Anda di halaman 1dari 3

Anomaly kenapa bias terjadi data yang melenceng padahal diukur sama, pengamatannya sama.

Gaya kursif untuk menghlangkan remanensi.

Laporan penjabaran dari rumus

Yang harus dianalisis tegangan naik tidak sama dengan tegangan turun.

3000 rpm dijaga konstan.

Karakteristik beban nol Memperlihatkan hubungan antara pembangkitan Ggl tanpa beban (beban nol)
Karakteristik Generator Arus Searah pembangkitan Ggl tanpa beban (beban nol) dalam jangkar (Eo) dan
arus medan (lm) pada kecepatan konstan

Akan tetapai pda kumparan medannya tersebut membutuhkan rheostat yang dipasang seri untuk
memvariasikan besarnya arus medan yang dihasilkan.

Tahanan kritis didefenisikan sebagai batas maksimum tahanan pada kumparan shunt yang dapat
digunakan pada generator tersebut.

rsh <rc jika resistansi lebih dari rc tegangan gagal dibangkitkan.

Pada dasarnya tahanan kritis ( Rc ) merupakan tahanan total maksimum yang dapat dipasang agar suatu
generator arus searah penguatan shunt tidak mengalami kegagalan dalam membangkitkan tegangan.
Oleh karena kumparan medan shunt pada generator ( Rf ) merupakan suatu tahanan yang konstan maka
besarnya tahanan (Rfg) maksimum yang harus dipasang seri pada tahanan medannya adalah : Rfg.max =
Rc − Rf ……………………………………………….. (3.13) Dimana : Rfg max = Tahanan maksimum yang diserikan
dengan kumparan medan generator ( Ohm )
Praktikum kali ini adalah mengetahui karakteristik pemagnetan generator sinkron,
dimana percobaan dilakukan dari arus eksitasi 0 A sampai 0.7 A. Percobaan dilakukan sampai
arus 0.7 A ini merupakan 50% dari arus eksitasi nominalnya (If nominal=1.4 A). Hal ini
bertujuan agar pada kurva hubungan tegangan beban nol dan arus eksitasi dapat diketahui
saturasinya. Batas ukur amperemeter yang dipilih adalah 2.4 A dan batas ukur voltmeter yang
dipilih adalah 450 V. Karena resistansi medan yang besar maka dipilihlah batas ukur voltmeter
450 V. Pada percobaan ini tegangan yang diinduksikan oleh generator sinkron dalam keadaan
tanpa beban. Artinya arus jangkar (Ia) =0 dan juga percobaan ini dilakukan dalam kondisi
putaran yang dijaga konstan (n nominal=3000 rpm). Mula-mula arus eksitasi dinaikan dari 0 A
sampai 0.7 A dan diperolehlah kurva naik pada grafik V terhadap If. Setelah didapat tegangan
pada saat arus eksitasi 0.7 A maka generator didiamkan selama 1 menit. Setelah itu arus eksitasi
diturunkan sampai If = 0 A dan diperolehlah kurva turun pada grafik v terhadap If. Dengan
melakukan percobaan ini maka hubungan arus eksitasi dan tegangan yang diinduksikan
generator dalam keadaan tanpa beban dapat diketahui dan digambarkan seutuhnya pada dalam
grafik V terhadap If.

Pada grafik v terhadap If dapat diamati bahwasannya pada saat awal atau arus eksitasi (If)
= 0 A arus tegangannya adalah nol. Pada kondisi awal, momen dipol tidak beraturan. Kemudian
setelah diberi arus, secara perlahan momen dipol mulai menyearahkan diri sehingga didapat garis
yang cukup linier pada awal kurva tegangan terhadap arus eksitasi. Arus yang diberikan semakin
meningkat sehingga momen dipol menjadi semakin beraturan lagi (kondisi prajenuh) dan suatu
saat dicapai momen dipol yang benar-benar jenuh yang artinya tegangannya tetap tidak berubah
meskipun arus eksitasi terus diperbesar. Momen dipol yang jenuh ditunjukan pada akhir grfik
dimana hubungan tegangan dan arus eksitasinya lurus. Pada saat arus eksitasi 0.7 A tegangan
yang dihasilkan sebesar 405 V, selanjutnya generator didiamkan selama 1 menit tujuannya agar
momen dipol tidak terlalu jenuh dan setelah 1 menit pada arus 0.7 A didapatkan tegannya sebesar
411. Pada selang waktu 1 menit pada arus yang sama yaitu 0.7 ternyata diperoleh nilai tegangan
yang berbeda. Ini karena momen dipol inti sudah mulai tidak berarturan lagi. Kemudia arus
eksitasi terus diturunkan samapai If = 0 A. Pada Kondisi tegangan diturunkan, pada if=0
tegangan didapatkan tegangan sebesar sebesar 27 V. Pada If=0 A, tegangan naik tidak sama
dengan tegangan turun. Ini disebabkan momen dipol tidak sama lagi seperti kondisi awal.
Adanya selisih tegangan naik dan turun ini dikatakan remanensi atau fluksi sisa yang natinya
pada saat generator akan digunakan lagi untuk membangkitkan tegangan awal pada saat
generator ini digunakan lagi.

Selanjutnya, untuk menganalisis Rsh dan R kritis maka tegangan naik dan turun dirata-
ratakan sehingga didapatkan kurva tegangan rata-rata terhadap arus eksitasi seperti pada grafik 2-
1. Dengan menggunakan informasi arus eksitasi nominal di name plate generator maka dapat
diketahui tegangan maksimum yang masih dapat dibangkitkan oleh resistansi shunt (Rsh). If
eksitasi generator sebesar 1.1 A, maka dilihat dari data hasil pengukuran di table 2-1 diperoleh
tegangan sebesar 219 V. jadi dengan membagi tegangan dan arus eksitasi nominalnya didapatkan
Rsh=199.09 ohm. Pada resistansi shunt sebesar 199.09 ohm tegangan maksimum yang masih
bisa dibangkitkan oleh resistansi ini sebesar 219 V.

Sedangkan untuk mengetahui resistansi kritikalnya maka tarik garis dari kurva linier pada
grafik 2-1. Dan didapatkan Rc=1080 ohm. Bila diperhatikan resistansi kritikal ini sangat besar
nilainya, dimana resistansi kritikal ini adalah besarnya resitansi maksimum yang dapat dipasang
agar suatu generator arus searah penguatan shunt tidak mengalami kegagalan dalam membangkitkan
tegangan. Dengan kata lain jika Rsh melewati Rc maka tegangan di generator gagal dibangkitkan.

KESIMPULAN

Dari percobaan diatas dapat ditarik kesimpulan bahwa karakteristik pemagnetan dapat
ditunjukan dari hubungan tegangan yang diinduksikan generator dalam kondisi tanpa beban terhadap
arus eksitasinya. Arus eksitasi yang diberikan akan menyebabkan momen dipol beraturan , lebih
beraturan lagi dan sampai kemudian mencapai titik jenuh. Hal ini dapat dibuktikan dimana pada kondisi
awal, grafik cenderung linier kemudian pra jenuh dan sampai akhirnya jenuh (tegangan tetap 222 V
meskipun terjadi kenaikan arus ekitasi). Selain itu dari grafik hubungan tegangan dan arus eksitasi dapat
diketahui Rsh dan Rc nya, dimana resistansi shunt ini tidak boleh melewati R kritikalnya. Apabila ini
terjadi generator akan mengalami kegagalan dalam membangitkan tegangan.