Anda di halaman 1dari 8

PELAPORAN KEUANGAN ETAP DAN NIRLABA,

PERBEDAAN STANDAR AKUNTANSI UNTUK ETAP DENGAN SAK,


DAN PENERAPAN STANDAR AKUNTANSI UNTUK ETAP

Definisi dan Ruang Lingkup Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik dan Entitas Nirlaba
1. Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
Standar Akuntansi Keuangan untuk Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik (SAK ETAP)
mendefinisikan entitas tanpa akuntabilitas publik (ETAP) sebagai entitas yang:
a. Tidak memiliki akuntabilitas publik signifikan; dan
b. Menerbitkan laporan keuangan untuk tujuan umum (general purpose financial statement)
bagi pengguna eksternal. Pengguna eksternal dalam hal ini antara lain adalah pemilik
yang tidak terlibat langsung dalam pengelolaan usaha, kreditur, dan lembaga pemeringkat
kredit.
SAK ETAP menyatakan bahwa suatu entitas memiliki akuntabilitas publik yang signifikan jika:
a. Entitas telah mengajukan pernyataan pendaftaran, atau dalam proses pengajuan
pernyataan pendaftaran, pada otoritas pasar modal atau regulator lain untuk tujuan
penerbitan efek di pasar modal; atau
b. Entitas menguasai aset dalam kapasitas sebagai fidusia untuk sekelompok besar
masyarakat, seperti bank, entitas asuransi, pialang dan atau pedagang efek, dana
pensiun, reksa dana dan bank investasi.

2. Entitas Nirlaba
Entitas nirlaba adalah entitas yang tidak bertujuan mencari laba. Di Indonesia, beberapa
Undang-Undang langsung mengatur dan mendefinisikan jenis entitas nirlaba secara khusus,
seperti UU No. 16 Tahun 2001 yang diubah dengan UU No. 28 Tahun 2004 tentang Yayasan,
dan UU No. 2 Tahun 2008 tentang Partai Politik.

Karakteristik entitas nirlaba menurut PSAK 45: Pelaporan Keuangan Entitas Nirlaba:
a. Sumber daya entitas nirlaba berasal dari para penyumbang yang tidak mengharapkan
pembayaran kembali atau manfaat ekonomi yang sebanding dengan jumlah sumber daya
yang diberikan.
b. Menghasilkan barang dan/atau jasa tanpa bertujuan memupuk laba, dan jika entitas
nirlaba menghasilkan laba, maka jumlahnya tidak dibagikan kepada para pendiri atau
pemilik entitas nirlaba tersebut.
c. Tidak ada kepemilikan seperti lazimnya pada entitas bisnis, dalam arti bahwa kepemilikan
dalam entitas nirlaba tidak dapat dijual, dialihkan, atau ditebus kembali, atau kepemilikan
tersebut tidak mencerminkan proporsi pembagian sumber daya entitas nirlaba pada saat
likuidasi atau pembubaran entitas nirlaba.

Standar Pelaporan Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik dan Entitas Nirlaba
1. Standar Akuntansi Keuangan Entitas Tanpa Akuntabilitas Publik
SAK ETAP merupakan salah satu pilar akuntansi di Indonesia. SAK ETAP ini dikeluarkan
oleh Ikatan Akuntan Indonesia (IAI) pertama kali pada bulan Mei 2009 untuk penerapan efektif
pada penyusunan laporan keuangan yang dimulai pada atau setelah 1 Januari 2011.
SAK ETAP memuat 30 Bab pengaturan dalam kurang dari 200 halaman. Standar ini berlaku
untuk entitas yang memenuhi definisi ETAP sesuai Bab 1: Ruang Lingkup di SAK tersebut.
Entitas yang tergolong entitas nirlaba, sepanjang memenuhi ruang lingkup ETAP, dapat
menerapkan SAK ETAP ini dengan tetap mengacu pada PSAK 45: Pelaporan Keuangan
Entitas Nirlaba untuk aspek pelaporannya. Entitas yang berada di luar ruang lingkup ETAP
juga dapat menggunakan SAK ETAP apabila regulator terkait mengizinkannya. Sebagai
contoh, Bank Perkreditan Rakyat, walaupun menguasai aset sebagai fidusia untuk
sekelompok besar masyarakat sehingga tidak termasuk ETAP, telah diizinkan oleh Bank
Indonesia menggunakan SAK ETAP mulai 1 Januari 2010 sesuai dengan SE No.
11/37/DKBU tanggal 31 Desember 2009.

SAK ETAP muncul karena beberapa alasan ketidakterterapan PSAK berbasis IFRS bagi
entitas kecil dan menengah, diantaranya:
a. PSAK berbasis IFRS sulit diterapkan oleh entitas kecil dan menengah mengingat
penentuan fair value memerlukan biaya yang tidak murah.
b. PSAK berbasis IFRS rumit dalam implementasinya, contohnya kasus PSAK 50 dan PSAK
55 yang sudah disahkan pada tahun 2006 namun implementasinya ditunda hingga tahun
2010 untuk memberikan waktu bagi pengguna mempelajarinya lebih lanjut.
c. PSAK berbasis IFRS menggunakan principle based sehingga membutuhkan banyak
professional judgement.
d. PSAK berbasis IFRS perlu dokumentasi dan IT yang kuat, yang tidak selalu dimiliki oleh
usaha kecil dan menengah.
2. SAK Umum dan PSAK 45
SAK Umum memberikan pilihan kepada entitas yang memenuhi kualifikasi entitas tanpa
akuntabilitas publik untuk menggunakan SAK ETAP atau SAK Umum dalam menyusun dapat
digunakan oleh Laporan Keuangan entitas yang tergolong ETAP karena penggunaan SAK
ETAP untuk entitas yang termasuk dalam ruang lingkupnya merupakan pilihan. Untuk entitas
nirlaba, SAK Umum dan SAK ETAP, jika memenuhi kriteria, juga bisa menjadi pilihan.

Konsep dan Prinsip Pervasif


Konsep dan prinsip pervasif memuat informasi seperti Kerangka Dasar Penyusunan dan
Penyajian Laporan Keuangan (KDPLKK) dalam SAK Umum tetapi dalam versi yang lebih
sederhana.
 Tujuan Laporan Keuangan
 Sama dengan SAK Umum
 Karakteristik Kualitatif Informasi dalam Laporan Keuangan
 Struktur karakteristik kualitatif di SAK ETAP sedikit berbeda dengan SAK Umum, dalam
hal tidak terlihat satu karakteristik menjadi bagian dari karakteristik lain.
 Posisi Keuangan: Aset, Kewajiban, Ekuitas
 Sama dengan SAK Umum
 Kinerja Keuangan: Penghasilan, Beban
 Sama dengan SAK Umum
 Pengakuan Unsur – unsur Laporan Keuangan
 Substansinya serupa dengan bagian awal Pengakuan Unsur Laporan Keuangan di
KDPPLK
 Pengukuran Unsur – unsur Laporan Keuangan
 SAK ETAP hanya menjelaskan 2 dasar pengukuran, yaitu biaya historis dan nilai wajar.
 Prinsip Pengakuan dan Pengukuran Berpengaruh Luas (Pervasif)
 Tidak diatur dalam SAK Umum
 Dasar Akrual
 Penjelasan dasar akrual sama dengan SAK Umum
 Pengakuan dalam Laporan Keuangan
 Substansinya serupa dengan bagian akhir Pengakuan Unsur Laporan Keuangan di
KDPPLK
 Saling Hapus
 Saling hapus tidak diperkenankan atas aset dengan kewajiban, atau penghasilan dengan
beban, kecuali disyaratkan atau diizinkan oleh SAK ETAP.

Laporan Keuangan
1. Penyajian Laporan Keuangan
Penyajian Laporan Keuangan dari SAK ETAP menjelaskan penyajian wajar dari laporan
keuangan yang sesuai dengan persyaratan SAK ETAP, dan pengertian laporan keuangan
yang lengkap. Penyajian Laporan Keuangan dalam SAK ETAP diatur jauh lebih ringkas
dibandingkan PSAK 1: Penyajian Laporan Keuangan.
 Penyajian Wajar
 Secara substantif sama dengan PSAK. Penyajian wajar di SAK ETAP mengacu pada
peraturan pengakuan dalam Konsep dan Prinsip Pervasif.
 Kepatuhan Terhadap SAK ETAP
 Bagian ini mengatur bahwa diperlukan suatu pernyataan eksplisit dan secara penuh
atas kepatuhan terhadap SAK ETAP dalam catatan atas laporan keuangan. Laporan
keuangan tidak boleh menyatakan mematuhi SAK ETAP kecuali mematuhi semua
persyaratan dalam SAK ETAP.
 Kelangsungan Usaha
 Secara substantif sama dengan PSAK.
 Frekuensi Pelaporan
 Secara substantif sama dengan PSAK.
 Penyajian yang Konsisten
 Secara substantif sama dengan PSAK.
 Informasi Komparatif
 Secara substantif sama dengan PSAK.
 Materialitas dan Agregasi
 Secara substantif sama dengan PSAK.
 Laporan Keuangan Lengkap
Laporan keuangan entitas menurut SAK ETAP meliputi:
 Neraca
 Laporan laba rugi
 Laporan perubahan ekuitas
 Laporan arus kas
 Catatan atas pelaporan keuangan
Perbedaan dengan PSAK 1 adalah:
a. PSAK 1 menyebutkan laporan laba rugi dan penghasilan komprehensif lain,
sementara SAK ETAP hanya laporan laba rugi.
b. SAK ETAP tidak mengatur mengenai laporan keuangan komparatif yang
dipersyaratkan apabila suatu entitas menerapkan kebijakan akuntansi yang bersifat
retrospektif.
c. SAK ETAP mengatur apabila entitas hanya mengalami perubahan ekuitas yang
berasal dari laba atau rugi, pembayaran dividen, koreksi kesalahan periode lalu, dan
perubahan akuntansi, maka entitas tersebut dapat menyajikan laporan laba rugi dan
laporan perubahan ekuitas dalam satu laporan gabungan berupa laporan laba rugi
dan saldo laba.

Pengaturan Lainnya
1. Kewajiban Diestimasi dan Kontijensi, Ekuitas, Pendapatan, dan Pajak Penghasilan
SAK ETAP masih menggunakan istilah kewajiban diestimasi, namun pengaturannya sama
dengan provisi dalam PSAK 57 dimana kewajiban diestimasi diakui jika terpenuhi tiga hal
sebagai berikut:
a. Entitas memiliki kewajiban kini atas hasil peristiwa masa lalu
b. Lebih mungkin dibandingkan tidak mungkin terjadi bahwa entitas harus mentransfer
manfaat ekonomis pada saat penyelesaian
c. Jumlah kewajiban dapat diestimasi secara andal.
Pengaturan tentang ekuitas pada SAK ETAP sama dengan PSAK 21, kecuali tidak adanya
pengaturan mengenai reorganisasi dan selisih penilaian kembali.
Pengaturan mengenai pendapatan dalam SAK ETAP serupa dengan pengaturan dalam
PSAK 23, yang mengatur pendapatan dari penjualan barang, penyediaan jasa, kontrak
konstruksi yang juga memungkinkan penerapan metode persentase penyelesaian serta
bunga royalti dan deviden.
Terkait pajak penghasilan pengaturan dalam SAK ETAP jauh lebih sederhana yaitu
menggunakan konsep pajak terutang dibandingkan PSAK 46 yang menggunakan konsep
pajak tangguhan.

2. Sewa
Pengaturan mengenai sewa dalam SAK ETAP hanya mencakup transaksi sewa, tetapi tidak
mengatur transaksi yang mengandung sewa seperti yang dijelaskan dalam ISAK 8. Sewa
diklasifikasikan sebagai sewa pembiayaan jika sewa mengalihkan secara substansial seluruh
manfaat dan resiko kepemilikan aset, seperti yang dijelaskan dalam PSAK 30. Apabila tidak
mengalihkan secara substansial seluruh manfaat dan resikonya maka diklasifikasikan
sebagai sewa operasi.

3. Imbalan Kerja
Imbalan kerja yang diatur dalam SAK ETAP serupa dengan pengaturan pada PSAK 24
dimana terdapat pengaturan imbalan kerja jangka pendek, imbalan pasca kerja, imbalan kerja
jangka panjang lainnya dan pesangon pemutusan kerja. Imbalan paca kerja dalam SAK
ETAP juga dibagi menjadi program imbalan pasti dan program iuran pasti.
Perbedaan signifikan terdapat pada pengukuran kewajiban imbalan pasti dan beban yang
terkait. Dalam SAK ETAP tidak hanya metode projected unit credit yang dibutuhkan untuk
mengukur kewajiban manfaat pasti dan beban terkait, tetapi menambahkan ketentuan bahwa
jika entitas tidak mampu menggunakan metode PUC makan diperkenankan membuat
penyederhanaan pengukuran sebagai berikut:
a. Mengabaikan estimasi kenaikan gaji yang akan datang
b. Mengabaikan jasa akan datang dari pekerja kini
c. Mengasumsikan semua pekerja kini akan menerima manfaat pascakerja; tetapi mortalitas
setelah jasa (usia harapan hidup) tetap perlu dipertimbangkan.

4. Mata Uang Pelaporan dan Transaksi dalam Mata Uang Asing


Pengaturan tentang mata uang pelaporan dalam SAK ETAP sama dengan pengaturan dalam
PSAK 10. Beberapa perbedaan minornya antara lain dalam PSAK 10 tidak menggunakan
istilah mata uang pencatatan, namun karena mata uang pencatatan harus sama dengan mata
uang pelaporan maka tidak terdapat perbedaan antara SAK ETAP dan PSAK 10. Dalam SAK
ETAP hanya menggunakan satu mata uang sebagai mata uang pelaporan sedangkan PSAK
10 menyebutkan bahwa entitas dapat menyajikan laporan keuangan dalam beberapa mata
uang. Perbedaan lainnya adalah SAK ETAP tidak mengatur mengenai penjabaran kegiatan
usaha luar negeri dan pengaruh pajak atas semua selisih nilai tukar. SAK ETAP mengatur
penentuan saldo awal untuk tujuan pencatatan akuntansi dimana perlu dilakukan pengukuran
kembali atas akun-akun laporan keuangan seolah-olah mata uang fungsional tersebut telah
digunakan sejak tanggal terjadinya transaksi.
5. Peristiwa Setelah Akhir Periode Pelaporan dan Pengungkapan Pihak-Pihak yang Mempunyai
Hubungan Istimewa
SAK ETAP mengatur peristiwa setelah akhir periode pelaporan dengan substansi yang
serupa dengan PSAK 8 dimana ada pengaturan untuk peristiwa yang memerlukan
penyesuaian dan yang tidak memerlukan penyesuaian. Hanya saja SAK ETAP tidak
mengatur secara spesifik tentang kelangsungan usaha dan justru mengatur deviden yang
diumumkan setelah tanggal pelaporan.
Terkair dengan pengungkapan pihak-pihak yang mempunyai hubungan istimewa,
pengaturan dalam SAK ETAP sama dengan pengaturan dalam PSAK 7, hanya saja SAK
ETAP tidak mengatur spesifik mengenai entitas yang mempunyai hubungan istimewa dengan
pemerintah.

6. Ketentuan Transaksi
Entitas yang tidak memenuhi persyaratan ETAP tetapi kemudian memenuhi persyaratan
tersebut, dapat menggunakan SAK ETAP baik secara retroprospektif maupun prospektif.
Entitas yang sebelumnya menerapkan SAK umum dan akan menerapkan SAK ETAP secara
prospektif akan:
a. Mengakui semua aset dan kewajiban yang pengakuannya disyaratkan dalam SAK ETAP
b. Tidak mengakui pos-pos sebagai aset atau kewajiban jika SAK ETAP tidak mengizinkan
pengakuan tersebut
c. Mereklasifikasikan pos-pos yang diakui sebagai suatu jenis aset, kewajiban atau
komponen ekuitas yang berbeda berdasarkan SAK ETAP
d. Menerapkan SAK ETAP dalam pengukuran seluruh aset dan kewajiban yang diakui.
Jika kebijakan akuntansi untuk saldo awal berbeda antara sebelum dan sesudah penerapan
SAK ETAP, hasil penyesuaian yang muncul dari transaksi, kejadian atau kondisi lainnya
sebelum tanggal efektif SAK ETAP diakui secara langsung pada saldo laba pada tanggal
penerapan SAK ETAP.

Penerapan SAK ETAP


Kelebihan dan Kekurangan SAK ETAP
Kelebihan SAK ETAP adalah untuk menghemat biaya penyusunan laporan keuangan tanpa
menghilangkan keandalan informasi laporan keuangan tersebut bagi penggunanya, sedangkan
kelemahannya adalah berkurangnya informasi yang dihasilkan (kurang informatif dibandingkan
entitas yang menerapkan SAK Umum).

Praktik Penerapan SAK ETAP


Sejak diterbitkannya, SAK ETAP belum diterapkan dengan dengan baik yang disebabkan oleh
antara lain:
a. Masih ada pemilik UKM yang belum mengetahui keberadaan SAK ETAP
b. Kurangnya sumber daya dan pemahaman mengenai SAK ETAP
c. Tidak adanya keharusan penggunaan SAK ETAP dari pemerintah