Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN KEGIATAN PPDH

ROTASI KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER


yang dilaksanakan di
BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN (BBKP)
SURABAYA

Oleh :
MIN ROHMATILLAH, S.KH
160130100111006

PENDIDIKAN PROFESI DOKTER HEWAN


FAKULTAS KEDOKTERAN HEWAN
UNIVERSITAS BRAWIJAYA
MALANG
2018

i
LEMBAR PENGESAHAN

LAPORAN PELAKSANAAN PPDH


ROTASI KESEHATAN MASYARAKAT VETERINER
DI BALAI BESAR KARANTINA PERTANIAN (BBKP) SURABAYA

Surabaya, 10 - 16 Juli 2017

Oleh:
Min Rohmatillah, S.KH
160130100011006
Menyetujui,
Komisi Penguji

Koordinator Rotasi Kesmavet /Penguji 1 Penguji 2

Dr. Masdiana C. Padaga, drh., M.App.Sc Drh. Mira Fatmawati, M.Si


NIP. 19560210 198403 2 001 NIK. 201607 810510 2 001

Mengetahui,
Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya

Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES


NIP. 19600903 198802 2 001

ii
KATA PENGANTAR

Puji syukur penulis panjatkan atas kehadirat Allah SWT atas segala
limpahan rahmat, taufik, serta hidayah-Nya sehingga penulis dapat menyelesaikan
“Laporan Kegiatan PPDH Rotasi Kesehatan Masyarakat Veteriner
(Kesmavet) yang dilaksanakan di Balai Besar Karantina Pertanian (BBKP)
Surabaya”. Laporan ini menjadi salah satu syarat untuk memperoleh gelar
Dokter Hewan pada Fakultas Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya. Dengan
penuh hormat dan ketulusan hati, penulis mengucapkan terima kasih kepada
beberapa pihak diantaranya :
1. Dr. Drh. Masdiana C. Padaga, M.App Sc sebagai Koordinator PPDH Rotasi
Kesmavet di BBKP Surabaya atas segala kesempatan, bimbingan, nasehat
dan arahan yang tiada hentinya kepada penulis.
2. Drh. Mira Famawati, M.Si sebagai Penguji PPDH Rotasi Kesmavet di BBKP
Surabaya atas segala kesempatan, bimbingan, nasehat dan arahan yang tiada
hentinya kepada penulis.
3. Prof. Dr. Aulanni’am, drh., DES selaku Dekan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya yang selalu membantu penulis dalam mengarahkan,
memberi bimbingan, kesabaran, fasilitas dan waktu yang telah diberikan serta
dukungan kepada penulis dalam penyusunan dan penyempurnaan laporan ini.
4. Keluarga besar BBKP Surabaya yang telah mengizinkan penulis untuk
menimba ilmu dan memberi fasilitas tempat, waktu, kesabaran dan bimbingan
kepada penulis selama kegiatan PPDH.
5. Ayahanda H.M. Sururi Djufri (Alm) dan ibunda Hj. Umi Muyasaroh serta
saudara saudaraku, Mbak Ifa, Mbak Anis, Mas Alim, Mas Ridwan, Mbak
Ainun, Mbak Uung, Mas Muhtar, Mbak Ummu, dan Adek Aini yang
senantiasa memberikan doa, dorongan, dan semangat yang tiada henti.
6. Sahabat CADOHE USIL, Rifa’i, Darmawan, Yudha, Artul, Noni, Afril,
Nailul, Fais, Putri, Bismi, dan Nur atas kerja sama, diskusi, semangat dan
dukungannya sehingga penulis mampu menyelesaikan laporan ini.

iii
7. Kolega PPDH Gelombang VII Fakultas Kedokteran Hewan Universitas
Brawijaya yang selalu memberikan dorongan, semangat, inspirasi dan
keceriaan.
Mengingat keterbatasan dan kemampuan yang dimiliki, penulis menyadari
bahwa laporan PPDH Rotasi Kesmavet di BBKP Surabaya ini masih jauh dari
sempurna. Oleh karena itu penulis menerima segala kritik yang bersifat
membangun dan saran dari pembaca untuk dapat menyempurnakan penulisan
selanjutnya. Akhir kata, penulis menyampaikan mohon maaf apabila terdapat
banyak kesalahan dalam penulisan laporan ini.

Malang, Februari 2018

Penulis

iv
DAFTAR ISI

LAPORAN KEGIATAN PPDH ........................................................................... i


LEMBAR PENGESAHAN .................................................................................. ii
KATA PENGANTAR .......................................................................................... iii
DAFTAR ISI .......................................................................................................... v
DAFTAR GAMBAR ............................................................................................ vi
DAFTAR TABEL ............................................................................................... vii
BAB I PENDAHULUAN ...................................................................................... 1
1.1 Latar Belakang ..................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah ................................................................................. 2
1.3 Tujuan.................................................................................................... 2
1.4 Manfaat .................................................................................................. 2
BAB 2 ANALISA SITUASI ................................................................................. 3
2.1 Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya ............................................ 3
2.2 Tugas dan Fungsi Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya .............. 5
2.3 Visi dan Misi Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya ..................... 6
2.4 Struktur Organisasi Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya ........... 7
BAB 3 METODE KEGIATAN ............................................................................ 9
3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan ................................................................. 9
3.2 Metode Kegiatan ................................................................................... 9
3.3 Peserta Kegiatan .................................................................................. 10
3.4 Jadwal Kegiatan .................................................................................. 10
3.5 Bentuk Kegiatan .................................................................................. 11
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN ............................................................... 13
4.1 Peran dan Kewenangan Dokter Hewan terhadap Prosedur Pelayanan
Administrasi Lalu Lintas Hewan, Bahan Pangan Asal Hewan dan Hasil
Bahan Asal Hewan di BBKP Surabaya .............................................. 13
4.1.1 Alur Import dan Masuk Domestik Hewan, Bahan Asal Hewan,
Hasil Bahan Asal Hewan dan atau Bahan Lain ........................ 15
4.1.2 Alur Eksport dan Keluar Domestik Hewan, Asal Bahan Hewan,
Hasil Bahan Asal Hewan dan atau Bahan Lain ........................ 17
4.2 Peranan Dokter Hewan dalam melakukan Tindakan Karantina di
BBKP Surabaya .................................................................................. 19
4.3 Kegiatan Mahasiswa PPDH di BBKP Surabaya ................................ 26
4.3.1 Kegiatan di Unit Pelayanan II (Tanjung Perak) ....................... 26
4.3.2 Kegiatan di Unit Pelayanan Teknis III Cargo Juanda............... 27
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN ............................................................... 33
5.1 Kesimpulan......................................................................................... 33
5.2 Saran ................................................................................................... 33
DAFTAR PUSTAKA .......................................................................................... 34

v
DAFTAR GAMBAR

Gambar Halaman
2.1 Struktur organisasi ............................................................................... 8
4.1 KH-1 ..................................................................................................... 14
4.2 Sertifikat pelepasan karantina (KH-12) ............................................... 15
4.3 Alur pelayanan impor dan pemasukan barang .................................... 17
4.4 Alur pelayanan ekspor dan pengeluaran barang .................................. 19
4.5 Pemeriksaan fisik daging kebab .......................................................... 20
4.6 Uji HA/HI ............................................................................................ 21
4.7 Pengambilan sampel darah .................................................................. 27
4.8 Alur pengujian AI menggunakan q-PCR............................................. 31

vi
DAFTAR TABEL

Tabel Halaman

3.1 Wilayah kerja dan kegiatan operasional karantina di Jawa Timur .......... 4
3.2 Jadwal kegiatan ........................................................................................ 10

vii
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Perdagangan merupakan salah satu aspek penting dalam perekonomian
suatu negara di dunia. Pada awalnya perdagangan hanya terbatas pada satu
wilayah saja, namun dengan perkembangan teknologi dan kerja sama antar negara
maka perdagangan saat ini semakin luas dan beragam. Keragaman ini disebabkan
karena perbedaan sumber daya alam, iklim, geografi, demografi, struktur ekonomi
dan struktur sosial yang menyebabkan perbedaan komoditi yang dihasilkan. Salah
satu komoditi yang diperjual belikan adalah komoditi pertanian khususnya hewan
serta produk hewan seperti hewan ternak, susu, daging, kulit, sarang walet, vaksin,
serum dan lain-lain (Helwani dan Hendra, 2005).
Komoditi pertanian seperti hewan dan produk hewan yang
diperjualbelikan merupakan salah satu media yang rentan akan penularan penyakit
baik dari hewan ke hewan maupun dari hewan ke manusia. Hal ini tentunya
sangat berbahaya dan merupakan ancaman bagi suatu negara. Oleh karena itu
maka dibentuk badan yang berfungsi untuk mencegah penyebaran penyakit hewan
menular dari suatu wilayah ke wilayah lain. Badan tersebut merupakan barier
masuk dan keluarnya penyakit dari suatu wilayah. Badan ini di Indonesia dikenal
dengan karantina yang bertempat di pintu-pintu masuk dan keluar (entry and exit
point) daerah-daerah strategis lalu lintas seperti pelabuhan dan bandar udara
(Baraniah, 2009).
Peranan dan fungsi karantina dalam era globalisasi dan perdagangan bebas
saat ini dirasakan sangat penting khususnya peranan karantina di bidang veteriner
yaitu karantina hewan yang menangani hewan dan produk hewan. Karantina ini
dikhususkan untuk melindungi kehidupan dari ancaman bahaya masuknya
penyakit zoonosa atau bahan pangan yang tercemar mikroba dan residu
(antibiotika, logam berat, pertisida, dan bahan kimia lainnya) yang dapat berakibat
pada kematian atau gangguan kesehatan manusia atau kesehatan hewan serta
kelestarian sumber daya alam hayati dan lingkungan hidup (Baraniah, 2009).
Untuk mengetahui peranan karantina hewan lebih dalam utamanya dibidang
veteriner maka dilakukan koasistensi Pendidikan Profesi Dokter Hewan (PPDH)
Kedokteran Hewan Universitas Brawijaya di BBKP Surabaya.

1
1.2 Rumusan Masalah

1. Bagaimana peran dan kewenangan dokter hewan terhadap prosedur


pelayanan administrasi lalu lintas hewan, bahan pangan asal hewan dan
hasil bahan asal hewan di BBKP Surabaya?
2. Bagaimana peran dan kewenangan dokter hewan dalam melakukan
tindakan karantina di BBKP Surabaya?
3. Bagaimana kegiatan selama melaksanakan PPDH di BBKP Surabaya?

1.3 Tujuan

1. Mengetahui peran dan kewenangan dokter hewan terhadap prosedur


pelayanan administrasi lalu lintas hewan, bahan pangan asal hewan dan
hasil bahan asal hewan di BBKP Surabaya.
2. Mengetahui peran dan kewenangan dokter hewan dalam melakukan
tindakan karantina di BBKP Surabaya.
3. Mengetahui kegiatan selama melaksanakan PPDH di BBKP Surabaya.

1.4 Manfaat

Manfaat dari koasistensi di BBKP Surabaya ini yaitu memberikan


pengetahuan pada mahasiswa koasistensi sehingga mampu memahami tugas
pokok, fungsi, sistem pelayanan serta peranan dan kewenangan dokter hewan di
karantina hewan.

2
BAB 2 ANALISA SITUASI

2.1 Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya

BBKP Surabaya merupakan salah satu Unit Pelayanan Teknis (UPT)


yang berada diruang lingkup Badan Karantina Pertanian, Kementerian Pertanian.
Kantor pusat Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya bertempat di Jalan Ir. H.
Juanda, Sidoarjo. BBKP Surabaya ini dibentuk berdasarkan Surat Keputusan
Menteri Pertanian Nomor: 22/Permentan/OT.140/4/2008 Tanggal 3 April 2008
mengenai Organisasi dan Tata Kerja Unit Pelaksana Teknis Karantina Pertanian.
BBKP Surabaya terbagi menjadi tiga unit pelayanan yaitu unit pelayanan I yang
merupakan pelayanan karantina tumbuhan, unit pelayanan II yang berfungsi
sebagai pelayanan karantina hewan, dan unit pelayanan III yang melayani
karantina hewan dan tumbuhan.
BBKP Surabaya yang dibentuk sebagai UPT merupakan hasil
penggabungan antara UPT Balai Besar Karantina Hewan Tanjung Perak dan
UPT Balai Besar Karantina Tumbuhan Tanjung Perak. UPT Balai Besar
Karantina Hewan Tanjung Perak sendiri pertama kali dibentuk pada tahun 1978
dengan nama Balai Karantina Kehewanan Wilayah III Surabaya, sedangkan
Balai Besar Karantina Tumbuhan Tanjung Perak dibentuk pada tahun 1980
dengan nama Karantina Tumbuhan Cabang Pelabuhan Tanjung Perak (Barantan,
2010).
BBKP Surabaya memiliki tugas dan fungsi sebagai karantina hewan dan
karantina tumbuhan sekaligus sebagai pelaksanaan pemberian pelayanan
operasional pengawasan keamanan hayati hewani dan nabati. Berdasarkan Surat
Keputusan Menteri Pertanian, Nomor : 22/Permentan/OT.140/4/2008, Bidang
Karantina Hewan mempunyai tugas dan fungsi melaksanakan pemberian
pelayanan operasional karantina hewan, pengawasan keamanan hayati hewani,
dan sarana teknik, serta pengelolaan sistem informasi dan dokumentasi. Bidang
karantina hewan dalam melaksanakan tugas serta fungsinya memfasilitasi
pelaksanaan tindakan karantina hewan dan pengawasan keamanan hayati hewani.
Pelaksaanaan kegiatan operasional tersebut dilakukan di tempat-tempat
pemasukan dan pengeluaran seperti bandar udara, pelabuhan serta kantor pos.

3
Adapun lokasi yang meliputi wilayah kerja Balai Besar Karantina Pertanian
Surabaya berdasarkan Peraturan Menteri Pertanian Nomor:
44/Permentan/OT.140/3/2014, Tanggal 25 Maret 2014, dapat dilihat pada Tabel
2.1 :

Tabel 2.1 Wilayah kerja dan kegiatan operasional karantina hewan di Jawa
Timur
Tempat Pemasukan / Antar
No. Lokasi Impor Ekspor
Pengeluaran Area
1. Bandar Juanda Surabaya √ √ √
Udara Abdul Malang √ √ √
Rachman
Saleh
2. Kantor Surabaya Surabaya √ √ √
Pos Kediri Kediri √ √ √
Malang Malang √ √ √
3. Pelabuhan Tanjung Surabaya √ √ √
Perak
Gresik Gresik √ √ √
Tanjung Banyuwangi √ √ √
Wangi
Tanjung Probolinggo √ √ √
Tembaga
Katapang Banyuwangi - - √
Kalibuntu Probolinggo - - √
Kalbut Situbondo - - √
Jangkar Situbondo - - √
Sangkapura Bawean - - √
Sedayu Lamongan - - √
Lawas
Paciran Lamongan - - √

Kegiatan tindakan karantina hewan dilaksanakan di hampir


semua tempat pemasukan/pengeluaran seperti yang disebutkan pada Tabel
2.1, kecuali Kantor Pos Kediri dan Pelabuhan Tanjung Tembaga Probolinggo.
Kegiatan pelayanan sertifikasi pada Kantor Pos Surabaya digabung dengan
Bandara Juanda, Kantor Pos Malang tergabung dengan Bandara Abdul
Rahman Saleh, Pelabuhan Paciran tergabung dengan Pelabuhan Sedayu
Lawas, Pelabuhan Jangkar tergabung dengan Pelabuhan Kalbut di Situbondo,
dan Pelabuhan Tanjung Wangi kegiatannya tergabung dengan Pelabuhan
Ketapang dengan alasan efisiensi operasional. Kegiatan operasional meliputi

4
impor, ekspor dan antar area (masuk domestik dan keluar domestik), khusus
kegiatan impor dan ekspor terdapat pada Pelabuhan Tanjung Perak, Bandara
Juanda dan Bandara Abdul Rahman Saleh yang melalui Kantor Pos Malang.
Bidang karantina hewan telah mengimplementasikan manejemen
mutu sesuai SNI ISO 9001: 2008 tentang Perbaikan Kualitas Pelayanan
Publik juga mengacu pada standar pelayanan publik diantaranya:
sarana Information and Communications Technology (ICT), kenyamanan ruang
pelayanan, katalog pelayanan, berbagai informasi tentang biaya atau
pungutan Penerimaan Negara Bukan Pajak (PNBP), persyaratan, mekanisme
pelayanan, jangka waktu layanan, fasilitas pengaduan, ruang laktasi dan
fasilitas bagi lansia. Pelayanan karantina hewan di BBKP Surabaya didukung
oleh laboratorium karantina hewan yang telah terakreditasi dan secara
konsisten menerapkan sistem manajemen mutu SNI ISO/IEC 17025:2008.

2.2 Tugas dan Fungsi Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya

BBKP Surabaya merupakan garda terdepan untuk melindungi


kelangsungan sumber daya hayati hewani dan nabati. Pasal 3 UU Nomor 16
Tahun 1992 tentang karantina hewan, ikan, dan tumbuhan, menyebutkan
pemerintah memberi kepercayaan penuh kepada UPT karantina hewan di
setiap pintu masuk/keluar pada bandara/pelabuhan laut untuk :
1. Mencegah masuknya hama dan penyakit hewan karantina dari luar negeri
ke wilayah negara RI.
2. Mencegah tersebarnya hama dan penyakit hewan karantina dari suatu area
ke area lain di wilayah RI.
3. Mencegah keluarnya hama dan penyakit hewan karantina tertentu dari
wilayah negara RI apabila negara tujuan menghendakinya.
BBKP Surabaya utamanya karantina hewan berfungsi sebagai badan
yang mempunyai wewenang mengawasi lalu lintas dan melakukan tindakan
karantina terhadap Media Pembawa Hama dan Penyakit Hewan Karantina
(MP-HPHK) baik ekspor, impor, pemasukan maupun pengeluaran antar area
atau domestik yang terdiri dari:
1. Semua jenis hewan.

5
2. Bahan Asal Hewan (BAH), yaitu bahan yang berasal dari hewan yang
dapat diolah lebih lanjut, seperti daging, telur, susu, jeroan, kulit hewan
mentah dan jadi, darah, tanduk, tulang, sarang burung walet, madu, embrio
beku, mani beku, hewan opset.
3. Hasil Bahan Asal Hewan (HBAH) adalah olahan bahan asal hewan seperti
sosis, bakso, tepung daging, tepung tulang, daging olah, dendeng,
abon,keju, krim, yoghurt, mentega, dan susu.
4. Benda lain adalah media pembawa yang bukan tergolong hewan, BAH,
dan HBAH yang berpotensi menyebarkan hama dan penyakit berupa
bahan biologik, seperti vaksin, sera, hormon, obat hewan, dan bahan
diagnosis seperti antigen dan media pertumbuhan.
5. Media pembawa lain berupa sisa pakan hewan ternak, sisa pakan hewan
kesayangan, sisa makanan penumpang pesawat udara atau kapal laut,
kotoran ternak, sisa pakan dan bangkai hewan, serta barang atau
bahanyang pernah berhubungan dengan hewan yang diturunkan dari alat
angkut.

2.3 Visi dan Misi Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya


Visi dari BBKP Surabaya yaitu menjadi garda terdepan pelayanan
karantina yang tangguh, profesional, modern dan terpercaya di Jawa Timur
pada tahun 2019, sedangkan misi BBKP Surabaya diantaranya adalah :
1. Melindungi kelestarian sumber daya hayati hewani dan nabati dari
ancaman serangan hama dan HPHK serta Organisme Pengganggu
Tumbuhan Karantina (OPTK) serta pengawasan lalu lintas komoditi
pertanian segar yang memenuhi standard keamanan pangan;
2. Meningkatkan manajemen operasional perkarantinaan hewan dan
tumbuhan;
3. Mewujudkan sistem manajeman mutu pelayanan dengan
mengimplementasikan secara konsisten ISO 9001:2008 / SNI 19- 9001-
2008;

6
4. Mewujudkan kompetensi sebagai Laboratorium Penguji (Testing
Laboratory) dengan mengimplementasikan secara konsisten ISO/EIC
17025:2008 serta Laboratorium Biosafety Level-2 (BSL-2);
5. Mendorong terwujudnya peran perkarantinaan Surabaya dalam akselerasi
ekspor komoditas pertanian yang akseptabel dan mampu bersaing di pasar
internasional;
6. Mendukung keberhasilan program agribisnis dan ketahanan pangan Jawa
Timur;
7. Membangun masyarakat cinta karantina pertanian di Jawa Timur
(Barantan, 2014).

2.4 Struktur Organisasi Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya

Struktur organisasi BBKP Surabaya terdiri atas bagian umum, bidang


karantina hewan, bidang karantina tumbuhan, bidang pengawasan dan
penindakan, serta kelompok jabatan fungsional yang keseluruhan bagian
tersebut dikepalai oleh Kepala Balai Karantina Hewan. Bagian umum terdiri
dari tiga sub bagian yaitu subbagian program dan evaluasi, subbagian
kepegawaian dan tata usaha, serta subbagian keuangan dan perlengkapan.
Bidang karantina hewan terdiri dari seksi pelayanan operasional karantina
hewan dan seksi informasi dan sarana teknik karantina hewan. Seksi
pelayanan operasional karantina hewan mempunyai tugas melakukan
pemberian pelayanan operasional karantina hewan dan pengawasan
keamanan hayati hewani, sedangkan seksi informasi dan sarana teknik
karantina hewan mempunyai tugas melakukan pengelolaan sistem informasi
dan dokumentasi, serta pemberian layanan sarana teknik karantina hewan.
Bidang karantina tumbuhan terdiri dari seksi pelayanan operasional karantina
tumbuhan, dan seksi informasi dan sarana teknik karantina tumbuhan. Bidang
pengawasan dan penindakan terdiri dari seksi pengawasan dan penindakan
karantina tumbuhan dan seksi pengawasan dan penindakan karantina. Adapun
susunan jabatan secara struktural dapat dilihat pada diagram berikut ini (lihat
Gambar 2.1).

7
KEPALA

BAGIAN UMUM

Sub bagian Sub bagian Sub bagian


program keuangan dan kepegawaian
dan evaluasi perlengkapan dan tata usaha

BIDANG BIDANG BIDANG


KARANTINA KARANTINA PENGAWASAN DAN
HEWAN PENINDAKAN
TUMBUHAN

seksi seksi seksi Seksi seksi seksi


pelyanan informasi pelayanan informasi pengawasan pengawasan
operasional dan sarana operasional dan sarana dan dan
karantina teknik karantina teknik penindakan penindakan
hewan karantin tumbuhan karantina karantina karantina
hewan tumbuhan tumbuhan hewan

Kelompok
jabatan
fungsional

Gambar 2.1 Struktur organisasi BBKP Surabaya.

8
BAB 3 METODE KEGIATAN

3.1 Tempat dan Waktu Kegiatan

Kegiatan koasistensi PPDH rotasi Kesmavet akan dilakukan di BBKP


Surabaya pada tanggal 10 – 16 Juli 2017.

3.2 Metode Kegiatan

Kegiatan ini dilakukan dengan cara mahasiswa berperan aktif dalam tata
laksana kegiatan di BBKP Surabaya. Metode kegiatan yang dipakai dalam
kegiatan koasistensi ini adalah metode survei dengan pengambilan data primer
dan data sekunder. Pengumpulan data primer yang akan digunakan dalam
kegiatan ini melalui :

a. Observasi Partisipator

Kegiatan observasi ini dilakukan secara langsung di lapangan. Hal-hal yang


diobservasi meliputi pemeriksaan hewan karantina, pengujian sampel hewan
karantina dan produk asal hewan, serta pengawasan hewan karantina.

b. Wawancara

Kegiatan ini dilakukan dengan mengajukan pertanyaan yang terkait dengan


hal-hal yang akan diamati kepada pihak-pihak yang bekerja sesuai dengan
bidang pekerjaan masing-masing untuk melengkapi informasi dan data yang
dibutuhkan. Waktu wawancara dan diskusi dapat dilakukan secara mandiri (di
luar waktu koasistensi) maupun pada saat melaksanakan kegiatan proses praktek
di lapang.

c. Studi Dokumentasi

Dalam pengumpulan data dan informasi juga dilakukan studi dokumentasi


yang dilakukan oleh mahasiswa, baik dokumen dalam bentuk elektronik
maupun tulisan. Hasil dari pelaksanaan koasistensi ini akan dilaporkan secara
tertulis kepada pihak BBKP Surabaya dan Fakultas Kedokteran Hewan
Universitas Brawijaya.

9
3.3 Peserta Kegiatan

Peserta yang melaksanakan koasistensi rotasi kesmavet di BBKP Surabaya


dibawah bimbingan Dr. Drh. Masdiana C. Padaga, M. App Sc, adalah :
Nama : Min Rohmatillah, S.KH
NIM : 160130100111006
Alamat : Jl. Kertoraharjo Gg.1 No. 14
Email : minrahmavet@gmail.com
No. Hp : 082244893493

3.4 Jadwal Kegiatan

Kegiatan yang dilaksanakan selama koasistensi PPDH di BBKP Surabaya


terdapat pada Tabel 3.1.

Tabel 3. 1 Jadwal kegiatan BBKP Surabaya.


Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Pelaksana
Senin, 10 Juli 1. Penerimaan mahasiswa PPDH 1. Pembimbing
2017 2. Briefing jadwal kegiatan lapang
3. Pemberian materi dan diskusi 2. Mahasiswa PPDH

Selasa, 11 Juli
1. Pengawasan lapang di Cargo 1. Pembimbing
2017 Juanda. lapang
2. Pemeriksaan hewan import, 2. Mahasiswa PPDH
bahan pangan asal hewan, dan
bahan pakan asal hewan (Meat
Bone Meal) serta media
pembawa yang bukan
tergolong hewan (obat hewan,
vaksin dan media biologis).
3. Melakukan kegiatan pengujian
di Laboratorium Virrologi dan
Serologi BBKP Juanda.
4. Diskusi dengan pembimbing
lapang.
Rabu,12 Juli 1. Pengawasan dan pengecekan 1. Pembimbing
2017 kelengkapan surat di pos lapang
penjaga dan pelayanan 2. Mahasiswa PPDH
karantina hewan di terminal
pelabuhan
2. Melakukan kegiatan pengujian
di Laboratorium Uji Pakan di

10
Hari/Tanggal Jenis Kegiatan Pelaksana
Unit Pelayanan II Tanjung
Perak dan Laboratorium
Virologi dan Serologi BBKP
Juanda
3. Diskusi dengan pembimbing
lapang.
Kamis, 13 1. Mengikuti kegiatan 1. Pembimbing
Juli 2017 pemeriksaan fisik di Cargo lapang
Juanda. 2. Mahasiswa PPDH
2. Melakukan pengambilan
sampel darah pada unggas di
karantina juanda.
3. Melakukan kegiatan pengujian
di Laboratorium Uji Pakan di
Unit Pelayanan II Tanjung
Perak dan Laboratorium
Virologi dan Serologi BBKP
Juanda.
4. Diskusi lapang.
Jumat, 14 Juli 1. Diskusi dan presentasi hasil 1. Pembimbing
2017 laporan lapang
2. Pelepasan mahasiswa PPDH 2. Mahasiswa PPDH

3.5 Bentuk Kegiatan

Bentuk kegiatan selama koasistensi di BBKP Surabaya adalah:


1. Pembelajaran tentang administrasi karantina hewan, yaitu seperti informasi
persyaratan dan prosedur ekspor impor karantina hewan, cara mengajukan
dokumen ekspor impor, dan cara memverifikasi dokumen ekspor impor.
2. Pemeriksaan semua jenis hewan, bahan pangan asal hewan (daging, telur,
susu), hasil bahan pangan asal hewan (bakso, abon, keju), media pembawa
yang bukan tergolong hewan (obat hewan, vaksin dan bahan biologik), alat
angkut hewan dan produk yang berkaitan tentang hewan serta bahan pakan
asal hewan (Meat Bone Meal, pellet, pakan hewan kesayangan) di Tanjung
Perak dan Cargo Juanda.
3. Pemeriksaan uji kelayakan dan standarisasi alat angkut hewan dan media
pembawa hewan. Hal ini meliputi packaging hewan dengan memperhatikan
kesrawan dan prosedural keselamatan hewan serta penumpang.

11
4. Melakukan pengambilan sampel semua hewan (darah), bahan pangan asal
hewan, dan hasil bahan pangan asal hewan dan benda lain tanpa terkecuali
satupun. Kemudian, dilakukan pengujian sampel dapat dilakukan di
Laboratorium Virologi dan Serologi BBKP Juanda dan Laboratorium Uji
Pakan di Unit Pelayanan II Tanjung Perak.
5. Melakukan pengawasan dan pengecekan kelengkapan surat hewan karantina
dan produk-produk asal hewan yang akan masuk atau keluar di pos penjaga
dan pelayanan karantina hewan di terminal pelabuhan.

12
BAB 4 HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Peran dan Kewenangan Dokter Hewan terhadap Prosedur Pelayanan


Administrasi Lalu Lintas Hewan, Bahan Pangan Asal Hewan dan Hasil
Bahan Asal Hewan di BBKP Surabaya

Balai Besar Karantina Pertanian bidang karantina hewan memberikan


pelayanan administrasi karantina hewan dan pemeriksaan laboratorium.
Prosedur pelayanan yang dilakukan di BBKP Surabaya diawali dengan
pelayanan administrasi. Pelayanan administrasi meliputi pelayanan kelengkapan
berkas-berkas komoditi hewan, bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan, dan
bahan lain guna penerbitan sertifikat untuk pelepasan komoditi. Berkas-berkas
administrasi yang diperlukan berbeda-beda sesuai dengan tujuan pengiriman
atau penerimaan komoditas tersebut (ekspor / impor / masuk domestik / keluar
domestik).
Proses administrasi secara umum diatur dalam Peraturan Pemerintah
(PP) Nomor : 82 tahun 2000, adapun persyaratan meliputi :
1. Dilengkapi sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang
di negara asal dan negara transit.
2. Dilengkapi surat keterangan asal dari tempat asalnya bagi media pembawa
yang tergolong benda lain.
3. Melalui tempat-tempat pemasukan yang telah ditetapkan.
4. Dilaporkan dan diserahkan kepada petugas karantina di tempat untuk
keperluan tindakan karantina.
Apabila persyaratan berdasarkan PP No.82 Tahun 2000 sudah terpenuhi
maka dilakukan pengurusan surat dengan mengisi dokumen surat yang telah
diterbitkan oleh pihak karantina untuk komoditi masuk, keluar domestik,
ekspor, impor. Dokumen surat yang dapat diterbitkan oleh pihak karantina
diantaranya adalah sebagai berikut :
 KH-1 : Permohonan pemeriksaan karantina hewan (Application For
Quarantine Inspection) ( Gambar 4.1).
 KH-2 : Surat Penugasan.
 KH-3 : Keterangan Muatan Hewan dan Produk Hewan (Cargo Manifest
of Animal and Animal Product).

13
 KH-4 : Penolakan Bongkar (Refusal of Disembarcation)
 KH-5 : Persetujuan Bongkar (Approval of Disembarcation)
 KH-6 : Persetujuan Muat (Approval of Loading)
 KH-7 : Perintah Masuk Instalasi Karantina Hewan (Order To Take Into
The Animal Quarantine Installation).
 KH-8a : Berita Acara Penahanan (Declaration of Detention)
 KH-8b : Berita Acara Penolakan (Declaration of Refusal)
 KH-8c : Berita Acara Pemusnahan (Declaration of Destroying)
 KH-9 : Sertifikat Kesehatan Hewan (Animal Health Certificate)
 KH-10 : Sertifikat Sanitasi Produk Hewan (Sanitary Certificate of Other
Product)
 KH-11 : Sertifikat Keterangan untuk Benda Lain (Certificate of Other
Products)
 KH-12 : Sertifikat Pelepasan Karantina Hewan (Certificate of Animal
Quarantine Release) (Gambar 4.2)

Gambar 4.1 Surat permohonan pemeriksaan karantina (KH-1) (Sumber : dok.pribadi).

14
Gambar 4.2 Sertifikat pelepasan karantina (Sumber : dok.pribadi).

Penerbitan sertifikat yang dilakukan oleh karantina hewan tergantung


pada komoditi dan tujuan pelepasan, apabila yang diekspor atau keluar domestik
merupakan komoditi hewan maka Balai Besar Karantina Pertanian akan
menerbitkan sertifikat KH-9, namun apabila yang akan diekspor atau keluar
domestik merupakan bahan asal hewan maka yang diterbitkan adalah sertifikat
KH-10, sedangkan produk lain seperti bahan biologis, antibodi, ataupun vaksin
maka karantina hewan akan menerbitkan sertifikat KH-11. Sertifikat KH-12
hanya diterbitkan untuk komoditi baik hewan, hasil bahan asal hewan, bahan asal
hewan maupun benda lain yang masuk domestik atau impor.

4.1.1 Alur Import dan Masuk Domestik Hewan, Bahan Asal Hewan, Hasil
Bahan Asal Hewan dan atau Bahan Lain

Importir merupakan orang atau lembaga perantara dagang yang


mendatangkan barang dari luar negeri. Barang yang diimpor tersebut dapat
digunakan sebagai produksi atau untuk tujuan konsumsi (Amir, 2005). Barang
yang diimpor umumnya merupakan komoditi bahan asal hewan, hasil bahan asal
hewan ataupun hewan hidup. Komoditi ini merupakan salah satu media pembawa
HPHK untuk itu importir maupun pemilik yang akan membawa komoditi masuk
ke jawa timur tersebut harus mengajukan permohonan karantina kepada petugas
karantina untuk mencegah tersebarnya HPHK keluar daerah. Pengguna jasa harus
mengajukan permohonan karantina dengan mengisi form permohonan

15
pemeriksaan oleh petugas (KH-1) secara online atau secara langsung datang ke
karantina, kemudian dilakukan pemeriksaan kelengkapan, kesesuaian dan
keabsahan dokumen. Kelengkapan dokumen untuk impor tersebut meliputi :
a. Sertifikat kesehatan (Health Certificate) dari negara asal dan negara transit
yang diterbitkan oleh pejabat yang berwenang.
b. Surat keterangan asal COO (Certificate Of Origin) bagi media yang
tergolong benda lain yang diterbitkan oleh perusahaan tempat pengolahan di
daerah asal.
c. Surat rekomendasi dari Dirjen Peternakan dan Kesehatan Hewan
d. Sertifikat halal dan persetujuan dari Kementrian Perdagangan khusus untuk
bahan baku pangan.
e. Surat angkut satwa (CITES) bagi media yang tergolong hewan liar yang
diterbitkan oleh pejabat berwenang di negara asal.
Sedangkan persyaratan penunjang yaitu meliputi :
a. Packing list,
b. Invoice,
c. Bill Of Lading,
d. Manifes.
Dokumen persyaratan untuk masuk domestik sedikit berbeda dengan
komoditi impor. Adapun dokumen yang harus dilengkapi diantaranta yaitu :
a) Surat kuasa dan kartu identitas pengguna jasa,
a) Sertifikat karantina daerah asal,
b) SATS (dari dinas kehutanan setempat),
c) Surat keterangan asal untuk benda lain,
d) Rekomendasi pengeluaan/pemasukan dari dinas setempat,
e) Sertifikat veteriner dari daerah asal untuk hewan dan produk hewan.
Kelengkapan dokumen akan diperiksa oleh dokter hewan dan petugas yang
berwenang. Pemeriksaan dokumen beserta pemeriksaan fisik terhadap hewan
hidup dapat dilakukan di atas alat angkut atau instalasi karantina untuk
mengetahui adanya resiko HPHK sedangkan BAH, HBAH dan benda lain dapat
dilakukan di kawasan pelabuhan laut atau bandar udara untuk mengetahui asal
barang bukan dari negara atau daerah yang dilarang, atau sedang terdapat wabah

16
HPHK, memiliki sanitasi baik, kemasan utuh, tidak terjadi perubahan sifat,
terkontaminasi, atau membahayakan kesehatan hewan dan/atau manusia.
Pemeriksaan dokumen dan fisik terhadap hewan hidup, BAH, HBAH dan benda
lain sebagai penentu penerbitan Surat Perintah Bongkar (KH- 5) dan dilanjutkan
dengan pemberian KH-7 untuk pemeriksaan lebih lanjut di Instalasi Karantina
Hewan serta sebagai penentu dilakukannya pembebasan dengan pengeluaran
sertifikat pelepasan (KH-12). Dokter hewan karantina dapat melanjutkan tindakan
karantina apabila semua dokumen telah dipenuhi oleh pengguna jasa guna
penerbitan sertifikat pelepasan. Gambaran alur pelayanan impor dan masuk
domestik atau pemasukan antar area dapat dilihat pada Gambar 4.3.

Gambar 4.3 Alur pelayanan impor dan pemasukan amtar area atau masuk
domestik, serta kelengkapan dokumen yang dibutuhkan.

4.1.2 Alur Eksport dan Keluar Domestik Hewan, Asal Bahan Hewan, Hasil
Bahan Asal Hewan dan atau Bahan Lain

Ekspor merupakan kegiatan mengeluarkan barang dari daerah pabean.


Daerah pabean merupakan wilayah Republik Indonesia yang meliputi wilayah
darat, perairan dan ruang udara diatasnya serta tempat-tempat tertentu di Zona
Ekonomi Eksklusif dan landas kontinen, sedangkan orang atau perusahaan atau
yang melakukan ekspor disebut dengan eksportir (Amir, 2005). Berbeda dengan
kegiatan ekspor, pengiriman barang dari suatu daerah ke daerah lain yang

17
melewati darat, perairan atau udara dapat sering disebut dengan keluar domestik
atau pengeluaran antar area. Pengguna jasa maupun eksportir yang akan
mengirimkan komoditi berupa hewan hidup, bahan asal hewan, hasil bahan asal
hewan dan bahan lain keluar daerah dalam hal ini adalah jawa timur harus
mengajukan permohonan karantina kepada petugas karantina dengan mengisi
formulir (KH-1) secara online atau langsung datang ke karantina. Pemeriksaan
kelengkapan, kesesuaian dan keabsahan dokumen kemudian dilakukan.
Kelengkapan dokumen tersebut diantaranya meliputi :
a. Sertifikat kesehatan yang diterbitkan oleh dokter hewan karantina dari tempat
pengeluaran,
b. Surat Ijin Ekspor dari Kementrian Perdagangan untuk komoditi ekspor,
c. Surat rekomendasi pengeluaran (SRP) bagi media pembawa yang
tergolong hewan ternak yang diterbitkan oleh Direktorat Jenderal
Peternakan dan Kesehatan Hewan, Kementerian Pertanian untuk komoditi
ekspor, sedangkan untuk keluar domestik surat rekomendasi pengeluaran
dapat dilakukan oleh Dinas Peternakan dan Kesehatan Hewan daerah
setempat,
d. Surat sngkut tumbuhan dan satwa luar negeri (SATSLN/CITES) bagi
media pembawa yang tergolong Hewan Liar yang diterbitkan oleh
Direktorat Jenderal Perlindungan Hutan dan Konservasi Alam,
Kementerian Kehutanan untuk satwa liar atau tumbuhan yang akan di
ekspor, sedangkan untuk keluar domestik Balai Konservasi Sumberdaya
Alam (BKSDA)
e. Memenuhi persyaratan lainnya (Import Permit) yang ditetapkan/diminta
oleh negara tujuan/pengimpor.
Tindakan karantina dapat dilakukan apabila dokumen telah lengkap dan
absah. Tindakan tersebut dapat berupa pemeriksaan fisik, pemeriksaan
laboratorium dan perlakuan. Tindakan karantina dapat dilakukan apabila hewan
hidup, hasil bahan asal hewan, bahan asal hewan dan benda lain diduga menjadi
media pembawa HPHK dan terlebih dahulu diterbitkan surat KH-7 untuk
pemeriksaan lebih lanjut di Instalasi Karantina Hewan. Pengeluaran sertifikat
sertifikat Kesehatan Hewan (KH-9), sertifikat Sanitasi Produk Hewan (KH-10)

18
atau sertifikat Benda Lain (KH-11) dapat dilakukan apabila hewan hidup, hasil
bahan asal hewan, bahan asal hewan dan benda lain dinyatakan sehat dan layak
untuk dikirimkan, dibawah pengawasan dokter hewan karantina. Penjelasan lebih
lengkapnya dapat dilihat pada Gambar 4.4.

Gambar 4.4 Alur Pelayanan ekspor dan keluar domestik atau pengeluaran
antar area.

4.2 Peranan Dokter Hewan dalam Melakukan Tindakan Karantina di


BBKP Surabaya
Bidang karantina hewan dalam rangka meningkatkan upaya pencegahan
masuk dan tersebarnya Hama Penyakit Hewan Karantina (HPHK) dari luar
negeri dan dari suatu area ke area lainnya di dalam serta keluarnya dari wilayah
Republik Indonesia, menetapkan dan mengimplementasikan Standar Pelayanan
Publik (SPP) dalam memberikan pelayanan secara cepat, tepat, transparan, dan
akuntabel sesuai kebutuhan dan harapan pelanggan. Pelayanan yang diberikan
berupa tindakan karantina terhadap lalu lintas semua jenis hewan, bahan asal
hewan, hasil bahan asal hewan, dan benda lain dengan penerbitan sertifikat
kesehatan hewan, sertifikat pembebasan, serta laporan hasil uji laboratorium dan
dalam segala tindakan karantina ini dokter hewan bertanggung jawab dan
memilili peranan didalamnya baik dokter hewan dengan jabatan struktural
ataupun dokter hewan fungsional. Dokter hewan karantina adalah dokter hewan

19
yang diangkat dan diberhentikan oleh Menteri untuk melaksanakan tindakan
karantina. Dalam melaksanakan tindakan karantina, dokter hewan dibantu oleh
paramedik karantina yang merpakan petugas teknis yang ditunjuk oleh Menteri
untuk membantu pelaksanaan tindakan karantina. Tindakan-tindakan yang dapat
dilakukan oleh dokter hewan karantina yaitu 8P yang akan dijabarkan dibawah
ini :
1. Pemeriksaan (P1)
Pemeriksaan karantina dilakukan oleh pejabat fungsional di diatas alat
angkut dan pintu pemasukan (entrypoint) serta pintu pengeluaran (exit point).
Pemeriksaan meliputi dua tahap yaitu pemeriksaan dokumen dan pemeriksaan
fisik. Pemeriksaan dokumen dilakukan untuk mengetahui kelengkapan,
keabsahan, dan kebenaran isi dokumen, selanjutnya dilakukan verifikasi terhadap
kebenaran isi dokumen melalui pemeriksaan fisik. Pemeriksaan fisik juga
dilakukan untuk mendeteksi adanya HPHK sebelum komoditi tersebut dilalu
lintaskan (Gambar 4.5).

Gambar 4.5 Pemeriksaan fisik pada daging kebab yang akan dilakukan pengeluaran
antar area atau keluar domestik di Balai Besar Karantina Pertanian
Surabaya Unit Pelayanan III Cargo Bandara Juanda (Sumber :
dok.pribadi).

Tindakan pemeriksaan juga dilakukan di BBKP Surabay. Tindakan


tersebut dapat berupa pemeriksaan dokumen guna pembuatan sertifikat KH-9,
KH-10, KH-11 maupun KH-12 dan pemeriksaan laboratorium. Pemeriksaan
laboratorium ini hanya dilakukan pada beberapa komoditi saja dan apabila
pemeriksaan fisik sudah cukup untuk mendiagnosis hewan tersebut sehat

20
dan/atau bahan asal hewan, hasil bahan asal hewan serta benda lain tersebut itu
sehat, aman, dan terjamin keasliannya maka pemeriksaan laboratorium tidak
perlu dilakukan.
Pemeriksaan laboratorium dapat berupa monitoring saja, dimana
dilakukan sekali dalam jangka waktu tertentu seperti untuk pengujian bahan asal
hewan dan hasil produk asal hewan, ataupun pemeriksaan laboratorium secara
reguler setiap kali ada media pembawa HPHK dilalu lintaskan, komoditi tersebut
seperti unggas, burung ataupun hewan kesayangan (kucing dan anjing). Beberapa
daerah di Indonesia mensyaratkan hewan hidup yang akan dikirim ke daerah
tersebut harus memiliki surat pemeriksaan laboratorium, seperti Balikpapan yang
mengkhususkan ayam dari Jawa Timur harus dilakukan pemeriksaan rapid test
Avian Influenza (AI) terlebih dahulu, pemeriksaan PCR AI pada ayam untuk
daerah Sorong dan Ambon serta burung untuk wilayah Makasar, selain itu
pengujian hemaglutinasi (HA/HI) wajib dilakukan apabila akan mengirimkan
ayam ke wilayah Makasar dan Balikpapan Pemeriksaan tidak hanya dapat
dilakukan di Balai Besar Pertanian Surabaya tetapi juga di laboratorium-
laboratorium yang sudah bekerjasama dengan Balai seperti laboratorium
Universitas Airlangga, Surabaya, Balai Besar Veteriner (BBVet) Wates, maupun
laboratorium-laboratorium milik perusahaan yang sudah terstandarisasi seperti
Greenfield, Wonokoyo dan Japfa.

Gambar 4.6 Pemeriksaan laboratorium untuk pengujian hemaglutinasi (HA/HI)


yang dilaksanakan di Balai Besar Karantina Surabaya (Sumber :
dok.pribadi).

Laboratorium pengujian sampel karantina hewan Balai Besar Karantina


Surabaya berada di Kantor Pusat Balai Besar Karantina Surabaya dan Unit

21
Pelayanan II Tanjung Perak. Laboratorium Balai Besar Karantina Surabaya telah
tersertifikasi oleh akreditasi SNI ISO/IEC 17025:2008 dari KAN (Komite
Akreditasi Nasional) sejak tahun 2010 dengan Nomor: LP-461-IDN.
Laboratorium ini melakukan aktifitas pengujian terhadap komoditi yang
merupakan media pembawa HPHK, adapun pengujian yang dilakukan di
Laboratorium Balai Besar Karantina Surabaya diantaranya yaitu :
1. Pengujian yang telah terakreditasi Ruang Lingkup 17025 : 2008 tahun 2015
 Pengujian Angka Lempeng Total (ALT),
 Pengujian Salmonella sp.,
 Pengujian Angka Paling Mungkin (APM) E. coli,
 Pengujian Angka Paling Mungkin (APM) Coliform,
 Pengujian Hambatan Aglutinasi (HI) AI,
 Pengujian Hambatan Aglutinasi (HI) Newcastle Disease,
 Pengujian Rose Bengal Test (RBT),
 Pengujian Organoleptik/Mikroskopik,
 Pengujian ELISA Rabies.
2. Pengujian yang belum terakreditasi atau diluar Ruang Lingkup 17025 : 2008
tahun 2015
 Pengujian Staphylococcus aureus,
 Pengujian Rapid Test AI,
 Pengujian Polymerase Chain Reaction (PCR) Avian Influenza,
 Pengujian ELISA Enzootic Bovine Leucosis (EBL),
 Pengujian ELISA Paratuberculosis,
 Pengujian ELISA Infectious Bovine Rhinotracheitis (IBR),
 Pengujian Polymerase Chain Reaction (PCR) Paratuberculosis,
 Pengujian Kit Feed Check,
 Pengujian Nitrit.
Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya memiliki beberapa fasilitas
ruangan untuk melakukan pengujian laboratorium seperti yang disebutkan diatas.
Beberapa ruangan tersebut diantaranya adalah Laboratorium Pakan Ternak,
Laboratorium Bakteriologi, Laboratorium Serologi, Laboratorium Virologi,
Laboratorium Biomolekuler, dan Laboratorium Kimia-PSAH.

22
Sampel yang masuk kedalam laboratorium kemudian dilakukan entry
data kedalam sistem untuk mendapatkan barcode sampel sesuai dengan uji yang
akan dilakukan. Barcode yang sudah didapat akan ditempelkan pada sampel
sebagai identitas saat pengujian dan kemudian akan muncul tanda terima untuk
pemeriksaan secara online. Petugas laboratorium yang merupakan dokter hewan
dan paramedis laboratorium selanjutnya melakukan uji terhadap sampel yang
diterima. Sampel yang sudah diuji akan dilaporkan hasilnya dalam bentuk LHU
(Laporan Hasil Uji) sebagai berita acara terhadap sampel yang sudah diuji. LHU
kemudian akan dikirim kembali pada Unit Pelayanan. LHU ini sangat penting
untuk memutuskan tindakan selanjutnya yang harus dilakukan oleh pihak
karantina terhadap hewan, bahan asal hewan dan produk olahan asal hewan yang
akan keluar ataupun masuk ke daerah. Pelayanan LHU dapat dilakukan dua kali
dalam sehari yaitu pada pukul 13.00 dan 17.00 WIB, namun untuk pengujian
laboratorium PCR hanya dapat dilakukan dua kali dalam satu minggu yaitu pada
hari kamis dan senin.
2. Pengasingan (P2)
Pengasingan dilakukan terhadap sebagian atau seluruhnya media
pembawa HPHK untuk dilakukan pengamatan, pemeriksaan dan perlakukan
dengan tujuan mencegah kemungkinan penularan HPHK selama waktu tertentu
yang akan dipergunakan sebagai dasar penetapan masa karantina (Baraniah,
2009). Pengasingan dapat dilakukan ketika komoditi dicurigai membawa HPHK.
Pengasingan dilakukan oleh pejabat fungsional dan diputuskan oleh dokter
hewan karantina yang berwenang.
3. Pengamatan (P3)
Pengamatan dilakukan untuk mendeteksi lebih lanjut media HPHK
dengan cara mengamati timbulnya gejala HPHK pada media pembawa selama
diasingkan dengan sistem semua masuk-semua keluar (Baraniah, 2009).
Pengamatan merupakan tanggung jawab dokter hewan. Lama masa pengamatan
ditetapkan berdasarkan lama inkubasi dan sifat penyakit dan sifat pembawa.
Pengamatan dapat dilakukan diarea pengeluaran untuk pengangkutan antar area.
Pengamatan juga dapat dilakukan sesuai permintaan negara tujuan jika
pengeluaran ke luar negeri.

23
4. Perlakuan (P4)
Perlakuan menurut Peraturan Menteri Pertanian Nomer :
13/Permentan/OT.140/2/2008 merupakan tindakan untuk membebaskan dan
mensucihamakan media pembawa dari hama penyakit hewan karantina, atau
tindakan lain yang bersifat preventif, kuratif dan promotif. Perlakuan dapat
dilakukan bergantung pada persetujuan pengguna jasa atau pemilik hewan.
Perlakuan dapat berupa tindakan untuk mencegah, mengobati penyakit,
misalnya dengan melakukan vaksinasi, pengobatan, pemberian vitamin ataupun
food supplement. Perlakuan dilakukan oleh dokter hewan yang berwenang
kepada hewan atau media pembawa setelah dilakukan pemeriksaan fisik dan
media pembawa terdiagnosa HPHK.
5. Penahanan (P5)
Penahanan menurut Baraniah (2009) yaitu dilakukan terhadap media
pembawa yang belum memenuhi persyaratan karantina atau dokumen yang
dipersyaratkan oleh Menteri lain yang terkait atau dalam pemeriksaan masih
diperlukan konfirmasi lebih lanjut. Pemilik diberikan kurun waktu tiga hari
untuk memenuhi syarat-syarat yang ditentukan yakni pengumpulan dokumen-
dokumen yang dipersyaratkan karantina, namun apabila dalam kurun waktu tiga
hari pemilik tidak memenuhi syarat tersebut, petugas karantina yang
bertanggung jawab berhak memberikan keputusan penolakan atau pemusnahan.
Penahanan juga dapat dilakukan apabila media pembawa tersebut bukan berasal
dari negara, area atau tempat yang pemasukannya dilarang.
6. Penolakan (P6)
Peraturan Menteri Pertanian Nomer : 13/Permentan/OT.140/2/2008
tentang persyaratan dan penetapan pihak lain dalam membantu pelaksanaan
tindakan karantina hewan, menjelaskan bahwa penolakan merupakan tindakan
menolak terhadap media pembawa yang tidak memenuhi persyaratan
administratif dan persyaratan teknis. Tindakan penolakan direkomendasikan
oleh dokter hewan pada saat pemeriksaan terhadap media pembawa dan dapat
dilakukan apabila terjadi hal-hal seperti berikut diantaranya :
 Media pembawa tersebut berasal dari daerah/negara terlarang karena masih
terdapat/tertular atau sedang wabah penyakit hewan karantina golongan I.

24
 Pada waktu pemeriksaan ditemukan gejala adanya penyakit hewan karantina
golongan I.
 Pada waktu pemeriksaan tidak dilengkapi dengan dokumen karantina
(sertifikat kesehatan) (Baraniah, 2009).
Apabila terjadi hal-hal seperti yang tersebut diatas maka Karantina
Hewan berhak menerbitkan surat penolakan bongkar (KH-4) untuk barang masuk
atau berita acara penolakan (KH-8b) untuk barang keluar.
7. Pemusnahan (P7)
Pemusnahan dilakukan oleh dokter hewan yang bertugas dibawah
pengawasan pimpinan BBKP Surabaya. Tindakan pemusnahan dapat dilakukan
melalui penerbitan Berita Acara Pemusnahan (KH-8c). Menurut Baraniah, M.,
(2009), pemusnahan dilakukan apabila :
 Media pembawa atau komoditi yang ditahan melewati batas waktu yang
ditentukan dan pemilik/kuasanya tidak dapat memenuhi persyaratan yang
diperlukan.
 Media pembawa atau komoditi tersebut ditemukan adanya hama dan
penyakit hewan karantina golongan I atau golongan II tetapi telah diobati
dan tidak dapat disembuhkan
 Hewan yang ditolak tidak segera diberangkatkan/tidak mungkin dilakukan
penolakan dan media pembawa tersebut berasal dari daerah terlarang atau
daerah yang tidak bebas dari penyakit hewan karantina golongan I.
8. Pembebasan (P8)
Pembebasan dilakukan apabila semua kewajiban dan persyaratan untuk
memasukkan/mengeluarkan media pembawa tersebut telah dipenuhi dan dalam
pemeriksaan tidak ditemukan adanya/dugaan adanya gejala hama dan penyakit
hewan karantina, atau selama pengasingan dan pengamatan tidak ditemukan
adanya hama dan penyakit hewan karantina (Baraniah, 2009). Pembebasan
untuk masuk diberikan dengan sertifikat pelepasan/pembebasan (KH-12),
sedangkan pembebasan keluar diberikan dengan sertifikat kesehatan (KH-9,
KH-10 atau KH-11). Sertifikat pelepasan dan kesehatan diterbitkan oleh dokter
hewan karantina dalam waktu paling lama 24 jam dari saat pembebasan.
Pemberian sertifikat pelepasan dan kesehatan ini ditujukan kepada dokter hewan

25
yang berwenang di daerah tujuan sebagai jaminan bahwa media pembawa
tersebut bebas dari HPHK.
Dari penjelasan diatas dapat diketahui bahwa tindakan karantina yang
dilakukan untuk mengetahui apakah hewan hewan, bahan asal hewan, hasil
bahan asal hewan dan komoditi lain seperti bahan biologis tersebut positif
terhadap salah satu jenis HPHK selama pengamata, apabila terdapat hasil positif
HPHK Golongan I maka petugas yang ditunjuk pada surat penugasan (KH-2)
berhak melakukan pembongkaran muat sesuai dengan surat persetujuan bongkar
(KH-5). Pejabat fungsional menyampaikan hasil tindakan karantina kepada
kepala bidang karantina hewan. Kepala bidang karantina hewan menerima
laporan hasil tindakan karantina dan disposisi untuk dilakukan tindakan
karantina selanjutnya.
Pejabat fungsional Medik Veteriner yakni dokter hewan menerbitkan
sertifikat Kesehatan Hewan (KH-9), sertifikat Sanitasi Produk Hewan (KH-10)
atau sertifikat Benda Lain (KH-11) atau sertifikat Pelepasan Karantina Hewan
(KH-12) jika dinyatakan komoditi tersebut bebas dari HPHK, tidak ditemukan
penyakit menular yakni sehat, aman dan baik serta menyerahkan kepada petugas
pelayanan. Petugas pelayanan operasional menyerahkan sertifikat karantina
(KH-9, KH-10, KH-11, KH-12) kepada pengguna jasa setelah pengguna jasa
menunjukan bukti pembayaran/PNBP.

4.3 Kegiatan Mahasiswa PPDH di BBKP Surabaya

Kegiatan mahasiswa PPDH di BBKP Surabaya diantaranya adalah


mengikuti kegiatan di Unit Pelayanan II (Tanjung Perak), Unit Pelayanan III
Cargo Juanda dan di Laboratorium Kantor Pusat BBKP Surabaya.

4.3.1 Kegiatan di Unit Pelayanan II (Tanjung Perak)

Kegiatan di Unit Pelayanan II (Tanjung Perak) diantaranya adalah


mengikuti kegiatan pemeriksaan barang dengan x-ray di Gapura Nusantara yang
merupakan gapura pemeriksaan penumpang yang akan berangkat menuju luar
daerah/pulau. Tujuan kegiatan di Gapura Nusantara adalah untuk mengantisipasi
penumpang yang menyelundupkan hewan, BAH, dan HBAH tanpa disertai

26
dokumen pendukung. Selama dua hari mengikuti kegiatan di Gapura Nusantara
tidak ditemukan adanya penyelundupan hewan/ bahan asal hewan.

4.3.2 Kegiatan di Unit Pelayanan Teknis III Cargo Juanda

Kegiatan di Unit Pelayanan Teknis III Cargo Juanda yaitu mengikuti


kegiatan pemeriksaan fisik dan dokumen. Pemeriksaan dokumen dan fisik ini
dilakukan untuk pembuatan sertifikat KH-9, KH-10, KH-11 maupun KH-12.
Pemeriksaan fisik ini dilakukan setelah melalui prosedur permohonan
pemeriksaan (KH-1) kemudian pihak pelayanan dari masing-masing unit
pelayanaan BBKP Surabaya akan mengeluarkan dokumen KH-2 guna penugasan
untuk mengambil sampel. Pengambilan sampel dapat dilakukan di Instalasi
karantina (Gambar 4.8) yang dilakukan oleh dokter hewan maupun paramedis
karantina. Sampel yang sudah diambil kemudian dikirimkan ke Laboratorium
Kantor Pusat BBKP Surabaya untuk dilakukan pengujian sesuai dengan
kebutuhan.

Gambar 4.8 Pengambilan sampel yang dilakukan di Instalasi Karantina Unit


Pelayanan Teknis III Cargo Bandara Juanda (Sumber : dok.pribadi).

Selama mengikuti kegiatan di Pelayanan Teknis III Cargo Bandara Juanda


kebanyakan hewan yang diperiksa adalah ayam jago dengan daerah yang dituju
adalah Balikpapan, Sorong, Ambon, dan Makassar. Pengambilan sample
tergantung uji yang akan dilakukan. Untuk ayam yang akan dilakukan uji HA/HI
maka dilakukan pengambilan darah melalui vena brachialis, sedangkan untuk
ayam yang akan dilakukan uji PCR, biasanya sample yang digunakan adalah swab
mulut.

27
4.3.3 Kegiatan di Laboratorium Kantor Pusat BBKP Surabaya

Jenis pemeriksaan laboratorium pada hewan yang akan diekspor atau


dikirim keluar daerah disesuaikan berdasarkan permintaan atau syarat dari
daerah tujuan. Sedangkan untuk pemeriksaan penyakit yang dilakukan di
laboratorium yaitu sesuai dengan penyakit prioritas nasional, daerah dan eksotis.
Penyakit prioritas ini sudah diatur dalam peraturan pemerintah maupun
peraturan daerah. Apabila dari hasil pemeriksaan ditemukan kasus penyakit
HPHK Golongan I, maka tindakan yang harus dilakukan berdasarkan Permentan
No. 51 Tahun 2006 adalah:
a. Dilaporkan paling lama dalam waktu 24 jam ke badan karantina pertanian
dengan tembusan ke dirjen peternakan dan pemerintah daerah setempat
melalui dinas yang membidangi fungsi kesehatan hewan dan kesehatan
masyarakat veteriner sesuai wilayah kerjanya.
b. Kepala balai karantina membentuk tim tindakan darurat antar UPT karantina
hewan, dinas dan BPPV.
c. Gubernur/bupati/walikota wajib menutup daerah khusus atas rekomendasi
kepala dinas kesehatan hewan.
d. Menteri pertanian menetapkan terjadinya wabah dan daerah tertular.
e. Pelaksanaan survailans di dalam dan di daerah sekitar IKH (radius 3 km)
dilakukan minimal dua kali setahun oleh laboratorium veteriner karantina
hewan.
f. Tindakan pengendalian penyakit hewan karantina.
Sedangkan tindakan yang perlu dilakukan apabila ditemukan kasus
penyakit HPHK Golongan II adalah:
a. Sarana yang bersentuhan dengan media pembawa dilakukan dekontaminasi.
b. Wajib dilaporkan ke kepala balai karantina pertanian dan dinas kesehatan
hewan.
c. Tindakan karantina dilakukan berupa perlkuan sebelum media pembawa
dapat di lalulintaskan.
d. Jika hasil perlakuan dan pengujian laboratorium hasilnya negatif maka
dilakukan pembebasan.

28
Kegiatan yang diikuti di Laboratorium Kanotor Pusat BBKP Surabaya
yaitu Uji HA-HI, dan Real Time PCR.

4.3.3.1 Uji HA-HI

Pengujian hemaglutinasi (HA/HI) wajib dilakukan apabila akan


mengirimkan ayam ke Wilayah Makasar dan Balikpapan. Hemagglutination Test
dapat diartikan sebagai hambatan hemaglutinasi. Uji ini yang dapat dilakukan
untuk mengidentifikasi virus-virus yang dapat mengaglutinasi sel darah merah.
Virus yang dapat mengaglutinasi sel darah merah misalnya ortho-dan
paramyxovirus; alfa-, flavi-, dan bunyavirus; serta adeno-, reo-, parvo-, dan
coronavirus. Apabila uji HA positif dilanjutkan dengan Uji HI untuk menentukan
titer antigen atau tiiter antibodi. Uji HA/HI yang dilakukan di Laboratorium
Kantor Pusat BBKP Surabaya menggunakan antigen/antibodi dari virus AI.

Berikut merupakan langkah kerja uji HA/HI:

a. Uji HA Mikroplate (Untuk Mendapatkan Antigen 4 HA Unit)


 Mengisi lubang mikroplate nomer 1-6 dengan 0,025 ml PZ menggunakan
mikropipet. Lubang yang diisi sebanyak tiga baris (baris I, II dan III).
 Mengisi lubang nomor 1 dari baris I, II dan III dengan antigen sebanyak
0,025 ml.
 Melakukan titrasi dengan cara mengambil dari lubang nomer 1 sebanyak
0,025 ml dan mencampurkannya ke lubang nomer 2. Demikian seterusnya
sampai lubang nomer 4.
 Menambahkan eritrosit 0,5% ke semua lubang sebanyak 0,05 ml.
 Menginkubasikan mikroplate selama 30 menit pada suhu kamar sebelum
kemudian membaca titernya.

b. Uji HI Mikroplate
 Mengisi lubang mikroplate nomer 1-12 dari baris A,B,C, dan D dengan
0,050 ml PZ menggunakan mikropipet.

29
 Mengisi lubang nomor 1-12 dari baris A dan B dengan serum ND
sebanyak 0,025 ml dengan pengenceran bertingkat.
 Mengisi lubang no 1-12 dari baris C dan D dengan antigen sampel dari
cairan alantois TAB sebanyak 0,025 ml.
 Diinkubasi selama 10-15 menit.
 Menambahkan eritrosit sebanyak 0,050 ml pada semua lubang 1-12 dari
baris A, B, C, dan D.
 Diinkubasi selama 15 menit.
 Membaca hasil.

Hasil yang didapatkan selama mengikuti uji HA/HI adalah negatif, sehingga
ayam dapat dikirim ke tempat tujuan.

4.3.3.2 Real Time PCR

Pemeriksaan PCR AI dilakukan pada ayam yang akan dikirim di daerah


Sorong dan Ambon serta burung untuk wilayah Makasar. Selain itu di
Laboratorium Pusat BBKP Surabaya juga menerima sample dari instansi lain
untuk keperluan penelitian ataupun surveilance.
Kebanyakan sample yang diperiksa berupa hasil swab tenggorokan dari
ayam ataupun burung untuk diperiksa terhadap genom virus AI. Di
Laboratorium Pusat BBKP Surabaya teknik PCR yang digunakan menggunakan
Real Time PCR (Q-PCR). Real Time PCR adalah teknik yang digunakan untuk
memonitor progress reaksi PCR pada waktu yang sama. Real Time PCR juga
dikenal sebagai quantitative PCR (Q-PCR). Jumlah produk PCR (DNA, cDNA
atau RNA) yang relatif sedikit, dapat dihitung secara kuantitatif. Perbedaan Real
Time PCR dan PCR biasa yaitu, dengan Real Time PCR deteksi produk PCR
dapat dihasilkan pada fase awal reaksi. PCR biasa hanya menggunakan
Electrophoresis gel untuk deteksi produk amplifikasi PCR pada fase akhir,
tanpa mengetahui jumlah produk PCR yang diekspresikan atau dihasilkan.
Prinsip PCR didasarkan pada deteksi fluoresensi yang diproduksi oleh
molekul reporter yang meningkat sejalan dengan berlangsungnya proses PCR.
Hal ini terjadi karena akumulasi produk PCR pada tiap siklus amplifikasi.

30
Penggunaan probe yang spesifik membantu peningkatan spesifisitas pada
pengujian Real Time PCR jika dibandingkan dengan pengujian PCR
konvensional (Chantratita et al. 2008)
Adapun langkah kerja pengujian AI dengan Real Time PCR (Q-PCR)
(Manual Handbook Quantifast Sybr Green PCR) sebagai berikut : Penggunaan
Real Time PCR dilakukan dengan membuat master mix terlebih dahulu
kemudian diamplifikasi dan dimasukan kedalam mesin Real Time PCR.
Kemudian dihitung komposisi untuk membuat PCR mix sesuai dengan jumlah
sampel yang digunakan dan kontrol positif disiapkan. Quantifast Mix, primer
mix, RNAse Free water dan template DNA dicairkan sebanyak 2x, lalu spin
down selama 15 detik, PCR mix dalam tabung LifeTouch Microcentrifuge steril
1,7 mL disiapkan. Bahan untuk satu kali reaksi yang terdiri dari 12,5 µL Q fast
sbyr green, 2,5 µL primer forwad (10uM), 2,5 µL primer reverse (10 µM), 5,5
µL RNAse free water dan tempelate DNA 2 µL. PCR mix sesuai jumlah sampel
dicampur kecuali template, kemudian distribusikan ke dalam tabung reaksi 0.2
mL masing-masing 22,5 μL. Template DNA sebanyak 2 μL ditambahkan ke
dalam tabung PCR yang sudah berisi PCR mix. Masing-masing sampel
dimasukan kedalam setiap well pada plate 96 well reaction. Kemudian well
ditutup dengan 7 PCR sealer TM Microseal. Well dimasukkan ke dalam real-
time PCR yang telah diatur dengan protokol. Protokol PCR yang digunakan
yaitu PCR initial activation enzim selama 5 menit dengan pada suhu 95°C,
denaturasi 10 detik pada suhu 95°C, anealing 30 detik pada suhu 54oC, jumlah
cycle 35 dan melt on green 60 sampai dengan suhu 95°C, kemudian dilakukan
running dengan real-time PCR. Secara umum tahapan melakukan uji PCR
terdapat pada Gambar 4.9.

31
Menggunakan real- time
PCR untuk mendeteksi AI
pada sampel yang diperiksa

Gambar 4.9 Penggunaan Real Time PCR untuk mendeteksi AI.

Hasil dari kegiatan real time PCR di Laboratorium Pusat BBKP Surabaya
adalah semua sampel yang diujikan negative Avian influenza.

32
BAB 5 KESIMPULAN DAN SARAN

5.1 Kesimpulan
Kesimpulan yang dapat diambil setelah melaksanakan kegiatan koasistensi
PPDH di BBKP Surabaya ini adalah sebagai berikut:
1. Peran dan kewenangan dokter hewan dalam alur pelayanan adminsitrasi di
Karantina hewan yaitu memutuskan media pembawa yaitu hewan, bahan
asal hewan, hasil bahan asal hewan maupun benda lain dilakukan tindakan
karantina yang lainnya berdasarkan hasil pemeriksaan terhadap kelengkapan
masing-masing dokumen persyaratan karantina yang diberikan oleh
pengguna jasa.
2. Peran dan kewenangan dokter hewan karantina menurut profesi dan otoritas
veteriner terhadap tindakan karantina hewan yaitu memutuskan hasil
tindakan karantina (8P) dan memberikan rekomendasi kepada Kepala BBKP
Surabaya untuk menerbitkan dokumen-dokumen karantina.
3. Kegiatan yang dilakukan mahasiswa PPDH di Karantina Hewan BBKP
Surabaya yaitu ikut mengikuti segala proses tindakan karantina terhadap
media pembawa hingga diterbitkannya sertifikat yang dilakukan di BBKP
Surabaya.

5.2 Saran
Perlu dilakukan koordinasi dan kesadaran baik kepada pengguna jasa dan
seluruh pihak terkait dalam upaya pengawasan dan pengendalian media
pembawa penyakit hewan karantina.

33
DAFTAR PUSTAKA

Amir, M.S. 2005. Seluk Beluk dan Teknik Perdagangan Luar Negeri, Seri Umum
No.2, PT. Pustaka Binaman Pressindo. Jakarta.
Baraniah, M. A. 2009. Peran Karantina Hewan dalam Mencegah dan Menangkal
Penyakit Zoonosis. Lokakarya Nasional Penyakit Zoonosis. Bogor.
[Barantan] Badan Karantina Pertanian. 2006. Lampiran Surat Keputusan Badan
Karantina Pertanian No.344.b/kpts/P.D.670.370/L/12/06 tentang Petunjuk
teknis persyaratan dan tindakan karantina hewan terhadap lalulintas hewan
penular rabies (anjing, kucing, kera dan sebangsanya). Badan Karantina
Pertanian. Jakarta.
[Barantan] Badan Karantina Pertanian. 2010. Profil Balai Besar Karantina
Pertanian Surabaya. Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya.
Surabaya.
[Barantan] Badan Karantina Pertanian. 2014. Profil Balai Besar Karantina
Pertanian Surabaya. Kantor Balai Besar Karantina Pertanian Surabaya.
Surabaya.
Chantratita W, Sukasem C, Kaewpongsri S, Srichunrusami C, Pairoj W,
Thitithanyanont A, Chaichoune K, Ratanakron P, Songserm T,
Damrongwatanapokin S, Landt O. 2008. Qualitative detection of Avian
Influenza A (H5N1) viruses: a comparative evaluation of four real-time
nucleic acid amplification methods. Mol Cell Probes. 22:287-293.
Helwani, dan Hendra. 2005. Ekonomi Internasional dan Globalisai Ekonomi
Cetakan Kedua. Ghalia Indonesia. Bogor.
[PKH] Pusat Karantina Hewan. 2002. Rencana Strategis dan Kebijakan Teknis
Karantina Hewan. Jakarta : Pusat Karantina Hewan.
[RI] Republik Indonesia. 1992. Undang Undang Nomor 16 Tahun 1992 tentang
Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Sekretariat Negara. Jakarta.
[RI] Republik Indonesia. 2000. Peraturan Pemerintah Nomor 82 Tahun 2000
tentang Karantina Hewan, Ikan, dan Tumbuhan. Sekretariat Negara. Jakarta.
[RI] Republik Indonesia. 2008. Peraturan Menteri Pertanian Nomer :
13/Permentan/OT.140/2/2008 tentang Persyaratan dan Penetapan Pihak
Lain dalam membantu Pelaksanaan Tindakan Karantina Hewan. Jakarta.
[RI] Republik Indonesia. 2008. Keputusan Menteri Pertanian Nomor
22/Permentan/OT.140/4/2008 tentang Organisasi dan Tata Kerja Unit
Pelaksana Teknis Karantina Pertanian. Jakarta
[RI] Republik Indonesia. 2013. Peraturan Menteri Pertanian Nomor
41/OT.140/3/2013 tentang Tindakan Karantina Hewan terhadap Pemasukan
atau Pengeluaran Sarang Walet ke dan dari Dalam Wilayah Negara
Republik Indonesia. Jakarta.
[RI] Republik Indonesia. 2014. Peraturan Menteri Pertanian Nomor:
44/Permentan/OT.140/3/2014 tentang Perubahan atas Peraturan Menteri

34
Pertanian Nomor 94/PERMENTAN/OT.140/12/2011 Tentang Tempat
Pemasukan dan Pengeluaran Media Pembawa Penyakit Hewan Karantina
dan Organisme Pengganggu Tumbuhan Karantina. Jakarta.
[RI] Republik Indonesia. 2015. Peraturan Menteri Pertanian Nomor
70/Permentan/KR.100/12/2015 tentang Instalasi Karantina H

35

Anda mungkin juga menyukai