Anda di halaman 1dari 9

Khutbah Jum’at – Berhati-hati Terhadap

“Dosa Jâriyah”
Mei 3

Posted by M. Taufik N.T

Oleh: M. Taufik N.T Download lengkapnya (pdf) <<di sini>>

Imam al-Ghazali(w. 505 H), dalam kitabnya Ihya’ Ulumuddin, 2/74 menyatakan,

‫سنَ ٍة أ َ ْو أ َ ْكثَ َر يُ َعذَّبُ ِب َها فِي‬ َّ ‫َت َم َعهُ ذُنُوبُهُ َو ْال َو ْي ُل ال‬
َ ‫ط ِوي ُل ِل َم ْن َي ُموتُ َوتَ ْبقَى ذُنُوبُهُ ِمائَةَ سنة ومائتي‬ ُ
ْ ‫طو َبى ِل َم ْن ِإذَا َماتَ َمات‬
‫قَب ِْر ِه ويسئل عنها إلى آخر انقراضها‬

“Sungguh beruntung orang yang jika mati maka mati juga dosa-dosanya. Dan celaka seseorang
yang mati dan dosa dosanya tetap (mengalir) seratus tahun, dua ratus tahun atau lebih, dia
disiksa dikuburnya karenanya (dosa yang masih mengalir) dan dimintai pertanggungjawaban
tentangnya hingga berakhirnya dosa tersebut”

Pernyataan Imam Al Ghazali ini sesuai dengan firman Allah swt:

‫ين‬ َ ْ‫ش ْيءٍ أَح‬


ٍ ِ‫ص ْينَاهُ فِي إِ َم ٍام ُمب‬ َ َ ‫إِنَّا نَحْ نُ نُحْ ي ِ ْال َم ْوت َى َو َن ْكتُبُ َما قَدَّ ُموا َوآث‬
َ ‫ار ُه ْم َو ُك َّل‬

“Sesungguhnya Kami menghidupkan orang-orang mati dan Kami menuliskan apa yang telah
mereka kerjakan dan bekas-bekas yang mereka tinggalkan. Dan segala sesuatu Kami kumpulkan
dalam Kitab Induk yang nyata (Lawh Mahfudz).” (QS Yaasin [36]: 12).

Ketika membahas ayat ini, Imam Al Baydlowi (w. 685H), dalam tafsirnya, Anwârut Tanzîl wa
Asrârut Ta’wîl, juz 4, hal. 264, menyatakan:

َّ ‫ َوال‬،ُ‫سنَةَ َك ِع ْل ٍم َعلَّ ُم ْوهُ َو َح ِبي ٍْس َوقَفُ ْوه‬


‫س ِيئَةَ كَإشَا َع ِة‬ َ ‫ارهُ ْم ْال َح‬ َّ ‫صا ِل َح ِة َوال‬
َ َ ‫ َوآث‬.‫طا ِل َح ِة‬ َّ ‫َونَ ْكتُبُ َما قَدَّ ُموا َما أ َ ْسلَفُوا ِم ْن ْاْل َ ْع َما ِل ال‬
ُ ‫اط ٍل َوتَأ ْ ِسي ِْس‬
‫ظ ْل ٍم‬ ِ َ‫ب‬

Dan kami menuliskan apa-apa yang telah mereka lakukan dari amal-amal shalih dan keji. Dan
(menulis) bekas mereka yang baik seperti ilmu yang mereka ajarkan dan rumah yang mereka
waqafkan, dan (menulis) bekas mereka yang buruk seperti menyiarkan kebathilan dan peletakan
dasar kedzaliman.

Rasulullah saw juga menegaskan

َ ‫ص ِم ْن أَ ْوزَ ِار ِه ْم‬


‫ش ْيء‬ ُ ُ‫ َو ََل َي ْنق‬،‫ب َعلَ ْي ِه ِمثْ ُل ِو ْز ِر َم ْن َع ِم َل بِ َها‬
َ ِ‫ ُكت‬،ُ‫ فَعُ ِم َل بِ َها بَ ْعدَه‬،ً‫سيِئَة‬
َ ً‫سنَّة‬
ُ ‫س َّن فِي ا ْ ِْلس ََْل ِم‬
َ ‫َو َم ْن‬

… Dan barang siapa memberikan suri tauladan yang buruk dalam Islam, lalu suri tauladan
tersebut diikuti oleh orang-orang sesudahnya, maka akan dicatat baginya dosa sebanyak yang
diperoleh orang-orang yang mengikutinya tanpa mengurangi dosa yang mereka peroleh
sedikitpun.’ (HR. Muslim).

Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh

Diantara maksiyat termudah, tanpa mengeluarkan banyak biaya dan tenaga, yang dosanya terus
mengalir setelah meninggal, adalah maksiyat yang dilakukan oleh lidah manusia. Hanya
bermodal ucapan yang berisi propaganda buruk terhadap Islam, propaganda buruk terhadap
ajaran Islam, isu miring terhadap syari’ah Islam, atau ucapan yang membuat orang lain ragu-ragu
terhadap ajaran Islam, membuat orang ragu-ragu untuk menyokong dan memperjuangkan Islam,
atau bahkan menghalangi perjuangan penegakan ajaran Islam, atau terbengkalainya penerapan
syari’ah Islam, sudah cukup efektif untuk mengalirkan dosa kepada orang yang
mengucapkannya,walaupun orang tersebut sudah meninggal dunia, selama masih ada orang yang
terpengaruh dengan ucapannya.

Allah menyatakan dalam surah An-Nahl ayat 24:

َ‫ير ْاْل َ َّولِين‬


ُ ‫اط‬ َ َ‫َو ِإذَا قِي َل لَ ُه ْم َماذَا أ َ ْنزَ َل َربُّ ُك ْم قَالُوا أ‬
ِ ‫س‬

Dan apabila dikatakan kepada mereka: “Apakah yang telah diturunkan Tuhanmu?” Mereka
menjawab: “Dongeng-dongengan orang-orang dahulu”.

Mungkin lidah dengan mudah mengucapkan sesuatu yang melecehkan Islam tanpa
diperhitungkan bahwa hal itu berat disisi Allah, mudah mengatakan bahwa hukum syari’ah itu
sudah kuno, mudah mengatakan bahwa kegemilangan umat ketika mereka hidup diatur dengan
Islam itu hanya dongengan belaka. Sungguh ucapan ini mirip dengan apa yang diceritakan Allah
dalam surat An Nahl ini, menganggap Al Qur’an hanya dongengan orang-orang dahulu. Kepada
mereka Allah swt berfirman:

َ ‫ُضلُّونَ ُه ْم بِغَي ِْر ِع ْل ٍم أ َ ََل‬


َ‫سا َء َما يَ ِز ُرون‬ ِ ‫َاملَةً يَ ْو َم ْال ِقيَا َم ِة َو ِم ْن أ َ ْوزَ ِار الَّذِينَ ي‬ َ َ‫ِليَحْ ِملُوا أ َ ْوز‬
ِ ‫ار ُه ْم ك‬

“(Ucapan mereka) menyebabkan mereka memikul dosa-dosanya dengan sepenuh-penuhnya


pada hari kiamat, dan sebagian dosa-dosa orang yang mereka sesatkan yang tidak mengetahui
sedikit pun (bahwa mereka disesatkan). Ingatlah, amat buruklah dosa yang mereka pikul itu.”
(QS. An-Nahl: 25)

Rasulullah saw, juga mengabarkan:

ِ ‫ق َو ْال َم ْغ ِر‬
‫ب‬ ِ ‫ار أَ ْبعَدَ َما بَيْنَ ْال َم ْش ِر‬
ِ َّ‫إِ َّن ْالعَ ْبدَ لَيَتَكَلَّ ُم بِ ْال َك ِل َم ِة يَ ْن ِز ُل بِ َها ِفي الن‬.

‘Adakalanya seorang hamba mengucapkan satu kata yang menyebabkan dia tergelincir ke
dalam Neraka yang jaraknya antara timur dan barat’.” (Hadits riwayat Al-Bukhari dan Muslim
dari Abu Hurairah r.a)

Ma’âsyiral muslimîn rahîmakumullâh


Aliran dosa ini akan lebih awet lagi bila tidak sekedar diucapkan, namun ditulis, disebar dan
dipropagandakan, baik lewat buku, koran, majalah maupun lewat facebook, blog, twitter,
maupun membuat film dan meng-upload-nya ke youtube. Berkata Al Hâfidz al Mundziry (wafat
656 H) dalam kitabnya At Targhîb wat Tarhîb (1/62) ketika menjelaskan hal ini:

… ‫طهُ َو ْالعَ َم َل بِ ِه‬


َّ ‫ي َخ‬
َ ‫س َخهُ أَ ْو َع ِم َل بِ ِه ِم ْن بَ ْع ِد ِه َما بَ ِق‬
َ َ‫ َعلَ ْي ِه ِو ْز ُرهُ َو ِو ْز ُر َم ْن قَ َرأَه ُ أ َ ْو ن‬،‫اْلثْم‬
ِ ْ ُ‫َونَا ِس ُخ َغي ِْر النَّافِعِ ِم َّما ي ُْو ِجب‬

orang yang menulis hal yang tidak bermanfaat yang berkonsekuensi dosa, baginya dosanya dan
dosa orang yang membacanya atau menyalinnya atau beramal dengannya sesudahnya selama
tulisan tersebut dan orang yang beramal dengannya masih tetap ada.

Aliran dosa ini juga akan semakin deras dan dahsyat, jika bukan hanya diucapkan dan ditulis,
namun juga dibuatkan aturan perundang-undangannya, sehingga hal buruk yang bertentangan
dengan syari’at Islam tersebut dilakukan masyarakat secara massif, baik dengan sukarela
maupun terpaksa.

Lalu kalau sudah terlanjur bagaimana? Tidak ada cara lain kecuali segera bertaubat, berusaha
menghapus jejak dosa tersebut semaksimal mungkin dan berlepas diri darinya, serta berusaha
membuat jejak-jejak kebaikan yang diharapkan tetap akan ada walaupun kematian sudah
menjemput, sehingga pahalanya tetap mengalir pasca kematian.

Diantara ‘amal yang tetap akan meninggalkan jejakyang baik, adalah ‘amal menyeru kepada
Islam, menyebarkan hidayah, mempengaruhi masyarakat agar berbuat sesuai tuntunan syari’ah.

ِ ‫َّللاُ ِبكَ َر ُج ًَل َو‬


‫ َخيْر لَكَ ِمنَ الدُّ ْن َيا َو َما فِي َها‬،‫احدًا‬ َّ ‫ِي‬َ ‫َْل َ ْن َي ْهد‬

Sekiranya Allah memberi petunjuk kepada seseorang dengan perantaraan engkau, itu lebih baik
bagi engkau daripada engkau memiliki dunia dan isinya. (Az Zuhdu li Ibnil Mubârak, 1/484)

Semoga Allah menjadikan kehidupan kita untuk menambah segala kebaikan, dan kematian kita
sebagai akhir dari segala keburukan.

Baca Juga:

Amalan Yang Menghindarkan Kita Dari Kematian Buruk


Oleh: Badrul Tamam

Al-Hamdulillah, segala puji bagi Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah
kepada Rasulullah, keluarga dan para sahabatnya.

Terdapat hadits shahih bahwa Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam berlindung kepada Allah
dari penyakit belang, kusta, gila, dan penyakit-penyakit buruk. Diriwayatkan dari Anas bin Malik
Radhiyallahu 'Anhu, NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam berdoa:

َّ‫عو َّذُ إِنِِّى اللَّ ُه َّم‬


ُ َ‫ك أ‬
ََّ ِ‫ن ب‬ َّ ِ ‫ون ْالبَ َر‬
ََّ ‫ص ِم‬ َِّ ُ‫ام َو ْال ُجن‬
َِّ َ‫ن َو ْال ُجذ‬
َّْ ‫ِّئ َو ِم‬
َِّ ِ‫سي‬ َِّ َ‫األ َ ْسق‬
َ ‫ام‬
"Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada-Mu dari belang, gila, lepra dan penyakit-penyakit yang
buruk." (HR. Abu Dawud, al-Nasi, dan Ahmad. Dishahihkan oleh al-Albani dalam Silsilah Shahihah)

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam juga berlindung dari kematian yang buruk dan sebab-sebabnya;
seperti keruntuhan bangunan, jatuh dari ketinggian, tenggelam, terbakar, disesatkan syetan saat
kematian, lari dari medan jihad.

Rasulullah Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,

َّ‫عو َّذُ إِنِِّي اللَّ ُه َّم‬


ُ َ‫ك أ‬ َّْ ‫ق َو ْالغ ََِِّّم َو ْال َهد َِّْم َوالت َّ َر ِدِّي ْال َه َر َِّم ِم‬
ََّ ِ‫ن ب‬ َِّ ‫ق َو ْال َح ِري‬ َِّ ‫عو َّذُ َو ْالغ ََر‬ ُ َ ‫ك َوأ‬ َّْ َ ‫طنِي أ‬
ََّ ِ‫ن ب‬ َ َّ‫ان يَت َ َخب‬ َُّ ‫ط‬ َ ‫ش ْي‬
َّ ‫ِع ْن ََّد ال‬
َِّ ‫ن ْال َم ْو‬
‫ت‬ ََّ َ ‫ك ِفي أ ُ ْقت‬
َّْ َ ‫ل َوأ‬ َ ‫عو َّذُ ُم ْد ِب ًرا‬
ََّ ‫س ِبي ِل‬ ُ َ ‫ك َوأ‬ََّ ‫ن ِب‬ َّْ َ ‫وت أ‬ََّ ‫لَدِيغًا أ َ ُم‬

“Ya Allah, sunguh aku berlindung kepada-Mu dari pikun, terjatuh dari ketinggian, keruntuhan bangunan,
kedukaan, kebakaran, dan tenggelam. Aku berlindung kepada-Mu dari penyesatan setan saat kematian,
terbunuh dalam kondisi murtad dan aku berlindung kepada-Mu dari mati karena tersengat binatang
berbisa.”َّ(HR.َّAl-Nasai dan Abu Dawud. Hadits ini dishahihkan oleh Syaikh al-Albani dalam Shahih Al-
Jami’:َّno.َّ1282)
Sebagian ulama lain menyebutkan, termasuk bagian dari kematian buruk adalah korban kecelakaan dan
bencana alam yang semakin banyak di akhir zaman. Ada pula yang berpandangan, kematian buruk
adalah kematian yang datang secara tiba-tiba. Ada pula yang berpendapat, mati yang menghebohkan
seperti disalib dan semisalnya. Namun ada satu kesimpulan dari kematian ini, yaitu kematian dengan
kemurkaan Allah Ta'ala. Karena kematian yang buruk termasuk bagian hukuman dari Allah dan
kemurkaan-Nya.

Tentunya kita semua juga takut terhadap macam-macam kematian di atas. Karenanya kita berusaha
mencari jalan dan sebab yang bisa menghindarkan darinya. RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam telah
mengabarkan beberapa sebab yang bisa menghindarkan dari kematian buruk.

Beliau Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;

َّ‫ص َدقَ َّةَ ِإ َّن‬


َّ ‫ئ ال‬ ْ ُ ‫ب لَت‬
َُّ ‫ط ِف‬ َ ‫ب َغ‬
ََّ ‫ض‬ َِّ ِّ ‫الر‬ َّْ ‫س ْو َِّء َمَّْيت َ َّةَ َع‬
َّ ‫ن َوت َ ْدفَ َُّع‬ ُّ ‫ال‬

"Sesungguhnya shadaqah benar-benar memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari


kematian buruk." (HR. Al-Tirmidzi dan lainnya Hasan li Ghairihi)

Dalam hadits lain, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallambersabda,

ُ ‫س ِإلَى ا َ ْل َم ْع ُر ْو‬
َّ‫ف‬ َّ ِ ‫احبَ َها يَ ِقي النَّا‬
ِ ‫ص‬َ ‫ع‬
ََّ ‫ار‬
ِ ‫ص‬َ ‫س ْو َِّء َم‬ َِّ ‫ت ََّو اآلفَا‬
ُّ ‫ت ََّو ال‬ َُّ ‫ف أ ُ ْه‬
َِّ ‫ل ََّو ْال َهلَ َكا‬ َِّ ‫ل ُه َّْم ال ُّد ْنيَا فِي ْال َم ْع ُر ْو‬
َُّ ‫أ َ ْه‬
َِّ ‫اآلخ َرَّةِ فِي ْال َم ْع ُر ْو‬
‫ف‬ ِ

"Berbuat baik kepada manusia menghindarkan pelakunya dari kematian buruk, musibah, dan
kehancuran. Dan ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan di akhirat." (HR. Al-Hakim dan
dishahihkan oleh Al-Albani)

Imam al-Thabrani dalam al-Ausathnya meriwayatkan, NabiShallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda,


"Sesungguhnya shadaqah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemarahan Allah. Dan
sesungguhnya perbuatan-perbuatan baik (kepada orang lain) menghindarkan dari kematian buruk,
silaturrahim menambah umur dan menghindarkan kefakiran. Perbanyaklah ucapan Laa Haula wa Laa
Quwwata illaa Billaah, karena sesungguhnya ia salah satu perbendaharaan surga dan di dalamnya
terdapat obat dari 99 penyakit; yang paling rendah al-hamm (gundah)."

Dalam riwayat lain, "Perbuatan-perbuatan baik (kepada orang lain) menghindarkan dari kematian buruk.
Shadaqah secara sembunyi-sembunyi memadamkan kemarahan Allah. silaturahim menambah umur.
Setiap perbuatan baik adalah sedekah. Dan ahli kebaikan di dunia akan menjadi ahli kebaikan di akhirat.
Ahli kemungkaran di dunia akan menjadi ahli kemungkaran di akhirat. Sedangkan orang yang pertama
masuk surga adalah ahli kebaikan." (HR. al-Thabrani dan lainnya, dishahihkan oleh Al-Albani)

Imam al-Bukhari dalam al-Adab al-Mufrad meriwayatkan hadits dari Ibnu Umar Radhiyallahu
'Anhuma secara marfu', "Siapa bertakwa kepada Tuhannya dan menyambung hubungan silaturahim,
niscaya dipanjangkan umurnya, diperbanyak hartanya, dan dicintai keluarganya."
Dalam riwayat al-Tirmidzi dan selainnya, Nabi Shallallahu 'Alaihi Wasallam bersabda;

َّ‫ص َدقَ َّةَ ِإ َّن‬


َّ ‫ئ ال‬ ْ ُ ‫ب لَت‬
َُّ ‫ط ِف‬ َ ‫ب َغ‬
ََّ ‫ض‬ َِّ ِّ ‫الر‬ َّْ ‫س ْو َِّء َم ْيت َ َّةَ َع‬
َّ ‫ن َوت َ ْدفَ َُّع‬ ُّ ‫ال‬

"Sesungguhnya shadaqah benar-benar memadamkan kemurkaan Allah dan menghindarkan dari


kematian buruk." (Hassan Lighairihi)

Kesimpulan

Berdasarkan beberapa hadits di atas bahwa yang bisa menghindarkan dari kecelakaan tragis, penyakit
kronis, dan kematian buruk adalah shadaqah dan perbuatan baik (kepada orang lain), berbakti kepada
orang tua, silaturahim, membantu orang kesusahan, berbuat baik kepada manusia, dan perbuat baik
secara umum.

Ummul Mukminin, Khadijah Radhiyallahu 'Anha memberikan kesaksian atas kesimpun ini, perbuatan baik
mencegah dari kematian buruk. Yaitu saat beliau menghibur RasulullahShallallahu 'Alaihi Wasallam,
"Bergembiralah! Demi Allah, sungguh Allah tidak akan menghinakanmu untuk selama-lamanya. Demi
Allah, sungguh engkau telah menyambung silaturahim, berkata jujur, membantu orang susah,
memuliakan tamu, dan membela kebenaran." (Muttafaq 'Alaih)

Para ulama menjelaskan kalimat-kalimat KhadijahRadhiyallahu 'Anha ini, "Engkau tidak akan tertimpa
keburukan karena Allah telah menjadikan dirimu berakhlak mulia dan berperangai baik."

Semoga Allah melindungi kami dan Anda sekalian dari perkara-perkara yang Nabi Shallallahu 'Alaihi
Wasallamberlindung daripadanya. Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Khutbah Jum’at–Negeri Lima Bencana


Feb 24

Posted by M. Taufik N.T

Oleh: M. Taufik. N.T download selengkapnya di .::sini::.

Marilah kita senantiasa berupaya meningkatkan ketakwaan kita dalam setiap keadaan, dengan
sekuat tenaga dan kemampuan kita untuk melaksanakan semua perintah Allah, dan
meninggalkan semua yang dilarang oleh Allah, karena hanya dengan ketakwaanlah semua
urusan akan menjadi mudah. Sebagaimana firman Allah SWT:
‫َّللاَ يَجْ َع ْل لَهُ ِم ْن أ َ ْم ِر ِه يُس ًْرا‬
َّ ‫ق‬ ِ َّ ‫َو َم ْن يَت‬

Dan barang siapa yang bertakwa kepada Allah niscaya Allah menjadikan baginya kemudahan
dalam urusannya. (QS. At Thalaq : 4)

Sebaliknya, setiap kemaksiyatan, baik besar ataupun kecil, akan menjadikan rusaknya kehidupan
kita, hilangnya keberkahan hidup kita, bahkan ketika kemaksiyatan itu menjadi tersebar merata,
maka kerusakannya juga merata.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh

Ibnu Majah meriwayatkan hadits dengan sanad hasan dari jalur ‘Atha bin Abi Rabah dari
Abdullah bin Umar r.a dia berkata: “Rasulullah saw menghadapkan wajahnya ke kami dan
bersabda:

‫اَّللِ أَ ْن تُد ِْر ُكوه َُّن‬ ِ ‫يَا َم ْعش ََر ْال ُم َه‬
َّ ‫اج ِرينَ َخ ْمس ِإذَا ا ْبت ُ ِليت ُ ْم ِب ِه َّن َوأَعُوذُ ِب‬

“Wahai golongan Muhajirin, lima perkara apabila kalian mendapat cobaan dengannya, dan aku
berlindung kepada Allah semoga kalian tidak mengalaminya

َ ‫ت فِي أَس ََْلفِ ِه ْم الَّذِينَ َم‬


1. ‫ض ْوا‬ َ ‫ع الَّتِي لَ ْم تَ ُك ْن َم‬
ْ ‫ض‬ ُ ‫عونُ َو ْاْل َ ْو َجا‬ َّ ‫ط َحتَّى يُ ْع ِلنُوا بِ َها إِ ََّل فَشَا فِي ِه ْم ال‬
ُ ‫طا‬ ُّ َ‫شةُ فِي قَ ْو ٍم ق‬ ِ َ‫لَ ْم ت َْظ َه ْر ْالف‬
َ ‫اح‬

Tidaklah kekejian/perzinaan menyebar di suatu kaum, hingga mereka melakukannya dengan


terang-terangan kecuali akan tersebar di tengah mereka penyakit Tha’un dan kelaparan yang
belum pernah terjadi terhadap para pendahulu mereka.

2. ‫علَ ْي ِه ْم‬
َ ‫ان‬
ِ ‫ط‬ ِ ‫صوا ْال ِم ْك َيا َل َو ْال ِميزَ انَ ِإ ََّل أ ُ ِخذُوا ِب‬
َ ‫السنِينَ َو ِشدَّ ِة ْال َمئُونَ ِة َو َج ْو ِر الس ُّْل‬ ُ ُ‫َولَ ْم َي ْنق‬

Tidaklah mereka mengurangi timbangan dan takaran kecuali mereka akan disiksa dengan
kemarau berkepanjangan dan penguasa yang zhalim.

َ ‫اء َولَ ْو ََل ْالبَ َها ِئ ُم لَ ْم ي ُْم‬


3. ‫ط ُروا‬ ْ َ‫َولَ ْم يَ ْمنَعُوا زَ كَاة َ أ َ ْم َوا ِل ِه ْم إِ ََّل ُم ِنعُوا ْالق‬
َّ ‫ط َر ِم ْن ال‬
ِ ‫س َم‬

Tidaklah mereka enggan membayar zakat harta-harta mereka kecuali langit akan berhenti
meneteskan air untuk mereka, kalau bukan karena hewan-hewan ternak niscaya mereka tidak
akan beri hujan.

4. ‫ض َما فِي أَ ْيدِي ِه ْم‬


َ ‫َّللاُ َعلَ ْي ِه ْم َعد ًُّوا ِم ْن َغي ِْر ِه ْم فَأ َ َخذُوا بَ ْع‬
َّ ‫ط‬ َ َّ‫سل‬
َ ‫سو ِل ِه إِ ََّل‬ َّ َ‫َولَ ْم يَ ْنقُضُوا َع ْهد‬
ُ ‫َّللاِ َو َع ْهدَ َر‬

Tidaklah mereka melanggar perjanjian mereka dengan Allah dan Rasul-Nya, kecuali Allah akan
menjadikan musuh mereka (dari kalangan selain mereka) berkuasa atas mereka, lalu musuh
tersebut mengambil sebagian apa yang mereka miliki.

َ ْ ‫َّللاُ َبأ‬
5. ‫س ُه ْم َب ْي َن ُه ْم‬ َّ ‫َّللاِ َو َيت َ َخي َُّروا ِم َّما أَ ْنزَ َل‬
َّ ‫َّللاُ ِإ ََّل َج َع َل‬ َّ ‫ب‬ ِ ‫َو َما لَ ْم تَحْ ُك ْم أَئِ َّمت ُ ُه ْم ِب ِكتَا‬
Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka
memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara
mereka.

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh

Saat ini kita bisa merasakan apa yang Rasulullah sampaikan dalam hadits tersebut, sebagian atau
seluruhnya telah menjadi kenyataan. Akibat banyaknya kemaksiyatan dan pelanggaran terhadap
hukum Allah, baik skala individual maupun nasional, negeri yang kaya-raya sumber daya
alamnya ini akhirnya dihuni oleh banyak sekali rakyat yang miskin. Dengan standar kemiskinan
Rp 212.000 per orang per bulan, di negeri ini masih ada 31 juta jiwa rakyat terkategori
miskin[1], disisi lain Vietnam saja standar kemiskinannya Rp 450.000 per bulan[2], padahal
beras disana lebih murah dari disini. Disisi lain, kekayaan negeri ini semakin dikuasai asing,
mereka telah menguasai 75% sektor migas, 50,6 % aset perbankan nasional, 60-70 persen saham
pasar modal, serta 60 % BUMN[3].

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh

Disamping kemiskinan, Indonesia ternyata juga penyebar virus mematikan HIV/AIDS tercepat
di Asia Tenggara. Dari tahun 2002 hingga September 2011, perkembangan HIV/AIDS di
Indonesia naik hingga 15 kali lipat[4] (1.500%).

Sementara itu narkoba juga mencengkram negeri ini, 6,5 juta penduduk Indonesia yang menjadi
pecandu narkoba, 90% adalah generasi muda. (Kompas, 26/7/ 1999)

Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh

Semua hal tersebut bukanlah suatu yang mengherankan, di ujung hadits tersebut Rasulullah telah
memperingatkan:

َ ْ ‫َّللاُ َبأ‬
‫س ُه ْم بَ ْي َن ُه ْم‬ َّ ‫َّللاِ َو َيتَ َخي َُّروا ِم َّما أَ ْنزَ َل‬
َّ ‫َّللاُ ِإ ََّل َج َع َل‬ َّ ‫ب‬ ِ ‫َو َما لَ ْم تَحْ ُك ْم أَئِ َّمت ُ ُه ْم ِب ِكت َا‬

Dan tidaklah pemimpin-pemimpin mereka enggan menjalankan hukum-hukum Allah dan mereka
memilih-milih apa yang diturunkan Allah, kecuali Allah akan menjadikan bencana di antara
mereka.

Segala kerusakan ini tidak akan selesai dengan konsep yang tidak bersumber dari kitabullah,
bahkan pada hakikatnya sumber berbagai kerusakan adalah penolakan terhadap hukum-hukum
Allah, baik seluruhnya atau sebagian. Allah tegaskan hal ini dalam surat Al Hijr : 89 – 91:

ِ ‫)الَّذِينَ َجعَلُوا ْالقُ ْر َءانَ ِع‬90( َ‫) َك َما أَ ْنزَ ْلنَا َعلَى ْال ُم ْقتَس ِِمين‬89( ُ‫ِير ْال ُمبِين‬
َ‫ضين‬ ُ ‫) َوقُ ْل إِنِي أَنَا النَّذ‬91(

Dan katakanlah: “Sesungguhnya aku adalah pemberi peringatan yang menjelaskan”.


Sebagaimana (Kami telah memberi peringatan/(azab) kepada orang-orang yang membagi-bagi
(Kitab Allah), yaitu orang-orang yang telah menjadikan Al Qur’an itu terbagi-bagi. (yakni ada
bagian yang diimani, dan ada bagian yang di ingkari).
Ma’âsyiral Muslimîn rahimakumullâh

Marilah kita perbaiki diri kita, keluarga kita dan masyarakat kita, dengan perbaikan yang hakiki,
yakni berupaya sekuat tenaga menjalankan syari’ah Allah dalam kehidupan kita. Semoga Allah
SWT memberi kekuatan dan meneguhkan kemauan kita untuk melakukan upaya ini hingga akhir
hayat kita.

ِ ‫ئ ْالقُ ْرآنُ فَا ْست َِمعُوا لَهُ َوأ َ ْن‬


َ‫صتُوا لَ َعلَّ ُك ْم ت ُ ْر َح ُمون‬ َ ‫َو ِإذَا قُ ِر‬

َ‫ض َولَ ِك ْن َكذَّبُوا فَأ َ َخذْنَا ُه ْم ِب َما كَانُوا َي ْك ِسبُون‬


ِ ‫اء َو ْاْل َ ْر‬
ِ ‫س َم‬ ٍ ‫َولَ ْو أ َ َّن أ َ ْه َل ْالقُ َرى آ َمنُوا َواتَّقَ ْوا لَفَتَحْ نَا َعلَ ْي ِه ْم َب َركَا‬
َّ ‫ت ِمنَ ال‬

– ‫الذ ْك ِر ال َح ِكيْم اَقُ ْو ُل قَ ْو ِلي َهذَا َواَ ْست َ ْغ ِف ُرهللاَ ْال َع ِظي ْم‬
ِ ‫ت َو‬ ِ ‫ َونَفَ َع ِني َواِيَّا ُك ْم ِب َما ِف ْي ِه ِمنَ اَلَ َيا‬،‫اركَ هللاُ ِلي َولَ ُك ْم ِفي ْالقُ ْرا َ ِن ْال َع ِظيم‬
َ ‫َب‬
ُ ْ ْ
َّ ‫سائِ ِر ال ُم ْس ِل ِمينَ فَا ْست َ ْغ ِف ُروهُ اِنَّهُ ه َُوالغَف ْو ُر‬
‫الر ِح ِيم‬ َ
َ ‫ِلي َول ُك ْم َو ِل‬