Anda di halaman 1dari 23

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Farmasi merupakan salah satu bidang profesional kesehatan yang
merupakan kombinasi dari ilmu kesehatan dan ilmu kimia, yang
mempunyai tanggung jawab memastikan keamanan penggunaan obat.
Ruang lingkup dari praktik farmasi termasuk peracikan dan penyediaan
sediaan obat, serta pelayanan farmasi modern yang berhubungan dengan
layanan terhadap pasien (patient care) di antara layananya klinik, evaluasi,
efikasi dan keamanan penggunaan obat dan penyediaan informasi obat.
Berbicara tentang farmasi tentu sangat erat kaitannya dengan ilmu-
ilmu biologi, karena dalam membahas farmasi dibutuhkan ilmu biologi
sebagai referensi penunjang dalam teori maupun praktek. Khususnya
pembahasan yang berhubungan dengan farmakognosi.
Farmakognosi berasal dari dua kata Yunani yaitu Pharmakon yang
berarti obat dan gnosis yang berarti ilmu atau pengetahuan. Jadi
farmakognosi berarti pengetahuan tentang obat. Sediaan obat yang ada di
pasaran umumnya berbahan dasar bahan alam, khusunya obat tradisional
(WHO, 2002).
Obat tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berupa
bahan tumbuhan, hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran
dari bahan tersebut yang secara turun temurun telah digunakan untuk
pengobatan dan dapat diterapkan sesuai dengan norma yang berlaku di
masyarakat (Permenkes RI No. 007 Tahun 2012), bahan-bahan yang
digunakan tidak mengandung bahan kimia sintetik (WHO, 2002)
Badan Pengawasan Obat dan Makanan (2004) mengelompokkan
obat herbal menjadi tiga bentuk sediaan yaitu sediaan jamu, sediaan herbal
terstandar dan sediaan fitofarmaka. Persyaratan ketiga sediaan berbeda
yaitu untuk jamu pemakaiannya secara empirik berdasarkan pengalaman,
sediaan herbal tersandar bahan bakunya harus distandarisasi dan sudah
diuji farmakologi secara eksperimen, sedangkan sediaan fitofarmaka sama
1
2

dengan obat modern, bahkan harus distandarisasi dan harus melalui uji
klinik.
Produksi, dan penggunaan obat tradisional di Indonesia
memperlihatkan kecenderungan terus meningkat. Perkembangan ini telah
mendorong pertumbuhan usaha di bidang obat. Bersamaan itu upaya
pemanfaatan obat tradisional dalam pelayanan kesehatan formal juga terus
digalakkan melalui berbagai kegiatan uji klinik kearah pengembangan
fitofarmaka (Dirjen POM, 1999).
Obat tradisional mengandung bahan alam yang bervariasi, oleh
karena itu pada praktikum ini kami mengidentifikasi kandungan dari
sediaan obat herbal yang di pasaran kemudian dibandingkan dengan
tanaman yang belum diolah.
I.2 Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Tujuan percobaan
1. Mengidentifikasi serbuk simplisia baik tunggal maupun campuran
dengan menggunakan mikroskop serta menyebutkan ciri-ciri khas
simplisia yang diperiksa.
2. Mengetahui struktur tanaman secara morfologis dan anatomis,
identifikasi tanaman untuk simplisia yang berbentuk kering atau
serbuk secara mikroskopik.
3. Mengetahui keaslian dari obat-obat tradisional yang berada di pasaran.
1.2.2 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami cara mengidentifikasi serbuk simplisisa
baik tunggal maupun campuran baik secara mikroskopik maupun
organoleptis.
I.3 Prinsip Praktikum
Mengidentifikasi serbuk simplisia baik tunggal maupun campuran
dengan melalui uji mikroskopik yang menggunakan mikroskop dengan
melihat struktur anatomi dari sampel. Uji organoleptis dengan cara melihat
warna dari sampel yang akan diamati, mencium aroma sampel, maupun
mengecap rasa dari sampel yang akan diamati.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
3

II.1 Dasar Teori


II.1.1 Definisi Obat Tradisional
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
6 Tahun 2012 tentang Industri dan Usaha Obat Tradisional, obat
tradisional adalah bahan atau ramuan bahan yang berasal dari tumbuhan,
hewan, mineral, sediaan sarian (galenik), atau campuran dari bahan
tersebut yang secara turun temurun digunakan untuk pengobatan sesuai
dengan norma yang berlaku dimasyarakat (Peraturan Menteri Kesehatan
No.6, 2012). Menurut World Health Organization (WHO), pengobatan
tradisional adalah jumlah total pengetahuan, keterampilan, dan praktek,
praktek yangberdasarkan pada teori-teori, keyakinan, dan pengalaman
masyarakat yang mempunyai adat budaya yang berbeda, baik dijelaskan
atau tidak, digunakan dalam pemeliharaan kesehatan serta pencegahan,
diagnosa, perbaikan atau pengobatan penyakit secara fisik dan juga mental
(WHO, 2002). Pengobatan dengan obat tradisional merupakan bagian dari
sistem budaya masyarakat yang manfaatnya sangat besar dalam
pembangunan kesehatan masyarakat.Pengobatan tradisional merupakan
bentuk pelayanan pengobatan yang menggunakan cara, alat atau bahan
yang tidak termasuk dalam standar pengobatan kedokteran modern dan
dipergunakan sebagai alternatif (Harmanto dan Subroto, 2007).
Menurut Peraturan Menteri Kesehatan Republik Indonesia Nomor
7 Tahun 2012 tentang Registrasi Obat Tradisional, bahan atau ramuan
bahan yang dimaksud berasal dari tumbuhan, hewan, mineral, dan sediaan
sarian (galenik) dalam pengertian kefarmasian merupakan bahan yang
digunakan sebagai simplisia. Simplisia adalah bahan alam yang telah
dikeringkan yang digunakan untuk pengobatan dan belum mengalami
pengolahan, kecuali dinyatakan lain suhu pengeringan tidak lebih dari
600°C. Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia dalam
Material Medika Indonesia (1995), simplisia dapat digolongkan menjadi
tiga kategori, yaitu: 3
1. Simplisia Nabati
4

Simplisia nabati adalah simplisia yang berupa tanaman utuh,


bagian tanaman atau eksudat tanaman. Eksudat adalah isi sel yang
keluar dari tanaman atau isi sel yang dikeluarkan dari suatu tanaman
dengan cara tertentu dan belum berupa zat kimia.
2. Simplisia Hewani
Simplisia hewani adalah simplisia yang berupa hewan atau
bagian zat-zat hewan yang berguna dan belum berupa zat kimia murni.
3. Simplisia pelikan (mineral)
Simplisia pelikan adalah simplisia yang berupa pelican atau
mineral yang belum diolah atau telah di olah dengan cara tertentu dan
belum berupa zat kimia.
II.1.2 Jenis Obat Tradisional
Berdasarkan Keputusan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan
Republik Indonesia, Nomor : HK.00.05.4.2411 tentang Ketentuan Pokok.
Pengelompokkan dan Penandaan Obat Bahan Alam Indonesia,Obat
tradisional yang ada di Indonesia dapat dikategorikan menjadi :
a. Jamu
Jamu adalah obat tradisional Indonesia yang tidak memerlukan
pembuktian ilmiah sampai dengan klinis, tetapi cukup dengan pembuktian
empiris atau turun temurun. Jamu harus memenuhi kriteria aman sesuai
dengan persyaratan yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan berdasarkan
data empiris, dan memenuhi persyaratan mutu yang berlaku Contoh :
Tolak Angin,Antangin,Woods’ Herbal,Diapet Anak,dan Kuku Bima
Gingseng.
b. Obat Herbal Terstandar
Obat Herbal Terstandar (OHT) adalah sediaan obat bahan alam yang
telah dibuktikan keamanan dan khasiatnya secara ilmiah dengan uji
praklinik pada hewan dan bahan bakunya telah di standarisasi. Obat herbal
terstandar harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan yang
ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan secara ilmiah atau praklinik, telah
dilakukan standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk
jadi. Contoh : Diapet, Lelap,Fitolac,Diabmeneer,dan Glucogarp.
5

c. Fitofarmaka
Fitofarmaka adalah sediaan obat bahan alam yang dapat
disejajarkan dengan obat modern karena telah dibuktikan keamanan dan
khasiatnya secara ilmiah dengan uji praklinik pada hewan dan uji klinik
pada manusia, bahan baku dan produk jadinya telah di standarisasi.
Fitofarmaka harus memenuhi kriteria aman sesuai dengan persyaratan
yang ditetapkan, klaim khasiat dibuktikan dengan uji klinis,telah dilakukan
standarisasi terhadap bahan baku yang digunakan dalam produk jadi.
Contoh : Stimuno,Tensigard,Rheumaneer, Xgra dan Nodiar.
II.1.3 Sumber Perolehan Obat Tradisional
Di jaman yang sudah modern ini, obat tradisional dapat diperoleh
dari berbagai sumber (Lestari dan Suharmiati, 2006), yaitu :
a. Obat Tradisional Buatan Sendiri
Pada zaman dahulu nenek moyang mempunyai kemampuan untuk
menggunakan ramuan tradisional untuk mengobati keluarga sendiri. Obat
tradisional seperti inilah yang mendasari berkembangnya pengobatan
tradisional di Indonesia. Oleh pemerintah, cara tradisional ini
dikembangkan dalam program TOGA (Tanaman Obat Keluarga). Program
ini lebih mengacu pada self care,yaitu pencegahan dan pengobatan ringan
pada keluarga.
b. Obat Tradisional dari Pembuat Jamu (Herbalis)
1. Jamu Gendong
Salah satu penyedia obat tradisional yang paling sering ditemui
adalah jamu gendong. Jamu yang disediakan dalam bentuk minuman ini
sangat digemari oleh masyarakat. Umumnya jamu gendong menjual
kunyit asam, sinom, mengkudu, pahitan, beras kencur, cabe puyang,
dan gepyokan
2. Peracik Jamu
Bentuk jamu menyerupai jamu gendong tetapi kemanfaatannya
lebih khusus untuk kesehatan, misalnya untuk kesegaran,
menghilangkan pegal linu, dan batuk.
6

3. Obat Tradisional dari Tabib


Dalam praktik pengobatannya, tabib menyediakan ramuannya
yang berasal dari tanaman. Selain memberikan ramuan, para tabib
umumnya mengombinasikan teknik lain seperti spiritual atau
supranatural.
4. Obat Tradisional dari Shinse
Shinse merupakan pengobatandari etnis Tionghoa yang
mengobati pasien dengan menggunakan obat tradisional. Umumnya
bahan-bahan tradisional yang digunakan berasal dari Cina. Obat
tradisional Cina berkembang baik di Indonesia dan banyak diimpor.
5. Obat Tradisional Buatan Industri
Departemen kesehatan membagi industri obat tradisional menjadi
2 (dua) kelompok, yaitu Industri Kecil Obat Tradisional (IKOT) dan
Industri Obat Tradisional (IOT). Industri farmasi mulai tertarik untuk
memproduksi obat tradisional dalam bentuk sediaan modern berupa
obat herbal terstandar (OHT) dan fitofarmaka seperti tablet dan
kapsul.

II.3 Uraian Tanaman


a. Klasifikasi Jambu Biji (Psidium guajava) (Parimin, 2005)

Regnum : Plantae
Divisi : Spermatophyta
Subdivisi : Angiospermae
Kelas : Dicotyledonae
Famili : Myrtaceae
Genus : Psidium Gambar 2.5.1
Spesies : Psidium guajava Linn Psidium guajava

b. Morfologi Tumbuhan (Anggraini, 2010)


7

Jambu biji berasal dari Amerika tropik, tumbuh pada tanah yang
gembur maupun liat, pada tempat terbuka, dan mengandung air yang cukup
banyak. Tanaman jambu biji (P. Guajava L.) ditemukan pada ketinggian 1m
sampai 1.200 m dari permukaan laut. Jambu biji berbunga sepanjang tahun.
Perdu atau pohon kecil, tinggi 2 m sampai 10 m, percabangan banyak.
Batangnya berkayu, keras, kulit batang licin, berwarna coklat kehijauan
c. Kandungan Kimia Tumbuhan (Renata, 2012)
Daun jambu biji memiliki kandungan flavonoid yang sangat tinggi,
terutama quercetin. Senyawa tersebut bermanfaat sebagai antibakteri,
kandungan pada daun Jambu biji lainnya seperti saponin, minyak atsiri,
tanin, anti mutagenic, flavonoid, dan alkaloid
d. Manfaat Tumbuhan (Setiawan, 2000)
Daun jambu biji ternyata memiliki khasiat tersendiri bagi tubuh kita,
baik untuk kesehatan ataupun untuk obat penyakit tertentu. Dalam
penelitian yang telah dilakukan ternyata daun jambu biji memiliki
kandungan yang banyak bermanfaat bagi tubuh kita. Diantaranya, anti
inflamasi, anti mutagenik, anti mikroba dan analgesik. Pada umumnya daun
jambu biji (P. Guajava L.) digunakan untuk pengobatan seperti diare akut
dan kronis, perut kembung pada bayi dan anak, kadar kolesterol darah
meninggi, sering buang air kecil, luka, sariawan, larutan kumur atau sakit
gigi dan demam berdarah.9 Berdasarkan hasil penelitian, telah berhasil
diisolasikan suatu zat flavonoid dari daun jambu biji yang dapat
memperlambat penggandaan (replika) Human Immunodeficiency Virus
(HIV) penyebab penyakit AIDS. Zat ini bekerja dengan cara menghambat
pengeluaran enzim reserved transriptase yang dapat mengubah RNA virus
menjadi DNA di dalam tubuh manusia.
III.2 Uraian Bahan
1. AQUADEST (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUA DESTILATA
Nama lain : Air suling
Berat molekul : 18,02 g/mol
8

Rumus struktur :

H-O-H
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau, tidak `
mempunyai rasa
Kegunaan : Sebagai pelarut
2. Aethanolum (Dirjen POM, 1979; Rowe, 2009)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama sinonim : Alcohol,Etanol
Rumus molekul : C2H6O
Berat molekul : 46,07
Rumus Struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas, mudah
terbakar dengan memberikan nyala biru yang tidak
berasap
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam kloroform p,
dan dalameter p.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Untuk mensterilkan alat
Khasiat : Zat tambahan
9

BAB III
METODE KERJA
III.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
1. Buku materia Medika
2. Cover glass
3. Cutter
4. Kaca objek
5. Mikroskop
6. pipet
7. Cutter
8. Kaca objek
9. Mikroskop
10. Pipet
III.1.2 Bahan
1. Alkohol 70%
2. Aquadest
3. Jamu Diapet
4. Tanaman utuh jambu
5. Simplisia jambu
6. Tisu
III.2 Cara Kerja
10

III.2.1 Organoleptik
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Diamati warna dari jamu diapet
4. Diambil sedikit jamu diapet kemudian dekatkan dihidung kalian.
Ditentukan aroma yang anda rasakan
5. Diambil sedikit jamu diapet kemudian gunakanlah lidah anda untuk
merasakan jamu tersebut. Ditentukan rasa yang anda temukan dari
serbuk tersebut
III.2.2 Uji Mikroskopik
1. 10 akan digunakan
Disiapkan alat dan bahan yang
2. Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
3. Diiris setipis mungkin daun jambu dengan menggunakan silet
kemudian diletakan dikaca objek
4. Ditetesi aquadest dan ditutup menggunakan cover glass
5. Diamati susunan anatomi dari daun jambu tersebut menggunakan
mikroskop
6. Diambil sedikit serbuk simplisia jambu
7. Diletakan di atas kaca objek
8. Ditetesi aquadest dan ditutup menggunakan cover glass
9. Diamati susunan anatomi dari serbuk simplisia jambu tersebut
menggunakan mikroskop
10. Diambil sedikit jamu diapet
11. Diletakan di atas kaca objek
12. Ditetesi aquadest dan ditutup menggunakan cover glass
13. Diamati susunan anatomi dari jamu diapet tersebut menggunakan
mikroskop
14. Disesuaikan dan samakan bagian dari anatomi daun jambu, serbuk
simplisia jambu dan jamu diapet yang anda peroleh
15. Disesuaikan hasil yang diperoleh menggunakan literatur Materia
Medika Indonesia
11

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
IV.1.1 Uji Mikroskopik
No Sampel Gambar Literatur (Depkes RI,
1995)
1 Daun jambu

b a c d a b

Ket: Ket:

a = Hablur kalsium a = Hablur kalsium

oksalat oksalat

b = Kelenjer lisigen b = Epidermis atas


c = Rambut penutup
d = Kelenjer lisigen
2 Serbuk
simplisia
daun jambu

a
a

Ket: Ket:

a = Rambut penutup a = Rambut penutup

12
12

3 Jamu diapet

a b b a

Ket: Ket:
a = Epidermis atas a = Epidermis atas
b = Mesofil b = Mesofil

IV.1.2 Uji Organoleptik


Sampel Daun Jambu Biji (Psidium guajava Folium)
No
Pasaran Literature (Depkes RI,
1979)

1. Warna : berwarna kuning Warna : berwarna kuning

2. Bau : Berbau Aromatik/khas Bau : Berbau Aromatik/khas jamu


jamu
3.
Rasa : sepet Rasa : sepet

IV.2 Pembahasan
Uji Mikroskopik yaitu dilakukan dengan menggunakan mikroskop
yang derajat pembesarannya disesuaikan dengan keperluan. Simplisia yang
diuji dapat berupa sayatan melintang, radial, paradermal maupun
membujur atau berupa serbuk. Pada uji mikroskopik dicari unsur-unsur
anatomi jaringan yang khas. Dari pengujian ini akan diketahui jenis
simplisia berdasarkan fragmen pengenal yang spesifik bagi masing-masing
simplisia (Egon, 1985).
Pada praktikum kali ini, kami melakukan percobaan untuk mengetahui
struktur tanaman secara morfologi dan anatomi pada tanaman basah Jambu
Biji (Psidium guajava). Hal pertama yang dilakukan yaitu menyiapkan alat
13

dan bahan serta membersihkan dengan alkohol 70% karena menurut Salim
(2013), ini berguna agar menghilangkan semua jenis organisme hidup
yang terdapat dalam alat yang akan digunakan.
Langkah kedua, sampel diiris setipis mungkin dengan menggunakan
silet. Menurut Djoko (2006), dalam pengamatan menggunakan
miksroskop bahan yang akan diamati, diiris setipis mungkin agar dapat
terlihat secara jelas struktur yang akan diamati.
Setelah itu diletakan di atas kaca objek karena menurut Widyamoko
(2008), kaca objek berfungsi sebagai tempat objek atau preparat yang
akan diamati sehingga objek akan lebih jelas ketika diamati. Selanjutnya
ditetesi dengan aquadest dan ditutup dengan cover glass. Menurut
Widyamoko (2008) hal ini bertujuan untuk menutupi objek objek atau
preparat yang akan diamati sehingga saat dilakukan pengamatan objek
tidak terkontaminasi dengan media luar.
Langkah selanjutnya mengamati susunan anatomi yang diperoleh
mikroskop menggunakan perbesaran 40, lalu digambar hasil pengamatan
anatomi yang diperoleh. Selanjutnya diambil sedikit serbuk diletakkan
diatas kaca objek lalu diamati susunan anatomi dari serbuk tersebut.
Setelah diamati gambar yang kami dapatkan pada dimikroskop telah
sesuai dengan literatur. Adapun hasil yang didapat pada uji mikroskopik
daun jambu (Psidium guajava) yaitu hablur kalsium oksalat dan kelenjer
lisegen (Depkes RI, 1980).
Langkah selanjutnya pengamatan pada sampel jamu Diapet. Hasil
yang didapat yaitu terdapat epidermis atas dan mesofil. Menurut literatur
sampel jamu diapet terdapat epidermis, mesofil, rambut penutup, dan
jaringan air.. Ini menandakan bahwa sampel jamu tersebut mengandung
daun jambu biji.
Selanjutnya dilakukan uji mikroskopik pada serbuk simplisia. Hasil
yang didapatkan pada alat mikroskop, berwarna coklat kekuningan,
beralur memanjang dan kadang ada serat yang bebas. Menurut literatur
14

hasil yang didapatkan berupa rambut penutup. Ini menandakan bahwa


hasil yang kami dapat telah sesuai dengan literatur (Depkes RI, 1980).
Selanjutnya uji yang dilakukan yaitu uji organoleptis. Uji organoleptis
adalah uji yang dilakukan untuk melihat warna, bau dan rasa yang
terdapat ada sampel (Depkes RI, 1980).
Hal pertama yang di lakukan yaitu menguji warna, rasa, bau pada obat
herbal diapet. Yang pertama di lakukan melihat warna dari diapet. Warna
dari diapet yaitu kuning pucat, di karenakan mengandung bahan tambahan
kunyit sehingga menyebabkan warna dari diapet menjadi kuning.
Selanjutnya uji rasa, rasa dari diapet adalah rasa khas obat herbal yaitu
pahit. Kemudian uji bau, bau dari obat diapet yaitu bau khas dari kunyit,
karena mengandung bahan tambahan kunyit dan kunyit sendiri bahan
dasar dari pembuatan jamu.
15

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
1. Ciri khas dari simplisia daun jambu biji yaitu memiliki bau menyengat
seperti rempah-rempah, tawar dan berwarna hijau. Sedangkan pada
serbuk sediaan berwarna kuning, berbau aromatik atau khas jamu dan
mempunyai rasa sepet.
2. Morfologi daun jambu biji yaitu memiliki daun berbentuk bulan oval,
berwarna hijau, memiliki tulang daun yang panjang. Dan anatomi yang
didapatkan pada identifikasi mikroskopik yaitu terdapat hablur kalsium
oksalat dan kelenjer lisigen
3. Berdasarkan hasil pengamatan kami, pada sediaan diapet daun jambu
biji terbukti mengandung bahan daun jambu biji.
V.2 Saran
V.2.1 Saran untuk jurusan
Saran kami kepada pihak jurusan agar segera memperhatikan keadaan
laborotorium dan melengkapi alat-alat praktikum yang masih kurang untuk
kepentingan bersama.
V.2.2 Saran untuk laboratorium

Saran kami kepada laboratorium bahan alam agar diperketat


kembali peraturan laboratorium agar orang yang tidak berkepentingan
dilarang masuk laboratorium yang akan mengganggu aktivitas praktikan di
dalam laboratorium.

16
16

DAFTAR PUSTAKA
Depkes RI. 1995. Materia Medika Indonesia Jilid VI. Jakarta: Direktorat Jendral
Pengawasan Obat dan Makanan

Dirjen, POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta : Departemen


Kesehatan RI

Harmanto, Ning & Subtorto, M. 2007. Pilih Jamu dan Herbal Tanpa Efek
Samping. Cetakan Pertama Elekmedia.

WHO. 2002. Medical Record Manual a Guide For Developing Countries. World
Health Organization.

Parimin. 2005. Jambu Biji Budi Daya dan Ragam Pemanfaatannya. Penebar
Swadaya : Jakarta

Peraturan Menteri Kesehatan No. 007. 2012. Registrasi Obat Tradisional. Jakarta.

Renata Ayuni. 2012 Khasiat Selangit Daun-Daun Ajaib Tumpas Beragam


Penyakit. Alaska : Yogyakarta

Rowe, Rymond, C, et all. 2009. Handbook Pharmaceutical Excipient Six Edition.


Published by the Pharmaceutical Press

Septia Anggraini. 2010. Optimasi Formula Fast Disintegrating Tablet Ekstrak


Daun Jambu Biji (Psidium Guajava L.) Dengan Bahan Penghancur Sodium
Starch Glycolate Dan Bahan Pengisi Manitol. Universitas Muhammadiyah
Surakarta : Surakarta

Setiawan Dalimartha. 2000. Atlas Tumbuhan Obat di Indonesia, Trubus


Agriwidya : Jakarta

Suharmiati dan Handayani, L,. 2006. Cara Benar Meracik Obat Tradisional. Ago
Pustaka : Jakarta.
17

LAMPIRAN
1. Alat dan Bahan
1.1 Alat

Buku materia Medika Cover glass Cutter

Kaca objek Mikroskop Pipet

1.2 Bahan

Akohol 70% Aquadest Tanaman utuh jambu


18

Diapet Serbuk simplisia jambu Tisu


19

2. Skema Kerja
2.1 Organoleptik
Jamu diapet

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


- Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
- Diamati warna dari jamu diapet
- Diambil sedikit jamu diapet kemudian dekatkan dihidung
kalian. Ditentukan aroma yang anda rasakan
- Diambil sedikit jamu diapet kemudian gunakanlah lidah anda
untuk merasakan jamu tersebut. Ditentukan rasa yang anda
temukan dari serbuk tersebut

Warna: kuning pucat


Aroma: bau khas kunyit
Rasa: Pahit

2.2 Uji Mikroskopik


Daun jambu , serbuk simplisia
jambu, jamu diapet
20

- Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan


- Dibersihkan alat menggunakan alkohol 70%
- Diiris setipis mungkin daun jambu dengan menggunakan
silet kemudian diletakan dikaca objek
- Ditetesi aquadest dan ditutup menggunakan cover glass
- Diamati susunan anatomi dari daun jambu tersebut
menggunakan mikroskop
- Digambar struktur anatomi yang kalian dapatkan
- Diambil sedikit serbuk simplisia jambu
- Ditelakan di atas kaca objek
- Ditetesi aquadest dan ditutup menggunakan cover glass
- Diamati susunan anatomi dari serbuk simplisia jambu
tersebut menggunakan mikroskop
- Digambar anatomi yang kalian peroleh
- Diambil sedikit jamu diapet
- Ditelakan di atas kaca objek
- Ditetesi aquadest dan ditutup menggunakan cover glass
- Diamati susunan anatomi dari jamu diapet tersebut
menggunakan mikroskop
- Digambar anatomi yang kalian peroleh
- Disesuaikan dan samakan bagian dari anatomi daun jambu,
serbuk simplisia jambu dan jamu diapet yang anda peroleh
- Disesuaikan hasil yang diperoleh menggunakan literatur
Materia Medika Indonesia

Anatomi daun jambu, anatomi


serbuk simplisia, anatomi jamu
diapet

3. Diagram Alir
3.1 Uji Organoleptik
21

Disiapkan bahan yang Diamati warna dari jamu


digunakan diapet

Ditentukan aroma dari jamu


Ditentukan rasa dari jamu diapet
diapet

3.3 Uji Mikroskopik

Disiapkan alat dan bahan yang Dibersihkan menggunakan


akan digunakan aquadest 70%
22

Ditetetsi aquadest dan ditutup Diiris setipis mungkin,


menggunakan cover glass diletakan di kaca objek

Diamati menggunakan Diambil serbuk simplisia,


mikroskop dileletakan pada kaca obejk

Diamati menggunakan Ditetetsi aquadest dan ditutup


mikroskop menggunakan cover glass
23

Diambil jamu diapet, Ditetetsi aquadest dan ditutup


dileletakan pada kaca objek menggunakan cover glass

Disesuaikan dengan literatur Diamati menggunakan


Materia Medika Indonesia mikroskop