Anda di halaman 1dari 9

Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam

Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan


kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

Hubungan Kepatuhan Perawat IGD Dalam Melaksanakan SOP


Pemasangan Infus dengan Kejadian Infeksi Nosokomial
(Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

Noviar Ridhani1), Swito Prastiwi2), Tri Nurmaningsih3)

1)
Mahasiswa Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
2)
Dosen Program Studi Keperawatan Poltekkes Kemenkes Malang
3)
Dosen Program Studi Ilmu Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan
Universitas Tribhuwana Tunggadewi
Email: ridhaninoviar@gmail.com

ABSTRAK

Sebagian besar pasien yang dirawat di rumah sakit mendapatkan terapi intravena (infus),
hal ini membuat besarnya populasi beresiko terkena infeksi seiring dengan tindakan
pemasangan infus. Infeksi nosokomial yang sering terjadi akibat pemasangan infus (terapi
intra vena) berupa phlebiti. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara
kepatuhan perawat IGD dalam melaksanakan SOP pemasangan infus dengan kejadian
infeksi nosokomial (phlebitis). Sampel penelitian ini adalah 15 orang perawat IGD yang
memasang infus dan 15 orang klien yang dipasang infus. Responden perawat diambil
dengan menggunakan total sampling sedangkan responden klien diambil dengan
menggunakan metode accidental sampling. Pengumpulan data dilakukan dengan metode
observasi terhadap responden perawat dan responden klien. Berdasarkan hasil uji chi
square di dapatkan X2 hitung lebih besar dari X2 tabel yaitu 5.991465 dan p-value 0,02
kurang dari alpha 0,05. Disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara
kepatuhan perawat IGD dengan kejadian infeksi nosokomial (phlebitis). Hal ini
berdasarkan nilai sig < α (0,02).

Kata kunci : Kepatuhan perawat, kejadian infeksi nosokomial (phlebitis), SOP


Pemasangan Infus.

71
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

ADHERENCE RELATIONS IN IMPLEMENTING SOP ER NURSE INFUSION


WITH GENESIS INSTALLATION NOSOCOMIAL INFECTION (PHLEBITIS) IN
HOSPITALS KOTABARU SOUTH KALIMANTAN

ABSTRACT

Most patients admitted to the hospital to get intravenous therapy (intravenous), it makes
the population at risk of infection due to the action infusion. Nosocomial infections that
often occur due to the installation of infusion (intra venous therapy) in the form of
phlebitis. This study aimed to determine the association between adherence ER nurses in
implementing SOP infusion with the incidence of nosocomial infection (phlebitis). Samples
were 15 nurses who installed the IGD infusion and 15 clients who installed a drip.
Respondents nurses taken using total sampling taken while respondents clients using
accidental sampling method. Data collection is done with Methods of observation of nurse
respondents and client respondents. Based on the results of the chi square test in getting X2
count greater than X2 table ie 5.991465 0.02 and p-value less than 0.05 alpha. It is
concluded that there is a significant correlation between ER nurse compliance with the
incidence of nosocomial infection (phlebitis). It is based on sig <α (0,02).

Key words: Adherence nurse, the incidence of nosocomial infection (phlebitis),


Installation SOP infusion.

PENDAHULUAN (Darmawan, 2008). Infeksi dapat


menjadi komplikasi utama dari terapi
Rumah sakit merupakan suatu intra vena (IV) yang terletak pada sistem
tempat pelayanan kesehatan dan infus atau tempat penusukan vena
sekaligus tempat perawatan bagi orang (Darmawan, 2008). Adanya infeksi
sakit. Semua pasien yang dirawat di karena pemasangan infus disebabkan
rumah sakit setiap tahunnya, 50% oleh beberapa faktor antara lain: faktor
mendapat terapi intravena (infus), hal ini hospes, faktor alat dan larutan, serta
membuat besarnya populasi yang faktor orang ke orang yaitu petugas
beresiko terhadap infeksi yang perawatan kesehatan dan pasien
berhubungan dengan terapi intravena (Scahferr, 2000).
(Scahffer, 2000). Infus (terapi intra vena) Kegiatan pengendalian infeksi di
adalah salah satu cara atau bagian dari rumah sakit merupakan keharusan untuk
pengobatan untuk memasukkan obat atau melindungi pasien dari kejangkitan
vitamin ke dalam tubuh pasien infeksi, dalam bentuk upaya pencegahan,

72
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

surveilans dan pengobatan yang rasional program patient safety di seluruh rumah
(Wijono, 1999).Infeksi nosokomial yang sakit dan fasilitas kesehatan lainnya
sering terjadi akibat pemasangan infus tujuannya untuk menciptakan budaya
(terapi intra vena) berupa phlebitis, patient safety dan meningkatkan
sebagaimana dikatakan oleh La-Rocca akuntabilitas rumah sakit (Hayati 2012).
(1998) bahwa phlebitis merupakan Depkes RI (2005) telah mengeluarkan
inflamasi vena yang disebabkan baik SOP pemasangan infus yang diharapkan
oleh iritasi kimia maupun mekanik yang dapat menjadi acuan pelaksanaan SOP
sering disebabkan oleh komplikasi pemasangan infus di seluruh rumah sakit
dari terapi intra vena. Teknik yang ada di Indonesia untuk mencegah
sterilisasi di Rumah Sakit sangat terjadinya infeksi nosokomial akibat
berpengaruh dengan tingkat kejadian pemasangan infus (Rahmanto, 2010).
phlebitis misalnya kurang sterilnya pada Tingginya tingkat kejadian infeksi
saat melakukan tindakan keperawatan nosokomial akibat pemasangan infus
pada pasien yang sedang dirawat, yang berupa phlebitis kemungkinan
misalnya pada saat pemasangan infus. disebabkan oleh kurangnya kepatuhan
Apabila pada saat melakukan perawat terhadap standar operasional
pemasangan infus alat-alat yang prosedur pemasangan infus yang telah
digunakan tidak menggunakan teknik ditetapkan oleh setiap rumah sakit. Hal
sterilisasi akan mengakibatkan phlebitis ini sesuai dengan pernyataan Yusran
seperti pembengkakan, kemerahan, nyeri (2008) bahwa kepatuhan yang
disepanjang vena. Hal ini sangat suboptimal menjadi faktor utama
merugikan bagi pasien karena infus yang terjadinya peningkatan infeksi
seharusnya dilepas setelah 72 jam kini nosokomial di pusat pelayanan
harus dilepas sebelum waktunya karena kesehatan.
disebabkan oleh alat-alat bantu yang Kepatuhan dipengaruhi oleh faktor
digunakan untuk memasang infus tidak yaitu a) faktor internal meliputi
menggunakan teknik sterilisasi karakterisitik perawat itu sendiri (umur,
(Klikharry, 2006 dalam Rahmanto, jenis kelamin, agama, pendidikan,
2010). Infeksi nosokomial menurut status perkawinan, kepribadian, sikap,
Menteri Kesehatan termasuk masalah kemampuan, persepsi dan motivasi) dan
penting di seluruh dunia, bukan saja di b) faktor eksternal (karakteristik
Indonesia, bahkan infeksi tipe ini terus organisasi, karakteristik kelompok,
meningkat dari 1 persen di beberapa karakteristik pekerjaan, dan karakteristik
negara Eropa dan Amerika, sampai lebih lingkungan) (Muchlas, 2005). Masih
dari 40% di Asia, Amerika Latin dan rendahnya tingkat kepatuhan perawat
Afrika (Hayati, 2012). terhadap SOP dalam pelaksanaan setiap
Akhir tahun lalu Menkes telah tindakan keperawatan khususnya SOP
menegaskan untuk mengembangkan pemasangan infus dapat berdampak

73
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

terhadap penurunan mutu pelayanan Independen : kepatuhan perawat


rumah sakit dan dapat menimbulkan dalam melaksanakan SOP Pemasangan
hambatan terhadap perkembangan infuse. Variabel Dependen : kejadian
profesi keperawatan. infeksi nosokomial akibat pemasangan
Berdasarkan paparan di atas maka infus.
penulis ingin melakukan suatu penelitian
untuk mengetahui adanya hubungan
antara kepatuhan perawat IGD dalam HASIL DAN PEMBAHASAN
melaksanakan SOP pemasangan infus
dengan kejadian infeksi nosokomial
(phlebitis) di RSUD Kotabaru
Kalimantan Selatan.

METODE PENELITIAN

Penelitian ini menggunakan Desain


Gambar 1. Tingkat Kepatuhan Perawat
Penelitian Korelasi dengan rancangan
IGD Dalam Melaksanakan
cross sectional untuk mengkaji SOP pemasangan infus.
kepatuhan perawat IGD dalam
melaksanakan SOP pemasangan infus Berdasarkan Gambar 1 diketahui
dengan kejadian infeksi nosokomial bahwa mayoritas perawat IGD di RSUD
(phlebitis) di RSUD Kotabaru Kotabaru Kalimantan Selatan (74% atau
Kalimantan Selatan. Populasi dalam 11 orang perawat) patuh dalam
melaksanakan SOP Pemasangan infus.
penelitian ini adalah seluruh perawat
yang memasang infus dan seluruh klien
yang dipasang infus di IGD RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan. Sampel
penelitian ini adalah perawat yang
memasang infus dan klien yang
dipasang infus di IGD RSUD Kotabaru
Kalimantan Selatan, berjumlah 15 orang
perawat yang memasang infus dan 15 Gambar 2. Kejadian Infeksi Nosokomial
orang klien yang dipasang infus di IGD (Phlebitis) di RSUD
RSUD Kotabaru Kalimantan Selatan. Kotabaru.
Responden perawat diambil dengan
teknik Total Sampling sedangkan Berdasarkan Gambar 2 didapatkan
responden klien diambil dengan cara hasil bahwa mayoritas klien yang
accidental Sampling. Variabel digunakan sebagai subjek penelitian

74
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

ini tidak mengalami infeksi prosentase sebesar 73% (11 klien).


nosokomial (phlebitis) yaitu dengan

Tabel 1. Tabulasi Silang Hubungan Kepatuhan Perawat IGD dengan Kejadian


Infeksi Nosokomial (phlebitis)
Kepatuhan Perawat
Total
Kejadian Tidak Patuh Kurang Patuh Patuh
Infeksi f (%) f (%) f (%) f (%)

Terjadi Infeksi 2 13.33 1 6.67 1 6.67 4 26.67


Tidak Infeksi 0 0 1 6.67 10 66.67 11 73.33
Total 2 13.33 2 13.33 11 73.33 15 100
Berdasarkan Tabel 1. menunjukkan Kepatuhan Perawat IGD dalam
tabulasi silang antara kepatuhan perawat Pelaksanaan SOP Pemasangan Infus
IGD dalam melaksanakan pemasangan di RSUD Kotabaru Kalimantan
infus dengan kejadian infeksi nosokomial Selatan
(phlebitis) di RSUD Kotabaru Kalimatan
Selatan. Berdasarkan tabel tersebut Berdasar hasil penelitian pada
dapat kita ketahui bahwa terdapat 2 responden perawat menggunakan metode
(13%) perawat yang tidak patuh dalam observasi dan instrument format
melaksanakan SOP pemasangan infus observasi berupa check-list pelaksanaan
dan pasien yang ditangani oleh dua SOP Pemasangan Infus RSUD Kotabaru
perawat tersebut mengalami infeksi Kalimantan Selatan dengan rentang skor
nosokomial (phlebitis). Terdapat 2 (13%) nilai >27 dikategorikan patuh, 14-
perawat yang kurang patuh dalam 27 dikategorikan kurang patuh
melaksanakan SOP pemasangan infus, dan 0-13 dikategorikan tidak patuh
pasien yang ditangani oleh perawat dalam melaksanakan SOP Pemasangan
tersebut ada yang mengalami kejadian Infus, didapatkan hasil bahwa mayoritas
infeksi nosokomial (phlebitis) dan ada perawat IGD di RSUD Kotabaru
juga yang tidak mengalami kejadian Kalimantan Selatan (73% atau 11 orang)
infeksi nosokomial (phlebitis), yaitu patuh dalam melaksanakan SOP
masing-masing sebanyak 1 orang. pemasangan infus, namun masih terdapat
Mayoritas perawat yang patuh terhadap sebagian kecil (13% atau 2 orang
pelaksanaan SOP pemasangan infus perawat) IGD kurang patuh dalam
memiliki pasien yang tidak mengalami melaksanakan SOP pemasangan infus
infeksi nosokomial (phlebitis), namun dan (13% atau 2 orang perawat) tidak
terdapat 1 pasien yang mengalami infeksi patuh dalam melaksanakan SOP
nosokomial (phlebitis). pemasangan infus.

75
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

Hal ini sesuai dengan harapan dalam Hayati (2012) menyatakan pula
pemerintah bahwa Menkes telah bahwa infeksi nosokomial sebenarnya
menegaskan untuk mengembangkan dapat dicegah dengan salah satunya yaitu
program patient safety di seluruh rumah rumah sakit menyediakan tenaga
sakit dan fasilitas kesehatan lainnya kesehatan yang terlatih. Kepatuhan
tujuannya untuk menciptakan budaya perawat dalam melaksanakan SOP
patient safety dan meningkatkan Pemasangan Infus sebagai cermin dari
akuntabilitas rumah sakit (Hayati 2012). sikap profesional perawat sebagai tenaga
Sejalan pula dengan upaya Depkes RI kesehatan yang terlatih yang dimiliki
(2005) yang telah mengeluarkan SOP oleh rumah sakit.
pemasangan infus yang diharapkan dapat
menjadi acuan pelaksanaan SOP Kejadian Infeksi Nosokomial (Phlebitis)
pemasangan infus di seluruh rumah sakit di RSUD Kotabaru Kalimantan Selatan
yang ada di Indonesia untuk mencegah
terjadinya infeksi nosokomial akibat Berdasarkan hasil penelitian pada
pemasangan infus (Rahmanto, 2010). responden klien menggunakan metode
Tingginya tingkat kejadian infeksi observasi dan instrumen format observasi
nosokomial akibat pemasangan infus berupa check-list tanda-tanda terjadinya
yang berupa phlebitis kemungkinan phlebitis pada klien menurut PT Otsuka
disebabkan oleh kurangnya kepatuhan Indonesia dengan penilaian
perawat terhadap standar operasional menggunakan tanda (+) untuk kejadian
prosedur pemasangan infus yang telah phlebitis dan tanda (-) tidak terjadi
ditetapkan oleh setiap rumah sakit. Hal phlebitis, didapatkan hasil bahwa
ini sesuai dengan pernyataan Yusran sebagian besar responden klien yang
(2008) bahwa kepatuhan yang tidak mengalami infeksi nosokomial
suboptimal menjadi faktor utama (phlebitis) yaitu dengan prosentase
terjadinya peningkatan infeksi sebesar 74% (11 orang). Namun masih
nosokomial di pusat pelayanan terdapat 27% pasien (4 orang) yang
kesehatan. Dengan tingginya tingkat mengalami infeksi nosokomial
kepatuhan perawat terhadap SOP (phlebitis).
pemasangan infus diharapkan juga dapat Masih adanya klien yang
mencegah terjadinya infeksi dari faktor mengalami infeksi nosokomial berupa
petugas sebagaimana disampaikan oleh phlebitis menurut Scahferr (2000) dapat
Scahferr (2000) bahwa adanya infeksi disebabkan oleh berbagaimacam faktor
karena pemasangan infus disebabkan diantaranya antara lain: faktor hospes,
oleh beberapa faktor antara lain: faktor faktor alat dan larutan, serta faktor orang
hospes, faktor alat dan larutan, serta ke orang yaitu petugas perawatan
faktor orang ke orang yaitu petugas kesehatan dan pasien. Scahferr (2000)
perawatan kesehatan dan pasien. Warsa juga mengatakan bahwa semua pasien

76
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

yang dirawat di rumah sakit setiap square ini dikuatkan oleh hasil tabulasi
tahunnya, 50% mendapat terapi silang yang menunjukkan bahwa
intravena (infus), hal ini membuat perawat yang tidak patuh dalam
besarnya populasi yang beresiko melaksanakan pemasangan infus sesuai
terhadap infeksi yang berhubungan dengan SOP memiliki pasien dengan
dengan terapi intravena (Scahffer, 2000). kejadian infeksi nosokomial (phlebitis),
Menurut Darmawan (2008), sebaliknya perawat yang patuh dalam
Dwivedi et.al (2009) dan PT. Otsuka melaksanakan pemasangan infus sesuai
Indonesia (2011) faktor-faktor penyebab dengan SOP cenderung memiliki pasien
phlebitis meliputi 1) faktor adanya agen yang tidak mengalami infeksi
infeksius / infeksi bacterial disebabkan nosokomial (phlebitis).
teknik pencucian tangan yang buruk, Infeksi nosokomial menurut
kegagalan memeriksa peralatan yang Menteri Kesehatan termasuk masalah
rusak, pembungkus robek mengundang penting di seluruh dunia, bukan saja di
bakteri, teknik aseptik tidak baik, tempat Indonesia, bahkan infeksi tipe ini terus
suntik / penusukan jarang diinspeksi meningkat dari 1 persen di beberapa
visual untuk melihat adanya tanda-tanda negara Eropa dan Amerika, sampai lebih
infeksi; 2) faktor kimia yaitu obat/ cairan dari 40% di Asia, Amerika Latin dan
yang bersifat iritan dan 3) faktor mekanis Afrika (Hayati, 2012). Akhir tahun lalu
yaitu bahan & ukuran kateter, lokasi, Menkes telah menegaskan untuk
teknik pemasangan kanulasi yang buruk mengembangkan program patient safety
dan pemasangan kanulasi yang terlalu di seluruh rumah sakit dan fasilitas
lama. kesehatan lainnya tujuannya untuk
menciptakan budaya patient safety dan
Hubungan Kepatuhan Perawat IGD meningkatkan akuntabilitas rumah sakit
dalam Pelaksanakan SOP (Hayati 2012). Depkes RI (2005) telah
Pemasangan Infus dengan Kejadian mengeluarkan SOP pemasangan infus
Infeksi Nosokomial (Phlebitis) di yang diharapkan dapat menjadi acuan
RSUD Kotabaru Kalimantan Selatan pelaksanaan SOP pemasangan infus di
seluruh rumah sakit yang ada di
Berdasarkan hasil analisis data Indonesia untuk mencegah terjadinya
menggunakan uji chi square diketahui infeksi nosokomial akibat pemasangan
bahwa terdapat hubungan yang infus (Rahmanto, 2010).
signifikan antara kepatuhan perawat IGD Menurut Warsa pakar mikrobiologi
dalam melaksanakan pemasangan infus klinis dari FKUI dalam Hayati (2012)
sesuai SOP dengan kejadian infeksi menjelaskan bahwa infeksi nosokomial
nosokomial (phlebitis) dengan X2 hitung menyebabkan berbagai macam kerugian
lebih besar dari X2 tabel dan p-value baik bagi pihak pasien maupun rumah
kurang dari alpha 0,05. Hasil uji chi sakit, kerugian bagi pasien meliputi

77
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

bertambahnya penyakit, masa perawatan diketahui bahwa mayoritas perawat


menjadi lebih lama dan biaya yang lebih IGD di RSUD Kotabaru
besar, sedangkan kerugian bagi pihak Kalimantan Selatan (74% atau 11
rumah sakit yaitu dapat menyebabkan orang perawat) patuh dalam
beban kerja atau tugas bertambah, biaya melaksanakan SOP pemasangan
operasional meningkat, timbulnya rasa infus, namun masih terdapat
tidak nyaman dalam menjalankan tugas, sebagian kecil (13% atau 2 orang
memungkinkan terjadinya tuntutan perawat) IGD kurang patuh dalam
(malpraktik) dan dapat menurunkan citra melaksanakan SOP pemasangan
dan kualitas pelayanan rumah sakit. infus dan (13% atau 2 orang
Infeksi nosokomial yang sering perawat) tidak patuh dalam
terjadi akibat pemasangan infus (terapi melaksanakan SOP pemasangan
intra vena) berupa phlebitis, sebagaimana infus.
dikatakan oleh La-Rocca (1998) bahwa 2) Berdasarkan hasil observasi
phlebitis merupakan inflamasi vena didapatkan hasil bahwa mayoritas
yang disebabkan baik oleh iritasi klien yang digunakan sebagai subjek
kimia maupun mekanik yang sering penelitian ini tidak mengalami
disebabkan oleh komplikasi dari terapi infeksi nosokomial (phlebitis) yaitu
intra vena. Adanya infeksi karena dengan prosentase sebesar 73% (11
pemasangan infus disebabkan oleh klien). Namun masih terdapat
beberapa faktor antara lain: faktor sebagian kecil (27% atau 4 klien)
hospes, faktor alat dan larutan, serta yang mengalami infeksi nosokomial
faktor orang ke orang yaitu petugas (phlebitis).
perawatan kesehatan dan pasien 3) Berdasarkan hasil Uji Chi-
2
(Scahferr, 2000). Warsa dalam Hayati Square di dapatkan X hitung
(2012) menyatakan bahwa infeksi lebih besar dari X2 tabel dan p-
nosokomial sebenarnya dapat dicegah value kurang dari alpha 0,05 maka
dengan salah satunya yaitu rumah sakit terbukti ada hubungan yang
menyediakan tenaga kesehatan yang signifikan antara kepatuhan
terlatih. Kepatuhan perawat dalam perawat IGD dalam
melaksanakan SOP Pemasangan Infus melaksanakan SOP pemasangan
sebagai cermin dari sikap profesional infus dengan kejadian infeksi
perawat sebagai tenaga kesehatan yang nosokimial (phlebitis) di RSUD
terlatih yang dimiliki oleh rumah sakit. Kotabaru Kalimantan Selatan.

KESIMPULAN SARAN

1) Berdasarkan hasil observasi Untuk perbaikan dan

78
Nursing News Hubungan kepatuhan perawat IGD dalam
Volume 2, Nomor 2, 2017 melaksanakan SOP pemasangan infus dengan
kejadian infeksi Nosokomial (Phlebitis) di RSUD
Kotabaru Kalimantan Selatan

penyempurnaan penelitian, maka dapat Muchlas, M. 2005. Perilaku Organisasi,


dilakukan penelitian lebih lanjut Yogyakarta: Gadjah Mada
mengenai faktor-faktor yang University Press.
berkontribusi terhadap terjadinya infeksi
nosokomial. Jika meneliti yang sama Muchdarsyah, S.. 2000. Produktivitas
diharapkan observasi tentang kepatuhan Apa dan Bagaimana, Edisi
perawat dalam melaksanakan SOP keempat. Jakarta: PT Bumi Aksara.
pemasngan infus dilakukan lebih dari 1
kali dengan responden klien lebih Petroudi, D. 2009. Nosocomial Infection
banyak, sehingga menggambarkan situasi and Staff Hygiene, Journal of
yang lebih banyak. Infection in Developing Countries,
hal. 3(2): 152-156.

DAFTAR PUSTAKA Scahffer. 2000. Pencegahan Infeksi dan


Praktik yang Aman. Alih Bahasa
Brunner & Suddarth. 2001. Keperawatan Setiawan. Jakarta: EGC.
Medikal Bedah, Volume 3 Edisi 8,
Alih Bahasa Hartono A. Jakarta: Wijono, D. 1999. Manajemen Mutu
Penerbit Buku Kedokteran EGC. Pelayanan Kesehatan, Teori,
Stratetegi dan Aplikasi. Surabaya:
Badi, AM., dkk. 2007. Analisis Kinerja Airlangga University Press.
Perawat dalam Pengendalian
Infeksi Nosokomial di IRNA I
RSUP Dr. Sarjito Yogyakarta,
KMPK Universitas Gadjah Mada
Working Paper Series, No.8: 2-10.

Darmadi. 2008. Infeksi nosokomial


Problematika dan
Pengendaliannya. Jakarta:
Salemba Medika.

Hayati, Suci Dian. Mencegah Infeksi


Nosokomial. Jurnal Nasional,
Edisi Minggu 15 Januari 2012, hal.
23.

79