Anda di halaman 1dari 45

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Pendidikan jasmani adalah suatu proses pendidikan yang dilakukan melalui

berbagai kegiatan jasmani (fisik) untuk meningkatkan kemampuan dan

keterampilan jasmani,pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak. Pada

dasarnya pendidikan jasmani merupakan pendidikan yang dilakukan dengan gerak

tubuh atau fisik. Berkaitan dengan pendidikan jasmani Nixson dan Cozens (1959)

mengemukakan: “Pendidikan jasmani adalah phase dari proses pendidikan

keseluruhan yang berhubungan dengan aktivitas berat yang mencakup system,

otot serta hasil belajar dari partisipasi dalam aktivitas tersebut”. Volter dan

Eslinger (Bucher: 1964) mengemukakan:”Pendidikan jasmani adalah phase

pendidikan melaluai aktivitas fisik.UNESCO yang tertera dalam International

Charter of Physical Education (1974) mengemukakan: Pendidikan jasmani adalah

suatu proses pendidikan seseorang sebagai individu maupun sebagai anggota

masyarakat yang dilakukan secara sadar dan sistematik melalui berbagai kegiatan

jasmani dalam rangka memperoleh peningkatan kemampuan dan ketrampilan

jasmani, pertumbuhan kecerdasan dan pembentukan watak.

Proses pembelajaran dikatakan efektif apabila seluruh siswa terlibat secara

aktif baik mental, fisik, maupun sosial. Oleh karena itu, guru dikatakan sebagai

penggerak proses pembelajaran dan fasilitator belajar siswa yang diharapkan

mampu memantau tingkat perkembangan hasil belajar siswa. Keberhasilan suatu

pembelajaran tidak hanya tergantung pada siswa saja, tetapi juga peran guru.
Siswa dan guru harus berperan aktif dalam pembelajaran. Guru dituntut untuk

mengkondisikan kelas dan memilih metode pembelajaran dengan tepat agar

prestasi belajar siswa dapat meningkat. Harapan yang tidak pernah sirna dari

seorang guru adalah bagaimana agar bahan pelajaran yang disampaikan dapat

diterima anak didik dengan baik.

Dengan diberlakukannya Kurikulum 2013 yaitu melalui pendekatan

saintifik dimana melalui pendekatan ini, siswa lebih kreatif, dapat memecahkan

masalah materi pembelajaran yang berlangsung sehingga pembelajaran tidak

monoton. Kurikulum 2013 di sekolah menuntut siswa lebih aktif dalam proses

pembelajaran, sedangkan guru hanya sebagai fasilitator dalam pembelajaran.

Siswa dituntut untuk mencari tahu tentang pembelajaran tersebut.

Setelah mempelajarai materi pembelajaran di sekolah, setiap siswa harus

mempraktekkan ilmu yang diterima di sekolah pada saat pembelajaran

berlangsung maupun melalui media elektronik seperti, internet, TV dan lain

sebagainya di tengah-tengah masyarakat sehingga siswa lebihmemahami materi

yang dipelajarinya. Untuk itu setiap pelajaran selalu dikaitkan dengan manfaatnya.

Salah satunya adalah dengan menerapkan pembelajaran dengan menggunakan

pendekatan yang sesuai. Menggunakan pendekatan saintifik metode pembelajaran

yang bersifat membentuk suatu kelompok belajar untuk mempermudah suatu

proses kegiatan belajar mengajar. Dimana kelompok belajar itu mengikuti tahapan

pembelajaran dengan cara mengamati, menanya, mencoba, mengasosiasi dan

mengomunikasikan.
Disamping itu, masing-masing kelompok harus mampu memecahkan

masalah yang diberikan guru melalui lembar kerja siswa, dengan penerapan

pendekatan saintifik diharapkan siswa dapat memahami dan melakukan rangkaian

teknik dasar tolak peluru dengan benar dan sesuai dengan penerapan pendekatan

saintifik siswa diharapkan dapat berpikir kritis, logis dan kreatif dalam

menghadapi permasalahan yang dihadapi saat proses pembelajaran, terkhusus

pada mata pelajaran pendidikan jasmani tentang materi tolak peluru agar siswa

mampu melakukan proses pelaksanaan materi tolak peluru dengan baik dan benar.

Tolak peluru merupakan suatu aktivitas yang membutuhkan gerakan yang

kompleks. Agar dapat melakukan rangkaian gerakan tolak peluru dengan baik

dibutuhkan kemampuan dasar gerakan tolakan tangan, tumpuan kaki dan

pernafasan, dilanjutkan dengan koordinasi gerakan tangan dan kaki secara

harmonis. Dalam pembelajaran tolak peluru, seringkali dijumpai siswa yang

kurang menguasai keterampilan dan fase tolak peluru.

Memodifikasi sarana atau alat pembelajaran pendidikan jasmani merupakan

salah satu solusi untuk mengatasi kendala atau kesulitan yang dihadapi siswa

dalam pembelajaran pendidikan jasmani. Dalam hal ini Rusli Lutan dan Adang

Suherman (2000: 75) berpendapat, “Lakukan modifikasi peralatan, apabila

peralatan diduga sebagai penghambat keberhasilan”. Memodifikasi peralatan

dalam pembelajaran pendidikan jasmani sangat penting bagi siswa sekolah dasar.

Dengan memodifikasi sarana pembelajaran pendidikan jasmani, maka kesulitan

atau kendala yang dihadapi siswa dalam pembelajaran pendidikan jasmani dapat
teratasi. Contoh dari modifikasi pembelajaran pendidikan jasmani yaitu,

pembelajaran tolak peluru menggunakan bola plastik.

Melalui modifikasi peralatan dalam pembelajaran pendidikan jasmani para

siswa akan memperoleh suasana atau hal-hal baru. Dengan peralatan yang

sederhana dan menarik perhatian siswa, maka dapat membangkitkan motivasi

belajar siswa. Pembelajaran yang menarik perhatian siswa, sehingga siswa akan

lebih aktif bergerak mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani. Jika siswa aktif

bergerak dalam mengikuti pembelajaran pendidikan jasmani, maka secara tidak

langsung akan meningkatkan kemampuan gerak dasarnya.

Berdasarkan hasil observasi yang dilakukan pada 17,18,19 Oktober tahun

2017, pada siswa kelas VIII MTs Negeri 2 Medan, saat materi pelajaran tolak

peluru diberikan, terlihat proses pembelajaran berjalan monoton, siswa terlihat

kurang tertarik dan kurang bersemangat dalam merespon materi yang diberikan.

Dikarenakan ada beberapa masalah yang mengganggu proses pembelajaran

tersebut. Beberapa permasalahannya dalam proses pembelajaran tolak peluru

seperti, guru menerapkan pendekatan yang kurang tepat, guru lebih dominan

mengajar dengan pembelajaran seperti kegiatan melatih yang berdampak pada

siswa jadi merasa cepat bosan, guru lebih dominan memberikan materi pelajaran

dengan cara-cara atau metode konvensional dengan berpatokan pada buku

pelajaran. Guru menerapkan pembelajaran yang selalu berpusat kepada guru

(Teacher Center), masih kurangnya kreatifitas guru dalam mengatasi keterbatasan

fasilitas dan media dalam pembelajaran pendidikan jasmani sehingga

pembelajaran dirasa apa adanya.


Pembelajaran yang diadakan disekolah ini hanya sesuai dengan materi,

tanpa ada pendekatan dengan sistem yang terstruktur yang membuat siswa merasa

tertarik dengan pelajaran ini. Guru tidak melibatkan siswa dalam penyelesaian

masalah yang mereka hadapi pada saat melakukan gerakan tolak peluru, guru juga

tidak memberikan siswa waktu berdiskusi dengan teman-teman mereka dalam

pemecahan masalah pada materi tersebut. Tanpa disadari dampak dari semua itu

akan mempengaruhi terhadap tingkat kesegaran jasmani dan penguasaan

keterampilan gerak peserta didik yang semestinya dapat dikembangkan sesuai

dengan perkembangan gerak sebagaimana mestinya.

Dengan demikian, kemampuan peserta didik tidak dapat berkembang secara

optimal, dan nantinya tidak dapat optimal juga dalam memberikan kontribusi

bibit-bibit atlet berprestasi yang dapat dikembangkan pada pembinaan prestasi

olahraga untuk kedepannya.Selain itu kurang berkembangnya proses

pembelajaran penjas di sekolah, disebabkan terbatasnya sarana dan prasarana

yang ada, baik kualitas maupun kuantitasnya.

Berdasarkan amatan penulis, siswa kurang berperan aktif dalam proses

pembelajaran, siswa kurang memahami proses gerak dan rangkaian tolak peluru.

masalah yang terjadi berawal dari guru yang banyak berdampak pada minimnya

kreatifitas dan rasa ingin tahu siswa sebagai contoh, rendahnya kemampuan guru

untuk menggali potensi para siswa agar lebih aktif bertanya, sehingga berdampak

pada kegiatan pembelajaran yang berjalan pasif dan monoton. Guru menerapkan

pendekatan yang kurang tepat dalam kegiatan pembelajaran, penyampaian materi

yang kurang maksimal karena materi yang disampaikan tidak sistematis, tidak
beruntun, yang mengakibatkan pemahaman dan ketertarikan siswa terhadap

materi masih rendah, serta pemanfaatan media oleh guru masih minim dan

kemandirian siswa masih terlalu bergantung pada instruksi guru.

Dari latar belakang tersebut peneliti merasa tertarik untuk mengadakan

penelitian mengenai “Penerapan Pendekatan Saintifik Dan Modifikasi Alat Dalam

Meningkatkan Hasil Belajar Tolak Peluru Pada Siswa Kelas VIII MTs Negeri 2

Medan Tahun Pelajaran 2017/2018”.

B. Identifikasi Masalah

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah di atas, maka peneliti dapat

mengidentifikasikan beberapa masalah yang timbul antara lain:

1. Guru menerapkan pendekatan yang kurang tepat dalam pembelajaran.

2. Guru dominan memberikan materi pelajaran dengan cara-cara atau

metode konvensional dengan berpatokan pada buku pelajaran.

3. Guru kurang melibatkan siswa secara aktif dalam pembelajaran

disekolah.

4. Kemampuan guru untuk menggali potensi siswa agar lebih aktif untuk

bertanya masih rendah.

5. Motivasi belajar siswa pada materi tolak peluru masih rendah, hanya

sekedar mengikuti instruksi dari guru.

6. Siswa kesulitan dalam menanggung bobot peluru asli yang tidak sesuai

bagi pelajar tingkat MTs.

7. Kurangnya pemanfaatan guru dalam menggunakan media pembelajaran

yang dimodifikasi.
8. Masih banyak siswa yang belum memahami teknik dasar Tolak peluru.

9. Belum maksimalnya hasil belajar tolak peluru pada siswa kelas VIII MTs

Negeri 2 Medan.

C. Pembatasan Masalah

Mengingat luasnya cakupan masalah terkait dalam suatu penelitian dan

untuk menghindari penafsiran yang berbeda-beda serta keterbatasan masalah

waktu, dana, dan kemampuan penulis maka perlu adanya pembatasan masalah.

Adapun pembatasan masalah yang dibahas dalam penelitian ini adalah

:“Penerapan Pendekatan Saintifik Dan Media Modifikasi Alat Dalam

Meningkatkan Hasil Belajar Tolak Peluru Pada Siswa Kelas VIII Mts Negeri 2

Medan Tahun Pelajaran 2017/2018”.

D. Rumusan Masalah

Adapun yang menjadi rumusan masalah dalam penelitian ini adalah, Apakah

penerapan pendekatan saintifik dan media modifikasi dapat meningkatkan hasil

belajar tolak peluru gaya ortodok pada siswa kelas VIII Mts Negeri 2 Medan

Tahun Pelajaran 2017/2018?

E. Tujuan Penelitian

Tujuan penelitian ini adalah untuk meningkatkan hasil belajar tolak peluru

melalui pendekatan saintifik dan media modifikasi pada siswa kelas VIII Mts

Negeri 2 Medan Tahun Pelajaran 2017/2018.


F. Manfaat Penelitian

Sebagai upaya yang bersifat ilmiah penelitian ini diharapkan mempunyai

manfaat sebagai berikut :

1. Bagi siswa diharapkan dapat meningkatkan hasil belajar dan dapat

memberikan rasa senang terhadap mata pelajaran penjas khususnya tentang

materi tolak peluru dengan adanya pendekatan saintifik dan media

modifikasi.

2. Bagi guru yaitu sebagai bahan masukan kepada guru pendidikan jasmani

untuk menggunakan dan mengembangkan proses pembelajaran melalui

pendekatan saintifik dan media modifikasi.

3. Bagi sekolah yaitu sebagai sumbangan pemikiran bagi sekolah guna

memperbaiki pelajaran khususnya pelajaran pendidikan jasmani.

4. Bagi peneliti sendiri agar dapat mengembangkan ilmu dan keterampilan

lebih baik lagi dengan pendekatan saintifik dan permainan modifikasi alat

dalam proses pembelajaran tolak peluru.

5. Sebagai bahan masukan dan sumbangan pemikiran bagi jurusan, dan

perpustakaan Fakultas Ilmu Keolahragaan Unimed..


BAB II

LANDASAN TEORI

A. Kajian Pustaka

1. Pendekatan Saintifik

a. Pengertian Pendekatan Saintifik

Pendekatan pembelajaran ilmiah menekankan pada pentingnya

kolaborasi dan kerja sama di antara peserta didik. Pendekatan saintifik

merupakan salah satu pendekatan pembelajaran ilmiah. Majid (2014: 193)

mengungkapkan bahwa penerapan pendekatan saintifik bertujuan untuk

pemahaman kepada peserta didik dalam mengenal, memahami berbagai

materi menggunakan pendekatan ilmiah, bahwa informasi bisa berasal dari

mana saja, kapan saja, tidak bergantung pada informasi searah dari guru.

Daryanto (2014:51) mengungkapkan bahwa pembelajaran dengan


pendekatan saintifik adalah proses pembelajaran yang dirancang
sedemikian rupa agar peserta didik secara aktif mengkonstruksi konsep,
hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan mengamati, merumuskan
masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis, mengumpulkan data
dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik kesimpulan dan
mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang ditemukan.

Pendapat para ahli di atas dapat disimpulkan bahwa pendekatan saintifik

merupakan pendekatan yang berpusat kepada siswa agar siswa secara aktif

mengkonstruksi konsep, hukum atau prinsip melalui tahapan-tahapan

mengamati, merumuskan masalah, mengajukan atau merumuskan hipotesis,

mengumpulkan data dengan berbagai teknik, menganalisis data, menarik


kesimpulan dan mengkomunikasikan konsep, hukum atau prinsip yang

ditemukan.

b. Langkah-langkah Pendekatan Saintifik

Pendekatan saintifik merupakan pendekatan yang berpusat kepada siswa.

Majid (2014: 211) menyebutkan bahwa pendekatan saintifik dalam pembelajaran

meliputi mengamati, menanya, mencoba, mengolah, menyajikan, menyimpulkan,

dan mencipta. Pendapat tersebut sejalan dengan yang diungkapkan oleh Daryanto

(2014: 59-80), yaitu:

a) Mengamati (Observasi)

Metode mengamati mengutamakan kebermaknaan proses

pembelajaran. Metode ini memiliki keunggulan tertentu, seperti menyajikan

media obyek secara nyata, siswa senang dan tertantang, dan mudah dalam

pelaksanaan. Seperti yang diungkapkan oleh Daryanto (2014: 60) bahwa

metode mengamati sangat bermanfaat bagi pemenuhan rasa ingin tahu siswa,

sehingga proses pembelajaran memiliki kebermaknaan yang tinggi.

b) Menanya

Guru membuka kesempatan kepada siswa secara luas untuk bertanya

mengenai apa yang sudah dilihat, disimak, atau dibaca. Daryanto (2014: 65)

mengungkapkan bahwa guru yang efektif mampu menginspirasi siswa untuk

meningkatkan dan mengembangkan ranah sikap, keterampilan, dan

pengetahuannya. Pada saat guru bertanya, pada saat itu pula dia membimbing

atau memandu siswa belajar dengan baik.


c) Menalar

Kegiatan menalar menurut Permendikbud Nomor 81a Tahun 2013

(Dalam Daryanto, 2014: 70) adalah memproses informasi yang sudah

dikumpulkan baik terbatas dari hasil kegiatan mengumpulkan atau eksperimen

maupun hasil dan kegiatan mengumpulkan informasi. Kegiatan ini dilakukan

untuk menemukan keterkaitan satu informasi dengan informasi lainnya,

menemukan pola dari keterkaitan informasi tersebut.

d) Mencoba

Hasil belajar yang nyata atau otentik akan didapat bila siswa mencoba

atau melakukan percobaan. Daryanto (2014: 78) mengungkapkan bahwa

aplikasi mencoba atau eksperimen dimaksudkan untuk mengembangkan

berbagai ranah tujuan belajar, yaitu sikap, keterampilan, dan pengetahuan.

e) Mengkomunikasikan

Guru diharapkan memberi kesempatan kepada siswa untuk

mengkomunikasikan apa yang telah mereka pelajari dalam pendekatan

saintifik. Daryanto (2014: 80) mengungkapkan bahwa kegiatan

mengkomunikasikan dilakukan melalui menuliskan atau menceritakan apa

yang ditemukan dalam kegiatan mencari informasi, mengasosiasikan dan

menemukan pola.

Pendapat ahli tersbut dapat disimpulkan bahwa langkah-langkah dalam

pendekatan saintifik adalah 5M yaitu, mengamati, menanya, menalar,

mencoba, dan mengkomunikasikan. Tahapan-tahapan pendekatan saintifik


memiliki tujuan agar siswa dapat berpartisipasi dan terlibat aktif selama

pembelajaran.

2. Modifikasi Bola Plastik Diisi Pasir

a. Pengertian Modifikasi Alat

Menurut Yoyo Bahagia (2008: 27-39) “Minimnya fasilitas dan

perlengkapan pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut guru

penjas untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan

penggunaan fasilitas dan perlengkapan yang ada.sesuai dengan kondisi siswa dan

sekolahnya”. Tidak sedikit siswa yang merasa gagal atau kurang menyukai materi

pemelajaran yang disampaikan oleh gurunya karena kemapuan guru dalam

menyampaikan materi yang diberikan, baik dalam penggunaan fasilitas dan

perlengkapan yang digunakan, dalam penyajian materi, dalam mengoptimalkan

lingkungan pembelajaran maupun dalam mengevaluasi hasil pembelajaran. Guru

mata pelajaran apapun, terutama pelajaran penjas harus mampu menggugah

peserta didik untuk dapat terlibat secara aktif dengan tidak merasa dipaksa serta

beraktivitas dalam suasana yang riang gembira. Upaya tersebut tidak lepas dari

kemampuan guru untuk memodifikasi segala sesuatu yang berkaitan dengan

proses pemelajaran dengan jalan mengurangi atau menambah tingkat kesulitan

yang dihadapi siswa baik dalam hal alat bantu dan perlengkapan, karakteristik

materi yang disesuaikan dengan keadaan siswa, lingkungan pembelajaran serta

cara evaluasi yang diberikan di akhir kegiatan kelak.


Modifikasi juga dapat diartikan sebagai cara merubah bentuk sebuah barang

dari yang kurang menarik menjadi lebih menarik tanpa menghilangkan fungsi

aslinya. Seperti yang dijelaskan Syamsudin (2008:56) sebagai berikut :

Konsep modifikasi dikembangkan merupakan upaya yang dilakukan agar

proses pembelajaran mencerminkan Developmentally AppropriatePractise (DPA),

modifikasi dokembangkan untuk menganalisis materipelajaran dengan cara

meruntunkannya dalam bentuk aktivitas belajar yang potensial sehingga dapat

memperlancar siswa dalam belajarnya dengan cara ini siswa dituntun, diarahkan,

dan membelajarkan siswa yang tadinya tidak bisa menjadi bisa. Peluru standar

adalah peluru terbuat dari besi keras, kuningan atau logam lain tidak lebih lunak

dari kuningan, atau kulit metal yang keras diisi dengan timah atau materi lain.

Peluru beratnya untuk yunior putri 3 kilogram dan putra 5 kilogram sedangkan

untuk senior putri 4 kilogram dan putra 7,257 kilogram. Peluru ini harus

berbentuk bola/bulat dengan permukaan yang licin/halus. Garis tengah peluru

putra min 110 -130 mm max. Sedangkan untuk putri bergaris tengah 95-110 mm,

PASI (1993: 8 & 101).

Modifikasi yang dilakukan dalam pengembangan pembelajaran tolak peluru

ini adalah modifikasi terhadap spesifikasi peluru yang digunakan dalam

pembelajaran, yaitu memodifikasi ukuran berat peluru. Tujuan modifikasi alat

pembelajaran tersebut adalah untuk menyesuaikan pembelajaran atletik nomor

tolak peluru dengan kemampuan fisik siswa kelas VIII MTs Negeri 2 Medan,

sehingga diperoleh peningkatan kualitas pendidikan jasmani yang optimal.


Modifikasi yang dilakukan dalam pengembangan pembelajaran tolak peluru

ini adalah modifikasi terhadap spesifikasi peluru yang digunakan dalam

pembelajaran, yaitu memodifikasi ukuran berat peluru. Tujuan modifikasi alat

pembelajaran tersebut adalah untuk menyesuaikan pembelajaran atletik nomor

tolak peluru dengan kemampuan fisik siswa kelas VIII MTs Negeri 2 Medan,

sehingga diperoleh peningkatan kualitas pendidikan jasmani yang optimal.

b. Aspek yang dimodifiaksi

Beberapa aspek analisis modifikasi ini tidak terlepas dari pengetahuan

guru tentang: tujuan, karakteristik materi, kondisi lingkungan , dan

evaluasinya. Khusus dalam penjas, disamping pengetahuan dan pemahaman

yang baik tentang tujuan, karakteristik materi, kondisi lingkungan, dan

evaluasi, keadaan fasilitas, perlengkapan dan media pengajaran penjas yang

dimiliki oleh sekolah akan mewarnai kegiatan pembelajaran itu sendiri.

Seperti telah dibahas bahwa minimnya fasilitas dan perlengkapan

pendidikan jasmani yang dimiliki sekolah-sekolah, menuntut guru penjas

untuk lebih kreatif dalam memberdayakan dan mengoptimalkan penggunaan

fasilitas dan perlengkapan yang ada, sesuai dengan kondisi siswa dan

sekolahnya. Halaman sekolah, taman, ruangan kosong, parit, selokan dan

sebagainya yang ada di lingkungan sekolah dapat direkayasa dan

dimanfaatkan untuk mengoptimalkan pembelajaran pendidikan jasmani.

Dengan melakukan modifikasi fasilitas maupun perlengkapan tersebut

sebenarnya tidak akan mengurangi aktivitas siswa dalam melaksanakan

pelajaran pendidikan jasmani melainkan sebaliknya, siswa lebih aktif karena


siswa difasilitasi untuk lebih banyak bergerak, dengan pendekatan bermain

dalam suasana riang gembira.Dengan melakukan modifikasi, guru penjas

dapat mengatasi pembelajaran yang sulit menjadi lebih mudah dan

disederhanakan tanpa harus takut kehilangan makna dan apa yang akan

diberikan. Anak akan lebih leluasa bergerak dalam berbagai situasi dan

kondisi yang dimodifikasi.

c. Perlunya Modifikasi Sarana Pembelajaran

Rusli Lutan (1988) menyatakan: Modifikasi dalam mata pelajaran

pendidikan jasmani diperlukan dengan tujuan agar:

1. Siswa memperoleh kepuasan dalam mengikuti pelajaran

2. Meningkatkan kemungkinan keberhasilan dalam berpartisipasi

3. Siswa dapat melakukan pola gerak secara benar

Pendekatan modifikasi ini dimaksudkan agar materi yang ada di dalam

kurikulum dapat disajikan sesuai dengan tahap-tahap perkembangan kognitif,

afektif dan psikomotorik anak.Aussie (1996), mengembangkan modifikasi di

Australia dengan pertimbangan:

1. Anak-anak belum memiliki kematangan fisik dan emosional seperti

orang dewasa.

2. Berolahraga dengan peralatan dan peraturan yang dimodifikasi akan

mengurangi cedera pada anak.

3. Olahraga yang dimodifikasi akan mampu mengembangkan keterampilan

anak lebih cepat dibanding dengan peralatan standard untuk orang

dewasa,
4. Olahraga yang dimodifikasi menumbuhkan kegembiraan dan kesenangan

pada anak-anak dalam situasi kompetitif.

Dari pendapat tersebut dapat diartikan bahwa pendekatan modifikasi dapat

digunakan sebagai suatu alternatif dalam pembelajaran pendidikan jasmani.

Karena pendekatan ini mempertimbangkan tahap-tahap perkembangan dan

karakteristik anak, sehingga anak akan mengikuti pelajaran pendidikan jasmani

dengan senang dan gembira.

Dengan melakukan modifikasi, guru penjas akan menyajikan materi

pelajaran yang sulit menjadi lebih mudah dan disederhanakan tanpa harus takut

kehilangan makna dan apa yang akan diberikan. Anak akan lebih leluasa bergerak

dalam berbagai situasi dan kondisi yang dimodifikasi.

d. Pembelajaran Tolak Peluru Menggunakan Alat Bantu Bola Plastik

Pembelajaran menggunakan bola plastik merupakan bentuk belajartolak

peluru yang pelaksanaannya sebuah peluru diganti oleh bola pastik sehingga

menjadi ringan. Dengan bola plastik, saat pembelajaran siswa tidak akan

mengalami kesulitan dan ketakutan dalam mempraktekan gerakannya karena

ringan dan bentuknya tidak beda jauh dengan peluru. Sehingga siswa akan terpacu

untuk melakukan gerakan-gerakan dasar menolak. Salah satu bentuk kegiatannya

adalah tampak seperti gambar dibawah ini, yaitu menolakan bola plastik baik

secara perorangan maupun kelompok. Gambar di bawah ini sebagai contoh

pembelajaran menggunakan bola plastik untuk mengganti peluru yang

sebenarnya.
Gambar. 6 Bentuk pembelajaran tolak sasaran.
(Sumber: Buku Dasar-dasar atletik PPDO2101)

Menurut Evelyn 1.Schurr (1980: 23-27) karakteristik anak

SMP/MTSadalah: (pengembangan koordinasi lebih tinggi, dalam bermain anak

laki-lakilebih semangat, skill dan fisik yang baik adalah penting pada penerimaan

sosial,kesetiaan pada kelompoknya tinggi, pertumbuhan otot pada anak laki-

lakimeningkat dan anak perempuan kebanyakan dalam masa puber).

3. Hasil Belajar

Secara bahasa prestasi adalah hasil yang telah di capai (dari yang telah

dikerjakan atau dilakukan). Sedangkan belajar itu sendiri adalah suatu peroses

aktivitas yang dapat membawa perubahan pada individu, dan prestasi belajar

adalah penguasaan pengetahuan atau keterampilan yang dikembangkan oleh mata

pelajaran lainnya ditunjukan dengan tes atau angka nilai yang diberikan guru

Dengan demikian seseorang telah mengalami peroses aktifitas belajar mengajar

akan mengalami perubahan tingkah laku, baik dari segi pengetahuan,

keterampilan maupun dari segi lainnya. Proses belajar mengajar tidak hanya

dilakukan didalam kelas saja yaitu intraksi antara guru dengan siswa dalam situasi

pendidikan atau lembaga sekolah saja, akan tetapi lebih dari itu masyarakat pun

merupakan lahan pendidikan yang kadang dilupakan oleh banyak orang.


Dalam proses belajar mengajar terdapat tujuan yang ingin dicapai yang

telah ditetapkan sebelumnya. Tujuan yang dimaksud adalah tujuan pendidikan.

Tujuan tersebut dibagi berdasarkan masing-masing kemampuan. Menurut

Bloom (dalam Hanafiah dan Suhana, 2010: 20-23) hasil belajar tersebut

mencakup kemampuan kognitif, afektif, dan psikomotorik. Domain kognitif

adalah knowledge (pengetahuan, ingatan), comprehension (pemahaman,

menjelaskan, meringkas, contoh), application (menerapkan), analysis

(menguraikan, menentukan hubungan), synthesis (mengorganisasikan,

merencanakan, membentuk bangunan baru), dan evaluation (menilai). Domain

afektif adalah receiving (sikap menerima), responding (memberikan respon),

valuing nilai), organization (organisasi), characterization (karakterisasi). Domain

psikomotor meliputi initiotory, preroutine, rountinized. Psikomotor juga

mencakup keterampilan produktif, teknik, fisik, sosial, manajerial, dan

intelektual.

Dalam dunia pendidikan belajar merupakan proses terjadinya interaksi

antara guru dengan siswa yang memiliki tujuan sebagai target yang harus dicapai

dalam proses belajar mengajar. Menurut Sudirman dkk, bahwa “isi rumusan

tujuan dalam pendidikan harus bersifat komprehensif. Artinya mengandung aspek

pengetahuan, sikap dan keterampilan” Ketiga aspek tersebut dalam istilah

pendidikan dikenal sebagai Taksonomi Bloom yang meliputi tiga matra yaitu : 1).

Ranah (matra) Kognitif yang terdiri atas pengetahuan, pemahaman, aplikasi,

analisis dan evaluasi 2). Ranah (matra) Afektif yang meliputi atas penerimaan

respon, organisasi, evaluasi dan memberi sifat (karakter) 3). Ranah (matra)
Psikomotor melalui pentahapan-pentahapan antara lain: tahapan imitasi, spekulasi,

prosisi, artikulasi dan naturalisasi.

Dari ketiga matra atau ranah tersebut diatas dapat ditentukan bahwa

keberhasilan/prestasi belajar harus diukur oleh ketiga matra tersebut. Jika ketiga

matra tersebut salah satunya belum terukur maka prestasi belajar siswa tersebut

masih perlu diuji kembali.

Dari uraian tersebut diatas telah jelas bahwa hasil belajar merupakan

pengukuran tingkah laku baik dari segi pengetahuan, keterampilan maupun dari

segi lainnya.

4. Pengertian Tolak Peluru

Menurut Djumidar (2001: 44) “Tolakan adalah suatu gerakan menyalurkan

tenaga pada suatu benda yang menghasilkan kecepatan pada benda tersebut dan

memiliki daya dorong kemuka yang kuat, perbedaan dengan melempar terletak

pada saat melepaskan bendanya, pada menolak pergelangan tidak bergerak dan

tenaga diperoleh dari gerakan meluruskan sikut”. Sedangkan menurut Munasifah

(2008: 45) “Tolak peluru adalah suatu kemampuan dalam menolak benda

berbentuk peluru, sejauh mungkin dan ada dua gaya tolak peluru yaitu gaya

samping (ortodok), gaya membelakangi arah tolakan (Perry O’Braien)”.

a. Teknik Dasar Tolak Peluru

Menurut Munasifah (2008: 45-50) menyatakan bahwa teknik dasar

melakukan tolak peluru adalah sebagai berikut :


1) Peralatan

Peluru dengan ukuran untuk senior putra beratnya 7,26 kg, putri

beratnya 4 kg, untuk yunior putra beratnya 5 kg dan putri beratnya 3 kg.

2) Cara Memegang Peluru

Peluru diletakan di antara telapak tangan dengan pangkal jari-jari, ibu

jari, dan keempat jari-jari membagi rata peluru yang dipegang. Kemudian

peluru tersebut ditempelkan antara pangkal leher dengan bahu dan siku

ditekuk lemas ke samping. Tangan yang lain dirilekskan ke depan untuk

mejaga keseimbangan. Letakan kaki ayun ke depan dan kaki tumpu agak

ditekuk sedikit.

Gambar.1 Macam-macam cara memegang peluru.


(Sumber: ienthanz-sadja.blogspot.com)

Gambar. 2 Cara meletakkan peluru dilihat dari dua sisi.


(Sumber: ienthanz-sadja.blogspot.com)

3) Awalan dan Tolakan


Ayunkan kaki, ke depan dan ke belakang dengan rileks. Ayunan diteruskan

melingkar, pada saat kaki tumpu jengket satu langkah ke arahtolakan,dengan kuat

tolakan peluru dengan sudut 45 derajat,dibarengi menarikkaki kiri ke samping.

Gambar. 3 Rangkaian gerak menolak dari sikap awal sampai gerak menolak Gaya
Orthodox.
(Sumber: ienthanz-sadja.blogspot.com)

4) Sikap Akhir Setelah Menolak

Kaki kiri berfungsi sebagai penahan gerakan. Selanjutnya setelahtangan

kanan menolak diikuti gerak loncat kaki kanan ke depan.

Gambar. 4 Rangkaian gerakan tolak peluru gaya membelakangi sektor atau


lemparan gaya O’Brien.
(Sumber: ienthanz-sadja.blogspot.com)

5) Tahap Latihan Menolak


Setelah mengetahui cara memegang peluru dan awalan dengan benar, coba

pergunakan bola plastik sebagai latihan sebelum mempergunakan peluru

sebenarnya.

Gambar. 5 Latihan memegang peluru dan menolaknya


(Sumber: http://meutuah.com/edukasi/teknik-dasar-tolak-peluru.htm)

B. Kerangka Berpikir

Pendidikan jasmani olahraga dan kesehatan merupakan mata pelajaran yang

mengkaji tentang ilmu pembelajaran melaui aktivitas jasmani. Materi-materi

dalam pendidikan jasmani mengandung konsep-konsep abstrak yang sulit

dipahami dengan baik jika penerapannya hanya sebatas teori oleh siswa sekolah

dasar yang masih berada dalam batas bermain.

Pembelajaran yang baik adalah pembelajaran yang mampu melibatkan

keaktifan siswa dalam proses pembelajaran. Siswa diarahkan untuk

menyelesaikan masalah yang sesuai dengan konsep pembelajaran yang sesuai

dengan konsep yang dipelajari. Permasalahan umum yang sering dihadapi guru

pendidikan jasmani di sekolah dasar adalah minimnya sarana dan prasarana yang
dimiliki oleh sekolah, sehingga keaktifan siswa menjadi kurang, dan sarana yang

tersedia merupakan standar untuk orang dewasa. Selain itu permasalahan yang

sering dihadapi dalam pembelajaran pendidikan jasmani adalah model atau cara

guru menyampaikan materi pembelajaran. Sering kali materi yang disampaikan

oleh guru kurang tertanam dengan kuat dibenak siswa. Khususnya dalam

pembelajaran pratik teknik dasar tolak peluru. Dengan adanya permasalahan

tersebut pembelajaran menjadi tidak epektif, banyak siswa yang hanya duduk

menunggu giliran untuk melakukan latihan tolakan. Selain itu siswa menjadi

kurang mampu menganalisis gerakan yang telah di ajarkan oleh guru, sebab guru

hanya menyampaikan materi verbal, adapun memberikan demonstrasi atau contoh

kurang dapat ditangkap oleh siswa secara optimal.

Dengan adanya permasalahan dalam pembelajaran pendidikan jasmani,

maka perlu adanya inovasi dan kreatifitas dari guru pendidikan jasmani sebagai

upaya untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Guru harus mampu

menciptakan strategi pembelajaran yang mampu mengaktifkan siswa,

membangkitkan minat dan perhatian siswa, serta memudahkan siswa dalam

memahami materi pembelajaran tolak peluru. Penggunaan model nyata yang

dapat diamati dan dipegang secara langsung oleh siswa memungkinkan siswa

untuk terlibat secara aktif dalam kegiatan pembelajaran.

Kurang kreatifnya guru pendidikan jasmani dalam membuat dan

mengembangkan media dan model pembelajaran dapat mempengaruhi rendahnya

hasil belajar siswa. Proses pembelajaran pendidikan jasmani hanya menggunakan

media ceramah dan penugasan, sehingga kondisi pembelajaran dalam situasi dan

kondisi yang monoton. Salah satu startegi pembelajaran yang dapat diterapkan
sebagai upaya meningkatkan minat, motivasi dan hasil belajar siswa dalam

pembelajaran pendidikan jasmani yaitu menerapkan pendekatan santifik dengan

modifikasi bola plastik diharapkan tercipta suasana belajar yang menyenangkan,

karena selama pembelajaran siswa akan mendapatkan peluang bergerak yang

lebih untuk berpartisipasi aktif dalam pembelajaran sesuai materi yang sedang

dipelajari, sehingga memudahkan siswa dalam memahami dan mencerna materi

pembelajaran.

Secara sederhana kerangka pemikiran dari penelitian ini dapat digambarkan.

(Agus Kristiyanto,2010:134) sebagai berikut :

a. Siswa kurang tertarik dan


Guru kurang kreatif dalam mudah bosan dengan
Kondisi pelajaran penjas
Proses pembelajaran Penjas
b. Hasil belajar rendah

Siklus I : Guru dan peneliti


menyusun bentuk pengajaran
Menerapkan pendekatan yang bertujuan meningkatan
Tindakan santifik dengan media bola teknik dasar Tolak peluru
plastik diisi pasir melalui media bola plastik
diisi pasir

Melalui penerapan
Siklus II : upaya perbaikan
pendekatan santifik dengan
dari siklus I untuk
media bola plastik yang meningkatkan teknik dasar
Kondisi diisi pasir siswa lebih tolak peluru dalam
Akhir bersemangat dan hasil pembelajaran dengan media
belajar meningkat serta bola plastik yang diisi pasir
partisifasi siswa dalam
mengikuti pembelajaran
meningkat.
Gambar 6. Kerangka pemikiran penelitian

C. Penelitian yang Relevan

Peningkatan Hasil Belajar Tolak Peluru dengan Pendekatan Bermain Pada

Siswa Kelas VII MTS Al-Washliyah Tembung. Penelitian ini bertujuan untuk

mengetahui peningkatan hasil belajar tolak peluru melalui pendekatan bermain

siswa kelas VII MTS Al-Washliyah Tembung tahun pelajaran 2012/2013.

Penelitian ini menggunakan metode Penelitian Tindakan Kelas (PTK).

Sumber data penelitian ini adalah siswa kelas VII MTS Al-Washliyah Tembung

tahun pelajaran 2012/2013 berjumlah 36 orang yang terdiri atas 18 siswa putri

dan 18 siswa putra. Teknik pengumpulan data dengan obeservasi dan penilaian

hasil belajar tolak peluru. Teknik analisis data yang digunakan dalam penelitian

ini adalah secara deskriptif yang didasarkan pada analisis kuantitatif dengan

prosentase. Berdasarkan hasil penelitian diperoleh bahwa: pembelajaran dengan

pendekatan bermain, dapat meningkatkan hasil belajar tolak peluru siswa kelas

VII MTS Al-Washliyah Tembung tahun pelajaran 2012/2013. Dari hasil analisis
yang diperoleh, peningkatan yang signifikan dari siklus I dan siklus II. Hasil

belajar tolak peluru sebelum mendapatkan tindakan adalah 43,75% yang tuntas,

sisanya belum memasuki kategori tuntas. Pada siklus I hasil tolak peluru siswa

dalam kategori tuntas adalah 61,11% atau dengan jumlah siswa 22 siswa Pada

siklus II terjadi peningkatan prosentase hasil belajar tolak peluru siswa dalam

kategori tuntas sebesar 94,44% atau yang tuntas 34 siswa.

D. Hipotesis

Berdasarkan tinjauan pustaka yang telah dikemukakan di atas dapat

dirumuskan hipotesis sebagai berikut: Penerapan Pendekatan santifik dengan

media modifikasi dari bola plastik dapat meningkatkan hasil belajar tolak peluru

pada siswa kelas VIIIMTs Negeri 2 Medan tahun pelajaran 2017/2018.


BAB III

METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian

Dalam penelitian kali ini pendekatan yang digunakan adalah penelitian

kualitatif. Menurut Danim (2002:51), penelitian kualitatif adalah data yang

terkumpul berbentuk kata-kata, gambar bukan angka-angka. Dengan demikian,

penelitian kualitatif adalah suatu penelitian yang ditujukan untuk mendeskripsikan

dan menganalisis fenomena peristiwa, aktifitas sosial, sikap, kepercayaan,

pemikiran, orang secara individual maupun kelompok.

Sedangkan desain penelitian yang digunakan adalah PTK (penelitian

tindakan kelas/ classroom action research) yakni suatu penelitian yang mengkaji

proses pembelajaran dikaitkan dengan pengoptimalan penggunaan metode, media,

strategi pembelajaran, dalam mana kegiatan perbaikan pembelajaran tersebut

diharapkan dapat meningkatkan proses dan hasil pembelajaran siswa. Mulyasa,

(2009:67) menyatakan “actionresearch adalah kegiatan penelitian untuk

mendapatkan kebenaran danmanfaat praktis dengan cara melakukan tindakan

secara kolaboratif dan partisipasif”.

B. Lokasi dan Waktu Penelitian

1. Lokasi Penelitian

Lokasi penelitian ini akan dilaksanakan di MTs Negeri 2 Medan yang

beralamat Jl. Paratun 3 Desa Sidorejo Hilir Kec. Medan Tembung Kota

Medan.
2. Waktu Penelitian

Penelitian akan dilaksanakan selama dua bulan dan mulai

dilaksanakan pada bulan Oktober 2017 sampai selesai.

C. Subyek dan Objek Penelitian

Subyek penelitian ini adalah siswa kelas VIII MTs Negeri 2 Medan tahun

pelajaran 2017/2018 Keseluruhan siswa kelas VIII MTs Negeri 2 Medan yang

berjumlah 34 siswa, dengan rincian anak putra sebanyak 13 siswa dan anak putri

sebanyak 21 siswa. Yang menjadi objek penelitian ini adalah penerapan

pendekatan santifik untuk meningkat hasil belajar tolak peluru dengan alat

modifikasi.

D. Sumber Data

Sumber data yang digunakan dalam Penelitian Tindakan Kelas (PTK) ini

adalah sebagai berikut :

1. Seluruh siswa VIII MTs Negeri 2 Medan tahun pelajaran 2017/2018 yang

berjumlah 34 siswa yang terbagi atas 13 siswa putra dan 21 siswa putri.

2. Guru, sebagai kolaborator, untuk melihat keberhasilan dalam peningkatkan

hasil belajar tolak peluru dengan penerapan pendekatan santifik dan media

modifikasi bola plastik sebagai pengganti peluru VIII MTs Negeri 2

Medan tahun pelajaran 2017/2018.

E. Teknik Pengumpulan Data


Untuk mengumpulkan data dalam penelitian ini, dilakukan dengan cara

pertama menentukan sumber data terlebih dahulu yaitu siswa kelas VIII MTs

Negeri 2 Medan tahun pelajaran 2017/2018, kemudian menentukan jenis data,

selanjutnya memilih teknik pengumpulan data yaitu dengan observasi, tes dan

pengisian angket. Juga menentukan jenis instrumen yang digunakan. Untuk lebih

jelasnya berikut ini peneliti uraian :

1. Teknik catatan lapangan

Teknik ini adalah catatan yang tertulis mengenai apa yang didengar,

dilihat, dan dialami dalam rangka pengumpulan data dan refleksi

terhadap data penilaian penelitian, Sam’s (2010:37). Catatan ini

digunakan untuk memperoleh sasaran yang akan diteliti yaitu tentang

pembelajaran tolak peluru siswa. Proses pencatatan teknik ini dilakukan

setiap kali melakukan pengamatan dan wawancara.

2. Teknik dokumentasi

Riduwan (2008:77), menyatakan “dokumentasi ditujukan untuk

memperoleh data langsung dari tempat penelitian, meliputi buku-buku

yang relevan, peraturan-peraturan, laporan kegiatan, foto-foto film

dokumenter, serta data yang relevan penelitian”.

Teknik ini diperlukan guna merekam kegiatan siswa dan guru

dalam proses pembelajaran berupa photo atau gambar. Selain itu teknik

ini juga digunakan untuk mengetahui data-data sekolah, guru, siswa dan

lain sebagainya yang ada hubungannya dengan penelitian tindakan.


3. Teknik wawancara

Teknik ini menggunakan wawancara tidak terstruktur. Wawancara

dilakukan kepada kepala sekolah, guru penjas, dewan guru, serta siswa

guna memperoleh informasi secara mendalam mengenai pembelajaran

tolak peluru dengan menggunakan media modifikasi

F. Persiapan Penelitian Tindakan Kelas (PTK)

Persiapan sebelum Penelitian Tindakan Kelas (PTK) dilaksanakan dan

dibuat berbagai input instrument yang akan dikenakan untuk memberikan

perlakuan dalam PTK, yaitu:

1. Rencana pelaksanaan pembelajaran.

Dengan kompetensi dasar mempraktikan variasi gerak dasar ke dalam

modifikasi atletik, serta nilai semangat, sportivitas, percaya diri dan

kejujuran.

2. Perangkat pembelajaran yang berupa lembar pengamatan siswa berupa

ceklist dan lembar evaluasi.

3. Dalam persiapan juga akan diurutkan siswa sesuai absen.

Gambaran Umum Penelitian


Gambar 7. Alur PTK menurut Kemmis dan Taggart

(Suharsimi, dkk. 2008: 16)

Rancangan penelitian ini adalah Penelitian Tindakan Kelas. Prosedur atau

langkah-langkah yang akan dilakukan dalam penelitian ini dilaksanakan dalam

kegiatan yang berbentuk siklus penelitian. Setiap siklus penelitian terdiri dari

empat kegiatan pokok yaitu, perencanaan, tindakan pelaksanaan, pengamatan, dan

refleksi.

G. Prosedur Penelitian

Langkah pertama menentukan metode yang digunakan dalam penelitian,

yaitu metode penelitian tindakan kelas. Langkah selanjutnya

menentukanbanyaknya tindakan dilakukan dalam siklus. Dalam penelitian

tindakan kelas ini, peneliti akan melakukan tindakan-tindakan yang dalam

pelaksanaannya berlangsung secara terus menerus dan tindakan-tindakan akan

dilaksanakan dalam siklus yang peneliti berikan pada siswa yang peneliti jadikan

subyek penelitian.

Adapun langkah-langkah pelaksanaan PTK secara prosedurnya adalah

dilaksnakan secara partisipatif atau kolaborator (guru,kepala sekolah,dosen


dengan timnya) bekerja sama, mulai dari tahap orientasi dilanjutkan penyusunan

rencana tindakan dilanjutkan pelaksanaan tindakan dalam siklus pertama. Diskusi

yang bersifat analitik yang kemudian dilanjutkan pada langkah reflektif-evaluatif

atas kegiatan yang dilakukan pada siklus pertama, untuk kemudian

mempersiapakan rencana modifikasi, koreksi, atau pembetulan, atau

penyempurnaan pada siklus kedua dan seterusnya.

Adapun prosedur atau langkah-langkah penelitian tindakan kelas, menurut

Iskandar (2009: 67) yang di kutip olah Agus Kristianto (2010:138)

1. Mengidentifikasi permasalahan umum

2. Mengadakan pengecekan dilapangan

3. Membuat perencanaan umum

4. Mengembangkan tindakan pertama

5. Mengobservasi, mengamati, mendiskusikan tindakan pertama

6. Refleksi-evaluatif, dan merevisi atau memodifikasi untuk perbaikan dan

peningkatan pada siklus kedua berikutnya.

Untuk memperoleh hasil penelitian seperti apa yang diharapkan,

prosedurpenelitian ini meliputi tahap-tahap sebagai berikut:

1. Tahap persiapan survey awal.

Kegiatan yang dilakukan dalam survey ini oleh peneliti adalah

mengobservasi sekolah yang akan dijadikan tempat penelitian.


2. Tahap seleksi informan, menyiapkan instrumen dan alat. Pada tahap ini

peneliti melakukan persiapan yang meliputi:

a. Menentukan subyek penelitian.

b. Menyiapkan alat instrumen penelitian dan evaluasi.

3. Tahap pengumpulan data dan treatment.

Pada tahap ini peneliti mengumpulkan data tentang:

a. Hasil belajar tolak peluru melalui penerapan modifikasi alat.

b. Kepuasan siswa terhadap pembelajaran tolak peluru.

c. Ketepatan rencana pelaksanaan pembelajaran.

d. Alat bantu pembelajaran.

e. Pelaksanaan pembelajaran.

f. Semangat dan keaktifan siswa dalam mengikuti pembelajaran.

4. Tahap Analisis Data

Dalam tahap ini analisis yang digunakan peneliti adalah deskripsi

kualitatif. Teknik analisis tersebut dilakukan karena sebagian besar data

yang dikumpulkan berupa uraian deskripsi tentang perkembangan proses

pembelajaran, yaitu partisipasi siswa dalam pembelajaran tolak peluru

melalui pendekatan modifikasi alat berupa bola plastik yang diisi pasir

sebagai pengganti peluru yang sebenarnya.

a. Untuk menilai tes praktek


Peneliti melakukan penjumlahan nilai yang diperoleh siswa yang

selanjutnya dibagi dengan jumlah siswa yang ada di kelas tersebut

sehingga diperlukan rata-rata tes praktek dapat dirumuskan :


Ket : = Nilai Rata-rata


∑X = Jumlah Semua Nilai Siswa
∑N = Jumlah Siswa

(Sumber : Buku Penilaian Pembelajaran Penjas PORA231)

b. Untuk ketuntasan belajar

Ada dua kategori ketuntasan belajar yaitu secara perorangan

dan secara klasikal. Berdasarkan petunjuk pelaksanaan belajar

mengajar kurikulum 1994 (Depdikbud, 1994) yaitu siswa telah tuntas

belajar bila di kelas tersebut mendapat 85% yang telah mencapai

daya serap dari sama dengan.

Untuk menghitung persentase ketuntasan belajar digunakan

rumus sebagai berikut:



Hasil tersebut kemudian ditafsirkan dengan ruang kualitatif, yaitu:

= sangat

76% - 100% baik

56% - 75% = baik

40% - 55% = cukup

< 40% = kurang


Untuk mengetahui adanya peningkatan (gain) pada

ketrampilan proses yang diamati pada setiap siklus, digunakan rumus

Hake (Savinainen & Scott,2002).

Hake’s normalized gain :

Keterangan:

g (gain) = peningkatan ketrampilan proses siswa

Spre = rata-rata ketrampilan proses awal

Spost = rata-rata ketrampilan proses akhir

Savinainen & Scott (2002) mengklasifikasikan gain sebagai berikut:

g-tinggi : (g) > 0,7

g-sedang : 0,7 > (g) > 0,3

g-rendah : (g) < 0,3

5. Tahap penyusunan laporan

Pada tahap ini peneliti menyusun laporan dari semua kegiatan mulai

survey awal sampai dengan menganalisis data yang dilakukan pada waktu

penelitian.

Rancangan siklus Penelitian

1. Rencana Penelitian

Rencana yang disusun untuk penelitian ini , diawali dengan kegiatan

studi awal, refleksi awal, pelaksanaan siklus penelitian, dan penarikan

kesimpulan.
2. Rancangan Penelitian

Penelitian Tindakan Kelas (PTK) beralur dua siklus yang dilakukan

pada minggu kesatu dan ketiga bulan Juni 2012 sebagai berikut:

a. Siklus I

1) Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang terdiri

dari rencana pembelajaran 1, alat-alat pengajaran yang mendukung, lembar

observasi pengelolahan model pembelajaran bermain dan lembar observasi

aktivitas siswa.

2) Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan.

Pelaksanaan kegiatan belajar mengajar untuk siklus I dilaksanakan

pada bulan Oktober 2017 siklus I siswa melakukan kegiatan aktivitas

jasmani atletik pada nomor tolak peluru. Pada kegiatan ini mulai

pemanasan sampai kegiatan inti dengan model pembelajaran pendekatan

santifik.

3) Pengamatan ( Observasi )

Dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Sebagai pengamat adalah peneliti dibantu oleh kolaboarator guru mata

pelajaran sejenis.

4) Refleksi
Hasil angket dari siswa dalam kegiatan pembelajaran tolak peluru

dianalisa bersama-sama dengan kolaborator dan juga lembar pengamatan dari

guru.

b. Siklus II

1) Tahap Perencanaan

Pada tahap ini peneliti mempersiapkan pembelajaran yang terdiri

dari rencana pembelajaran 2, dan alat-alat pengajaran yang mendukung.

Selain itu juga dipersiapkan lembar observasi, lembar evalusai untuk siswa

dan peneliti, pengelolahan model pembelajaran bermain dan lembar

observasi aktivitas siswa.

2) Tahap Kegiatan dan Pelaksanaan

Dalam siklus kedua kegiatanya bermain secara berkelompok, mereka

bermain Bola Tembak tapi jumlah bola yang digunakan menjadi 2 buah

agar frekwensi gerakan menolak menjadi lebih banyak. Selama kegiatan

pemanasan siswa diarahkan melakukan gerakan yang ada unsur lari dan

menolak dengan menggunakan bola secara berpasangan atau kelompok.

Pada kegiatan inti siswa tidak langsung menggunakan peluru. Biarkan

mereka tetap menggunakan bola tetapi arah tolakannya sudah

menggunakan teknik tolak peluru. Hal itu dilakukan secara berulang-ulang

biarkan mereka sambil bermain. Kalau teknik tolakan dengan

menggunakan bola sudah benar kita lombakan untuk menolak dengan

peluru yang dimodifikasi yaitu menggunakan bola plastik yang diisi pasir
dengan tolakan sejauh- sejauhnya. Bagi mereka yang lemparannya jauh

kita berikan pujian. Bagi yang belum betul dan belum jauh, kita beri

semangat supaya tidak kalah dengan yang lain. Setelah mereka paham dan

bisa membedakan teknik tolakan biasa dengan tolak peluru kita kenalkan

dengan peluru yang sesungguhnya. Itupun kita buat dalam bentuk bermain,

faktor keamanan dan keselamatan tetap kita perhatikan. Pada akhir siklus

ini siswa diberikan angket yang telah disediakan kemudian diisi sesuai

pengalaman belajar yang baru saja diikutinya, kolaborator melakukan

pengamatan dan wawancara sesuai dengan cheklis yang sudah disiapkan

tentang sejauh mana masing-masing siswa sudah berperan dalam

pembelajaran, setelah itu kolaborator kembali mengadakan pengamatan

sekaligus mengisi cheklis pengamatan yang sudah disiapkan secara

klasikal tentang proses kegiatan belajar yang baru saja dilaksanakan.

3) Pengamatan ( Observasi )

Dilaksanakan bersamaan dengan pelaksanaan belajar mengajar.

Sebagai pengamat adalah peneliti dibantu oleh kolaboarator guru mata

pelajaran sejenis.

4) Refleksi

Hasil data kegiatan model pembelajaran bermain dianalisa

bersama kolaborator didiskusikan. Data yang diperoleh melalui angket

siswa. Peneliti dan kolaborator membandingkan hasil angket motivasi

dari hasil siklus II dengan hasil angket siklus I, serta mengetahui

perubahan prilaku siswa setelah mengikuti kegiatan pembelajaran.


DAFTAR PUSTAKA

Lutan, Rusli 1988. Belajar Ketrampilan Motorik Pengantar Teori dan Metode.
Jakarta: Depdikbud. Dirjendikti.

Lutan, Rusli dan Suherman, Adang. 2000. Perencanaan


PembelajaranPenjaskes. Jakarta: Depdiknas. Direktorat Jenderal
Pendidikan Dasar danMenengah Bagian Proyek Penataran Guru
SLTP Setara D-III.

Matakupan, J. 1995. Teori Bermain. Depdikbud Dirjen Dikdasmen, Direktorat


Pendidikan Guru dan Tenaga Teknis Bagian Proyek Peningkatan Mutu
Guru, Jakarta.

Munasifah: (2008) Atletik Cabang Lempar, Penerbit Aneka Ilmu, Cetakan:


September 2008.

Mustikasari, Ardiani. http://edu-articles.com/mengenal-media-pembeljaran/

Mulyono Abdurrahman, (2003). Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar,


Jakarta: Rineka Cipta.

Nurhasan: (2007) Penilaian Pembelajaran Penjas:1-6/ PORA2313/2


SKS/Nurhasan --Cet.1--Jakarta: Universitas Terbuka, 2007.

Subarjah, Herman dkk.(2007) Administrasi Pendidikan Jasmanidan Organisasi


Olahraga , PORA2312/3SKS/MODUL 1-9/HermanSubarjah—cet.2—
Jakarta: Universitas Terbuka

Suherman, Adang. 2000. Dasar-Dasar Penjaskes. Jakarta: Depdikbud.


Direktorat Jenderal Pendidikan Dasar dan Menengah Bagian Proyek
Penataran Guru SLTP Setara D-III.

Suyatno. (2010). Pendidikan Jasmani Olahraga dan Kesehatan


untukSD/MI. Perbukuan Kementerian Pendidikan Nasional Th.2010.

Syarifuddin, Aip dan Muhadi. 1992. Pendidikan Jasmani dan Kesehatan.


Jakarta: Depdikbud. Dirkendikti. Proyek Pembinaan Tenaga
Kependidikan.
PENERAPAN PENDEKATAN SAINTIFIK DAN MODIFIKASI ALAT
DALAM MENINGKATKAN HASIL BELAJAR TOLAK PELURU
PADA SISWA KELAS VIII MTS NEGERI 2 MEDAN
TAHUN PELAJARAN 2017/2018

PROPOSAL

Diajukan Untuk Memenuhi Persyaratan


Memperoleh Gelar Sarjana

OLEH :

MHD. AZWIN HANAPI HSB


NIM. 6133311002

JURUSAN ILMU KEOLAHRAGAAN


FAKULTAS ILMU KEOLAHRAGAAN
UNIVERSITAS NEGERI MEDAN
2017
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................i

DAFTAR ISI ......................................................................................................ii

BAB IPENDAHULUAN ...................................................................................1

B. Latar Belakang Masalah ...................................................................1

C. Identifikasi Masalah .........................................................................5

D. Pembatasan Masalah ........................................................................6

E. Rumusan Masalah ............................................................................6

F. Tujuan Penelitian..............................................................................6

G. Manfaat Penelitian............................................................................6

BAB II LANDASAN TEORI

A. Kajian Teorotis .................................................................................8

1. Hakekat Pendidikan Jasmani .......................................................8

2. Hakekat Hasil Belajar ..................................................................11

3. Hakekat Atletik ............................................................................18

3.1 Hakekat Tolak Peluru ............................................................20

4. Hakekat Pendekatan Saintifik......................................................28

5. Hakekat Modifikasi Alat .............................................................34

B. Kerangka Berpikir ............................................................................41

C. Hipotesis ...........................................................................................44

BAB III METODE PENELITIAN

A. Jenis dan Desain Penelitian ..............................................................45

B. Lokasi dan Waktu Penelitian............................................................45


C. Subyek dan Obyek Penelitian .........................................................46

D. Desain Penelitian ..............................................................................46

E. Prosedur Pelaksanaan .......................................................................47

F. Instrumen Penelitian .........................................................................49

G. Tahap Analisa Data ..........................................................................52

DAFTAR PUSTAKA
KATA PENGANTAR

Puji dan syukur penulis ucapkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang

telah memberi Rahmat dan Karunia-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan

Proposal yang berjudul “Penerapan Pendekatan Saintifik Dan Modifikasi Alat

Dalam Meningkatkan Hasil Belajar Tolak Peluru Pada Siswa Kelas VIII MTs

Negeri 2 Medan Tahun Pelajaran 2017/2018”. Yang disusun sebagai syarat untuk

memperoleh gelar Sarjana S1diUniversitas Negeri Medan.

Selama penyelesaian Proposal ini penulis menyadari banyak mengalami

berbagai kesulitan dan hambatan, karena keterbatasan kemampuan dan

pengalaman penulis dalam menulis Proposal. Penulis juga menyadari tidak akan

dapat menyelesaikan Skripsi ini dengan baik tanpa bimbingan, saran, motivasi dan

bantuan dari berbagai pihak.

Semoga bantuan dan jasa baik yang telah diberikan kepada penulis mendapat

balasan dari Allah SWT. Penulis telah berupaya dengan semaksimal mungkin

dalam penyelesaian Skripsi ini, namun penulis menyadari masih banyak

kelemahan, baik isi maupun tata bahasa, untuk itu penulis mengharapkan kritik

dan saran yang bersifat membangun dari pembaca demi kesempurnaan Skripsi ini.

Kiranya ini bermanfaat dalam memperkaya ilmu pendidikan kita. Akhirnya

penulis mengucapkan terima kasih, semoga ini berguna bagi kita semua khusunya

para pembaca.

Medan, Oktober 2017

MHD. AZWIN HANAPI HSB


NIM. 6133311002