Anda di halaman 1dari 20

MAKALAH

MOM, SMS BUNDA, ANC KARTINI,


ANC SEHATI

DISUSUN OLEH:

IPIK MEINARSIH (173112540120053)

WILIAN ARTANIA (173112540120079)

TITI RACHMAWATI (173112540120374)

MIMIN RUKMINI (173112540120437)

KELAS G

UNIVERSITAS NASIONAL

FAKULTAS ILMU KESEHATAN

D4 BIDAN PENDIDIK

2018
KATA PENGANTAR

Puji syukur kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa atas segala limpahan Rahmat-Nya
sehingga kami dapat menyelesaikan penyusunan makalah ini dalam bentuk maupun isinya
yang sangat sederhana.
Harapan kami Semoga makalah ini dapat dipergunakan sebagai salah satu acuan,
petunjuk maupun pedoman bagi pembaca untuk mengetahui informasi tentang MOM (Mobile
Obstetrical Monitoring dan SMS Bunda, sehingga kami dapat memperbaiki bentuk maupun
isi makalah ini sehingga kedepannya dapat lebih baik.
Makalah ini kami akui masih banyak kekurangan karena pengalaman yang kami
miliki sangat kurang. Oleh kerena itu, kami harapkan kepada pembaca untuk memberikan
masukan-masukan yang bersifat membangun untuk kesempurnaan makalah ini.

Bekasi, 7 Januari 2018


BAB I

PENDAHULUAN

1.1 LATAR BELAKANG


Kualitas pelayanan saat ini telah diakui sebagai masalah yang diabaikan dalam
agenda kesehatan internasional, khususnya yang berkaitan dengan kepedulian
terhadap asuhan ibu hamil, ibu bersalin dan perawatan bayi. Menurut Tamburlini,
Siupsinskas, Bacci (2011), berdasarkan kesepakatan pada konfrensi tingkat tinggi
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pada tahun 2000 ditetapkan 8 tujuan
pembangunan Millenium pada tahun 2015 ( Millenium Development Goals/ MDGs),
dan diantara 8 tujuan tersebut yaitu mengurangi angka kematian bayi (AKB) dan AKI
yang terdapat pada MDGs 4 dan 5. Angka Kematian Bayi (AKB) di Indonesia masih
tergolong tinggi, jika dibandingkan dengan negara lain di kawasan ASEAN.
Berdasarkan data Human Development Report 2010, AKB di Indonesia mencapai 31
per 1.000 kelahiran.
Tingginya angka kematian bayi menunjukkan masih rendahnya status
kesehatan,rendahnya akses pelayanan kesehatan serta kurang adanya kesadaran
masyarakat yang tinggi dalam menjaga kesehatan pada saat hamil, melahirkan, nifas
dan perawatan bayi (Whitaker, et, al, 2012). Kesadaran masyarakat sangat dibutuhkan
untuk menjaga kesehatan baik pada ibu hamil maupun janinnya, karena masyarakat
khususnya ibu hamil akan terus mencari tahu tentang hal-hal yang berkaitan tentang
kesehatan selama kehamilannya.
Kehamilan merupakan suatu hal yang menantang terutama bagi para ibu yang
hamil pertama kalinya, sering kita ketahui dalam masyarakat banyak ibu hamil
mengandalkan informasiyang turun temurun dari satu generasi ke generasi
selanjutnya, informasi tersebut mungkin tidak akurat karena pengalaman setiap
kehamilan berbeda-beda dan dapat dipengaruhi oleh budaya yang tabu (Maniam, Ken,
Chenapiah, 2013).
Kesadaran akan pentingnya kesehatan pada masa kehamilan di Indonesia saat
ini masih belum optimal karena kurangnya penyuluhan, fasilitas kesehatan, tenaga
medis serta infrastruktur yang kurang memadai dari pemerintah daerah ataupun pusat.
Keadaan seperti ini sangat tidak kita harapkan karena masyarakat kita membutuhkan
pelayanan dan edukasi kesehatan yang akhirnya menjadikan sebuah gaya hidup sehat
dan dapat didukung dengan adanya perkembangan teknologi informasi yang
berkembang saat ini..
Pendekatan dan sentuhan teknologi informasi menjadikan salah satu solusi
alternatif yang dilakukan untuk mengeliminir kesenjangan tersebut diatas, tanpa
mengganggu pola dan gaya hidup dari masyarakat tersebut (Cormick, et, al, 2012).
Era globalisasi dan informasi yang akhir-akhir ini mulai masuk ke Indonesia telah
membuat tuntutan baru di segala sektor dalam negara kita. Tidak terkecuali dalam
sektor pelayanan kesehatan. Era globalisasi dan informasi seakan telah membuat
standar baru yang harus dipenuhi oleh seluruh pemain di sektor ini. Hal tersebut telah
membuat dunia kesehatan di Indonesia menjadi tertantang untuk terus
mengembangkan kualitas pelayanan kesehatan yang berbasis teknologi informasi.
Berdasarkan pola dan gaya hidup masyarakat inilah maka teknologi informasi
yang paling sesuai pada saat ini ada beberapa solusi alternative yang dapat diterapkan
dalam teknologi informasi dibidang kesehatan yaitu dengan cara penggunaan alat
bantu atau aplikasi maupun metode konseling edukasi.Informasi dan edukasi
kesehatan yang diberikan kepada ibu hamil tanpa dibatasi ruang dan waktu dan tanpa
harus bertatap muka langsung dengan tenaga kesehatan.
Beberapa solusi alternative yang dapat diterapkan untuk menigkatkan kualitas
pelayanan antenatal atau pelayanan pada masa kehamilan adalah dengan Sistem
Metode One Way Text Massaging Program (SMS Bunda), Mobile Obstetri
Monitoring (MOM), ANC SEHATI, dan ANC Kartini.

1.2 RUMUSAN MASALAH


Berdasarkan latar belakang yang telah diuraikan diatas maka perumusan
masalah pada makalah ini adalah “bagaimana sistem penunjang dalam kehamilan
yang meliputi Metode One Way Text Massaging Program (SMS Bunda), Mobile
Obstetri Monitoring (MOM), ANC SEHATI, dan ANC Kartini?”

1.3 TUJUAN
1. Mengetahui gambaran Mobile Obstetri Monitoring (MOM)
2. Untuk mengetahui gambaran mengenai Metode One Way Text Massaging
Program (SMS Bunda)
3. Untuk mengetahui gambaran mengenai ANC SEHATI
4. Untuk mengetahui gambaran mengenai ANC Kartini
BAB II
PEMBAHASAN

2.1. MOBILE OBSTETRICAL MONITORING


2.1.1 Definisi

Sampai saat ini, tidak ada definisi standar yang telah ditetapkan.Untuk
keperluan survei, Observatorium Global untuk eHealth (GOE) didefinisikan
sebagai praktek kesehatan medis dan masyarakat yang didukung oleh perangkat
mobile, seperti ponsel, pasien perangkat monitoring, personal digital assistant
(PDA), dan perangkat nirkabel lainnya. MOM melibatkan penggunaan dan
kapitalisasi pada utilitas inti ponsel untuk suara dan pesan singkat layanan
(SMS) serta lebih fungsi kompleks dan aplikasi termasuk general packet radio
layanan (GPRS), ketiga dan generasi keempat telekomunikasi selular (sistem 3G
dan 4G), global yangpositioning system (GPS), dan teknologi Bluetooth (WHO,
2011).
Definisi lain MOM adalah sebuah platform prototupe telehealth yang bisa
diadaptasi sesuai dengan kebutuhan spesifik daerah pedesaan maupun
perkotaan dengan mamanfaatkan aplikasi ponsel. MOM bisa memantau wanita
hamil dengan jarak jauh, untuk mengidentifikasikan bila ditemukan kehamilan
berisiko tinggi.

2.1.2 Tujuan
Tujuan proyek MOM adalah untuk pengumpulan dan pemantauan data
kebidanan secara menyeluruh guna mengidentifikasi sejak dini kehamilan
beresiko tinggi. Sebagai solusi Mobile Obstetrical Monitoring (MOM) untuk
wilayah terpencil , proyek ini menghadirkan layanan kesehatan yang lebih baik
bagi ibu dengan kehamilan resiko tinggi di daerah pedesaan yang tidak memiliki
akses ke dokter ahli kebidanan.
Solusi Mobile Obstetrical Monitoring (MoM) untuk wilayah terpencil ini
memungkinkan para tenaga kesehatan untuk memasukkan data klinis dan rekam
medis pasien. MOM juga memungkinkan penyedia layanan kesehatan untuk
memasukkan data dari hasil diagnosa kebidanan dan alat pemantau lainnya
seperti ultrasound, Doppler, dan fetal monitor.
Di area pedesaan,dengan solusi Mobile Obstetrical Monitoring (MOM)
untuk wilayah terpencil ini para bidan dapat memasukkan data melalui SMS
kepada dokter spesialis yang bisa memberikan saran medis kapan pun dan dari
mana pun juga. Sistem ini akan membantu tenaga kesehatan seperti bidan untuk
membuat keputusan yang tepat dengan stratifikasi resiko berdasarkan panduan
standar klinis yang berlaku. Solusi Mobile Obstetrical Monitoring (MOM)
untuk wilayah terpencil ini diharapkan dapat mengidentifikasi kehamilan
beresiko tinggi sejakdini.

2.1.3 Peserta/ Pengguna


Berbagai inovasi lain telah dilakukan, termasuk pemanfaatan teknologi
informasi dan komunikasi (TIK), dan bahkan teknologi mobile. Teknologi SMS
telah digunakan untuk kegiatan promosi kesehatan ibu dan surveilans ibu
dengan resiko tinggi kehamilan dan persalinan, penghitungan fetal growth
secara online banyak tersedia dan bahkan menyediakan fungsi kalender online
untuk penjadwalan ANC bagi ibu hamil. Tidak dapat dipungkiri bahwa
perkembangan teknologi informasi dan komunikasi saat ini sangat mendukung
untuk dimanfaatkan pada pelayanan kesehatan. Terlebih lagi, penetrasi internet
dan teknologi mobile semakin meningkat. Di Indonesia, pengguna internet
mencapai lebih dari 71 juta penduduk dengan pengguna facebook lebih dari 51
juta orang (2014). Pemasangan boradband (fiber optik) yang mencakup seluruh
wilayah Indonesia ditargetkan selesai pada tahun 2016, akan lebih
meningkatkan pengguna Internet dimasa yang akan datang. Selain itu, lebih dari
80% penduduk Indonesia merupakan pengguna telepon seluler, dimana
penggunaan paket data (mobile internet) telah mencapai lebih dari 70%-nya.
Artinya TIK semakin lama semakin murah dan terjangkau untuk seluruh
masyarakat di Indonesia.
Wanita usia produktif, ibu hamil dan bersalin termasuk diantara
pengguna internet dan mobile phone yang cukup aktif. Dengan melihat peluang
tersebut, inovasi monitoring kesehatan ibu menggunakan pendekatan teknologi
informasi dan komunikasi dapat mendukung pelayanan kesehatan ibu, yang
sekaligus meningkatkan pemberdayaan ibu dalam pemantauan kesehatan
kehamilan dan janinnya secara mandiri. Berbeda dengan pencatatan kesehatan
secaran konvensional (berbasis kertas/buku KIA), TIK dapat sekaligus
memfasilitasi komunikasi dan monitoring faktor resiko secara real time dengan
menghubungkan komunikasi antara pasien dan penyedia pelayanan kesehatan
secara langsung. Sebuah aplikasi berbasis mobile, dapat didesain untuk
melengkapi fungsi buku pedoman KIA yang telah digunakan dalam pencatatan
perkembangan ibu hamil. Melalui app ini, ibu dapat memasukkan data
kehamilannya secara mandiri, membuat jurnal tentang kehamilannya, melihat
grafik pertumbuhan janin, dan tentunya berinteraksi dengan ibu hamil yang lain
dan berkomunikasi dengan dokter dan petugas kesehatan secara real time.
Fungsi reminder kunjungan ulang ANC dan imunisasi serta alert terhadap tanda
bahaya obstetri (tekanan darah tinggi, pertumbuhan janin lebih atau kurang dari
normal) merupakan upaya untuk mengurangi angka kematian ibu. Termasuk
didalamnya fungsi pemetaan fasilitas pelayanan kesehatan ibu yang tersedia di
dekatnya. Jika dilihat dari komunitasnya, aplikasi ini digunakan utamanya
adalah ibu hamil yang angkanya mencapai 80% pengguna teknologi mobile dari
5 juta ibu hamil per tahun di seluruh Indonesia. Dengan menggunakan app ini,
akan lebih meningkatkan akses terhadap penyedia layanan kesehatan yang ada
tanpa dibatasi waktu maupun kondisi geografis.

2.1.4 Prosedur Penggunaan MOM


Melalui MOM, data kehamilan bisa diunggah secara online atau melalui
SMS, yang kemudian dihubungkan ke pusat data utama. Selanjutnya ahli
kandungan memonitor laporan-laporan tersebut. Laporan yang masuk lantas
diidentifikasi untuk diketahui mana yang termasuk kehamilan berisiko tinggi.
Penanganan lanjutan akan diberikan sesuai kebutuhan.
S
k
e
m
a

Sistem Alur Pelayanan MOM

Contoh Tampilan Aplikasi MOM

2.1.4 Petugas Pelayanan MOM

Petugas pelayanan terdiri dari team kolaborasi tenaga kesehatan seperti


bidan, dokter keluarga dan dokter obstetri dan ginekologi sebagai pemberi
layanan kesehatan.
Dengan menggunakan aplikasi ponsel (mobile phone), bidan dapat dengan
mudah mengumpulkan data dari pemeriksaan fisik dan tes di klinik lokal atau
bahkan di rumah ibu hamil tersebut. Dokter kandungan di lokasi berbeda
kemudian bisa menentukan apakah kehamilan bisa berisiko tinggi, kapan pun di
mana pun. Dengan demikian, ibu dengan kehamilan berisiko bisa segera
mendapatkan pertolongan. Bagi kebanyakan ibu hamil yang tinggal di daerah
terpencil, pemeriksaan kandungan umumnya hanya dilakukan oleh bidan.
Masalahnya, bidan tak bisa menolong ibu dengan kehamilan berisiko, sehingga
dibutuhkan bantuan dokter kandungan. Dengan adanya teknologi, pemeriksaan
ke dokter kandungan pun bisa dilakukan hanya dengan menggunakan ponsel.
Program ini menerapkan sebuah solusi telehealth baru untuk memantau
kondisi ibu hamil dari jarak jauh, sehingga dapat mendeteksi dini kehamilan
berisiko tinggi. "Dengan aplikasi ini, seorang bidan bisa membuat profil
kesehatan ibu hamil yang relevan melalui pengumpulan data yang didapat dari
pemeriksaan fisik, serta tes yang dilakukan di Puskesmas setempat atau di
rumah ibu hamil tersebut.
Dengan memadukan panduan lokal angka risiko dalam solusi ini,
spesialis kebidanan atau dokter kandungan bisa menentukan apakah sebuah
kehamilan berisiko tinggi, sehingga bisa segera memberikan pertolongan
memadai. Dengan MOM maka para dokter dan bidan dapat mengidentifikasi
kehamilan berisiko jauh lebih cepat, sehingga dapat memberikan saran terhadap
penanganan yang tepat dan pada waktunya. "Solusi MOM dapat mengatasi
keterbatasan sumber daya manusia dengan memanfaatkan teknologi layanan
kesehatan jarak jauh."
Seorang bidan yang berpartisipasi dalam MOM, kini bisa berinteraksi
dengan lebih banyak pasien. Dia pun mendapatkan supervisi dari ahli
kandungan untuk mengidentifikasi kehamilan berisiko secara cepat, sehingga
dapat membantu para ibu mencapai kehamilan sempurna dan melahirkan secara
normal.
2.1.5 Kelebihan dan Kelemahan
 Kelebihan:
Meningkatkan deteksi dini kehamilan berisiko tinggi sebesar tiga kali
lipat, membantu ibu hamil mendapatkan pengawasan medis dan perawatan
yang dibutuhkan agar dapat melahirkan dengan aman.
 Kekurangan:
Klien repot karena harus mendaftarkan diri atau registrasi pada satu
situs untuk memperoleh layanan kesehatan. untuk mengakses program ini
harus adanya jaringan General Packet Radio Service (GPRS), dan
aplikasi mobile content pada telepon selular, hal ini akan sulit dilaksanakan
pada derah terpencil yang belum masuk jaringan seluler. Sulit mendapatkan
sinyal atau jaringan, sehingga tidak dapat mengakses informasi melalui
web. Oleh karena itu untuk mendukung keberhasilan pelaksanaan
program ini maka mobile phone atau telepon yang sudah dimiliki hampir
semua lapisan masyarakat sudah dilengkapi dengan perangkat mobile
content, sehingga dimanapun dan kapanpun ibu hamil berada dan
membutuhkan informasi kesehatan dapat langsung mengakses melalui
jaringan internet dari mobile health.

2.2 PROGRAM SMS BUNDA


2.2.1 Definisi
Metode penggunaan sms dalam perawatan antenatal yakni dengan
mengirimkan pesan teks dari server kepada ibu hamil yang sudah terdaftar di
pelayanan kesehatan sesuai dengan usia kehamilan ibu. Pesan teks dengan
metode one-way text-messaging program dikirimkan setiap dua kali dalam
satu minggu oleh server, sms yang dikirimkan berupa pesan – pesan terkait
kondisi adaptasi fisiologis dan psikologis dari ibu hamil (Jarreehtum, Titapant,
Tienthai, Viboonchart, Chuenwattana, & Chatchainoppakhun, 2008).
Sistem ini hanya bersifat satu arah, artinya pengguna layanan hanya dapat
menerima informasi yang diberikan namun tidak dapat mengirim sms balasan.
2.2.2 Tujuan
Program ini bertujuan untuk memberikan informasi seputar kehamilan
dan persalinan melalui pesan SMS. SMS Bunda mengajari ibu tentang upaya-
upaya yang harus dilakukan ibu selama masa kehamilan, untuk mengoptimalisasikan
kesehatan mental dan fisik ibu hamil, selama masa pasca melahirkan dan nifas, serta
mengenali tanda-tanda bahaya selama periode hamil dan pasca melahirkan. Tidak
hanya itu, layanan SMS bunda juga mendorong para ibu untuk mencari layanan
kesehatan berbasis fasilitas, yang mumpuni sehingga mampu membantu proses
persalinan dengan baik.

2.2.3 Peserta/ Pengguna


Pengguna SMS Bunda adalah ibu hamil ( individu). Ibu hamil yang
ingin mendaftar hanya dipungut biaya pendaftaran sebesar Rp 200 dan biaya
ini langsung dipotong pulsa pendaftar oleh operator saat pendaftaran. Setelah
mendaftar, peserta tidak akan dibebani dengan pembayaran pulsa, karena
layanan ini hanya one way dari operator dan tidak menyedot pulsa.

2.2.4 Prosedur
1. SME (Short Message Entity), merupakan tempat penyimpanan dan
pengiriman message yang akan dikirimkan ke MS tertentu.
2. SC (Service Centre), bertugas untuk menerima message dari SME dan
melakukan forwarding ke alamat MS yang dituju.
3. SMS-GMSC (Short Message Service – Gateway SMC ), melakukan
penerimaan message dari SC dan memeriksa parameter yang ada. Selain itu
GMSC juga mencari alamat MS yang dituju dengan bantuan HLR, dan
mengirimkannya kembali ke MSC yang dimaksud.
4. SMS – IWMSC (Short Message Service – Interworking MSC), berperan
dalam SMS Message Origiating , yaitu menerima pesan dari MSC
Cara mendaftar layanan sms bunda

2.2.5 Petugas
Dalam pelaksanaan program ini selain petugas kesehatan, fasilitas
kesehatan (BPM, RS, Klinik), perlu melibatkan pihak lintas sektoral juga,
yaitu penyedia jasa layanan SMS (jaringan telepon seluler). Setiap jaringan
telepon seluler memiliki satu atau lebih service senter yang berfungsi untuk
menyimpan dan meneruskan (store and forward fashion) pesan dari pengirim
ke pelanggan tujuan, sebagai Interface antara PLMN (public land mobile
network) GSM dengan berbagai sistem lainnya, seperti : elektronic mall,
faximile, atau suatu content provider. SC tersambung ke PLMN melalui BSC.

2.2.6 Kelebihan dan Kekurangan


 Kelebihan : mudah dan tidak memerlukan banyak biaya, waktu kirim
cepat serta adanya jaminan bahwa pesan akan sampai jika nomor yang
dituju aktif serta cocok dengan gaya hidup masyarakat yang mayoritas
memiliki telepon seluler. Program ini sangat tepat diterapkan pada
rumah sakit pemerintah sehingga memudahkan dalam pemberian
pendidikan kesehatan dan perencanaan perawatan kehamilan dan paska
melahirkan.
 Kekurangan : Sistem ini hanya bersifat satu arah, artinya pengguna
layanan hanya dapat menerima informasi yang diberikan namun tidak
dapat mengirim sms balasan, artinya tidak ada interaksi antara ibu hamil
dengan petugas kesehatan, dan layanan kesehatan/fasilitas kesehatan
(RS, Puskesmas, klinik,BPM,dll).

3.1 ANC SEHATI


3.1.1 Definisi
ANC SEHATI ( Sehat Anak Tercinta dan Ibu ) yaitu merupakan salah satu
program CSR Pertamina yang fokus pada kesehatan ibu yang sedang hamil dan
balita. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari komitmen Pertamina dalam
mengatasi masalah sosial global seperti yang ditargetkan dalam (MDGs).
Pertamina sehati telah menjangkau Ibu dan Anak di seluruh Indonesia, melalui
pelatihan kader, program pengendalian berat badan, pelatihan ibu hamil, serta
pengenalan mengenai asupan makanan sehat dan bernutrisi

3.1.2 Tujuan
 Tujuan Umum
Untuk memberikan kontribusi dalam upaya penurunan angka kematian
ibu melahirkan, bayi dan balita serta untuk meningkatkan kualitas layanan
kesehatan dan mempermudah akses kesehatan ibiu dan anak melalui gerakan
sehat ibu dan anak
 Tujuan Khusus
1. Menidentifikasi peta masalah dan potensi masyarakat lokal
2. Meningkatkan pemahaman dan prilaku hidup sehat melalui penguatan
kapasitas masyarakat
3. Meningkatkan askes layanan kesehatan melalui optimalisasi puskesmas,
bidan desa dan posyandu
4. Meningkatkan kemampuan keluarga dalam mengakses pelayanan
kesehatan

3.1.3 Peserta/ Pengguna


Peserta dalam program ini adalah ibu hamil dan balita.
3.1.4 Prosedur
Program ini dilaksanakan di posyandu yaitu dengan mengenalkan sistem lima
meja. Sistem ini merupakan kegiatan standar operasional prosedur yang harus
dilaksanakan sebuah posyandu. Sistem lima meja bukan berarti posyandu harus
memiliki lima meja untuk pelaksanaannya. Tetapi, kegiatan posyandu harus
mencakup lima pokok kegiatan, yaitu pendaftaran balita atau ibu hamil atau ibu
menyusui, penimbangan balita, pencatatan hasil penimbangan, penyuluhan serta
pelayanan gizi, dan pelayanan kesehatan, KB, imuninasi, serta pojok oralit. Dengan
sistem lima meja, posyandu dapat melakukan pengukuran dan pencatatan berat
badan dengan lebih lengkap, teratur, dan lebih sistematis. Disini mendorong kader-
kader posyandu lebih aktif menjemput ibu dan balita yang jarang ke posyandu.

3.1.5 Petugas
Petugas adalah bidan dan kader posyandu serta berkolaborasi dengan dokter
spesialis kandungan serta lintas sektoral yang terkait.

4.1 ANC KARTINI


4.1.1 Definisi
Merupakan pengaplikasian pemeriksaan ANC yang digunakan untuk
mendeteksi resiko kehamilan. Sebagai panduan dalam ANC ini adalah kartu skor
Poedji Rochyati. Kartu Skor Poedji Rochjati atau yang biasanya disingkat dengan
KSPR biasanya digunakan untuk menentukan tingkat risiko pada ibu hamil. KSPR
dibuat oleh Poedji Rochjati dan pertama kali digunakan pada tahun 1992-1993.
KSPR telah disusun dengan format yang sederhana agar mempermudah kerja
tenaga kesehatan untuk melakukan skrining terhadap ibu hamil dan
mengelompokan ibu kedalam kategori sesuai ketetapan sehingga dapat
menentukan intervensi yang tepat terhadap ibu hamil berdasarkan kartu ini

4.1.2 Tujuan
1. Melakukan pengelompokan sesuai dengan risiko kehamilannya, dan
mempersiapkan tempat persalinan yang aman sesuai dengan kebutuhannya.
2. Melakukan pemberdayaan terhadap ibu hamil, suami, maupun keluarga agar
mempersiapkan mental, biaya untuk rujukan terencana.
4.1.3 Peserta
Peserta dalam ANC Kartini ini adalah semua ibu hamil dan tentunya didukung
peran serta suami dan keluarga.

4.1.4 Prosedur
Sebagai acuan untuk mengenali kemungkinan resiko yang dapat diderita ibu
hamil. Dalam strategi pendekatan risiko, kegiatan skrining merupakan komponen
penting dalam pelayanan kehamilan, yang harus diikuti dengan komunikasi,
Informasi, dan Edukasi (KIE) kepada ibu hamil, suami, dan keluarga, untuk
perencanaan persalinan aman dilakukan persiapan rujukan terencana bila
diperlukan. (Poedji Rochjati, 2003).
Melalui kegiatan ini beberapa factor risiko yang ada pada ibu hamil telah
dapat dilakukan prediksi / perkiraan kemungkinan macam komplikasi yang akan
terjadi. Oleh karena itu kegiatan skrining harus dilakukan berulang kali sehingga
dapat ditemukan secara dini factor risiko yang berkembang pada umur kehamilan
lebih lanjut. (Poedji Rochjati, 2003).
Resiko ini dinilai dari seberapa besar skor yang didapat ibu setelah melakukan
skrining. KSPR telah disusun dengan format yang sederhana agar mempermudah
kerja tenaga kesehatan untuk melakukan skrining terhadap ibu hamil dan
mengelompokan ibu kedalam kategori sesuai ketetapan sehingga dapat
menentukan intervensi yang tepat terhadap ibu hamil berdasarkan kartu ini.
Cara Pemberian SKOR adalah sebagai berikut:
1) Skor 2: Kehamilan Risiko Rendah (KRR)
Untuk umur dan paritas pada semua ibu hamil sebagai skor awal
2) Skor 4: Kehamilan Risiko Tinggi (KRT)
Untuk tiap faktor risiko
3) Skor 8: Kehamilan Risiko Sangat Tinggi (KRST)
Untuk bekas operasi sesar, letak sungsang, letak lintang, perdarahan
antepartum dan pre-eklamsia berat / eklamsia (Poedji Rochjati, 2003).
(Poedji Rochjati, 2003).
Berdasarkan SKOR POEDJI ROCHJATI: Ibu hamil dengan SKOR 6 atau
lebih, dianjurkan bersalin dengan tenaga kesehatan. Bila SKOR 12 atau lebih
dianjurkan bersalin di RS / SpOG (Poedji Rochjati, 2003).

4.1.5 Petugas
Tenaga kesehatan, seperti Bidan dan tentunya berkolaborasi dengan dokter
spesialis kandungan untuk sistem perujukan.
4.1.6 Kelebihan
a. Bisa digunakan sebagai alat komunikasi untuk edukasi kepada ibu hamil,
suami maupun keluarga untuk kebutuhan pertolongan mendadak ataupun
rujukan terencana.
b. Alat peringatan bagi petugas kesehatan. Semakin tinggi skor, maka semakin
intensif pula perawatan dan penanganannya.
BAB III

KESIMPULAN DAN SARAN

3.1 Kesimpulan
Berdasarkan makalah ini, maka kelompok dapat mengambil kesimpulan
bahwa perkembangan tekhnologi dalam sistem penunjang pelayanan antenatal saat ini
sangat berguna untuk menurunkan AKI dan AKB, mempermudah pengguna layanan
(pasien) dan pemberi pelayanan (Bidan dan Dokter), jangkauan pelayanan informasi
menyeluruh bahkan hingga ke daerah terpencil.

3.2 Saran
Penerapan tekhnologi dalam pelayanan masih harus tetap dikembangkan lagi
guna untuk membenahi pelayanan maupun fasilitas yang sudah ada saat ini karena
hingga tahun 2015 target MDG’S untuk indonesia masih belum tercapai.
DAFTAR PUSTAKA

Medtech. Kurangi Kematian Ibu dan Bayi dengan Mobile Obstetric Monitoring (MOM)
Philips[internet], 5 Desember 2016, [dikutip 7 januari 2018]. Tersedia dari:
https://medtech.id/kurangi-kematian-ibu-dan-bayi-dengan-mobile-obstetric-monitoring-
mom-philips/.

Pramudiarja. U., Andalkan Teknologi, Angka Kematian Ibu Ditekan Melalui Aplikasi
Ponsel[internet], 12 Maret 2015, 18:46WIB, [dikutip 7 Januari 2018]. Tersedia dari:
https://health.detik.com/read/2015/03/12/184623/2857354/764/andalkan-teknologi-
angka-kematian-ibu-ditekan-melalui-aplikasi-ponsel.

Tempo. SMS Bunda, Pesan Kesehatan Untuk Ibu Hamil dan Bayi[internet], 10 November
2015, 23: 01, [dikutip 7 Januari 2018]. Tersedia dari:
https://gaya.tempo.co/read/717706/sms-bunda-pesan-kesehatan-untuk-ibu-hamil-
dan-bayi.