Anda di halaman 1dari 7

Kasus 2

Topik : BPH

Tanggal Kasus : 1 September 2016

Presenter : dr. Mohammad Fariz

Tanggal Presentasi : 29 September 2016

Pendamping : dr. Novieka Dessy M.

Tempat Presentasi : RS Bhayangkara Hoegeng Imam Santoso Banjarmasin

Objektif Presentasi : Keterampilan, Diagnostik, Dewasa

Deskripsi : Laki-Laki, 60 tahun, sulit buang air kecil

Tujuan : Diagnosis dan tatalaksana BPH

Bahan Bahasan : Kasus

Cara Membahas : Diskusi

Data Pasien : Nama Pasien : Tn. W

Data untuk bahan diskusi :

1. Diagnosis

BPH

2. Riwayat Pengobatan

Pasien mengeluh sulit buang air kecil sejak sekitar 1 tahun SMRS.
Setiap kali kencing pasien memerlukan waktu lama untuk mulai kencing,
harus mengedan unuk kencing, kencing menetes dan setelah kencing masih
terasa ada sisa. Pasien juga mengeluh nyeri saat kencing. Nyeri dirasakan
seperti ditusuk-tusuk di bawah perut sampai selangkangan. Nyeri menghilang
setelah selesai kencing. Riwayat kencing berwarna merah (+), kencing nanah
(-), kencing batu (-), nyeri pinggang (-).

3. Riwayat Kesehatan/Penyakit :

a.. Riwayat sering menahan kencing

b. Riwayat diabetes melitus disangkal

c. Riwayat alergi makanan disangkal

d. Riwayat asma disangkal

e. Riwayat hipertensi disangkal

f. Riwayat penyakit jantung disangkal

g. Riwayat penyakit keganasan disangkal

h. Riwayat trauma disangkal

4. Riwayat Keluarga

Riwayat Diabetes Melitus (-), Hipertensi (-) dan Asma (-)

5. Riwayat Pekerjaan

Pasien merupakan seorang buruh

6. Kondisi Lingkungan Sosial dan Fisik

Pasien dengan istri dan satu orang anaknya. Pasien tinggal di daerah pemukiman

yang cukup padat penduduk. Biaya pengobatan pasien ditanggung secara pribadi

7. Lain-lain :

a. Pemeeriksaan Fisik

Keadaan Umum : Tampak sakit sedang


Kesadaran : Komposmentis

Vital Sign : TD : 120/80

N : 96

RR : 18

T : 36,3oC

Berat Badan : 64 kg

Tinggi Badan : 165 cm

Kulit : Kelembaban cukup. Ikterik (-) Pucat (-)

Kepala dan Leher :

Mata : Konjungtiva anemis (-) ikterik (-) nistagmus (-)

Hidung : Sekret (-) epitaksis (-) deviasi septum (-)

Mulut : mukosa basah. Sianosis (-)

Leher : Pembesaran KGB (-) peningkatan JVP (-)

Pemeriksaan Thorax

Pulmo

Inspeksi : Pergerakan dinding dada simetris. Retraksi (-).

Palpasi : Fremitus vokal simetris kanan dan kiri

Perkusi : Sonor pada kedua lapang paru

Auskultasi : Vesikuler. Ronkhi (-). Wheezing (-)

Cor

Inspeksi : Iktus kordis tidak terlihat

Palpasi : Iktus kordis teraba pada ICS IV linea midclavikula


sinistra

Perkusi : Batas jantung

Atas : ICS II linea parasternalis sinistra

Bawah : ICS V linea parasternalis sinistra

Kanan : ICS IV linea parasternal dextra

Kiri : ICS IV linea midklavikula sinistra

Auskultasi : S1>S2. Reguler. Murmur (-) Gallop (-)

Pemeriksaan Abdomen

Inspeksi : Datar

Auskultasi : Bising usus (+) normal

Palpasi : Supel. H/L/M tidak teraba. Nyeri tekan (-)

Perkusi : Timpani

Pemeriksaan Ekstrimitas : Parese (-) Edema (-) Akral hangat

R.Flank D/S : Balotemen -/-, nyeri ketok CVA -/-


R suprapubik : distensi (-), Nyeri tekan (-)
Sekitar anus: tidak tampak skin tag/ hemorrhoid
Mukosa rectum : licin
Tonus sfingter ani: normal
Prostat besar gr.II/III,
Konsistensi kenyal,
Sulkus medianus menghilang,
Pole atas teraba
Nodul (-)
BCR normal
Handscoen : darah (-), tinja (+) sedikit

Hasil Pembelajaran
1. Diagnosis Kerja

BPH

Dasar Diagnosis

Dari anamnesis, didapatkan mengeluh sulit buang air kecil sejak sekitar

1 tahun yang lalu, lama memulai kencing (+), kencing mengedan (+), kencing

menetes (+), perasaan BAK tidak puas (+), nyeri saat kencing (+), kencing merah

(+). Pasien sudah perah berobat di RS dan didagnosis menderita batu saluran

kencing dan penyakit prostat, mendapat pengobatan namun tidak membaik.

2. Etiologi

Hingga sekarang masih belum diketahui secara pasti penyebab

terjadinya hiperplasia prostat; tetapi beberapa hipotesis menyebutkan bahwa

hiperplasia prostat erat kaitannya dengan peningkatan kadar dihidrotestosteron

(DHT) dan proses aging (menjadi tua).

Beberapa hipotesis yang diduga sebagai penyebab timbulnya

hiperplasia prostat jinak adalah:

1. Teori Dihidrotestosteron

2. Adanya ketidakseimbangan antara estrogen-testosteron

3. Interaksi antara sel stroma dan sel epitel prostat

4. Berkurangnya kematian sel (apoptosis)

5. Teori Stem sel


Sebagian besar hiperplasia prostat terdapat pada zona transisional,

sedangkan pertumbuhan karsinoma prostat berasal dari zona perifer.

Pertumbuhan kelenjar ini sangat bergantung pada hormon testosteron, yang di

dalam sel-sel kelenjar prostat hormon akan dirubah menjadi metabolit aktif

dihidrotestosteron (DHT) dengan bantuan enzim 5α reduktase.

Dihidrotestosteron inilah yang secara langsung memacu m-RNA di dalam sel-

sel kelenjar prostat untuk mensintesis protein growth factor yang memacu

pertumbuhan kelenjar prostat.

3. Tatalaksana

Tujuan terapi pada pasien BPH adalah mengembalikan kualitas hidup

pasien.Terapi yang ditawarkan pada pasien tergantung pada derajat keluhan, keadaan

pasien, maupun kondisi obyektif kesehatan pasien yang diakibatkan oleh

penyakitnya.

1. Observasi (watchfull waiting). Biasanya dilakukan pada pasien dengan keluhan

ringan (skor IPSS < 7 atau skor Madsen Iversen ≤9) yang tidak mengganggu aktivitas

sehari-hari. Nasehat yang diberikan ialah jangan banyak minum dan mengkonsumsi

kopi atau alkohol setelah makan malam, kurangi makanan atau minuman yang

menyebabkan iritasi pada buli-buli, batasi penggunaan obat-obat dekongestan seperti

fenilpropanolamin dan jangan menahan kencing terlalu lama. Kemudian setiap 3

bulan pasien diminta untuk datang kontrol dengan ditanya dan diperiksa tentang

perubahan keluhan.
2. Terapi medikamentosa. Tujuannya adalah untuk mengurangi resistensi otot

polos prostat atau mengurangi volume prostat sebagai komponen statik. Jenis obat

yang digunakan yaitu: (1) antagonis reseptor adrenergik-ά seperti fenoksibenzamin,

prazosin dan doksazosin, (2) inhibitor 5-ά reduktase seperti finasteride dan

dutasteride, (3) fitofarmaka yang berupa ekstrak tumbuh-tumbuhan yang dapat

memperbaiki gejala akibat obstruksi prostat, seperti eviprostat.

3. Terapi intervensi yang terdiri dari 2 golongan, yaitu (1) teknik ablasi jaringan

prostat atau pembedahan, seperti open prostatektomi, (Transurethral Resection of the

Prostate) TURP, (Transurethral Incision of the Prostate) TUIP dan elektrovaporisasi.

(2) teknik instrumentasi alternatif (invasif minimal) yaitu interstitial laser coagulation

(ILC), (Transurethral Needle Ablation of the Prostate) TUNA, dilatasi balon,

termoterapi, (High Intensity Focused Ultrasound) HIFU, dan stent uretra.

Terapi yang diberikan yaitu :

- IVFD RL 20 tpm

- Inj. Ranitidin 3x1 amp iv

- Inj. Ketorolac 3x1 amp

- Pasang DC

- Pro TURP