Anda di halaman 1dari 16

BAB I

PENDAHULUAN

Proses menua didalam perjalanan hidup manusia merupakan suatu hal yang wajar,
yang akan dialami oleh semua orang yang di karuniai umur panjang. Hanya lambat cepatnya
proses tersebut bergantung pada masing-masing individu yang bersangkutan. Saat ini,
diseluruh dunia jumlah orang tua lanjut usia diperkirakan ada 500 juta dengan usia rata-rata
60 tahun dan diperkirakan pada tahun 2025 akan mencapai 1,2 milyar.(Ananta dan Anwar,
1994). Secara individu, pengaruh poses menua dapat menimbulkan berbagai masalah. Baik
secara fisik, mental, sosial, ekonomi dan psikologis. Dengan semakin lanjut usia seseorang,
mereka akan mengalami kemunduran terutama dibidang kemampuan fisik, yang dapat
mengakibatkan penurunan pada peranan-peranan sosialnya. Hal ini mengakibatkan pula
timbulnya gangguan didalam hal mencukupi kebutuhan hidupnya.
Salah satu kemunduran atau perubahan fisik yang terjadi pada lansia yaitu pada sistem
muskuloskeletalnya dimana terjadi berkurangnya massa otot, kekakuan jaringan penghubung,
dan osteoporosis. Hal ini dapat menyebabkan penurunan kekuatan otot terutama otot
ekstremitas bawah, ketahanan, koordinasi serta terbatasnya range of motion (ROM) (Miller,
2004). Kelemahan otot ekstremitas bawah dapat menyebabkan gangguan keseimbangan
tubuh sehingga mengakibatkan kelembanan bergerak, langkah pendek-pendek, kaki tidak
dapat menapak dengan kuat dan terlambat menganstisipasi bila terpeleset atau tersandung.
Kondisi ini yang akan menimbulkan resiko terjadinya jatuh.
Perubahan yang terjadi pada lansia seperti penurunan penglihatan, pendengaran, dan
musculoskeletal juga dapat mengakibatkan gangguan keseimbangan dan kelemahan otot
ekstremitas bawah yang merupakan salah satu penyebab jatuh pada lansia.
Berdasarkan studi pendahuluan di Panti Sosial Tresna Werdha (PSTW) Budi Mulia 4
Margaguna Jakarta Selatan, Perawat pengelola PSTW Budi Mulia 4 Jakarta mengatakan,
terdapat 3 ruangan atau kamar dari 8 kamar yang menjadi tempat tinggal atau kamar lansia
yang renta yang beresiko jatuh, ini dilihat dari keadaan fisik lansia yang lemah, penurunan
penglihatan, penurunan kekuatan otot dan ADL di bantu. Sedangkan dari 5 ruangan atau
kamar yang lain terdapat 10-20% lansia yang beresiko jatuh.
Menurut Ceranski (2006, dalam Ferendi 2008) salah satu latihan yang
direkomendasikan untuk meningkatkan keseimbangan tubuh lansia adalah dengan latihan
keseimbangan (balance exercise) yaitu aktivitas fisik yang dilakukan untuk meningkatkan
kesetabilan tubuh dengan meningkatkan kekuatan otot ekstremitas bawah. Hal ini sesuai
dengan beberapa hasil studi yang menyatakan bahwa aktivitas fisik atau latihan fisik dapat
meningkatkan keseimbangan tubuh untuk mencegah jatuh pada lansia (Wiramihardja 2005,
Dharmamika, 2005).
Pencegahan jatuh pada lansia dapat dilakukan dengan melakukan latihan
keseimbangan fisik, yang sebelumnya diperiksa fungsi keseimbangan tubuhnya dengan
menggunakan penilaian Skala Berg (Berg Balance Scale). Penilaian ini dilakukan untuk
melihat bagaimana keseimbangan badannya dalam melakukan gerakan antara lain dari posisi
duduk, berpindah tempat, berputar, berdiri di atas satu kaki. Atas dasar pertimbangan inilah
kelompok kami tertarik untuk mengadakan staff Enhancement Program agar lansia yang
beresiko jatuh dapat di minimalisir dengan pengawasan.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

A. Jatuh
1. Definisi jatuh
Menurut Reuben (1996 dalam Darmojo & Martono, 2004) jatuh adalah suatu
kejadian yang dilaporkan penderita atau saksi mata yang melihat kejadian, yang
mengakibatkan seseorang mendadak terbaring/terduduk di lantai atau tempat yang
lebih rendah dengan atau tanpa kehilangan kesadaran atau luka.

2. Faktor resiko jatuh


Menurut Kane (1994 dalam Darmojo & Martono, 2004) faktor resiko jatuh
pada lansia dibagi dalam dua golongan besar, yaitu :
a. Faktor intrisik
 Kondisi fisik dan neuropsikiatrik
 Penurunan visus dan pendengaran
 Perubahan neuromuscular, gaya berjalan, dan reflek postural karena proses
menua
b. Faktor ekstrinsik
 Obat-obatan yang diminum
 Alat-alat bantu berjalan
 Lingkungan yang tidak mendukung (berbahaya)
Selain itu adapun penilaian klinis dan tatalaksana bagi usia lanjut yang beresiko
jatuh menurut Rahayu dan Karjono (2011) yaitu:
Penilaian dan faktor resiko Tatalaksana
Lingkungan saat jatuh sebelumnya Perubahan lingkungan dan aktivitas
untuk mengurangi kemungkinan jatuh
berulang
Konsumsi obat-obatan: Review dan kurangi konsumsi obat-
- Obat-obat berisiko tinggi: obatan
benzodiazepin, neuroleptik,
antidepresi, antikonvulsi, atau
antiaritmia kelas IA.
- Konsumsi 4 macam obat atau lebih.
Penglihatan Penerangan yang tidak menyilaukan,
- Visus <20/60 kacamata multifokal hindari pemakaian saat berjalan, rujuk ke
- Penurunan persepsi kedalaman dokter spesialis mata.
- (depth perception)
- Penurunan sensitivitas terhadap
kontras
- Katarak
Tekanan darah postural (setelah >5 menit Diagnosis dan tatalaksana penyebab
dalam posisi berbaring, segera setelah dasar jika memungkinkan, review dan
berdiri, dan 2 menit setelah berdiri) kurangi obat-obatan, modifikasi dari
tekanan sistolik turun >20 mmHg (atau restriksi garam, hidrasi adekuat, strategi
>20%), dengan atau tanpa gejala, segera kompensasi (elevasi bagian kepala
atau setelah 2 menit berdiri. tempat tidur, bangkit perlahan, atau
latihan dorsofleksi), stoking kompresi,
terapi farmakologis jika strategi di atas
gagal.
Keseimbangan dan gaya berjalan Diagnosis dan tatalaksana penyebab
- Laporan pasien atau observasi adanya dasar jika memungkinkan, kurangi obat-
- ketidakstabilan obatan yang mengganggu keseimbangan,
- Gangguan pada penilaian singkat. intervensi lingkungan, rujuk ke
rehabilitasi medik untuk alat bantu dan
latihan keseimbangan dan gaya berjalan.
Pemeriksaan neurologis Diagnosis dan tatalaksana penyebab
- Gangguan proprioseptif dasar jika memungkinkan, tingkatkan
- Gangguan kognitif input proprioseptif (dengan alat bantu
- Penurunan kekuatan otot. atau alas kaki yang sesuai, berhak rendah
dan bersol tipis), kurangi obat-obatan
yang mengganggu fungsi kognitif,
kewaspadaan pendamping mengenai
adanya defisit kognitif, kurangi faktor
risiko lingkungan, rujuk ke rehabiltasi
medik untuk latihan gaya berjalan,
keseimbangan, dan kekuatan.
Pemeriksaan muskuloskeletal, Diagnosis dan tatalaksana penyebab
pemeriksaan tungkai (sendi dan lingkup dasar jika memungkinkan, rujuk ke
gerak sendi) dan pemeriksaan kaki. rehabilitasi medik untuk latihan kekuatan,
lingkup gerak sendi, gaya bejalan dan
keseimbangan serta untuk alat bantu,
gunakan alas kaki yang sesuai, rujuk ke
podiatris.
Pemeriksaan kardiovaskular Rujuk ke dokter spesialis jantung,
- Sinkop pemijatan sinus karotis (pada kasus
- Aritmia (jika telah diketahui adanya sinkop).
penyakit kardiovaskular, terdapat
EKG yang abnormal, dan sinkop).
Evaluasi terhadap bahaya di rumah Rapikan karpet yang terlipat dan gunakan
setelah dipulangkan dari rumah sakit. lampu malam hari, lantai kamar mandi
yang tidak licin, pegangan tangga, serta
intervensi lain yang diperlukan.

3. Penyebab jatuh pada lansia


Penyebab jatuh pada lansia biasanya merupakan gabungan beberapa faktor
antara lain:
a. Kecelakaan
Kecelakaan merupakan penyebab jatuh yang utama (30-50% kasus jatuh pada
lansia).
 Murni kecelakaan misalnya terpeleset, tersandung
 Gabungan antara lingkungan yang jelek dengan kelainan-kelainan akibat
proses menua misalnya karena mata kurang awas, benda-benda yang ada di
rumah tertabrak, lalu jatuh.
b. Nyeri kepala
c. Hipotensi orthostatic
 Hipovolemia/ curah jantung rendah
 Disfungsi otonom
 Penurunan kembalinya darah vena ke jantung
 Terlalu lama berbaring
 Pengaruh obat-obat hipotensi
 Hipotensi sesudah makan
d. Obat-obatan
Obat-obatan yang dapat menyebabkan jatuh yaitu Diuretik/ antidepresan,
Antidepresan trisiklik, Sedativa, Antipsikotik, Obat-obat hipoglikemik, dan
alkohol
e. Proses penyakit yang spesifik
Penyakit-penyakit yang spesifik seperti aritmia, stenosis aorta, sinkope sinus
carotis, stroke, serangan kejang, parkinson, spondilosis, penyakit cerebellum
f. Idiopatik (tak jelas sebabnya)
g. Sinkope
Kehilangan kesadaran secara tiba-tiba dapat disebabkan oleh penurunan darah ke
otak secara tiba-tiba .
4. Faktor penyebab jatuh pada lansia
a. Faktor-faktor lingkungan yang sering dihubungkan dengan kecelakaan lansia
Faktor-faktor yang sering dihubungkan dengan kecelakaan pada lansia yaitu
(Darmojo & Martono, 2004). :
1) alat-alat atau perlengkapan rumah tangga yang sudah tua, tidak stabil atau
tergeletak di bawah.
2) tempat tidur atau WC yang rendah/ jongkok.
3) tempat berpegangan yang tidak kuat/ tidak mudah dipegang, lantai yang tidak
datar baik ada trapnya atau menurun, karpet yang tidak dilem dengan baik,
keset yang tebal/ menekuk pinggirnya, benda-benda alas lantai yang licin atau
mudah tergeser, lantai yang licin atau basah, penerangan yang tidak baik
(kurang atau menyilaukan), alat bantu jalan yang tidak tepat ukuran, berat,
maupun cara penggunaannya.
b. Faktor situasional yang mempresipitasi jatuh
Faktor situasional yang mungkin mempresitasi jatuh antara lain ( Darmojo &
Martono, 2004):
1) Aktivitas
Sebagian besar jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas biasa seperti
berjalan, naik atau turun tangga, mengganti posisi. Hanya sedikit sekali (5%),
jatuh terjadi pada saat lansia melakukan aktivitas berbahaya seperti mendaki
gunung atau olahraga berat. Jatuh juga sering terjadi pada lansia dengan
banyak kegiatan dan olahraga, mungkin disebabkan oleh kelelahan atau
terpapar bahaya yang lebih banyak. Selain itu jatuh juga dapat terjadi pada
saat lansia berjalan tanpa menggunakan alat bantu berjalan. Jatuh juga sering
terjadi pada lansia yang imobil (jarang bergerak) ketika tiba-tiba dia ingin
pindah tempat atau mengambil sesuatu tanpa pertolongan.
2) Lingkungan
Sekitar 70% jatuh pada lansia terjadi di rumah, 10% terjadi di tangga, dengan
kejadian jatuh saat turun tangga lebih banyak dibanding saat naik tangga
selain itu jatuh terjadi karena tersandung/ menabrak benda perlengkapan
rumah tangga, lantai yang licin, lantai yang tidak rata, dan penerangan ruang
yang kurang serta menyilaukan.
3) Penyakit akut
Eksaserbasi akut dari penyakit kronik yang diderita lansia juga sering
menyebabkan jatuh, misalnya sesak nafas akut pada penderita penyakit paru
obstruksif menahun, nyeri dada tiba-tiba pada penderita penyakit jantung
sistemik.
5. Komplikasi akibat jatuh
Jatuh pada lansia menimbulkan komplikasi-komplikasi seperti di bawah ini : (1)
Rusaknya jaringan lunak yang terasa sangat sakit berupa robek atau tertariknya
jaringan otot, robeknya arteri/vena. (2) Patah tulang. (3) Hematoma. (4) Disabilitas/
kecacatan. (5) Kematian.
6. Pencegahan jatuh
Usaha pencegahan merupakan langkah yang harus dilakukan karena bila
sudah terjadi jatuh pasti akan terjadi komplikasi, meskipun ringan tetap memberatkan.
Ada tiga usaha untuk pencegahan jatuh yaitu (Darmojo & Martono, 2004) :
a. Identifikasi faktor resiko
Pada setiap lansia perlu dilakukan pemeriksaan untuk mencari adanya faktor
intrinsik resiko jatuh, perlu dilakukan assesmen keadaan sensorik, neurologik,
muskuloskeletal dan penyakit sistemik yang sering mendasari/ menyebabkan
jatuh.
Keadaan lingkungan rumah yang berbahaya dan dapat menyebabkan jatuh harus
dihilangkan. Penerangan rumah harus cukup terang tetapi tidak menyilaukan.
Keset kaki sebaiknya tidak tebal/ menekuk pinggirnya. Lantai rumah datar, tidak
licin dan bersih dari benda-benda kecil yang susah dilihat. Peralatan rumah tangga
yang sudah tidak aman (lapuk dan dapat bergeser sendiri) sebaiknya diganti selain
itu peralatan rumah tangga sebaiknya diletakkan sedemikian rupa sehingga tidak
mengganggu jalan/ tempat aktifitas lansia. Kamar mandi dibuat tidak licin dan
sebaiknya diberi pegangan pada dindingnya, pintu yang mudah dibuka. WC
sebaiknya menggunakan kloset duduk dan diberi pegangan di dinding. Serta
memfasilitasi lansia saat buang air besar seperti menyediakan gayung dan
menyediakan air dan pada saat berpergian sebaiknya ditemani.
Obat-obatan yang menyebabkan hipotensi postural, hipoglikemik atau penurunan
kewaspadaan harus diberikan sangat selektif dan dengan penjelasan yang
komprehensif pada lansia dan keluarganya tentang resiko terjadinya jatuh akibat
minum obat tersebut.
Alat bantu berjalan yang dipakai lansia baik berupa tongkat, tripod, kruk atau
walker harus dibuat dari bahan yang kuat tetapi ringan, aman, dan tidak mudah
bergeser serta sesuai dengan ukuran tinggi badan lansia.
b. Penilaian keseimbangan dan gaya berjalan
Setiap lansia harus dievaluasi bagaimana keseimbangan badannya dalam
melakukan gerakan pindah tempat, pindah posisi. Penilaian postural sway sangat
diperlukan untuk mencegah terjadinya jatuh pada lansia. Apabila goyangan badan
pada saat berjalan sangat beresiko jatuh, maka diperlukan bantuan latihan oleh
rehabilitasi medik. Penilaian gaya berjalan juga harus dilakukan dengan cermat,
apakah penderita menapakkan kakinya dengan baik, tidak mudah goyah, apakah
penderita mengangkat kaki dengan benar pada saat berjalan, apakah kekuatan otot
ekstremitas bawah penderita cukup untuk berjalan tanpa bantuan. Kesemuanya itu
harus dikoreksi bila terdapat kelainan/ penurunan.
c. Mengatur/ mengatasi faktor situasional
Faktor situasional yang bersifat serangan akut/ eksaserbasi akut penyakit yang
diderita lansia dapat dicegah dengan pemeriksaan rutin kesehatan lansia secara
periodik. Faktor situasional bahaya lingkungan dapat dicegah dengan
mengusahakan perbaikan lingkungan seperti yang disebutkan diatas. Faktor
situasional berupa aktifitas fisik dapat dibatasi sesuai dengan kondisi kesehatan
lansia. Aktifitas fisik yang dilakukan lansia tidak boleh melampaui batasan yang
diperbolehkan bagi lansia dan harus sesuai dengan hasil pemeriksaan kondisi
fisik. Apabila lansia sehat dan tidak ada batasan aktifitas fisik maka dianjurkan
lansia tidak melakukan aktifitas fisik yang sangat melelahkan atau beresiko tinggi
terjadinya jatuh.

B. Penilaian risiko jatuh


Terdapat berbagai instrumen penilaian mobilitas fungsional terhadap risiko jatuh.
Kriteria gold standard untuk instrumen penilaian mutu risiko selayaknya mengacu pada
terpenuhinya hal-hal berikut ini (Rahayu dan Karjono, 2011):
 Telah divalidasi pada studi prospektif.
 Menggunakan analisis spesifisitas dan sensitifitas.
 Teruji pada lebih dari satu populasi.
 Menunjukkan validitas face yang baik.
 Menunjukkan inter-rater reliability yang baik.
 Kepatuhan yang baik oleh staf.
 Kejelasan dan kemudahan menghitung skor
Sebuah studi melakukan evaluasi sistematik dari 34 penelitian yang telah diterbitkan
yang menguji validitas dan reliabilitas instrumen penilaian risiko jatuh pada usia lanjut di
masyarakat, perawatan rumah, perawatan kronik, dan perawatan akut di rumah sakit.
Terdapat 38 instrumen yang digunakan dan terdapat 6 instrumen dari 4 penelitian yang
memenuhi kriteria tersebutsalah satunya yaitu The Fall-Risk Assessment )Rahayu dan
Karjono, 2011). Berikut ini diperlihatkan instrumen penilaian risiko jatuh bagi usia lanjut
di ruang rawat akut rumah sakit yaitu The Fall Risk Assessment
The Fall-Risk Assessment/ Penilaian Risiko Jatuh Pasien Geriatri
No. Tingkat Resiko Skor Nilai skor
1 Gangguan gaya berjalan (diseret, menghentak, 4
berayun)
2 Pusing/pingsan pada posisi tegak 3
3 Kebingungan setiap saat 3
4 Nokturia/inkontinensia 3
5 Kebingungan intermitten 2
6 Kelemahan umum 2
7 Obat-obat berisiko tinggi (diuretik, narkotik, sedatif, 2
anti psikotik, laksatif, vasodilator, antiaritmia,
antihipertensi, obat hipoglikemik, antidepresan,
neuroleptik, NSAID)
8 Riwayat jatuh dalam waktu 12 bulan sebelemunya 2
9 Osteoporosis 1
10 Gangguan pendengaran atau penglihatan 1
11 Usia 70 tahun ke atas 1
jumlah

Cara melakukan skoring: jumlahkan semua angka di belakang faktor risiko yang ada
pada pasien. Tingkat risiko dan tindakan yang disarankan ditentukan sebagai berikut:
Tingkat risiko rendah: skor 1-3. Nilai kembali risiko jatuh tiap 12 jam. Berikan
edukasi. Tingkat risiko tinggi: >4. Pakaikan gelang risiko jatuh. Komunikasikan risiko
jatuh pada tim interdisiplin, pada pasien dan keluarga. Tempatkan pasien dekat nurse
station. Monitor kebutuhan pasien secara berkala (minimal tiap 2 jam). Pegangan tangan
mudah dijangkau. Gunakan alas kaki yang tidak licin. Gunakan walker untuk bantuan
berjalan. Konsul ke farmasi untuk melihat kemungkinan interaksi obat serta ke
rehabilitasi medik untuk aktivitas harian.
BAB III
METODOLOGI PELAKSANAAN

A. Pengorganisasian
Nama Kegiatan : Staff Inhancement
Pokok Bahasan : Manajemen Resiko Jatuh
Sub Pokok Bahasan : Manajemen Resiko Jatuh Pada Lansia di PSTW
Sasaran :Perwakilan Staf penanggung jawab ruang Merpati, ruang
Kutilang, ruang Cendrawasih, ruang Anggrek, ruang Mawar,
ruang Melati, ruang Kenanga, ruang Cempaka.
Hari, Tanggal : Senin, 11 Februari 2013
Waktu : 09.00 - 11.00 (120 menit)
Tempat : R.Aula Utama Panti Sosial Tresna Wherda (PSTW) Budi
Mulia 4 Margaguna Jakarta Selatan.

B. Tujuan Kegiatan
1. Meningkatkan pengetahuan staff tentang manajemen resiko jatuh
a. Meningkatkan pengetahuan staff tentang pengkajian lansia yang beresiko jatuh
b. Meningkatkan pengetahuan staff tentang manajemen lingkungan yang dapat
menyebabkan resiko jatuh
2. Meningkatkan kemampuan staff tentang cara mencegah resiko jatuh
a. Meningkatkan kemampuan staff tentang cara mencegah resiko jatuh di kamar
tidur lansia
b. Meningkatkan kemampuan staff tentang cara mencegah resiko jatuh di
wilayah PSTW (masjid, teras, taman dan kamar mandi)
C. Klien
1. Karakteristik/ kriteria
a. Klien dapat diajak bekerjasama atau kooperatif
b. Klien yang tidak mengalami gangguan verbal
c. Klien tidak mengalami gangguan fisik, masalah mobilisasi, pendengaran dan
penglihatan
d. Klien yang renta dan tidak renta
2. Proses Seleksi
a. Klien merupakan staf ruangan di panti sosial tresna werda yang memiliki
waktu luang untuk mengikuti staff inhancement
b. Tidak ada pemilihan, staff inhancement diwajibkan, setidaknya 1 staf ruangan
harus datang mewakili ruangan kelolannya.
3. Jumlah Klien
Jumlah Klien dalam staff inhancement ini adalah sejumlah minimal 8 orang
a. 1 orang dari ruang Kutilang
b. 1 orang dari ruang Merpati
c. 1 orang dari ruang Cendrawasih
d. 1 orang dari ruang Anggrek
e. 1 orang dari ruang Melati
f. 1 orang dari ruang Mawar
g. 1 orang dari ruang Cempaka
h. 1 orang dari ruang Kenanga

D. Perencanaan
1. Waktu
a. Hari/ tanggal : Senin, 11 Februari 2013
b. Waktu : Pukul 09.00 – 11.00 WIB (120 menit)
Alokasi waktu : Persiapan dan pengarahan 10 menit
Materi dan demonstrasi 60 menit
Istirahat 10 menit
Re-demonstrasi 30 menit
Penutup 10 menit
c. Tempat : Ruang Aula PSTW Budi Mulia 4
Margaguna

2. Tim Terapis
a. Leader :
Uraian Tugas :
Menyiapkan proposal kegiatan staff inhancement, menyampaikan tujuan, dan
peraturan kegiatan terapi aktifitas kelompok sebelum kegiatan dimulai.
Menjelasakan permainan, mampu memotivasi anggota untuk aktif dalam
kelompok dan memperkenalkan dirinya. Mampu memimpin kegiatan staff
inhancement dengan baik dan tertib serta menetralisir bila ada masalah yang
timbul selama kegiatan.
b. Co Leader :
Uraian Tugas :
Menyampaikan informasi dan fasilitator ke leader tentang aktifitas klien.
Mengingatkan leader jika kegiatan menyimpang.
c. Fasilitator :
Uraian Tugas :
Memfasilitasi peserta yang kurang aktif, berperan sebagai role model bagi
peserta selama kegiatan berlangsung, mempertahankan kehadiran peserta.
Menyediakan fasilitas selama kegiatan berlangsung, membantu leader
memfasilitasi anggota peserta staff inhancement.
d. Observer :
Uraian Tugas :
Mengobservasi jalannya atau proses kegiatan, mencatat perilaku verbal dan
non verbal klien selama kegiatan berlangsung.
3. Metode dan Media
a. Metode yang digunakan antara lain
1) Tanya jawab
2) Ceramah
3) Demonstrasi dan re-demonstrasi
b. Media
1) LCD
2) Laptop
3) Hand-out
4) Instrumen atau format manajemen resiko jatuh
4. Setting Tempat
a. Fase orientasi
Layar
infocus

Leader

Operator

Petugas Petugas Petugas Petugas Petugas


1 2 3 4 5

Fasilitator Fasilitator

Petugas Petugas Petugas Petugas Petugas


10 9 8 7 6

Fasilitator Fasilitator Fasilitator

Observer

b. Fase demonstrasi

Layar
in fo c u s Leader

O p e ra to r

ARENA DEM ONSTRASI

P e tu g a s P e tu g a s P e tu g a s P e tu g a s P e tu g a s
1 2 3 4 5

F a s ilita to r F a s ilita to r

P e tu g a s P e tu g a s P e tu g a s P e tu g a s P e tu g a s
6 7 8 9 10

F a s ilita to r F a s ilita to r F a s ilita to r

O b s e rv e r

c. Fase re-demonstrasi
Layar Observer
infocus

Operator
Leader Fasilitator

ARENA RE-DEMONSTRASI 1

Petugas Petugas
3 10

Petugas
1

Petugas
4 Fasilitator Petugas
9
Petugas
2

Fasilitator Fasilitator

Petugas Petugas
5 8

Petugas Petugas
6 Fasilitator 7

B. Proses Pelaksanaan
No Tahapan dan Kegiatan pengajar Kegiatan mahasiswa
waktu
Kegiatan awal/  Memberi salam.  Menjawab salam.
pembukaan (10  Menjelaskan tujuan  Memperhatikan dan
menit). dan materi yang akan mendengarkan.
diberikan.
 Evaluasi awal  Menjawab
tentang materi
sebelumnya
Kegiatan inti (50  Menjelaskan  Memperhatikan dan
menit). pengertian dan data mendengarkan.
kejadian jatuh di
PSTW  Bertanya dan
 Menanyakan apa ada mendengarkan.
yang kurang/belum  Memperhatikan dan
dipahami mendengarkan
 Demontrasi
pengkajian dan
manajemen resiko
jatuh pada lansia di
PSTW
Istirahat selama 10 menit

Selama 30 menit  Re-demonstrasi  Dipraktekan oleh 2


pengkajian dan staf dan yang lainnya
manajemen resiko memperhatikan
jatuh pada lansia di
PSTW
3. Penutup (10  Merangkum  Mendengarkan.
menit)  Mempersilahkan jika  Memperhatikan dan
ada yang ingin mendengarkan.
bertanya  Menjawab
 Mengucapkan terima
kasih atas perhatian
yang diberikan
mahasiswa.
 Mengucapkan salam  Menjawab salam.
penutup.