Anda di halaman 1dari 3

Pada saat bereaksi dengan selulosa molekul air yang menyelimuti ion alkali akan mendesak rantai-

rantai molekul selulosa yang berdekatan ke arah lateral dan menyebabkan terjadinya
penggembungan. Berdasarkan hipotesa ini maka ion alkali dengan kemampuan hidrasi lebih tinggi
tentu akan menghasilkan penggembungan lebih besar.

Kurva linier pada Gambar 41 menegaskan hubungan antara penggembungan dan tingkat hidrasi ion
alkali, yang diperoleh dengan menghubungkan persen penggembungan dengan log jumlah molekui
air yang berikatan koordinasi dengan kation alkali pada konsentrasi kritis, sehingga penggembungan
juga dapat dikatakan sebagai fungsi logaritma dari tingkat hidrasi kation alkali.

Teori lain yang juga menarik menggunakan peristiwa pelarutan sebagai pendekatan dan memandang
merserisasi sebagai suatu peristiwa perubahan kimia-fisika serat kapas akibat reaksi dwikutub antara
selulosa dan natrium hidroksida. Penggembungan sangat ditentukan oleh kemampuan senyawa
yang digunakan (misalnya soda kostik) untuk memutus ikatan hidrogen antar rantai molekul dan
mengadakan ikatan hidrogen dengan gugus hidroksil yang terbebaskan. Pada perendaman dalam air
molekul-molekul air berdifusi masuk mula-mula ke bagian amorf serat dan membentuk ikatan
hidrogen dengan gugus hidroksil selulosa. Keberadaan molekul air pada bagian amorf menyebabkan
rantai molekul serat bervibrasi dengan amplitudo yang lebih besar, sehingga sejumlah ikatan
hidrogen dan ikatan-ikatan lemah lainnya antar rantai-rantai molekul air memasuki bagian tersebut
serta membentuk ikatan hidrogen dengan gugus-gugus hidroksil yang terbebaskan. Vibrasi rantai
molekul serat terus berlangsung dan merambat ke bagian lainnya hingga menyebabkan lebih banyak
lagi gugus hidroksil yang terbebaskan dan berikatan dengan molekul air. Sebagai akibatnya masing-
masing rantai molekul tersebut menjadi lebih bebas bergerak relatif terhadap lainnya dan terjadilah
penggembungan.

Pengerjaan dengan soda kostik menimbulkan efek yang lebih nyata. Kemampuan ion hidroksil
natrium hidroksida untuk mengadakan ikatan hidrogen dengan gugus hidroksil selulosa jauh lebih
besar daripada yang dimiliki molekul air. Hidrasi ion tersebut oleh molekul air dalam larutan
menghasilkan senyawa kompleks ion hidroksil-air (hydroxylion-water complex) dan memperbesar
keelektronegatifan atom oksigennya. Akibatnya kemampuannya untuk menyerang atom hidrogen
pada gugus hidroksil selulosa juga meningkat. Hal ini berarti semakin banyak ikatan hidrogen yang
terputus dan dengan demikian penggembungan yang terjadi pun menjadi lebih besar bila
dibandingkan dengan yang terjadi pada perendaman dalam air.

1.8.5 Modifikasi Struktur Selulosa

Berkat afinitasnya yang tinggi alkali tidak hanya mampu berpenetrasi ke dalam bagian amorf tapi
juga ke bagian kristalin selulosa. Selama berlangsungnya proses tersebut gaya-gaya ikatan antar
molekul melemah dan kekuatan bahan pun berkurang. Kekuatan serat akan pulih kembali pada
tahap penstabilan dan pengeringan dimana serat mengalami kontraksi dari penggembungannya.
Proses merserisasi merupakan proses tak-dapat-balik (irreversible), dimana perubahan-perubahan
sifat yang terjadi bersifat tetap, sebagai akibat distorsi tata jaring polimer dan perubahan struktur
kristalin selulosa. Pengukuran terhadap panjang serat kapas yang direndam dalam larutan soda
kostik dari konsentrasi rendah hingga konsentrasi tinggi dan sebaliknya memberikan petunjuk tidak
langsung atas hal ini (lihat Gambar 42). Nampak bahwa pengenceran (ditunjukkan oleh kurva dengan
arah anak panah ke kiri) tidak dapat mengembalikan serat ke panjangnya semula.

Pengamatan dengan sinar-X terhadap serat kapas yang tidadk dimerser dan yang dimerser
memperlihatkan adanya perubahan struktur kristal dari Selulosa I menjadi Selulosa II selama proses
merserisasi. Tingkat perubahan tersebut sangat ditentukan oleh konsentrasi soda kostik dan
pemberian tegangan. Gambar 43 memperlihatkan hubungan antara tingkat perubahan struktur
kristal selulosa dari Selulosa I menjadi Selulosa II dan konsentrasi soda kostik berdasarkan penelitian
yang dilakukan pada linter kapas.

Tahap perubahan struktur kristal tersebut bila dicermati ternyata menampakkan kesesuaian dengan
tahap penggembungan (lihat kembali halaman 37). Nampak jelas bahwa saat permulaan terjadinya
perubahan struktur kristal bersamaan waktunya dengan dimulainya penggembungan, yaitu pada
konsentrasi sekitar 6-7%, dan perubahan berhenti pada saat penggembungan mencapai maksimum
pada konsentrasi 15-16%. Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa perubahan struktur kristal
selulosa ditentukan oleh tingkat penggembungan serat.

Perubahan total dari Selulosa I menjadi Selulosa II hanya dimungkinkan bila merserisasi dilakukan
tanpa regangan. Pada proses dengan tegangan akan didapati campuran Selulosa I dan II dengan
komposisi tertentu menurut besarnya tegangan yang diberikan.

Perubahan lain yang terjadi sebagai akibat penggembungan adalah berkurangnya derajat
kristalinitas serat kapas dari sekitar 70% menjadi 50% pada merserisasi tanpa tegangan. Pemberian
tegangan akan menaikkan kristaliinitas sedikit lebih tinggi daripada yang dikerjakan tanpa tegangan,
tapi tetap masih di bawah kapas non-merser.

Derajat orientasi serat dilaporkan mengalami peningkatan sesuai dengan persen penarikan yang
diberikan. Peningkatan bahkan juga dapat diamati pada proses tanpa tegangan (Gambar 44). Pada
gambar yang sama dapat diamati pula adanya suatu hubungan linier antara persen penarikan dan
kekuatan serat yang dinyatakan sebagai panjang saat putus (breaking length), dimana kekuatan tarik
semua jenis serat kapas yang diuji mengalami kenaikan sesuai dengan besarnya persen penarikan
yang diberikan.
Dari kedua gambar di atas dapat ditarik suatu kesimpulan bahwa kenaikan kekuatan tarik serat
kapas pada merserisasi antara lain disebabkan oleh peningkatan derajat orientasinya.