Anda di halaman 1dari 22

Rabu, 25 Oktober 2017

Laporan Hasil Praktikum

IKATAN KIMIA

MARFA WAHYUNI ANANDA PRATIWI


H031 17 1024

LABORATORIUM KIMIA DASAR


UNIT PELAKSANAAN TEKNIS MATA KULIAH UMUM
UNIVERSITAS HASANUDDIN
MAKASSAR
2017
LEMBAR PENGESAHAN

IKATAN KIMIA

Disusun dan Diajukan Oleh:

MARFA WAHYUNI ANANDA PRATIWI


H031 17 1024

Diperiksa dan Disetujui Oleh:

Makassar, 25 Oktober 2017


Asisten,

FARIDATUN SHOLEHAH
H311 14 030
BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang

Adanya ikatan yang kuat antara dua atau lebih atom disebut juga sebagai ikatan

kimia. Ikatan kimia menghasilkan formasi stabil dari suatu senyawa dengan sifatnya

sendiri. Ikatan ini permanen sampai akhirnya diketahui bahwa ada faktor eksternal

yang mempengaruhinya yaitu bahan kimia, suhu, energi dan lain sebagainya. Seperti

yang diketahui, molekul dibangun atas dua atau lebih atom yang memiliki

karakteristiknya masing-masing sesuai dengan jenis ikatan yang mereka miliki

(Balasubramanian, 2007).

Bila elektron digunakan bersama di antara atom, ikatan di antara keduanya

disebut ikatan kovalen. Dengan adanya ikatan kimia tersebut maka baik sifat kimia

maupun sifat fisika dari senyawa, seperti dapat menghantarkan listrik, kepolaran,

kereaktifan, bentuk molekul, warna dan sifat magnet titik didih yang tinggi dapat

dijelaskan melalui berbagai teori ikatan kimia tersebut. Salah satu teori ikatan kimia

adalah ikatan molekul. Dengan adanya ikatan molekul tersebut maka dapat dijelaskan

sifat fisika maupun kimia dari suatu senyawa atau ion kompleks yang terbentuk dari
ikatan
ikatan yang
kimia,ada dalam
seperti kimia. Dari
perbedaan titikikatan
didih ion sampai
suatu kovalen
senyawa. Olehdan juga itu,
karena kompleks atau
praktikum
tidaknya suatuagar
ini dilakukan ikatan.
mahasiswa dapat mengetahui bagaimana perbedaan dari jenis-jenis
1.2 Maksud dan Tujuan Percobaan

1.2.1 Maksud Percobaan

Maksud dari percobaan ini adalah untuk mengetahui bahwa senyawa yang

mempunyai ikatan ion dan ikatan kovalen dapat dibedakan melalui penampakannya

ketika dilarutkan dalam pelarutnya. Begitupun dengan senyawa kompleks dan bukan

kompleks.

1.2.2 Tujuan Percobaan

Tujuan dari perrcobaan ini adalah sebagai berikut.

1. Membedakan senyawa yang mempunyai ikatan elektrovalen dan ikatan kovalen.

2. Membedakan reaksi pembentukan kompleks dan bukan kompleks.

1.3 Prinsip Percobaan

Prinsip dari percobaan ini adalah membedakan senyawa ion dan kovalen

dengan cara dilarutkan dalam larutan AgNO3 setiap sampel dan kemudian dibuktikan

dengan terbentuk atau tidaknya endapan, membedakan reaksi senyawa kompleks dan

bukan kompleks dengam cara ditetesi larutan KCNS pada setiap sampel, serta

mendeteksi kekuatan ikatan sampel berdasarkan tingkat keasaman dengan cara ditetesi

indikator metil orange (MO).


BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Ikatan Kimia


Sejak pertemuan struktur elektronik atom-atom, ahli kimia dan fisika mampu

menyelidiki bagaimana cara-cara atom dari jenis yang satu bergabung dengan jenis

yang lain membentuk senyawa dengan ikatan kimia. Ikatan kimia adalah gaya Tarik

menarik antara atom-atom sehingga atom-atom tersebut tetap berada bersama-sama

dan terkombinasi dalam senyawaan (Elida, 1992). Ikatan kimia juga bisa

diumpamakan sebagai jembatan para atom (Temel, 2016). Ikatan kimia terbentuk

melalui pelepasan/ penangkapan elektron atau pemakaian pasangan elektron bersama

(Suja, 2014). Studi ikatan kimia dalam padatan telah mengalami perkembangan

selama satu dekade terakhir. Situasi benar-benar berubah sejak ketika di tahun 1988,

Roald Hoffman secara provokatif mengamati bahwa banyak kimiawan padatan yang

mengisolasi diri mereka dari kimia organik dan juga anorganik dengan memilih untuk

tidak melihat ikatan kimia dalam bahan mereka (Gatti, 2005).

Umumnya, ikatan kimia dapat dinyatakan sebagai salah satu dari tiga ikatan

yaitu ikatan kovalen, ikatan koordinat dan ikatan logam-logam, tetapi senyawa baru

yang disintesis satu demi satu tidak selalu dapat diklasifikasikan dengan ikatan

kovalen 2-pusat 2-elektron. Senyawa-senyawa ini meliputi ikatan tuna-elektron dalam

boron hidrida, ikatan koordinat dalam senyawa kompleks logam transisi, ikatan

logam-logam dalam senyawa kluster, dll. konsep-konsep baru ikatan telah dikenalkan

dalam teori ikatan untuk menjelaskan jenis-jenis ikatan kimia baru ini. Sebagaimana

telah dikenal ikatan lemah yang disebut interaksi van der Waals telah dikenali ada di

atom atau senyawa molekular netral. Potensial interaksi ini berbanding terbalik dengan
jarak antar atom pangkat 6. Jarak terdekat namun nonikatan antar atom diperkirakan

dengan menjumlahkan jari-jari van der Waals yang diberikan untuk masing-masing

atom (Saito, 1996).

Gambar 2.1 Sistem Dot Lewis.

Ketika atom berinteraksi untuk membentuk ikatan kimia, hanya bagian terluar

dari atom yang berinteraksi. Untuk alasan itu, ketika kita belajar tentang ikatan kimia,

kita akan khawatir mengenai electron valensi dari sebuah atom. Untuk tetap melacak

elektron valensi di dalam reaksi kimia dan untuk meyakinkan bahwa jumlah nomor

elektron tidak berubah atau tetap. Kimiawan menggunakan sistem dots yang dibuat

dari Lewis yang dikenal dengan nama Simbol Dot Lewis. Simbol dot Lewis terdiri

dari simbol elemen dan satu dot untuk setiap elektron valensi di dalam elemen atom

(Chang, 2010).

2.2 Ikatan Kovalen

Walaupun konsep molekul kembali ke abad-17, nyatanya tidak sampai awal

abad ke-20 kimiawan mulai mengerti kenapa dan mengapa molekul terbentuk. Orang

pertama yang mengemukakan tentang hal itu ialah Gilbert Lewis yang memberikan

saran bahwa ikatan kimia melibatkan pembagian elektron oleh atom. Lewis

menggambarkan formasi dari ikatan kimia dari H2 sebagai (Chang, 2010):


H· + ·H → H : H (2.1)
Jenis pasangan electron ini adalah contoh ikatan kovalen, ikatan dimana dua

electron dibagi oleh dua atom. Senyawa kovalen adalah senyawa yang mengandung

hanya ikatan kovalen. Kesederhanaan pasangan electron bersama sering ditemukan

hanya sebaris. Dengan demikian, ikatan kovalen dalam molekul hydrogen bisa ditulis

sebagai H—H. Dalam ikatan kovalen, masing-masing electron dalam pasangan

bersama tertarik ke inti dari kedua atom. Daya Tarik ini menahan dua atom dalam H2

bersama dan bertanggung jawab untuk pembentukan ikatan kovalen pada molekul

(Chang, 2010).

Pada dasarnya, kita mengenal beberapa jenis ikatan kovalen yaitu ikatan

kovalen murni (ikatan kovalen polar dan nonpolar dengan ikatan kovalen koordinat).

Ikatan kovalen nonpolar terjadi karena persekutuan elektron yang dibentuk oleh atom-

atom yang memiliki elektronegativitas sama atau hampir sama sehingga kedua atom

menerapkan tarikan-tarikan yang sama atau hampir sama terhadap elektron ikatan.

Karena perbedaan elektronegativitas tiap atom adalah nol atau sangat kecil, ikatan

kovalen jenis ini disebut sebagai ikatan kovalen nonpolar (Sumardjo, 2006).

Pada ikatan kovalen polar, pasangan elektron yang berasal dari masing-masing

atom ditarik lebih kuat oleh salah satu atom yang berikatan. Ikatan dengan distribusi

elektron yang tidak merata ini dimiliki oleh suatu senyawa dengan atom-atom

penyusun yang memiliki elektronegativitas kecil. Dalam sebuah molekul yang terdiri

atas atom-atom tidak sejenis yang terikat secara kovalen, atom yang lebih

elektonegatif akan lebih menarik pasangan elektron ikatan. Dengan demikian,

pasangan elektron akan lebih lama berada di dekat atom yang lebih elektronegatif

daripada yang kurang elektronegatif. Oleh karena itu, atom yang lebih elektronegatif

tadi akan bersifat lebih negatif daripada pasangannya Terbentuknya dua kutub atau
dipol inilah yang menyebabkan ikatan kovalen dalam molekul tersebut disebut ikatan

kovalen polar (Sumardjo, 2006).

Ikatan kovalen koordinat yang kadang-kadang disebut ikatan koordinat (tanpa

sisipan kovalen) merupakan ikatan kovalen khusus. Dalam ikatan ini, elektron yang

dimiliki bersama berasal dari satu atom saja (jadi, bukan berasal dari dua atom seperti

pada ikatan kovalen murni). Atom yang memiliki sepasang elektron yang akan

diberikan disebut atom donor (ligan) sedangkan atom yang kekurangan sepasang

electron disebut atom akseptor. Namun, setelah terbentuk ikatan, pasangan elektron

ini dimiliki bersama. Suatu ikatan koordinat dapat digambarkan sebagai sebuah anak

panah yang arahnya menuju ke atom akseptor (Sumardjo, 2006).

1.3 Ikatan Ion

Pembentukan ikatan ionik antara atom-atom yang selisih elektronegativitasnya

besar, misalnya Na dan F. pembentukan ion positif dan ion negatif melalui

perpindahan elektron di antara atom-atom digambarkan dengan sistem dot Lewis atau

diagram titik Lewis. Ion bermuatan berlawanan distabilkan oleh gaya Tarik Coulomb

di antara kedua ion. Magnitudo energi stabilisasi dapat diperkirakan dengan

menghitung energi potensial Coulomb antara ion-ion. Energi stabilisasi yang sangat

besar dapat dicapai bila sejumlah besar ion disusun sedemikian rupa sehingga ia

dikelilingi oleh muatan yang berlawanan. Ikatan ionik menghasilkan kristal yang

sangat besar dalam keadaan padat. Ikatan ionik murni diamati sebagai molekul bebas

pada keadaan gas hanya pada suhu yang sangat tinggi (Oxtoby, 2001).

Ikatan ion adalah logam-logam alkali dan alkali tanah, sedangkan yang

membentuk anion adalah golongan halogen dan unsur oksigen. Sehingga, kebanyakan

ikatan ionik mengkombinasikan antara logam-logam golongan IA dan IIA dengan


halogen atau oksigen. Sehingga dapat disimpulkan bahwa ikatan ionik adalah gaya

elektrostatis yang mengikat dua ion bersama membentuk sebuah senyawa ionik.

Sebagai contohnya, sebuah reaksi antara litium dan fluorin untuk membentuk Litium

Florida adalah 1s2 2s2 2p5. Ketika litium dan fluorin saling kontak, elektron valensi 2s1

milik litium akan ditransfer ke fluorin (Chang, 2010).

1.4 Senyawa Kompleks

Gambar 2.2 Senyawa Kompleks Homoglobin

Senyawa kompleks adalah senyawa yang mengandung paling tidak satu ion

kompleks. Ion kompleks terdiri dari satu atom pusat (central metal cation) berupa

logam transisi ataupun logam pada golongan utama, yang mengikat anion atau

molekul netral yang disebut ligan (ligands). Agar senyawa kompleks dapat bermuatan

netral, maka ion kompleks dari senyawa tersebut, akan bergabung dengan ion lain

yang disebut counter ion. Jika ion kompleks bermuatan positif, maka counter ion pasti

akan bermuatan negatif dan sebaliknya (Himawan, 2012).

BAB III
METODE PERCOBAAN

3.1 Bahan Percobaan

Bahan yang digunakan dalam percobaan ini adalah NaCl (Natrium Khlorida),

AgNO3 (Perak Nitrat), CHCl3 (Kloroform), Ch3COOH (Asam Asetat), KCNS (Kalium

Sianida Sulfida), CCl4 (Alkohol), C2H5OH (Ethanol), K3Fe(CN)6 (Kalium

Ferisianida), HCl (Asam Khlorida), indikator MO (Metil Orange), BaCl2 (Barium

Khlorida), K4Fe(CN)6 (Potasium Ferosianida), CuSO4 (Tembaga Sulfat), NH4OH

(Amonia), FeCl3 (Besi(III) Khlorida), tissue roll dan sabun cuci (Sunlight).

3.1 Alat Percobaan

Alat yang digunakan dalam percobaan ini adalah tabung reaksi, pipet tetes, rak

tabung reaksi, handphone, dan sikat tabung.

3.3 Prosedur Percobaan

3.3.1 Percobaan A

Disiapkan 3 buah tabung reaksi. Setiap tabung reaksi diisi dengan 1 mL

AgNO3. Tabung (1) ditetesi dengan NaCl, tabung (2) dengan CCl4/Alkohol dan tabung

(3) dengan CHCl3, masing-masing sebanyak 3-5 tetes. Diperhatikan dan dicatat

perubahan yang terjadi.

3.3.2 Percobaan B

Disiapkan 3 buah tabung reaksi. Tabung (1) diisi dengan HCl, tabung (2)

dengan CH3COOH dan tabung (3) dengan C2H5OH, masing-masing sebanyak 2,5 mL.

Selanjutnya, setiap tabung reaksi ditetesi dengan indikator Metil Orange (MO).
3.3.3 Percobaan C
Diperhatiakn dan dicatat perubahan yang terjadi.
Pada percobaan ini, ada dua perlakuan yang diberikan, perlakuan yang pertama,

disiapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan 1 mL CuSO4. Masing-masing tabung

ditetesi dengan larutan amonia sampai tidak terjadi endapan. Tabung reaksi (1)

ditmbah dengan larutan BaCl2, tabung (2) dengan K4Fe(CN)6 masing-masing 2-3 tetes.

Diperhatikan dan dicatat perubahan yang terjadi. Untuk perrlakuan yang kedua,

disiapkan 2 buah tabung reaksi yang diisi dengan 1 mL CuSO4. Tabung reaksi (1)

ditmbah dengan larutan BaCl2, tabung (2) dengan K4Fe(CN)6 masing-masing 2-3 tetes.

Diperhatikan dan dicatat perubahan yang terjadi.

3.3.4 Percobaan D

Disiapkan 2 buah tabung reaksi. Tabung reaksi (1) diisi dengan FeCl3 dan tabung

(2) dengan K3Fe(CN)6 masing-masing 1 mL. Setiap tabung ditambahkan 2-3 tetes

KCNS. Diperhatikan dan dicatat perubahan yang terjadi.

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil Pengamatan

4.1.1 Pengendapan garam nitrat

Tabel 1. Pengendapan garam nitrat.


Larutan Ditambah AgNO3 Keterangan
NaCl Endapan putih Ikatan ion
CCl4 Tidak ada endapan Ikatan kovalen
CHCl3 Tidak ada endapan Ikatan kovalen

4.1.2 Reaksi dengan indikator metil jingga (MO).

Tabel 2. Reaksi dengan indikator metil jingga (MO).


Larutan Ditambah MO Keterangan
HCl Larutan merah. Asam kuat
CH3COOH Larutan merah. Asam lemah
C2H5OH Larutan jingga. Basa

4.1.3 Pengendapan Garam Hidroksida.

Tabel 3. Pengendapan garam hidroksida.


Pereaksi
Larutan Keterangan
BaCl2 K4Fe(CN)6
CuSO4 + NH4OH Endapan biru. Endapan merah bata. Senyawa
Sedikit kompleks
CuSO4 + NH4OH Endapan biru. Endapan merah bata. Senyawa
Berlebih kompleks
CuSO4 Larutan biru, Larutan dan endapan Bukan senyawa
endapan putih. merah bata. kompleks

4.1.4 Reaksi dengan kalium tiosianat (KCNS).

Tabel 4. Reaksi dengan kalium tiosianat (KCNS).


Larutan Ditambah KCNS Keterangan
FeCl3 Berubah warna (merah bata). Senyawa kompleks
K3Fe(CN)6 Tidak berubah warna (kuning). Bukan senyawa kompleks

4.2 Reaksi
4.2.1 Reaksi Pengendapan garam nitrat.

NaCl + AgNO3 AgCl ↓ + NaNO3

CCl4 + AgNO3 tidak bereaksi

CHCl3 + AgNO3 tidak bereaksi

4.2.2 Reaksi Pengendapan Garam Hidroksida.


CuSO4 + 2 NH4OH (sedikit) Cu(OH)2 + (NH4)2SO4

CuSO4 + 4 NH4OH (berlebih) Cu(NH3)4 SO4 +4H2O

Cu(NH3)4 SO4 +BaCl2 Cu(NH3)4Cl2 + BaSO4

Cu(NH3)4 SO4 + K4Fe(CN)6 [Cu(NH3)4]2[Fe(CN)6] + 2K2SO4

CuSO4 + BaCl2 CuCl2 + BaSO4

CuSO4 + K4Fe(CN)6 Cu2[Fe(CN)6] + 2K2SO4

4.2.3 Reaksi dengan KCNS

FeCl3 + 3KCNS Fe(CNS)3 + 3KCl

K4Fe(CN)6 + KCNS tidak bereaksi

4.3 Pembahasan

Pada percobaan pertama atau pengendapan garam nitrat digunakan AgNO3

sebagai penguji larutan NaCl, CCl4 dan CHCl3 dimana hal ini dimaksudkan untuk

melihat apakah larutan yang diujikan merupakan larutan yang berikatan ion atau

kovalen. Hal tersebut dapat terlihat dari ada tidaknya endapan yang terjadi. Dari hasil

yang kami dapatkan NaCl merupakan ikatan ion karena terjadi endapan berwarna putih

di dasar larutan saat ditetesi AgNO3, sedangkan CCl4 dan CHCl3 merupakan larutan

yang berikatan kovalen karena saat bereaksi dengan AgNO3 larutan tidak
memperlihatkan adanya suatu endapan, hal inilah yang mendasari kami mengatakan

bahwa CCl4 dan CHCl3 merupakan ikatan kovalen.

Pada percobaan kedua atau reaksi dengan indikator Metil Orange (MO)

digunakan tiga sampel dengan indikator MO sebagai penguji larutan. Percobaan kedua

ini bertujuan untuk mengetahui pH suatu larutan. Saat sampel pertama, HCl

direaksikan dengan indikator MO, terjadi perubahan warna dimana larutan berubah

menjadi merah yang menandakan larutan bersifat asam. Dan saat CH3COOH diuji

cobakan larutan pun kembali memberikan perubahan yang sama yaitu larutan

berwarna merah yang menandakan bahwa larutan CH3COOH merupakan asam.

Berbeda dengan C2H5OH yang memberikan perubahan warna yang berbeda dari kedua

larutan sebelumnya ketika direaksikan dengan indikator MO. C2H5OH

memperlihatkan perubahan warna menjad jingga ketika ditetesi indikator MO. Hal ini

menyatakan bahwa larutan C2H5OH merupakan larutan yang bersifat basa.

Pada percobaan ketiga atau pengendapan garam hidroksida dilakukan

percobaan menggunakan CuSO4 + NH4OH dan CuSO4 tanpa tambahan NH4OH.

Dengan pereaksi yaitu BaCl2 dan K4Fe(CN)6. Percobaan ini dilakukan untuk

mengetahui apakah larutan yang digunakan merupakan senyawa kompleks atau tidak.

Ketika CuSO4 + NH4OH direaksikan dengan BaCl2 didapatkan endapan berwarna biru

sedangkan saat direaksikan dengan K4Fe(CN)6 larutan menjadi endapan berwarna

merah bata, hal ini menunjukan bahwa larutan CuSO4 yang ditambahkan ammonia

merupakan senyawa kompleks. Sedangkan larutan CuSO4 ketika direaksikan dengan

BaCl2 menghasilkan larutan berwarna biru dengan endapan putih dan saat direaksikan

dengan K4Fe(CN)6 dihasilkan larutan dan endapan merah bata, hal ini menunjukan

bahwa larutan CuSO4 bukan senyawa kompleks.


Pada percobaan keempat atau reaksi dengan kalium tiosianat (KCNS)

digunakan dua larutan yang akan diuji dengan ditambahkan KCNS di masing-masing

sampel. Percobaan ini dilakukan untuk mengetahui apakah suatu larutan merupakan

senyawa kompleks atau tidak. Ketika FeCl3 direaksikan dengan KCNS, larutan FeCl3

berubah warna menjadi merah bata yang artinya larutan FeCl3 merupakan senyawa

kompleks. Pada sampel kedua yaitu K3Fe(CN)6 ketika direaksikan dengan KCNS tidak

terjadi perubahan warna dimana larutan tetap seperti warna semula yaitu kuning, hal

ini berarti larutan K3Fe(CN)6 bukan merupakan senyawa kompleks.


BAB V

PENUTUP

5.1 Kesimpulan

Dari percobaan ini dapat ditarik beberapa kesimpulan yaitu :

1. Ikatatan ion dibentuk oleh daya tarik elektrostatik antara ion-ion. Ikatan ion

dihasilkan dari perpindahan elektron-elektron dari atom satu ke atom lainnya atau

dengan kata lain ikatan ion terjadi karena danya serah terima elektron. Sedangkan

Ikatan kovalen adalah ikatan berupa pasangan elektron yang saling terbagi atau

pemakaian elektron secara bersama.

2. Senyawa kompleks merupakan suatu senyawa yang mengandung ion kompleks

yang dikelilingi oleh molekul atau anion yang biasanya disebut ligan atau agen

pengompleks.

5.2 Saran

5.2.1 Saran untuk Laboratorium

Saran untuk laboratorium yaitu sebaiknya alat-alat praktikum dan bahan-bahan

di laboratorium dilengkapi lagi agar praktikan bisa langsung melakukan percobaan

tanpa perlu menunggu praktikan dari kelompok lain selesai menggunakan bahan.

5.2.2 Saran untuk Laboratorium

Saran untuk asisten yaitu agar selalu mengajarkan hal-hal yang belum

diketahui, serta selalu menjadi contoh yang baik bagi praktikannya.


DAFTAR PUSTAKA

Balasubramanian, V., Meenakshisundram, S.P., Ramesh, R., Vijayaragini, T.,


Stephen, S.M., Sathyanarayanan, K., dan Rajalakshmi, M., 2007, Chemistry,
Tamilnadu Textbook Corporation, Chennai.

Chang, R., 2010, Chemistry 10th Edition, McGraw-Hill, New York.

Gatti, C., 2005, Chemical Bonding in Crystals: New Directions, CNR-ISTM Istituto
di Scienze e Tecnologie Molecolari, Italy, 220(19): 399-457.

Himawan, A.A., 2012, Kimia Anorganik, UNDIP, Semarang.

Oxtoby, Gillis, dan Nachtrieb., 2001, Prinsip-Prinsip Kimia Modern Edisi Keempat
Jilid 1, Erlangga, Jakarta.

S, Elida, T., 1992, Pengantar Kimia, Penerbit Gunadarma, Jakarta.

Saito, T., 1996, Kimia Anorganik, Iwanami Shoten, Tokyo.

Suja, I.W., 2014, Jurnal Pendidikan Indonesia: Penggunaan Analogi dalam


Pembelajaran Kimia, Jurusan Pendidikan Kimia, Fakultas Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam, Universitas Pendidikan Ganesha, Singaraja, 2(3):
397-402.

Sumardjo, D., 2006, Pengantar Kimia, Penerbit Buku Kedokteran EGC, Jakarta.

Temel, S., dan Ozcan, O., 2016, Eurasia Journal of Mathematics, Science &
Technology Education: The Analysis of Prospective Chemistry Teacher’
Cognitive Structure: The Subject of Covalent and Ionic Bonding, Hacettepe
University, Turkey, 12(8): 1953-1969.
Lampiran 2. Foto Percobaan

1. Pengendapan Garam Nitrat


Gambar 1. Pengendapan Garam Nitrat.

2. Reaksi dengan Indikator MO

Gambar 2. Reaksi dengan Indikator MO.

3. Pengendapan Garam Hidroksida

Gambar 3. Pengendapan Garam Hidroksida.

4. Reaksi dengan KCNS


Gambar 4. Reaksi dengan KCNS.

5. Seluruh percobaan

Gambar 5. Tampak Depan Tabung Reaksi Hasil Percobaan.

Gambar 6. Tampak Belakang Tabung Reaksi Hasil Percobaan.

Lampiran 1. Bagan Kerja


A. Pengendapan garam nitrat

AgNO3 1 mL
- Menyiapkan 3 buah tabung reaksi.

- Mengisi ketiga tabung reaksi dengan 1 mL AgNO3.

- Tabung (1) ditetesi NaCl.

- Tabung (2) ditetesi CCl4/Alkohol.

- Tabung (3) ditetesi CHCl3.

- Perhatikan dan catat perubahannya.


Hasil -

B. Reaksi dengan indikator metil orange

M.O

- Memasukkan ke dalam tabung reaksi.

- Tabung (1) diisi dengan HCl 2,5 mL.

- Tabung (2( diisi dengan CH3COOH 2,5 mL.

- Tabung (3) diisi dengan C2H5OH 2,5 mL.

- Perhatikan dan catat perubahan yang terjadi.

Hasil

C. Pengendapan garam hidroksida


1. Dengan Amonia.

CuSO4
- Dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi.

- Masing-masing tabung ditetesi larutan amonia sampai tidak terjadi

endapan.

- Ditambahkan larutan BaCl2 pada tabung (1) 2-3 tetes.

- Ditambahkan larutan K4Fe(CN)6 2-3 tetes.

- Perhatikan dan catat perubahannya.

Hasil

2. Tanpa Amonia.

CuSO4
- Dimasukkan ke dalam 2 tabung reaksi.

- Ditambahkan larutan BaCl2 pada tabung (1) 2-3 tetes.

- Ditambahkan larutan K4Fe(CN)6 2-3 tetes.

- Perhatikan dan catat perubahannya.

Hasil

D. Reaksi dengan KCNS

KCNS 2-3 tetes


- Memasukkan ke dalam 2 tabung.

- Tabung reaksi (1) diisi dengan FeCl3 1 mL.

- Tabung reaksi (2) diisi dengan K3Fe(CN)6.

- Perhatian dan catat perubahannya.

Hasil