Anda di halaman 1dari 22

BAB I

PENDAHULUAN

Abses peritonsil dapat terjadi pada umur 10-60 tahun, namun paling sering
terjadi pada umur 20-40 tahun. Pada anak-anak jarang terjadi kecuali pada mereka
yang menurun sistem imunnya, tapi infeksi bisa menyebabkan obstruksi jalan napas
yang signifikan pada anak-anak. Infeksi ini memiliki proporsi yang sama antara laki-
laki dan perempuan. Bukti menunjukkan bahwa tonsilitis kronik atau percobaan
multipel penggunaan antibiotik oral untuk tonsilitis akut merupakan predisposisi pada
orang untuk berkembangnya abses peritonsil. Di Amerika insiden tersebut kadang-
kadang berkisar 30 kasus per 100.000 orang per tahun, dipertimbangkan hampir
45.000 kasus setiap tahun.1
Abses peritonsil adalah penyakit infeksi yang paling sering terjadi pada
bagian kepala dan leher. Gabungan dari bakteri aerob dan anaerob di daerah
peritonsilar. Tempat yang biasa terjadi abses adalah di bagian pillar tonsil
anteroposterior, fossa piriform inferior, dan palatum superior.3 Penjalaran infeksi
disebabkan oleh perembesan peradangan melalui kapsula tonsil. Peradangan akan
mengakibatkan terbentuknya abses dan biasanya unilateral. Gejala dan tanda klinik
setempat berupa nyeri dan pembengkakan akan menunjukkan lokasi infeksi.2
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. ANATOMI TONSIL
Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh
jaringan ikat dengan kriptus di dalamnya Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsil
faringeal (adenoid), tonsil palatina, dan tonsil lingual yang ketiga- tiganya
membentuk lingkaran yang disebut cincin Waldeyer.4

Gambar 1. Anatomi Tonsil.5


Bagian permukaan lateral tonsil ditutupi oleh suatu membran jaringan ikat,
yang disebut kapsul. Walaupun para pakar anatomi menyangkal adanya kapsul
ini, tet api para klinisi menyatakan bahwa kapsul adalah jaringan ikat putih yang
menutupi 4/ 5 bagian tonsil. Kapsul tonsil mempunyai trabekula yang berjalan ke
dalam parenkim. Trabekula ini mengandung pembuluh darah, saraf -saraf dan
pembuluh eferen.8
1. Tonsila Palatina
Tonsil palatina adalah suatu masa jaringan limfoid yang terletak di
dalam fosa tonsil pada kedua sudut orofaring dan dibatasi oleh pilar anterior
(otot palatoglosus) dan pilar posterior (otot palatofaringeus). Tonsil
berbentuk oval dengan panjang 2 -5 cm, masing- masing tonsil mempunyai
10 -30 kriptus yang meluas ke dalam jaringan tonsil.6
Cincin Waldeyer merupakan jaringan limfoid yang mengelilingi
faring. Cincin Waldeyer terdiri atas susunan kelenjar limfa yang terdapat di
dalam rongga mulut yaitu tonsil palatina (tonsil faucial) , tonsil faring
(adenoid), tonsil lingual (tonsil pangkal lidah), tonsil tuba Eustachius
(lateral band dinding faring/ Gerlach’s tonsil).6
2. Fossa Tonsil
Fosa tonsil atau sinus tonsil yang di dalamnya terletak tonsil palatina,
dibatasi oleh otot -otot orofaring, yaitu batas anterior adalah muskulus
palatoglosus atau disebut pilar posterior, batas lateral atau dinding luarnya
adalah muskulus konstriktor farin g superior.7
Gambar 2. Potongan sagital tonsil.6
Pilar anterior mempunyai bentuk seperti kipas pada rongga mulut,
mulai dari palatum mole dan berakhir di sisi lateral lidah. Pilar posterior
adalah otot vertikal yang ke atas mencapai palatum mole, tuba eustachius
dan dasar tengkorak dan ke arah bawah meluas hingga dinding lateral
esofagus, sehingga pada tonsilektomi harus hati -hati agar pilar posterior
tidak terluka.7 Pilar anterior dan pilar posterior bersatu di bagian atas pada
palatum mole, ke arah ba wah terpisah dan masuk ke jaringan di pangkal
lidah dan dinding lateral faring. 6,7
3. Plika Triangularis
Di antara pangkal lidah dan bagian anterior kutub bawah tonsi l
terdapat plika triangularis yang merupakan suatu struktur normal yang telah
ada sejak masa embrio. Serabut ini dapat menjadi penyebab kesukaran saat
pengangkatan tonsil dengan jerat. Komplikasi yang sering terjadi adalah
terdapatnya sisa tonsil atau terp otongnya pangkal lidah. 6,7,8
Kadang-kadang plika triangularis membentuk suatu kantong atau
saluran buntu. Keadaan ini dapat merupakan sumber infeksi lokal maupun
umum karena kantong tersebut terisi sisa makanan atau kumpulan debris.7,8
4. Vaskularisasi, Aliran Getah Bening dan Persarafan Tonsil
Tonsil mendapat perdarahan dari cabang-cabang arteri karotis
eksterna, yaitu:6
a. Arteri maksilaris eksterna (arteri fasialis) dengan cabangnya arteri
tonsilaris dan arteri palatine ascenden
b. Arteri maksilaris interna dan cabangnya arteri palatina descenden
c. Arteri lingualis dan cabangnya arteri lingualis
d. Arteri faringeal ascenden

Gambar 3. Vaskularisasi Tonsil.6


Kutub bawah tonsil bagian anterior diperdarahi oleh arteri lingualis
dorsal dan bagian posterior oleh arteri palatina asenden, di antara kedua
daerah tersebut diperdarahi oleh a rteri tonsilaris. Kutub atas tonsil
diperdarahi oleh a rteri faringeal asenden dan a rteri palatina desenden.9
Arteri tonsilaris berjalan ke atas pada bagian luar m.konstriktor superior dan
memberikan cabang untuk tonsil dan palatum mole. Arteri palatina asenden,
mengirimkan cabang –cabang melalui m.konstriktor superior melalui tonsil.
Arteri faringeal asenden juga memberikan cabangnya ke tonsil melalui
bagian luar m.konstriktor superior. Arteri lingualis dorsa l naik ke pangkal
lidah dan mengirimkan cabangnya ke tonsil, pilar anterior, dan pilar
posterior. Arteri palatina desenden atau arteri palatina minor atau arteri
palatina posterior memperdarahi tonsil dan palatum mole dari atas dan
membentuk anastomosis dengan arteri palatina asenden.8,9
Vena-vena dari tonsil membentuk pleksus yang bergabung dengan
pleksus dari faring. Aliran balik melalui pleksus vena di sekitar kapsul
tonsil, vena lidah dan pleksus faring.8,9
Perdarahan adenoid berasal dari cabang -cabang arteri maksila interna.
Disamping memperdarahi adenoid pembuluh darah ini juga memperdarahi
sinus sphenoid.9

Gambar 4. Aliran Getah Bening.9


Aliran getah bening dari daerah tonsil akan menuju rangkaian getah
bening servikal profunda (deep jugular node) bagian superior di bawah
muskulus sternokleidomastoideus, selanjutnya ke kelenjar toraks dan
akhirnya menuju duktus torasikus. Tonsil hanya mempunyai pembuluh
getah bening eferan sedangkan pembuluh getah bening aferen tidak ada.9
Gambar 5. Persarafan Tonsil.6
Tonsil bagian bawah mendapat sensasi dari cabang serabut saraf ke IX
(nervus glosofaringeal) dan juga dari cabang desenden lesser palatine
nerves.
5. Ruang Peritonsiler

Gambar 6. Ruang Peritonsiler.6


Ruang peritonsil digolongkan sebagai ruang intrafaring walaupun
secara anatomi terletak di antara fasia leher dalam. Ruang peritonsil
merupakan salah satu dari ruang leher dalam, Scott B.A.7 membagi ruang
leher dalam menjadi:
Tabel 1. Pembagian ruang leher.7
a. Ruang yang mencakup seluruh panjang leher:
1) Ruang retrofaring
2) Ruang bahaya
3) Ruang vascular viseral
b Ruang yang terbatas pada sebelah atas os hyoid:
1) Ruang faringom aksila
2) Ruang submandibula
3) Ruang parotis
4) Ruang masticator
5) Ruang peritonsil
6) Ruang temporal
c Ruang yang terbatas pada sebelah bawah os hyoid:
1) Ruang visceral anterior

Dinding medial ruang peritonsil dibentuk oleh kapsul tonsil, yang


terbentuk dari fasia faringo-basilar dan menutupi bagian lateral tonsil.
Dinding lateral ruang peritonsil dibentuk oleh serabut horizontal otot
konstriktor superior dan serabut vertikal otot palatofaringeal.9
Pada sepertiga bawah permukaan bagian dalam tonsil, serabut -serabut
otot palatofaringeal meninggalkan dinding lateral dan meluas secara
horizontal menyeberangi ruang peritonsil kemudian menyatu dengan kapsul
tonsil. Hubungan ini disebut ligamen triangular atau ikatan tonsilofaring.9
Batas-batas superior, inferior, anterio r dan posterior ruang peritonsil ini
juga dibentuk oleh pilar -pilar anterior dan posterior tonsil.8,9

B. ABSES PERITONSIL
Abses peritonsil atau Quinsy adalah suatu infeksi akut dan berat di daerah
orofaring. Abses peritonsil merupakan kumpulan pus yang terlo kalisir pada
jaringan peritonsil yang umumnya merupakan komplikasi dari tonsilitis akut
berulang atau bentuk abses dari kelenjar Weber pada kutub atas tonsil. Infeksi
yang terjadi akan menembus kapsul tonsil (umumnya pada kutub atas tonsil) dan
meluas ke d alam ruang jaringan ikat di antara kapsul dan dinding posterior fosa
tonsil. Perluasan infeksi dan abses ke daerah parafaring, sehingga terjadi abses
parafaring.10
Tempat yang bisa berpotensi terjadinya abses adalah adalah didaerah pillar
tonsil anteroposterior, fossa piriform inferior, dan palatum superior.1

C. EPIDEMIOLOGI
Abses peritonsil kira-kira 30% dari abses leher dalam,4 sekalipun sudah di
era antibiotika, abses peritonsil masih sering ditemukan dengan jumlah yang
menurun menjadi 18% di United Kingdom dalam sepuluh tahun terahir ini.11
Abses peritonsi biasanya ditemukan pada orang dewasa dan dewasa muda,
sekalipun dapat terjadi pada anak-anak.6 Abses peritonsil umumnya terjadi akibat
komplikasi tonsilitis akut , dikatakan bahwa abses peritonsil merupakan salah
satu komplikasi umum dari tonsilitis akut, pada penelitian di seluruh dunia
dilaporkan insidens abses peritonsil ditemukan 10 -37 per 100.000 orang.12,13 di
Amerika dilaporkan 30 kasus per 100 orang per tahun, 45.000 kasus baru per
tahun. Data yang akurat secara internasional belum dilaporkan. Biasanya
unilateral, bilateral jarang ditemukan.6

D. ETIOLOGI
Proses ini terjadi sebagai komplikasi tonsilitis akut atau infeksi yang
bersumber dari kelenjar mukus Weber di kutub atas tonsil. Biasanya kuman
penyebab sama dengan penyebab tonsilitis, dapat ditemukan kuman aerob dan
anaerob.14
Organisme aerob yang paling sering menyebabkan abses peritonsiler adalah
Streptococcus pyogenes (Group A Beta-hemolitik streptoccus), Staphylococcus
aureus, dan Haemophilus influenzae. Sedangkan organisme anaerob yang
berperan adalah Fusobacterium. Prevotella, Porphyromonas, Fusobacterium,dan
Peptostreptococcus spp. Untuk kebanyakan abses peritonsiler diduga disebabkan
karena kombinasi antara organisme aerobik dan anaerobic.15

E. PATOFISIOLOGI
Abses peritonsil biasanya terjadi sebagai akibat komplikasi tonsillitis akut,
walaupun dapat terjadi tanpa infeksi tonsil sebelumnya. Infeksi memasuki kapsul
tonsil sehingga terjadi peritonsilitis dan kemudian terjadi pembentukan nanah.
Daerah superior dan lateral fosa tonsilaris merupakan jaringan ikat longgar, oleh
karena itu infiltrasi supurasi ke ruang potensial peritonsil tersering menempati
daerah ini, sehingga tampak palatum mole membengkak. Abses peritonsil juga
dapat terbentuk di bagian inferior, namun jarang. Pada stadium permulaan
(stadium infiltrat), selain pembengkakan tampak juga permukaan yang hiperemis.
Bila proses tersebut berlanjut, terjadi supurasi sehingga daerah tersebut lebih
lunak dan berwarna kekuning-kuningan. Pembengkakan peritonsil akan
mendorong tonsil ke tengah, depan, bawah, dan uvula bengkak terdorong ke sisi
kontra lateral.16
Bila proses terus berlanjut, peradangan jaringan di sekitarnya akan
menyebabkan iritasi pada m. pterigoid interna, sehingga timbul trismus.8
Kelenjar Weber adalah kelenjar mucus yang terletak di atas kapsul tonsil, kelenjar
ini mengeluarkan air liur ke permukaan kripta tonsil. Kelenjar ini bisa tertinggal
pada saat tonsilektomi,sehingga dapat menjadi sumber infeksi setelah
tonsilektomi.8 Dilaporkan bahwa penyakit gigi dapat memegang peranan dalam
etiologi abses peritonisl. Fried dan Forest menemukan 27% adanya riwayat
infeksi gigi. Abses peritonsil mengalami peningkatan pada penyakit periodontal
dibandingkan tonsilitis rekuren.16

F. MANIFESTASI KLINIS
Beberapa gejala klinis abses peritonsil antara lain berupa pembengkakan
awal hampir selalu berlokasi pada daerah palatum mole di sebelah atas tonsil
yang menyebabkan tonsil membesar ke arah medial. Onset gejala abses peritonsil
biasanya dimulai sekitar 3 sampai 5 hari sebelum pemeriksaan dan diagnosis.17

Gambar 7. Tonsilitis akut (sebelah kiri) dan abses peritonsil (sebelah kanan)

Gejala klinis berupa rasa sakit di tenggorok yang terus menerus hingga
keadaan yang memburuk secara progresif walaupun telah diobati. Rasa nyeri
terlokalisir, demam tinggi, (sampai 40°C), lemah dan mual. Odinofagi dapat
merupakan gejala menonjol dan pasien mungkin mendapatkan kesulitan untuk
makan bahkan menelan ludah. Akibat tidak dapat mengatasi sekresi ludah
sehingga terjadi hipersalivasi dan ludah seringkali menetes keluar. Keluhan
lainnya berupa mulut berbau (foetor ex ore), muntah (regurgitasi) sampai nyeri
alih ke telinga (otalgi). Trismus akan muncul bila infeksi meluas mengenai otot-
otot pterigoid.17
Gambar 8. Abses peritonsil.

Penderita mengalami kesulitan berbicara, suara menjadi seperti suara


hidung, membesar seperti mengulum kentang panas (hot potato’s voice) karena
penderita berusaha mengurangi rasa nyeri saat membuka mulut.17
Pada pemeriksaan tonsil, ada pembengkakan unilateral, karena jarang kedua
tonsil terinfeksi pada waktu bersamaan. Bila keduanya terinfeksi maka yang
kedua akan membengkak setelah tonsil yang satu membaik. Bila terjadi
pembengkakan secara bersamaan, gejala sleep apnea dan obstruksi jalan nafas
akan lebih berat. Pada pemeriksaan fisik penderita dapat menunjukkan tanda-
tanda dehidrasi dan pembengkakan serta nyeri kelenjar servikal / servikal
adenopati. Di saat abses sudah timbul, biasanya akan tampak pembengkakan pada
daerah peritonsilar yang terlibat disertai pembesaran pilar-pilar tonsil atau
palatum mole yang terkena.17
Tonsil sendiri pada umumnya tertutup oleh jaringan sekitarnya yang
membengkak atau tertutup oleh mukopus. Timbul pembengkakan pada uvula
yang mengakibatkan terdorongnya uvula pada sisi yang berlawanan. Paling
sering abses peritonsil pada bagian supratonsil atau di belakang tonsil,
penyebaran pus ke arah inferior dapat menimbulkan pembengkakan supraglotis
dan obstruksi jalan nafas. Pada keadaan ini penderita akan tampak cemas dan
sangat ketakutan.17
Abses peritonsil yang terjadi pada kutub inferior tidak menunjukkan gejala
yang sama dengan pada kutub superior. Umumnya uvula tampak normal dan
tidak bergeser, tonsil dan daerah peritonsil superior tampak berukuran normal
hanya ditandai dengan kemerahan.17

G. DIAGNOSIS
Menegakkan diagnosis penderita dengan ab ses peritonsil dapat dilakukan
berdasarkan anamnesis tentang riwayat penyakit, gejala klinis dan pemeriksaan
fisik penderita. Aspirasi dengan jarum pada daerah yang paling fluktuatif, atau
punksi merupakan tindakan diagnosis yang akurat untuk memastikan abses
peritonsil. Untuk mengetahui jenis kuman pada abses peritonsil tidak dapat
dilakukan dengan cara usap tenggorok. Pemeriksaan penunjang akan sangat
membantu selain untuk diagnosis juga untuk perencanaan penatalaksanaan.20
Pemeriksaan secara klinis seringkali sukar dilakukan karena adanya trismus.
Palatum mole tampak menonjol ke depan, dapat teraba fluktuasi. Tonsil bengkak,
hiperemis, mungkin banyak detritus, terdorong ke arah tengah, depan dan bawah.
Uvula terdorong ke arah kontra lateral. Gejala lain untuk diagnosis sesuai dengan
gejala klinisnya. 17,19,20
Pemeriksaan laboratorium darah berupa faal hemostasis, terutama adanya
leukositosis sangat membantu diagnosis. Pemeriksaan radiologi berupa foto
rontgen polos, ultrasonografi dan tomografi komputer.10 Saat ini ultrasonografi
telah dikenal dapat mendiagnosis abses peritonsil secara spesifik dan mungkin
dapat digunakan sebagai alternatif pemeriksaan. Mayoritas kasus yang diperiksa
menampakkan gambaran cincin isoechoic dengan gambaran sentral
hypoechoic.18
Gambaran tersebut kurang dapat dideteksi bila volume relatif pus dalam
seluruh abses adalah kurang dari 10% pada penampakan tomografi computer.
Penentuan lokasi abses yang akurat, membedakan antara selulitis dan abses
peritonsil serta menunjukkan gambaran penyebaran sekunder dari infeksi ini
merupakan kelebihan penggunaan tomografi komputer. Khusus untuk diagnosis
abses peritonsil di daerah kutu b bawah tonsil akan sangat terbantu dengan
tomografi komputer.18

Gambar 9. Tomografi computer abses peritonsil

Pemeriksaan dengan menggunakan foto rontgen polos dalam mengevaluasi


abses peritonsil terbatas. Bagaimanapun tomografi komputer dan ultrasonografi
dapat membantu untuk membedakan antara abses peritonsil dengan selulitis
tonsil.18 Ultrasonografi juga dapat digunakan di ruang pemeriksaan gawat
darurat untuk membantu mengidentifikasi ruang abses sebelum dilakukan aspirasi
dengan jarum.21

H. DIAGNOSIS BANDING
Penonjolan satu atau kedua tonsil, atau setiap pembengkakan pada daerah
peritonsilar harus dipertimbangkan penyakit lain selain abses peritonsil sebagai diagnosis
banding. Contohnya adalah infeksi mononukleosis, benda asing, tumor / keganasan /
limfoma, penyakit Hodgkin leukemia, adenitis servikal, aneurisma arteri karotis interna
dan infeksi gigi. Kelainan-kelainan ini dapat dibedakan dari abses peritonsil melalui
pemeriksaan darah, biopsi dan pemeriksaan diagnostik lain.6,8,21
Tidak ada kriteria spesifik yang dianjurkan untuk membedakan selulitis dan abses
peritonsil. Karena itu disepakati bahwa, kecuali pada kasus yang sangat ringan, semua
penderita dengan gejala infeksi daerah peritonsil harus menjalani aspirasi/ punksi.
Apabila hasil aspirasi positif (t erdapat pus), berarti abses, maka penatalaksanaan
selanjutnya dapat dilakukan. Bila hasil aspirasi negatif (pus tidak ada), pasien mungkin
dapat didiagnosis sebagai selulitis peritonsil.20,21

I. KOMPLIKASI
Komplikasi segera yang dapat terjadi berupa dehidrasi karena masukan
makanan yang kurang. Pecahnya abses secara spontan dengan aspirasi darah atau
pus dapat menyebabkan pneumonitis atau abses paru. Pecahnya abses juga dapat
menyebabkan penyebaran infeksi ke ruang leher dalam, dengan kemungkinan
sampai ke mediastinum dan dasar tengkorak.22,23
Komplikasi abses peritonsil yang sangat serius pernah dilaporkan sekitar
tahun 1930, sebelum masa penggunaan antibiotika. Infeksi abses peritonsil
menyebar ke arah parafaring menyusuri selubung karotis kemudian membentuk
ruang infeksi yang luas. Perluasan Infeksi ke daerah parafaring dapat
menyebabkan terjadinya abses parafaring, penjalaran selanjutnya dapat masuk ke
mediastinum sehingga dapat terjadi mediastinitis.22
Pembengkakan yang timbul di daerah supra glotis dapat menyebabkan
obstruksi jalan nafas yang memerlukan tindakan trakeostomi. Keterlibatan
ruangruang faringomaksilaris dalam komplikasi abses peritonsil mungkin
memerlukan drainase dari luar melalui segitiga submandibular.23
Bila terjadi penjalaran ke daerah intrakranial dapat mengakibatkan
thrombus sinus kavernosus, meningitis dan abses otak. Pada keadaan ini, bila
tidak ditangani dengan baik akan menghasilkan gejala sisa neurologis yang fatal.
Komplikasi lain yang mungkin timbul akibat penyebaran abses adalah
endokarditis, nefritis, dan peritonitis juga pernah ditemukan.22
Bila tidak dilakukan pengobatan abses peritonsil dengan segera maka dapat
menyebabkan komplikasi antara lain limfadenitis servikal, infeksi parafaring dan
perdarahan, edema laring, abses leher dalam, dan jarang terjadi seperti fascitis
nekrotik servikal, dan mediastinitis.17

J. PENATALAKSANAAN
1. Medikamentosa
Pada stadium infiltrasi, diberikan antibiotika golongan penislin atau
klindamisin, dan obat simptomatik. Obat kumur-kumur jiga diperlukan,
dengan menggunakan cairan hangat dan kompres dingin pada leher. Dosis
untuk penisilin pada dewasa adalah 600 mg IV tiap 6 jam selama 12-24 jam,
dan anak 12.500-25.000 U/Kg tiap 6 jam. Bila telah terbentuk abses,
dilakukan pungsi pada daerah abses, kemudian diinsisi untuk mengeluarkan
nanah.4
2. Teknik insisi dan Drainase
Abses peritonsil merupakan suatu indikasi tindakan yang juga disebut
intraoral drainase.Tujuan utama tindakan ini adalah mendapatkan drainase
abses yang adekuat dan terlokalisir secara cepat. Lokasi insisi biasanyadapat
diidentifikasi pada pembengkakan di daerah pilar-pilar tonsil atau dipalpasi
pada daerah paling berfluktuasi.24
Tindakan ini (menghisap pus) penting dilakukan untuk mencegah
aspirasi yang dapat mengakibatkan timbulnya pneumonitis. Biasanya bila
insisi yang dibuat tidak cukup dalam, harus lebih dibuka lagi dan diperbesar.
Setelah cukup banyak pus yang keluar dan lubang insisi yang cukup besar,
penderita kemudian disuruh berkumur dengan antiseptik dan diberi terapi
antibiotika.24
Gambar 10. Gambar lokasi insisi.

Umumnya setelah drainase terjadi, rasa nyeri akan segera berkurang.


Pus yang keluar juga sebaiknya diperiksakan untuk tes kultur dan sensitifitas,
biasanya diambil saat aspirasi (diagnosis).24
3. Tonsilektomi

Gambar 11. Tonsilektomi.


Tonsilektomi sekitarnya. Pada umunya tonsilektomi dilakukan sesuadah
infeksi tenang, yaitu sekitar 2-3 minggu sesudah drainase abses. Tetapi
setelah 2-3 minggu, menimbulkan bekas luka yang terdapat pada kapsul
tonsil, sehingga tindakan operasi sulit dan menimbulkan perdarahan serta sisa
tonsil. Sampai saat ini belum ada kesepakatn, kapan tonsilektomi harus
dilakukan pada kasus abses peritonsil.26
Waktu pelaksanaan tonsilektomi sebagai terapi abses peritonsil
bervariasi:26
a. Tonsilektomi a chaud: dilakukan segera / bersamaan dengan drainase
abses.
b. Tsonsilektomi a tiede : dilakukan 3-4 hari setelah insisi dan drainase.
c. Tonsilektomi a froid : dilakukan 4-6 minggu setelah drainase.
BAB III
KESIMPULAN

A. Tonsil adalah massa yang terdiri dari jaringan limfoid dan ditunjang oleh jaringan
ikat dengan kriptus di dalamnya Terdapat tiga macam tonsil yaitu tonsil faringeal
(adenoid), tonsil palatina, dan tonsil lingual yang ketiga- tiganya membentuk
lingkaran yang disebut cincin Waldeyer.
B. Ruang peritonsil digolongkan sebagai ruang intrafaring walaupun secara anatomi
terletak di antara fasia leher dalam.
C. Abses peritonsil merupakan kumpulan pus yang terlo kalisir pada jaringan
peritonsil yang umumnya merupakan komplikasi dari tonsilitis akut
D. Manifestasi klinis abses peritonsil antara lain: pembengkakan, nyeri tenggorok
terus menerus, nyeri terlokalisir, demam tinggi, lemah, mual, mulut berbau,
hingga nyeri alih ke telinga. Pada pemeriksaan tonsil didapatkan pembengkakan
unilateral disertai pembesaran pilar-pilar tonsil atau palatum mole yang terkena
dan terdorongnya uvula pada sisi yang berlawanan
E. Penatalaksanaan abses peritonsilar dapat dilakukan secara (1) zmedikamentosa
dengan pemberian antibiotik seperti klindamisin dan obat simptomatik, obat
kumur; (2) Teknik insisi dan drainase yang berguna agar mendapatkan drainase
abses yang adekuat dan terlokalisir secara cepat; dan (3) Tonsilektomi merupakan
indikasi absolut pada orang yang menderita abses peritonsilaris berulang atau
abses yang meluas pada ruang jaringan.
DAFTAR PUSTAKA

1. Tan AJ.Peritonsillar abscess in emergency medicine. Available from:


http://emedicine.medscape.com/article/764188-overview.Diunduh pada tanggal
19 Januari 2015.
2. Anggraini, D., Sikumbang, T. Atlas Histologi Di Fiore Dengan Korelasi
Fungsional. Edisi 9. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC; 2001. 22
3. Wanri, A. Tonsilektomi. Palembang: Departemen Telinga, Hidung Dan
Tenggorok, Fakultas Kedokteran Universitas Sriwijaya; 2007.
4. Efiaty AS, Nurbaiti I, Jenny B, Ratna DR. Buku Ajar Ilmu Kesehatan: Telinga,
Hidung, Tenggorok, Kepala, dan Leher. Edisi IV. Jakarta: Balai Penerbit FKUI.
2007.
5. Sterreyu. Peritonsillar Abscess. http:/ / sterreyu.wordpress.com last up date
09/ 17/ 2010.
6. Ellis H, editor. Clinical Anatomy. 11th ed. Australia: 2006: 279-80.
7. Scott BA, Stiernberg CM. Infection of the Deep Spaces of The Neck. In: Bayle
BJ. editor. Head and Neck Surgery Otolaryngology. 3 rd ed. Philadelphia; 2001 p.
701-15.
8. Weed H.G, Forest LA. Deep Neck Infection. In: Cummings CW. editors.
Otolaryngology Head and Neck Surgery. 4th ed. Philadelphia: Pennsylvania;
2005 p.2515-24.
9. Gadre AK, Gadre KC. Infection of the Deep Spaces of The Neck. In: Bayle BJ ,
Johnson JT. editors. Head and Neck Surgery Otolar yngology. 4th ed.
Philadelphia: Lippincott Company 2006. p.666-81
10. Finkelstein Y, Ziv JB. Peritonsillar Abscess as a Cause of Transient
Velopharyngeal Insufficiency. Cleft Palate Craniofacial Journal, July
1993;30:421-28
11. Gadre AK, Gadre KC. Infection of the deep spaces of the neck. In: Bayle BJ,
Johnson JT. editors. Head and Neck
12. Surgery Otolaryngology.4th ed. Philadelphia : Lippincot Company 2006 :
666-81
13. Marom T et al. Peritonsil abscess. American J of Otolaryngology- Head and Neck
Medicine and surgery 31 (2010) 162-7
14. Bharudin MI: Managemen of peritonsil infection: Hospital university Sains
Malaysia Experience, The internet Journal Of Otorhinolaryngology 2008, volume
10 Number 1.
15. 14.Soepardi,E.A, Iskandar, H.N, Abses Peritonsiler, Buku Ajar Ilmu Kesehatan
Telinga, Hidung dan Tenggorokan, Jakarta: FKUl, 2000; 185- 89.
16. Bailey, Byron J, MD. Tonsillitis, Tonsillectomy, and Adenoidectomy. In : Head
and Neck Surgey-Otolaryngology 2nd Edition. Lippincott_Raven Publisher.
Philadelphia. P :1224, 1233-34
17. Powell EL, Powell J, Samuel JR and Wilson JA. A review of the pathogenesis of
adult peritonsillar abscess : time for a re-evaluation. Journal of Antimicrobiobial
Chemoherappy (2013) 10:1093
18. Ming CF. Effycacy of Three Theraupetic Methods for Peritonsillar Abscess.
Journal of Chinese Clinical Medicine 2006;2:108-11.
19. Fasano J.C, Chudnofsky C. Bilateral Peritonsillar Abscesses: Not Your Usual
Sore Throat. The Journal of Emergency Medicine 2005;29 p. 45-7.
20. Finkelstein Y, Ziv JB. Peritonsillar Abscess as a Cause of Transient
Velopharyngeal Insufficiency. Cleft Palate Craniofacial Journal, July
1993;30:421-28.
21. Badran KH, Karkos PD. Aspiration of Peritonsillar Abscess in Severe Trismus.
Journal of Laryngol & Otol 2006;120:492-94.
22. Lyon M, Blaivas M. Intraoral Ultrasound In the Diagnosis and Treatment of
Suspected Peritonsillar Abscess In The Emergency Department. ACAD Emerg
Med 2005;12:85-8.
23. Losanoff JE, Missavage AE. Neglected Peritonsillar Abscess Resulting In
Necrotizing Soft Tissue Infection of The Neck and Chest Wall. Int J Clin Pract
2005;59:1476-78.
24. Beriault M, Green J. Innovative Airway Management for Peritonsillar Abscess.
Cardiothoracic J Anesth 2006;53:92-5.
25. Braude DA, Shalit M. A Novel Approach to Enchance Visualization During
Drainage of Peritonsillar Abscess. The Journal of Emergency Medicine
2007;35:297-98.