Anda di halaman 1dari 24

MINI RISET FILSAFAT PENDIDIKAN

D
I
S
U
S
U
N
OLEH :
` Evi Septina Uli (4153121019)
Fani Apriliana (4153121020)
Fernandus Hasiando (4153121021)
Herda Nainggolan (4153121022)

JURUSAN FISIKA

FAKULTAS MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN ALAM

UNIVERSITAS NEGERI MEDAN

2017
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Dalam bahasa Indonesia istilah disiplin kerap kali terkait dan menyatu dengan istilah tata
tertib dan ketertiban. Dengan demikian, kedisiplinan hal-hal yang berkaitan dengan ketaatan atau
kepatuhan seseorang terhadap peraturan atau tata tertib yang berlaku. Kedisiplinan adalah suatu
kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang menunjukkan
nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan dan atau ketertiban (Prijodarminto
1994:23). Salah satu unsur pokok disiplin adalah peraturan. Peraturan adalah ketentuan-
ketentuan yang telah ditetapkan untuk menata tingkah laku seseorang dalam suatu kelompok,
organisasi, institusi atau komunitas. Tujuanya adalah membekali anak dengan pedoman perilaku
yang disetujui dalam situasi tertentu (Hurlock, 1999: 85). Contoh sikap disiplin dalam kehidupan
sehari-hari antara lain bangun pagi, berangkat sekolah sebelum bel masuk berbunyi, belajar pada
waktu malam hari, dan lain sebagainya. Dari penerapan kedisiplinan maka akan membantu
dalam perkembangan karakter anak.
Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan. Sedangkan menurut ahli psikologi,
karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang mengarahkan tindakan seorang
individu. Karena itu, jika pengetahuan mengenai karakter seseorang itu dapat diketahui, maka
dapat diketahui pula bagaimana individu tersebut akan bersikap untuk kondisi-kondisi tertentu.
Pada zaman sekarang yang sering terjadi di kehidupan kita adalah budaya terlambat, waktu
akan menjadi mundur dari yang sudah ditentukan. Budaya terlambat semakin hari semakin parah
saja.
Maka beberapa orangtua sudah menerapkan disiplin waktu terhadap anak-anaknya sejak
dini dengan harapan supaya kedepannya anak-anaknya bisa berkembang menjadi anak yang
tepat waktu dan memiliki karakter yang baik dengan cara mereka mengajarkan supaya kita
menghargai betul dan benar-benar memanfaatkan waktu walupun hanya satu detik.
Perlu diperhatikan yaitu bahwa disiplin dilakukan secara rela dan bukan merupakan
paksaan dari pihak manapun. Namun dengan diberlakukannya disiplin waktu oleh orangtua
terhadap anak-anaknya, belum tentu anak merasa senang, karena dengan diberikannya disiplin
waktu oleh orangtua dalam melakukan aktivitasnya bisa saja merasa dibatasi, karena setiap apa
yang dilakukannya diberi waktu, dari merasa dibatasi itupun lama kelamaan dapat menimbulkan
rasa tertekanan dan dapat menimbulkan dampak-dampak negatif pada perkembangan
karakternya, namun ada juga anak yang merasa biasa saja karena penerapan disiplin waktu sejak
dini menjadi sebuah kebiasaan terhadap jam aktivitas yang dijalaninya. Penelitian ini ditujukan
untuk mengetahui bagaimana perkembangan karakter seorang anak yang orangtuanya
menerapkan disiplin waktu di kehidupannya.

1.2 Rumusan Masalah :


1. Apa pengertian kedisiplinan?
2. Apa saja unsur-unsur disiplin?
3. Bagaimana cara menanamkan disiplin?
4. Apa manfaat dari disiplin?
5. Apa pengertian karakter?
6. Apa saja aspek-aspek penting dalam pendidikan karakter anak?
7. Bagaimana pola asuh orang tua dalam perkembangan karakter anak?
8. Bagaimana proses pembentukan karakter?
9. Apa langkah mengubah karakter?
10. Bagaimana cara orang tua menerapkan disiplin waktu terhadap anaknya?
11. Apa saja dampak yang muncul dari penerapan disiplin waktu yang diberlakukan orang
tua kepada anaknya?
12. Bagaimana solusi untuk mengatasi dampak yang muncul dari penerapan disiplin waktu
yang diberlakukan orang tua terhadap anaknya?

1.3 Tujuan Penelitian :


1. Untuk mengetahui pengertian kedisiplinan.
2. Untuk mnegetahui unsur-unsur disiplin.
3. Untuk mengetahui cara menanamkan disiplin.
4. Untuk mnegetahui manfaat disiplin.
5. Untuk mnegetahui pengertian karakter.
6. Untuk mnegetahui aspek-aspek penting dalam pendidikan karakter anak.
7. Untuk mnegetahui pola asuh orangtua dalam perkembangan karakter anak.
8. Untuk mnegetahui proses pembentukan karakter.
9. Untuk mengetahui langkah mengubah karakter.
10. Untuk mengetahui cara orangtua menerapkan disiplin waktu terhadap anaknya.
11. Untuk mengetahui dampak yang muncul dari penerapan disiplin waktu yang
diberlakukan orangtua terhadap anaknya.
12. Untuk memberikan solusi dari dampak yang muncul dari penerapan disiplin waktu
yang diberlakukan orangtua terhadap anaknya.

1.4 Manfaat Penelitian


1. Supaya para orangtua mengerti apa saja dampak yang muncul dari pemberlakuan
disiplin waktu terhadap anak.
2. Untuk memberikan solusi dalam mengatasi dampak yang muncul dari penerapan
disiplin waktu.
3. Untuk membantu dalam memotivasi ego anak ke arah pembentukan karakter dan moral
yang baik.
BAB II
KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Kedisiplinan


Kedisiplinan berasal dari kata disiplin. Istilah disiplin berasal dari bahasa latin
“Disciplina” yang menunjuk pada kegiatan belajar dan mengajar. Sedangkan istilah bahasa
inggrisnya yaitu “Discipline” yang berarti:
1) Tertib, taat atau mengendalikan tingkah laku, penguasaan diri;
2) Latihan membentuk, meluruskan atau menyempurnakan sesuatu, sebagai
kemampuan mental atau karakter moral;
3) Hukuman yang diberikan untuk melatih atau memperbaiki; 4) kumpulan atau sistem-
sistem peraturan-peraturan bagi tingkah laku (Mac Millan dalam Tu’u, 2004:20).
Disiplin juga dapat berarti tata tertib, ketaatan, atau kepatuhan kepada peraturan tata
tertib (Depdikbud,1988:208). Dalam bahasa Indonesia istilah disiplin kerap kali terkait dan
menyatu dengan istilah tata tertib dan ketertiban. Dengan demikian, kedisiplinan hal-hal yang
berkaitan dengan ketaatan atau kepatuhan seseorang terhadap peraturan atau tata tertib yang
berlaku.
Kedisiplinan adalah suatu kondisi yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari
serangkaian perilaku yang menunjukkan nilai-nilai ketaatan, kepatuhan, kesetiaan, keteraturan
dan atau ketertiban (Prijodarminto,1994:23). Sedangkan, menurut Amatembun (1974:6)
kedisiplinan adalah keadaan tertib dimana orang yang tergabung dalam organisasi tunduk pada
peraturan yang telah ada dengan senang hati.
Disiplin dalam arti sempit sering disamakan dengan hukuman, menurut pendapat ini
disiplin hanya digunakan bila anak melanggar peraturan atau perintah yang diberikan orang tua,
guru atau orang dewasa yang mengatur kehidupan anak dalam lingkungan tinggalnya. Pada
prinsipnya disiplin adalah keharusan anak untuk menaati peraturan-peraturan yang berlaku di
masyarakatnya. Dengan demikian, menanamkan disiplin pada anak bukan hukuman
(punishment) yang diperlukan, tetapi pujian atau hadiah (reward) sangat besar peranannya. Oleh
karena itu, disiplin sebagai pembentukan perilaku moral anak yang disetujui kelompok
masyarakat tempat tinggalnya lebih tepat daripada pengertian disiplin yang diartikan sebagai
hukuman (Daeng Sari,1996).
Menurut Hurlock (1999:82) dalam bukunya Perkembangan Anak mengartikan perilaku
disiplin yakni perilaku seseorang yang belajar dari atau secara sukarela mengikuti seorang
pemimipin. Dari pengertian-pengertian di atas dapat disimpulkan bahwa disiplin adalah kondisi
yang tercipta dan terbentuk melalui proses dari serangkaian perilaku yang sering disamakan
dengan hukuman untuk membentuk perilaku tertib pada seseorang.

2.2 Unsur-Unsur Disiplin


Menurut Tulus Tu’u (2004:33) menyebutkan unsur–unsur disiplin adalah sebagai berikut:
a. Mengikuti dan menaati peraturan, nilai dan hukum yang berlaku.
b. Pengikutan dan ketaatan tersebut terutama muncul karena adanya kesadaran diri
bahwa hal itu berguna bagi kebaikan dan keberhasilan dirinya. Dapat juga muncul
karena rasa takut, tekanan, paksaan dan dorongan dari luar dirinya.
c. Sebagai alat pendidikan untuk mempengaruhi, mengubah, membina, dan membentuk
perilaku sesuai dengan nilai-nilai yang ditentukan atau diajarkan.
d. Hukuman yang diberikan bagi yang melanggar ketentuan yang berlaku, dalam rangka
mendidik, melatih, mengendalikan dan memperbaiki tingkah laku.
e. Peraturan-peraturaan yang berlaku sebagai pedoman dan ukuran perilaku.
Menurut Elizabeth B. Hurlock (1970:74) mengemukakan unsur-unsur disiplin yang
diharapkan mampu mendidik anak untuk berperilaku sesuai dengan standar yang ditetapkan
kelompok sosial mereka. Ia harus mempunyai empat unsur pokok, yaitu: peraturan, hukuman,
penghargaan, dan konsistensi.
1. Peraturan
Peraturan adalah pola yang ditetapkan untuk tingkah laku. Pola tersebut bisa ditetapkan
oleh orang tua, guru atau teman bermain. Tujuannya adalah membekali anak dengan pedoman
perilaku yang disetujui dalam situasi-situasi tertentu.
2. Hukuman
Hukuman mempunyai peran antara lain menghalangi pengulangan tindakan yang tidak
diinginkan oleh masyarakat, mendidik anak membedakan mana yang benar dan mana yang salah,
serta memberi motivasi untuk menghindari perilaku yang tidak diterima masyarakat.
3. Penghargaan
Penghargaan berarti tiap bentuk pemberian untuk suatu hasil yang baik. Penghargaan
mempunyai nilai mendidik, sebagai motivasi untuk mengulang perilaku yang disetujui secara
sosial, memperkuat perilaku yang disetujui secara sosial.
4. Konsistensi
Konsistensi berarti tingkat keseragaman atau stabilitas. Harus ada konsistensi dalam
peraturan yang digunakan sebagai pedoman perilaku, konsistensi dalam cara peraturan ini
diajarkan dan dipaksakan, dalam hukuman yang diberikan pada mereka yang tidak
menyesuaikan pada standar dan dalam penghargaan bagi mereka yang menyesuaikan.

2.3 Cara Menanamkan Disiplin


Elizabeth B. Hurlock (1997:93) mengemukakan bahwa cara-cara menanamkan disiplin
dapat dibagi menjadi tiga cara, yaitu: mendisiplinkan dengan otoriter, mendisiplinkan dengan
permisif, dan mendisiplinkan dengan demokratis.
1. Mendisiplinkan dengan Otoriter
Peraturan dan pengaturan yang keras untuk memaksakan perilaku yang diinginkan
menandai semua jenis disiplin yang otoriter. Tekniknya mencakup hukuman yang berat
bila terjadi kegagalan memenuhi standar dan sedikit, atau sama sekali tidak adanya
persetujuan, pujian atau tanda-tanda penghargaan lainnya bila anak memenuhi standar
yang diharapkan.
2. Mendisiplinkan dengan Permisif
Disiplin permisif sebenarnya berarti sedikit disiplin atau tidak disiplin. Biasanya
disiplin permisif tidak membimbing ke pola perilaku yang disetujui secara sosial dan
tidak menggunakan hukuman. Dalam hal ini tidak diberi batas-batas atau kendala yang
mengatur apa saja yang boleh dilakukan, mereka diijinkan untuk mengambil keputusan
sendiri dan berbuat sekehendak mereka sendiri.
3. Mendisiplinkan dengan Demokratis
Metode demokratis menggunakan menggunakan penjelasan, diskusi dan penalaran
untuk membantu anak mengerti mengapa perilaku tertentu diharapkan. Metode ini
lebih menekankan aspek edukatif dari disiplin daripada aspek hukuman. Disiplin
demokratis menggunkan hukuman dan penghargaan. Hukuman tidak pernah keras dan
biasanya tidak berbentuk hukuman badan.

2.4 Manfaat Disiplin


Seperti dikatakan oleh Dirk Meyer, Gutkin dan Redh (Oteng Sutisna) bahwa manfaat dari
disiplin adalah :
1. Disiplin memberi rasa aman dan memberitahukan apa yang boleh dan tidak boleh
dilakukan.
2. Dengan membantu anak menghindari perasaan bersalah, rasa malu akibat perilaku yang
salah, perasaan yang pasti mengakibatkan rasa tidak bahagia dan penyesuaian yang
baik terhadap disiplin memungkinkan anak hidup menurut standar yang disetujui oleh
lingkungan sosialnya dan dengan demikian memperoleh prsetujuan sosial.
3. Dengan disiplin anak belajar bersikap menurut cara yang akan mendatangkan pujian
yang akan ditampilkan anak sebagai tanda kasih sayang dan penerimaan hal ini esensial
bagi penyesuaian yang berhasil dan berakhir dengan kebahagiaan.
4. Disiplin yang sesuai dengan perkembangan berfungsi sebagai motivasi pendorong ego
yang mendorong anak mencapai apa yang diharapkan dirinya.

2.5 Pengertian Perkembangan


Herbart berpendapat bahwa terjadinya perkembangan adalah oleh karena adanya unsur-
unsur berasosiasi, sehingga sesuatu yang semuanya bersifat simpel makin lama makin banyak
dan kompleks. Herbart berpendapat demikian karena teorinya, bahwa nak baru lahir keadaan
jiwanya masih bersih.
Menurut Teori Gestalt bahwa proses perkembangan bukan berlangsung dari sesuatu yang
simpel ke sesuatu yang kompleks, melainkan berlangsung dari sesuatu yang bersifat global
(menyeluruh tapi samar-samar) ke makin lama makin dalam keadaan jelas, tampak bagian-
bagian dalam keseluruhan itu.
Teori sosialisasi (James Mark Baldwin) berpendapat bahwa proses perkembangan itu
adalah proses sosialisasi dari sifat individualis. Dalam hal ini Baldwin terkenal dengan teori
Circulair Reastion. Dia berpendapat bahwa perkembangan sebagai proses sosoalisasi, adalah
dalam bentuk imitasi yang berlangsung dengan adaptasi dan seleksi.
Jadi dapat disimpulkan bahwa perkembangan adalah terjadinya perkembangan sebagai
proses sosoalisasi berlangsung dari sesuatu yang bersifat globalke makin lama makin dalam
keadaan jelas, tampak bagian-bagian dalam keseluruhan itu.dalam bentuk imitasi yang
berlangsung dengan adaptasi dan seleksi.

2.6 Pengertian Karakter


Karakter berasal dari bahasa Yunani “karasso” yang berarti “to mark” atau menandai dan
memfokuskan bagaimana mengaplikasikan nilai kebaikan dalam bentuk tindakan atau tingkah
laku, sehingga orang yang tidak jujur, kejam, rakus dan perilaku jelek lainnya dikatakan orang
berkarakter jelek. Sebaliknya, orang yang perilakunya sesuai dengan kaidah moral disebut
dengan berkarakter mulia. Menurut bahasa, karakter adalah tabiat atau kebiasaan.
Pengertian karakter menurut Pusat Bahasa Dekdiknas adalah “bawaan, hati, jiwa,
kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Adapun
berkarakter, adalah berkepribadian, berperilaku, bersifat, dan berwatak.
Definisi karakter menurut ahlinya, antara lain :
1. Menurut ahli psikologi, karakter adalah sebuah sistem keyakinan dan kebiasaan yang
mengarahkan tindakan seorang individu.
2. Menurut Lickona, karakter berkaitan dengan konsep moral (moral knonwing), sikap
moral (moral felling), dan perilaku moral (moral behavior).
3. Suyanto (2009) mendefinisikan karakter sebagai cara berpikir dan berperilaku yang
menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan bekerja sama, baik dalam lingkup
keluarga, masyarakat, bangsa, maupun negara.
4. Karakter adalah ciri khas yang dimiliki oleh suatu benda atau individu. Ciri khas
tersebut adalah asli dan mengakar pada kepribadian benda atau individu tersebut, serta
merupakan “mesin” yang mendorong bagaimana seorang bertindak, bersikap, berucap,
dan merespon sesuatu (Kertajaya, 2010).
5. Menurut (Ditjen Mandikdasmen – Kementerian Pendidikan Nasional), Karakter adalah
cara berpikir dan berperilaku yang menjadi ciri khas tiap individu untuk hidup dan
bekerjasama, baik dalam lingkup keluarga, masyarakat, bangsa dan negara. Individu
yang berkarakter baik adalah individu yang bisa membuat keputusan dan siap
mempertanggungjawabkan tiap akibat dari keputusan yang ia buat.
6. W.B. Saunders (1977: 126) menjelaskan bahwa karakter adalah sifat nyata dan berbeda
yang ditunjukkan oleh individu, sejumlah atribut yang dapat diamati pada individu.
7. Gulo W (1982: 29) menjabarkan bahwa karakter adalah kepribadian ditinjau dari titik
tolak etis atau moral, misalnya kejujuran seseorang, biasanya mempunyai kaitan
dengan sifat-sifat yang relatif tetap.
8. Kamisa (1997: 281) mengungkapkan bahwa karakter adalah sifat-sifat kejiwaan,
akhlak atau budi pekerti yang membedakan seseorang dari yang lain, tabiat, watak.
Berkarakter artinya mempunyai watak, mempunyai kepribadian.
9. Alwisol menjelaskan pengertian karakter sebagai penggambaran tingkah laku dengan
menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
Karakter berbeda dengan kepribadian kerena pengertian kepribadian dibebaskan dari
nilai. Meskipun demikian, baik kepribadian (personality) maupun karakter berwujud
tingkah laku yang ditujukan kelingkungan sosial, keduanya relatif permanen serta
menuntun, mengerahkan dan mengorganisasikan aktifitas individu.
Setiap para ahli memiliki sudut pandang yang berbeda mengenai definisi karakter. Dari
definisi-definisi diatas dapat kita simpulkan bahwa karakter adalah watak, sifat, budi pekerti dan
kepribadian serta merupakan kualitas dan kuantitas moral seorang individu. Karakter juga dapat
mencerminkan cara berpikir dan berperilaku seseorang dalam berinteraksi dan bekerja sama
dengan orang lain dalam kehidupan sehari-hari.

2.7 Aspek-Aspek Penting dalam Pendidikan Karakter Anak


Untuk membentuk karakter anak diperlukan syarat-syarat mendasar bagi terbentuknya
kepribadian yang baik. Menurut Megawangi (2003), ada tiga kebutuhan dasar anak yang harus
dipenuhi, yaitu maternal bonding, rasa aman, dan stimulasi fisik dan mental.
1. Maternal Bonding (Kelekatan Psikologis dengan Ibunya)
Merupakan dasar penting dalam pembentukan karakter anak karena aspek ini berperan
dalam pembentukan dasar kepercayaan kepada orang lain (trust) pada anak. Kelekatan ini
membuat anak merasa diperhatikan dan menumbuhkan rasa aman sehingga menumbuhkan rasa
percaya. Menurut Erikson, dasar kepercayaan yang ditumbuhkan melalui hubungan ibu-anak
pada tahun-tahun pertama kehidupan anak akan memberi bekal bagi kesuksesan anak dalam
kehidupan sosialnya ketika ia dewasa. Dengan kata lain, ikatan emosional yang erat antara ibu-
anak di usia awal dapat membentuk kepribadian yang baik pada anak.
2. Kebutuhan akan Rasa Aman
Yaitu kebutuhan anak akan lingkungan yang stabil dan aman. Kebutuhan ini penting
bagi pembentukan karakter anak karena lingkungan yang berubah-ubah akan membahayakan
perkembangan emosi bayi. Pengasuh yang berganti-ganti juga akan berpengaruh negatif pada
perkembangan emosi anak. Menurut Bowlby (dalam Megawangi, 2003) normal bagi seorang
bayi untuk mencari kontak dengan hanya satu orang (biasanya ibu) pada tahap-tahap awal masa
bayi. Kekacauan emosi anak yang terjadi karena tidak adanya rasa aman ini diduga oleh para ahli
gizi berkaitan dengan masalah kesulitan makan pada anak. Tentu saja hal ini tidak kondusif bagi
pertumbuhan anak yang optimal.
3. Kebutuhan akan Stimulasi Fisik dan Mental
Hal ini membutuhkan perhatian yang besar dari orang tua dan reaksi timbal balik antara
ibu dan anaknya. Menurut pakar pendidikan anak, seorang ibu yang sangat perhatian (yang
diukur dari seringnya ibu melihat mata anaknya, mengelus, menggendong, dan berbicara kepada
anaknya) terhadap anaknya yang berusia usia di bawah enam bulan akan mempengaruhi sikap
bayinya sehingga menjadi anak yang gembira, antusias mengeksplorasi lingkungannya, dan
menjadikannya anak yang kreatif.

2.8 Pola Asuh Orang Tua dalam Perkembangan Karakter Anak


Berikut empat tipe pola asuh yang dikembangkan pertama kali oleh Diana Baumrind
(1967) : pola asuh demokratis, pola suh otoriter, pola asuh permisif atau pemanjaan, dan pola
asuh penelantara.
1. Pola Asuh Demokratis
Pola asuh demokratis adalah pola asuh yang memprioritaskan kepentingan anak, akan
tetapi tidak ragu-ragu mengendalikan mereka. Orang tua dengan pola asuh ini bersikap
rasional, selalu mendasari tindakannya pada rasio atau pemikiran-pemikiran. Orang tua
tipe ini juga bersikap realistis terhadap kemampuan anak, tidak berharap yang
berlebihan yang melampaui kemampuan anak. Orang tua tipe ini juga memberikan
kebebasan kepada anak untuk memilih dan melakukan suatu tindakan, dan
pendekatannya kepada anak bersifat hangat.
2. Pola Asuh Otoriter
Pola asuh otoriter cenderung menetapkan standar yang mutlak harus dituruti, biasanya
dibarengi dengan ancaman-ancaman. Misalnya, kalau tidak mau makan, maka tidak
akan diajak bicara. Orang tua tipe ini juga cenderung memaksa, memerintah,
menghukum. Apabila anak tidak mau melakukan apa yang dikatakan oleh orang tua,
maka orang tua tipe ini tidak segan menghukum anak. Orang tua tipe ini juga tidak
mengenal kompromi, dan dalam komunikasi biasanya bersifat satu arah. Orang tua tipe
ini tidak memerlukan umpan balik dari anaknya untuk mengerti mengenai anaknya.
3. Pola Asuh Permisif Atau Pemanja
Pola asuh ini biasanya meberikan pengawasan yang sangat longgar. Memberikan
kesempatan pada anaknya untuk melakukan sesuatu tanpa pengawasan yang cukup
darinya. Mereka cenderung tidak menegur atau memperingatkan anak apabila anak
sedang dalam bahaya, dan sangat sedikit bimbingan yang diberikan oleh mereka.
Namun orang tua tipe ini biasanya bersifat hangat, sehingga seringkali disukai oleh
anak.
4. Tipe Penelantar
Orang tua tipe ini pada umumnya memberikan waktu dan biaya yang sangat minim
pada anak-anaknya. Waktu mereka banyak digunakan untuk keperluan pribadi mereka,
seperti bekerja, dan juga kadangkala biayapun dihemat-hemat untuk anak mereka.
Termasuk dalam tipe ini adalah perilaku penelantar secara fisik dan psikis pada ibu
yang depresi. Ibu yang depresi pada umumnya tidak mampu memberikan perhatian
fisik maupun psikis pada anak-anaknya.

2.9 Proses Pembentukan Karakter


Karakter terbentuk setelah mengikuti proses sebagai berikut :
1) Adanya nilai yang diserap seseorang dari berbagai sumber, mungkin agama, ideology,
pendidikan, temuan sendiri atau lainnya.
2) Nilai membentuk pola fikir seseorang yang secara keseluruhan keluar dalam bentuk
rumusan visinya.
3) Visi turun ke wilayah hati membentuk suasana jiwa yang secara keseluruhan
membentuk mentalitas.
4) Mentalitas mengalir memasuki wilayah fisik dan melahirkan tindakan yang secara
keseluruhan disebut sikap.
5) Sikap-sikap yang dominan dalam diri seseorang yang secara keseluruhan mencitrai
dirinya adalah apa yang disebut sebagai kepribadian atau karakter.
Proses pembentukan mental tersebut menunjukan keterkaitan antara fikiran, perasaan
dan tindakan. Dari akal terbentuk pola fikir, dari fisik terbentuk menjadi perilaku. Cara berfikir
menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berprilaku menjadi karakter. Apabila hal ini
terjadi terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan. “Akhlak atau karakter adalah suatu
perbuatan yang dilakukan oleh seseorang tanpa melalui proses pemikiran” (Imam Al-Ghozali).
Jadi, proses pembentukan karakter itu menunjukkan keterkaitan yang erat antara
fikiran, perasaan dan tindakan.

2.10 Langkah Mengubah Karakter


Dengan mengetahui tahapan, metoda dan proses pembentukan karakter, maka bisa
diketahui bahwa akar dari perilaku atau karakter itu adalah cara berfikir dan cara merasa
seseorang. Sehingga untuk mengubah karakter seseorang, kita bisa melakukan tiga langkah
berikut :
a. Langkah pertama adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara berfikir yang
kemudian disebut terapi kognitif, dimana fikiran menjadi akar dari karakter
seseorang.
b. Langkah kedua adalah melakukan perbaikan dan pengembangan cara merasa yang
disebut dengan terapi mental, karena mental adalah batang karakter yang menjadi
sumber tenaga jiwa seseorang.
c. Langkah ketiga adalah melakukan perbaikan dan pengembangan pada cara bertindak
yang disebut dengan terapi fisik, yang mendorong fisik menjadi pelaksana dari
arahan akal dan jiwa.
Ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam membentuk karakter:
1. Pembiasaan tingkah laku sopan.
Sopan santun atau etiket adalah akhlak yang bersifat lahir. Ukuran sopan santun terletak
pada cara pandang suatu masyarakat. Sopan santun pada anak tertanam melalui kebiasaan sehari-
hari di rumah. Apa yang diajarkan orang tua di rumah akan melekat pada diri anak. Sopan santun
pada remaja tertanam disamping melalui kebisaan dalam rumah juga melalui proses pergaulan
teman sebaya, di sekolah atau melalui suatu tontonan. Sedangkan sopan santun pada remaja
disamping karena perbekalan pada masa anak-anak dan remaja terbentuk melalui perilalu para
tokoh masyarakat, terutama tokoh yang dihormati dan diidolakan.
2. Kebersihan, kerapian dan ketertiban
Pengetahuan tentang hubungan kebersihan dengan lingkungan dibentuk melalui proses
pendidikan, tetapi kepekaan terhadap kebersihan dibangun melalui proses pembiasaan sejak
kecil.
3. Kejujuran
Jujur bukan berarti mengatakan semua yang diketahui apa adanya, tetapi mengatakan apa
yang diketahui sepanjang mengandung kebaikan dan tidak menyebutnya jika diperkirakan
memabawa akibat buruk bagi dirinya dan orang lain.
4. Disiplin.
Tingkah laku disiplin dilakukan karena mengikuti suatu komitmen. Disiplin bisa
berhubungan dengan kejujuran, bisa juga tidak. Kejujuran juga diwariskan oleh genetika orang
tuannya, terutama ketika anak masih dalam kandungan, secara psikologis dapat menetas pada
anaknya. Keharmonisan orang tua didalam rumah akan sangat berpengaruh dalam membentuk
watak dan kepribadian anak-anak pada umur perkembangannya.
BAB III
METODE PENELITIAN

3.1 Metode Penelitian


a. Metode penelitian :
Didalam penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif, kuisioner. Pada
penenelitian metode kuantitatif ini hanya mementingkan hasil dari peneltian. Hubungan-
hubungan antar-bagian terlihat jelas dalam proses yang menjadi objek dalam penelitian.
Menurut Sugiyono, metode penelitian kuantitatif dapat diartikan sebagai metode penelitian
yang berlandaskan pada filsafat positivisme, digunakan untuk meneliti pada populasi atau sampel
tertentu. Teknik pengambilan sampel pada umumnya dilakukan secara random, pengumpulan
data menggunakan instrumen penelitian, analisis data bersifat kuantitatif/statistik dengan tujuan
untuk menguji hipotesis yang telah ditetapkan (Sugiyono, 2012:7). Metode ini disebut metode
kuantitatif karena data penelitian berupa angka-angka dan analisis menggunakan statistik. Selain
itu metode penelitian kuantitatif dikatakan sebagai metode yang lebih menekankan pada aspek
pengukuran secara obyektif terhadap fenomena sosial.
Tujuan utama dati metodologi ini ialah menjelaskan suatu masalah tetapi menghasilkan
generalisasi. Generalisasi ialah suatu kenyataan kebenaran yang terjadi dalam suatu realitas
tentang suatu masalah yang di perkirakan akan berlaku pada suatu populasi tertentu.
Kuesioner merupakan alat teknik pengumpulan data yang dilakukan dengan cara
memberikan seperangkat pertanyaan atau pernyataan tertulis kepada responden untuk
dijawabnya. Kuesioner merupakan teknik pengumpulan data yang efisien bila peneliti tahu pasti
variabel yang akan diukur dan tahu apa yang bisa diharapkan dari responden(Iskandar, 2008:77).

b. Teknik Penelitian : Teknik Pengumpulan data


Menurut Sugiyono (2013:224) teknik pengumpulan data merupakan langkah yang paling
strategis dalam penelitian, karena tujuan utama dari penelitian adalah mendapatkan data.
c. Populasi dan sampel :
Populasi : Kelurahan Kenangan Perumnas Mandala
Sampel : Beberapa orangtua dari Kenari 24 Perumnas Mandala yang terdiri dari 7
anak dan 4 orangtua.
d. Lokasi dan waktu:
Lokasi penelitian dilaksanakan di Kelurahan Kenangan, Perumnas Mandala dengan
menyebarkan angket di beberapa rumah di Jalan Kenari 24 Kelurahan Kenangan Perumnas
Mandala, waktu dilakukan dalam 1 minggu dimulai dari tanggal 22 November 2016-28
November 2016.
e. Analisis data :
Analisis data adalah proses mencari dan menyusun secara sistematis data yang diperoleh
dari hasil wawancara, catatan lapangan, dan bahan-bahan lain, sehingga dapat mudah dipahami,
dan temuannya dapat diinformasikan kepada orang lain (Bogdan dalam Sugiyono, 2013:244).
Para responden dengan memberi tanda centang pada kolom antara 1-3 dengan keriteria 1=
sering, 2= jarang-jarang, 3= tidak pernah. Para responden diperuntukan untuk mengisi angket
dengan pertanyaan sebagai berikut.

a. Untuk orang tua

ALTERNATIF
N
PERTANYAAN JAWABAN
O
1 2 3
1 Apakah anak Anda bangun
terlambat?
2 Apakah anak Anda pulang
terlambat?
3 Apakah anak Anda membantah
perintah Anda?
4 Apakah anak Anda terbuka
terhadap Anda?
5 Apakah anak Anda mengikuti
organisasi / ekstrakulikuler di sekolah?
6 Apakah Anda pernah menemui
anak Anda berbohong terhadap Anda?
7 Apakah anak Anda berperilaku
baik terhadap Anda, keluarga dan teman-
temannya?
8 Apakah anak Anda tiba-tiba sering
marah-marah sendiri?

1. Bagaimana langkah Anda supaya anak tidak melanggar disiplin waktu?


2. Apakah anda pernah berfikiran dengan menerapkan disiplin waktu dapat membuat
anak merasa tertekan ? Berikan alasan Anda?

b. Untuk anak :
ALTERNATIF
N BAB IV
PERTANYAAN JAWABAN
O HASIL DAN
1 2 3
1 Apakah Anda bangun PEMBAHASAN
terlambat?
2 Apakah Anda sengaja
4.1 Hasil
pulang terlambat?
Penelitian dan
3 Apakah Anda terbuka
Pembahasan
terhadap orangtua?
a. Hasil angket
4 Apakah Anda mengikuti
untuk orang tua :
organisasi/ ekstrakulikuler di
1. Hasil
sekolah?
penelitian dengan banyak
5 Apakah Anda pernah
6 responden pada
berbohong terhadap orangtua
keterlambatan bangun
Anda?
6 Apakah Anda ingin anaknya bahwa sebanyak
memberontak terhadap peraturan 16,7% sering, 50%
waktu yang diterapkan orangtua jarang-jarang dan 33,3%
Anda? tidak pernah. Jadi,
7 Apakah Anda merasa dengan memberlakukan
dibatasi oleh orangtua Anda? disiplin waktu maka anak
8 Apakah Anda merasa
akan memiliki kesadaran
tertekan?
diri untuk menaati
peraturan dengan bukti mereka lebih jarang-jarang bangun terlambat bahkan tidak pernah
bangun terlambat.
2. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden pada keterlambatan pulang anaknya
bahwa sebanyak 0 %sering, 33,3% jarang-jarang dan 66,7% tidak pernah. Jadi, dengan
memberlakukan disiplin waktu maka hasilnya anak akan tepat waktu ketika pulang sekolah.
3. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak membantah perintah
orangtua bahwa sebanyak 0% sering, 66,7% jarang-jarang dan 30,3% tidak pernah. Jadi,
meskipun diberlakukan disiplin waktu anak akan jarang-jarang bahkan tidak pernah membantah
perintah orang tua.
4. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang keterbukaan anak terhadap
orangtua bahwa sebanyak 66,7% sering, 33,3% jarang-jarang dan 0% tidak pernah. Jadi, dengan
diberlakukannya disiplin waktu maka anak akan lebih terbuka dengan orang tuanya.
5. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang menemui anak berbohong
bahwa sebanyak 0%sering, 50% jarang-jarang dan 50% tidak pernah. Jadi, dengan
diberlakukannya didiplin waktu memiliki keseimbangan antara pernah dan tidak penah anak
berbohong terhadap orang tua.
6. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak membantah perintah
orangtua bahwa sebanyak 0% sering, 16,7% jarang-jarang, dan 30,3% tidak pernah. Jadi, dengan
diterapkannya disiplin waktu anak akan jarang bahkan tidak pernah membantah perintah orang
tua.
7. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak berperilaku baik terhadap
orangtua, keluarga dan teman-temannya bahwa sebanyak 100%
sering, 0% jarang-jarang dan 0 % tidak pernah tidak berperilaku baik. Jadi, dengan
diterapkannya disiplin waktu akan menghasilkan anak yang berperilaku baik terhadap orang-
orang disekitarnya.
8. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang anak yang tiba-tiba marah-marah
sendiri bahwa sebanyak 16,7% sering, 50% jarang-jarang dan 33,3% tidak pernah. Jadi, dengan
diterapkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan anak yang memiliki sikap suka marah-
marah sendiri.
9. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang cara mereka supaya anak tidak
melanggar disiplin waktu adalah dengan melatih anak dispilin waktu sejak dini, rajin menasehati
anak supaya disiplin waktu dan dengan memperingatkan jika sering pulang terlambat.
10. Hasil penelitian dengan banyak 6 responden tentang apakah mereka pernah berfikiran
membuat anaknya merasa tertekan, 5 dari mereka berfikiran bahwa anak-anak mereka tidak
merasa tertekan terbukti dari sikap mereka yang semakin lama semakin disiplin terhadap waktu
karena dibisasakan semenjak kecil, sedangkan 1 responden berfikiran bahwa anaknya mungkin
merasa tertekan karena sikap anaknya yang terkadang memberontak dan berbicara dengan
menggunakan nada tinggi.

b. Hasil angket untuk anak :


1. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden pada keterlambatan bangun bahwa
sebanyak 13,3% sering, 60% jarang-jarang dan 26,7% tidak pernah. Jadi, dengan diterapkannya
disiplin waktu maka akan membuat anak lebih tertib dalam bangun dari tidurnya.
2. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden pada kesengajaan pulang terlambat
bahwa sebanyak 20% sering, 46,7% jarang-jarang dan 33,3% tidak pernah. Jadi, dengan
diterapkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan anak yang secara diam-diam sengaja
pulang terlambat dari sekolah.
3. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam keterbukaan terhadap orang tua
bahwa sebanyak 46,7% sering, 53,7% jarang-jarang dan 0% tidak pernah tidak terbuka. Jadi,
dengan diterpkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan anak yang bersikap terbuka
terhadap orang tua.
4. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam mengikuti organisasi atau
ekstrakulikuler di sekolah bahwa sebanyak 46,7% sering, 40% jarang-jarang dan 13,3% tidak
pernah. Jadi, meskipun orangtua menerapkan disiplin waktu namun kebanyakan anak-anak
mereka tetap mengikuti kegiatan organisasi atau ekstrakulikuler disekolah.
5. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam berbohong terhadap orangtua
bahwa sebanyak 6,7% sering, 80% jarang-jarang dan 13,3% tidak pernah berbohong. Jadi,
dengan diterapkannya disiplin waktu maka akan menghasilkan anak-anak yang suka berbohong
terhadap orangtuanya.
6. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden dalam keinginan memberontak
terhadap peraturan waktu yang diterapkan oleh orangtua bahwa sebanyak 6,7% sering, 40%
jarang-jarang dan 53,3% tidak pernah. Jadi, dengan diterapkannya disiplin waktu anak terkadang
merasa ingin memberontak peraturan tersebut.
7. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden tentang merasa dibatasi oleh orangtua
bahwa sebanyak 6,7% sering, 40% jarang-jarang dan 50,3% tidak pernah. Jadi, dengan
diterapkannya disiplin waktu anak terkadang merasa dibatasi oleh orangtuanya.
8. Hasil penelitian dengan banyak 15 responden tentang merasa tertekan bahwa
sebanyak 20% sering, 20% jarang-jarang dan 60% tidak pernah. Jadi, dengan diterapkannya
disiplin waktu dapat membuat anak merasa tertekan.
Dari penerapan disiplin waktu yang diberlakukan orangtua oleh anak dampak positifnya
anak akan lebih tertib dalam menggunakan waktu, anak menjadi penurut terbukti dari jarang-
jarangnya bahkan tidak pernah membantah perintah orang tua dan anak menjadi lebih terbuka
terhadap orang tua, berperilaku baik terhadap orangtua, kelarga dan rekan-rekannya karena
orangtua selalu menasehati.
Selain dampak positif juga ada beberapa dampak negatif yaitu anak tidak jujur, terbukti
terkadang berbohong kepada orangtua dan sengaja terlambat pulang sekolah, hal tersebut bisa
dikarenakan karena mereka terkadang merasa dibatasi waktunya, dan anak tiba-tiba menjadi
marah-marah sendiri hal tersebut bisa
dikarenakan anak terkadang merasa tertekan akan disiplin waktu yang diterapkan oleh
orang tuanya.
Cara untuk mengatasi supaya anak tidak melanggar disiplin waktu maka hal yang
biasanya dilakukan orang tua adalah dengan melatih anak dispilin waktu sejak dini, rajin
menasehati anak supaya disiplin waktu dan dengan memperingatkan jika sering pulang
terlambat.
BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
Dari penerapan disiplin waktu yang diberlakukan orangtua kepada anak maka dampak
positif dari perkembangan karakter anak adalah:
1. Anak akan lebih tertib dalam menggunakan waktu,
2. Anak menjadi penurut,
3. Anak menjadi lebih terbuka terhadap orangtua,
4. Berperilaku baik terhadap orangtua, kelarga dan rekan-rekannya karena orangtua
selalu menasehati.
Selain dampak positif juga ada beberapa dampak negatif dalam perkebangan karakter
anak, yaitu:
1. Anak tidak jujur,
2. Anak tiba-tiba menjadi marah-marah sendiri.
Cara untuk mengatasi supaya anak tidak melanggar disiplin waktu maka hal yang dapat
dilakukan orang tua adalah:
1. Melatih anak dispilin waktu sejak dini,
2. Rajin menasehati anak supaya disiplin terhadap waktu, dan
3. Memperingatkan jika sering pulang terlambat.

5.2 Saran
Terlaksananya proses penelitian ini, yang didalamnya perlu adanya sinegritas dan
integrtitas yang mampu membangun unsur dari kesalahan dalam pembuatan penelitian ini. Maka
dari itu makalah ini perlu saran agardapat membangun pihak peneliti apabila terjadi kesalahan,
supaya dapat menjadi kaca pembanding dalam pembuatan penelitian selanjutnya. Dalam
penelitian ini tidak sepenuhnya benar, karena itu peneliti meminta saran tentang kekurangan
yang ada dalam hasil penelitian ini supaya lebih baik lagi.
DAFTAR PUSTAKA

Sugiyono.2008.Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R & D. Bandung:


Alfabeta
Rahman,Hendri.18 Nopember 2009.Konsep, Proposisi dan Teori.
(Bloghendry@gmail.com, diakses 14 November 2016)
Rimm, Sylvia.2003.Mendidik dan Menerapkan Disiplin pada Anak Prasekolah.
Jakarta : PT. Gramedia Pustaka Utama.
Shochib, Moh.2000.Pola Asuh Orang Tua dalam Membantu Anak
Mengembangkan Disiplin Diri.Jakarta:Rineka Cipta.
Slamet Suyanto. (1998).“Beberapa Prinsip pada Pendidikan Anak Usia Dini”
(Makalah).Yogyakarta.
Darmuin.2003.Konsep Dasar Pendidikan Karakter Taman Kanak-
Kanak.Semarang:Pustaka Zaman.
Soejanto, Agus.Psikologi Perkembangan.2005.Jakarta:Rineka Cipta