perburukan kesehatan Survailance, Manajemen survalince perlu diperhatikan dalam
menentukan tindakan yang dibutuhkan secara cepat bagi penderita sehingga terhindar
dari KLB.Surveilans penyakit dan faktor risiko pada umumnya merupakan suatu
upaya untuk menyediakan informasi kebutuhan pelayanan kesehatan di lokasi
bencana dan pengungsian sebagai bahan tindakan kesehatan segera. Penyakit menular,
Pasca bencana lansia mengalami masalah-masalah kesehatan jangka pendek dan
jangka panjang baik fisik maupun psikologinya, penyakit-penyakit menular yang
dapat terjadi pada saat banjir yaitu diare, demam berdarah, malaria. Pelaksanaan
pengendalian vektor yang perlu mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah
pengelolaan lingkungan, pengendalian dengan insektisida,serta pengawasan makanan
dan minuman. Pada pelaksanaan kegiatan surveilans bila menemukan kasus penyakit
menular, semua pihak termasuk LSM kemanusiaan di pengungsian harus melaporkan
kepada Puskesmas/Pos Yankes di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten
sebagai penanggung jawab pemantauan dan pengendalian. Gizi dan obat, Bila pola
pengungsian terkonsentrasi di barak-barak atau tempat-tempat umum, pelayanan
pengobatan dilakukan di lokasi pengungsian dengan membuat pos pengobatan.
Pelayanan pengobatan dilakukan di Puskesmas bila fasilitas kesehatan tersebut masih
berfungsi dan pola pengungsiannya tersebar berada di tenda-tenda kanan kiri rumah

44 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
pengungsi. Untuk gizi pada lansia dibutuhkan makanan porsi kecil tetapi padat gizi
Selain itu, makanan yang diberikan mudah dicerna serta mengandung vitamin dan
mineral cukup. Sanitasi, pengungsi harus dapat terjangkau oleh ketersediaan air
bersih yang memadai untuk memelihara kesehatannya. Tujuan utama perbaikan dan
pengawasan kualitas air adalah untuk mencegah timbulnya risiko kesehatan akibat
penggunaan air yang tidak memenuhi persyaratan.Pada tahap awal kejadian bencana
atau pengungsian ketersediaan air bersih bagi pengungsi perlu mendapat perhatian,
karena tanpa adanya air bersih sangat berpengaruh terhadap kebersihan dan mening-
katkan risiko terjadinya penularan penyakit seperti diare, typhus, scabies dan penyakit
lainnya. Pada situasi bencana dan pengungsian umumnya sulit memperoleh air bersih
yang sudah memenuhi persyaratan, oleh karena itu apabila air yang tersedia tidak
memenuhi syarat, baik dari segi fisik maupun bakteriologis, perlu dilakukan
penjernihan air secara cepat apabila tingkat kekeruhan air yang ada cukup tinggi serta
lakukan desinfeksi terhadap air yang ada dengan menggunakan bahan desinfektan
untuk air. Upaya dilakukan dalam sanitasi pengelolaan sampah yaitu disarankan
menggunakan tempat sampah yang dapat ditutup dan mudah dipindahkan/diangkat
untuk menghindari lalat serta bau dan Pengangkutan sampah dapat dilakukan dengan
gerobak sampah atau dengan truk pengangkut sampah untuk diangkut ke tempat
pembuangan akhir.

Dari ke lima aspek diatas sangat penting di perhatikan untuk mensosialisasikan dan
meningkatkan kesiap-siagaan terhadap bencana terutama untuk area yang rentan
terhadap kejadian bencana untuk lansia khususnya, sehingga resiko atau dampak yang
lebih berat akibat bencana terhadap lansia saat itu dapat terhindari.

Jenis tindakan keperawatan spesifik untuk korban pasca bencana pada kasus tersebut
diantaranya libatkan remaja dalam pusat perawatan lansia dan kegiatan-kegiatan
social bersama lansia untuk memfasilitasi empati dan interaksi orang muda dan lansia

45 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
(community awareness), Menyedikan dukungan social melalui pengembangan
jaringan social yang sehat di lokasi penampungan korban bencana,Sediakan
kesempatan belajar untuk meningkatkan pengetahuan dan skill lansia, Ciptakan
kesempatan untuk mendapatkan penghasilan secara mandiri dan Berikan konseling
untuk meningkatkan semangat hidup dan kemandirian lansia.

Aspek etik dan legal dari tindakan keperawatan yaitu Otonom ,Berbuat baik
(Beneficience), Keadilan, Tidak merugikan , Kejujuran, Menepati janji , Kerahasian ,
Akuntabilitas.

46 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Kasus III

Sebagian besar pengungsi korban banjir adalah remaja putri dan ibu hamil. Mereka
mengeluhkan tidak adanya stok pembalut dan minimnya sarana air bersihnya.

Pembahasan :

Berdasarkan kasus tersebut kebutuhan yang diperlukan untuk pengungsi yaitu

Pembalut dan sarana air bersih. Sector yang terlibat adalah posko balai kesehatan

dengan melibatkan KIA dimana fungsinya untuk melakukan pemeriksaan kehamilan

pada ibu hamil, ataupun terkait masalah reproduksi pada remaja wanita, serta posko

MCK untuk kebutuhan toileting.

Dalam manajemen pasca bencana terdapat lima aspek yang harus diperhatikan yaitu

kespro, surveillance, penyakit menular, gizi dan obat, serta sanitasi. Pada aspek

kespro perlu diperhatikan Kesehatan reproduksi pada kasus ini khususnya pada

remaja dan ibu hamil, guna mencegah penyakit yang mungkin bisa terjadi

dikarenakan bencana ini. Surveilance, manajemen surveillance perlu diperhatikan

dalam menentukan tindakan yang dibutuhkan secara cepat bagi penderita sehingga

terhindarkan dari KLB. Surveilance, manajemen surveillance perlu diperhatikan

47 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
dalam menentukan tindakan yang dibutuhkan secara cepat bagi penderita sehingga

terhindarkan dari KLB. Penyakit menular, penyakit-penyakit menular yang dapat

terjadi pada saat banjir yaitu diare, demam berdarah, malaria. Pelaksanaan

pengendalian vektor yang perlu mendapatkan perhatian di lokasi pengungsi adalah

pengelolaan lingkungan, pengendalian dengan insektisida,serta pengawasan makanan

dan minuman. Pada pelaksanaan kegiatan surveilans bila menemukan kasus penyakit

menular, semua pihak termasuk LSM kemanusiaan di pengungsian harus melaporkan

kepada Puskesmas/Pos Yankes di bawah koordinasi Dinas Kesehatan Kabupaten

sebagai penanggung jawab pemantauan dan pengendalian. Gizi dan obat, Bila pola

pengungsian terkonsentrasi di barak-barak atau tempat-tempat umum, pelayanan

pengobatan dilakukan di lokasi pengungsian dengan membuat pos pengobatan.

Pelayanan pengobatan dilakukan di Puskesmas bila fasilitas kesehatan tersebut masih

berfungsi dan pola pengungsiannya tersebar berada di tenda-tenda kanan kiri rumah

pengungsi. Pemilihan bahan makanan disesuaikan dengan ketersediaan bahan

makanan. Untuk Ibu hamil memerlukan tambahan zat gizi. Ibu hamil perlu

penambahan energi 300 Kal dan Protein 17 gram. Suplementasi vitamin dan mineral

untuk ibu hamil adalah Fe 1 tablet setiap hari,selama 90 hari, kebutuhan akan 6

kalsium 950 mg setiap harinya, vitamin C 80mg. Pemberian vitamin dan mineral

dilakukan oleh petugas kesehatan. Makanan yang diperlukan, usahakan makan

protein 2X sehari, seperti telur, ayam, tahu, tempe, daging sapi, ikan dan kacang-

kacangan. Jangan menggunakan vetsin atau penyedap rasa buatan kedalam makanan.

Sanitasi, Perhatikan manajemen untuk pembuatan MCK dan kebersihan lingkungan

48 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
sekitar agar dapat menjadi sarana untuk memperbaiki personal hygine pada remaja

dan ibu hamil.

Dari ke lima aspek diatas sangat penting di perhatikan untuk mensosialisasikan dan
meningkatkan kesiap-siagaan terhadap bencana terutama untuk area yang rentan
terhadap kejadian bencana untuk bayi khususnya, sehingga resiko atau dampak yang
lebih berat akibat bencana terhadap bayi saat itu dapat terhindari.

Tindakan keperawatan spesifik untuk korban pasca bencana pada kasus tersebut
yaitu:
1. Promotif , memberikan pendidikan kesehatan tentang menjaga kesehatan
reproduksi.
Alasan : Agar dapat memahami cara menjaga kesehatan yang baik.
2. Preventif, mengajarkan dan membiasakan diri untuk memperhatikan kebersihan
diri dengan membersihkan daerah reproduksi dengan air bersih
Alasannya : Agar dapat memperhatikan kebersihan diri guna mencegah
perburukan kesehatan
3. Kuratif : pengobatan yang akan diberikan melalui sector yang terkait
Alasannya: Bila mengetahui ada gangguan yang diderita pada remaja ataupun ibu
hamil, dapat langsung dikonsulkan oleh sector terkait di posko kesehatan untuk
mendapatkan tindakan lebih lanjut.
4. Rehabilitatif : pemulihan
Alasan : Untuk mengurangi dampak psikologis ibu hamil ataupun remaja akibat
bencana tersebut.
5. Resosiatif
alasan : untuk mengembalikan individu, keluarga dan kelompok khusus di dalam
pergaulan masyarakat pasca bencana.

49 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Aspek etik dan legal dari tindakan keperawatan yaitu Otonom ,Berbuat baik
(Beneficience), Keadilan, Tidak merugikan , Kejujuran, Menepati janji , Kerahasian ,
Akuntabilitas. Aspek pendukungnya yaitu banyaknya dukungan dari pihak - pihak
yang terkait terhadap penanggulangan bencana juga semangatnya para korban untuk
memulihkan kondisi maupun dari psikis, mental, dan spiritual. Sedangkan faktor
penghambatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan diantaranya Minimnya
petugas kesehatan maupun pihak - pihak yang terkait mengenai penanggulangan
bencana, kurang cepat dan tepatnya bantuan dari pihak pemerintah, kurangnya
pelayanan pengobatan, gizi, kesehatan jiwa, dan kesehatan reproduksi, dan sebagian
individu kurang kooperatif dalam upaya penanganan.

Kasus IV

Dengan alasan asi sedikit beberapa ibu terpaksa memberikan susu formula pada bayi,
dengan kurang memperhatikan kebersihan alat makan dan minum, memasuki minggu
ke 3 ada bayi mengalami diare dan sebagian lainnya rewal dan mengeluh kalau
malam susah tidur.

Pembahasan :

Kebutuhan yang diperlukan untuk pengungsi berdasarkan kasus tersbut adalah air
bersih, alat makan dan minum yang bersih, serta makanan untuk ibu menyusui.

Sector yang terlibat dalam kasus tersebut adalah sector dapur umum, posko kesehatan,
MCK dimana masing-masing fungsinya adalah untuk mengobati bayi yang menderita
diare, dapur umum di butuh kan untuk monitor status nutrisi pada balita dan MCK
untuk kebutuhan toileting.

Dalam manajemen pasca bencana terdapat lima aspek yang harus diperhatikan yaitu
kespro, surveillance, penyakit menular, gizi dan obat, serta sanitasi. Pada aspek
kespro perlu diperhatikan juga pada balita karena akibat bencana dapat meningkatan
resiko kesehatan reproduksinya untuk itu perlu diperhatikan agar terhindar dari
perburukan kesehatan. Surveilance, manajemen surveillance perlu diperhatikan dalam

50 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
menentukan tindakan yang dibutuhkan secara cepat bagi penderita sehingga
terhindarkan dari KLB. Penyakit menular, Pasca bencana, anak-anak berisiko
mengalami masalah-masalah kesehatan jangka pendek dan jangka panjang baik fisik
dan psikologis karena malnutrisi, penyakit-penyakit infeksi, kurangnya skill bertahan
hidup dan komunikasi, ketidakmampuan melindungi diri sendiri, kurangnya kekuatan
fisik, imunitas dan kemampuan koping. Kondisi tersebut dapat mengancam nyawa
jika tidak diidentifikasi dan ditangani dengan segera oleh petugas kesehatan.
usahakan kegiatan rutin sehari-hari dapat dilakukan sesegera mungkin contohnya:
waktu makan, dan personal hygiene teratur, tidur, bermain. Gizi dan obat, Perhatikan
dalam pemberian nutrisi untuk meningkatkan status gizi balita pasca bencana agar
kebutuhan nutrisi terpenuhhi agar KLB dapat terhindari.manajemen obat-obatan
diperhatikan agar ketersediaan obat-obatan pada balita yang menderita diare dapat
terpenuhi dan tidak kekurangan. Sanitasi, Perhatikan manajemen untuk pembuatan
MCK dan kebersihan lingkungan sekitar agar dapat menjadi sarana untuk
memperbaiki personal hygine bayi dan kebersihan dalam makanan ataupun
minumannya.

Dari ke lima aspek diatas sangat penting di perhatikan untuk mensosialisasikan dan
meningkatkan kesiap-siagaan terhadap bencana terutama untuk area yang rentan
terhadap kejadian bencana untuk bayi khususnya, sehingga resiko atau dampak yang
lebih berat akibat bencana terhadap bayi saat itu dapat terhindari.

Tindakan keperawatan spesifik untuk korban pasca bencana pada kasus tersebut
yaitu:
1. Promotif , memberikan pendidikan kesehatan tentang penyakit yang diderita.
Alasan : Agar keluarga dapat memahami tentang penyakit tersebut dan
memahami cara menjaga kesehatan yang baik.
2. Preventif, mengajarkan dan membiasakan ibu untuk mencuci tangan sebelum dan
sesudah berkontak dengan bayi dan mencuci peralatan seperti botol susu yang
akan digunakan.

51 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Alasannya : Agar keluarga dapat memperhatikan kebersihan diri dan peralatan
yang akan digunakan
3. Kuratif : pengobatan yang akan diberikan kepada penderita penyakit tersebut
seperti pembuatan oralit untuk pencegahan diare yang lebih parah.
Alasannya: setelah kita mengetahui penyakit bayi yang diderita kita bisa
mengobati bayi tersebut agar diare yang diderita bayi tidak bertambah parah.
Biasanya bayi yang mengalami diare mengalami dehidrasi maka dari itu kita bisa
mengobati dehidrasinya terlebih dahulu.
4. Rehabilitatif : pemulihan (melakukan terapi aktif bermain).
Alasan : Untuk mengurangi dampak psikologis balita akibat bencana tersebut.
5. Resosiatif
alasan : untuk mengembalikan individu, keluarga dan kelompok khusus di dalam
pergaulan masyarakat pasca bencana.

Aspek etik dan legal dari tindakan keperawatan yaitu Otonom ,Berbuat baik
(Beneficience), Keadilan, Tidak merugikan , Kejujuran, Menepati janji , Kerahasian ,
Akuntabilitas. Aspek pendukungnya yaitu banyaknya dukungan dari pihak - pihak
yang terkait terhadap penanggulangan bencana juga semangatnya para korban untuk
memulihkan kondisi maupun dari psikis, mental, dan spiritual. Sedangkan faktor
penghambatan dalam pelaksanaan tindakan keperawatan diantaranya Minimnya
petugas kesehatan maupun pihak - pihak yang terkait mengenai penanggulangan
bencana, kurang cepat dan tepatnya bantuan dari pihak pemerintah, kurangnya
pelayanan pengobatan, gizi, kesehatan jiwa, dan kesehatan reproduksi, dan sebagian
individu kurang kooperatif dalam upaya penanganan.

52 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
BAB V

PENUTUP

Kelompok rentan dalam situasi bencana adalah individu atau kelompok yang

terdampak lebih berat diakibatkan adanya kekurangan dan kelemahan yang

dimilikinya yang pada saat bencana terjadi menjadi beresiko lebih besar meliputi bayi,

balita, dan anak-anak; ibu yang sedang mengandung / menyusui; penyandang cacat

(disabilitas). Faktor Resiko dan Pelindung pada Kelompok Rentan seperti yang telah

dipaparkan sebelumnya mengenai faktor resiko seperti jenis kelamin, SES,

perpisahan dengan orang yang disayangi, diskriminasi dan prejudice pada Negara

baru (host country), usia, efek dari kejadian bencana, paparan (exposure) ke bencana

53 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
dan sejarah gangguan psikologi sebelumnya. Agama, keyakinan, kepastian politik

dan persiapan terhadap bencana merupakan faktor pelindung untuk kelompok rentan.

Efek dari Bencana, karakteristik yang mempengaruhi rasa trauma : rasa horror

yang terjadi ketika melihat even/kejadian tersebut, durasi dari bencana, kejadian yang

tidak diharapkan (kejadian yang tidak ada peringatannya berdampak lebih besar pada

kondisi psikologis seseorang), rasio dampak bencana, ancaman yang dilihat dari:

rasio akibat bencana, kehilangan yang diakibatkan oleh bencana pada level komunitas,

perubahan sosial kultur seperti kegiatan dalam keseharian, kontrol terhadap kejadian,

dukungan sosial setelah bencana,simbolism dari kejadian bencana (cara memaknai

kejadian antara “kehendak Tuhan” atau “manusia”), kemampuan memanage stress,

akumulasi dari sebelum dan sesudah bencana, seperti kepribadian seseorang ataupun

kondisi emosi individu tersebut.

54 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
DAFTAR PUSTAKA

Enarson, E.2000. infocus programme on crisis Response and Reconstruction Working


paper 1: Gender and natural disaster. Geneva: Recorvery and Reconstruction
Departement.

Federal Emergency Management Agency (FEMA).2010. Developing and


Maintaining Emergency operations plans: compherensive preparedness guide (CPG):
US Departement of homeland Security.

Indriyani, S.2014. Basic Gender dalam Penanganan Bencana. Surabaya: Suara


Merdeka.

Kemenkes.2011. Pedoman Penanggulangan Teknis Krisi Kesehatan Akibat Bencana.


Standar International

Klynman, Y., Kouppari, N., & mukhier, M., (Eds.).2007. World disasters report
2007: Focus on discrimination. Geneva,Switzerland: international Federation of Red
Cross and Red Crescent societies.

55 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a
Powers, R., & Daily, E., (Eds).2010. international disaster nursing. Cambridge, UK:
The world Association for Disaster and Emergency Medicine & Cambridge
University Press.

Undang-undang No.24 tahun 2007 tentang penanggulangan bencana.

Veenema, T.G. 2007. Disaster nursing and emergency preparedness for chemical,
biological and radiological terrorism and other hazards (2nd ed.). New York, NY:
Springer Publishing Company,LLC.

World Health Organization (WHO) & Internasional council of nursing (ICN).2009.


ICN Frame Work of disaster Nursing Competencies. Geneva, Switzerland :ICN.

56 | K o n s e p p e r a w a t a n k e l o m p o k r e n t a n s a a t b e n c a n a