Anda di halaman 1dari 25

perbedaan antara shareholders dan stakeholders

Shareholders

pemegang saham dalam sebuat perusahaan, entah yg minoritas / mayoritas.biasanya berada


diluar perusahaan.

Stakeholders

Perusahaan berdiri dan berkembang di dalam masyarakat tentunya dalam perkembangan


tersebut tidak hanya mulus dan tanpa adanya masalah dalam keseharian berjalannya
perusahaan. Terkadang timbul tekanan – tekanan baik dari luar perusahaan ataupun dari
dalam perusahaan. Tekanan ini siftanya tidak selalu buruk, terkadang tekanan justru
memberikan peluang bagi perusahaan untuk terus berkembang dan membesarkan perusahaan.
Tugas public relation tentunya untuk menjalin hubungan yang baik terhadap pihak – pihak
yang berhubungan dengan perusahaan melalui proses komunikasi. Siapa yang di maksud
dengan pihak – pihak tersebut? Yang di maksud di sini adalah khalayak yang menjadi sasaran
kegiatan PR dan di sebut stakeholders.
Stakeholder itu apa ya ? untuk memahami hal ini saya coba mengambil pengertian
stakeholder dari buku "Rhenald Kasali Manajemen Public Relations halam 63 " sebagi
berikut:
"Stakeholders adalah setiap kelompok yang berada di dalam maupun luar perusahaan yang
mempunyai peran dalam menentukan perusahaan. Stakeholders bisa berarti pula setiap
orang yang mempertaruhkan hidupnya pada perusahaan. Penulis manajemen yang lain
menyebutkan bahwa stakeholders terdiri atas berbagai kelompok penekan (pressure group)
yang mesti di pertimbangkan perusahaan"
Stakeholders ini secara umum bisa di bagi menjadi dua kelompok yaitu kelompok yang di
dalam perusahaan atau di sebut internal stakehoders dan yang berada di luar perusahaan yang
di sebut external stakeholder
Stakeholders Intern Stakeholders Extern
1. Pemegang saham 1. Komsumen
2. Manajemen dan Top Executive 2. Penyalur
3. Karyawan 3. Pemasok
4. Keluarga Karyawan 4. Bank
5. Pemerintah
6. Pesaing
7. Komun
Pemegang saham (stockholder)

Adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki satu atau lebih saham pada
perusahaan. Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang
terdaftar dalam bursa efek berusaha untuk meningkatkan harga sahamnya. Konsep pemegang
saham adalah sebuah teori bahwa perusahaan hanya memiliki tanggung jawab kepada para
pemegang sahamnya dan pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan mereka,.
Pemegang saham diberikan hak khusus tergantung dari jenis saham, termasuk hak untuk
memberikan suara (biasanya satu suara per saham yang dimiliki) dalam hal seperti pemilihan
papan direktur, hak untuk pembagian dari pendapatan perusahaan, hak untuk membeli saham
baru yang dikeluarkan oleh perusahaan, dan hak terhadap aset perusahaan pada saat likuidasi
perusahaan. Namun, hak pemegang saham terhadap aset perusahaan berada di bawah hak
kreditor perusahaan. Ini berarti bahwa pemegang saham biasanya tidak menerima apa pun
bila suatu perusahaan yang dilikuidasi setelah kebangkrutan (bila perusahaan tersebut
memiliki lebih untuk membayar kreditornya, maka perusahaan tersebut tidak akan bangkrut),
meskipun sebuah saham dapat memiliki harga setelah kebangkrutan bila ada kemungkinan
bahwa hutang perusahaan akan direstrukturisasi.

http://fekool.blogspot.co.id/2015/09/pengantar-bisnis-perbedaan-antara.html

Bicara soal bisnis, Landmarkers pasti gak akan asing mendengar 3 istilah di atas. Ada
stockholder, shareholder, dan stakeholder. Bagi Landmarkers yang sudah paham dengan
ketiga istilah ini nanti boleh memberikan komentar untuk menyanggah atau menambahkan
informasi yang kurang lengkap atau mispersepsi di dalam artikel ini. Karena jujur saja,
sebagai kaum awam sebelum mengambil matakuliah manajemen keuangan, saya memang
pernah mendengar ketiga istilah ini. Namun, saya masih bias dan bertanya-tanya, khususnya
perihal perbedaan antara stockholder dan sharehoder.

Pertanyaan saya akhirnya terjawab sudah oleh dosen saya, Prof. DR. Sukmawati
Sukamulja, dalam matakuliah manajemen keuangan internasional. Dengan bahasa yang
cukup mudah dipahami, dia menyampaikan perbedaan terkait 3 istilah bisnis tersebut.
Menurut beliau, memang pengertian stockholder dan shareholder dalam situasi tertentu dapat
dianggap saling menggantikan (interchangeably). Lantas, adakah letak kesamaan dan
perbedaannya? Lalu, bagaimana kaitannya dengan Stakeholder? Kuy, kita mulai pelajari
lebih rinci di bawah ini.

STOCKHOLDER & SHAREHOLDER

Sebelum membahas lebih jauh, ada baiknya kita simak definisi dari stockholder dari beberapa
sumber berikut ini.

Bussiness Dictionary: stockholder is an individual, group, or organization that holds one or


more shares in a company, and in whose name the share certificate is issued. Artinya,
tockholder ialah individu, kelompok, ataupun organisasi yang memegang satu atau lebih
lembar saham di suatu perusahaan, dan yang mana namanya tercantum di sertifikat lembar
saham.

Cambridge Dictionary: stockholder is a person who owns shares in a company and therefore
gets part of the company’s profits and the right to vote on how the company is controlled.
Artinya, stockholder adalah orang yang memiliki saham di suatu perusahaan dan oleh
karenanya mendapatkan bagian dari keuntungan perusahaan dan hak untuk memberikan suara
(pendapat) terhadap cara perusahaaan tersebut dikendalikan.

Accounting Coach: stockholder is the owner of one or more shares of a corporation’s capital
stock. Artinya, stockholder merupakan pemilik dari sebagian saham perusahaan.
Stockholder dapat dianggap terpisah dari perusahaan tersebut dan oleh karenanya memiliki
liabilitas yang terbatas dari keseluruhan surat hutang perusahaan.
Picture 3.1 – Stockholders

Sebenarnya, dari ketiga pengertian di atas, semua referensi itu menyebutkan bahwa
stockholder dapat disebut juga sebagai shareholder. Akan tetapi, rasa penasaran saya masih
belum terpuaskan dengan definisi di atas. Saya masih berpikir, dari mana asal muasal kedua
kosakata ini muncul. Apakah 2 istilah tersebut memang hanya menrupakan ‘sinonim’ di
dalam bahasa Inggris, atau memang punya dasar tertentu yang dapat berbeda satu sama lain
(meskipun kenyataannya dapat saling menggantikan (interchangeable)). Untuk melengkapi
referensi, saya akan paparkan juga penjelasan dari dosen saya, Prof. DR. Sukmawati
Sukamulja, dalam matakuliah manajemen keuangan internasional berikut ini.

(NB: saya menuliskan persis seperti kata-kata yang beliau ucapkan pada waktu perkuliahan,
yang saya simpan sebagai rekaman suara)

Prof. DR. Sukmawati Sukamulja:

“Di dalam suatu perusahaan corporate terdapat dua partisi. Orang yang mengelola
perusahaan disebut sebagai management, sering disebut sebagai agent. Para pembeli saham
perusahaan yang secara fisik tidak terlibat di dalam operasional perusahaan disebut
stockholders, atau sering disebut owners atau principals. Individu maupun kelompok yang
terlibat dalam memaksimalkan kekayaan perusahaan (maximize company’s wealth), baik
itu management maupun para pemegang saham disebut shareholders. Semua elemen di
dalam (management & stockholders) dan di luar perusahaan (pemerintah, pemasok,
konsumen, masyarakat sekitar, dan lingkungan alam) yang memiliki kepentingan dengan
perusahaan disebut stakeholders.”

Pernyataan Prof. DR. Sukmawati Sukamulja tersebut di atas dapat saya sajikan dalam
bentuk diagram venn berikut ini.

Picture 3.2 Stockholders, Shareholders, dan


Stakeholders

Dari penjelasan di atas, saya sendiri menilai bahwa dskripsi yang paling mencerahkan saya
terkait ketiga istilah di atas adalah deskripsi yang diutarakan oleh Prof. DR. Sukmawati
Sukamulja. Sebelumnya saya meyakini bahwa Landmarkers pasti paham arti dari
stakeholders, yaitu pemangku kepentingan. Namun, kepentingan yang seperti apakah yang
tergolong sebagai stakeholders? Maka melalui deskripsi gambar diagram venn di atas, saya
harap dapat membantu Landmarkers memahami perbedaan istilah-istilah tersebut.

Dari semua kutipan definisi dan deskripsi yang saya lampirkan di atas, saya mencoba
memberikan tambahan keterangan untuk ketiga istilah tersebut. Saya kembali masuk ke
dalam dua kategori lingkup suatu korporasi. Ada 2 lingkup korporasi, yaitu dalam (internal)
dan luar (eksternal). Di bagian internal perusahaan, ada pemegang saham (stockholders) dan
manajemen (management). Beberapa sumber membaginya ke dalam 3 bagian, yaitu
pemegang saham, manajemen, dan karyawan. Sedangkan di bagian eksternal perusahaan, ada
keterlibatan dengan pemerintah, pemasok, konsumen, masyarakat setempat, sampai pada
lingkungan alam (planet).

Stockholders memiliki kontribusi berupa modal (investasi) yang diberikan kepada suatu
korporasi untuk menunjang kegiatan operasional perusahaan. Sebagai balas jasa nya,
perusahaan akan memberikan persentase keuntungan perusahaan kepada stockholders
(biasanya dalam bentuk dividen, namun apabila perusahaan menerbitkan obligasi, maka balas
jasa diberikan dalam bentuk kupon obligasi dengan modal yang disertakan pada saat jatuh
tempo atau due date).

Manajemen memiliki kontribusi berupa pikiran, waktu, dan tenaga untuk mengelola kegiatan
operasional perusahaan. Pada initinya, manajemen berperan dalam merencanakan,
mengeksekusi rencana (dalam bentuk program), dan sekaligus mengawasi implementasi dari
rencana tersebut. Sebagai balas jasa nya, perusahaan akan memberikan penghargaan (reward)
yang diwujudkan dalam bentuk gaji dan tunjangan, bonus, dan lain sebagainya. Selanjutnya,
baik stockholders maupun manajemen berperan penting dalam memaksimalkan nilai (value)
atau kekayaan (wealth) perusahaan disebut dengan istilah shareholders.

Perusahaan akan berjalan dan berkembang bukan hanya karena ada kontribusi dari pihak
internal perusahaan, namun juga karena ada bantuan dan hubungan dengan pihak luar
(eksternal) perusahaan. Pemerintah misalnya, berkontribusi dalam hal perizinan usaha,
pemasok (suppliers) berkontibusi dalam menyediakan kebutuhan perusahaan terkait bahan
baku (raw material) dan jasa, dan seterusnya. Semua unsur yang terlibat dan memiliki
kepentingan dalam keberlanjutan (sustainability) perusahaan disebut sebagai stakeholders.

https://tituschristiawan.wordpress.com/2017/02/23/stockholder-shareholder-dan-stakeholder/

MEMAHAMI ISTILAH STAKEHOLDER DALAM ACCOUNTING

Stakeholders menjadi bagian dalam kehidupan kita. Stakeholder? Tahukah Anda mengenai
hal tersebut ?

Istilah stakeholder sudah sangat fenomenal. Kata ini telah dipakai oleh banyak pihak dan
hubungannnya dengan berbagi ilmu atau konteks, misalnya manajemen bisnis, ilmu
komunikasi, pengelolaan sumberdaya alam, sosiologi, dan lain sebagainya.

Stakeholders atau pemangku kepentingan adalah kelompok atau individu yang dukungannya
diperlukan demi kesejahteraan dan kelangsungan hidup organisasi. Pemangku kepentingan
adalah seseorang, organisasi atau kelompok dengan kepentingan terhadap suatu sumberdaya
alam tertentu (Brown et al 2001). Stakeholder is a person who has something to gain or lose
through the outcomes of a planning process, programme or project (Dialogue by Design
2008). Freeman “1984” yang mendefinisikan stakeholder sebagai kelompok atau individu
yang dapat mempengaruhi dan atau dipengaruhi oleh suatu pencapaian tujuan tertentu.

Biset “1998” secara singkat mendefenisikan stakeholder merupakan orang dengan suatu
kepentingan atau perhatian pada permasalahan, stakeholder ini sering diidentifikasi dengan
suatu dasar tertentu sebagaimana dikemukakan Freeman “1984” yakni dari segi kekuatan dan
kepentingan relatif stakeholder terhadap issu, Grimble and Wellard “1996” dari segi posisi
penting dan pengaruh yang dimiliki mereka.

Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi
untuk kepentingannya sendiri, namun harus memberikan manfaat bagi stakeholder
(pemegang saham, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak
lain).

Pengertian teori stakeholder menurut Freeman dan Reed (Ulum, 2009) adalah sekelompok
orang atau individu yang diidentifikasikan dapat mempengaruhi kegiatan perusahaan ataupun
dapat dipengaruhi oleh kegiatan perusahaan. De Wit dan Meyer (Duran dan Radojicic, 2004,
p14) berpendapat bahwa para pemegang saham, para pekerja, para supplier, bank, para
customer, pemerintah, dan komunitas memegang peranan penting dalam organisasi

PERAN DAN FUNGSI STAKEHOLDERS

Peran pihak yang memiliki kepentingan utama atau stakeholder dalam organisasi bisnis
ataupun dalam perusahaan, adalah sebagai berikut :

 Pemilik (owner) atau Pemegang Saham Pada awalnya suatu bisnis dimulai dari ide
seseorang atau lebih tentang suatu barang atau jasa dan mereka mengeluarkan
uangnya (modal) untuk membiayai usaha tersebut, karena mereka memiliki keyakinan
bahwa kelak dikemudian hari akan mendapatkan imbalan (keuntungan) dan mereka
mengorganisasi, mengelola dan menanggung segala resiko bisnis.
 Karyawan (employee) Karyawan dalah orang yang diangkat dan ditugaskan untuk
menjalankan kegiatan perusahaan. Kinerja perusahaan sangat bergantung pada kinerja
seluruh karyawan, baik secara individu maupun secara kelompok.
 Kreditor (creditor) Adalah lembaga keuangan atau individu yang memberikan
pinjaman kepada perusahaan. Kreditor sebagai pemberi pinjaman, umumnya
mengajukan persyaratan tertentu untuk meyakinkan bahwa uang yang mereka
pinjamkan kelak akan dapat dikembalikan tepat waktu ,sesuai jumlah dan berikut
prestasinya.
 Pemasok (supplier) Pemasok adalah partner kerja dari perusahaan yang siap
memenuhi ketersediaan bahan baku, oleh karena itu kinerja perusahaan juga sebagian
tergantung pada kemampuan pemasok dalam mengantarkan bahan baku dengan tepat
waktu. Misalnya pemasok kepentingan, jika barang dan jasa yang mereka pasok
relative langkah dan sulit untuk memperoleh barang/jasa subtitusi.Kekuatan relatif
organisasi terhadap pemangku kepentingan tidak selalu lemah.
 Pelanggan (customer) Dengan mengidentifikasi pelanggan, perusahaan akan lebih
fokus dalam memberikan produk dan jasa yang diinginkan dan diharapkan oleh
pelanggan mereka. Oleh karena itu perusahaan memiliki kepentingan utama untuk
mengidentifikasi individu yang menggunakan produk dan jasa mereka (pelanggan,
pesaing dan konsumen).Suatu perusahaan tidak akan bertahan lama tanpa ada seorang
customer. Customer merupakan target dari suatu perusahaan untuk menjualkan hasil
produksinya. Untuk menarik seorangcustomer, suatu perusahaan harus menyediakan
produk dan layanan yang terbaik serta harga yang bersahabat. Misalnya, suatu
oragnisasi dapat memiliki kekuatan yang sangat baik, apalagi jika kondisi pelanggan
tidak dapat memperoleh barang/jasa subtitusi yang baik pula.
 Pesaing Kesuksesan perusahaan biasanya tergantung pada pengetahuan karyawan
tentang pesaing dan peranan mereka dalam bisnis. Bentuk yang paling umum dari
pesaing langsung. Pesaing langsung menyediakan produk atau jasa yang sama dalam
industri, seperti yang diproduksi oleh perusahaan kita. Sebagai contoh Toyota dan
Suzuki, Jatayu Air dan Adam Air adalah pesaing langsung satu sama lain.
 Pemerintah Pemerintah misalnya, memiliki kekuasaan untuk memberikan
perijinan.Dalam masyarakat yang masih ditandai dengan adanya KKN yang masih
kuat, bukan tidak mungkin kekuasaan pemerintah dalam memberikan perijinan dapat
mengagalkan semua rencana yang disusun oleh perusahaan.

Berikut Tabel Imbalan dan Kontribusi Stakeholder :

Kontribusi ke Imbalan dari


Stakeholders
Perusahaan Perusahaan
Inside Stakeholders
Dividen dan

Pemegang Saham Uang dan modal peningkatan harga

saham
Kemampuan dan Gaji, bonus, status
Manager
keahlian dan kekuasaan
Upah, gaji, bonus,
Kemampuan dan
Karyawan promosi, dan
keahlian
pekerjaan yang stabil
Outside Stakeholders
Pembelian barang Pembelian input
Pelanggan
dan jasa dengan harga wajar
Pemerintah Peraturan pajak
Usaha pemberdayaan,
Loyalitas, hasil
Masyarakat/komunitas
pengembangan, dan
sekitar
pemberdayaan
kesejahteraan

Adapun beberapa contoh stakeholder misalnya seperti pegawai atau karyawan, pelanggan,
staff dan supplier. Adapun organisasi yang hanya memiliki stakeholder dan tidak memiliki
shareholder “orang yang memiliki saham” misalnya seperti Universitas. Universitas
umumnya tidak memiliki saham akan tetapi hanya memiliki stakeholder yang banyak
misalnya mahasiswa, dosen, satpam, staff, akademik dan sebagainya.

https://accounting.binus.ac.id/2017/06/09/memahami-istilah-stakeholder-dalam-accounting/

Definisi Stakeholders
Definisi stakeholders menurut Freeman (1984) merupakan individu atau kelompok yang bisa
mempengaruhi dan/ atau dipengaruhi oleh organisasi sebagai dampak dari aktivitas-aktivitasnya.
Sedangkan Chariri dan Ghazali (2007, h.32) mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang
hanya beroperasi untuk kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi
stakeholders-nya (shareholders, kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan
pihak lain). Sedangkan Rudito (2004) mengemukakan bahwa perusahaan dianggap sebagai
stakeholders, jika mempunyai tiga atribut, yaitu: kekuasaan, legitimasi dan kepentingan.
Mengacu pada pengertian stakeholders diatas, maka dapat ditarik suatu penjelasan bahwa dalam
suatu aktivitas perusahaan dipengaruhi oleh faktor-faktor dari luar dan dari dalam, yang
kesemuanya dapat disebut sebagai stakeholders. Kelangsungan hidup perusahaan bergantung pada
dukungan stakeholders dan dukungan tersebut harus dicari sehingga aktivitas perusahaan adalah
untuk mencari dukungan tersebut. Makin powerful stakeholders, makin besar usaha perusahaan
untuk beradaptasi. Pengungkapan sosial dianggap sebagai bagian dari dialog antara perusahaan
dengan stakehoders-nya (Chariri dan Ghazali, 2007).
Kasali dalam Wibisono (2007, hal. 90) membagi stakeholders menjadi sebagai berikut:
1. Stakeholders Internal dan stakeholders eksternal.
Stakeholders internal adalah stakeholders yang berada di dalam lingkungan organisasi. Misalnya
karyawan, manajer dan pemegang saham (shareholder). Sedangkan stakeholders eksternal adalah
stakeholders yang berada di luar lingkungan organisasi, seperti penyalur atau pemasok, konsumen
atau pelanggan, masyarakat, pemerintah, pers, kelompok social responsible investor, licensing
partner dan lain-lain.
2. Stakeholders primer, sekunder dan marjinal.
Tidak semua elemen dalam stakeholders perlu diperhatikan. Perusahaan perlu menyusun skala
prioritas. Stakeholders yang paling penting disebut stakeholders primer, stakeholders yang kurang
penting disebut stakeholders sekunder dan yang biasa diabaikan disebut stakeholders marjinal.
Urutan prioritas ini berbeda bagi setiap perusahaan meskipun produk atau jasanya sama. Urutan ini
juga bisa berubah dari waktu ke waktu.
3. Stakeholders tradisional dan stakeholders masa depan. Karyawan dan konsumen dapat disebut
sebagai stakeholders tradisional, karena saat ini sudah berhubungan dengan organisasi. Sedangkan
stakeholders masa depan adalah stakeholders pada masa yang akan datang diperkirakan akan
memberikan pengaruhnya pada organisasi seperti mahasiswa, peneliti dan konsumen potensial.
4. Proponents, opponents, dan uncommitted.
Diantara stakeholders ada kelompok yang memihak organisasi (proponents), menentang organisasi
(opponents) dan ada yang tidak peduli atau abai (uncommitted). Organisasi perlu mengenal
stakeholders yang berbeda-beda ini agar dapat melihat permasalahan, menyusun rencana dan
strategi untuk melakukan tindakan yang proposional.
5. Silent majority dan vokal minority.
Dilihat dari aktivitas stakeholders dalam melakukan komplain atau mendukung perusahaan, tentu
ada yang menyatakan pertentangan atau dukungannya secara vokal (aktif) namun ada pula yang
menyatakan secara silent (pasif).
Menurut Hill (1996, hal 129), Stakeholders dalam pelayanan sosial meliputi negara, sektor
pivat, Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), dan masyarakat, dalam kasus program CSR
keseluruhan entitas tersebut terlibat secara bersama-sama. Sementara mereka memiliki
kepentingan berbeda-beda yang satu dengan yang lain bisa saling bersebrangan dan sangat
mungkin merugikan pihak yang lain.

Stakholder Utama CSR: Pemerintah dan Perusahaan


Menurut Utama (2010), bahwa tanggung sosial jawab perusahaan tidak hanya terhadap
pemiliknya atau pemegang saham saja tetapi juga terhadap para stakeholders yang terkait
dan/atau terkena dampak dari keberadaan perusahaan. Dalam menetapkan dan
menjalankan strategi bisnisnya, perusahaan yang menjalankan CSR akan memperhatikan
dampaknya terhadap kondisi sosial dan lingkungan, dan berupaya agar memberikan dampak
positif.
Utama (2010) menyatakan bahwa pemerintah beserta segenap jajarannya perlu memahami
konteks CSR, karena ada keterpaduan dengan program pemerintah. Bukan tidak mungkin
bila pemahaman terhadap konsep ini tidak sejajar, maka kebijakan yang dikeluarkan oleh
pemerintah tidak akan pernah sejalan dengan kebijakan dunia usaha.
Perlunya pemerintah duduk bersama dengan pelaku usaha, untuk mengkomunikasikan apa
yang dibutuhkan masyarakat secara bersama, memberikan gambaran rencana kerja
pemerintah yang terkait dengan kepentingan publik. Dengan demikian ada komunikasi dua
arah, sehingga kemungkinan adanya kerjasama antara pemerintah dengan perusahaan
menjadi terbuka semakin lebar, sehingga tidak terjadi overlapping program antara
pemerintah dan perusahaan.***
http://www.rahmatullah.net/2012/01/stakeholders-dalam-csr.html

Pengertian dan Pendekatan Teori Stakeholder Menurut Para Ahli


Pengertian dan Pendekatan Teori Stakeholder Menurut Para Ahli - Teori ini pada awalnya muncul
karena adanya perkembangan kesadaran dan pemahaman bahwa perusahaan memiliki stakeholder,
yaitu pihak-pihak yang berkepentingan dengan perusahaan. Ide bahwa perusahaan memiliki
stakeholder ini kemudian menjadi hal yang banyak dibicarakan dalam literatur-literatur manajemem
baik akademis maupun profesional.

Studi yang pertama kali mengemukakan mengenai stakeholder adalah Strategic Management: A
Stakeholder Approach oleh Freeman (1984). Sejak itu banyak sekali studi yang membahas mengenai
konsep stakeholder. Konsep tanggung jawab sosial perusahaan telah mulai dikenal sejak awal 1970,
yang secara umum dikenal dengan stakeholder theory artinya sebagai kumpulan kebijakan dan
praktik yang berhubungan dengan stakeholder, nilai-nilai, pemenuhan ketentuan hukum,
penghargaan masyarakat dan lingkungan, serta komitmen dunia usaha untuk berkontribusi dalam
pembangunan secara berkelanjutan. Stakeholder theory dimulai dengan asumsi bahwa nilai secara
eksplisit dan tak dipungkiri merupakan bagian dari kegiatan usaha (Freeman dkk., 2004).
Teori stakeholder mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk
kepentingannya sendiri, namun harus memberikan manfaat bagi stakeholder (pemegang saham,
kreditor, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis dan pihak lain). Dengan demikian,
keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder
kepada perusahaan tersebut (Ghozali & Chariri, 2007). Deegan (2004) menyatakan bahwa
stakeholder theory adalah "Teori yang menyatakan bahwa semua stakeholder memunyai hak
memperoleh informasi mengenai aktivitas perusahaan yang dapat memengaruhi pengambilan
keputusan mereka. Para stakeholder juga dapat memilih untuk tidak menggunakan informasi
tersebut dan tidak dapat memainkan peran secara langsung dalam suatu perusahaan."

baca juga: Pengertian Employee Relations dan Contoh Kegiatan Menurut Ahli
Budimanta, Prasetijo, & Rudito (2008) menyatakan bahwa terdapat dua bentuk dalam pendekatan
stakeholder yaitu old-corporate relation dan new-corporate relation. Old-corporate relation
menekankan pada bentuk pelaksanaan aktivitas perusahaan secara terpisah, yang menunjukkan
bahwa tidak terdapat kesatuan di antara fungsi dalam sebuah perusahaan ketika melakukan
pekerjaannya. Hubungan perusahaan dengan pihak di luar perusahaan juga bersifat jangka pendek
dan hanya sebatas hubungan transaksional saja tanpa ada kerjasama untuk menciptakan
kebermanfaatan bersama.

Pendekatan old-corporate relation ini dapat menimbulkan konflik karena perusahaan memisahkan
diri dengan para stakeholder baik yang berasal dari dalam perusahaan dan dari luar perusahaan.
Sedangkan, pendekatan new-corporate relation menekankan kolaborasi antara perusahaan dengan
seluruh stakeholder sehingga perusahaan bukan hanya menempatkan dirinya sebagai bagian yang
bekerja secara sendiri dalam sistem sosial masyarakat. Hubungan perusahaan dengan stakeholder di
dalam perusahaan dibangun berdasarkan konsep kebermanfaatannya yang membangun kerjasama
dalam menciptakan kesinambungan usaha perusahaan, sedangkan hubungan dengan stakeholder di
luar perusahaan didasarkan pada hubungan yang bersifat fungsional yang bertumpu pada
kemitraan. Perusahaan selain menghimpun kekayaan juga berusaha bersama-sama membangun
kualitas kehidupan dengan stakeholder di luar perusahaan.

Tunggal (2008) menyatakan bahwa teori stakeholder dapat dilihat dalam tiga pendekatan:

1. Deskriptif

Pendekatan deskriptif pada intinya menyatakan bahwa, stakeholder secara sederhana merupakan
deskripsi yang realitas mengenai bagaimana sebuah perusahaan beroperasi. Teori stakeholder dalam
pendekatan deskriptif, bertujuan untuk memahami bagaimana manajer menangani kepentingan
stakeholder dengan tetap menjalankan kepentingan perusahaan. Manajer dituntut untuk
mengarahkan energi mereka terhadap seluruh pemangku kepentingan, tidak hanya terhadap pemilik
perusahaan saja.

2. Instrumental

Teori stakeholder dalam pendekatan instrumental menyatakan bahwa, salah satu strategi pihak
manajemen perusahaan untuk menghasilkan kinerja perusahaan yang lebih baik adalah dengan
memperhatikan para pemangku kepentingan. Hal ini didukung oleh bukti empiris yang diungkapkan
oleh Lawrence & Weber (2008), yang menunjukkan bahwa setidaknya lebih dari 450 perusahaan
yang menyatakan komitmennya terhadap pemangku kepentingan dalam laporan tahunnya memiliki
kinerja keuangan yang lebih baik dibandingkan dengan perusahaan yang tidak memiliki komitmen.
Pendekatan instrumental bertujuan untuk mempelajari konsekuensi yang ditanggung perusahaan,
dengan melihat dari pengelolaan hubungan stakeholder dan berbagai tujuan tata kelola perusahaan
yang telah dicapai.

3. Normatif

Teori stakeholder dalam pendekatan normatif menyatakan bahwa setiap orang atau kelompok yang
telah memberikan kontribusi terhadap nilai suatu perusahaan memiliki hak moral untuk menerima
imbalan (rewards) dari perusahaan, dan hal ini menjadi suatu kewajiban bagi manajemen untuk
memenuhi apa yang menjadi hak para pemangku kepentingan. Pendekatan normatif juga bertujuan
untuk mengidentifikasi pedoman moral atau filosofis terkait dengan aktivitas ataupun manajemen
perusahaan.

Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa stakeholder teori merupakan suatu teori yang
mempertimbangkan kepentingan kelompok stakeholder yang dapat memengaruhi strategi
perusahaan. Pertimbangan tersebut memunyai kekuatan karena stakeholder adalah bagian
perusahaan yang memiliki pengaruh dalam pemakaian sumber ekonomi yang digunakan dalam
aktivitas perusahaan. Strategi stakeholder bukan hanya kinerja dalam finansial namun juga kinerja
sosial yang diterapkan oleh perusahaan. Corporate Sosial Responsibility merupakan strategi
perusahaan untuk memuaskan keinginan para stakeholder, makin baik pengungkapan Corporate
Sosial Responsibility yang dilakukan perusahaan maka stakeholder akan makin terpuaskan dan akan
memberikan dukungan penuh kepada perusahaan atas segala aktivitasnya yang bertujuan
menaikkan kinerja dan mencapai laba.

Stakeholder theory mengatakan bahwa perusahaan bukanlah entitas yang hanya beroperasi untuk
kepentingannya sendiri namun harus memberikan manfaat bagi stakeholdernya (pemegang saham,
kreditur, konsumen, supplier, pemerintah, masyarakat, analis, dan pihak lain). Dengan demikian,
keberadaan suatu perusahaan sangat dipengaruhi oleh dukungan yang diberikan oleh stakeholder
kepada perusahaan tersebut (Ghozali & Chariri, 2007).

Gray, dkk., (1995) dalam Ghozali & Chariri (2007) menyatakan bahwa kelangsungan hidup
perusahaan tergantung pada dukungan stakeholders dan dukungan tersebut harus dicari, sehingga
aktivitas perusahaan adalah untuk mencari dukungan tersebut. Teori Stakeholder Freeman (1984)
dalam Roberts (1992) mendefinisikan stakeholder seperti sebuah kelompok atau individual yang
dapat memberi dampak atau terkena dampak oleh hasil tujuan perusahaan. Stakeholders adalah
para pemangku kepentingan, yaitu pihak atau kelompok yang berkepentingan, baik langsung
maupun tidak langsung, terhadap eksistensi atau aktivitas perusahaan, dan karenanya kelompok
tersebut memengaruhi dan/atau dipengaruhi oleh perusahaan. Stakeholder termasuk di dalamnya
yaitu stockholders, creditors, employees, customers, suppliers, public interest groups, dan
govermental bodies (Roberts, 1992).
Stakeholder pada dasarnya dapat mengendalikan atau memiliki kemampuan untuk memengaruhi
pemakaian sumber-sumber ekonomi yang digunakan perusahaan. Oleh karena itu, power
stakeholder ditentukan oleh besar kecilnya power yang dimiliki stakeholder atas sumber tersebut.
Power tersebut dapat berupa kemampuan untuk membatasi pemakaian sumber ekonomi yang
terbatas (modal dan tenaga kerja), akses terhadap media yang berpengaruh, kemampuan untuk
mengatur perusahaan, atau kemampuan untuk memengaruhi konsumsi atas barang dan jasa yang
dihasilkan perusahaan (Ghozali & Chariri, 2007).

Roberts (1992) memaparkan bahwa perkembangan konsep stakeholder dibagi menjadi tiga yaitu
model perencanaan perusahaan, kebijakan bisnis dan corporate social responsibility. Pengungkapan
tanggung jawab sosial dan lingkungan merupakan bagian dari komunikasi antara perusahaan dengan
stakeholder-nya. Oleh karena itu, ketika stakeholder mengendalikan sumber ekonomi yang penting
bagi perusahaan, maka perusahaan akan bereaksi dengan cara yang memuaskan keinginan
stakeholder (Ghozali & Chariri, 2007).

Teori stakeholder secara eksplisit mempertimbangkan akan dampak kebijakan pengungkapan


perusahaan ketika ada perbedaan kelompok stakeholder dalam sebuah perusahaan. Pengungkapan
informasi oleh perusahaan dijadikan alat manajemen untuk mengelola kebutuhan informasi yang
dibutuhkan oleh berbagai kelompok (stakeholders). Oleh karena itu, manajemen mengungkapkan
informasi tanggung jawab sosial dan lingkungan ini dalam rangka mengelola stakeholder agar
perusahaan mendapatkan dukungan dari mereka. Dukungan tersebut dapat berpengaruh terhadap
kelangsungan hidup perusahaan (Gray, dkk., 1995).

Teori stakeholder menyatakan bahwa perusahaan memiliki pihak-pihak yang memiliki kepentingan
terhadap perusahaan. Pihak-pihak ini dapat meliputi investor dan pihak-pihak non investor seperti
pelanggan, karyawan, pemasok, masyarakat sekitar, dan pemerintah (Robbins dan Coulter, 2007).
Menurut teori ini, perusahaan memiliki kontrak dengan stakeholder-nya. Dengan demikian,
stakeholder memegang peranan penting dalam menentukan kesuksesan perusahaan. Salah satu
faktor penting dalam teori stakeholder adalah adanya pembedaan antara explicit dan implicit claim.
Explicit claim direfleksikan oleh garansi produk, kontrak harga, dan kontrak upah. Sedangkan implicit
claim dapat menjadi terlalu ambigu untuk dituangkan ke dalam bentuk tertentu. Beberapa contoh
dari implicit claim adalah kemampuan perusahaan untuk menyediakan layanan, mempekerjakan
karyawan tanpa kontrak, dan melanjutkan sumber pasokan tanpa negosiasi baru. Explicit dan
implicit claim dapat mempengaruhi tingkat pendapatan perusahaan. Akan tetapi implicit claim
memiliki risiko yang lebih tinggi bagi perusahaan apabila tidak dipenuhi dibandingkan explicit
claim.

Pengertian teori stakeholder menurut Freeman dan Reed (Ulum, 2009) adalah sekelompok orang
atau individu yang diidentifikasikan dapat mempengaruhi kegiatan perusahaan ataupun dapat
dipengaruhi oleh kegiatan perusahaan. De Wit dan Meyer (Duran dan Radojicic, 2004, p14)
berpendapat bahwa para pemegang saham, para pekerja, para supplier, bank, para customer,
pemerintah, dan komunitas memegang peranan penting dalam organisasi (berperan sebagai
stakeholder), untuk itu korporasi harus memperhitungkan semua kepentingan dan nilai-nilai dari
para stakeholdernya.
Manajer diharapkan dapat melakukan aktivitas-aktivitas yang dianggap penting oleh stakeholder
mereka, dan melaporkan aktivitas-aktivitas tersebut. Artinya perusahaan perlu menerapkan
tanggung jawabnya terhadap para stakeholdernya dan juga menerapkan good corporate governance
(Freeman et.al, 2010, p195). Teori ini juga menyatakan perusahaan akan memilih secara sukarela
dalam pengungkapan informasi kinerja lingkungan, sosial, dan intelektual mereka, melebihi dan
diatas permintaan wajibnya, untuk memenuhi ekspektasi sesungguhnya atau yang diakui oleh
stakeholder.

Tujuan utamanya adalah membantu manajer korporasi untuk mengerti lingkungan stakeholder
mereka dan melakukan pengelolaan dengan lebih efektif diantara keberadaan hubungan-hubungan
dilingkungan perusahaan mereka serta menolong manajer korporasi dalam meningkatkan nilai dari
dampak aktivitas-aktivitas mereka dan meminimalkan kerugian bagi stakeholder-nya. Lebih lanjut
lagi menurut Helena dan Therése, (2005, p8) masyarakat merupakan stakeholder terpenting bagi
perusahaan dan media memegang peranan penting dalam mengkomunikasikan aktivitas-aktivitas
perusahaan kepada para stakeholder.

Media juga memiliki kekuatan untuk memebeberkan informasi perusahaan, apabila perusahaan
melakukan tindakan yang tidak pantas, maka media akan membeberkan keburukan perusahaan
tersebut. Sehingga perusahaan perlu menerapkan prinsip good corporate governance dan
corporate social responsibility untuk menjaga reputasi dihadapanstakeholder-nya.

Dibawah ini merupakan bagan klasifikasi stakeholder perusahaan

Sumber : Caroll (2003)

Teori Stewardship

Teori Stewardship (Kaihatu, 2006, p2) dibangun di atas asumsi filosofis mengenai sifat
manusia, yakni bahwa manusia pada hakekatnya dapat dipercaya, mampu bertindak dengan
penuh tanggung jawab, memiliki integritas dan kejujuran terhadap pihak lain. Inilah yang tersirat
dalam hubungan fidusia (hubungan berlandaskan kepercayaan) yang dikehendaki
para stakeholder. Dengan kata lain, teori stewardship memandang manajemen sebagai dapat
dipercayai untuk bertindak dengan sebaik-baiknya bagi kepentingan publik maupun stakeholder.

Konsep inti dari teori stewardship adalah kepercayaan. Menurut Huse (2007, p54) dalam teori
stewardsip, para manajer digambarkan sebagai “good steward”, dimana mereka setia menjalani
tugas dan tanggungjawab yang diberikan tuannya (dalam hal ini para stakeholder), tidak termotivasi
pada materi dan uang akan tetapi pada keinginan untuk mengaktualisasi diri, dan mendapatkan
kepuasan dari pekerjaan yang digeluti, serta menghindari konflik kepentingan dengan stakeholder-
nya.

Lebih lanjut lagi, menurut Helena dan Therése (2005, p9) didalam teori stewardship,
manajer akan melakukan upaya demi mendapatkan kepercayaan publik. Hal ini didasari pada
prinsip bahwa manajer memiliki tanggung jawab yang besar untuk mengelola sumber daya yang ada
dengan cara yang bijak untuk kepentingan masyarakat luas. Para manajer tidak akan bertindak untuk
kepentingannya sendiri, akan tetapi bertindak untuk kepentingan semua pihak, dan mereka (para
manajer) percaya, apabila mereka telah bertindak untuk kepentingan yang lebih luas, maka secara
pribadi kebutuhan mereka pun telah terpenuhi.

Teori Sistem
Teori sistem memiliki akar kompleks, namun memiliki hubungan yang relevan dengan teori
stakeholder. Teori ini dipelopori oleh Russell Ackoff dan C. Barat rohaniawan (1947). Ide-ide ini
adalah diterapkan pada sistem organisasi pada awal tahun 1970-an (Ackoff 1970, 1974). Teori sistem
menekankan link eksternal yang merupakan bagian dari setiap organisasi. Dengan demikian,
organisasi digambarkan sebagai 'sistem terbuka' merupakan bagian dari jaringan yang jauh lebih
besar daripada sebagai entitas yang berdiri sendiri yang independen. Identifikasi stakeholder dan
interkoneksi antara mereka merupakan langkah penting dalam pendekatan ini. Dari perspektif
sistem, masalah hanya bisa diselesaikan dengan dukungan dari semua anggota, atau pemangku
kepentingan, dalam sebuah perusahaan atau organisasi.

Teori Organisasi
Teori organisasi berasal dari akar yang sama seperti teori sistem. Pada tahun 1960 Katz dan Kahn
(1966) mulai mengembangkan kerangka kerja organisasi yang ditetapkan
organisasi relatif terhadap sistem yang mengelilinginya. Thompson [1967] diperkenalkan
konsep "klien" untuk mengambil bagian ke dalam kelompok. Pendekatan ini meramalkan upaya
untuk menekankan eksternal lingkungan sebagai faktor penjelas yang signifikan dari organisasi
perusahaan (Pfeffer dan Salancik, 1978). Maksud di balik teori-teori organisasi adalah untuk
menggambarkandan menjelaskan keberadaan dan sifat organisasi.

Teori Legitimasi
Ghozali dan Chariri (2007) mengungkapkan definisi teori legitimasi sebagai suatu kondisi atau
status, yang ada ketika suatu sistem nilai perusahaan sejalan dengan sistem nilai dari sistem sosial
yang lebih besar di mana perusahaan merupakan bagiannya. Ketika suatu perbedaan yang nyata
atau potensial, ada antara kedua sistem nilai tersebut, maka akan muncul ancaman terhadap
legitimasi perusahaan. Dengan melakukan pengungkapan sosial, perusahaan merasa keberadaan
dan aktivitasnya terlegitimasi. Organisasi berusaha menciptakan keselarasan antara nilai-nilai yang
melekat pada kegiatannya dengan norma-norma perilaku yang ada dalam sistem sosial masyarakat
dimana organisasi adalah bagian dari sistem tersebut. Selama kedua hal tersebut selaras, hal
tersebut dinamakan legitimasi perusahaan. Ketika terjadi ketidak selarasan antara kedua sistem
tersubut, maka akan ada ancaman terhadap legitimasi perusahaan.

Dalam posisi sebagai bagian dari masyarakat, operasi perusahaan seringkali mempengaruhi
masyarakat sekitarnya. Eksitensinya dapat diterima sebagai anggota masyarakat, sebaliknya
eksitensinya pun dapat terancam bila perusahaan tidak menyesuaikan diri dengan norma yang
berlaku dalam masyarakat tersebut atau bahkan merugikan anggota komunitas tersebut. Oleh
karena itu, perusahaan melalui manajemennya mencoba memperoleh kesesuaian antara tindakan
organisasi dan nilai-nilai dalam masyarakat umum dan publik yang relevan atau stakeholder-nya.
Keselarasan antara tindakan organisasi dan nilai-nilai masyarakatnya ini tidak selamanya berjalan
seperti yang diharapkan. Tidak jarang akan terjadi perbedaan potensial antara organisasi dan nilai-
nilai sosil yang dapat mengancam legitimasi perusahaan yang sering disebut legitimacy gap. Bahkan
menurut menyatakan bahwaa ketika legitimacy gap terjadi dapat menghancurkan legitimasi
organisasi yang berujung pada berakhirnya eksitensi perusahaan.

Corporate Social Responsibility


Kotler dan Lee (2005:3) mendefinisikan terminologi Corporate Social Responsibillty
sebagai : “a commitment to improve community well-being through discretionary business
and contributions of corporate resources”.

Definisi di atas tidaklah semata mengacu pada aktivitas bisnis yang patuh pada hukum atau sebatas
pada moral dan etika. Namun, lebih dimaksudkan sebagai komitmen sukarela yang dibuat oleh
organisasi bisnis dalam memilih dan menerapkan praktek tanggung jawab sosial serta berkontribusi
pada masyarakat. Komitmen tersebut, menurut Kotler dan Lee, harus ditunjukkan agar perusahaan
dinilai sebagai organisasi yang secara sosial bertanggung jawab dan akan menjalankan praktek bisnis
yang berdasar prinsip tanggung jawab sosial tersebut, baik secara moneter atau non-moneter. Istilah
community well-being dalam definisi Kotler dan Lee tersebut memasukkan kondisi manusia sebagai
anggota masyarakat, sebagaimana juga masalah lingkungan.

Meluasnya perhatian pada praktek CSR tersebut mengundang berbagai pihak untuk
memberikan pengertian dan definisi atas terminology tersebut. Komisi Eropa mendefinisikan
CSR sebagai “integrasi secara sukarela oleh organisasi bisnis atas persoalan sosial dan
lingkungan hidup dalam aktivitas komersial organisasi dan dalam hubungannya dengan
berbagai pemangku kepentingan” (Fonteneau, 2003:3).

Lebih spesifik Mazurkiewicz (2004, p3) mengungkapkan bahwa kegiatan CSR pada dasarnya
berdasarkan pendekatan sukarela, eksternalitas lingkungan diamati untuk pihak-pihak yang
berperan, tetapi sering kali tidak dapat diverifikasi. Secara umum, keprihatinan tentang CSR adalah
bahwa, bukan jumlah besar inisiatif, akan tetapi tidak adanya kerangka komprehensif yang akan
menutup pada saat yang sama isu-isu seperti: standar pemerintah, sistem manajemen, ketentuan
bertindak, standar kinerja, pelaporan kinerja, dan jaminan standar. Perusahaan, biasanya,
menerapkan komponen yang terpisah, atau bergabung inisiatif yang dipilih, sering lupa misalnya
tentang mekanisme pemantauan yang transparan.

Bagi sebuah organisasi bisnis, penerapan CSR memiliki dampak positif bagi kelangsungan usahanya.
Pringle and Thomson (2001:xxi) menyatakan bahwa menghubungkan sebuah perusahaan atau
sebuah merek dengan charity yang relevan dapat menghasilkan “spirit of brand”. Saat ini, menurut
Pringle and Thomson, konsumen menaruh perhatian lebih dari sekedar masalah fungsi sebuah
produk atau manfaat rasional dari sebuah produk atau manfaat rasional dari sebuah produk, namun
juga memperhatikan pada aspek emosional dan psikologi dari kepribadian sebuah merek dan citra
yang dihasilkan. Konsumen bergerak ke atas menuju puncak dari hierarki Maslow, yaitu mencari
realisasi diri (Pringle and Thomson, 2001:xxii).

Manfaat CSR (Corporate Social Responsibility)

Manfaat CSR bagi perusahaan (Hendrik Budi Untung, 2007:7) adalah sebagai berikut:

1. Memperhatikan dan mendongkrak reputasi serta citra merek perusahaan.


2. Mendapatkan lisensi untuk beroperasi secara total.
3. Mereduksi resiko bisnis perusahaan.
4. Melebarkan akses sumber daya bagi operasional usaha.
5. Membuka peluang pasar yang lebih luas.
6. Mereduksi biaya, misalnya terkait dampak pembuangan limbah.
7. Memperbaiki hubungan dengan stakeholders.
8. Meningkatkan semangat dan produktivitas karyawan.
9. Memperbaiki hubungan dengan regulator.
10. Peluang mendapatkan penghargaan.

Dengan prinsip responsilbility, penekanan diberikan pada kepentingan stakeholders perusahaan.


Dalam hal ini perusahaan diharuskan memperhatikan kepentingan stakeholders perusahaan,
menciptakan nilai tambah (value added) dari produk dan jasa bagi stakeholders perusahaan dan
memelihara kesinambungan nilai tambah yang diciptakannya. Sedangkan stakeholders perusahaan
dapat didefiniskan sebagai pihak-pihak yang berkepentingan terhadap eksistensi perusahaan.

Termasuk di dalamnya adalah karyawan, konsumen, pemasok, masyarakat, lingkungan sekitar dan
pemerintah sebagai regulator. CSR sebagai sebuah gagasan, perusahaan tidak lagi dihadapkan pada
tanggung jawab yang berpijak pada single bottom line, yaitu nilai perusahaan (corporate value) yang
direfleksikan dalam kondisi keuangan saja (financial). Tetapi tanggung jawab perusahaan harus
berpijak pada triple bottom lines. Dalam hal ini bottom lines lainnya selain keuangan adalah sosial
dan Peran Public Relations dalam Membangun Citra Perusahaan melalui lingkungan. Keberlanjutan
perusahaan hanya akan terjamin apabila perusahaan memperhatikan dimensi sosial dan lingkungan
hidup. Sudah menjadi fakta bagaimana resistensi masyarakat sekitar di berbagai tempat dan waktu
muncul kepermukaan terhadap perusahaan yang dianggap tidak memperhatikan aspek-aspek sosial,
ekonomi, dan lingkungan hidupnya (Idris, 2005).
Sekian artikel tentang Pengertian dan Pendekatan Teori Stakeholder Menurut Para Ahli. Semoga
bermanfaat.

https://modulmakalah.blogspot.co.id/2016/12/Pengertian.dan.Pendekatan.Teori.Stakeholder.Menu
rut.Para.Ahli.html

Pengertian Shareholders
Secara umum berarti pemegang saham dalam sebuah perusahaan, entah yg minoritas /
mayoritas, biasanya berada di luar perusahaan. Pemegang saham (bahasa Inggris: shareholder atau
stockholder adalah seseorang atau badan hukum yang secara sah memiliki satu atau
lebih saham pada perusahaan. Para pemegang saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut.
Perusahaan yang terdaftar dalam bursa efek berusaha untuk meningkatkan harga sahamnya. Konsep
pemegang saham adalah sebuah teori bahwa perusahaan hanya memiliki tanggung jawab kepada
para pemegang sahamnya dan pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan mereka

Pemegang saham diberikan hak khusus tergantung dari jenis saham, termasuk hak untuk
memberikan suara (biasanya satu suara per saham yang dimiliki) dalam hal seperti pemilihan dewan
direksi, hak untuk pembagian dari pendapatan perusahaan, hak untuk membeli saham baru yang
dikeluarkan oleh perusahaan, dan hak terhadap asetperusahaan pada saat likuidasi perusahaan.
Namun, hak pemegang saham terhadap aset perusahaan berada di bawah hak kreditor perusahaan.
ini berarti bahwa pemegang saham biasanya tidak menerima apa pun bila suatu perusahaan yang
dilikuidasi setelah kebangkrutan (bila perusahaan tersebut memiliki lebih untuk membayar
kreditornya, maka perusahaan tersebut tidak akan bangkrut), meskipun sebuah saham dapat
memiliki harga setelah kebangkrutan bila ada kemungkinan bahwa hutang perusahaan akan
direstrukturisasi.1[2]

b. Shareholder Value Perspective


Shareholder Value Perspective menekankan profitabilitas di atas tanggungjawab
(responsibilitas) dan melihat perusahaan sebagai alat bagi pemiliknya. Pendukung shareholder value
percaya bahwa keberhasilan perusahaan bisa diukur dari harga saham, dividen dan economic profit,
dan melihat manajemen stakeholder sebagai alat bukan tujuan itu sendiri. Pendukung Shareholder
Value Persepective berpendapat bawah tanggungjawab sosial bukan urusan perusahaan dan klaim
dari masyarakat akan paling baik dilayani oleh perusahaan- perusahaan bila mereka mengejar
kepentingan sendiri dan efisiensi ekonomi. Filosofi shareholder value tidak menutup mata terhadap
tuntutan oleh stakeholder lainnya terhadap perusahaan. Namun, menyadari bahwa perhatian ke
stakeholder lainnya penting bukan berarti tujuan perusahaan adalah melayani mereka. Tujuan
perusahaan yang paling utama adalah memaksimalkan shareholder value, dalam batasan
diperbolehkan oleh hukum. Pendukung shareholder value perspective yakin bahwa masyarakat
mendapatkan layaran terbaik oleh rational ekonomi. Tanggungjawab untuk lapangan kerja,
komunitas lokal, lingkungan, dan pengembangan sosial bukan urusan perusahaan, tetapi lebih baik
ditinggalkan untuk individu dan pemerintah. Dengan mengejar kepentingan sendiri dan memelihara
hubungan berdasarkan pasar antara perusahaan dengan seluruh stakeholder, pengejaran nilai
maksimal bagi pemegang saham akan menghasilkan kekayaan masyarakat dimaksimalkan.
c. Stakeholder Value Perspective
Stakeholder Value Perspective mengutamakan tanggung jawab di atas profitabilitas dan melihat
organisasi terutama sebagai koalisi untuk melayani semua pihak yang terlibat. Pendukung
Stakeholder Value percaya bahwa sukses suatu organisasi seharusnya diukur dengan kepuasan
diantara seluruh stakeholder dan melihat manajemen stakeholder sebagai alat dan tujuan. Mereka
percaya bahwa tanggungjawab sosial (social responsibility) adalah urusan perusahaan dan klaim
masyarakat paling baik dilayani dengan mengejar kepentingan bersama dengan intensi
meningkatkan kekayaan bersama. Pendukung perspektif ini menolak memberi pemegang saham
klaim moral yang lebih tinggi pada organisasi daripada pemberi sumberdaya lainnya. Mengakui klaim
moral oleh stakeholder lainnya (selain pemegang saham) berarti memasukkan nilai selain nilai
keuangan ke dalam spektrum apa yang harus dikejar oleh organisasi.
Manajemen stakeholder bukan hanya instrumental dalam menciptakan nilai bagi pemegang
saham, namun normative. Karena memiliki karyawan yang bermotivasi tinggi dan membina
kepercayaan tinggi dari seluruh pihak yang berhubungan dengan perusahaan, mengejar kepentingan
bersama dari seluruh stakeholder tidak hanya lebih adil, namun juga memaksimalkan kekayaan
masyarakat (social wealth).
d. Mensinergikan Kepentingan Shareholder dan Stakeholder
Sebenarnya tugas untuk menyeimbangkan ini seharusnya dilakukan oleh pemerintah atau
regulator. Pemerintah atau regulator seharusnya mengatur keadaan sehingga perusahaan tidak
beroperasi dalam lingkungan monopoli yang bisa menyebabkan maksimalisasi nilai perusahaan
dengan kerugian pada masyarakat luas. Untuk itulah dibuat undang-undang anti monopoli.
Bila fungsi kontrol dari pemerintah berjalan dengan baik, perusahaan tidak akan mampu
memaksimalkan nilai perusahaan (firm value) dengan mengorbankan kepentingan grup lainnya atau
masyarakat luas. Tindakan perusahaan yang menyebabkan kerugian kepada grup lainnya harus
dibayar perusahaan dengan membayar ganti rugi ke pihak yang dirugikan maupun melalui denda
yang diterapkan pemerintah.
Selain kontrol dari pemerintah, perusahaan juga harus menjaga kepentingan dari stakeholder
lainnya demi kelangsungan bisnisnya dalam jangka panjang. Bila perusahaan tidak memperhatikan
kepentingan karyawan, mungkin karyawan tidak akan bekerja dengan sepenuh hati sehingga
produktivitas perusahaan berkurang. Begitu juga pelanggan yang diperlakukan tidak adil mungkin
tidak akan membeli produk perusahaan tersebut lagi.
Singkatnya, perusahaan yang memaksimalkan nilai tetap harus memperhatikan kepentingan
stakeholder lainnya. Tanpa perhatian kepada kepentingan stakeholder lainnya, bukan tidak mungkin
kepentingan perusahaan dalam jangka panjang akan terganggu. Mengingat nilai perusahaan
tergantung dari arus kas perusahaan dalam jangka panjang, terganggunya kepentingan perusahaan
dalam jangka panjang akan mengurangi arus kas perusahaan dalam jangka panjang, sehingga akan
mengurangi nilai perusahaan.
Apakah memang penting bagi perusahaan untuk memperhatikan kepentingan berbagai
stakeholder? Tentu saja, karena perusahaan dapat menghasilkan keuntungan maksimal secara
langgeng jika mendapatkan dukungan penuh dari seluruh stakeholder. Yang diperlukan adalah
bagaimana mensinergikan kepentingan shareholder dengan kepentingan stakeholder lainnya,
sehingga memberikan manfaat optimal bagi semua pihak. Namun tentu saja tidak berarti bahwa
perusahaan harus memikirkan kepentingan stakeholder lainnya diatas kepentingan pemegang
saham.
Bagaimana kalau kepentingan stakeholder lainnya yang diutamakan diatas kepentingan
shareholder? Coba bayangkan misalnya rumah dikelola dengan teori stakeholder yang
mengutamakan kepentingan stakeholder lainnya diatas kepentingan pemilik rumah. Maka, halaman
anda akan menjadi taman publik, juga garasi anda mungkin akan menjadi ruang serbaguna untuk
karang taruna. Yang pasti kita akan kehilangan privacy. Itu sebabnya mengapa perusahaan harus
dikelola sesuai tujuan didirikannya perusahaan sebagai perwujudan kepentingan pemegang saham.
Namun mengutamakan kepentingan pemegang saham tanpa mempertimbangkan kepentingan
stakeholder yang mempunyai risiko (stake) dalam kelangsungan hidup perusahaan juga tidak
sepenuhnya benar. Perusahaan umumnya sudah bukan dimiliki oleh individu, apalagi dengan model
peningkatan modal melalui pasar modal. Perusahaan kini dimiliki oleh banyak pemegang saham, dan
manajemennya diserahkan kepada profesional. Ditambah lagi ada saja pemegang saham yang
menyertakan modalnya untuk tujuan spekulasi pasar. Pemegang saham jenis ini dipastikan tidak
terlalu peduli dengan kebijakan perusahaan, karena belum tentu memiliki kepentingan yang sama
untuk menjaga kelangsungan perusahaan. Keterlibatan stakeholder dalam pengoperasian
perusahaan juga bisa menimbulkan banyak gangguan terhadap proses manajemen, itu sebabnya
perlu ada batasan keikutsertaan stakeholder dalam operasional perusahaan.
Jika pendekatan stakeholder diterapkan, maka model yang baik seharusnya dapat membantu
mengatasi kompleksitas persoalan yang ada. Dalam pengelolaan perusahaan, pemegang saham
perlu diberikan porsi perhatian yang cukup. Namun, menjadikan perusahaan warga negara yang baik
juga merupakan hal penting bagi perusahaan maupun komunitas. Umumnya dalam jangka panjang
akan membantu meningkatkan nilai tambah bagi pemegang saham.
Bagaimana kita mensinergikan kepentingan berbagai pihak? Tentu saja model tersebut perlu
disesuaikan dengan sistem hukum, perbedaan kepentingan, karakter bisnis, kondisi lingkungan, serta
kultur bangsa. Model tersebut harus tetap menjaga keberadaan pengendalian risiko dalam setiap
proses bisnis juga mampu menangkap peluang bisnis. Kita perlu mendefinisikan apa sebenarnya
kepentingan stakeholder, komponen didalamnya, serta bobot yang wajar dari setiap komponen.
Dengan demikian kepentingan stakeholder bisa dipastikan dapat bersinergi dengan kepentingan
pemegang saham.
Dalam melakukan sinergi, kepentingan berbagai pihak diselaraskan dengan tujuan perusahaan.
Salah satu cara adalah dengan menerapkan Corporate Social Responsibility (CSR) menjadi bagian
integral strategi perusahaan. CSR disini memasukkan berbagai komponen tanggungjawab
perusahaan terhadap stakeholder dan juga tanggung jawab perusahaan dalam meningkatkan
keuntungan.2[3]
1.3.AGENCY THEORY
a. Pengertian teory agen

Menurut Anthony dan Govindarajan (2005), teori agensi adalah hubungan atau kontrak
antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu semata-mata
termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan
antara principal dan agent.

Agency Theory menunjukkan bahwa perusahaan dapat dilihat sebagai suatu hubungan
kontrak (loosely defined) antara pemegang sumber daya. Suatu hubungan agency muncul ketika
satu atau lebih individu, yang disebut pelaku (principals), mempekerjakan satu atau lebih individu
lain, yang disebut agen, untuk melakukan layanan tertentu dan kemudian mendelegasikan otoritas
pengambilan keputusan kepada agen. Hubungan utama agency dalam bisnis adalah mereka (antara
pemegang saham dan manajer dan) 1 (2) antara debtholders dan pemegang saham. Hubungan ini
tidak selalu harmonis, memang, teori keagenan berkaitan dengan konflik agency, atau konflik
kepentingan antara agen dan pelaku. Hal ini memiliki implikasi untuk, antara lain, tata kelola
perusahaan dan etika bisnis. Ketika agency terjadi cenderung menimbulkan biaya agency, yaitu biaya
yang dikeluarkan dalam rangka untuk mempertahankan hubungan agency yang efektif (misalnya,
menawarkan bonus kinerja manajemen untuk mendorong manajer bertindak untuk kepentingan
pemegang saham). Oleh karena itu, teori keagenan telah muncul sebagai model yang dominan
dalam literatur ekonomi keuangan, dan secara luas dibahas dalam konteks etika bisnis.

Agency Theory secara formal berasal pada awal tahun 1970, namun konsep di balik itu
memiliki sejarah panjang dan beragam. Di antaranya adalah pengaruh teori properti-hak, ekonomi
organisasi, hukum kontrak, dan filsafat politik, termasuk karya Locke dan Hobbes. Sebagian ilmuwan
penting terlibat dalam periode formatif teori agensi di tahun 1970-an termasuk Armen Alchian,
Harold Demsetz, Michael Jensen, William Meckling, dan S.A. Ross.3[4]

Agency theory merupakan salah satu teori yang muncul dalam perkembangan riset
akuntansi yang merupakan modifikasi dari perkembangan model akuntansi keuangan dengan
menambahkan aspek perilaku manusia dalam model ekonomi. Dalam Agency Theory mengenal
adanya Asymmetric Information (AI) yaitu informasi yang tidak seimbang yang disebabkan karena
adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen.

Agency Theory mendasarkan hubungan kontrak antar anggota-anggota dalam perusahaan


dimana prinsipal dan agen sebagai pelaku utama. Prinsipal merupakan pihak yang memberikan
mandat kepada agen untuk bertindak atas nama prisipal, sedangkan agen merupakan pihak yang
diberi amanat oleh prinsipal untuk menjalankan perusahaan. Agen berkewajiban untuk
mempertanggungjawabkan apa yang telah diamanat oleh prinsipal kepadanya.. Inti dari Agency
Theory atau teori keagenan adalah pendesainan kontrak yang tepat untuk menyelaraskan
kepentingan prinsipal dan agen dalam hal terjadi konflik kepentingan (Scott, 1997).
b. Landasan Teori Agen

Menurut Eisenhard (1989), teori keagenan dilandasi oleh 3 buah asumsi yaitu:

(a) Asumsi tentang sifat manusia

Asumsi tentang sifat manusia menekankan bahwa manusia memiliki sifat untuk
mementingkan diri sendiri (self interest), memiliki keterbatasan rasionalitas (bounded rationality),
dan tidak menyukai resiko (risk aversion).

(b) Asumsi tentang keorganisasian

Asumsi keorganisasian adalah adanya konflik antar anggota organisasi,efisiensi sebagai


kriteria produktivitas, dan adanya Asymmetric Information (AI) antara prinsipal dan agen.

(c) Asumsi tentang informasi.

Asumsi tentang informasi adalah bahwa informasi dipandang sebagai barang komoditi yang
bisa diperjual belikan.

Baik prinsipal maupun agen, keduanya mempunyai bargaining position. Prinsipal sebagai
pemilik modal mempunyai hak akses pada informasi internal perusahaan, sedangkan agen yang
menjalankan operasional perusahaan mempunyai informasi tentang operasi dan kinerja perusahaan
secara riil dan menyeluruh, namun agen tidak mempunyai wewenang mutlak dalam pengambilan
keputusan, apalagi keputusan yang bersifat strategis, jangka panjang dan global. Hal ini disebabkan
untuk keputusan-keputusan tersebut tetap menjadi wewenang dari prinsipal selaku pemilik
perusahaan.

Adanya posisi, fungsi, kepentingan dan latar belakang prinsipal dan agen yang berbeda saling
bertolak belakang namun saling membutuhkan ini, mau tidak mau dalam praktiknya akan
menimbulkan pertentangan dengan saling tarik menarik pengaruh dan kepentingan antara satu
sama lain. Apabila agen (yang berperan sebagai penyedia informasi bagi prinsipal dalam
pengambilan keputusan) melakukan upaya sistematis yang dapat menghambat prisipal dalam
pengambilan keputusan strategis melalui penyediaan informasi yang tidak transparan, sedang di lain
pihak prinsipal selaku pemilik modal bertindak semaunya atau sewenang-wenang karena ia merasa
sebagai pihak yang paling berkuasa dan penentu keputusan dengan wewenang yang tak terbatas,
maka kemudian yang terjadi adalah pertentangan yang semakin tajam yang akan menyebabkan
konflik yang berkepanjangan yang pada akhirnya merugikan semua pihak. Baik prinsipal maupun
agen diasumsikan sebagai orang ekonomik (homo economicsus) yang berperilaku ingin
memaksimalkan kepentingannya masing-masing.

Dalam konsep Agency Theory, manajemen sebagai agen semestinya on behalf the best
interest of the shareholders, akan tetapi tidak tertutup kemungkinan manajemen hanya
mementingkan kepentingannya sendiri untuk memaksimalkan utililitas. Manajemen bisaa
melakukan tindakan-tindakan yang tidak menguntungkan perusahaan secara keseluruhan yang
dalam jangka panjang bisa merugikan kepentingan perusahaan. Bahkan untuk mencapai
kepentingannya sendiri, manajemen bisa bertindak menggunakan akuntansi sebagai alat untuk
melakukan rekayasa. Perbedaan kepentingan antara prinsipal dan agen inilah disebut
dengan Agency Problem yang salah satunya disebabkan oleh adanya Asimmetric Information.

Asimmetric Information (AI), yaitu informasi yang tidak seimbang yang disebabkan karena
adanya distribusi informasi yang tidak sama antara prinsipal dan agen. Dalam hal ini prinsipal
seharusnya memperoleh informasi yang dibutuhkan dalam mengukur tingkat hasil yang diperoleh
dari usaha agen, namun ternyata informasi tentang ukuran keberhasilanyang diperoleh oleh
prinsipal tidak seluruhnya disajikan oleh agen. Akibatnya informasi yang diperoleh prinsipal kurang
lengkap sehingga tetap tidak dapat menjelaskan kinerja agen yang sesungguhnya dalam mengelola
kekayaan prinsipal yang dipercakan kepada agen.

Akibatnya adanya informasi yang tidak seimbang (asimetri) ini, dapat menimbulkan 2 (dua)
permsalahan yang disebabkan adanya kesulitan prisipal untuk memonitor dan melakukan kontrol
terhadap tindakan-tindakan agen. Jensen dan Meckling (1976) menyatakan permasalahan tersebut
adalah :

(a) Moral Hazard

Yaitu permasalahan yang muncul jika agen tidak melaksanakan hal-hal yang telah disepakati
bersama dalam kontrak kerja.

(b) Adverse Selection

Yaitu suatu keadaan dimana prinsipal tidak dapat mengetahui apakah suatu keputusan yang
diambil oleh agen benar-benar didasarkan atas informasi yang telah diperolehnya, atau terjadi
sebagai sebuah kelalaian dalam tugas.

Adanya agency problem di atas, menimbulkan biaya keagenan (agency cost), yang
menurut Jensen dan Meckling (1976) terdiri dari :

(a) The monitoring expenditures by the priciple

Biaya monitoring dikeluarkan oleh prinsipal untuk memonitor prilaku agen, termasuk juga
usaha untuk mengendalikan (control) perilaku agen melalui budget restriction, compensation
policies.

(b) The bonding expeditures by the agent

The bonding cost dikeluarkan oleh agen untuk menjamin bahwa agen tidak akan menggunakan
tindakan tertentu yang akan merugikan prinsipal atau untuk menjamin bahwa prinsipal akan diberi
kompensasi jika ia tidak mengambil banyak tindakan.

(c) The residual loss


Merupakan penurunan tingkat kesjahteraan prinsipal maupun agen setelah adanya agency
relationship.

Dari penambahan diatas, bila dibuatkan ringkasan tentang asumsi dan penerapan agency
theorydalam organisasi akan tampak dalam label 1 dibawah ini :

Tabel 1. Asumsi Dasar dalam Agency Theory

Asumsi Manusia : Homo Economicus, yang memaksimalkan


utilitasnya

Model Perilaku : Self serving behavior

Fakta Penerapannya : Prinsipal dan agen cenderung menerapkan


tujuan secara kaku (rigid)

Akibat yang timbul : Conflict of Interest

Konsekuensi : Timbul agency cost dalam mengawasi kinerja


manager / agen

Pemecahan : Sharing rule antara prinsipal dan agen perlu


dibuat

Reward : Ekstrinsik, yaitu komoditi berwujud dan bisa


dipertukarkan dan memiliki nilai pasar yang bisa
diukur

Asumsi Informasi : Sebagai komoditi yang dapat diperjual belikan

c. Aplikasi Agency Theory pada Pengelolaan Perusahaan.

Konsep pemisahan antara kepemilikan (ownership) para pemegang saham dan


pengelolaan(management) para agen atau manger dalam perusahaan telah menjadi kajian sejak
tahun 1930-an. Manajemen perusahaan publik yang besar biasanya bukan pemilik. Bahkan
sebagaian besar manjemen puncak (top mangement) hanya memiliki saham nominal dalam
peerusahaan yang mereka kelola.

Bila dilihat dari perkembangan teori perusahaan dan hubungannya dengan kebutuhan GCG,
dari perspektif Agency Theory, Tabel 2 berikut ini menunjukan perkembangan akan kebutuhan GCG
pada teori korporasi klaasik.modern,dan post-modern.4[5]
Tabel 2. Perkembangan Teori Korporasi dan Implikasinya Terhadap Good Coorperate Governance

TEORI KORPORASI
TEORI KORPORASI MODERN TEORI KORPORASI POST-MODERN
KLASIK

KARAKTERISTIK : KARAKTERISTIK : KARAKTERISTIK :

1.Perusahaan dengan 1.Perusahaan dengan banyak 1.Perusahaan dengan banyak pemegang


single majority pemegang saham, namun masih saham, dan tidak ada kepemilikan
shreholders. ada kepemilikan mayoritas. mayoritas.

2.Prinsipal merangkap 2.Fungsi Prinsipal dan Agen mulai 2.Sulit untuk mengidentifikasi the true
sebagai agen. terpisah. principal.

3.Keseimbangan 3.Meskipun pemilik mayoritas masih 3.Prinsipal umumnya tidak atau kurang
kepentingan antara memiliki otoritas yang besaar, memahami bisnis.
prinsipal dan agen tidak kepentingan pemegang saham
penting. minoritas sudah diperhatikan.

4.Agen memiliki pengaruh yang besar dalam


menjalankan perusahaan.

5.Terjadi ketidakseimbangan kepentingan


(conflict of interest).

IMPLIKASI: IMPLIKASI : IMPLIKASI :

Aspek Good Corporate Aspek Good Corporate Aspek Good Corporate Governance sangat
Governance tidak Governance mulai diperlukan. diperlukan.
diperlukan.

Dalam uraian diatas tentang Agency Theory diatas disebutkan bahwa adanya perilaku dari
manager/agen untuk bertindak hanya untuk menguntungkan dirinya sendiri dengan mengorbankan
kepentingan pihak lain/pemilik, dapat terjadi karena manjer mempunyai informasi yang lengkap
mengenai perusahaan, sedangkan informasi tersebut tidak dimilki oleh pemilik perusahaan (dalam
hal ini timbulAsymmetric Information atau AI).

Adanya AI dan Self Serving Behavior pada manager/agen, memungkinkan mereka untuk
mengambil keputusaan dan kebijakan yang kurang bermanfaat bagi perusahaan. Adanya kondisi ini
menimbulkan tata kelola perusahaan yang kurang sehat karena tidak adanya keterbukaan dari
manajemen untuk mengungkapkan hasil kinerjanya kepada prinsipal sebagai pemilik
perusahaan. Agency Theory menganalisis dan mencari solusi atas dua permasalahan yang muncul
dalam hubungan antara para prinsipal (pemilik/pemegang saham) dan agen (manajemen).5[6]

BAB III

KESIMPULAN

Definisi stake holders menurut Freeman (1984) merupakan individu atau kelompok yang bisa
mempengaruhi dan dipengaruhi oleh organisasi sebagai dampak dari aktivitas-aktifitasnya. Kesali
dalam Wibisono membagi Stake holders menjadi sebagai berikut:

1. Stake holedrs Internal dan Stakeholders Eksternal


2. Stakeholders primer, sekunder dan marjinal
Shareholder Secara umum berarti pemegang saham dalam sebuah perusahaan, entah yg
minoritas / mayoritas, biasanya berada di luar perusahaan. Pemegang saham adalah seseorang atau
badan hukum yang secara sah memiliki satu atau lebih saham pada perusahaan. Para pemegang
saham adalah pemilik dari perusahaan tersebut. Perusahaan yang terdaftar dalam bursa
efek berusaha untuk meningkatkan harga sahamnya. Konsep pemegang saham adalah sebuah teori
bahwa perusahaan hanya memiliki tanggung jawab kepada para pemegang sahamnya dan
pemiliknya, dan seharusnya bekerja demi keuntungan mereka.

Menurut Anthony dan Govindarajan (2005), teori agensi adalah hubungan atau kontrak
antara principal dan agent. Teori agensi memiliki asumsi bahwa tiap-tiap individu semata-mata
termotivasi oleh kepentingan dirinya sendiri sehingga menimbulkan konflik kepentingan
antara principal dan agent.

Agency Theory menunjukkan bahwa perusahaan dapat dilihat sebagai suatu hubungan
kontrak (loosely defined) antara pemegang sumber daya. Suatu hubungan agency muncul ketika
satu atau lebih individu, yang disebut pelaku (principals), mempekerjakan satu atau lebih individu
lain, yang disebut agen, untuk melakukan layanan tertentu dan kemudian mendelegasikan otoritas
pengambilan keputusan kepada agen. Hubungan utama agency dalam bisnis adalah mereka (antara
pemegang saham dan manajer dan) 1 (2) antara debtholders dan pemegang saham. Hubungan ini
tidak selalu harmonis, memang, teori keagenan berkaitan dengan konflik agency, atau konflik
kepentingan antara agen dan pelaku. Hal ini memiliki implikasi untuk, antara lain, tata kelola
perusahaan dan etika bisnis.

https://ridwan8814.blogspot.co.id/2014/09/teory-stockholder-teory.html