Anda di halaman 1dari 7

Laporan Praktikum

FARMAKOLOGI 1

“PENGARUH OBAT ANESTESI


TERHADAP HEWAN COBA”

OLEH

NAMA : ANGGITA PRASETYA NINGRUM

NIM : 821316040

KELAS : B-D3 FARMASI 2016

KELOMPOK : I (SATU)

ASISTEN : SITTI FATIMAH SINTYA MAMONTO

RIKA HARDIYANTI PUTRI BUHELI

LABORATORIUM FARMAKOLOGI DAN TOKSIKOLOGI

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS OLAHRAGA DAN KESEHATAN

UNIVERSITAS NEGERI GORONTALO

2017
BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Sekarang ini usaha-usaha yang dilakukan untuk mengurangi atau
menghilangkan rasa sakit dengan penggunaan obat dalam prosedur
pembedahan telah dilakukan sejak zaman kuno, termasuk dengan
pemberian ethanol dan opium secara oral. Pembuktian ilmiah pertama dari
penggunaan obat anestesi untuk pembedahan dilakukan oleh William
Morton di Boston pada tahun 1846 dengan menggunakan diethyl eter.
Sedangkan istilah anestesi dikemukakan pertama kali oleh O.W. Holmes
yang artinya tidak ada rasa sakit. Anestesi yang dilakukan dahulu oleh orang
Mesir menggunakan narkotik, orang Cina menggunakan cannabis Indica
dan pemukulan kepala dengan tongkat kayu untuk menghilangkan
kesadaran. Sehingga dengan perkembangan teknologi obat anestesi
berkembang pesat saat ini. Obat anestesi adalah obat yang digunakan untuk
menghilangkan rasa sakit dalam bermacam-macam tindakan operasi
(Kartika Sari, 2013).
Obat Anestesi dibagi menjadi dua kelompok yaitu anestesi umum
dan anestesi lokal Anestesi umum adalah hilang rasa sakit disertai hilangnya
kesadaran. Anestesi umum ini digunakan pada pembedahan dengan maksud
mencapai keadaan pingsan, merintangi rangsangan nyeri (analgesia),
memblokir reaksi refleks terhadap manipulasi pembedahan serta
menimbulkan pelemasan otot (relaksasi). Anestesi umum yang kini tersedia
tidak dapat memenuhi tujuan ini secara keseluruhan, maka pada anestesi
untuk pembedahan umumnya digunakan kombinasi hipnotika, analgetika,
dan relaksansia otot. Sedangkan anestesi lokal adalah obat yang digunakan
untuk mencegah rasa nyeri dengan memblok konduksi sepanjang serabut
saraf secara reversibel. Anestesi lokal umumnya digunakan dalam prosedur
minor pada tempat bedah sehari. Untuk menghilangkan rasa nyeri pasca-
operasi maka dokter dapat memberi anestesi lokal pada area pembedahan
(Neal, 2006).
Oleh karena itu, berdasarkan pemaparan diatas dilakukan percobaan
anestesi dengan menggunakan hewan coba yang akan membahas obat
anestesi umum dan lokal.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
1. Mahasiswa mampu mengetahui cara pemberian anestesi pada mencit
2. Mahasiswa dapat mengetahui efek pemberian obat anestesi kloroform
dan eter pada mencit
3. Mahasiswa dapat mengetahui onset dan durasi dari obat kloroform dan
eter pada mencit
I.2.2 Tujuan Percobaan
1. Mengetahui cara pemberian anestesi pada mencit
2. Melihat efek yang ditimbulkan dari pemberian anestesi kloroform dan
eter pada mencit
I.3 Prinsip Percobaan
Melihat adanya pengaruh yang timbul setelah pemberian anestesi
dengan menggunakan dua zat anestesi yang berbeda yaitu eter dan
kloroform, melihat onset dan durasi serta melihat perbandingan efek
anestesi yang ditimbulkan oleh kedua zat tersebut.
.
BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
IV.1.1 Eter
Hewan Waktu
coba Onset Waktu Efek yang Durasi
respon ditimbulkan
Mencit 00.02.17 00.01.19 Mengalami kejang- 00.03.36
(Mus kejang, pergerakan
musculus) menjadi lambat,
kemudian menjadi
tenang dan tertidur
IV.1.2 Kloroform
Hewan Waktu
coba Onset Waktu Efek yang Durasi
respon ditimbulkan
Mencit 00.00.07 00.00.32 Mengalami kejang- 00.01.02
(Mus kejang, pergerakan
musculus) menjadi lambat
kemudian menjadi
tenang dan tertidur
IV.2 Pembahasan
Obat yang digunakan dalam menimbulkan anestesia disebut sebagai
anestetik, dan kelompok obat ini dibedakan dalam anestetik umum dan
anestetik lokal. Perbedaan tergantung pada dalamnya pembiusan, anestetik
umum dapat diberikan efek analgesia yaitu hilangnya sensasi neri, atau efek
anestesia aitu analgesia yang disertai hilangnya kesadaran, sedangkan
anestetik lokal hanya dapat enimbulkan efek analgesia. Anestetik umum
bekerja disusunan saraf pusat sedangkan anestetik lokal bekerja langsung
pada serabut saraf perifer.
Obat anestesi umum adalah obat atau agen yang dapat menyebabkan
terjadinya efek anestesia umum yang ditandai dengan penurunan kesadaran
secara bertahap karena adanya depresi susunan saraf pusat. Menurut rute
pemberiannya, anestesi umum dibedakan menjadi anestesi inhalasi dan
intravena. Keduanya berbeda dalam hal farmakodinamik maupun
farmakokinetik (Ganiswara, 1995).
Dalam percobaan kali ini jenis anestesi yang dilakukan kepada hewan
uji adalah anestesi umum yang menyebabkan hewan uji (mecit) kehilangan
kesadaran untuk beberapa saat dengan menggunakan dua bahan anestesi utnu
dua hewan uji, yaitu larutan klorofrom dan larutan eter. Hal ini bertujuan
untuk mengetahui perbedaan kekuatan masing-masing bahan anestesi.
Eter adalah nama segolongan senyawa organik yang mengandung
unsur-unsur C, H, dan O dengan rumus umum R-O-R'. Bila rumus umum ini
dikaitkan dengan rumus air (HOH), maka eter dapat dianggap sebagai
turunan dialkil dari senyawa air.Eter dapat digilongkan menjadi dua jenis,
yaitu eter simetris dan eter asimetris. Kalau dalam rumus umum eter R = R',
maka eter tersebut dinamakan eter sederhana atau eter simetrik. Tetapi bila
R ≠ R', dinamakan eter campuran atau eter asimetrik. Di samping yang
mempunyai gugus alkil (R) terdapat pula eter yang mengandung gugus aril
(Ar) yang rumus umumnya dinyatakan dengan Ar-O-Ar' atau Ar-O-'R,
sedangkan kloroform, Kloroform disebut juga haloform disebabkan karena
brom dan klor juga bereaksi dengan metal keton yang menghasilkan masing-
masing bromoform (CHBr 3) dan kloroform (CHCl3). Hal ini disebut
CHX3 atau haloform.
Hal pertama yang dilakukan sebelum praktikum ialah menyiapkan
hewan coba yaitu mencit. Setelah itu disiapkan alat dan bahan yang akan
digunakan. Dibersihkan alat yang akan digunakan dengan menggunakan
alkohol 70%. Digunakannya alkohol 70% untuk membersihkan alat karena
alkohol 70 % merupakan zat yang paling aktif sebgai senyawa untuk
sterilisasi, antiseptik dan disinfektan yang dapat menghambat pertumbuhan
mikroorganisme (Irianto, 2006).
Untuk percobaan dengan menggunakan eter, hal yang dilakukan
adalah menyiapkan toples, dan stopwatch kemudian dimasukkan kapas yang
telah ditetesi larutan eter ke dalam topels, setelah itu dimasukkan mencit dan
diamati apa yang terjadi. Setelah mencit menunjukkan efek dari larutan eter,
di catat waktunya. Setelah mencit dikelurkan dari toples dan dilihat efek yang
terjadi setelah dilakukan perlakuan. Menurut Mustchler (1986) pada
konsentrasi 10-15 mg % eter sudah dapat berefek sebagai anastesi. Diamati
mencit sampai efek dari larutan eter hilang dan di catat waktunya.
Untuk percobaan selanjutnya menggunakan larutan kloroform, sama
seperti sebelumnya disiapkan toples, dan stopwatch kemudian dimasukkan
kapas yang telah diberi larutan klorofom ke dalam toples dan dimasukkan
mencit ke dalam toples dan diamati apa yang terjadi. Setelah mencit
menunjukkan efek dari larutan kloroform dan di catat waktunya. Dan mencit
dikelurkan dari toples dan dilihat efek yang terjadi detelah dilakukan
perlakuan. Sedangkan kloroform pada konsentrasi 10-20 mg % sudah dapat
berefek sebagai anastesi. Diamati mencit sampai efek dari larutan kloroform
hilang dan di catat waktunya.
Dari hasil percobaan setelah dibandingkan antara perlakuan dengan
menggunakan larutan eter dan larutan kloroform, dapat kita ketahui bahwa
onset yang dihasilkan dari larutan kloroform lebih cepat dibandingkan
dengan larutan eter dan durasi dari larutan kloroform lebih lama dari pada
larutan eter.
Alasan mengapa klororform lebih cepat bereaksi dibandingkan eter,
dikarenakan kloroform merupakan anestesi yang efektif dibandingkan
dengan nitrit oxide, eter dan alkohol bila digunakan secara inhalasi. Hal ini
disebabkan karena induksi dari kloroform bekerja secara cepat dan
lancar sehingga stadium dari anestesi lebih cepat terlampaui. Namun,
praktek inidihentikan karena menyebabkan kematian karena pernapasan,
aritmia jantung, dangagal jantung. Kloroform sangat baik dan cepat
diabsorbsi, dimetabolisme, dan dieliminasi oleh hewan mamalia ataupun
manusia baik melalui oral, inhalation,atau dermal exposure (Marcovitch, H.,
2005).