Anda di halaman 1dari 22

1

BAB I
PENDAHULUAN
I.1 Latar Belakang
Untuk suatu sediaan obat yang dibuat utamanya dalam skala besar,
yang melalui waktu penyimpanan yang panjang, diharapkan suatu ruang
waktu daya tahan selama kurang lebih 5 tahun. Sedian obat sebaiknya
berjumlah 3 tahun dalam kasus yang kurang baik. Obat yang dibuat
secara reseptur, sebaiknya menunjukkan suatu stabilitas untuk sekurang-
kurangnya beberapa bulan. Akan tetapi untuk preparat yang terakhir
disusun dengan suatu pembatasan dari waktu penyimpanan.
Sifat khas kualitas yang penting adalah kandungan bahan aktif,
keadaan galeniknya, termasuk sifat yang dapat terlihat secara sensorik,
sifat mikrobiologis dan toksikologisnya dan aktivitasnya secara
terapeutik. Skala perubahan yang diizinkan ditetapkan untuk obat yang
terdaftar dalam farmakope. Untuk barang jadi obat dan obat yang tidak
terdaftar berlaku keterangan yang telah dibuat dalam peraturan yang
baik.
Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan
dalam membuat formulasi sediaan farmasi. Hal ini penting mengingat
suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah yang besar dan
memerlukan waktu yang lama untuk sampai ketangan orang sakit atau
pasien yang membutuhkannya.
Obat yang disimpan dalam jangka waktu yang lama dapat
mengamati pernguraian dan mengakibatkan hasil uraian dari zat tersebut
bersifat toksik sehingga dapat mengalami membahayakan jiwa pasien.
Oleh karena itu untuk diketahui faktor-faktor apa saja yang
mempengaruhi kestabilan suatu zat sehingga dapat dipilih yaitu kondisi
dimana kestabilan obat tersebut optimum.
Pada waktu dahulu untuk mengevaluasi kestabilan suatu sediaan
farmasi dilakukan pengamatan pada kondisi dimana obat tersebut
tersimpan, misalnya pada suaut temperatur kamar, ternyata metode ini

1
2

memerlukan waktu yang lama dan tidak ekonomis. Dengan demikian


batas kadaluarsa suatu sediaan farmasi dapat diketahui dengan tepat.
Penjelasan di atas menjelaskan kepada kita bahwa betapa
pentingnya kita mengetahui pada keadaan yang bagaimana suatu obat
tersebut aman dan dapat bertahan lama, sehingga obat tersebut dapat
disimpan dalam jangka waktu yang lama tanpa menurunkan khasiat obat
tersebut.
I.2 Maksud dan Tujuan Praktikum
I.2.1 Maksud Praktikum
Adapun maksud dari praktikum ini kali ini adalah untuk mengetahui
faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan farmasi dengan
menggunakan metode tertentu
I.2.2 Tujuan Praktikum
Untuk mengetahui dan memahami faktor yang mempengaruhi
stabilitas dari paracetamol dengan menggunakan metode
spektrofotometer
I.3 Prinsip Percobaan
Penentuan kestabilan dari paracetamol menggunakan metode waktu
paruh, berdasarkan pengaruh temperatur dengan memanaskan pada oven
dengan suhu 60°C dan mengukur absorbansinya menggunakan
spektrofotometer UV-Vis, terhadap nilai absorbansi tertinggi
3

BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
II.1 Teori Umum
Stabilitas diartikan bahwa obat (bahan obat, sediaan obat), disimpan
dalam kondisi penyimpanan dan pengangkutannya tidak menunjukkan
perubahan sama sekali atau berubah dalam batas-batas yang diperoleh
(Voigt, 1995).
Stabilitas obat adalah kemampuan obat atau produk untuk
mempertahankan sifat dan katakteristiknya agar sama dengan yang
dimilikinya pada saat dibuat atau diproduksi. Identitas, kekuatan, kualitas,
dan kemurnian dalam batasan yang ditetapkan sepanjang periode
penyimpanan dan penggunaan (Joshita, 2008).
Stabilitas sediaan farmasi tergantung pada profil sifat fisika dan
kimia pada sediaan yang dibuat (termasuk eksipien dan sistem kemasan
yang digunakan untuk formulasi sediaan) dan fraksi lingkungan seperti
suhu, kelembapan, dan cahaya (Joshita, 2008).
Beberapa jenis perubahan stabilitas obat atau produk farmasi yang
diperlakukan untuk dipertimbangkan adalah perubahan fisika, kimia, dan
mikrobiologi. Stabilitas fisika meliputi penampilan, konsistensi, warna,
aroma, rasa, kekerasan, kerapuhan, kelarutan, pengendapan, perubahan
berat, adanya uap, bentuk, dan ukuran partikel (Jenkins, 1957).
Stabilitas kimia meliputi degradasi formulasi obat, kehilangan
potensi (bahan aktif), kehilangan bahan-bahan tambahan (pengawet,
antioksidan, dan lainnya). Stabilitas mikrobiologi meliputi
perkembangbiakan mikroorganisme pada sediaan non steril, sterilisasi,
dan perubahan fektivitas pengawet (Jenkins, 1957).
Adapun efek-efek tidak diinginkan yang potensial dari
ketidakstabilan produk farmasi yaitu hilangnya zat aktif, naiknya
konsentrasi zat aktif, bahan obat berubah, hilangnya keseragaman
kandungan, menurunnya status mikrobiologi, hilangnya kekedapan

3
4

kemasan, modifikasi faktor hubungan fungsional, serta faktor lingkungan


seperti suhu, kelembapan, dan cahaya (Joshita, 2008).
Kestabilan suatu zat merupakan faktor yang harus diperhatikan
dalam membuat formulasi suatu sediaan farmasi. Hal ini penting
mengingat suatu sediaan biasanya diproduksi dalam jumlah besar dan
memerlukan waktu yang lama untuk sampai ke tangan pasien yang
membutuhkan. Obat yang disimpan dalam jangka waktu lama dapat
mengalami penguraian dan mengakibatkan dosis yang diterima pasien
berkurang. Adanya hasil uraian zat tersebut bersifat toksik sehingga dapat
membahayakan jiwa pasien. Oleh karena itu, perlu diketahui faktor-faktor
yang mempengaruhi kestabilan sutau zat sehingga dapat dipilih
pembuatan sediaan yang tepat sehingga kestabilan obat terjaga (Joshita,
2008).
Sejumlah besar zat kemoterapi modern ini adalah asam lemah atau
basa lemah. kelarutan zat-zat ini dapat dengan mudah atau nyata
dipengaruhi oleh pH lingkungan. Melalui pemakaian hukum aksi massa ,
kelarutan obat – obat asam – asam lemah maupun basa – basa lemah
dapat diramalkan, sebagai fungsi pH, dengan derajat ketetapan yang
besar. Dalam memilih pH lingkungan untuk kelarutan yang memadai ada
beberapa faktor yang lainnya yang perlu diperhatikan , pH memenuhi
persyratan kelarutan tidak harus bertentangan dengan persyaratan produk
lain. Jika pH kritis untuk menjaga kelarutan obat , sistem tersebut harus
dapar dalam kisaran pH yang diinginkan, dapar harus aman secara
biologis, mempunyai sedikit atau tidak mempunyai efek merusak terhadap
stabilitas produk akhir (Lachman, 1994).
Proses laju merupakan hal dasar yang perlu diperhatikan bagi setiap
orang yang berkaitan dengan bidang kefarmasian, mulai dari pengusaha
obat sampai ke pasien. Pengusaha obat harus dengan jelas menunjukkan
bahwa bentuk obat atau sediaan yang dihasilkannya cukup stabil sehingga
dapat disimpan dalam jangka waktu yang cukup lama dimana obat tidak
berubah menjadi zat tidak berkhasiat atau racun. Ahli farmasi harus
5

mengetahui ketidakstabilan potensial obat yang dibuatnya. Dokter dan


penderita harus diyakinkan bahwa obat yang digunakannya akan sampai
pada tempat pengobatan dalam konsentrasi yang cukup untuk mencapai
efek pengobatan yang diinginkan (Martin, 1993).
Beberapa prinsip dan proses laju yang berkaitan dimaksudkan dalam
rantai peristiwa ini (Martin, 1993) :
1. Kestabilan dan tak tercakup proses laju umumnya adalah suatu yang
menyebabkan ketidak aktifan obat melalui penguraian obat, atau
melalui hilangnya khasiat obat karena perubahan bentuk fisik dan
kimia yang kurang diinginkan dari obat tersebut.
2. Disolusi, disini yang diperhatikan terutama kecepatan berubahnya obat
dalam bentuk sediaan padat menjadi bentuk larutan molekular.
3. Proses absorbsi, distribusi, dan eliminasi beberapa proses berkaitan
dengan laju absorbsi obat ke dalam tubuh, laju distribusi obat dalam
tubuh dan laju pengeluaran obat setelah proses distribusi dengan
berbagai faktor, seperti metabolisme, penyimpanan dalam organ tubuh
lemak, dan melalui jalur-jalur penglepasan.
4. Kerja obat pada tingkat molekular obat dapat dibuat dalam bentuk yang
tepat dengan menganggap timbulnya respon dari obat merupakan suatu
proses laju.
Ada beberapa pendekatan untuk kestabilan dari preparat-preparat
farmasi yang mengandung obat-obat yang cenderung mengurai dengan
hidrolisis.Barangkali paling nyata adalah reduksi atau eliminasi air dari
sistem farmasi.Bahkan bentuk-bentuk sediaan padat yang mengandung
obat-obat labil air harus dilindungi dari kelembaban atmosfer. Ini dapat
dibantu dengan menggunakan suatu penyalut pelindung tahan air
menyelimuti tablet atau dengan menutup dan menjaga obat dalam wadah
tertutup kuat (Ansel, 1989).
Pada masa lalu banyak perusahaan farmasi mengadakan evaluasi
mengenai kestabilan sediaan farmasi dengan pengamatan selama atau
lebih, sesuai dengan waktu normal yang diperlukan dalam penyimpanan
6

dan dalam penggunaan. Metode seperti itu memakan waktu dan tidak
ekonomis.Penelitian yang dipercepat pada temperatur tinggi juga banyak
dilakukan oleh banyak perusahaan, tetapi kriterianya sering merupakan
kriteria buatan yang tidak didasarkan pada prinsip-prinsip dasar kinetik.
Contohnya, beberapa perusahaan menggunakan aturan bahwa
penyimpanan cairan pada 37ºC mempercepat penguraian 2 kali lajunya
pada temperatur normal, sementara perusahaan lain mengandaikan bahwa
kondisi tersebut mempercepat penguraian dengan 20 x laju normal. Telah
dibuktikan bahwa koefisien temperatur buatan dan kestabilan tidak dapat
diterapkan pada sediaan-sediaan cair dan sediaan farmasi yang lain.
Perkiraan waktu penyimpanan harus diikuti dengan analisis yang
dirancang secara hati-hati untuk bermacam-macam bahan dalam tiap
produk jika hasilnya cukup berarti (Martin, 1993 : 811).
II.2 UraianBahan
II.2.1 Aquadest (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : AQUADESTILATA
Nama lain : Air suling, Aquadest
Rumus molekul : H2O
Berat molekul : 18,02 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan jernih, tidak berwarna, tidak berbau dan


tidak mempunyai rasa.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik.
Kegunaan : Sebagai pelarut
II.2.2 Acetaminophenum (Dirjen POM, 1979)
Nama resmi : ACETAMINOPHENUM
Nama lain : Asetaminofen, parasetamol
Rumus Molekul : C8H9NO2
Berat Molekul : 151,16 g/mol
7

Rumus struktur :

Pemerian : Hablur atau serbuk hablur putih, tidak berbau,


dan rasa pahit.
Kelarutan : Larut dalam 70 bagian air, dalam 7 bagian etanol
(95%) P dan dalam 9 bagian propilenglikol P dan
larut dalam larutan alkali hidroksida.
Khasiat : Analgetikum dan antipiretikum (meredakan rasa
nyeri dan penurun panas).
Kegunaan : Sebagai sampel
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik dan terlindung dari
cahaya.
II.2.2 Alkohol (Dirjen POM, 1995)
Nama resmi : AETHANOLUM
Nama lain : Etanol,Alkohol
Rumus Molekul : C2H5OH
Berat Molekul : 46,07 g/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tak berwarna, jernih, mudah menguap dan


mudah bergerak, bau khas, rasa panas dan mudah
terbakar.
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, dalam klorofom P
dan dalam eter P.
Khasiat : Antiseptik (untuk membunuh bakteri mikroba
berbahaya).
8

Kegunaan : Pelarut dan untuk mensterilkan alat-alat


laboratorium.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat, terlindung dari
cahaya, ditempat sejuk, dan jauh dari nyala api.
9

BAB III
METODE PEMBUATAN
III.1 Waktu dan Tempat Pelaksanaan Praktikum
Praktikum Stabilitas Obat dilaksanakan pada tanggal 9 November
2017 pukul 14.00-18.00 WITA. Pelaksanaan praktikum bertempat di
Laboratorium Teknologi Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga
dan Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo.
III.2 Alat dan Bahan
III.2.1 Alat
1. Batang pengaduk
2. Botol vial
3. Cawan porseli
4. Gelas kimia
5. Gelas ukur
6. Kuvet
7. Neraca analitik
8. Oven
9. Pipet volume
10. Sendok tanduk
11. Spektrofotometer
III.2.2 Bahan
1. Alkohol 70 %
2. Alkohol 95%
3. Aluminium foil
4. Label
5. Paracetamol
6. Tisu

9
10

III.3 Cara Kerja


III.3.1 Pembuatan Larutan Sampel
a. Cara pembuatan sampel dengan konsentrasi 1000 ppm
1. Disiapkan alat dan bahan yang akan digunakan
2. Dibersihkan menggunakan alkohol 70%
3. Ditimbang paracetamol 1 gram
4. Dimasukkan ke dalam gelas ukur 10 mL
5. Dicukupkan volume hingga 10 ml dengan etanol
6. Diaduk dengan menggunakan batang pengaduk sampai larut
7. Diberi label 1000 ppm
b. Cara pembuatan sampel dengan konsentrasi 100 ppm
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipipet 1 ml larutan stok menggunakan pipet mikro
3. Dimasukkan ke dalam gelas kimia 10 mL
4. Dicukupkan volume hingga 10 mL dengan etanol
5. Diaduk hingga homogen
6. Diberi label 100 ppm
c. Cara pembuatan sampel dengan konsentrasi 1 ppm
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipipet 0.2 mL larutan stok menggunakan pipet mikro
3. Dimasukkan ke dalam gelas kimi 10 mL
4. Dicelupkan volume hingga 10 mL dengan etanol
5. Diaduk hingga homogen
6. Diberi label 1 ppm
d. Cara pembuatan sampel dengan konsentrasi 2 ppm
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipipet 0,2 mL larutan stok menggunakan pipet mikro
3. Dimasukkan kedalam gelas kimia 10 mL
4. Dicukupkan volume hingga 10 mL dengan etanol
5. Diaduk hingga homogen
6. Diberi label 2 ppm
11

e. Cara pembuatan sampel dengan konsentrasi 3 ppm


1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipipet 0,3 mL larutan stok menggunakan pipet mikro
3. Dimasukkan ke dalam gelas kimia 10 mL
4. Dicukupkan volume hingga 10 mL dengan etanol
5. Diaduk hingga homogen
6. Diberi label 3 ppm
f. Cara pembuatan sampel dengan konsentrasi 4 ppm
1. Disiapkan alat dan bahan
2. Dipipet 0,4 mL larutan stok menggunakan pipet mikro
3. Dimsukkan ke dalam gelas kimia 10 ml
4. Dicukupkan volume hingga 10 mL dengan etanol
5. Diaduk hingga homogen
6. Diberi label 4 ppm
III.3.2 Uji Stabilitas Paracetamol
1. Dibuat larutan stok dengan kosentrasi 2 ppm
2. Dipipet larutan stok sebanyak 10 mL, kemudian dimasukkan ke
dalam 2 boto vial yang telah diberi label
3. Dimasukkan kedua botol vial ke dalam oven dengan suhu 600C
selama 10 menit dan 15 menit
4. Dikeluarkan botol vial pertama pada menit ke 10, kemudia
dikeluarkan 1 vial lagi pada menit ke 15 dan didinginkan
5. Dilakukan uji menggunakan spektrofotometer UV-VIS
6. Dicatat absorbansinya
12

BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan
a. Pembuatan Larutan Induk
0.01 g
1000 ppm = x 1.000.000 = 1000 ppm
10 mL
100 ppm = 1000 ppm . x = 100 ppm x 10 mL
x = 1 mL
1 ppm = 100 ppm . x = 1 ppm x 10 mL
= 0,1 mL
2 ppm = 100 ppm . x = 2 ppm x 10 mL
= 0,2 mL
3 ppm = 100 ppm . x = 3 ppm x 10 mL
= 0,3 mL
4 ppm = 100 ppm . x = 4 ppm x 10 mL
= 0,4 mL
b. Kurva Baku
No. Konsentrasi PCT (ppm) Absorbansi (A)
1. 1 4,179
2. 2 4,053
3. 3 4,259
4. 4 4,354
a = 4,0255, b = 0,0731, r = 0,7403
Absorbansi (A)

4,400

4,300

4,200

4,100

4,000

3,900
1 2 3 4

Kadar (ppm)

12
13

c. Data
Waktu (menit) Suhu (0C) Absorban (A)
10 60 4,112
15 60 4,112

Untuk Suhu 60oC


1. Waktu 10 menit
y = a + bx
4,112 = 4,0255 + 0,0731. x
x = 0,0731
2. Waktu 15 menit
y = a + bx
4,112 = 4,0255 + 0,0731. x
x = 0,0731
d. Perhitungan Konsentrasi PCT
Waktu (menit) Suhu (600C)
10 0,0731
15 0,0731
e. Perhitungan Koefisien Korelasi
Untuk Suhu 60oC
Waktu (menit) Konsentrasi Log C 1/C
(C)
10 0,0731 -1,36 13,679
15 0,0731 -1,36 13,679
f. Penentuan Orde Reaksi
Waktu 10 menit
Orde Regresi Hasil
0 a 19,9269
b -9,9269
r -1
14

1 a 21,136
b -1,136
r -1
2 a 6,321
b 3,679
r 1

Waktu 15 menit
Orde Regresi Hasil
0 a 229,9269
b -14,9269
r -1
1 a 31,136
b -16,136
r -1
2 a 16,321
b -1,321
r -1

Orde Suhu 60oC


Waktu 10 menit Waktu 15 menit
0 -1 -1
1 -1 -1
2 1 -1
g. Penentuan Nilai Mutlak K
Suhu B K
60oC 3,679 3,679
h. Penentuan Nilai Mutlak Pada Suhu 25oC dan Usia Simpan
Suhu (K) = 273 + Suhu (oC)
15

1. Untuk suhu 30oC


= 273 + 30
= 303 K
2. Untuk suhu 25oC
= 273 + 25
= 298 K
3. Untuk suhu 60oC
= 273 + 60
= 333 K
Utuk nilai 1/T (x)
1. Untuk suhu 30oC
= 1/303
=3,300 x 10-3
2. Untuk suhu 25oC
= 1/298
= 3,355 x 10-3
3. Untuk suhu 60oC
= 1/333
= 3,003 x 10-3
Suhu Suhu (oK) 1/T (x) 10-6 K Log K
(oC)
30 303 3300 3,679 0,5657
60 333 3003 -1,321 0,1209
25 298 3355

Perhitungan untuk suhu 25 oC pada orde 2


Log K = Log A – Ea
= 2,303 a = 0,566
Y = a + bx b = 0,00014
Y = log K r = -1
16

Untuk dapat nilai K pada suhu 25oC, maka diregresikan antara x dan
log K. Didapatkan nilai :
Y = a + bx
= 0,566 + (-1,4 x 10-4). 33,55 x 10-4
= 0,566 + (-4,697 x 10-6)
Y = 0,5659
Y = log K
K = antilog Y
= 3,68044
i. Perhitungan Paruh Waktu
1. Orde Nol
1 co
t =
2 K
2. Orde Satu
1 0,693
t =
2 K
3. Orde Dua
1 1
t =
2 C0.K
Pada hasil yang didapat mengikuti orde 2. Jadi, didapatkan hasil
untuk waktu paruh pada suhu 25oC
Co = 10 mg/10 mL
= 1.000 ppm
1 1
t =
2 Co.K
1
=
1000.3,68044

= 2,717 x 10-4
Waktu lama penyimpanan :
1 C0
T 90 = .
9 K

1 1000
= . 3,68044
9
17

1000
=
33,123

= 30,19 menit = 503 jam = 20 hari = 0,6 bulan


IV.3 Pembahasan
Stabilitas adalah faktor penting kualitas, keamanan dan kemanjuran
dari produk obat. Sebuah produk obat, yang tidak cukup stabil, dapat
mengakibatkan perubahan fisik (seperti kekerasan, menilai pembubaran,
pemisahan fase dll) serta karakteristik kimia (pembentukan risiko tinggi
dekomposisi zat. Stabilitas obat adalah kemampuan suatu obat untuk
mempertahankan sifat dan karakteristiknya agar sama dengan yang
dimilikinya pada saat dibuat (identitas, kekuatan, kualitas, kemurnian)
dalam batas yang ditetapkan sepanjang periode penyimpanan dan
penggunaan sehingga mampu memberikan efek terapi yang baik dan
menghindari efek toksik (Martin 1993; Parrot, 1970).
Suatu sediaan farmasi dalam hal ini adalah obat sangat perlu
diketahui kestabilannya, disebabkan oleh biasanya obat diproduksi dalam
jumlah yang sangat banyak dan memerlukan waktu yang lama untuk
sampai ketangan pasien (masyarakat) (Joshita, 2008)
Faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan farmasi tergantung pada
profil sifat fisika dan kimia, faktor utama lingkungan, dapat menurunkan
stabilitas diantaranya temperatur yang tidak sesuai, cahaya, kelembaban,
oksigen dan mikroorganisme. Beberapa faktor lain yang juga
mempengaruhi stabilitas suatu obat adalah ukuran partikel, pH, kelarutan,
dan bahan tambahan kimia (Martin, 1993).
Sehingga untuk menjaga kestabilan obat, obat harus disimpan
sehingga terhindar dari pencemaran dan peruraian, terhindar dari
pengaruh udara, panas dan cahaya. Obat yang mudah menyerap lembab
harus disimpan dalam wadah tertutup rapat berisi kapur tohor. Keadaan
kebasahan udara dinyatakan dengan tekanan uap air relatif, yaitu
perbandingan antara tekanan uap di udara dengan tekanan uap maksimum
pada temperatur tersebut (Parrot, 1970).
18

Pada praktikum stabilitas obat ini, kami menggunakan


spektrofotometri UV-Vis. spektrofotometri UV-Vis adalah gabungan
antara spektrofotometri UV dan Visible. Menggunakan dua buah sumber
cahaya berbeda, sumber cahaya UV dan sumber cahaya Visible.
Mekanisme kerja spektrofotometri, sinar dari sumber sinar adalah sinar
polikromatis maka dilewatkan terlebih dahulu melalui monokromator,
kemudian sinar monokromatis dilewatkan melalui kuvet yang berisi
contoh maka akan menghasilkan sinar yang ditransmisikan dan diterima
oleh detektor untuk diubah menjadi energi listrik yang kekuatannya dapat
diamati oleh alat pembaca (satuan yang dihasilkan adalah absorban atau
transmitan) (Parrot, 1997).
Hal pertama yang dilakukan pada praktikum kali ini menimbang
paracetamol sebanyak 0,01 gram dan kemudian dilarutkan paracetamol
pada alkohol 10 mL sehingga konsentrasinya 1000 ppm. Larutan tersebut
sangat pekat sehingga dilakukan pengenceran bertingkat. Menurut Day
(1995) fungi dari pengenceran yaitu agar cahaya pada spektrofotometri
dapat menembus larutan (Moechtar, 1989).
Hal selanjutnya yang dilakukan adalah pembuatan larutan stok.
Diambil 0,1 mL dari larutan sebelumnya dan ditambahkan alkohol hingga
10 mL. Setelah itu dibuat larutan paracetamol sengan konsentrasi 1 ppm,
2 ppm, 3 ppm, dan 4 ppm. Digunakan konsentrasi di atas, dikarenakan
range konsentrasi yang bisa dibaca pada spektrofotometri yaitu 1-10
ppm. (Moechtar, 1989)
Hal selanjutnya mengukur panjang gelombang alkohol pada
spektrofotometri sebagai larutan blangko. Larutan blangko menurut
Basset (1994) adalah larutan yang tidak mengandung analat untuk
dianalisis. Larutan blanko digunakan sebagai kontrol dalam suatu
percobaan sebagai nilai 100% transmittans. Didapat panjang absorbansi
dari aquadest adalah 10,000 A. Sedangkan panjang gelombang dari
alkohol yaitu 380-780 nm (Slamet, 1984).
19

Hal selanjutnya diukur panjang gelombang paracetamol dengan


konsentrasi 1 ppm, 2 ppm, 3 ppm dan 4 ppm. Kemudian keempat larutan
tersebut diuji menggunakan alat spektrofotometri UV-VIS. Panjang
gelombang maksimal paracetamol yaitu 247 nm -254 nm (Parrot, 1970).
Hasil yang didapatkan berturu turut 4, 179 A, 4, 053 A, 4,259 A, dan
4,354 A. Berdasarkan hasil di atas terjadi penurunan nilai absorban pada
konsentrasi 2 ppm. Sedangkan nilai absorbansi akan naik seiring dengan
bertambahnya konsentrasi (Svehla, 1990).
Hal selanjutnya larutan dengan konsentrasi 2 ppm dimasukan ke 2
botol vial dan diambil larutan dengan konsentrasi 2 ppm dikarenakan
nilai absorbannya yang paling mendekati range 0,2-0,8. Apabila nilai
absorbansi larutan antara 0,2-0,8 (0,2 ≤ A ≥ 0,8) atau sering disebut
sebagai daerah berlaku hukum Lambert-Beer. Jika absorbansi yang
diperoleh lebih besar maka hubungan absorbansi tidak linear lagi (Susanti,
2003)
Hal selanjutnya dimasukkan larutan dengan konsentrasi 2 ppm ke
dalam oven dengan suhu 600C selama 10 dan 15 menit. Tujuan dari
perbedaan waktu pemanasan ini adalah untuk mengetahui seberapa besar
energi aktivasi yang diperlukan untuk masing-masing larutan (Hendaya,
1994).
Hal selanjutnya dikeluarkan vial pertama dari oven dengan waktu 10
menit. Begitupun vial ke dua dengan waktu 15 menit. Kemudian
didiamkan selama 2 menit. Didiamkan selama 2 menit agar menghindari
kesalahan nilai absorbansinya (Lachman, 1994)
. Dari data pengamatan yang diperoleh, panjang gelombang dari
masing-masing vial memiliki panjang absorbansi yang sama, yaitu 4,112
A.. Hal ini dikarenakan perbedaan dari lamanya pemanasan dan metode
pengujian stabilitas obat dengan kenaikan temperatur tidak dapat
diterapkan untuk semua jenis sediaan Sedangkan menurtu literatur
semakin lama waktu obat tersebut berada pada suhu yang tinggi, maka
20

akan besar konsentrasi zat tersebut sehingga panjang nilai absorbasinya


juga akan lebih tinggi (Svehla, 1990; Hendayana, 1994)
Hal selanjutnya yaitu ditentukan waktu lama penyimpanan (T90).
Didapatkan hasil 30,19 menit, atau 503 jam, atau 20 hari, atau 0,6 bulan.
T90 adalah waktu yang tertera yang menunjukkan batas waktu
diperbolehkannya obat tersebut dikonsumsi karena diharapkan masih
memenuhi spesifikasi yang ditetapkan (Martin, 1993)
Kemungkinan kesalahan yang sering terjadi pada praktikum kali ini
yaitu sifat larutan yang terlalu encer ataupun pekat, tidak telitinya
praktikan pada saat memasukkan sampel pada spektrofotometer, dan
serapan oleh pelarut dan serapan oleh kuvet atau larutan yang berisi
matrik selain komponen yang akan dianalisis (Sutopo, 2006; Widiaia dan
Wirasuta, 2008).
21

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Dari hasil percobaan dapat disimpulkan bahwa:
Faktor yang mempengaruhi stabilitas sediaan farmasi tergantung
pada profil sifat fisika dan kimia dan faktor utama lingkungan yang
dapat menurunkan stabilitas diantaranya temperatur yang tidak sesuai,
cahaya, kelembaban, oksigen dan mikroorganisme. Beberapa faktor lain
yang juga mempengaruhi stabilitas suatu obat adalah ukuran partikel,
pH, kelarutan, dan bahan tambahan kimia.
V.2 Saran
V.2.1 Saran Untuk Jurusan
Saran kami kepada pihak jurusan agar memperhatikan keadaan
laborotorium dan melengkapi alat-alat praktikum yang masih kurang
untuk kepentingan bersama
V.2.2 Saran untuk asisten
Agar lebih sabar dalam membimbing praktikan dan diharapkan kepada
asisten agar lebih mengawasi dan tegas kepada praktikan yang
mengganggu kenyamanan praktikan lainnya yang sedang memperhatikan.
V.2.3 Saran untuk praktikan
Agar lebih berhati-hati saat melakukan praktikum dan tetap menjaga
kebersihan laboratorium.

21
22

DAFTAR PUSTAKA
Ansel C. Howard. 1989. “ Pengantar Bentuk Sedian Farmasi Edisi Keempat”.
UI-Press : Jakarta.

Day, R. A. Dan Underwood, A. L. 1993. Analisis Kimia Kuatitatif. Jakarta:


Erlangga

Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departement


Kesehatan Republik Indonesia

Dirjen POM. 1995. Farmakope Indonesia Edisi IV. Jakarta: Departement


Kesehatan Republik Indonesia

Hendayana. Sumar. 1994. Kimia Analitik Instrumen. Semarang: Semarang


Press

Jenkins. 1957. “Farmasi Fisika”. UGM Press : Yogyakarta.

Joshita. 2008. “Obat-Obat untuk Paramedis”. UI Press : Jakarta.

Lachman. 1994. “Teori dan Praktek Farmasi Industri Edisi 3”. UI-Press,
Jakarta.

Martin, A., Swarbick, J., dan A. Cammarata. 1993. Farmasi Fisik 2. Edisi III.
Jakarta: UI Press.

Moechtar. 1990. Farmasi Fisik. Yogyakarta : UGM-press.

Parrot, E. L. 1994. Pharmaceutical Technologi United States. Amerika:


Publishing Company

Sutopo. 2006. Metodologi Penelitian Kualitatif. Surakarta: Universitas Negeri


Semarang

Susanti. 2003. Analisis Kimia Kuantitatif Farmasi. Makassar: Universitas


Hasanuddin

Svehla. G. 1990. Buku Teks Analisis Anorganik Semimakro. Jakarta: Kalman


Media Pustaka

Voigt, R. 1995. ”Buku Pelajaran Teknologi Farmasi”. UGM Press :


Yogyakarta.

Widiaia, I. N. K. Astuti, N. M. P. Susanti, dan I. M. A. G. Wirasuta. 2008. Buku


Ajar Analisis Farmasi Fisiko Kimia. Jimbaran : Jurusan Farmasi
FMIPA UNUD