Anda di halaman 1dari 10

AKUNTANSI KEUANGAN LANJUTAN

KELOMPOK 2
 Ida Bagus Sugita Adi (1607532102)
 Ni Putu Indriyani Permata Indah (1607532110)
 Made Aida Pradnyadevi (1607532111)
 Ni Luh Putu Jessika Andani Mertha (1607532112)
 Putu Monica Anjayani (1607532145)
 I Wayan Sukardika (1607532148)

Fakultas Ekonomi dan Bisnis


Universitas Udayana
Program Non Reguler
2018
AGEN PENJUALAN DAN KANTOR CABANG
Masalah teknis antara agen dan kantor cabang seringkali digunakan untuk menjelaskan
perbedaan keduanya. Kegiatan agen ialah memamerkan barang dagangan dan menangani
pesanan pelanggan, mereka tidak mempunyai persediaan untuk memenuhi pesanan
pelanggan ataupun untuk menangani kredit pelanggan. Agen bukan merupakan entitas
akuntansi dan juga bukan kesatuan usaha yang terpisah. Biasanya. Pencatatan akuntansi
yang diperlukan untuk kegiatan agen ini hanya penerimaan dan pengeluaran kas, yang
diperlakukan sama seperti sistem kas kecil. Pencatatan atas penjualan yang dilakukan oleh
agen, biaya-biaya yang berhubungan dengan penjualan, dan biaya lain-lain dicatat oleh
sistem akuntansi kantor pusat.
Sebaliknya, kantor cabang memiliki persediaan, melakukan penjualan kepada pelanggan,
menangani kredit pelanggan, menagih piutang, mencatat biaya yang terjadi, dan kegiatan-
kegiatan lain yang biasa dilakukan suatu perusahaan. Kegiatan-kegiatan tersebut dicatat
berdasarkan sistem akuntansi kantor cabang.
Kegiatan kantor cabang yang besar kebanyakan merupakan hasil dari penggabungan usaha,
dimana perusahaan yang survive membuka kantor cabang untuk diperbantukan dalam
operasi perusahaan gabungan yang telah dibubarkan. Dalam hal ini sistem informasi yang
ada bisa dikonversikan dengan sedikit penyesuaian menjadi sistem akuntansi kantor
pusatdan cabang. Metode penggabungan sistem akuntansi ini banyak membawa
penghematan karena terhindar dari perubahan besar pada sistem akuntansi yang ada dan
gangguan pada operasi usaha. Metode ini juga memudahkan untuk menutup kantor cabang
jika diketahui tidak menguntungkan.
Meskipun perbedaan teknis dalam menggolongkan agen dan kantor cabang sangat penting
untuk kegiatan pemasaran, periklanan, dan tujuan usaha lainnya, tetapi untuk tujuan
akuntansi perbedaan ini tidak banyak pengaruhnya. Beberapa agen memiliki persediaan,
ada kantor cabang yang memiliki tanggung jawab terbatas untuk melakukan pencatatan
maupun untuk menyetujui pemberian kredit kepada konsumen. Banyak perusahaan yang
mempunyai kantor cabang tetapu tetap melakukan pelayanan kredit pelanggan dan
penagihan secara terpusat, kadang berdasarkan letak wilayah, kadang bisa berdasarkan
penyebaran perusahaan. Sistem akuntansi untuk perusahaan yang letaknya berjauhan,
apakah itu agen atau kantor cabang, harus dirancang sedemikian rupa agar informasi yang
diperlukan bisa didapat dengan biaya seekonomis mungkin.

SISTEM AKUNTANSI KANTOR CABANG


Akuntansi kantor cabang membagi sistem akuntansi perusahan secara terpisah antara kantor
pusat dan kantor cabang. Kantor pusat terdiri dari unit akuntansi pusat untuk perusahaan,
sedangkan kantor cabang terdiri dari tambahan sistem akuntansi untuk mencatat kegiatan
setiap cabang. Sistem kantor pusat dan kantor cabang yang terpisah digunakan untuk tujuan
akuntansi dan pelaporan internal, tetapi laporan keuangan kantor pusat dan cabang yang
terpisah harus disatukan untuk memenuhi kebutuhan akan pelaporan keuangan eksternal.

SISTEM AKUNTANSI KANTOR CABANG


Akuntansi kantor cabang membagi sistem akuntansi perusahan secara terpisah antara kantor
pusat dan kantor cabang. Kantor pusat terdiri dari unit akuntansi pusat untuk perusahaan,
sedangkan kantor cabang terdiri dari tambahan sistem akuntansi untuk mencatat kegiatan
setiap cabang. Sistem kantor pusat dan kantor cabang yang terpisah digunakan untuk tujuan
akuntansi dan pelaporan internal, tetapi laporan keuangan kantor pusat dan cabang yang
terpisah harus disatukan untuk memenuhi kebutuhan akan pelaporan keuangan eksternal.
Transaksi antara Kantor Pusat dan Cabang
Transaksi antara kantor pusat dengan satuan usaha lainnya dicatat dengan prosedur akuntansi
kantor pusat seperti biasa. Begitu juga halnya dengan transaksi yang terjadi antara kantor
cabang dengan satuan usaha yang tidak berhubungan. Semua transaksi dicatat menurut
prosedur akuntansi yang telah ditetapkan. Hal yang unik dari akuntansi kantor pusat dan
cabang terletak pada pencatatan transaksi yang terjadi antara kantor pusat dengan kantor
cabang.
Pembentukan kantor cabang yang baru memerlukan pencatatan, baik dalam buku kantor
pusat maupun dalam buku cabang. Asumsikan PT Enervon mendirikan kantor cabang di
Surabaya dengan mentransfer kas sebesar Rp5.000.000 dan peralatan Rp10.000.000 kepada
manajer kantor cabang. Ayat jurnal pada buku kantor pusat dan cabang masing-masing:

Buku Kantor Pusat :


Cabang Surabaya Rp 15.000.000
Kas Rp5.000.000
Peralatan 10.000.000
Untuk mencatat transfer kas dan peralatan ke cabang

Buku Kantor Cabang:


Kas Rp 5.000.000
Peralatan 10.000.000
Kantor pusat Rp 15.000.000
Untuk mencatat penerimaan kas dan peralatan dari kantor pusat

Pencatatan transfer barang dagangan dari kantor pusat ke cabang menghasilkan dua akun
resiprokal tambahan. Akun Pengiriman ke Cabang adalah akun “Lawan pembelian” pada
buku kantor pusat, dana kun Pengiriman dari Kantor pusat merupakan akun “Pembelian
kantor cabang’’. Akun-akun ini digunakan untuk mementukan harga pokok penjualan dari
kantor pusat dan cabang secara terpisah, tetapi karena mereka resiprokal, maka harus
dieliminasi dalam menyusun laporan keuangan perusahaan.

Ilustrasi Akuntansi Kantor Pusat dan Cabang


Misalkan PT Javalas mendirikan cabang baru di Bandung pada awal 19X1 dan transaksi yang
terjadi selama tahun 19X1 adalah sebagai berikut:
1. Menerima kas dari kantor pusat Rp20.000.000
2. Membeli peralatan berumur ekonomis 5 tahun Rp 10.000.000 secara tunai
3. Menerima pengiriman barang dagangan dari kantor pusat dengan harga pokok
Rp16.000.000
4. Membeli barang dagangan dari pemasok luar Rp4.000.000 secara tunai
5. Menjual barang dagangan Rp30.000.000 secara tunai
6. Mengembalikan barang dagangan ke kantor pusat Rp 1.000.000
7. Membayar biaya-biaya:
Gaji Rp6.000.000
Utilitas 1.000.000
Sewa 3.000.000
Lain – lain 2.000.000
8. Mengirim Rp15.000.000 ke kantor pusat
9. Hutang gaji pada akhir tahun Rp1.000.000 dan penyusutan untuk tahun itu
Rp2.000.000
10. Persediaan barang dagangan cabang pada akhir tahun terdiri dari Rp1.000.000 berasal
dari pemasok luar dan Rp5.000.000 diperoleh dari kantor pusat

Ayat Jurnal Jurnal untuk mencatat transaksi-transaksi dan peristiwa akhir tahun yang
berhubungan pada buku kantor cabang Bandung diberikan pada Peraga 12-1.
Jurnal penutup untung Cabang Bandung terdiri dari Rp2.000.000 kredit untuk akun
kantor pusat. Jumlah ini sama dengan pendapatan cabang untuk periode tersebut dan
menggambarkan kenaikan aktiva bersih dari kegiatan cabang. Jurnal penyesuaian pada
buku kantor pusat mendebet akun Cabang Bandung dengan Rp2.000.000 dan mengkredit
Laba Cabang Bandung. Ayat jurnal penyesuaian kantor pusat ini ekivalen dengan jurnal
perusahaan induk pada saat mencatat kepemilikannya pada perusahaan anak yang
menggunakan metode ekuitas.

Perhitungan Harga Pokok Penjualan Ayat jurnal yang diilustrasikan pada peraga 12-1
didasarkan pada prosedur persediaan periodik yang menyediakan informasi rinci
mengenai transfer barang dagangan antara kantor pusat dengan cabang. Informasi rinci
dapat digunakan dalam kertas kerja untuk menggabungkan akun kantor pusat dan cabang
untuk laporan keuangan eksternal. Pengelompokan data persediaan, pembelian dan
pengiriman secara terpisah dalam harga pokok penjualan individu, memudahkan dalam
penyusunan kertas kerja. Perhitungan harga pokok penjualan untuk kantor pusat dan
cabang PT Javalas adalah sebagai berikut:

Kantor pusat kantor


Cabang bandung

Persediaan, 1 januari 19X1 Rp 85.000.000 -


Pembelian 150.000.000 Rp 4.000.000
Pengiriman ke Cabang (15.000.000) -
Pengiriman dari Kantor Pusat - 15.000.000
Barang tersedia untuk dijual 220.000.000 19.000.000
Persediaan, 31 Desember 19X1 (80.000.000) (6.000.000)

Harga pokok penjualan Rp140.000.000 Rp13.000.000


Kantor Cabang Penyesuaian Laba Rugi Laba Neraca
Pusat Bandung dan Ditahan
eliminasi
Debet Rp. 41.000 Rp 9.000 Rp 50.000
kas
Piutang dagang 60.000 60.000
Persediaan – akhir 80.000 6.000 56.000
Tanah 20.000 20.000
Gedung – neto 100.000 100.000
Peralatan – neto 52.000 8.000 60.000
Cabang Bandung 22.000 2.000

Harga pokok penjualan 140.000 13.000 Rp 153.000


Biaya gaji 43.000 7.000 50.000
Biaya penyusutan – gedung 5.000 5.000
Biaya penyusutan – 8.000 2.000 10.000
peralatan
Biaya utilitas 6.000 1.000 7.000
Biaya sewa 2.000 3.000
Biaya lain-lain 8.000 2.000 10.000
Deviden 10.000 Rp 10.000
Rp595.000 Rp51.000 Rp376.000
Kredit hutang dagang Rp 50.000 Rp 50.000
Hutang gaji 4.000 Rp 1.000 5.000
Model saham 200.000 200.000
Laba ditahan 110.000 110.000
Kantor pusat 20.000 20.000
Penjualan 229.000 30.000 59.000
Laba cabang bandung 2.000 2.000
Rp595.000 Rp51.000
Laba bersih Rp 21.000 21.000
Laba ditahan 31 Desember Rp 121.000 121.000
19x1
Rp376.000
*Dikurangkan

Data pembelian dan persediaan kantor pusat yang tercakup dalam perhitungan harga pokok
penjualan diberikan tanpa penjelasan. Ini sama denganayat jurnal pada kertas kerja
konsilidasi yang digunakan untuk mengeliminasi pendapatan dari perusahaan anak dari
investasi perusahaan induk di buku perusahaan anak.
Ayat jurnal yang sama juga digunakan untuk menggabungkan akun kantor pusat dan
kantor cabang pada Peraga 12-3, yang menggunakan format laporan keuangan. Dalam format
laporan keuangan, kolom laba ditahan tidak disediakan, untuk itu diperlukan perubahan laba
ditahan pada kertas kerja menunjukkan perubahan pada akun kantor pusat yang berasal dari
hasil operasi. Ayat jurnal a pada peraga 12-3 mengembalikan saldo Cabang Bandung menjadi
Rp20.000.000, yaitu jumlah sebelum disesuaikan, yang kemudian dieleminasi dengan ayat
jurnal b. Aspek-aspek lain dari kertas kerja kantor pusat cabang ini sama dengan yang ada
pada kertas kerja perusahaan induk dan perusahaan anak. Normalnya, hanya laporan
keuangan gabungan yang menggambarkan posisi keuangan dan hasil operasi perusahaan
sebagai satu kesatuan yang digunakan untuk pelaporan kepada pihak eksternal.

PENGIRIMAN BARANG DAGANGAN DI ATAS HARGA POKOK


Pengiriman ke Cabang Dicatat pada Harga Pokok
Ketika kantor pusat mengirim barang dagangan kepada cabangnya dengan harga transfer di
atas harga pokok, pencatatan akuntansi pada buku kantor pusat harus disesuaikan dengan
biaya actual dari barang yang dikirim. Ini dilakukan melalui akun “tambahan laba cabang”
atau laba yang belum direalisasi. Sebagai contoh, kantor pusat PT Fabiola mengirim barang
dagangan sejumlah Rp100.000.000 ke cabangnya di Tegal dengan mark-up sebesar 20% di
atas harga pokok. Ayat jurnal yang harus dibuat :
Buku Kantor Pusat
Cabang Tegal Rp120.000.000
Pengiriman ke cabang tegal Rp100.000.000
Laba belum direalisasi cabang tegal Rp20.000.000
Untuk mencatat pengiriman ke cabang tegal 120% dari harga pokok
Buku Kantor Cabang Tegal
Pengiriman dari kantor pusat Rp120.000.000
Kantor pusat Rp120.000.000
Untuk mencatat penerimaan persediaan dari kantor pusat

Misaalnya saldo akun dibawah ini muncul pada buku PT Fabiola dan cabang tanggal
31 Desember 19x1 sebelum penyesuaian :
Buku Kantor Pusat
Cabang tegal Rp200.000.000 debit
Pengiriman kecabang tegal Rp 100.000.000 kredit
Laba belum direalisasi cabang tegal Rp 20.000.000 kredit
Buku Kantor Cabang Tegal
Penjualan Rp160.000.000 kredit
Pengiriman dari kantor pusat Rp120.000.000 debit
Biaya Rp30.000.000 debit
Kantor pusat Rp200.000.000 kredit

Apabila cabang tegal tanggal 31 desember 19x1 mempunyai persediaan pada harga
transfer sebesar Rp12.000.000, maka laba untuk periode tersebut adalah Rp22.000.000
(penjualan Rp160.000.000 dikurangi harga pokok penjualan Rp108.000.000 dan biaya
Rp30.000.000). Ayat jurnal penutup pada cabang :
Penjualan Rp160.000.000
Persediaan 31 desember 19x1 12.000.000
Pengiriman dari kantor pusat Rp120.000.000
Biaya Rp30.000.000
Kantor pusat Rp22.000.000
Untuk menutup akun nominal dan mentransfer saldo ke akun kantor pusat
Informasi ini digunakan oleh kantor pusat untuk mencatat laba cabang :
Cabang tegal Rp22.000.000
Laba cabang tegal Rp22.000.000
Mencatat laba cabang dan memperbarui akun cabang
Kantor pusat juga menyesuaikan akun laba belum direalisasinya untuk mendapatkan
Rp2.000.000 Laba yang belum direalisasi pada persediaan akhir cabang [Rp12.000.000 –
(Rp12.000.000/120%)].
Laba belum direalisasi cabang tegal Rp18.000.000
Laba cabang tegal Rp18.000.000
Untuk menesuaikan akun laba belum direalisasi (Rp20.000.0000 – Rp 2.000.000) dan laba
cabang
Setelah ayat jurnal ini dibukukan, akun laba belum direalisasi akan memiliki saldo
Rp2.000.000 sama dengan saldo laba yang belum direalisasi pada persediaan cabang tegal.
Akun laba cabang tegal menunjukan saldo Rp40.000.000. jumlah ini merupakan laba cabang
berdasarkan harga pokok pehitungannya adalah demikian :
Penjualan Rp160.000.000
Pengiriman ke cabang Rp100.000.00
Dikurangi : persediaan (harga pokok) Rp10.000.000 Rp90.000.000
Laba kotor Rp70.000.000
Biaya lain – lain Rp30.000.000
Laba cabang Rp40.000.000

Pengiriman ke Cabang Dicatat pada Harga Penagihan (Billing Prices) Untuk lebih
jelas, anggaplah PT Fabiola mengirim barang ke cabang tegal dengan harga pengihan :
Buku kantor pusat
Cabang tegal Rp120.000.000
Pengiriman ke cabang tegal Rp120.000.000
Dengan jurnal ini akun pengiriman kantor pusat dan cabang akan memiliki saldo yang
sama, tetapi diperlukan dua ayat jurnal penyesuaian akhir tahun :
Buku kantor pusat
Pengiriman ke cabang tegal Rp20.000.000
Laba belum direalisasi cabang tegal Rp20.000.000
Untuk menyesuaikan pengiriman dengan basis biaya
Laba belum direalisasi cabang tegal Rp18.000.000
Laba cabang tegal Rp18.000.000
Untuk menyesuaikan laba cabang atas realisasi mark-up pada pengiriman ke cabang

BIAYA PENGIRIMAN
Biaya pengiriman barang ke lokasi akhir penjualan merupakan elemen penting bagi biaya
persediaan barang dan harga pokok penjualan. Ongkos kirim dari kantor pusat ke cabang
harus dimasukan dalam perhitungan persediaan cabangdan harga pokok penjualan. Misalkan
barang dagangan dikirim dari kantor pusat kecabang senilai 125% dari harga pokok
Rp10.000.000, dan kantor pusat membayar ongkos kirim sebesar Rp500.000. berikut ini ayat
jurnal yang harus dibuat pada buku kantor pusat dan cabang :
Buku kantor pusat
Cabang Rp13.000.000
Pengiriman ke cabang
Rp10.000.000
Laba belum direalisasi cabang
Rp2.500.000
Kas Rp500.000
Mencatat pengiriman ke cabang
Buku cabang
Pengiriman dari kantor pusat Rp12.500.000
Biaya pengiriman Rp500.000
Kantor pusat
Rp13.000.000
Untuk mencatat penerimaan barang dari kantor pusat
Apabila setengah dari barang tersedia tidak terjual pada akhir tahun, penjualan cabang
dilaporkan sejumlah RP6.500.000, dan persediaan cabang dihargai Rp6.250.000 (harga
pokok) ditambah ongkos kirim Rp250.000, persediaan cabang dan harga pokok penjualan
cabang juga dilaporkan dalam jumlah yang sama apabila yang membayar ongos kirim adalah
cabang, bukan kantor pusat.
Asumsikan cabang membayar Rp250.000 untuk mengembalikan setengan dari barang
dagangannya ke kantor pusat, jurnal pada kantor pusat dan cabang adalah ;
Buku cabang
Kantor pusat Rp6.750.000
Pengiriman dan kantor pusat
Rp6.250.000
Biaya pengiriman Rp250.000
Kas Rp250.000
Untuk mencatat pengembalian barang ke kantor pusat
Buku kantor pusat
Pengiriman ke cabang Rp5.000.000
Laba belum direalisasi cabang Rp1.250.000
Kerugian pembebanan biaya pengiriman yang berlebih Rp500.000
Kantor cabang
Rp6.750.000
Untuk mencatat pengembalian dari cabang

ALOKASI BIAYA – KANTOR PUSAT DAN CABANG


Alokasi biaya antara kantor pusat dan cabang biasanya diperlukan untuk mendapatkan
pengukuran yang akurat mengenai laba dari tiap-tiap unit perusahaan. Misalnya, bisa
berhubungan dengan kegiatan penjualan kantor pusat, atau kegiatan penjualan satu atau lebih
cabang. Apabila biaya promosi ini dibayar oleh kantor pusat, maka biaya promosi yang
berhubungan dengan penjualan cabang harus dibebankan kecabang. Biaya pensiun yang
dibayar oleh kantor pusat dan biaya administrasi dan umum kantor pusat juga harus
dialokasikan pada kegiatan cabang untuk memberikan informasi lengkap mengenai laba dari
tiap unit usaha. Situasi lain yang membutuhkan alokasi biaya terjadi saat pencatatan aktiva
tetap dilakukan oleh sistem akuntansi kantor pusat.
Berikut ini beberapa contoh pengalokasian biaya. Jika cabang membayar Rp5.000.000
untuk biaya promosi yang hubungannya dengan penjualan kantor pusat dan cabang sama rata,
maka Rp5.000.000 itu dialokasikan sebagai berikut:

Buku cabang
Biaya promosi Rp2.500.000
Kantor pusat Rp2.500.000
Kas Rp5.000.000
(Untuk mengalokasikan 50% biaya promosi pada kantor pusat)

Buku kantor pusat


Biaya promosi Rp2.500.000
Cabang Rp.2.500.000
(untuk mencatat biaya promosi yang dibayar oleh cabang)

Biaya pensiun Rp50.000.000 dan biaya umum kantor pusat Rp120.000.000 yang terjadi
dikantor pusat dan dialokasikan masing-masing 25% ke cabangnya di depok dan cilegon
dicatat sebagai berikut:

Buku kantor pusat


Cabang depok Rp42.500.000
Cabang cilegon Rp42.500.000
Biaya pensiun Rp25.000.000
Biaya umum Rp60.000.000
(untuk mengalokasikan biaya pensiun dan umum pada kegiatan cabang)

Buku cabang depok


Biaya pensiun Rp12.500.000
Biaya umum Rp30.000.000
Kantor pusat Rp42.500.000
(untuk mencatat alokasi biaya dari kantor pusat)

Buku cabang cilegon


Biaya pensiun Rp12.500.000
Biaya umum Rp30.000.000
Kantor pusat Rp42.500.000
(untuk mencatat alokasi biaya dari kantor pusat)

Contoh diatas menggambarkan pendekatan dasar untuk mengalokasikan biaya antara


kantor pusat dan cabang. Biaya – biaya lain dialoksikan dengan cara yang sama.

REKONSILIASI KANTOR PUSAT DAN CABANG


Apabila terjadi kesalahan dalam mencatat transaksi resiprokal baik pada buku kantor pusat
maupun pada buku cabang dan jika transaksi hanay dicatat pada satu buku saja maka pada
akhhir tahun tidak akan muncul akun resiprokal kantor pusat dan cabang. Pendekatan yang
digunakan untuk rekonsiliasi kantor pusat dan cabang sama dengan pendekatan yang
digunakan dalam rekonsiliasi bank. Rekonsiliasi kantor pusat dan cabang pada Desember
19X1diilustrasikan pada Peraga 12-5 dengan asumsi berikut:
1. Saldo 31 Desember 19X1: Akun Kantor Pusat (bukucabang) Rp452.300.000, akun
cabang Rengasdengklok (buku kantor pusat) Rp492.000.000.
2. Cabang Rengasdengklok mengirim cek Rp12.000.000 tunai ke kantor pusat padda
tanggal 31 Desember 19X1. Kantor pusat baru menerima cek tersebut tanggal
4Januari 19X2
3. Kantor pusat mengirim barang dengan senilai Rp20.000.000 ke Cabang
Rengasdengkolok pada tanggal 28 Desember 19X1 pada harga transfer
Rp25.000.000. Barang dagangan tersebut baru diterima cabang pada tanggal 8 Januari
19X2.
4. Biaya promosi sejumlah Rp8.500.000 dialokasikan oleh kantor pusat ke cabang
Rengasdengklok. Biaya itu dicatat oleh cabang sebesar Rp5.800.000
Jurnal berikut ini dibuat pada buku kantor pusat untuk menggambarkan ke dalam
perjalanan tanggal 31 Desember 19X1:
Kas dalam perjalanan Rp12.000.000
Cabang Rengasdengklok Rp12.000.000
Untuk mencatat kas dalam perjalanan 31 Desember 19X1
Meskipun lebih mudah untuk menggunakan nama akun “kas dalam perjalanan” untuk
memastikan pencatatan penerimaan kas aktual yang benar, tetapi dari sudut pandang
gabungan usaha, kas tersebu tidak dalam perjalanan dan dalam laporan keuangan gabungan
harus dilaporkan sebagai kas,bukan kas dalam perjalanan.
Jurnal koreksi pada buku Cabang Rengasdengklok untuk mencatat rekonsiliasi:
Pengiriman dari Kantor pusat --- dalam perjalanan Rp25.000.000
Kantor Pusat Rp25.000.000
untuk mencatat barang dalam perjalanan dari kantor pusat
Biaya promosi Rp 2.700.000
Kantor pusat Rp 2.700.000
Untuk mengoreksi kesalaha pencatatan alokasi biaya pencatat dari kantor pusat
Setelah akun-akun diperbarui / dikoreksi, akun kantor pusat dan cabang akan memiliki
saldo yang resiprokal.