Anda di halaman 1dari 4

MODUL I

KONSEP DASAR AUDITING

KB. 1. Pengertian Auditing

I. Pengertian Dan Terminologi Utama/Kunci

Terdapat 3 (tiga) rumusan definisi mengenai Auditing yang dapat memberikn gambaran
komprehensif mengenai definisi Auditing.
Alvin A Arens (2000), mendefinisikan Auditing sebagai berikut: “Auditing is the accumulation
and evaluation of evidence about information to determine and report on the degree of correspondence
between the information and established criteria. Auditing should be done by a competent, independent
person.”
Sementara menurut American Accounting Association (AAA) Commite on Basic Auditing
Concept, yang telah dikutip dan dialihbahasakan oleh Ruchiyat Kosasih (1981), “Auditing adalah suatu
proses yang sistematis untuk mendapatkan dan menilai bukti-bukti secara objektif, yang berkaitan dengan
pernyataan-pernyataan tentang tindakan-tindakan dan kejadian-kejadian ekonomi, untuk menentukan
kesesuaian antara pernyataan-pernyataan tersebut dengan kriteria yang telah ditetapkan dan
menyampaikan hasilnya kepada pihak yang berkepentingan.”
Definisi lain mengenai Auditing yang dikemukakan oleh Sukrisno Agoes, yaitu: “Auditing adalah
suatu pemeriksaan yang dilakukan secara kritis dan sistematis oleh pihak yang independen terhadap
laporan keuangan yang telah disusun oleh manajemen, beserta catatan-catatan pembukuan dan bukti-bukti
pendukungnya dengan tujuan untuk dapat memberikan pendapat mengenai kewajaran laporan keuangan
tersebut.”
Dari ketiga definisi tersebut dapat disimpulkan 5 (lima) terminologi utama, yaitu:
1. Informasi dan kriteria yang ditetapkan (established criteria)
 Untuk melakukan pekerjaan audit harus ada objek yang akan dievaluasi dan standard evaluasinya.
Objek yang dimaksud yaitu informasi-informasi yang dapat dikuantifisir yang dapat disajikan
dalam berbagai bentuk. Adapun standar evaluasi atau kriteria untuk mengevaluasi informasi
tersebut sangat tergantung pada informasi apa yang akan dievaluasinya.
2. Proses yang kritis dan sistematis
 Evaluasi atas informasi tersebut untuk menentukan tingkat kesesuaiannya dengan standar/kriteria
yang ditetapkan, dilakukan melalui suatu proses yang kritis dan sistematis. Proses secara implisit
merupakan aktivitas yang dinamis. Kritis menunjukkan sifat cermat, hati-hati dan waspada akan
terjadinya penyimpangan atau kesalahan, dan sistematis adalah suatu langkah atau prosedur yang
bertujuan, terencana, logis, dan berstruktur serta ilmiah dalam pengambilan keputusan.
3. Mengumpulkan dan mengevaluasi bukti
 Proses yang kritis dan sistematis dilakukan dalam rangka mengumpulkan dan mengevaluasi bukti
untuk mendukung opini mengenai tingkat kesesuaian (kewajaran) penyajian informasi (Laporan
Keuangan)dengan kriteria yang ditetapkan.
4. Orang yang kompeten dan independen (Competent Independent Person)
 Proses audit dalam rangka mengumpulkan dan mengevaluasi bukti untuk mendukung opini
auditor mengenai tingkat kewajaran antara laporan keuangan dengan kriteria yang telah ditetapkan
Standar Akuntansi Keuangan hanya dapat dilakukan secara kritis dan sistematis apabila dilakukan
oleh orang yang kompeten dan independen. Kompeten yaitu orang yang memiliki kemampuan
dalam memahami kriteria yang digunakan Standar Akuntansi Keuangan dan ahli dalam
menentukan jumlah dan jenis bukti yang diperlukan guna mendukung opininya. Independen
adalah tidak memiliki kepentingan pribadi dan keberpihakan pada kepentingan siapapun termasuk
klien yang membayarnya.
5. Pelaporan (Reporting)
 Hasil pemeriksaan auditor disampaikan dan disusun dalam laporan auditor. Hal terpenting dari
laporan adalah opini auditor mengenai kewajaran asersi manajemen didalam Laporan Keuangan
dengan Standar Akuntansi Keuangan yang akan digunakan oleh pihak pemakai sebagai dasar
pengambilan keputusan.
1
II. Persamaan Dan Perbedaan Auditing Dengan Accounting

Menurut Holmes (1975), Auditing bukan merupakan cabang dari Accounting, karena Auditing
mempunyai fungsi pembuktian atas laporan keuangan yang diperiksa yang merupakan output dari proses
Accounting. Laporan keuangan bebas dari pengaruh 4 (empat) faktor penyimpangan, yaitu:
1. Prasangka pribadi (personal bias)
2. Kepentingan pribadi (self interest)
3. Kecerobohan (carelessness), dan
4. Ketidakjujuran (dishonesty)

Persamaan Dan Perbedan Auditing Dengan Accounting


Bidang Persamaan Perbedaan
Ilmu Sifat Fungsi Output
Akuntansi 1. Sama-sama merupakan Konstruktif The Language Laporan Keuangan
aktivitas proses mengolah data mulai Of Business: terdiri atas Neraca,
2. Sama-sama menjadikan dari dokumen dasar menghasilkan Laporan Laba-
SAK sebagai standar menjadi informasi informasi yang Rugi, Laporan
3. Output yang dihasilkan yang berguna. merupakan Perubahan Posisi
sama-sama berupa sarana bagi para Keuangan,
laporan pelaku ekonomi Laporan Arus Kas
dalam + catatan-catatan
mengambil lain atas Laporan
keputusan Keuangan

Auditing Analitis: mengurai Attest Function Laporan Auditor


informasi dalam (pembuktian/pen independen yang
Laporan Keuangan gesahan) untuk memuat opini
melalui penelusuran lebih auditor mengenai
sampai ke dokumen meyakinkan kewajaran
dasar untuk para pemakai penyajian Laporan
membuktikan LK bahwa Keuangan
kewajaran informasi dapat
penyajiannya diandalkan

KB. 2. Jenis- Jenis Audit Dan Auditor

Menurut Arens (2000), audit dibagi menjadi 3 (tiga) jenis audit utama yang umumnya digunakan
oleh Akuntan Publik (Auditor External), antara lain:
1. Financial Statement Audits (Audit Atas Laporan Keuangan)
 Audit yang dilakukan untuk menentukan apakah keseluruhan Laporan Keuangan dinyatakan
sesuai dengan kriterianya.
2. Operational Audits (Audit/Pemeriksaan Operasional)
 Review terhadap beberapa bagian dari metode-metode dan prosedur-prosedur opersai suatu
perusahaan yang bertujuan untuk menilai efektivitas dan efisiensinya.
3. Complience Audit (Audit Ketaatan)
 Audit yang bertujuan untuk menentukan apakah auditee telah mengikuti serangkaian prosedur-
prosedur, norma-norma, dan peraturan-peraturan tertentu yang ditetapkan oleh pihak-pihak yang
berwenang.

2
Ditinjau dari luasnya pemeriksaan, Sukrisno Agoes (1996) membedakan jenis audit menjadi 2
(dua), yaitu:
1. General Audit (Pemeriksaan Umum)
 Pada dasarnya sama dengan Audit atas Laporan Keuangan menurut Arens (2000).
2. Special Audit (Pemeriksaan Khusus)
 Suatu pemeriksaan terbatas dengan objek terbatas pada masalah-masalah khusus yang dihadapi
manajemen dalam mengelola perusahaan dengan tujuan tertentu.

HS. Munawir (1995) mengelompokkan jenis0jenis audit sesuai dengan:


1. Pelaksanaannya
a. Internal audit: pemeriksaan yang dilakukan oleh pihak karyawan dari organisasi yang
bersangkutan.
b. External audit: audit yang dilakukan oleh pihak luar perusahaan dan independen.
2. Waktu pelaksanaan audit
a. Continous/Interim Audit (Audit terus-menerus): audit yang dilakukan beberapa kali dalam satu
periode dan auditor dituntut untuk menyampaikan serta melaporkan kemajuan pekerjannya serta
hal-hal lain yang memerlukan koreksi atau perhatian serius klien, terutama berkenaan dengan
berjalannya SPI.
b. Periodical Audit (Audit Periodik): audit yang dilakukan selama periode tertentu.
3. Objek dan tujuannya
Sama seperti yang dikemukakan Arens ditambah dengan Audit Khusus.

Jenis-Jenis Audit, Auditor dan Contoh Aplikasi

N Jenis –Jenis Jenis-Jenis Contoh Information Established Avaliable


o Audit Auditor criteria Document

1 Audit Akuntan Laporan Laporan Keuangan SAK Dokumen-


Laporan Publik Keuangan PT. XYZ dokumen,
Keuangan (Auditor Tahunan PT. catatan-
Extern) XYZ catatan, Buku
Besar, dan
bukti-bukti
dari luar
lainnya
2 Audit Auditor Mengevaluasi  Jumlah catatan Standar  Laporan
Operasional Intern apakah penggajian yang efektivitas yang salah,
pemrosesan diproses selama dan catatan-
penggajian satu bulan efisiensi catatan
terkomputerisa departemen
 Biaya yang penggajian
Auditor si telah penggajian
terjadi  Biaya
Pemerintah beroperasi perusahaan
didepartemen pemrosesan
(BPKP) secara efektif
tersebut penggajian
dan efisien
 Jumlah
kesalahan yang
dibuat
3 Audit Akuntan Mengevaluasi Catatan perusahaan Syarat Laporan
Ketaatan Publik apakah perjanjian keuangan dan
Akuntan persyaratan pinjaman berbagai
Intern bank untuk kalkulasi
melanjutkan auditor
pinjaman telah
dipenuhi
3
KB. 3. Aspek Ekonomi Dalam Audit

Munculnya audit dilatarbelakangi oleh majunya perkembangan ekonomi suatu negara dan
semakin banyaknya perusahaan-perusahaan yang sahamnya dijual ke perseroan-perseroan terbuka.
Pengelolaan perusahaan-perusahaan berbentuk PT ini diserahkan oleh manajemen profesional, dimana
manajemen harus mempertanggungjawabkan perkembangan perusahaannya kepada para pemilik saham
dalam bentuk Laporan Keuangan. Untuk lebih meyakinkan para pemilik saham, maka manajemen
meminta bantuan pihak yang independen untuk mengaudit Laporan Keuangan tersebut.

I. Sejarah Singkat Perkembangan Audit

Auditing berasal dari bahasa Latin, Audere yang berarti pemeriksaan. Profesi Auditor muncul
pada akhir abad ke-18 dan berkembang setelah adanya British Companies Act tahun 1862, kemudian
menyebar ke Amerika Serikat mulai tahun 1900.
Profesi ini masuk ke Indonesia melalui Belanda sejak tahun 1907. Kantor Akuntan Publik pertama
di Indonesia yaitu Frese dan Hagwey didirikan pada tahun 1918.
Semula Auditing hanya bertujuan untuk menemukan dan mencegah adanya kecurangan dan
kesalahan, kemudian sejak 1940 sampai sekarang tujuan auditing adalah meyakinkan kelayakan
penyajian laporan keuangan, sedangkan mencegah kesalahan dan kecurangan adalah tujuan sampingan.

II. Aspek Ekonomi Dari Audit

Auditing dapat bermanfaat dalam mengurangi risiko yang mungkin akan menimpa pemakai
Laporan Keuangan tertentu.
Arens (2000) mengemukakan bahwa ada 3 (tiga) cara dalam mengurangi risiko informasi, yaitu:
1. User verifies information
 Para pemakai melakukan sendiri verifikasi terhadap catatan-catatan yang ada untuk
meyakinkan keandalan laporan keuangan yang disajikan manajemen.
2. User Shares Information Risk With Management
 Secara hukum merupakan kewajiban manajemen untuk menyajikan informasi yang dapat
dipercaya. Jika pemakai mengalami kerugian karena informasi tersebut tidak benar, maka
mereka dapat menuntut manajemen.
3. Auditied Financial Statement Are Provided
 Untuk dapat menyajikan laporan keuangan yang dapat dipercaya maka diperlukan berbagai
pihak untuk kepentingan yang berbeda-beda, maka yang sering dilakukan oleh manajemen
yaitu meminta jasa Akuntan Publik.