Anda di halaman 1dari 6

EVALUASI PENYELENGGARAAN DIKLAT

SUDAHKAH TAAT AZAS ?

Adi Riyanto Suprayitno 1)

Pendahuluan
Manusia sebagai individu merupakan evaluator ulung, karena hampir diseluruh
kegiatan yang dilakukannya, baik secara disengaja maupun tidak, kegiatan evaluasi akan
selalu menyertainya. Dengan demikian, bahwa keputusan-keputusan yang dihasilkan dari
kegiatan yang dilakukan manusia merupakan implikasi dari suatu evaluasi. Sebagai
contoh: ketika melihat sesuatu pameran lukisan atau lainnya, kita melakukan penilaian
atas kualitas lukisan tersebut. Seorang ibu akan menimbang-nimbang (mengevaluasi)
untuk membeli suatu barang yang ditawarkan padanya. Ketika berhias, seorang gadis
melakukan penilaian terhadap dirinya sendiri apakah sudah pantas “make up” yang
digunakannya, dan masih banyak contoh lainnya.
Secara umum, evaluasi merupakan suatu proses merencanakan, memperoleh, dan
menyediakan informasi yang sangat diperlukan untuk mengambil alternatif-alternatif
keputusan (Mehrens & Lehmann, 1978). Berdasarkan pengertian tersebut, setiap kegiatan
evaluasi merupakan suatu proses yang sengaja direncanakan untuk memperoleh
informasi atau data, untuk selanjutnya berdasarkan data tersebut dibuat suatu keputusan.
Dalam konteks organisasi, evaluasi merupakan syarat perlu (necessary condition)
agar kegiatan-kegiatan yang mengarah pada pencapaian tujuan organisasi dapat teramati
dan terukur efektivitasnya, sehingga dapat diambil keputusan yang tepat bagi kelanjutan
kegiatan berikutnya.

Evaluasi bagi Penyelenggaraan Diklat


Salah satu upaya pengembangan SDM dalam rangka meningkatkan kualitas
SDM, seperti: kecakapan, pengetahuan, keahlian dan karakter SDM dilakukan melalui
pendidikan dan pelatihan (diklat). Kegiatan-kegiatan diklat harus diarahkan pada
peningkatan kemampuan teknis, teoritis, konseptual dan moral kerja, dalam rangka
menghasilkan SDM yang berkualitas (Kemampuan Kerja Personal = KKP) sesuai dengan

1
) WI Balai Diklat Kehutanan Makassar
persyaratan atau tuntutan pekerjaan yang menjadi tanggung jawab SDM tersebut
(Kemampuan Kerja Jabatan = KKJ), atau dengan lain kata tidak terdapat gap antara KKP
dengan KKJ.
Evaluasi pada konteks Diklat, perlu dilakukan untuk mengetahui hasil dari
kegiatan penyelenggaraan yang telah dilakukan. Evaluasi menempati posisi yang
essensial dan strategis dalam pengambilan keputusan yang sehat. Beberapa keputusan
akan berpengaruh terhadap kelanjutan jalannya kegiatan diklat, misalnya untuk acuan
perbaikan administrasi layanan yang diberikan, perbaikan cara mengajar widyaiswara,
penyempunaan kurikulum, pemilihan materi dan lain sebagainya.
Sayangnya, tidak bisa ditafikan, walaupun pada kenyataannya evaluasi telah
menjadi bagian dari program penyelenggaraan diklat (termasuk penyelenggaraan diklat
kehutanan sebagaimana tertuang dalam Peraturan Menteri Kehutanan Nomor:
P.20/Menhut/2004 tanggal 15 Desember 2004 tentang Pedoman Penyelenggaraan Diklat
Kehutanan), namun pengimplementasiannya masih belum sepenuhnya taat azas.
Terdapat kecenderungan bahwa evaluasi yang dilakukan masih lebih didasarkan pada
kepentingan-kepentingan rutin “proyek” semata, sehingga obyektivitas dan efektivitas
“yang sesungguhnya” dari penyelenggaraan diklat masih perlu dipertanyakan. Kondisi
seperti ini, menurut Ndraha (1999), disebabkan oleh karena pada umumnya diklat
dijadikan proyek dan dikelola menurut manajemen proyek, bukan manajemen
dikjarlatbang, sehingga tolok ukur keberhasilannyapun proyek; proyek dianggap sukses
jika anggarannya dapat dihabiskan.
Walaupun pada saat ini kegiatan diklat sulit berjalan tanpa proyek, namun dalam
pelaksanaan evaluasi (dengan tidak mengesampingkan kepentingan proyek) seyogyanya
dilaksanakan secara komprehensif dan terintegrasi dengan memperhatikan segi
obyektivitas, agar dapat diperoleh SDM yang berkualitas. Dengan demikian tidak terjadi
kondisi di mana output diklat berada di bawah “break even point” antara investasi yang
dikeluarkan oleh negara (yang notabene merupakan uang rakyat) bagi pengembangan
SDM, dengan kualitas SDM yang dihasilkan.
Kalau boleh berkata jujur, yang terlihat sekarang ini bahwa laporan evaluasi
kegiatan penyelenggaraan diklat cenderung hanya didasarkan pada terpenuhinya
kuantitas peserta dan ketepatan waktu penyelenggaraan diklat, serta layanan penunjang
lainnya, yang notabene merupakan tuntutan proyek. Sedangkan penilaian terhadap proses
pengajaran sebagai kegiatan inti dari sebuah diklat masih kurang mendapat perhatian.
Kalaupun dilakukan, ternyata, masih sering terjadi ketidakobyektifan dalam penilaiannya,
demi kepentingan proyek. Hal ini dapat menyebabkan tidak terjadinya perubahan yang
signifikan terhadap kualitas output dan juga terhadap strategi pengajaran di waktu-waktu
selanjutnya. Kecenderungan ini hampir terjadi di semua tingkat diklat. Dengan kata lain,
diklat belum melakukan evaluasi secara obyektif terhadap kualitas lulusan diklat (output)
yang merupakan target sesungguhnya suatu diklat pengembangan SDM yaitu terciptanya
lulusan diklat yang berkualitas.
Memperbincangkan masalah output suatu diklat tidak akan pernah terlepas dari
memperbincangkan masalah input dan proses dari suatu rangkaian penyelenggaraan
diklat tersebut. Input, proses dan output dengan semua dimensinya merupakan peubah-
peubah penting yang saling bergantung dan terintegrasi. Input yang baik dengan proses
yang baik dan berkualitas akan menghasilkan output yang berkualitas unggul. Hal ini
perlu disadari, diperhatikan dan yang terpenting diimplementasikan secara baik dan benar
oleh penyelenggara diklat.. Untuk itu, evaluasi perlu dilakukan pada ketiga peubah
tersebut.

EVALUASI DIKLAT

PROSES
- Pengajar
INPUT - Materi OUTPUT KUALITAS
- Peserta - Metode dan Media - Peserta UNGGUL ?
- Instrumental Pengajaran
- dll
Komponen Input
Komponen input terdiri dari raw input dan instrumental input. Yang dimaksud
dengan raw input adalah peserta pelatihan. Saat ini, sering kali, terjadi gap antara existing
condition dengan ideal condition dari peserta pelatihan, maksudnya lebih sering pegawai
yang menjadi peserta pelatihan adalah para pegawai yang “sebenarnya” tidak butuh akan
pelatihan yang diadakan atau bukan merupakan bidang tugas mereka, namun hanya
karena memenuhi perintah kantor atau sekedar mengisi kursi agar jumlah peserta
pelatihan sesuai dengan target yang direncanakan, mereka dikirim untuk mengikuti
pelatihan. Sehingga kadangkala, para peserta tersebut tidak antusias dalam mengikuti
pelatihan. Ideal condition yang diharapkan adalah bahwa peserta pelatihan merupakan
pegawai-pegawai yang benar-benar membutuhkan pelatihan dikarenakan kemampuan
kerja personal (KKP) yang dimilikinya lebih rendah dibandingkan dengan tuntutan
kemampuan kerja jabatan (KKJ) yang diembannya. Evaluasi terhadap komponen raw
input ini memang agak kompleks karena menuntut adanya sinergi positip antara lembaga
diklat dengan lembaga pengirim peserta (stakeholder), namun hal ini seyogyanya perlu
dilakukan agar tercapai efisiensi dan efektivitas penyelengaraan diklat yang nantinya
diharapkan dapat menghasilkan output yang berkualitas.
Instrumental input adalah unsur manusia dan non manusia yang mempengaruhi
terjadinya proses pengajaran, meliputi: sumber dan sarana belajar, kurikulum yang up to
date, serta kemampuan pengajar (widyaiswara). Sumber terdiri dari unsur manusia dan
non manusia yang dapat memberikan kemudahan belajar, sedangkan sarana adalah
fasilitas dan perlengkapan yang diperlukan dalam kegiatan pembelajaran. Kurikulum
adalah bentuk sebuah program kegiatan pelatihan (kegiatan belajar mengajar) yang
disusun secara sistematis yang berisi arah perubahan perilaku peserta (tujuan) dan
berbagai kemungkinan upaya pembelajaran (baik isi/materi pembelajaran maupun
kegiatan belajar mengajar/pelatihan (metode dan pendekatan). Instrumental input yang
tidak kalah penting adalah kemampuan (competency) pengajar meliputi persiapan, sikap
mengajar, pemilihan metode dan media pengajaran, serta penguasaan bahan.
Komponen Proses
Kegiatan belajar mengajar merupakan proses penting atau kegiatan inti dari suatu
diklat, karena keberhasilan mencetak peserta diklat yang berkualitas bergantung pada
seberapa baik proses ini berlangsung. Proses belajar mengajar terjadi manakala ada
interaksi antara pengajar dan peserta diklat. Transfer pengetahuan akan efektif apabila
interaksi yang terjadi bersifat efisien dan efektif.
Penilaian terhadap jalannya proses pembelajaran berguna untuk melihat segi
interaksi atau keterlibatan komponen-komponen pembelajaran sehingga merupakan
sistem yang integral, meliputi: metode pembelajaran yang digunakan, bahan ajar yang
bersifat progress, sistem penilaian dan sebagainya. Paling tidak terdapat tiga pertanyaan
yang harus dijawab dalam rangka menjamin terselenggaranya interaksi atau proses
belajar mengajar yang berkualitas: (1) Ke mana proses belajar mengajar akan dibawa?,
(2) Apa yang menjadi isi proses belajar mengajar?, (3) Bagaimana cara melaksanakan
proses tersebut?
Pertanyaan pertama berkenaan dengan tujuan proses belajar mengajar;
pertanyaan kedua mengenai isi atau bahan ajar; pertanyaan ketiga menyangkut cara,
metode dan media pengajaran. Interaksi pengajar dan peserta diklat dibangun atas dasar
ketiga unsur tersebut. Semua pertanyaan tersebut, pada dasarnya, bermuara pada kualitas
atau kompetensi widyaiswara dalam menciptakan lingkungan belajar yang kondusif. Oleh
karena itu, pertanyaan-pertanyaan tersebut harus dijawab, khususnya oleh para pengajar
(widyaiswara) secara jujur, yang seharusnya “disupervisi” oleh penanggung jawab
penyelenggara diklat dengan mengedepankan prinsip-prinsip obyektivitas dan kejujuran.
Komponen Output
Kualitas lulusan diklat merupakan tujuan dari pembelajaran suatu diklat. Hal ini
seyogyanya perlu menjadi perhatian penyelenggara diklat. Kredibilitas institusi
penyelenggara diklat dimata para stakeholder, pada dasarnya, ditentukan oleh seberapa
berkualitasnya lulusan yang akan dihasilkan yang nantinya berguna bagi stakeholder
tersebut. Siagian (1997) menyatakan bahwa pelaksanaan suatu program diklat dapat
dikatakan berhasil apabila dalam diri para peserta diklat terjadi suatu proses transformasi
atau perubahan, baik perubahan kemampuan maupun tingkah laku. Dengan demikian
untuk mengetahui terjadi tidaknya transformasi tersebut maka sangat perlu dilakukan
penilaian atau evaluasi hasil pembelajaran, karena hanya dengan evaluasilah kita dapat
mengukur sejauh mana keberhasilan peserta diklat menyerap pengetahuan dan
keterampilan yang diajarkan. Yang menjadi pertanyaan sekarang adalah: Sejauh mana
proses belajar dan mengajar yang dilaksanakan berhasil?. Jawaban tersebut harus dijawab
dengan jujur, berkenaan dengan: sudah tepatkah sistem dan prosedur penilaian yang
digunakan?, yang kemudian dapat dijabarkan dengan pertanyaan lanjutan, yaitu: apakah
penilaian yang dilakukan terhadap para peserta diklat, selama ini, sudah benar-benar taat
asas? bagaimanakah validitas dan reliabilitas alat penilaian yang digunakan? benarkah
nilai hasil pembelajaran para peserta diklat merupakan nilai yang obyektif, nilai yang
mencerminkan sejatinya kemampuan para peserta diklat ataukah sekedar nilai rekayasa
demi memenuhi tuntutan proyek semata?.
Untuk menjawab semua pertanyaan dari komponen-komponen di atas dan
menterjemahkannya secara bertanggung jawab kedalam aktivitas tugas, tidaklah mudah.
Diperlukan kemauan, kemampuan dan integritas dari semua pihak yang terkait dalam
penyelenggaan diklat. Mau dan mampukah kita menjawabnya ???

Kesimpulan
Evaluasi Diklat meliputi usaha menilai efisiensi dan efektivitas dari layanan yang
diberikan oleh Diklat demi peningkatan mutu layanan. Pelaksanaan evaluasi ini menuntut
diadakannya penelaahan dan pengkajian, dengan mengumpulkan data secara sistematis,
obyektif, valid, reliable, dan up to date, menarik kesimpulan atas dasar data yang
diperoleh, mengadakan penafsiran dan merencanakan langkah-langkah perbaikan.
Evaluasi tersebut dimaksudkan sebagai upaya tindakan atau proses untuk menentukan
derajat kualitas kemajuan kegiatan yang berkaitan dengan penyelenggaraan diklat.

DAFTAR PUSTAKA

Mehrens WA, Lehmann IJ. 1978. Measurement and Evaluation in Education and
Psychology. Ed ke-2. New York: Holt, Rinehart & Wilson.
Ndraha T. 1999. Pengantar Teori Pengembangan Sumber Daya Manusia. Jakarta: Rineka
Cipta.
Siagian SP. 1997. Manajemen Sumber Daya Manusia. Jakarta: Bina Aksara.

Anda mungkin juga menyukai