Anda di halaman 1dari 25

BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar Belakang
Citra tubuh (body image) merupakan persepsi dinamis dari tubuh seseorang yang dibentuk
secara emosional dan bisa berubah seiring perubahan suasana hati,pengalaman, maupun
lingkungan ( Croll, 2005). Berkembangnya industrialisasi dan budaya konsumerisme di negara-
negara barat yang dengan cepat tersebar ke berbagai penjuru dunia, membentuk citra tubuh dan
standar tubuh ideal yang baru bagi kaum wanita (Featherstone, 1982). Faktor-faktor sosial,
ekonomi, ekologi, dan budaya memang sangat berpengaruh terhadap konsep tubuh ideal yang
dianut oleh masyarakat (Bakhshi, 2008). Bahkan menurut Davis, dkk (1992), buku pelajaran
anak mulai menyampaikan pesan tentang ukuran tubuh. Didalam buku, gambar anak perempuan
semakin langsing setiap dekadenya sejak tahun 1900, sedangkan gambar anak laki-laki tidak
berubah secara signifikan.
Anak-anak dan remaja saat ini tumbuh dan berkembang di dunia yang penuh dengan media
massa (televisi, film, video, billboards, majalah, musik, koran, fashiondesigner, dan internet).
Angka statistik yang mengejutkan mengungkapkan bahwa, rata-rata, anak atau remaja
menghabiskan waktu sebanyak 5 jam per hari untuk menonton televisi dan menghabiskan rata-
rata 6 sampai 7 jam melihat berbagai macam media lainnya yang dikombinasi (Brown, 2002),
(Canadian Pediatric Society,1999) dalam (Morris & Katzman 2003). Sarubin (1999) dalam
(Browne et al. 1992) menyatakan bahwa Amerika menghabiskan 33 miliar dolar pada produk
dan program penurunan berat badan setiap tahunnya.
Tiggermann et al (2000) dalam (Morris & Katzman 2003) mempelajari tentang perhatian
tubuh pada remaja putri (usia 16 tahun) dan berusaha untuk memahami motivasi apa yang
mendasari keinginan mereka untuk menjadi kurus dan ditemukan bahwa faktor yang
memberikan tekanan kuat untuk menjadi kurus adalah media.
Menurut penelitian yang dilakukan oleh Paxton (1996) dalam (Gerner & Wilson 2005)
menunjukkan bahwa pertemanan dan lingkungan teman sebaya membentuk kebudayaan yang
menekankan bahwa menjadi kurus itu penting melalui teman untuk melakukan diet, tekanan dan
pengaruh dari teman sebaya untuk berdiet dan menjadi kurus, dan ejekan dari teman sebaya
tentang berat badan dan bentuk tubuh.
Ketidakpuasan terhadap tubuh, berkaitan dengan pentingnya berat badan bagi perempuan
yang kemudian akan menuntun mereka pada keadaan depresi (Rozin dan Fallon, 1998) dalam
(Britam et al. 1990).
Menurut, Eating Disorder Quick Poll Reports (University of Michigan), hanya 33%
remaja putri merasa berat badan mereka sudah pas dengan tubuh mereka, sementara 58% ingin
menurunkan berat badan, dan hanya 9% yang ingin menaikkan berat badan. The American
Association of University Women (1992), menyatakan bahwa untuk perempuan, bagaimana
mereka terlihat atau penampilan adalah indikator yang paling penting dari dirinya, sedangkan
menurut laki-laki, indikator yang penting itu dilihat dari kemampuan diri dari pada penampilan.
Selanjutnya, menurut French et al. (1995) dalam (Gerner & Wilson 2005) penerimaan diri bagi
remaja putri yang berdiet oleh teman sebayanya menarik perhatian yang besar dibandingkan
dengan remaja putri yang tidak berdiet.
Penelitian tentang citra tubuh (body image) telah dilakukan oleh orang berkulit putih,
penelitian ini mengindikasikan bahwa remaja Afrika-Amerika, khususnya perempuannya,
cenderung memiliki tubuh yang lebih sehat daripada remaja berkulit putih. Namun, di antara
remaja perempuan Afrika-Amerika, karena bentuk dan ukuran tubuh mereka jauh dari bentuk
dan ukuran ideal, ketidakpuasan terhadap tubuh pun meningkat (Siegel et al., 1999).
Dalam studi skala besar, dilaporkan bahwa sekitar 30% dari anak laki-laki dan lebih dari
50% dari perempuan menggunakan metode pengendalian berat badan yang tidak sehat seperti
muntah, obat pencahar, pil diet, merokok, dan diuretik dalam upaya untuk menurunkan berat
badan (Emmons,),(Neumark- Sztainer et al., 1999). Sementara itu, menurut penelitian yang
dilakukan oleh Kurnianingsih (2009) tentang perilaku diet penurunan berat badan pada remaja
putri di 4 SMA terpilih di Depok menyatakan bahwa sebanyak 37,4% responden berdiet untuk
menurunkan berat badan.
Citra tubuh yang buruk sering menyebabkan remaja berdiet, yang bisa menyebabkan
penurunan berat badan yang tidak sehat, makan tidak teratur, dan akhirnya mengalami gangguan
makan. Godaan yang terkait dengan berat badan
dan bentuk tubuh dapat dinilai sebagai kontribusi terhadap eating disorders (Taylor et al. 1998).
Pada usia 15 tahun, lebih dari 50% jumlah remaja perempuan di enam belas negara
melakukan diet atau berpikir mereka harus melakukan hal tersebut (Vereecken dan Maes dalam
Papilia, 2008). Penelitian menunjukkan biasanya orang akan beralih kepada fad diets karena
mereka tidak senang dengan bentuk tubuh mereka dan lebih suka mengandalkan perubahan yang
cepat dari pada pengaturan makan dan berolahraga. Penelitian juga membuktikan bahwa pada
waktu tertentu, satu dari tiga wanita melakukan diet (Barrett, 1999).
B. Tujuan Penelitian
Tujuan Umum :
Untuk mengetahui faktor-faktor apa saja yang mempengaruhi remaja putri dalam perilaku
fad diets di SMA Negeri 3 Padang
Tujuan Khusus:
1. Untuk mengetahui hubungan antara depresi dalam perilaku fad diets pada remaja putri di
SMA Negeri 3 Padang
2. Untuk mengetahui hubungan antara paparan media cetak dan elektronik dalam perilaku fad
diets pada remaja putri di SMA Negeri 3 Padang
3. Untuk mengetahui hubungan antara pengaruh teman dalam perilaku faddiets pada remaja
putri di SMA Negeri 3 Padang
4. Untuk mendapatkan gambaran asupan makan pada remaja putri yangmelakukan fad diets di
SMA Negeri 3 Padang
C. Manfaat Penelitian
1. Bagi Peneliti: Sebagai media pembelajaran serta sarana pengembangan wawasan dan
pengalaman dalam melakukan penelitian ilmiah. Peneliti juga mendapatkan gambaran
mengenai seberapa erat hubungan antara depresi, paparan media, dan pengaruh teman
sebaya dengan perilaku fad diet dikalangan para remaja putri.
2. Bagi Instalasi Terkait Gizi: Sebagai bahan masukan dan gambaran permasalahan yang
ada di kalangan remaja putri, sehingga diharapkan adanya terobosan baru dan upaya agar
para remaja putri lebih waspada terhadap kesehatan tidak hanya penampilan.
3. Bagi masyarakat : sebagai informasi kepada masyarakat khusunya para remaja putri dan
orang tuanya. Sehingga mereka akan lebih mengerti dan bisa menambah ilmu
pengetahuan.
D. Keaslian Penelitian
Penelitian yang berhubungan dengan Fad diets pada remaja putri antara lain:
1. Andrea Pedtke (2001), yang berjudul prevalensi fad diets di sebuah kampus. Pada
penelitian ini, 336 mahasiswa mengisi 24 pertanyaan survey. Dari 289 subyek diketahui
76 (26%) laki-laki dan 213 (74%) perempuan. Dari hasil itu, 13% (n=10) laki-laki pernah
melakukan fad diets dan 40% (n=83) perempuan telah melakukan fad diets.
2. La Lisa Chapelle Berry (1999), yang berjudul media dan pengaruh teman pada fad diets
yang dilakukan oleh remaja putri, ditemukan bahwa ada hubungan yang signifikan antara
jumlah majalah yang dibaca dan dilakukannya fad diets. Koefisien korelasi diantara dua
variabel tersebut adalah r = 0,725. Ditemukan tidak ada hubungan yang signifikan antara
lamanya menonton televisi dengan dilakukannya fad diets. Koefisien korelasi diantara
dua variabel tersebut adalah r = 0,294 dan nilai p = 0,077. Ditemukan ada hubungan
yang signifikan antara lamanya waktu yang digunakan untuk mengobrol dengan teman
wanita dan dilakukannya faddiets. Koefisien korelasi diantara dua variabel ini adalah r =
0,440 dan nilai p= 0,006.
3. Yulianti Kurnianingsih (2009), yang berjudul Hubungan Faktor Individu dan
Lingkungan Terhadap Diet Penurunan Berat Badan Pada Remaja Putri di 4 SMA
Terpilih di Depok Tahun 2009. Metode penelitian yang digunakan adalah kuantitatif
dengan alat ukur kuisioner dan menggunakan desain crosssectional. Dari 235 sampel
yang diteliti, sebanyak 37, 4% responden berdiet untuk menurunkan berat badan.
Walaupun ada persamaan pada metode yang digunakan yaitu crosssectional dan
variabelnya, tapi penelitian ini mempunyai perbedaan. Beda penelitian ini dengan
penelitian sebelumnya adalah tentang lokasi penelitian yang digunakan, karakteristik
subyek penelitian, budaya yang ada, dan kondisi geografis lokasi penelitian.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Konsep Dasar Citra Tubuh

2.1.1 Pengertian Citra Tubuh


Citra tubuh (Body image) didefinisikan dan dihubungkan dalam dua cara. Definisi citra
tubuh secara psikologis yaitu gambaran psikis terhadap keadaan fisik seseorang, yang
menyangkut tingkah laku dan persepsi terhadap penampilan fisiknya, kondisi kesehatan,
kemampuan, serta seksualitas. Citra tubuh adalah persepsi seseorang terhadap tubuhnya dan
interaksinya dengan orang lain, serta memiliki rasa kepemilikan dan batasan-batasan tubuhnya,
sebuah citra yang yang terbangun secara psikologis dan melalui sistem neurologis otak, melalui
propiosepsi, penglihatan, dan sistem vestibular. Citra tubuh juga dapat diasumsikan sebagai
proses maupun hasil, dan citra tubuh seseorang mempengaruhi fungsi fisik dan psikologisnya
(Larsen & Lubkin, 2009). Grogan (1999) dalam Faircloth (2003), mengemukakan definisi citra
tubuh sebagai persepsi seseorang, pikiran, dan perasaan terhadap tubuhnya. Citra tubuh
seseorang juga dapat mempengaruhi kemampuannya dalam berhubungan dengan orang lain dan
akan berpengaruh pula terhadap bagaimana orang lain berespon terhadapnya.
Menurut Honigman dan Castle (2007), citra tubuh adalah gambaran mental seseorang
terhadap bentuk dan ukuran tubuhnya, bagaimana seseorang mempersepsi dan memberikan
penilaian atas apa yang dipikirkan dan rasakan terhadap ukuran dan bentuk tubuhnya, dan atas
penilaian orang lain terhadap dirinya. Citra tubuh adalah gagasan kompleks dan meliputi
kesadaran, emosi, dan tindakan seseorang yang berkenaan dengan tubuhnya (Cash & Pruzinsky,
1990). Menurut Fallon (1990) dalam Kim & Lennon (2007), Citra tubuh adalah gambaran
mental yang dimiliki pada tubuhnya sendiri. Citra tubuh tidak hanya tentang bagaimana
seseorang menilai dirinya, namun juga mengenai bagaimana perasaan mereka terhadap persepsi
tersebut (Kim & Lennon, 2007). Citra tubuh merupakan suatu pencitraan dari tubuh seseorang
yang dilihat melalui pikiran yang membebaskan seseorang untuk mengetahui emosi, sensasi,
kebutuhan tubuh, dan selera, serta untuk berkompromi dengan lingkungan fisik. Citra tubuh juga
digambarkan sebagai sebuah area psikologis dimana tubuh, pikiran, dan kebudayaan bergabung
menjadi satu. Area ini mencakup pemikiran-pemikiran, perasan, persepsi, tingkah laku, nilai-
nilai, dan anggapan seseorang mengenai tubuhnya (Hutchinson, 1994 dalam Juntunen &
Atkinson, 2002).
Menurut Davidson & McCabe (2005) istilah citra tubuh didefinisikan sebagai persepsi
dan sikap seseorang terhadap tubuhnya sendiri. Hal yang serupa dikemukakan oleh Schilder
yang mendefinisikan citra tubuh sebagai gambaran tentang tubuh individu yang terbentuk dalam
pikirannya, atau gambaran tubuh individu menurut dirinya sendiri (Frith & Glesson, 2006). Rudd
dan Lennon (2001) mengemukakan bahwa citra tubuh adalah gambaran mental yang dimiliki
individu tentang tubuhnya meliputi dua komponen, yaitu komponen perseptual (ukuran, bentuk,
berat, karakteristik, gerakan, dan performa tubuh) dan komponen sikap (apa yang kita rasakan
tentang tubuh kita dan bagaimana perasaan ini mengarahkan pada tingkah laku).

2.1.2 Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan Citra Tubuh


Menurut Close dan Giles (2008), citra tubuh pada remaja mulai terbentuk seiring dengan
pertumbuhan fisik dan kematangan mentalnya. Cara pandang remaja terhadap tubuhnya sendiri
dipengaruhi antara lain pertumbuhan fisiknya yang masih tengah berubah dan berkembang,
tayangan dan tampilan media massa yang menampilkan bentuk tubuh model yang ideal, juga
kecenderungan untuk membandingkan bentuk tubuhnya dengan bentuk tubuh orang lain
seusianya. Hal ini menyebabkan terjadinya fenomena hypercare, yaitu suatu gejala upaya
perawatan dan penyempurnaan daya kerja serta penampilan tubuh secara berlebihan, lewat
bantuan kemajuan teknologi kosmetik dan medis (Kasiyan, 2008).

Dalam perkembangannya, terdapat faktor-faktor yang mempengaruhi perkembangan citra tubuh,


antara lain:
a. Jenis Kelamin
Chase (2001) menyatakan bahwa jenis kelamin adalah faktor paling penting dalam
perkembangan citra tubuh seseorang. Dacey & Kenny (2001) mengemukakan bahwa jenis
kelamin mempengaruhi citra tubuh. Beberapa penelitian yang sudah pernah dilakukan
menyatakan bahwa wanita lebih negatif memandang citra tubuh daripada pria (Cash & Brown,
1989; Davison & McCabe, 2005; Demarest & Allen, 2000; Furnham & Greaves,1994;
Janelli,1993; Rozin & Fallon, 1988 dalam Hubley & Quinlan, 2005). Thompson dalam Sucita
(2008) yang mengungkapkan bahwa semua perempuan memperhatikan berat badannya dan takut
mengalami kelebihan berat badan. Wanita ingin memiliki tubuh kurus menyerupai ideal yang
digunakan untuk menarik perhatian pasangannya dan memiliki kecenderungan untuk
menurunkan berat badan disebabkan oleh media massa yang mempromosikan penurunan berat
badan (Andersen & Didomenico, 1992).
b. Usia
Pada usia remaja, citra tubuh menjadi aspek yang penting untuk diperhatikan. Hal ini
berdampak pada usaha berlebihan untuk mengontrol berat badan. Umumnya hal ini terjadi pada
remaja putri daripada remaja putra. Remaja putri mengalami kenaikan berat badan yang normal
pada masa pubertas dan menjadi tidak bahagia tentang penampilan dan citra tubuh negatif ini
dapat menyebabkan gangguan perilaku makan. Ketidakpuasan remaja putri pada tubuhnya
meningkat pada awal hingga pertengahan usia remaja (Papalia & Olds, 2003). Ketakutan untuk
menjadi gemuk sangat umum terjadi pada remaja putri sehingga hal ini disebut sebagai
ketidakpuasan normatif bagi kelompok usia dan gender ini (Gibney, Margetts, Kearney, & Arab,
2004).
c. Media Massa
Media massa berperan di masyarakat (Cash & Pruzinsky, 2002). Majalah wanita terutama
majalah fashion, film dan televisi (termasuk tayangan khusus anak-anak) menyajikan gambar
model-model yang kurus sebagai figur yang ideal sehingga menyebabkan banyak wanita merasa
tidak puas dengan dirinya. Media massa mempengaruhi citra tubuh manusia melalui tiga proses,
yaitu persepsi, kognitif dan tingkah laku yang dikaitkan dengan pembandingan sosial dimana
wanita cenderung membandingkan diri dengan model-model kurus yang dikategorikan menarik.
Akibat pembandingan sosial ini, terjadi distorsi persepsi pada wanita dimana mereka merasa
tubuh mereka gemuk padahal sebenarnya mereka tidak gemuk. Pada kognitif mereka telah
tergambar bagaimana wanita yang dianggap menarik sehingga menjadikannya landasan untuk
melakukan evaluasi diri terhadap penampilan. Dari segi tingkah laku dimana wanita ingin
memiliki tubuh yang kurus seperti para model di media, mereka rela melakukan diet atau cara
lain yang dapat mengurangi berat tubuh.
d. Keluarga
Menurut teori pembelajaran sosial, orang tua merupakan model yang penting dalam proses
sosialisasi sehingga mempengaruhi citra tubuh anak-anaknya melalui umpan balik, dan instruksi
(Cash & Pruzinsky, 2002).
e. Hubungan Interpersonal
Seseorang cenderung membandingkan dirinya dengan orang lain dan umpan balik yang
diterima mempengaruhi konsep diri termasuk bagaimana perasaannya terhadap penampilan fisik.
Hal inilah yang sering membuat seseorang cemas terhadap penampilan dan gugup ketika orang
lain melakukan evaluasi terhadap dirinya. Rosen menyatakan bahwa umpan balik terhadap
penampilan dan kompetisi teman sebaya dan keluarga dalam hubungan interpersonal
mempengaruhi bagaimana pandangan dan perasaan seseorang terhadap tubuhnya (Cash &
Pruzinsky, 2002). Budaya kesan pertama di masyarakat menunjukkan bahwa lingkungan sering
kali menilai seseorang berdasarkan kriteria luar, seperti tampilan fisik, karena tampilan fisik
yang baik sering diasosiasikan dengan status yang lebih tinggi, kesempatan yang lebih luas untuk
dapat menarik pasangan, dan kualitas positif lainnya (Melliana, 2006).

2.1.3 Pengukuran Citra Tubuh


Terdapat beberapa jenis pengukuran citra tubuh, antara lain The Body Image States Scale
(BISS), The Body-Image Ideals Questionnaire (BIQ), The Situational Inventory of Body-Image
Dysphoria (SIBID), The Body Image Disturbance Questionnaire (BIDQ), The Body Image
Quality of Life Inventory (BIQLI), The Appearance Schemas Inventory-Revised (ASI-R), The
Body Image Coping Strategies Inventory (BICSI), The Multidimensional Body-Self Relations
Questionnaire-Appearance Scale (MBSRQ-AS), dan The Body Exposure during Sexual Activities
Questionnaire (BESAQ) (Cash & Pruzinsky, 2002). Pengukuran mengenai citra tubuh pada
umumnya menggunakan Multidimensional Body Self Relation Questionnaire-Appearance Scales
(MBSRQ-AS) yang dikemukakan oleh Cash dalam Seawell dan Danorf-Burg (2005). Alat ukur
ini umum diguakan karena dianggap lebih mudah dimengerti dan lebih mudah digunakan pada
kelompok berisiko maupun remaja pada umumnya. Citra tubuh dalam MBSRQ-AS dibagi
menjadi lima dimensi, yaitu:
a. Appearance Evaluation (Evaluasi Penampilan)
Dimensi yang diukur berhubungan dengan evaluasi penampilan dan keseluruhan tubuh,
apakah menarik atau tidak menarik serta memuaskan atau tidak memuaskan.
b. Appearance Orientation (Orientasi Penampilan)
Dimensi yang diukur adalah tingkat perhatian individu terhadap penampilan dirinya dan
usaha yang dilakukan untuk memperbaiki dan meningkatkan penampilan dirinya
c. Body Area Satisfaction (Kepuasan Terhadap Bagian Tubuh)
Mengukur tingkat kepuasan terhadap bagian tubuh secara spesifik seperti wajah, rambut,
tubuh bagian bawah (pantat, pinggul, kaki), tubuh bagian tengah (pinggang, perut), tubuh bagian
atas (dada, bahu, lengan), dan penampilan secara keseluruhan.
d. Overweight Preoccupation (Kecemasan Menjadi Gemuk)
Mengukur kecemasan terhadap kegemukan, kewaspadaan individu terhadap berat badan,
kecenderungan melakukan diet untuk menurunkan berat badan dan membatasi pola makan.
e. Self-Classified Weight (Pengkategorian Ukuran Tubuh)
Mengukur bagaimana individu mempersepsikan dan menilai berat badannya, dari sangat
kurus sampai sangat gemuk.
Chairiah (2012) dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Gambaran Body Image dan Pola
Makan Remaja Putri” memodifikasi kuesioner ini untuk dapat digunakan di Indonesia.
Kuesioner ini terdiri dari sebelas pertanyaan berbentuk skala likert.

2.2 Konsep Dasar Perilaku Makan pada Remaja Putri

2.2.1 Definisi Perilaku Makan


Definisi perilaku makan adalah tanggapan atau reaksi individu yang terwujud di gerakan
atau aktivitas dalam kehidupan sehari-hari yang ditunjukkan individu untuk bertahan hidup
dimana aktivitas tersebut untuk menyediakan kebutuhan nutrisi terutama untuk energi dam
pertumbuhan yang dipengaruhi oleh adat, sikap, emosi, nilai, etika, kekuasaan, persuasi, dan
genetika (Ie, 2013). Tan dalam Fradjia (2008) menyebutkan bahwa perilaku makan adalah suatu
istilah untuk menggambarkan perilaku yang berhubungan dengan tata karma makan, frekuensi
makan, pola makan, kesukaan makan, dan pemilihan makanan. Perilaku makan pada remaja
dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain:
a. Faktor Biologis
Model biologis dari perilaku makan berfokus pada pusat regulasi nafsu makan di hipotalamus
yang mengontrol mekanisme neurokimiawi untuk makan dan perasaan kenyang. Penurunan
kadar dopamine yang menyebabkan terjadinya perubahan dalam perilaku makan seseorang
diduga sebagai suatu cara untuk mengkompesasi penurunan aktivasi area penghargaan yang di
rangsang oleh dopamin (Wang, et al, 2001 dalam Stuart & Laraia, 2005). Leptin, sebuah protein
yang meningkatkan asupan makanan, dan gliserin, juga mempengaruhi perilaku makan
seseorang (Jimerson, D, 2002; Tanaka et al., 2002 dalam Stuart & Laraia, 2005).
b. Faktor Psikologis
Perpisahan dini, konflik individu, perasaan ketidakbergunaan, ketidakberdayaan, kesulitan
menginterpretasikan perasaan dan bertoleransi terhadap fase emosional dan ketakutan terhadap
kedewasaan dapat mempengaruhi peilaku makan pada remaja. (Greeno, Wing, dan Shiffman,
2000; Stein dan Core, 2003 dalam Stuart & Laraia, 2005)
c. Faktor Lingkungan
Berbagai faktor lingkungan dapat mempengaruhi perilaku makan seseorang. Keluarga
dengan penyalahgunaan obat, bunuh diri, pembolosan, dan masalah emosional lainnya, dapat
mempengaruhi perilaku makan anggota keluarga tersebut. Orang tua yang menunjukkan
penolakan tehadap orang-orang dengan kelebihan berat badan dapat mempengaruhi perilaku
makan anak-anaknya (Brink, Ferguson, & Sharma, 1999, dalam Stuart & Laraia, 2005). Orang
tua yang terus-menerus menghindari makanan apabila mengalami stress dan menunjukkan
perilaku makan buruk, serta tidak mengajarkan anak-anak tentang nilai yang pantas mengenai
makanan, juga dapat berpengaruh dalam perilaku makannya sehari-hari. Intervensi keperawatan
yang dapat dilakukan termasuk mengedukasi orang tua dari anak-anak tentang perilaku makan
yang sehat (White, 2000 dalam Stuart & Laraia, 2005).
d. Faktor Sosiokultural
Pengaruh teman sebaya cukup besar di kalangan remaja. Menurut Newman dan Shichor
dalam Hurlock (1994), remaja lebih banyak berada di luar rumah bersama dengan teman
sebayanya sebagai kelompok sehingga berpengaruh besar pada sikap,minat,penampilan dan
perilakunya termasuk perilaku makan remaja.

2.2.2 Gangguan Perilaku Makan


Gangguan perilaku makan adalah suatu permasalahan yang serius, kadang sulit untuk
disembuhkan dengan terapi, disertai banyak komplikasi medis dan angka mortalitas yang tinggi
sejalan dengan tingkat komorbiditas psikiatri yang tinggi pula (Striegel-Moore, Wonderlich,
Walsh, & Mitchell, 2011). Gangguan perilaku makan diartikan suatu sindrom psikiatrik yang
ditandai oleh pola makan yang menyimpang terkait dengan karakteristik psikologik yang
berhubungan dengan makan, bentuk tubuh, dan berat badan (Lisal, 2008). Thompson dalam
Sucita (2008) yang mengungkapkan bahwa semua perempuan memperhatikan berat badannya
dan takut mengalami kelebihan berat badan sehingga cenderung untuk mengalami gangguan
dalam perilaku makan. Remaja putri merupakan kelompok masyarakat yang paling berisiko, dan
diestimasikan hingga 70% remaja putri terkena permasalahan ini (Gibney, Margetts, Kearney, &
Arab, 2004).

2.2.3 Klasifikasi Gangguan Perilaku Makan


Klasifikasi dari gangguan perilaku makan sebagai suatu gangguan mental dimulai dengan
anorexia nervosa pada sekitar tahun 1970, diikuti dengan bulimia nervosa pada sekitar tahun
1980, dan klasifikasi untuk gangguan perilaku makan yang berbeda dari dua klasifikasi tersebut
(Levin & Becker, 2010). Berdasarkan panduan diagnostik dan statistik untuk gangguan mental
edisi keempat (DSM-IV), gangguan perilaku makan dibagi menjadi tiga yaitu AN,BN,dan
EDNOS (Lemberg,1991)
a. Anorexia Nervosa (AN)
Anorexia Nervosa adalah sebuah gangguan perilaku makan yang ditandai dengan adanya
penurunan berat badan, jauh dari rentang normal, yang dilakukan dengan sengaja (Lemberg,
1991). Menurut diagnosis DSM-IV, AN didefinisikan sebagai ketakutan yang berlebihan
terhadap pertambahan berat badan, meskipun telah mengalami kekurangan berat badan. Terdapat
gangguan dengan cara seseorang memandang tubuhnya dan terdapat suatu penolakan untuk
mempertahankan bentuk tubuh diatas berat badan normal minimal. Pada wanita, siklus
menstruasi dapat terhambat sekurangnya tiga siklus berturut-turut. Terdapat dua jenis AN, tipe
restricting type dan tipe binge/purging type (American Psychiatric Association, 2000 dalam
Stuart & Laraia, 2005). AN jenis restricting-type anorexia terlihat individu menurunkan berat
badan dengan melakukan diet tanpa disertai perilaku makan berlebihan atau memuntahkan
kembali makanannya. Sedangkan pada tipe binge-eating/purging, individu tersebut makan secara
berlebihan kemudian memuntahkannya kembali secara sengaja (APA, 2005).
Sebagian besar individu dengan AN melihat diri mereka sebagai orang dengan kelebihan
berat badan, walaupun sebenarnya mereka menderita kelaparan atau malnutrisi. Seseorang
dengan AN akan sentiasa mengukur berat badannya berulang kali, menjaga porsi makanan
dengan berhati-hati, dan makan dengan jumlah yang sangat kecil (Wonderlich, et al, 2005).
Kebanyakan pasien dengan AN juga akan memiliki masalah psikiatri dan berbagai penyakit
fisik, termasuk depresi, ansietas, penyalahgunaan zat, komplikasi kardiovaskular dan neurologis,
dan perkembangan fisik yang terhambat (Becker, et al, 2002). Gejala lain yang mungkin terlihat
antara lain penipisan tulang (osteopenia atau osteoporosis), rambut dan kuku yang rapuh, kulit
yang kering dan kekuningan, pertumbuhan rambut halus pada tubuh (misalnya, lanugo), anemia
ringan, kelemahan dan kehilangan otot, konstipasi berat, tekanan darah rendah, penurunan suhu
tubuh, dan kelemahan (Wonderlich, 2005).
Pada anak-anak yang prapubertas, pubertasnya lambat dan perkembangan dan pertumbuhan
fisiknya terhambat (Chavez & Insel, 2007). Gejala metabolik lainnya, seperti lelah dan
intoleransi terhadap kedinginan juga disebabkan oleh gangguan aksis hipotalamus-pituitari-
gonad (Kiyohara, et al, 1987). Pengurangan densitas tulang diobservasi pada pasien dengan AN
meningkatkan risiko untuk mengalami fraktur dan berkaitan dengan defisiensi berbagai nutrisi,
penurunan steroid gonad dan peningkatan kortisol (Karlsson, et al, 2000).
b. Bulimia Nervosa (BN)
Menurut diagnosa DSM-IV, bulimia nervosa adalah episode berulang dari BED dengan
kurangnya control terhadap perilaku makan dan perhatian berlebihan terhadap bentuk tubuh dan
berat badan. Seseorang yang dikatakan mengalamibulimia nervosa juga memuntahkan kembali
makanannya secara regular, menggunakan obat-obatan pencahar tanpa indikasi, berpuasa,
maupun melakukan olahraga secara berlebihan (American Psychiatric Association, 2000 dalam
Stuart & Laraia, 2005). DSM-IV membagi BN kepada dua bentuk yaitu purging dan nonpurging.
Pada tipe purging, individu tersebut memuntahkan kembali makanan secara sengaja atau
menyalahgunakan obat pencahar, diuretik atau enema. Pada tipe nonpurging, individu tersebut
menggunakan cara lain selain cara yang digunakan pada tipe purging, seperti berpuasa secara
berlebihan.
Tidak seperti AN, penderita BN masih dapat memiliki berat badan yang normal sesuai
dengan umur mereka. Akan tetapi, seperti AN, mereka juga mempunyai ketakutan akan
pertambahan berat badan, dan menjalani tindakan ekstrim untuk mengurangi berat badan, serta
merasa sangat tidak puas atas ukuran dan bentuk tubuh (APA, 2005).
Mirip dengan AN, orang yang menderita BN juga mempunyai penyakit psikologis seperti
depresi, ansietas, maupun permasalahan penyalahgunaan zat. Akibat fisik dari BN antara lain,
ketidakseimbangan elektrolit, masalah gastrointestinal, dan masalah yang berkaitan dengan
rongga mulut dan gigi (APA, 2005).
Eating Disorder Not Otherwise Specified (EDNOS)
1) Binge Eating Disorder (BED)
Individu yang mengalami BED mengonsumsi kalori dalam jumlah yang besar namun tidak
memiliki keinginan untuk mencegah kenaikan berat badan. Penyakit ini memiliki prevalensi rata-
rata 2-4% dari populasi yang ada. Terdapat sekitar 19%-40% dari penderita obesitas yang
mencari terapi untuk mengontrol berat badan memiliki riwayat BED. Hal ini menunjukkan
bahwa mengkaji tentang gangguan perilaku makan seharusnya menjadi bagian yang penting
pada program manajemen berat badan (Grilo, 1998 dalam Stuart & Laraia, 2005). Obesitas
semasa kecil dan orang tua yang mengalami obesitas merupakan faktor risiko spesifik untuk
terjadinya BED (Abraham & Stafford, 2007).
Binge Eating Disorder digolongkan pada orang dengan episode binge-eating yang
rekuren sewaktu seseorang merasakan hilangnya penguasaan terhadap perilaku makannya. Tidak
seperti BN, episode binge-eating ini tidak diikuti dengan proses pengontrolan, olahraga yang
berlebihan, atau puasa. Mereka juga merasa bersalah, malu, maupun distress dengan binge-
eating yang dapat menyebabkan terjadinya lebih banyak episode binge-eating. Mereka juga
sering mempunyai penyakit psikologis termasuk ansietas, depresi, dan kekacauan kepribadian
(APA, 2005).
2) Night Eating Syndrome (NES)
Sindrom makan di malam hari adalah gangguan makan berat yang sedang dipertimbangkan
untuk dimasukkan ke dalam DSM-IV-TR sebagai gangguan perilaku makan yang terpisah.
Individu yang memiliki sindrom makan di malam hari memiliki gejala anoreksia di pagi hari dan
mengalami kesulitan dalam mempertahankan tidur serta mengalami depresi sebagian besar di
malam hari. Individu biasanya akan terbangun dua kali setiap malam dan hal ini berkaitan
dengan pengonsumsian makanan. Prevalensi dari sindrom ini diperkirakan 1,5% pada populasi
umum, 8,3% pada populasi obesitas, dan 27% diantara populasi obesitas berat yang mencari
penanganan bedah (Strunkard & Allison, 2003 dalam Stuart & Laraia, 2005).

2.2.4 Pengukuran Perilaku Makan


Mengukur perilaku makan seeorang dapat dilakukan dengan berbagai cara, antara lain
dengan Eating Disorder Inventory 3 (EDI-3), Eating Disorders Quality of Life Scale (EDQLS),
Quality of Life Enjoyment and Satisfaction Quetionnaire (Q-LES-Q), serta State Trait Anxiety
Inventory (STAI) (Maine, McGilley, & Bunnel, 2010). Identifikasi kecenderungan terjadinya
gangguan perilaku makan pada umumnya menggunakan instrumen Eating Attitudes Test (EAT-
26). EAT-26 tidak digunakan untuk mendiagnosis gangguan makan, namun untuk
mengidentifikasi individu-individu yang memiliki kecenderungan gangguan dalam berperilaku
makan dan membutuhkan penanganan lebih lanjut (Anderson, 2004). Menurut Garner et al.
(1998) dalam Anderson (2004), EAT-26 telah digunakan sebagai alat skrining untuk menilai
risiko gangguan perilaku makan di sekolah, kampus, hingga sampel berisiko seperti atlet dan
sebagainya. Kuesioner EAT-26 disusun oleh Garner & Garfinkel (1982) dan terdiri atas 26
pertanyaan yang mencakup tiga aspek, yaitu :
a. Dieting (Perilaku Diet)
Komponen ini terdiri dari aspek menghindari makanan berlemak dan keinginan kuat untuk
memiliki tubuh kurus
b. Bulimia and Food Preoccupation (Bulimia dan Makna Makanan)
Komponen ini terdiri dari aspek pemikiran dan pemaknaan terhadap makanan.
c. Oral Control (Kontrol Oral)
Komponen ini terdiri dari aspek control diri dalam perilaku makan serta aspek tekananan
yang diterima oleh orang lain atas kelebihan berat badan.
Devi (2010) dalam penelitian yang berjudul “Hubungan Sikap terhadap Thin Ideal dan
Kecenderungan Gangguan Makan pada Mahasiswi”, memodifikasi kuesioner ini untuk
penggunaan di Indonesia. Kuesioner ini terdiri dari 16 pertanyaan berbentuk skala likert.
2.3 Remaja
Remaja (adolescent) merupakan individu yang berkembang dari masa kanak-kanak
menuju kedewasaan (Neufeldt & Guralnik, 1996 dalam Valentini & Nisfiannoor, 2006). Masa
remaja adalah masa perkembangan transisi antara masa anak dan dewasa yang mencakup
perubahan biologis, kognitif dan sosial. Menurut WHO (1974), disebutkan bahwa remaja adalah
individu yang berkembang dari saat pertama kali ia menunjukkan tanda-tanda seksual
sekundernya sampai saat mencapai kematangan seksual, individu yang mengalami
perkembangan psikologis dan pola identifikasi dari kanak-kanak menuju dewasa, dan individu
yang mengalami peralihan dari ketergantungan sosial ekonomi menjadi suatu kemandirian.
Menurut Turner & Helms (1995), masa remaja (adolescence) berasal dari bahasa latin
adolescere yang berarti berkembang menuju kedewasaan. Masa remaja berarti tahap kehidupan
yang berlangsung antara masa kanak-kanak (childhood) dan masa dewasa (adulthood) (Valentini
& Nisfiannoor, 2006). Menurut Konopka (1973) dalam Gunarsa & Gunarsa (2008), masa remaja
merupakan fase yang paling penting dalam pembentukan nilai. Rentang usia individu yang
tergolong remaja berbeda-beda. Dalam mayoritas budaya, remaja dimulai pada sekitar umur 10-
13 tahun dan berakhir sekitar usia 18-22 tahun (Santrock, 2003). Menurut Soetjiningsih (2004),
masa remaja dimulai antara usia 11 atau 12 tahun sampai dengan 20 tahun, yaitu menjelang masa
dewasa muda.
Salah satu dimensi dari perkembangan psikologis remaja adalah citra tubuh. Remaja
menunjukkan perhatian yang lebih besar dan kurang puas terhadap gambaran tubuh yang mereka
miliki (Santrock, 1996). Menurut Harrison (1997), tahap perkembangan psikologis remaja dibagi
menjadi tiga bagian, yaitu usia remaja dini (usia 10-13 tahun), usia remaja pertengahan (usia 14-
16 tahun), serta usia remaja lanjut (usia 17 – 21 tahun).
Pada usia remaja dini, remaja cenderung lebih memperhatikan perubahan fisik pada
tubuhnya dan menunjukkan perhatian pada proses maturasi. Usia remaja pertengahan merupakan
periode pertumbuhan kognitif yang cepat pada saat proses berpikir operasional formal muncul.
Remaja dalam usia ini mulai memahami konsep yang bersifat abstrak dan dapat
mempertanyakan cara orang dewasa melakukan penilaian (judgement). Individu tersebut
kemudian beralih dari dunia egosentris yang terdapat dalam dunia remaja dini kepada dunia
sosiosentris dalam usia remaja pertengahan serta remaja lanjut dan mulai mengontrol
perilakunya yang impulsif. Usia remaja lanjut merupakan periode terbentuknya identitas
personal, dengan hubungan yang akrab dan suatu fungsi dalam masyarakat. Remaja dalam usia
remaja lanjut akan memandang kehidupan dengan sudut pandang yang lebih sosiosentris,
karakteristik masa dewasa, serta dapat bersifat altruistik sehingga konflik dengan keluarga dan
masyarakat dapat berpusat pada masalah moral dibandingkan pertimbangan egosentris.
Santrock (1996) menyebutkan beberapa teori perkembangan remaja, antara lain:
a. Teori Psikoanalisis
Dua teori psikoanalisis penting antara lain dari Freud dan dari Erikson. Freud mengatakan
bahwa kepribadian terdiri dari tiga struktur, id, ego, dan superego, dan bahwa kebanyakan
pikiran remaja bersifat tidak disadari. Tuntutan yang saling bertentangan dari struktur
kepribadian remaja menimbulkan rasa cemas. Freud yakin bahwa masalah berkembang karena
pengalaman di masa kecil. Erikson mengembangkan teori yang menekankan delapan tahap
perkembangan psikososial; percaya versus tidak percaya, otonomi versus rasa malu dan ragu-
ragu, inisiatif versus rasa salah, industry versus inferioritas, identitas versus kekacauan identitas,
intimasi versus isolasi, generativitas versus stagnasi, dan integritas versus rasa putus asa
(Santrock, 1996).
b. Teori Kognitif
Dua teori kognitif yang penting adalah teori perkembangan kognitif Piaget dan teori
pemrosesan informasi. Piaget mengatakan bahwa remaja termotivasi untuk memahami dunia dan
menyesuaikan berpikirnya untuk mendapatkan informasi baru. Piaget mengatakan bahwa kita
melalui empat tahap perkembangan kognitif: sensorimotorik, pra-operasional, operasional
konkrit, operasional formal. Teori pemrosesan informasi berkaitan dengan bagaimana individu
memproses informasi dan bagaimana informasi yang dikeluarkan kembali untuk memungkinkan
berfikir dan pemecahan masalah (Santrock,1996).
c. Teori Tingkah Laku dan Belajar Sosial
Behaviorisme menekankan bahwa kognisi tidaklah penting dalam memahami tingkah laku
remaja. Perkembangan adalah tingkah laku yang diobservasi, yang ditentukan oleh ganjaran dan
hukuman dalam lingkungan, menurut B.F. Skinner. Teori belajar sosial, dikembangkan oleh
Albert Bandura dan lainnya, menyatakan bahwa lingkungan merupakan determinan tingkah laku
yang penting. Tetapi begitu pula proses kognitif. Remaja mempunyai kemampuan untuk
mengontrol tingkah laku mereka sendiri, menurut pandangan teori belajar sosial (Santrock,
1996).
d. Teori Ekologis
Dalam teori ekologis Bronfenbenner, lima sistem lingkungan merupakan faktor penting
dalam perkembangan remaja, yaitu mikrosistem, mesosistem, ekosistem, makrosistem, dan
kronosistem (Santrock, 1996).
Menurut Stanley Hall dalam Gunarsa & Gunarsa (2008), perkembangan psikis remaja
banyak dipengaruhi oleh faktor-faktor fisiologis yang ditentukan oleh genetika, disamping proses
pematangan yang mengarahkan pertumbuhan dan perkembangan. Terdapat beberapa tugas
perkembangan remaja menurut Hurlock (2001), antara lain :
a. Mencapai Hubungan Baru dan yang Lebih Matang dengan Teman Sebaya baik Pria
maupun Wanita
Tugas perkembangan pada masa remaja menuntut perubahan besar dalam sikap dan perilaku
anak. Akibatnya, hanya sedikit anak laki-laki dan anak perempuan yang dapat diharapkan untuk
menguasai tugas-tugas tersebut selama awal masa remaja, apalagi mereka yang matangnya
terlambat (Hurlock, 2001).
b. Mencapai Peran Sosial Pria, dan Wanita
Perkembangan masa remaja yang penting akan menggambarkan seberapa jauh perubahan
yang harus dilakukan dan masalah yang timbul dari perubahan itu sendiri. Pada dasarnya,
pentingnya menguasai tugas-tugas perkembangan dalam waktu yang relatif singkat sebagai
akibat perubahan usia kematangan sehingga menyebabkan banyak tekanan yang menganggu para
remaja (Hurlock, 2001).
c. Menerima Keadaan Fisiknya dan Menggunakan Tubuhnya Secara Efektif
Seringkali sulit bagi para remaja untuk menerima keadaan fisiknya bila sejak kanak-kanak
mereka telah mengagungkan konsep mereka tentang penampilan diri pada waktu dewasa
nantinya. Diperlukan waktu untuk memperbaiki konsep ini dan untuk mempelajari cara-cara
memperbaiki penampilan diri sehingga lebih sesuai dengan apa yang dicita-citakan (Hurlock,
2001).
d. Mengharapkan dan Mencapai Perilaku Sosial yang Bertanggung Jawab
Menerima peran sebagai orang dewasa yang diakui masyarakat tidaklah menjadi masalah
bagi laki-laki yang telah didorong dan diarahkan sejak awal masa kanak-kanak, tetapi berbeda
bagi anak perempuan. Karena adanya pertentangan dengan lawan jenis yang sering berkembang
selama akhir masa kanak-kanak dan masa pubertas, maka mempelajari hubungan baru dengan
lawan jenis berarti harus mulai dari awal dengan tujuan untuk mengetahui lawan jenis dan
bagaimana harus bergaul dengan mereka. Sedangkan pengembangan hubungan baru yang lebih
matang dengan teman sebaya sesama jenis juga tidak mudah (Hurlock, 2001).
e. Mencapai Kemandirian Emosional dari Orang Tua dan Orang-Orang Dewasa Lainnya
Bagi remaja yang sangat mendambakan kemandirian, usaha untuk mandiri secara emosional
dari orang tua dan orang-orang dewasa lain merupakan tugas perkembangan yang mudah.
Namun, kemandirian emosi tidaklah sama dengan kemandirian perilaku. Banyak remaja yang
ingin mandiri, namun juga ingin dan membutuhkan rasa aman yang diperoleh dari
ketergantungan emosi pada orang tua atau orang-orang dewasa lain. Hal ini menonjol pada
remaja yang kurang diterima dalam kelompok sebayanya (Hurlock, 2001).
f. Mempersiapkan Karier Ekonomi
Kemandirian ekonomi tidak dapat dicapai sebelum remaja memilih pekerjaan dan
mempersiapkan diri untuk bekerja. Meskipun remaja memilih pekerjaan yang memerlukan
periode pelatihan yang lama, tidak ada jaminan untuk memperoleh kemandirian ekonomi
bilamana mereka secara resmi menjadi dewasa nantinya. Secara ekonomi mereka masih harus
tergantung selama beberapa tahun sampai pelatihan yang diperlukan untuk bekerja selesai
dijalani (Hurlock, 2001).
g. Mempersiapkan Perkawinan dan Keluarga
Kecenderungan perkawinan muda menyebabkan persiapan perkawinan merupakan tugas
perkembangan yang paling penting dalam tahun-tahun remaja. Meskipun tabu sosial mengenai
perilaku seksual yang berangsur-ansur mengendur dapat mempermudah persiapan perkawinan
dalam aspek seksual, tetapi aspek perkawinan yang lain hanya sedikit yang dipersiapkan.
Kurangnya persiapan ini merupakan salah satu penyebab dari masalah yang tidak terselesaikan,
yang oleh remaja dibawa ke masa dewasa (Hurlock, 2001).
h. Memperoleh Perangkat Nilai dan Sistem Etis sebagai Pegangan untuk Berperilaku
Mengembangkan Ideologi
Sekolah dan pendidikan tinggi mencoba untuk membentuk nilai-nilai yang sesuai dengan
nilai dewasa, dimana orang tua berperan banyak dalam perkembangan ini. Remaja biasanya
memilih untuk melakukan hal-hal yang dianggap tidak bertanggung jawab bagi orang dewasa
demi dapat diterima oleh kelompok sebayanya (Hurlock, 2001).
Selain perkembangan psikologis, remaja juga mengalami pertumbuhan fisik. Pertumbuhan
fisik remaja memiliki tiga aspek yang menonjol, yaitu perubahan berat dan tinggi badan,
kematangan seksual, serta keragaman individual (Santrock, 1996). Pertumbuhan fisik
menyebabkan remaja membutuhkan asupan nutrisi yang lebih besar dari pada masa anak-anak.
Pada saat remaja mengalami peningkatan berat badan dan penyimpanan lemak sebagai bagian
dari pertumbuhan yang normal, remaja putri sering memaksakan diri untuk menjadi ramping dan
mulai melakukan tindakan menurunkan asupan nutrisi yang mengakibatkan terjadinya defisiensi
nutrisi yang esensial bagi pertumbuhan remaja tersebut. Remaja harus menjaga status gizinya
dalam rentang normal agar pertumbuhannya tersebut tidak terganggu karena kelebihan maupun
kekurangan makanan selama masa remaja menimbulkan masalah khusus (Dedeh, dkk, 2010).
Menurut Proverawati (2010), nutrisi yang penting untuk remaja antara lain:
a. Energi
Faktor yang perlu diperhatikan untuk menentukan kebutuhan energi remaja adalah aktivitas
fisik, seperti olahraga yang diikuti, baik dalam kegiatan di sekolah maupun diluar sekolah.
Widyakarya Nasional Pangan Gizi VI (WKNPG VI) menganjurkan angka kecukupan gizi
(AKG) energi untuk remaja dan dewasa muda perempuan 2000-2200 kkal, sedangkan untuk
laki-laki antara 2400-2800 kkal setiap hari. AKG energi ini dianjurkan sekitar 60% berasal dari
sumber karbohidrat (Proverawati, 2010).
b. Protein
Kecukupan protein bagi remaja adalah1,5-2,0 gr/kg BB/hari. AKG protein remaja dan
dewasa muda adalah 48-62 gr per hari untuk perempuan dan 55-66 gr per hari untuk laki-laki
(Proverawati, 2010).
c. Kalsium
AKG kalsium untuk remaja dan dewasa muda adalah 600-700 mg per hari untuk perempuan
dan 500-700 mg untuk laki-laki. Sumber kalsium yang paling baik adalah susu dan hasil
olahannya. Sumber kalsium lainnya ikan, kacang-kacangan, sayuran hijau, dan lain-lain
(Proverawati, 2010).
d. Besi
Kebutuhan zat besi pada remaja laki-laki meningkat karena ekspansi volume darah dan
peningkatan konsentrasi hemoglobin (Hb). Setelah dewasa, kebutuhan besi menurun. Pada
perempuan, kebutuhan yang tinggi akan besi terutama disebabkan kehilangan zat besi selama
menstruasi. Hal ini mengakibatkan perempuan lebih rawan terhadap anemia besi dibandingkan
laki-laki. Perempuan dengan konsumsi besi yang kurang atau mereka dengan kehilangan besi
yang meningkatkan, akan mengalami anemia gizi besi. Sebaliknya defisiensi besi mungkin
merupakan faktor pembatas untuk pertumbuhan pada masa remaja, mengakibatkan tingginya
kebutuhan mereka akan zat besi (Proverawati, 2010).
e. Seng (Zinc)
Seng diperlukan untuk pertumbuhan serta kematangan seksual remaja, terutama untuk remaja
laki-laki. AKG seng adalah 15 mg per hari untuk remaja dan dewasa muda perempuan dan laki-
laki (Proverawati, 2010).

2.4 Hubungan antara Citra Tubuh dengan Perilaku Makan pada Remaja Putri
Remaja memiliki beberapa tugas perkembangan, salah satunya adalah menerima keadaan
fisiknya dan menggunakan tubuhnya secara efektif (Hurlock, 2001). Remaja putri biasanya ingin
memiliki tubuh kurus yang digunakan untuk menarik perhatian pasangannya dan memiliki
kecenderungan untuk menurunkan berat badan disebabkan oleh media massa yang
mempromosikan penurunan berat badan (Anderson & Didomenico, 1992). Konten-konten pada
media massa menyebabkan remaja membandingkan tubuhnya dengan tubuh model sehingga
dapat menyebabkan terjadinya depresi,kemarahan,gangguan citra tubuh
(Heinberg&Thomson,1995), dan rendahnya kepercayaan diri (/martin&Kennedy,1993)
Penelitian yang dilakukan oleh Yuliana (2013), menunjukkan bahwa sebanyak 42 subyek
penelitian (46,2%) mengalami ketidakpuasan citra tubuh, dimana masih merasa dirinya gemuk
atau kelebihan berat badan, padahal sebanyak 27 subyek yang mengalami ketidakpuasan citra
tubuh tersebut sudah berstatus gizi normal. Penelitian yang dilakukan oleh Setijowati, Karunia,
dan Magdalena (2010) menyebutkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara citra tubuh
dengan status gizi remaja putri. Status gizi adalah suatu ukuran mengenai kondisi tubuh
seseorang yang dapat dilihat dari makanan yang dikonsumsi dan penggunaan zat-zat gizi di
dalam tubuh (Almatsier, 2005). Berdasarkan penelitian tersebut, apabila citra tubuh seseorang
rendah, maka status gizi remaja tersebut juga rendah, begitupun sebaliknya. Namun, sebuah
penelitian yang dilakukan di Jakarta menunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan bermakna
antara status gizi dengan perilaku makan yang berupa asupan energi maupun protein dari remaja
putri (Sari, Jus’at, & Priyo, 2010).
Penelitian yang dilakukan oleh Nisa dan Uyun (2007), membuktikan bahwa terdapat
hubungan signifikan antara harga diri dengan perilaku makan tidak sehat pada remaja putri.
Harga diri adalah penilaian secara global terhadap diri sendiri yang bersifat khas mengenai
kemampuan, keberhasilan, serta penerimaan yang dipertahankan oleh individu yang berasal dari
interaksi individu dengan orang lain. Semakin tinggi harga diri maka semakin rendah perilaku
makan tidak sehat, dan sebaliknya, semakin rendah harga diri maka semakin tinggi perilaku
makan tidak sehat. Namun, pada penelitian tersebut dibuktikan pula bahwa tidak terdapat
hubungan antara citra tubuh dengan asupan makanan pada remaja. Terlihat bahwa citra tubuh
positif maupun negatif tidak berpengaruh pada asupan makan sehari-hari pada remaja, khususnya
asupan energi dan protein.