Anda di halaman 1dari 17

BAB II

LANDASAN TEORI

A. Pengertian
Bayi baru lahir mengalami perubahan fisiologis yang sangat hebat. Perubahan yang komplek ini
harus terjadi pada jangka waktu yang tepat bagi bayi baru lahir untuk dapat bertahan hidup dan
berkembang sercara normal. Bayi baru lahir harus melewati beberapa fase selama trassisi kehidupan di luar
uterus. Masa trassisi kehidupan dimulai saat lahirnya yaitu ketika bayi dirangsang oleh kontraksi uterus
dan perubahan tekanan akibat pecahnya ketuban, pada saat lahir dan pernafasan harus di mulai.( Reedar,
2011, hal : 71)

Bayi baru lahir (neonatus) adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan umur kehamilan
37-42 minggu,lahir melalui jalan lahir dengan presentasi kepala secara spontan tanpa gangguan, menangis
kuat, nafas secara spontan dan teratur,berat badan antara 2500-4000 gram serta harus dapat melakukan
penyesuaian diri dari kehidupan intrauterin ke kehidupan ekstrauteri (Marlyn dongoes,1999).

Masabayibarulahir (neonatal) adaalahmasa 28 haripertamakehidupanmanusia.Padamasainiterjadi


proses penyesuaian system tubuhbayidarikehidupan intra uteri kekehidupanekstra uteri.
Masainiadalahmasa yang perlumendapatkanperhatiandanperawatan yang
ekstrakarenapadamasainiterdapatmortalitas paling tinggi (llyasjumiarni,1994 hal:1).

Neonatus adalah bayi dari umur 4 minggu,lahir biasanya dengan cara gestasi 38-42
minggu (Ilyas Jumiarni,1994 hal:23).

Kesimpulan :

bayi baru lahir(neonatus), adalah suatu keadaan dimana bayi baru lahir dengan umur kehamilan
37-42 minggu dan mengalami perubahan fisiologis bayi dalam 28 hari pertama kehidupannya. Bayi baru
lahir harus melewati beberapa fase selama trassisi kehidupan di luar uterus. Masa trassisi kehidupan
dimulai saat lahirnya yaitu ketika bayi dirangsang oleh kontraksi uterus dan perubahan tekanan akibat
pecahnya ketuban, pada saat lahir dan pernafasan harus di mulai.

B. Etiologi
Beberapa istilah yang berkaitan dengan umur kehamilan dan berat janin yang dilahirkan sebagai
berikut :
1. Abortus ; umur hamil sebelum 28 minggu dengan berat janin < 1000 gram
2. Persalinan premature : kelahiran bayi sebelum kehamilan berumur 28 – 36 minggu dengan
berat janin 2,499 gr
3. Persalinan Aterm : persalinan antara umur 37 – 42 minggu dengan berat janin 2,500 - 4000 gr
4. persalinan serotinus : persalinann yang lebih dari 42 minggu
5. Persalinan presipitatus : persalinan cepat kurang dari 3 jam

C. Klasifikasi
bayi baru lahir mengalami perubahan fisiologis yang sangat hebat. Perubahan yang kompleks
ini harus terjadi pada jangka waktu yang tepat bagi bayi baru lahir untuk dapat bertahan hidup dan
berkembang secara normal. Bayi baru lahir harus melewati beberapa fase selama beradaptasi dengan
kehidupan di luar uterus. Masa transisi kehidupan dimulai saat dilahirkan yaitu ketika janin dirangsang
oleh kontraksi uterus dan perubahan tekanan akibat pecahnya ketuban. Pada saat lahir, pernapasan harus
dimulai. Kondisi ini memicu perubahan fungsi system organ dan proses metabolik. Perubahan yang
signifikan terjadi pada area berikut:
 Pernapasan
 Sirkulasi
 System imun
 Pengaturan suhu: metabolism
 Sistem neurologis
 System gastrointestinal
 Fungsi ginjal dan sekresi urine
 Fungsi hati
Fase akhir masa transisi adalah pengaturan kembali proses metabolik lebih lanjut untuk mencapai suatu
kondisi yang stabil dan dapat mempertahankan hidup. Kondisi ini meliputi perubahan saturasi oksigen
darah, penurunan enzim, pengurangan asodosis respiratori pascanatal, dan pemulihan jaringan neurologis
akibat trauma persalinan dan kelahiran (Reeder, 2011) hlm : 71.

1. Perubahan pernafasan
Sebelum bayi dilahirkan, kebutuhan oksigen janin dipengaruhi oleh plasenta, oleh
karena itu paru-paru janin tidak perlu berfungsi sebagai organ respirasi dan perkembangan
struktur paru-paru berlangsung secara kontinu sepanjang kehidupan janin dan masa kanak-
kanak awal. Saluran mulai terbentuk pada cabang bronchial sekitar usia 17 minggu, dan
kantong udara primitive mulai terbentuk. Pada usia 26 minggu terjadi suatu vaskularisasi
yang adekuat.Janin cukup bulan yang normal siap untuk mulai pernafasan efektif pada saat
lahir (Reeder S. J., 2011)hlm : 71.
2. Sistem imun
Pada system imunolgi terdapat beberapa jenis imunologi (suatu protein yang
mengandung zat antibody)diantaranya adalah imunoglobulingmma G(Ig G)
Pada neonatus hanya terdapat Ig G dibentuk banyak pada bulan ke 2 setelah bayi dilahirkan.
Ig G Pada janin berasal dari ibunya melalui plasenta.Apabilaterjadiinfeksipadajanin yang
dapatmelaluiplasenta, reaksiimunologidapatterjadidenganpembentukansel plasma dan anti
bodi gamma A,Gdan M(Ilyas Jumiarni,1994) hlm : 51.
3. Pengaturan suhu tubuh
Bayi baru lahir dilahirkan ke lingkungan yang lebih dingin dari pada lingkungan uterus yang biasa
dialaminya. Karena peruahan kondisi llingkungan yang cepat ini, suhu bayi baru lahir dapat turun beberapa
derajat setelah dilahirkan.
Kehilangan panas. Evaporasi, konduksi, konveksi, dan radiasi merupakan empat cara yang menyebabkan
bayi baru lahir dapat kehilangan panas dilingkungannya. Kehilangan panas melalui evaporasi juga terjadi
dari paru pada saat bayi baru lahir mengalami takipnea atau jika kelembapan rendah. Kehilangan panas
melalui konduksi meliputi transfer panas dari suatu benda yang lebih hangat ke benda yang lebih dingin
melalui kontak langsung. Melalui konveksi transfer panas adalah dari tubuh ke udara sekelilingnya. Suhu
bayi baru lahir dipengaruhi oleh aliran udara dilingkungan, seperti yang dibebaskan oleh terpasangnya alat
pedingin ruangan. Radiasi terjadi ketika panas ditrasfer dari benda yang hangat kebenda yang lebih dingin
saat benda tersebut tidak kontak secara langsung.

Produksi Panas. untuk memelihara suhu normal saat dipanjankan pada lingkungan yang dingin, bayi baru
lahir meningkatkan laju produksi panasnya dalam upaya mengganti panas yang hilang. Bayi baru lahir
jarang sekali menggigil, tetapi kemungkinan terdapat peningkatan aktivitas otot volunter. Mekanisme
primer produksi panas pada bayi baru lahir adalah termogenesis bukan menggigil. Cara ini terdiri atas
reaksi kimia yang terjadi lemak coklat yang memecah trigliserida menjadi gliserol dan asam lemak
sehingga mengghasilkan panas. sel-sel lemak coklat mengandung banyak lemak vakuola kecil yang
berbeda dengan vakuola lemak putih yang besar dan tunggal. Simpanan lemak coklat ditemukan antara
daerah skapula, daerah belakang leher, aksila, mediastium, da sekitar ginjal dan adrenal.

Penyimpanan Panas. penyimpan panas tubuh pada bayi baru lahir terjadi melalui mekanisme
vasokontriksi perifer dan mengambil posisi fleksi atau posisi janin. Posisi tersebut mengurangi area
permukaan yang dapat menyebabkan kehilangan panas.

Pengaruh Stres Dingin pada Bayi Baru Lahir Penigkatan laju metabolik dihubungkan dengan
termogenesis bukan mengigil yang menyebabkan peningkatan konsumsi oksigen dan kalori. Untuk
mengganti kehilangan panas selama penurunan suhu sebesar 3,50C, bayi baru lahir membutuhkan
peningkatan konsumsi oksigen sebesar 100% selama lebih 11/2jam. Bahkan bayi abru lahir cukup bulan
yang aktif sekalipun dapat mengalami hipotermia. Stres dingin dapat membahayakan atau bahkan
berakibat fatal bagi seorang bayi baru lahir yang memiliki masalah metabolisme atau oksigenisasi (Reeder
S. J., 2011)hlm : 76.
4. Sistem neurologi
Pada saat lahir system persarafan belum terintegrasi dengan sempurna namun sudah cukup
berkembang untuk bertahan dalam kehidupan ekstrauerin. Kebanyakan fungsi neurologis berupa ferleks
primitive. System saraf otonom sangat penting selama transisi, karena saraf ini merangsang respirasi awal,
membantu mempertahankan keseimbangan asam-basa, dan membantu mengatur seimbangan control suhu.
Mielinisasi system saraf mengikuti hukum perkembangan sefalokaudal proksimal (kepala ke jari
kaki-pusat ke perifer) dan berhubungan erat dengan kemempuan keterampilan motoric halus dan kasar
yang tampak. Myelin diperlukan untuk transmisi cepat dan efisien pada sebagian implus saraf sepanjang
jalur neural. Traktus yang mengalami mielinisasi paling awal adalah traktus sensoris, serebral, dan
ekstrapiramidal. Saraf ini menyebabkan pengindraan tajam, pengecap, pembau, dan pendengaran pada bayi
baru lahir, begitu juga persepsi nyeri. Semua saraf kranial sudah ada dan mengalami mielinisasi, kecuali
saraf optikus ddnolfaktorius (Bobak, 2005)
5. Sistem gastrointestinal
Bayi baru lahir cukup bulan mampu menelan, mencerna, memetabolisme dan mengabsorbsi
protein dan karbohidrat sederhana, serta mengemulsi lemak. Kecuali amylase pancreas, krakteristik enzim
dan cairan pencernaan bahkan sudah ditemukan pada bayi yang berat badan lahirnya rendah. Adapun
beberapa perubahan fisiologis pada system cerna antara lain:

1. Pada pencernaan
Keasaman lambung bayi pada saat lahir pada umumnya sama dengan keasaman lambung orang dewasa,
tetapi akan menurun dalam satu minggu dan tetap rendah selama dua sampai tiga bulan. Penurunan
keasaman lambung ini dapat menimbulkan “kolik”. Bayi yang mengalami kolik kidak dapat tidur,
menangis dan tampak distress di antara waktu makan, gejala ini akan hilang setelah bayi berusia 3 bulan.

Kapasitas lambung bayi baru lahir kurang lebih 30cc. waktu pengosongan lambung pun juga bervariasi
antara 2-3 jam. Beberapa factor seperti waktu pemberian makan dan volume makan, jenis dan suhu
makanan serta stress psikis dapat mempengaruhi waktu pengosongan lambung (Bobak, 2005).

2. Pada eliminasi BAB


Bayi lahir dengan bagian bawah yang penuh meconium. Meconium dibentuk selama janin dalam
kandungan berasal dari cairan amnion dan unsur-unsurnya, dari sekresi usus dan dari sel-sel mukosa.
Meconium berwarna hijau kehitaman konsistensinya kental, dan mengandung darah samar. Meconium
pertama keluar steril, tetapi setelah beberapa jam mengandung bakteri. Sekitar 69%bayi normal yang
cukup bulan mengeluarkan meconium dalam 12 jam pertama kehidupannya(Bobak, 2005).
6. Fungsi ginjal dan sekresi urine
Dalam 24 jam kelahiran, 92% bayi baru lahir yang sehat berkemih, tetapi berkemih pertama dapat
terjadi setelah dilahirkan dan tidak bias diamati. Seiring dengan asupan cairan meningkat, frekuensi
berkemih meningkat dari 2-6x pada hari pertama dan ke dua 5-20x per 24 jam pada hari
berikutnya (Reeder S. J., 2011)hlm : 78.
7. Fungsi hati.
Selama kehidupan janin hati memiliki peran penting dalam pembentukan darah. Di
perkirakan bahwa fungsi ini berlanjut sampai derajat tertentu setelah lahir. Selanjutnya pada
periode neonatus hati memproduksi zat-zat penting untuk koagulasi darah. Jika asupan wanita
adekuat selama kehamilan maka kadar besi yang cukup di simpan pada bayi baru lahir untuk
memasok kebutuhan pada bulan-bulan pertama kehidupan. (Reeder, 2011)hlm : 78.

D. Tanda dan gejala


Mata
1. Berkedip atau reflek corneal
Bayi berkedip pada pemunculan sinar terang yang tiba – tiba atau pada pandel atau obyek
kearah kornea, harus menetapkan sepanjang hidup, jika tidak ada maka menunjukkan adanya
kerusakan pada saraf cranial.
2. Pupil
Pupil kontriksi bila sinar terang diarahkan padanya, reflek ini harus sepanjang hidup.
3. Glabela
Ketukan halus pada glabela (bagian dahi antara 2 alis mata) menyebabkan mata menutup
dengan rapat.
Mulut dan tenggorokan
1. Menghisap
Bayi harus memulai gerakan menghisap kuat pada area sirkumoral sebagai respon terhadap
rangsangan, reflek ini harus tetap ada selama masa bayi, bahkan tanpa rangsangan sekalipun,
seperti pada saat tidur.
2. Menguap
Respon spontan terhadap panurunan oksigen dengan maningkatkan jumlah udara inspirasi,
harus menetap sepanjang hidup

E. Patofisiologi
Segera setelah lahir, BBL harus beradaptasi dari keadaan yang sangat tergantung
menjadi mandiri secara fisiologis. Banyak perubahan yang akan dialami oleh bayi yang
semula berada dalam lingkungan interna (dalam kandungan Ibu)yang hangat dan segala
kebutuhannya terpenuhi (O2 dan nutrisi) ke lingkungan eksterna (diluar kandungan ibu) yang
dingin dan segala kebutuhannya memerlukan bantuan orang lain untuk memenuhinya.Saat ini
bayi tersebut harus mendapat oksigen melalui sistem sirkulasi pernafasannya sendiri yang
baru, mendapatkan nutrisi oral untuk mempertahankan kadar gula yang cukup, mengatur
suhu tubuh dan melawan setiap penyakit.Periode adaptasi terhadap kehidupan di luar rahim
disebut Periode Transisi. Periode ini berlangsung hingga 1 bulan atau lebih setelah kelahiran
untuk beberapa sistem tubuh. Transisi yang paling nyata dan cepat terjadi adalah pada sistem
pernafasan dan sirkulasi, sistem termoregulasi, dan dalam kemampuan mengambil
menggunakan glukosa.

F. Faktor Bayi Baru Lahir Resiko Tinggi


1.Asfiksia neonatorum
Asfiksia neonatorum ialah keadaan dimana bayi tidak dapat segera bernafas secara
spontan dan teratur setelah lahir. Hal ini disebabkan oleh hipoksia janin dalam uterus dan
hipoksia ini berhubungan dengan faktor-faktor yang timbul dalam kehamilan, persalinan, atau
segera setelah bayi lahir. Akibat-akibat asfiksia akan bertambah buruk apabila penanganan
bayi tidak dilakukan secara sempurna. Tindakan yang akan dikerjakan pada bayi bertujuan
mempertahankan kelangsungan hidupnya dan membatasi gejala-gejala lanjut yang mungkin
timbul ( llyasjumiarni, 1994 ) hlm : 77.
2. Infeksi neonatorum
Inkfesi Neonatorum atau Sepsis adalah infeksi bakteri umum generalisata yang biasanya
terjadi pada bulan pertama kehidupan. yang menyebar ke seluruh tubuh bayi baru lahir.Sepsis
adalah sindrom yang dikarakteristikan oleh tanda-tanda klinis dan gejala-gejala infeksi yang
parah yang dapat berkembang ke arah septisemia dan syok septik. (Doenges, Marylyn E.
2000,). Septisemia menunjukkan munculnya infeksi sistemik pada darah yang disebabkan oleh
penggandaan mikroorganisme secara cepat dan zat-zat racunnya yang dapat mengakibatkan
perubahan psikologis yang sangat besar. Sepsis merupakan respon tubuh terhadap infeksi yang
menyebar melalui darah dan jaringan lain. Sepsis terjadi pada kurang dari 1% bayi baru lahir
tetapi merupakan penyebab dari 30% kematian pada bayi baru lahir. Infeksi bakteri 5 kali lebih
sering terjadi pada bayi baru lahir yang berat badannya kurang dari 2,75 kg dan 2 kali lebih
sering menyerang bayi laki-laki. Pada lebih dari 50% kasus, sepsis mulai timbul dalam waktu
6 jam setelah bayi lahir, tetapi kebanyakan muncul dalam waktu 72 jam setelah lahir.Sepsis
yang baru timbul dalam waktu 4 hari atau lebih kemungkinan disebabkan oleh infeksi
nosokomial (infeksi yang didapat di rumah sakit).
3. Hipoglikemia
Istilah hipoglikemia merujuk pada kadar glukosa yang rendah. Hipoglikemia sesaat
pada awal kehidupan neonates cukup bulan merupakan hal yang wajar, sering didapatkan dan
terjadi pada hamper seluruh bayi baru lahir. Hal ini akan normal dengan sendirinya dan
bukanlah sesuatu yang patologis karena kadar glukosa darah meningkat secara spontan dalam
2-3 jam. Dalam situasi dimana kadarglukosa darah yang rendah karena belum mendapat asupan
makanan (ASI belum ada) terjadi respon ketogenik yaitu metabolism dari asam lemak menjadi
badan keton. Otak bayi dengan kemampuannya akan memanfaatkan badan keton untuk
menghemat glukosa bagi otak dan melindungi fungsi neurologis bayi.
Bayi yang mendapat ASI cenderung mempunyai kadar glukosa yang rendah
dibandingkan dengan bayi yang mendapat susu formula, tetapi tidak berkembang menjadi
hipoglikemia simptomatik. Pemberian minum awal dengan ASI yang mengandung alanin,
asam lemak rantai panjang dan laktosa, akan meningkatkan proses glukoneogenesis. Bayi
cukup bulan yang minum ASI mempunyai kadar glukosa yang lebih rendah tetapi mempunyai
kadar badan keton yang lebih tinggi.
Definisi hipoglikemia hingga saat ini masih kontroversial, karena kurangnya korelasi
yang bermakna antara kadar glukosa plasma, gejala klinis, dan gejala sisa jangka panjang.
Hipoglikemia ditandai oleh nilai yang unik pada masing-masing individu neonates dan
bervariasi sesuai dengan kematangan fisiologis dan pengaruh patologisnya.
Hipoglikemia pada bayi terjadi bila kadar glukosa darah< 45mg/dL.

Bayi dengan risiko hipoglikemia


Pada bayi baru lahir yang mempunyai risiko hipoglikemia, kadar glukosa darahnya
dipantau secara rutin, terlepas dari pemberian, macam dan cara minum apapun yang
didapatkan. Bayi yang mempunyai risiko hipoglikemia:
a. Bayi dari ibu dengan diabetes. Ibu dengan diabetes tipe I yang tidak terkontrol memiliki kadar glukosa
darah yang tinggi yang bisa melewati plasenta sehingga merangsang pembentukan insulin pada neonatus.
Saat lahir, kadar glukosa darah tiba-tiba turun karena pasokan dari plasenta berhenti, padahal kadar insulin
masih tinggi, sehingga terjadi hipoglikemia. Pencegahannya adalah dengan mengontrol kadar glukosa
darah pada ibu hamil.
b. Bayi besar untuk masa kehamilan (BMK). Bayi BMK biasanya lahir dari ibu dengan toleransi glukosa
yang abnormal.
c. Bayi kecil untuk masa kehamilan (KMK). Selama dalam kandungan, bayi sudah mengalami kekurangan
gizi, sehingga tidak sempat membuat cadangan glikogen, dan kadang persediaan yang ada sudah terpakai.
Bayi KMK mempunyai kecepatan metabolisme lebih besar sehingga menggunakan glukosa lebih banyak
daripada bayi yang berat lahirnya sesuai untuk masa kehamilan (SMK), dengan berat badan yang sama.
Meskipun bayi KMK bugar, bayi mungkin tampak lapar dan memerlukan lebih banyak
perhatian. Bayi KMK perlu diberi minum setiap 2 jam dan kadang masih hipoglikemia,
sehingga memerlukan pemberian suplementasi dan kadang memerlukan cairan intravena
sambil menunggu ASI ibunya cukup.
d. Bayi kurang bulan. Deposit glukosa berupa glikogen biasanya baru terbentuk pada trimester ke-3
kehamilan, sehingga bila bayi lahir terlalu awal, persediaan glikogen ini terlalu sedikit dan akan lebih cepat
habis terpakai.
e. Bayi lebih bulan. Fungsi plasenta pada bayi lebih bulan sudah mulai berkurang. Asupan glukosa dari
plasenta berkurang, sehingga janin menggunakan cadangan glikogennya. Setelah bayi lahir, glikogen
tinggal sedikit, sehingga bayi mudah mengalami hipoglikemia.
f. Pasca asfiksia. Pada asfiksia, akan terjadi metabolisme anaerob yang banyak sekali memakai persediaan
glukosa. Pada metabolisme anaerob, 1 gram glukosa hanya menghasilkan 2 ATP, sedang pada keadaan
normal 1 gram glukosa bisa menghasilkan 38 ATP.
g. Polisitemia. Bayi dengan polisitemia mempunyai risiko tinggi untuk terjadinya hipoglikemia dan
hipokalsemia, karena pada polisitemia terjadi perlambatan aliran darah.
h. Bayi yang dipuasakan, termasuk juga pemberian minum pertama yang terlambat. Bayi dapat mengalami
hipoglikemia karena kadar glukosa darah tidak mencukupi
Bayi yang mengalami stres selama kehamilan atau persalinan, misalnya ibu hamil dengan hipertensi.
Setelah kelahiran, bayi mempunyai kecepatan metabolisme yang tinggi dan memerlukan energi yang lebih
besar dibandingkan bayi lain.
i. Bayi yang lahir dari ibu yang bermasalah. Ibu yang mendapatkan pengobatan (terbutalin, propanolol,
hipoglikemia oral), ibu perokok, ibu yang mendapat glukosa intra vena saat persalinan, dapat
meningkatkan risiko hipoglikemia pada bayinya.

4. Ikterus
Ikterus adalah warna kuning yang tampak pada kulit dan mukosa karena peningkatan
bilirubin. Biasanya mulai tampak pada kadar bilirubin serum > 5 mg/dL.
Ikterus fisiologis :
a. Ikterus terlihat pada hari ke 2-3, biasanya mencapai puncaknya antara hari ke 2-4 dan
menurun kembali dalam minggu pertama setelah lahir.
b. Kadar bilirubin indirect tidak melebihi 10mg/dL pada neonates cukup bulan dan 12 mg/dL
untuk neonates lebih bulan.
c. Kecepatan Peningkatan kadar bilirubin serum tidak melebihi 5mg/dL perhari.

Ikterus patologis :
a. Ikterus terjadi pada 24 jam pertama kehidupan.
b. Peningkatan kadar bilirubin serum sebanyak 5mg/dL atau lebih setiap 24 jam.
c. Ikterus yang disertai proses hemolisis (inkompatabilitas darah, defisiensi G6PD, atau sepsis).
d. Kadar bilirubin direc< 2mg/dL.
e. Ikterus yang disertaioleh:
- Berat lahir<2000 gra
- Asfiksia, hipoksia
- Infeksi
- Trauma lahir pada kepala
- Hipoglikemia, hiperkarbia
- Hiperosmolaritas darah
f. Bilirubin total/indirek untuk bayi cukup bulan> 13 mg/dL atau bayi kurang bulan >10 mg/dL
EfekHiperbilirubinemia
Ikterus neonatorum yang berat dan tidak ditatalaksana dengan benar dapat menimbulkan
komplikasi ensefalopati bilirubin. Hal ini terjadi akibat terikatnya asam bilirubin bebas dengan
lipid dinding sel neuron di ganglia basal, batang otak dan serebelum yang menyebabkan
kematian sel. Pada bayi dengan sepsis, hipoksia dan asfiksia bias menyebabkan kerusakan pada
sawar darah otak. Dengan adanya ikterus, bilirubin yang terikat ke albumin plasma bias masuk
ke dalam cairan ekstra selular. Sejauh ini hubungan antara peningkatan kadar bilirubin serum
dengan ensefalopati bilirubin belum diketahui. Tetapi belum ada studi yang mendapatkan nilai
spesifik bilirubin total serum pada bayi cukup bulan dengan hiperbilirubinemia non hemolitik
yang dapat mengakibatkan terjadinya gangguan pada kecerdasan atau kerusakan neurologic
yang disebabkannya (Reeder, 2011).

5. Hipotermi
Hipotermi pada bayi baru lahir adalah suhu tubuh dibawh 36,5oC pengukuran dilakukan
pada ketiak selama 3-5 menit.Hipotermi disebabkan oleh :
a. Evaporasi, terjadi apabila bayi lahir tidak segera dikeringkan.
b. Konduksi, terjadi apabila bayi diletakkan ditempat dengan alas yang dingin, seperti pada waktu
menimbang bayi.
c. Radiasi, terjadi apabila bayi diletakkan diudara lingkungan dingin.
d. Konveksi, terjadi apabila bayi berada dalam ruangan ada aliran udara karena pintu, jendela
terbuka(Reeder, 2011).

F. Penatalaksanaan
1. Pencegahan Infeksi
a. Cuci tangan dengan seksama sebelum dan setelah bersentuhan dengan bayi
b. Pakai sarung tangan bersih pada saat menangani bayi yang belum dimandikan
c. Pastikan semua peralatan dan bahan yang digunakan, terutama klem, gunting, penghisap
lendir DeLee dan benang tali pusat telah didesinfeksi tingkat tinggi atau steril.
d. Pastikan semua pakaian, handuk, selimut dan kain yang digunakan untuk bayi, sudah dalam
keadaan bersih. Demikin pula dengan timbangan, pita pengukur, termometer, stetoskop.
e. Memberikan vitamin KUntuk mencegah terjadinya perdarahan karena defisiensi vitamin K
pada bayi baru lahir normal atau cukup bulan perlu di beri vitamin K per oral 1 mg / hari
selama 3 hari, dan bayi beresiko tinggi di beri vitamin K parenteral dengan dosis 0,5 – 1 mg
IM.
f. Memberikan obat tetes atau salep mata :
1) Untuk pencegahan penyakit mata karena klamidia (penyakit menular seksual) perlu
diberikan obat mata pada jam pertama persalinan, yaitu pemberian obat mata eritromisin 0.5
% atau tetrasiklin 1 %, sedangkan salep mata biasanya diberikan 5 jam setelah bayi lahir.
2) Perawatan mata harus segera dikerjakan, tindakan ini dapat dikerjakan setelah bayi selesai
dengan perawatan tali pusat Yang lazim dipakai adalah larutan perak nitrat atau neosporin
dan langsung diteteskan pada mata bayi segera setelah lahir.(Reeder,2003)hlm : 121
G. Pemeriksaan penunjang
1. Sel Darah Putih 18000/mm3, Neutropil meningkat sampai 23.000-24.000/mm hari pertama
setelah lahir (menurun bila ada sepsis)
2. Hemoglobin 14,5 - 22,5g/dl
3. Hematokrit 44% - 72% (peningkatan 65% atau lebih menandakan polisitemia, penurunan
kadar gula menunjukan anemia/hemoraghi prenatal)
4. Essai Inhibisi guthriel tes untuk adanya metabolit fenillalanin, menandakan fenil ketonuria
5. Bilirubin total 6 mg/dl pada hari pertama kehidupan 8 mg/dl 1 - 2 hari dan 12 mg/dl pada 3 -
5 hari.
6. Detrosik:Tetes glukosa selama 4 - 6 jam pertama setelah kelahiran rata-rata 40-50
mg/dl,meningkat 60 -70 mg/dl pada hari ke 3.
7. SDM 5 – 7,5 juta/mm3 . (Bobak, 2004).

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

Asuhan Keperawatan

1. Pengkajian
a. Biodata
Nama pasien: supaya membedakan dengan bayi lainya
Umur : dalam hari setelah kelahiran
Nama ibu :mengetahui nama ibu bayi
Umur :antara 17-35 tahun
<17 tahun alat reproduksi belum sempurna/matang
>35 tahun banyak terjadi resiko saat melahirkan
Suku/bangsa : Di Jawa Tengah, ada kepercayaan bahwa ibu hamil pantang makan telur
karena akan mempersulit persalinan dan pantang makan daging karena akan menyebabkan
perdarahan yang banyak. Sementara di salah satu daerah di Jawa Barat, ibu yang kehamilannya
memasuki 8-9 bulan sengaja harus mengurangi makannya agar bayi yang dikandungnya kecil
dan mudah dilahirkan. Di masyarakat Betawi berlaku pantangan makan ikan asin, ikan laut,
udang dan kepiting karena dapat menyebabkan ASI menjadi asin. Dan memang, selain ibunya
kurang gizi, berat badan bayi yang dilahirkan juga rendah. Tentunya hal ini sangat
mempengaruhi daya tahan dan kesehatan si bayi.
Kebiasaan-kebiasaan adat istiadat dan perilaku masyarakat sering kali merupakan penghalang atau
penghambat terciptanya pola hidup sehat di masyarakat. Perilaku, kebiasaan, dan adat istiadat yang
merugikan seperti misalnya:
o Ibu hamil dilarang tidur siang karena takut bayinya besar dan akan sulit melahirkan
o Ibu menyusui dilarang makan makanan yang asin, misalnya: ikan asin, telur asin karena bisa
membuat ASI jadi asin
o Ibu habis melahirkan dilarang tidur siang
o Bayi berusia 1 minggu sudah boleh diberikan nasi atau pisang agar mekoniumnya cepat keluar
o Ibu post partum harus tidur dengan posisi duduk atau setengah duduk karena takut darah kotor
naik ke mata
o Ibu yang mengalami kesulitan dalam melahirkan, rambutnya harus diuraikan dan persalinan
yang dilakukan di lantai, diharapkan ibu dapat dengan mudah melahirkan
o Bayi baru lahir yang sedang tidur harus ditemani dengan benda-benda tajam

Pekerjaan :kantoran seringnya makan makanan cepat saji, kurangnya istirahat, menyebabkan ibu
kelelahan dan beresiko tinggi terhadap kehamilanyamisalnya prematur.
Alamat :ke adaan lingkungan yang seperti apa misalnya bersih apa tidak, kumuh apa tidak dan lain-
lain

b. Pengakjian fisik pada bayi


Pemeriksaan pertama pada bayi baru lahir harus dilakukan di kamar bersalin. Perlu mengetahui
riwayat keluarga, riwayat kehamilan sekarang dan sebelumnya dan riwayat persalinan. Pemeriksaan
dilakukan bayi dalam keadaan telanjang dan dibawah lampu yang terang. Tangan serta alat yang
digunakan harus bersih dan hangat.

Tujuan pemeriksaan ini adalah :


1) Menilai gangguan adaptasi bayi baru lahir dari kehidupan dalam uterus ke luar uterus yang
memerlukan resusitasi.
2) Untuk menemukan kelainan seperti cacat bawaan yang perlu tindakan segera.
3) Menentukan apakah bayi baru lahir dapat dirawat bersama ibu (rawat gabung) atau tempat
perawatan khusus.
Pemeriksaan yang dilakukanyaitu :

1. Penilaian APGAR SKOR menurut (Saifuddin, 2006) hal: 248-249


Tanda Skore 0 Skore 1 Skore 2
A
Appearance /warna Badan Tubuh kemerahan, Merah seluruh
kulit biru/pucat ektremitas biru tubuh
P
Pulse rate/frekuensi
nadi Tidak ada Kurang dari 100 Lebih dari100
G
Grimance/reaksi Sedikit gerakan
rangsangan Tidak ada mimik (grimace) Batuk/bersin
A Ektremitas dalam
Activity/tonus otot Lunglai/lemas sedikit fleksi Bergerak aktif
R Menangis lemah, Baik atau
Respiration/pernapasan Tidak ada tidak teratur Menangis kuat

Keterangan :
Keadaan umum bayi di nilai satu menit setelah lahir dengan penggunaan nilai apgar. Penilaian ini
perlu untuk mengetahui apakah bayi menderita asfiksia ataua tidak. Yang dinilai ialah frekuensi jantung
(heart rate), usaha napas (respiratory effort), tonus otot (muscle tone) ,warna kulit (colour) dan reaksi
terhadap rangsangan (response tostimuli) yaitu dengan memasukkan kateter ke lubang hidung setelah jalan
napas dibersihkan. Setiap penilaian diberi angka 0,1,dan 2. Dari hasil penilaian tersebut dapat diketahui
apakah bayi normal (vigorous baby = nilai Apgar 7-10), asfiksia sedang-ringan (nialai Apgar 4-6) atau
bayi menderita asfiksia berat (nilai 0-3 ). Bila nilai Apgar dalam 2 menit tidak mencapai nilai 7, maka
harus dilakukan tindakan resusitasi lebih lanjut oleh karena bila bayi menderita asfiksia lebih dari 5 menit,
kemungkinan terjadinya grjala-gejala neurologik-lanjutan di kemudian hari lebih besar. Berhubung dengan
itu,penilaian menurut Apgar dilakukan selain pada umur 1 menit juga pada umur 5 menit.

c. Pemeriksaanfisikbayibarulahir
Pemeriksaan ini harus dilakukan dalam 24 jam dan dilakukan setelah bayi berada di ruang
perawatan. Tujuan pemeriksaan untuk mendeteksi kelainan yang mungkin terabaikan pada
pemeriksaan di kamar bersalin.
1) Aktivitas
Status sadar mungkin 2-3 jam beberapa hari pertama. Bayi tampak semi-koma,saat tidur
dalam meringis atau tersenyum adalah bukti tidur dengan gerakan mata cepat (REM) tidur
sehari rata-rata 20 jam.

2) Pemeriksaan suhu
Suhu diukur di aksila dengan nilai normal 36,5 0C– 37 0C.

3) Kulit
Inspeksi : Warna tubuh kemerahan dan tidak ikterus.
Palpasi : Lembab, hangat dan tidak ada pengelupasan.

4) Kepala
Inspeksi : Distribusi rambut di puncak kepala.
Palpasi :
 Tidak ada massa atau area lunak di tulang tengkorak.
 Fontanel anterior dengan ukuran 5 x 4 cm sepanjang sutura korona dan sutura segital.
 Fortanel posterior dengan ukuran 1 x 1 cm sepanjang sutura lambdoidalis dan sagitalis.
Wajah
Inspeksi : Mata segaris dengan telinga, hidung di garis tengah, mulut garis tengah wajah dan simetris.
Mata
Inspeksi :Kelompak mata tanpa petosis atau udem., Skelera tidak ikterik, cunjungtiva tidak anemis,
iris berwarna merata dan bilateral. Pupil beraksi bila ada cahaya, reflek mengedip ada.
Telinga
Inspeksi :Posisi telinga berada garis lurus dengan mata, kulit tidak kendur, pembentukkan
tulang rawan yaitu pinna terbentuk dengan baik kokoh.

Hidung
Inspeksi :Posisi di garis tengah, nares utuh dan bilateral, bernafas melalui hidung.

Mulut
Inspeksi :Bentuk dan ukuran proporsional dengan wajah, bibir berbentuk penuh berwarna merah
muda dan lembab, membran mukosa lembab dan berwarna merah muda, palatom utuh, lidah
dan uvula di garis tengah, reflek menghisap serta reflek rooting ada.
Leher
Inspeksi :Rentang pergerakan sendi bebas, bentuk simestris dan pendek.
Palpasi :Triorid di garis tengah, nodus limfe dan massa tidak ada.

5) Dada
Inspeksi : Bentuk seperti tong, gerakan dinding dada semetris, Frekuensi
nafas 40 – 60 x permenit, pola nafas normal.
Palpasi : Ictus cordis teraba di mid klavikula sinistra ruang interkosa
keempat atau kelima tanpa kardiomegali.
asi : frekuensi jantung 120- 160x/menit dan lebih cepat saat menanggis lebih dari 180x/menit.
Perkusi : Tidak ada peningkatan timpani pada lapang paru.

6) Abdomen
Inspeksi : Abdomen bundar dan simetris pada tali pusat terdapat dua
arteri dan satu vena berwarna putih kebiruan.
Auskultasi : Bising usus ada 3-5 x / menit.
Palpasi : Abdomen Lunak tidak nyeri tekan dan tanpa massa hati teraba
2 - 3 cm, di bawah arkus kosta kanan limfa teraba 1 cm di bawah arkus kosta kiri. Ginjal
dapat di raba dengan posisi bayi terlentang dan tungkai bayi terlipat teraba sekitar 2 - 3 cm,
setinggi umbilicus di antara garis tengah dan tepi perut.
Perkusi : Timpanni kecuali redup pada hati, limfa dan ginjal.

7) Genitalia
Genitalia wanita : Labia mayora menutupi labia minora; verniks pada lipatan vagina agak
kemerahan atau edema,tanda vagina/hymen dapat terlihat, rabas lendir, dan kemungkinan
rabas berdarah
Genitalia pria :kulup uretra testis melekat pada glans penis, lubang pada ujung penis, dapat
diraba di tiap kantong skrotum.
8) Anus
Inspeksi :Posisi di tengah dan paten (uji dengan menginsersi jari kelingking), pengeluaran mekonium
terjadi dalam 24 jam.

9) Tulang belakang
Bayi di letakkan dalam posisi terkurap, tangan pemeriksa sepanjang tulang belakang untuk
mencari terdapat skoliosis meningokel atau spina bifilda.
Inspeksi : Kolumna spinalis lurus tidak ada defek atau penyimpang yang terlihat.
Palpasi : Tulang belakang ada tanpa pembesaran atau nyeri.

10) Ekstremitas
Ekstremitas atas
Inspeksi : Rentang pergerakan sendi bahu, klavikula, siku normal pada tangan reflek genggam ada,
kuat bilateral, terdapat sepuluh jari dan tanpa berselaput, jarak antar jari sama, karpal dan
metacarpal ada dan sama di kedua sisi dan kuku panjang melebihi bantalan kuku.
Palpasi : Humerus radius dan ulna ada, klavikula tanpa fraktur tanpa nyeri simetris bantalan kuku
merah muda sama kedua sisi.

Ekstremitas bawah
Panjang sama kedua sisi dan sepuluh jari kaki tanpa selaput, jarak antar jari samabantalan
kuku merah muda, panjang kuku melewati bantalan kuku rentang pergerakansendi penuh :
tungkai, lutut, pergelangan, kaki, tumit dan jari kaki tarsal dan metatarsalada dan sama kedua
sisi reflek plantar ada dan sismetris (reeder,2011 hal: 82-83.

11) Pemeriksaan reflek


a) Refleks menggenggam (palmar grasp reflex) Grasping Reflex adalah bila telapak tangan memberi
rangsangan akan memberi reaksi seperti menggenggam.
b) Refleks leher (tonic neck reflex) pada bayi jatuh tertidur atau keadaan tertidur menunjukan reflek dengan
cepat putar kearah satu sisi repon yang khas jika bayi mengahadap kekiri lengan dan kaki pada sisi itu
sedangkan lengan dan tungkainya akan berada dalamposisi fleksi (putar kepala kearah kanan dan
ektermitas akan mengambil postur yang berlawanan.
c) Refleks menghisap dan membuka mulut (rooting reflex) menimbulkan reflek sentuh bibir, pipi, atau
sudut mulut bayi dengan puting. Respon yang khas bayi menoleh kearah stimulus, membuka mulut,
memasukan puting dan menghisap.
d) Refleks moro (moro reflex) Releks Moro adalah bila diberi rangsangan yang mengagetkan akan terjadi
reflek lengan dan tangan terbuka serta kemudian diakhiri dengan aduksi lengan (Bobak,2004 hal:397-399)
12) Pengukuran atropometrik
a) Penimbang berat badan
Alat timbangan yang telah diterakan serta di beri alas kain di atasnya, tangan bidan menjaga
di atas bayi sebagai tindakan keselamatan .
BBL normal 2500 – 4000gram.
b) Panjang badan
Letakkan bayi datar dengan posisi lurus sebisa mungkin. Pegang kepala agar tetap pada ujung
atas kita ukur dan dengan lembut renggangkan kaki ke bawah menuju bawah kita. PB normal
: 48-50cm.
c) Lingkar kepala
Letakakan pita melewati bagian oksiput yang paling menonjol dan tarik pita mengelilingi
bagian atas alis LK normal : 32 - 34 cm.
d) Lingkar dada
Letakan pita ukur pada tepi terrendah scapula dan tarik pita mengelilingi kearah depan dan
garis putih. LD normal : 32 – 34 cm ( llyasjumiarni ) hlm : 56.

d. Pengkajian adaptasi fisiologi


1) Sirkulasi
Rata-rata nadi apical 120-160 dpm (115 dpm pada 4-6 jam, meningkat sampai 120 dpm pada
12-24 jam setelah kelahiran)
Nadi perifer mungkin melemah,murmur jantung sering ada selama periode transisi, TD
berentang dari 60-80 mmHg (sistolik)/40-45 mmHg (diastolik)
Tali pusat diklem dengan aman tanpa rembesan darah,menunjukan tanda-tanda pengeringan
dalam 1-2 jam kelahiran mengerut dan menghitam pada hari ke 2 atau ke 3.
2) Eliminasi
Abdomen lunak tanpa distensi,bising usus aktif pada beberapa jam setelah kelahiran. Urin
tidak berwarna kuning pucat,dengan 6-10 popok basah per 24 jam.Pergerakan feses
mekonium dalam 24 sampai 48 jam kelahiran.
3) Makanan atau cairan
Berat badan rata-rata 2500-4000 gram.
Penurunan berat badan di awal 5%-10%
Mulut: saliva banyak,mutiara Epstein(kista epithelial)dan lepuh cekung adalah normal
palatum keras/margin gusi,gigi prekosius mungkin ada.
4) Neurosensori
Lingkar kepala 32-37 cm,fontanel anterior dan posterior lunak dan datar, Kaput suksedaneum
dan molding mungkin ada Selama 3-4 hari, Mata dan kelopak mata mungkin edema,
Strabismus dan fenomena mata boneka sering ada.
Bagian telinga atas sejajar dengan bagian dalam dan luar kantus mata(telinga tersusun rendah
menunjukan abnormalitas ginjal atau genetik)
Pemeriksaan neurologis : adanya reflek moro,plantar,genggaman palmar dan babinski, respon
reflex di bilateral/sama (reflex moro unilateral menandakan fraktur klavikula atau cedera
pleksus brakialis),gerakan bergulung sementara mungkin terlihat.
Tidak adanya kegugupan,letargi,hipotonia dan parese.
5) Pernapasan
T akipnea khususnya setelah kelahiran sesaria atau presentasi bokong.
Pola pernapasan diafragmatik dan abdominal dengan gerakan sinkron dari dada dan
abdomen(inspirasi yang lambat atau perubahan gerakan dada dan abdomen menunjukan
distress pernapasan)pernapasan dangkal atau cuping hidung ringan,ekspirasi sulit atau
retraksi interkostal.(ronki pada inspirasi atau ekspirasi dapat menandakan aspirasi)
6) Keamanan
Warna kulit:akrosianosis mungkin ada,kemerahan atau area ekomotik dapat tampak di atas
pipi atau di rahang bawah atau area parietal sebagai akibat dari penggunaan forsep pada
kelahira
Sefalohematoma tampak sehari setelah kelahiran
Ekstremitas:gerakan rentang sendi normal kesegala arah,gerakan menunduk ringan atau rotasi
medial dari ekstremitas bawah,tonus otot baik. (Reeder S. J., 2011)hlm : 79.

2. Diagnosa Keperawatan
a. ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan produksi mucus yang berlebihan
b. ketidak efektifan pengaturan suhu yang berhubungan dengan transisi bayi baru lahir ke
lingkungan
c. resiko infeksi yang berhubungan dengan faktor sistem imun belum matang
d. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kebutuhan kalori
tinggi akibat peningkatan laju metabilok.

3. Intervensi
a. Ketidak efektifan jalan nafas berhubungan dengan produksi mucus yang berlebihan
Rasional : membantu menghilangakan akumulasi cairan yang memudahkan
pernafasan dan membantu mencegah aspirasi
Intervensi : keringkan bayi dengan selimut tempatkan di lengan orang tua tau di
unit pemanas
Rasional : menurun efek-efek stress dingin dan berhubungan dengan hipoksia
yang selanjutnya dapat menekan upaya pernafasan.
Intervensi : berikan oksigen hangat melalui masker pada 4-7/mnt bila di
ingginkan
b. Ketidak efektifan pengaturan suhu yang berhubungan dengan transisi bayi baru lahir ke
lingkungan
Intervensi :
- tempatkan bayi dalam lingkungan hangat atau pada lengan orang tua.
- gunakan tutup kepala karena 25 % panas hilang pada bayi baru lahir melalui kepala.
- - Dekap bayi diantara payudara ibu dengan posisi bayi telungkup dan posisi kaki seperti
kodok serta kepala menoleh ke satu sisi
- metode kangguru bisa dilakukan dalam posisi ibu tidur dan istirahat
- Metode ini dapat dilakukan pada ibu, bapak atau anggota keluarga yang dewasa lainnya
Rasional : mencegah kehilangan panas melalui konduksi, dimana panas
berpindah daribayike objek yang lebih dingin dari bayi
Intervensi : kaji suhu inti neonates
Rasional : suhu kulit harus dipertahankan mendekati 36,5˚Cdan suhu inti rectal
biasanya 0,5˚C
c. resiko infeksi yang berhubungan dengan faktor sistem imun belum matang
Intervensi : cuci tangan sebelum merawat tali pusat.
Rasional : mencucui tangan adalah faktor yang paling penting untuk melindungi
bayi baru lahir dari infeksi.
Intervensi : rawat tali dengan teknik asetik dan antiseptik.
d. Resiko tinggi terhadap perubahan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh b/d kebutuh kalori tinggi
akibat peningkatan laju metabolic.
Intervensi :
1) Tinjau ulang riwayat prenatal ibu terhadap kemungkinan stressor yang berdampak pada simpanan glukosa
neonates, seperti diabetes, hipertensi karena kehamilan ( HKK ), atau gangguan jantung atau ginjal.
2) Perhatikan APGAR skor, kondisi saat lahir, tipe/waktu pemberian obat, dan suhu awal pada penerimaan di
ruang perawatan bayi.
3) Turunkan stressor fisik seperti stress dingin, pengarahan fisik, dan pemajanan berlebihan pada pemancar
panas.
4) Timbang berat badan bayi saat menerima di ruang perawatan dan setelah itu setelah itu setiap hari.
5) Auskultasi bising usus.
6) Anjurkan ibu segera memberi ASI.
Rasional : menegah terjadinya infeksi.

BAB IV

PENUTUP

1. Kesimpulan
Pada beberapa jam setelah bayi dilahirkan atau beberapa hari setelah dilahirkan,
perubahan fisiologis yang hebat yang penting bagi kesehatan dan ketahanan hidup, terjadi
pada bayi baru lahir. Selain perubahan fisiologis bayi tersebut, bayi baru lahir harus
beradaptasi dengan bermacam-macam cara yang berbeda terhadap lingkungan yang benar-
benar baru meliputi : Pernapasan, Sirkulasi darah , Sistem imun, Pengaturan suhu-
metabolisme, Sistem neurologis, Sistem gastrointestinal, Fungsi ginjal dan sekresi urine.
Masalah- masalah bayi baru lahir seperti asfiksia, icterus neonatorum, infeksi neonatorum,
hipertermi adalah masalah masalah yang sering terjadi.
Oleh karena itu dibutuhkan peran perawat untuk memberikan penjelasan kepada keluarga
utamanya pada keluarga kelahiran anak pertama sehingga ibu dan ayah tidak akan cemas
dengan kondisi bayinya.

2. Saran
Jika dalam penulisan makalah ini terdapat kekurangn dan kesalahan,kami mohon
maaf. Untuk itu kami mengharapkan kritik dan saran yang sifatnya membangun agar kami
dapat membuat makalah yang lebih baik dikemudian hari.

DAFTAR PUSTAKA
Bobak, Buku Ajar Maternitas, Edisi 4, Jakarta : EGC. 2004
Doengoes, Marilynn, E. Rencana Perawatan Maternal / Bayi. Edisi 2. Jakarta : EGC. 2001
Manuaba, Ida Bagus Gde, Ilmu Kebidanan Penyakit Kandungan, KB untuk Pendidikan Bidan. Jakarta :
EGC. 1998
Mochtar, Rustam. Sinopsis Obstetri. Jilid I. Jakarta : EGC. 1998
Prawirohardjo, Buku Acuan Nasional Pelayanan Kesehatan Maternal dan Neonatal. Edisi I, Jilid Jakarta :
Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawirohardjo. 2006.
Saifudin Abdul Bahri. 2002. Buku panduan praktis pelayanan kesehatan maternal
neonatal.YBP_SP.Jakarta