Anda di halaman 1dari 21

BAB II

PEMBAHASAN

A. Pengertian Belajar dan Mengajar


Belajar adalah suatu proses perubahan tingkah laku melalui pendidikan.
Perubahan tidak hanya mengenai sejumlah pengetahuan, melainkan juga dalam
bentuk kecakapan, kebiasaan, sikap, pengertian, penghargaan, minat,
penyesuaian diri dan mengenai segala aspek organisme atau pribadi seseorang.1
Jadi, belajar bukan hanya mengumpulkan sejumlah ilmu pengetahuan,
melainkan lebih dari itu, karena berhubungan dengan pembentukan sikap, nilai,
keterampilan dan pengetahuan, sehingga siswa yang belajar dapat mengadakan
reaksi dengan lingkungannya secara intelektual, menyesuaikan diri untuk
menuju kearah kemajuan dalam melakukan perbaikan tingkah laku sebagai
hasil belajar.
Sedangkan mengajar adalah segala upaya yang disengaja dalam rangka
memberi kemungkinan bagi siswa untuk terjadinya proses belajar sesuai
dengan tujuan yang telah dirumuskan. Karena belajar merupakan suatu proses
yang kompleks, tidak hanya sekedar menyampaikan informasi dari guru
kepada siswa. Banyak kegiatan maupun tindakan yang harus dilakukan,
terutama bila diinginkan hasil belajar lebih baik pada seluruh peserta didiknya.2
Jadi, mengajar adalah suatu aktivitas yang tersistem dari sebuah
lingkungan yang terdiri dari pendidik dan peserta didik untuk saling
berinteraksi dalam melakukan suatu kegiatan sehingga terjadi proses belajar
dan tujuan pengajaran tercapai. Tujuan mengajar adalah pengetahuan yang
disampaikan pendidik dapat dipahami peserta didik, agar dijadikannya
perubahan tingkah laku terhadap dirinya.

1
Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja Grafindo
Persada, 2005), hlm. 35.
2
Ibid, hlm. 36.
B. Persamaan dan Perbedaan dalam Belajar dan Mengajar
1. Persamaan antara Belajar dan Mengajar.
Belajar dan mengajar merupakan bagian dari pembelajaran.
Keduanya sama-sama bertujuan melakukan perubahan tingkah laku pada
individu dalam mengembangkan potensi yang ada dalam individu tersebut,
yang berlangsung dalam satu wadah/tempat dan diwaktu yang sama pula.
Jadi, kegiatan belajar dan mengajar pada hakikatnya merupakan satu
kesatuan yang tidak bisa dipisahkan antara satu dengan yang lain, dimana
belajar dan mengajar dilakukan dalam satu aktivitas. Oleh karena itu, belajar
akan terlaksana jika ada yang mengajar, dan mengajar tidak akan
tersampaikan apabila tidak ada yang belajar.
Sama-sama proses utama dalam rangka meningkatkan kualitas
sumber daya manusia. Dalam keseluruhan proses pendidikan di sekolah,
baik proses belajar maupun kegiatan mengajar yang merupakan aktivitas
yang paling utama. Karena keduanya merupakan proses komunikatif-
interaktif antara sumber belajar, guru, dan siswa yaitu saling bertukar
informasi.3
2. Perbedaan antara Belajar dan Mengajar.
Belajar merujuk pada tugas utama siswa, baik di dalam maupun di
luar kelas. Sedangkan mengajar merujuk pada tugas utama guru di dalam
kelas.
Belajar sifatnya lebih personal, maksudnya aktivitas belajar itu
berkaitan dengan tugas atau perilaku dari setiap individu, baik siswa, guru,
atau insan akademik lainnya. Jadi, sasaran belajar tidak hanya dari manusia
(guru), tapi bisa dari apa saja yang kita lihat, dengar, dan rasakan.Konteks
belajar itu sangat luas dan menyeluruh. Sedangkan mengajar sifanya lebih
dalam mentransformasikan informasi pada siswa. Jadi, sasaran mengajar

3
Ibid, hlm. 37.
lebih difokuskan pada pengoptimalan dari kognitif atau intelektual siswa
dalam menguasai berbagai informasi yang disampaikan.4
C. Ayat tentang Pentingnya Belajar Mengajar
1. Q.S.Al-‘Alaq : 1-8

Artinya : “Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang


Menciptakan. Dia Telah menciptakan manusia dari segumpal darah.
Bacalah, dan Tuhanmulah yang Maha pemurah. Yang mengajar (manusia)
dengan perantaran kalam. Dia mengajar kepada manusia apa yang tidak
diketahuinya. Ketahuilah! Sesungguhnya manusia benar-benar melampaui
batas. Karena dia melihat dirinya serba cukup. Sesungguhnya Hanya kepada
Tuhanmulah kembali(mu).” (Q.S.Al-‘Alaq : 1-8).5
2. Asbabun Nuzul Q.S.Al-‘Alaq : 1-5
Dalam hadis diriwayatkan oleh Aisyah r.a., ia berkata bahwa
permulaan wahyu kepada Rasulullah saw. ialah mimpi baik pada waktu
tidur. Biasanya mimpi yang dilihat itu jelas, sebagaimana cuaca pagi.
Kemudian, timbullah pada diri beliau keinginan meninggalkan keramaian.
Untuk itu, beliau pergi ke Gua Hira untuk berkhalwat. Beliau melakukannya
beberapa hari. Khadijah, istri beliau, menyediakan perbekalan untuk beliau.
Pada suatu saat, datanglah malaikat kepada beliau. Malaikat itu
berkata, "Iqra' (bacalah)!" Beliau menjawab "Aku tak pandai membaca."
Malaikat mendekap beliau sehingga beliau merasa kepayahan. Malaikat itu
kembali berkata, "Bacalah!" Beliau menjawab lagi. "Aku tak pandai
membaca." setelah tiga kali beliau menjawab seperti itu, malaikat
membacakan surah al- 'Alaq ayat 1-5, sebagaimana tersebut.
Setelah selesai membacakan kelima ayat tersebut, malaikat pun
menghilang. Tinggallah beliau seorang diri dengan perasaan ngeri (takut).

4
Ibid, hlm. 38.
5
Q.S.Al-‘Alaq ayat 1-8.
Beliau segera pulang menemui Khadijah. Beliau tampak gugup sambil
berkata, "Zammiluni, zammiluni (selimuti aku, selimuti aku)." Setelah
mereda rasa takut dan dinginnya, Khadijah meminta beliau untuk
menceritakan kejadian yang dialami. Setelah mendengar cerita yang dialami
beliau, Khadijah berkata, " Demi Allah, Allah tidak akan mengecewakanmu
selama-lamanya. Engkau adalah orang yang suka menghubungkan kasih
sayang yang memikul yang berat."
Khadijah segera mengajak beliau untuk menemui Waraqah bin
Naufal, paman Khadijah. Dia adalah seorang pendeta Nasrani yang sangat
memahami Kitab Injil. Setelah bertemu dengannya, Khadijah meminta
Rasulullah saw. untuk menceritakan kejadian yang dialami semalam.6
Setelah Rasulullah saw, Selesai menceritakan pengalamannya
semalam, Waraqah berkata, "Inilah utusan, sebagaimana Allah swt. pernah
mengutus Nabi Musa a.s. Semoga aku masih dikaruniai hidup sampai
saatnya engkau diusir kaummu." Rasulullah saw. bertanya, "Apakah
mereka akan mengusir aku?" Waraqah menjawab, "Benar! belum pernah
ada seorang nabi pun yang diberi wahyu seperti engkau, yang tidak
dimusuhi orang. Apabila aku masih mendapati engkau, pasti aku akan
menolong engkau sekuat-kuatnya." (H.R al- Bukhari, Bada' ul Wahyi No. 3)
3. Penjelasan Ayat
Ayat petama berisi perintah secara tegas kepada Rasulullah saw,
untuk membaca lafal yang dari padanya bentuk fi’il amar (perintah). suatu
perintah menunjukkan hukum wajib untuk dilaksanakan. Perintah membaca
berarti perintah untuk belajar, menuntut ilmu. Perintah yang dimaksud pada
ayat ini berifat umum, tidak tertuju pada suatu ilmu saja. Dengan demikian,
kewajiban menuntut ilmu meliputi ilmu yang menyangkut ayat-ayat
qauliyah dan ayat-ayat kauniyah.
Ayat-ayat qauliyah ialah tanda kebesaran Allah swt. yang berupa keadaan
alam semesta. Baik ayat-ayat qauliyah maupun ayat-ayat kauniyah, wajib

6
Lihat Ibnu Katsir, HR. Bukhari Juz 1:3, Lafazh miliknya dan Muslim Juz 1:160.
kita pelajari.
Ayat-ayat qauliyah wajib dipelajari karena menjadi pedoman hidup kita
menuju hidup yang diridhoi Allah swt. Keimanan kita akan makin
bertambah dengan mempelajari ayat-ayat kauniyah. Lebih dari 60 %, ayat-
ayat Al-Qur'an membicarakan tentang alam semesta. Adapun yang 40 %,
ayat-ayat tersebut membicarakan berbagai masalah.
Dalil tentang kewajiban mempelajari ayat-ayat kauniyah, antara lain firman Allah
swt. Dalam Surah adz-Dzariyat Ayat 20-21.
  
  
    
Artinya : “Dan di bumi itu terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-
orang yang yakin. Dan (juga) pada dirimu sendiri. Maka apakah kamu tidak
memperhatikan?” (Q.S.Adz-Dzariyat : 20-21).7
Pada ayat 2, Allah swt. menyatakan bahwa manusia dicipta dari 'alaqah
(segumpal darah). Allah swt.sendiri juga telah menegaskan bahwa manusia
dicipta sebagai sebaik-baik ciptaan. Di dunia ini tidak ada makhluk yang
dianugerahi wujud dan fasilitas hidup yang menyamai manusia. Allah swt.
memberi anugerah kepada manusia berupa akal pikiran, perasaan, dan petunjuk
agama. Semua itu menjadikan manusia sebagai makhluk yang paling mulia.
Dengan anugerah yang demikian banyak, diharapkan manusia bersyukur kepada
Allah dengan menaati semua perintah dan menjauhi semua larangan-Nya.
Dalam kaitannya dengan kewajiban menuntut ilmu, ayat kedua ini juga
memberi petunjuk kepada manusia untuk mengenal dirinya secara jelas, yaitu
mengetahui asal kejadiannya. Untuk mengetahui secara rinci asal kejadian
manusia, dapat disimak firman Allah swt. sebagai berikut :
   
    
   
   
7
Q.S.Adz-Dzariyat ayat 20-21.
  
  
  
   
    
  
Artinya : “Dan Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu
saripati (berasal) dari tanah. Kemudian kami jadikan saripati itu air mani (yang
disimpan) dalam tempat yang kokoh (rahim). Kemudian air mani itu kami jadikan
segumpal darah, lalu segumpal darah itu kami jadikan segumpal daging, dan
segumpal daging itu kami jadikan tulang belulang, lalu tulang belulang itu kami
bungkus dengan daging. Kemudian kami jadikan dia makhluk yang (berbentuk)
lain. Maka Maha sucilah Allah, Pencipta yang paling baik.” (Q.S.Al-Mu’minun :
12-14).8

Dari ayat tersebut, dapat diketahui bahwa manusia terjadi melalui beberapa proses
:

 Penciptaan manusia dimulai dari sari pati tanah, Sari pati tanah itu,
kemudian menjadi bahan makanan tumbuh-tumbuhan dan hewan. Dari
tumbuhan dan hewan inilah manusia memperoleh makanan, Apabila yang
mengonsumsi makanan (dari hewani maupun nabati) kaum lelaki, sebagai
makanan menjadi sperma. Apabila yang mengonsumsi wanita, sebagian
menjadi sel telur. Setelah sel telur dibuahi (dengan sperma), jadilah nutfah
(zigot) di rahim perempuan.
 Proses berikutnya, zigot tersebut menjadi 'alaqah (segumpal darah yang
menempel) di dinding rahim perempuan. Proses ini berlangsung selama 40
hari.
 Pada 40 hari berikutnya, 'alaqah (segumpal darah yang menempel) di
dinding rahim perempuan berubah menjadi lahma (sekepal daging).

8
Q.S.Al-Mu’minun ayat 12-14.
 Pada masa 40 hari berikutnya, sekepal daging itu berubah menjadi tulang
(bakal kerangka janin) yang kemudian dibungkus dengan daging. Setelah
itu, Allah swt. menjadikan bentuk lain, yaitu janin.

Ketiga ayat tersebut diatas memberikan kita motivasi untuk mempelajari ilmu
biologi lebih lanjut lagi yaitu ilmu kedokteran.

Pada ayat 3, terdapat dua pengertian pokok yaitu perintah membaca (belajar)
sebagai penegasan bahwa Allah SWT Maha Mulia. Olehnya itu Islam mendidik
umatnya agar menjadi umat yang cerdas sehingga dapat memahami ayat-ayat
qauliyah dan ayat kauniyah. Karena dalam memahami ayat qauliya tanpa didasari
dengan ayat kauniyah sulit untuk mencapai kemajuan. Sebaliknya pemahaman
ayat-ayat kauniyah tanpa diimbangi dengan ayat qauliyah dapat membahayakan
diri sendiri dan orang lain. Dengan demikian tepatlah kalau dikatakan " Agama
tanpa pengetahuan pincang, ilmu tanpa agama buta (tak tahu arah dan tujuan
hidup).

Pada ayat 4, Allah swt. menjelaskan bahwa dia mengajar manusia dengan pena.
Pena adalah benda mati dan beku. Namun setelah digunakan oleh manusia dapat
dipahami secara oleh orang lain. Dengan pena maka manusia dapat mencatat
berbagai ilmu pengetahuan, dengan pena pula manusia dapat menyatakan
pendapat dan keinginan hatinya.

Banyak orang yang tidak pandai berpidato tetapi pandai menulis dengan sebuah
karya ilmiah sehingga memberi manfaat bagi orang lain. Dalam kenyataannya
kekuatan pena tidak kalah dengan kuatan lisan. Dengan kemampuan menulis,
seseorang mampu meninggalkan jasa yang sangat berharga bagi orang lain.

Pada ayat 5, Allah swt. menjelaskan bahwa Dia mengarkan manusia apa yang
tidak diketahuinya. Manusia lahir kedunia ini dalam keadaan tidak mengetahui
apa-apa. Secara perlahan-lahan Allah swt menganugerahkan pendengaran dan
penglihatan, makin bertambah hari makin bertambah pula pengetahuan manusia
dengan kemampuan membaca dan menulis. Manusia dapat mencapai berbagai
macam ilmu, baik ilmu agama maupun ilmu pengetahuan yang lain.

 Adapun Asbabun Nuzul Q.S.Al-‘Alaq : 6-8

Mereka yang merasa dirinya berkecukupan, hidupnya penuh pelanggaran dan


melampaui batas. Dan seorang pembenci yang terkemuka ialah Abu Jahl.

Dalam sebuah riwayat dari Ibnul Mundzir yang bersumber dari Abi Hurairah ‫ي‬ َ ‫ض‬
ِ ‫َر‬
‫ ال َّلََ هُ َع ْنه‬dikemukakan bahwa Abu Jahl pernah berkata kepada kawan-kawannya :
"Apakah Muhammad meletakkan mukanya ke tanah (sujud) di hadapan kamu?"
Seketika itu kawan-kawannya membenarkannya, lalu berkata Abu Jahl : "Demi
Latta dan 'Uzza, sekiranya aku melihatnya demikian, akan aku injak batang
lehernya dan ku benamkan mukanya ke dalam tanah".

 Tafsir Q.S.Al-‘Alaq : 1-5

‫اقرأباسم ربّك الّذي خلق‬

“Bacalah dengan menyebut nama Tuhanmu yang menciptakan”.

Kata ‫ ))اقرأ‬iqra’ terambil dari kata kerja (‫)قرأ‬qara’a yang pada mulanya berarti
menghimpun. Dalam suatu riwayat dinyatakan bahwa Nabi SAW bertanya ‫))مااقرأ‬
“maa iqra” apakah yang saya harus baca? Beraneka ragam pendapat ahli tafsir
tentang objek bacaan yang dimaksud. Ada yang berpendapat bahwa itu wahyu-
wahyu al-qur’an sehingga perintah itu dalam arti bacalah wahyu-wahyu al-qur’an
ketika turun nanti. Ada yang berpendapat objeknya adalah (‫“ )اسم ربّك‬ismi
rabbika”sambil menilai huruf (‫)ب‬ba’ yang menyertai kata ismi adalah sisipan
sehingga ia berarti bacalah nama Tuhanmu atau berzikirlah. Tapi jika demikian
mengapa Nabi SAW menjawab “saya tidak dapat membaca”. Seandainya yang
dimaksud adalah perintah berdzikir tentu beliau tidak menjawab demikian karena
jauh sebelum wahyu datang beliau senantiasa melakukannya. Dari sini dapat
disimpulkan bahwa kata iqra’ digunakan dalam arti membaca, menelaah,
menyampaikan, dan sebagainya.
Huruf (‫ )ب‬ba’ pada kata (‫)با سم‬bismi ada yang memahaminya sebagai fungsi
penyertaan sehingga dengan demikian ayat tersebut berarti bacalah disertai
dengan nama Tuhanmu. Sementara ulama memahami kalimat bismirabbika bukan
dalam pengertian harfiahnya. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat arab, sejak
masa jahiliyah mengaitkan suatu pekerjaan dengan nama sesuatu yang mereka
agungkan.

Kata (‫ )خلق‬khalaqa memiliki sekian banyak arti antara lain menciptakan (dari
tiada), menciptakan (tanpa satu contoh terlebih dahulu), mengukur, memperhalus,
mengatur, membuat, dan sebagainya. Objek khalaqa pada ayat ini tidak
disebutkan sehingga objeknya pun sebagaimana iqra’ bersifat umum dengan
demikian, allah adalah pencipta semua makhluk.9

‫خلق االءنسان من علق‬

“Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah”.

Kata (‫)انسان‬insan atau manusia terambil dari akar kata (‫ )انس‬uns atau senang, jinak,
dan harmonis atau dari kata (‫)نسي‬nis-y yang berarti lupa. Ada juga yang
berpendapat berasal dari kata ‫ ) ) نوس‬naus yakni gerak atau dinamika. Kata insan
menggambarkan manusia dengan berbagai keragaman sifatnya.

Kata (‫‘)علق‬alaq dalam kamus bahasa arab berarti segumpal darah dalam arti
cacing yang terdapat didalam air bila diminum oleh binatang maka ia tersangkut
ke kerongkongannya tetapi ada yang memahaminya dalam arti sesuatu yang
tergantung didinding rahim. Karena para pakar embriologi menyatakan bahwa
setelah terjadinya pertemuan antara sperma dan induk telur ia berproses dan
membelah menjadi dua, kemudian empat, kemudian delapan, demikian seterusnya
sambil bergerak menuju kekantong kehamilan dan melekat berdempet serta
masuk kedinding rahim.

9
M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Kairo: Lentera Hati, 2009), hlm. 392.
‫اقرأ وربّك األكرم‬

“Bacalah, dan Tuhanmu lah Yang Maha Mulia”.

Ayat diatas memerintahkan membaca dengan menyampaikan janji Allah diatas


manfaat membaca itu. Menurut syaikh Muhammad ‘Abduh mengemukakan
kemampuan membaca dengan lancar dan baik tidak dapat diperoleh tanpa
mengulang-ulangi atau melatih diri secara teratur, hanya saja keharusan latihan
demikian itu tidak berlaku atas diri Nabi Muhammad SAW.

Kata (‫)األكرم‬al-akram biasa diterjemahkan dengan yang maha atau paling pemurah
atau semulia-mulia. Kata ini terambil dari kata (‫)كرم‬karama yang berarti
memberikan dengan mudah dan tanpa pamrih, bernilai tinggi, mulia, setia, dan
kebangsawanan.

‫الّذي علّم بالقلم‬

“Yang mengajar (manusia) dengan pena”.

‫علّم االنسان مالم يعلم‬

“Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya”.

Kata (‫)القلم‬al-qalam terambil dari kata kerja (‫)قلم‬qalama yang berarti pemotong
ujung sesuatu. Kata qalam berarti hasil dari penggunaan alat-alat tersebut yakni
tulisan. Makna tersebut dikuatkan oleh firman Allah dalam al-qur’an surah Al-
Qolam ayat 1 yakni firmannya: Nun demi qalam, dan apa yang mereka tulis. Dari
segi masa turunnya kedua kata qalam tersebut berkaitan erat bahkan bersambung
walaupun urutan penulisannya dalam mushaf tidak demikian.

Pada ayat diatas dinamai ihtibak maksudnya adalah tidak disebutkan sesuatu
keterangan, yang sewajarnya ada pada dua susunan kalimat yang bergandengan,
karena keterangan yang dimaksud sudah disebut pada kalimat yang lain. Pada ayat
4, kata manusia tidak disebut karena telah disebut pada ayat 5, dan pada ayat 5
kalimat tanpa pena tidak disebut karena pada ayat 4 telah diisyaratkan makna itu
dengan disebutnya pena. Dengan demikian, kedua ayat diatas bearti “Dia (Allah)
mengajarkan dengan pena (tulisan) (hal-hal yang telah diketahui manusia
sebelumnya) dan Dia mengajarkan manusia (tanpa pena) apa yang belum
diketahui sebelumnya.

Dari uraian diatas, kedua ayat tersebut menjelaskan dua cara yang ditempuh Allah
SWT. Dalam mengajarkan manusia. Pertama melalui pena (tulisan) yang harus
dibaca oleh manusia dan yang kedua melalui pengajaran secara langsung tanpa
alat. Cara yang kedua ini dikenal dengan istilah ‘ilmu Ladunniy.10

 Adapun Tafsir Q.S.Al-‘Alaq : 6-8

Manusia Telah Melampaui Batas

Al Qurthubi mengatakan bahwa yang dimaksud dengan thugyan (layathgho)


dalam ayat adalah melampaui batas dalam bermaksiat. (Tafsir Al Qurthubi, 10:
75)

Dalam ayat di atas, Allah mengabarkan bahwa manusia begitu bangga dan
sombong ketika melihat dirinyalah yang paling banyak harta. Lalu Allah
memberikan ancaman dalam ayat selanjutnya yang artinya, “ Sesungguhnya
hanya kepada Rabbmulah kembali(mu).” Maksudnya adalah kita semua akan
kembali pada Allah lalu kita akan dihisab. Kita akan ditanya dari mana harta kita
dikumulkan. Kita pun akan ditanya ke mana harta kita dimanfaatkan. Lihat Tafsir
Al Qur’an Al ‘Ahzhim, 7: 604.

Asy Syaukani mengatakan bahwa sesungguhnya manusia benar-benar telah


melampaui batas sehingga menjadi sombong atas Rabbnya. Ada yang
memaksudkan manusia dalam ayat ke-6 tersebut adalah Abu Jahl. Lihat Fathul
Qodir, 5: 628.

10
Ibid, hlm. 393.
Mengenai ayat ketujuh, Asy Syaukani menjelaskan bahwa yang dimaksud adalah
manusia melihat dirinya serba cukup. Itulah mengapa disebut melampaui batas.
Melihat dalam ayat tersebut bermakna mengetahui.

Mengenai anggapan bahwa yang dimaksud secara khusus tentang ayat yang kita
kaji adalah Abu Jahl tidaklah tepat.

Syaikh Muhammad bin Sholih Al ‘Utsaimin rahimahullah berkata, “Manusia


(yang dimaksud dalam ayat ke-6) bukanlah person tertentu. Bahkan yang
dimaksud adalah jenis manusia. Setiap orang yang merasa karena dirinyalah sebab
segala-galanya, dialah yang dikatakan melampaui batas. Thughyan yang dimaksud
dalam ayat adalah melampaui batas. Jika seseorang merasa diri sudah cukup dan
tidak butuh pada rahmat Allah, dialah orang yang sombong atau melampaui batas.
Jika ia tidak merasa butuh lagi pada Allah dalam menghilangkan kesulitan, itulah
yang dikatakan sombong. Jika seseorang merasa dirinya cukup dengan sehat yang
ia miliki, maka ia lupa dulu pernah sakit. Jika ia merasa kenyang dengan
sendirinya, maka ia lupa dulu pernah lapar. Jika ia merasa sudah cukup dengan
menutupi diri dengan pakaian yang ia miliki, maka ia lupa jika dulu ia pernah
tidak memiliki apa-apa untuk berpakaian. Jadi di antara sikap sombong
manusia adalah ia merasa dirinya-lah sebab segala-galanya, bukan dari Allah.
Namun orang mukmin berbeda dengan kondisi tadi. Orang mukmin selalu butuh
pada Allah. Ia tidak pernah lepas dari kebutuhan pada-Nya walau sekejap mata. Ia
benar-benar setiap waktu terus butuh pada Allah.” (Tafsir Al Qur’an Al Karim –
Juz ‘Amma, hal. 264).

Dua Orang yang Tidak Pernah Puas

Ada dua orang yang tidak pernah puas yaitu pencari ilmu akhirat (‘ilmu diin) dan
pencari dunia. Sebagaimana disebutkan dalam hadits Anas :

َ ‫طالِبُ ِع ْلم َو‬


‫طالِبُ دُ ْن َيا‬ َ : ‫ان‬
ِ ‫ان لَ َي ْش َب َع‬
ِ ‫َم ْن ُهو َم‬

“Ada dua orang yang begitu rakus dan tidak pernah merasa kenyang: (1)
penuntut ilmu (agama) dan (2) pencari dunia.” (HR. Al Hakim dalam Al
Mustadrok 1: 92. Dishahihkan oleh Al Hakim dan disepakati oleh Imam Adz
Dzahabi).

Karena memang demikian, orang yang saking gandrungnya tidak akan pernah
puas sehingga terus mencari dunia dan dunia. Sebagaimana disebutkan dalam
hadits dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata bahwa Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa
sallam bersabda :

َّ ُ‫ َويَتُوب‬، ُ‫ َولَ ْن يَ ْمل َ فَاهُ إِلَّ التُّ َراب‬، ‫ان‬


َ ‫َللاُ َعلَى َم ْن ت‬
‫َاب‬ ِ َ‫لَ ْو أ َ َّن ِلب ِْن آدَ َم َوا ِديًا ِم ْن ذَهَب أ َ َحبَّ أ َ ْن يَ ُكونَ لَهُ َوا ِدي‬

“Seandainya seorang anak Adam memiliki satu lembah emas, tentu ia


menginginkan dua lembah lainnya, dan sama sekai tidak akan memenuhi
mulutnya (merasa puas) selain tanah (yaitu setelah mati) dan Allah menerima
taubat orang-orang yang bertaubat.” (Muttafaqun ‘alaih. HR. Bukhari no. 6439
dan Muslim no. 1048)

Sedangkan penuntut ilmu akan terus mencari ilmu dan ilmu setiap hari, setiap
waktu dan di setiap tempat. Karena mengetahui bagaimanakah agung dan
utamanya ilmu agama.

Adapun mengenai ayat kedelapan yaitu (Sesungguhnya hanya kepada


Rabbmulah) hai Manusia (tempat kembali) yakni kembali kalian nanti, karena itu
Dia kelak akan memberi balasan kepada orang yang melampaui batas sesuai
dengan dosa-dosa yang telah dilakukannya. Di dalam ungkapan ini terkandung
ancaman dan peringatan buat orang yang berlaku melampaui batas. (tafsir
jalalayn). Sedangkan menurut seorang mufassir yaitu Quraish Shihab, beliau
mengatakan : Sesungguhnya, hanya kepada Tuhanmulah, wahai Muhammad,
semua manusia akan dikembalikan melalui pembangkitan dan pembalasan.

1) Q.S.Al-Mujadilah : 11

  


    
  
     
   
  
   
   


Artinya : “Hai orang-orang beriman apabila kamu dikatakan kepadamu:


"Berlapang-lapanglah dalam majlis", Maka lapangkanlah niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu. dan apabila dikatakan: "Berdirilah kamu", Maka
berdirilah, niscaya Allah akan meninggikan orang-orang yang beriman di
antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu pengetahuan beberapa derajat. dan
Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (Q.S.Al-Mujadilah : 11).11

 Asbabun Nuzul Q.S.Al-Mujadilah : 11

Di riwayatkan oleh ibn abi hatim dari muqatil bin hibban, ia mengatakan bahwa
suatu hari yaitu hari jum’at, Rasulullah SAW berada di shuffah mengadakan
pertemuan di tempat yang sempit,dengan maksud menghormati pahlawan perang
badar yang terjadi antara kaum muhajirin dan anshar. Beberapa pahlawan perang
badar ini terlambat datang, diantaranya shabit dan qais, sehingga mereka berdiri
diluar ruangan. Meraka mengucapkan salam “ Assalamu’alaikum ayyuhan nabi
wabarokatu”, lalu nabi menjawabnya. Mereka pun mengucapkan sama kepada
orang-orang yang terlebih dahulu datang, dan dijawab pula oleh mereka. Para
pahlawan badar itu tetep berdiri, menungu tempat yang disediakan bagi mereka
tapi tidak ada yang memperdulikanya.melihat kejadian tersebut rasulullah menjadi
kecewa lalu menyuruh orang-orang sekitarnya untuk berdiri. Diantara mereka ada
yang berdiri tetapi rasa enggan nampak di wajah mereka. Maka orang-orang
munafik memberikan reaksi dengan maksud mencela nabi, sambil mengatakan
“demi Allah, Muhammad tidak adil, ada orang yang datang lebih dahulu datang
dengan maksud memproleh tempat duduk didekatnya, tetapi disuruh berdiri untuk
di berikan kepada orang yang datang terlambat datang”. Jadi, disaat pahlawan-

11
Q.S.Al-Mujadilah ayat 11.
pahlawan Badar datang ke tempat pertemuan yang penuh sesak. Orang-orang pada
tidak mau memberi tempat kepada yang baru datang itu, sehingga mereka
terpaksa berdiri. Rasulullah menyuruh berdiri orang-orang itu (yang lebih dulu
duduk), sedang tamu-tamu itu (para pahlawan Badr) disuruh duduk di tempat
mereka. Orang-orang yang disuruh pindah tempat merasa tersinggung
12
perasaannya. Lalu turunlah ayat ini. Oleh karena itu, surah al-mujadalah ini
sebagai perintah kepada kaum Mukminin untuk menaati perintah Rasulullah dan
memberikan kesempatan duduk kepada sesama Mukminin.

Bagian akhir ayat ini menjelaskan bahwa Allah akan mengangkat tinggi
kedudukan orang yang beriman dan orang yang diberi ilmu. Orang-orang yang
beriman diangkat kedudukannya oleh Allah dan Rasul-Nya, sedangkan orang-
orang yang berilmu diangkat kedudukannya karena mereka dapat memperbanyak
manfaat kepada orang lain. Ilmu disini tidak terbatas pada ilmu-.ilmu agama saja,
tetapi termasuk di dalamnya ilmu-ilmu keduniaan. Apapun ilmu yang dimiliki
seseorang bila ilmu itu bermanfaat bagi dirinya dan orang lain, ilmu itu tergolong
salah satu dalam tiga pusaka yang tidak akan punah meskipun pemiliknya telah
meninggal dunia. Tiga pusaka dimaksud adalah sedekah jariah, ilmu yang
bermanfaat dan anak yang shaleh yang mendoakan kepada orang tuanya.

Allah juga menganjurkan kepada kita agar senantiasa mau bekerja keras, baik
dalam menuntut ilmu maupun bekerja mencari nafkah. Hanya orang-orang yang
rajin belajarlah yang akan mendapatkan banyak ilmu. Dan hanya orang-orang
yang berilmulah yang memiliki semangat kerja untuk meraih kebahagiaan hidup.

 Tasfir Q.S.Al-Mujadilah : 11

Allah SWT berfirman seraya mendidik hamba-hamba Nya yang beriman seraya
memerintahkan kepada mereka untuk saling berbuat baik sesama mereka didalam
majelis,( ‫س ُحوا فِي ْال َم َجا ِل ِس‬
َّ َ‫“ ) يَا أَيُّ َها الَّذِينَ آ َمنُوا إِذَا قِي َل لَ ُك ْم تَف‬hai orang-orang yang beriman,

12
Ahmad musthofa al-maraghi, Terjemah Tafsir Al maraghi 28, (semarang: toha
putra, 1993), hlm. 23-24.
apabila dikatakan kepadamu :berlapang lapanglah dalam majelis.” Dan dibaca ( ‫فِي‬
‫َللاُ لَ ُك ْم‬ َ ‫“ ) ْال َم َجا ِل ِس ) (فَا ْف‬maka lapangkanlah niscaya Allah akan memberi
َ ‫س ُحوا يَ ْف‬
َّ ِ‫سح‬
kelapangan untukmu.” Yang demikian itu karena balasan sesuai dengan perbuatan
sebagaimana yang telah di tegaskan dalam sebuah hadits shahih :
Yang Artinya {Barang siapa yang membangun masjid karna Allah, maka Allah
akan membangunkan baginya sebuah rumah di Surga}
Dan dalam hadits lain disebutkan Rasulullah SAW bersabda :
“barang siapa memberi kemudahan kepada orang yang dalam kesulitan, maka
Allah SWT akan memberikan kemudahan didunia dan di akhirat. Dan Allah
senantiasa membantu seorang hamba selama hamba itu membantu saudaranya.”
Dan masih banyak lagi hadits-hadits yang serupa dengan ini
Oleh karena itu Allah SWT berfirman “maka lapangkanlah niscaya Allah akan
memberi kelapangan untukmu.” Qatadah mengatakan: “Ayat ini turun berkenaan
dengan majelis-majelis dzikir. Yaitu jika mereka melihat salah seorang diantara
mereka datang, maka mereka tidak memberikan peluang kepadanya untuk dapat
duduk didekat Rasulluah SAW. Kemudian Allah SWT menyuruh mereka
memberi kelapangan sesama mereka.” Sedang Muqatil bin Hayan berkata: “Ayat
ini diturunkan pada hari jum’at”
Imam Ahmad dan Imam Asy-Syafi’i meriwayatkan dari ibnu Umar bahwa
Rasulullah SAW telah bersabda:
“Tidaklah seseorang boleh membangunkan orang lain dari tempat duduknya
itu,tetapi hendaklah kalian meluaskan dan melapangkan.”(HR. Bukhari, Muslim
dan Nasa’i)
Para ahli fiqih berbeda pendapat tentang boleh tidaknya memberi berdiri untuk
menyambut orang yang datang. Ada diantara mereka yang memberi keringanan
dalam berdiri, melarang untuk berdiri dan ada pula yang membolehkannya untuk
berdiri pada oang yang datang dari perjalanan jauh dan seorang pejabat didaerah
kekuasaanya.
Dan didalam beberapa kitab as-sunan disebutkan: “Tidak ada seorangpun yang
lebih dicintai oleh para sahabat kecuali Rasullulah SAW. Dan bila beliau datang,
mereka tidak menyambut kedatangan mereka karena ketidak sukaan beliau
terhadap hal tersebut.”
Dalam hadis sahih diceritakan “ Bahwa Rasullulah SAW duduk, tiba-tiba ada tiga
orang datang, salah seorang diantara mereka langsung mendapatkan tempat
kosong sela-sela barisan, lalu ia mengisinya. Salah seorang lagi duduk dibelakang
orang-orang, sedangkan yang ketiga pergi meninggalkan majelis. Maka
Rasullulah SAW bersabda : “maukah aku beritahu kepada kalian tentang tiga
orang itu. Adapun orang yang pertama, ia berlindung kepada Alah, maka Allah
melindunginya. Sedangkan orang yang kedua merasa malu sehingga Allah pun
merasa malu kepadanya. Dan orang yang ketiga berpaling, maka Allah pun
berpaling kepadanya.
Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah ibn Amr bahwasannya Rasullulah
SAW bersabda: “tidak diperbolehkan bagi seseorang memisahkan dua orang
kecuali dengan izin keduanya”
ُ ‫“ ) َوإِذَا قِي َل ا ْن‬dan apabila dikatakan berdirilah
ُ ‫ش ُزوا فَا ْن‬
Mengenai firman-Nya (‫ش ُزوا‬
kamu maka berdirilah.” Qatadah mengatakan; “Artinya jika kalian diseru kepada
kebaikan, maka hendaklah kalian memenuhinya.” Sedangkan Munqatil
mengatakan “Jika kalian diseru mengerjakan shalat maka hendaklah kalian
memenuhinya.”
Tafsir Ibnu Katsir
َّ ‫َللاُ الَّذِينَ آ َمنُوا ِم ْن ُك ْم َوالَّذِينَ أُوتُوا ْال ِع ْل َم دَ َر َجات َو‬
Dan firman Allah SWT : “ َ‫َللاُ ِب َما ت َ ْع َملُون‬ َّ ِ‫يَ ْرفَع‬
‫َخ ِبير‬
Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-
orang yang diberi ilmu beberapa derajat. Dan Allah Mahateliti apa yang kamu
kerjakan”
Unsuzu bermakna bangun, diajak berbuat kebaikan supaya menyambut, dipanggil
untuk sholat harus mendatanginya.
Jangan sekali-sekali kalian mengira bahwa bangun untuk memberi tempat
kepada kawan itu suatu kehinaan diri. Sebaliknya itu kemuliaan dan pangkat di
sisi Allah, dan tidak akan sia-sia pasti akan mendapat pahala di dunia sampai
akhirat.
Nafi’ bin Al Harits bertemu Umar bin Al Khattab r.a di usfaan, sedangkan Nafi’
ini diangkat oleh umar sebagai gubernur di Mekkah karna itulah ia ditanya oleh
umar “kepada siapakah kau serahkan jabatanmu di Mekkah” ia pun menjawab
“kepada ibn Abza seorang bekas budak yang telah merdeka” umar segera
menegur “engkau serahkan kepada bekas budak?” jawab Nafi “ya
Amirulmukminin, dia pandai membaca kitab Allah, mengerti kewajibannya dalam
agama, dapat menghukum dengan baik. Maka umar berkata “sesungguhnya Allah
akan mengangkat derajat kaum dengan Kitab ini dan menurunkan derajat yang
lain (HR. Ahmad. Muslim)
Tafsir Al-Misbah
Ayat diatas tidak menyebut secara tegas bahwa Allah akan meninggikan derajat
orang yang berilmu. Tetapi mereka memiliki derajat-derajat yang lebih tinggi dari
yang sekedar beriman. Tidak disebutnya kata meninggikan itu, sebagai isyarat
bahwa sebenarnya ilmu yang dimilikinya itulah yang berperanan besar dalam
meninggikan derajat yang diperolehnya, bukan akibat dari faktor diluar itu.
Tentu saja yang dimaksud dengan yang diberi pengetahuan adalah mereka yang
beriman dan menghiasi diri mereka dengan pengetahuan. Ini berarti ayat diatas
membagi kaum beriman menjadi dua kelompok besar, yang pertama sekedar
beriman dan beramal sholeh, dan yang kedua beriman dan beramal shaleh serta
memiliki pengetahuan. Derajat kelompok kedua ini menjadi lebih tinggi, bukan
saja karena ilmu yang disandangnya, tetapi juga karena amal dan pengajarannya
kepada pihak lain baik secara lisan, atau tulisan maupun dengan keteladanan.
Ilmu yang dimaksud oleh ayat diatas bukan saja ilmu agama, tetapi ilmu apapun
yang bermanfaat. Dalam Q.S Fathir : 27 – 28 Allah menguraikan sekian banyak
makhluk illahi, dan fenomena alam, lalu ayat tersebut ditutup dengan mengatakan
bahwa : Yang takut dan kagum kepada Allah dari hamba-hambaNya hanyalah
ulama. Ini menunjukan bahwa ilmu dalam pandangan Al-Qur’an bukan hanya
ilmu agama.
Disisi lain ilmu haruslah menghasilkan khasyyah yakni rasa takut dan kagum
kepada Allah, yang pada gilirannya mendorong orang yang berilmu untuk
mengamalkan ilmunya serta memanfaatkan untuk kepentingan makhluk. Rasul
sering berdo’a “Allahumma inni a’udzubika min ilmu la yanfa (Aku berlindung
kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat).

Akhir ayat ini menerangkan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang
yang beriman, yang takut dan patuh kepada-Nya, melaksanakan perintah-perintah-
Nya, menjauhi larangan-larangan-Nya berusaha menciptakan suasana damai,
aman dan tentram dalam masyarakat, demikian pula orang-orang yang berilmu
yang menggunakan ilmunya untuk menegakkan kalimat Allah.
Dari ayat ini dipahami bahwa orang-orang yang mempunyai derajat yang paling
tinggi disisi Allah ialah orang yang beriman, berilmu dan ilmunya itu diamalkan
sesuai dengan yang diperintahkan Allah dan Rasulnya.

BAB III

PENUTUP

A. Simpulan

Belajar adalah modifikasi atau memperteguh kelakuan melalui pengalaman agar


lebih baik. Oleh karena itu proses belajar atau menuntut ilmu merupakan sesuatu
yang sangat penting dan merupakan kewajiban bagi setiap muslim yang harus
benar-benar dilaksanakan, tentunya dalam hal ini ada kaitannya dengan membaca
maupun mengamati baik itu yang berbaur Agama maupun ilmu-ilmu umum.
Sebagai makhluk yang berakal, umat islam mempertahankan kemuliaannya
diperintahkan untuk menuntut ilmu dalam waktu yang tidak terbatas selama hayat
masih dikandung badan.

Surah Al-‘alaq ini dinamai juga surah Al-Qalam atau Iqra . surah ini termasuk
dalam kategori surah makkiyah dengan jumlah ayatnya sebanyak 19 ayat dalam
surah Al-Alaq ini. Menurut Baiquni, ayat tersebut juga mengandung perintah agar
manusia memiliki keimanan, yaitu berupa keyakinan terhadap adanya kekuasaan
dan kehendak Allah SWT, juga mengandung pesan ontologisme tentang sumber
ilmu pengetahuan. Untuk mendapatkan ilmu yang lebih banyak, dianjurkan untuk
membaca baik itu yang berupa pelajaran formal ataupun umum. Mencari ilmu
tidak hanya membaca akan tetapi perlu bantuan untuk mengajarkannya.

Sedangkan surah Al-Mujadilah ayat 11 menjelaskan Iman dan ilmu mengantarkan


manusia menjadi makhluk yang utama sehingga kedudukannya dalam masyarakat
pun dihormati, dihargai sementara di akhirat mendapat kebahagiaan abadi. orang-
orang mukmin karena selalu mentaati perintah Allah dan Rasul-Nya dan orang-
orang yang berilmu pengetahuan, yang ilmunya dapat mengantarkan mereka ke
jalan iman, semuanya akan ditingkatkan derajatnya disisi Allah SWT. Ini berarti
peranan iman dan ilmu dan meningkatkan derajat dan harkat manusia itu sama,
iman yang tidak didasarkan pada ilmu pengetahuan adalah iman yang lemah
sekali dan ilmu pengetahuan yang tidak bisa membuka hati untuk bertambahnya
iman, maka ilmu itu sangat berbahaya bagi dirinya sendiri maupun orang lain.

Sebuah kesuksesan akan tercapai dengan baik jika kita dalam keadaan terbebas
dari masalah. Maka jangan ragu dan bimbang untuk mengutarakan masalah yang
anda hadapi kepada orang yang anda percaya, tenaga ahli untuk mendapatkan
solusi yang terbaik.

B. Saran

Dari uraian diatas penulis dapat memberikan saran kepada pembaca khususnya
untuk penulis sendiri.
a) Mengingat belajar mengajar adalah suatu keharusann dilakukan oleh
seorang muslim dalam rangka memanfaatkan potensi akal yang diberikan
Allah SWT maka isilah akal itu dengan pengetahuan Al-Qur’an (Agama)
agar bisa tertujunya tujuan insan kamil.
b) Dengan semakin banyak belajar atau mengkaji dan mendalami ayat-ayat
Allah Baik Qauliyah maupun kauniyah, akan semakin membuka peluang
terciptanya ilmu-ilmu baru dan peradaban baru yang lebih baik.
c) Mengingat orang yang menuntut ilmu lalu mengajarkannya memiliki
kedudukan yang sama dengan kebaikan orang yang jihad di perang
melawan orang-orang kafir. Maka hal ini bisa digunakan sebagai motivasi
dalam meraih kehidupan yang lebih baik diakhirat kelak.
Demikianlah makalah yang dapat kami buat, sebagai manusia biasa kami
menyadari dalam pembuatan makalah ini masih terdapat banyak kesalahan dan
kekurangan. Untuk itu kritik dan saran yang bersifat konstruktif sangat kami
harapkan demi kesempurnaan makalah ini dan berikutnya. Semoga makalah ini
bermanfaat bagi kita semua. Amin.

DAFTAR PUSTAKA

 Kalam Allah SWT, dan Hadits Nabi SAW.


 Tafsir Pendidikan Studi Ayat-ayat Berdimensi Pendidikan yang mengutip
buku M.M. Al-Hijazi, Terjemah Ayat-ayat Tarbiyah (cuplikan sesuai
Kurikulum), CV Senjaya Offset,Bandung.1996.
 Sardiman, Interaksi dan Motivasi Belajar Mengajar, (Jakarta: Raja
Grafindo Persada, 2005).

 Lihat Ibnu Katsir, HR. Bukhari Juz 1:3, Lafazh miliknya dan Muslim Juz
1:160.
 M.Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah (Kairo: Lentera Hati, 2009).
 Ahmad musthofa al-maraghi, Terjemah Tafsir Al maraghi 28, (semarang:
toha putra, 1993).