Anda di halaman 1dari 16

BAB 2

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Konsep Dasar Lansia


2.1.1 Pengertian
Usia lanjut dikatakan sebagai tahap akhir perkembangan pada daur kehidupan manusia
(Budi Anna Keliat, 1999). Usia lanjut adalah seorang yang telah mencapai usia lebih dari 60
tahun (UU No.13 tahun 1998). Usia lanjut adalah seorang yang mencapai usia 55 tahun ( UU.
No.14,1965).

2.1.2 Klasifikasi Lansia


1. Pralansia, yaitu seoarng yang telah berusia antara 45-59 tahun.
2. Lansia, yaitu seorang yang berusia 60 tahun lebih.
3. Lansia resiko tinggi, yaitu seorang yang berusia 70 tahun/lebih,seorang yang berusia 60
tahun atau lebih dengan masalah kesehatan (Depkes RI, 2003)
4. Lansia potensial, yaitu lansia yang masih mampu melakukan pekerjaan atau kegiatan
yang dapat menghasilkan barang/jasa (Depkes RI,2003).
5. Lansia tidak potensial, yaitu lansia yang tidak berdaya mencari nafkah sehingga hidupnya
bergantung pada bantuan orang lain (Depkes RI,2003).
2.1.3 Karakteristik Lansia
Menurut Keliat (1999) dalam Maryam (2008) lansia memiliki karakteristik sebagai
berikut: berusia lebih dari 60 tahun (sesuai dengan Pasal 1 ayat (2) UU No. 13 tentang
Kesehatan), kebutuhan dan masalah yang bervariasi dan rentang sehat sampai sakit, dari
kebutuhan biopsikososial sampai spiritual, serta dari kondisi adaptif hingga kondisi
maladaptif, lingkungan tempat tinggal yang bervariasi.

2.1.4 Tipe Lansia


1. Tipe arif bijaksana
Kaya dengan hikmah pengalaman, menyesuaikan diri dengan perubahan zaman,
mempunyai kesibukan, bersikap ramah, rendah hati, sederhana, dermawan, memenuhi
undangan, dan menjadi panutan.

2. Tipe mandiri
Mengganti kegiatan-kegiatan yang hilang dengan kegiatan-kegiatan baru, selektif dalam
mencari pekerjaan, teman pergaulan, serta memenuhi undangan.

3. Tipe tidak puas


Konflik lahir batin menentang proses ketuaan, yang menyebabkan kehilangan kecantikan,
kehilangan daya tarik jasmaniah, kehilangan kekuasaan, status, teman yang disayanginya,
pemarah, tidak sabar, mudah tersinggung, menuntut, sulit dilayani dan pengkritik.

4. Tipe pasrah
Menerima dan menunggu nasib baik, mempunyai konsep habis gelap datang terang,
mengikuti kegiatan beribadat, ringan kaki, pekerjaan apa saja dilakukan.

5. Tipe bingung
Kaget, kehilangan kepribadian, mengasingkan diri, merasa minder, menyesal, pasif, acuh
tak acuh (Nugroho, 2000).

2.1.5 Hal-Hal yang Perlu Diperhatikan Lansia


Berikut hal-hal yang perlu diperhatikan lansia berkaitan dengan perilaku yang baik dan tidak
baik.
1. Perilaku yang kurang baik.
 Kurang berserah diri.
 Pemarah, meras tidak puas, murung dan putus asa.
 Sering menyendiri.
 Kurang melakukan aktivitas fisik.
 Makan tidak teratur dan kurang minum.
 Kebiasaan merokok dn meminum minuman keras.
 Minum obat sembarangan tampa aturan.
 Tidak memeriksakan kesehatan secara teratur.
2. Perilaku yang baik.
 Mendekatkan diri pada Tuhan Yang Maha Esa.
 Mau menerima keadaan, sabar, optimis dan meningkatkan rasa percaya diri.
 Menjalin hubungan yang baik dengan keluarga ataupun masyarakat.
 Melakukan olahraga ringan setiap hari.
 Makan dengan porsi sedikit tapi sering,serta banyak minum.
 Berhenti merokok dan minum obat teratur.
 Memeriksa kesehatn secara teratur.
2.1.6 Tugas Perkembangan Lansia
Menurut Erickson, kesiapan lansia untuk beradaptasi atau menyesuaikan diri terhadap
tugas perkembangan lansia dipengaruhi oleh proses tumbuh kembang pada tahap
sebelumnya. Apabila seseorang pada tahap tumbuh kembang sebelumnya melakukan
kegiatan sehari-hari dengan teratur dan baik serta membina hubungan yang serasi dengan
orang-orang di sekitarnya, makapada usia lanjut ia akan tetap melakukan kegiatan yang biasa
ia lakukan pada tahap perkembangan sebelumnya seperti olahraga, mengembangkan hobi
bercocok tanam, dan lain-lain.

Tugas perkembangan lansia menurut Maryam, dkk (2008) antara lain: mempersiapkan
diri untuk kondisi yang menurun, mempersiapkan diri untuk pensiun, membentuk hubungan
baik dengan orang seusianya, mempersiapkan kehidupan baru, melakukan penyesuaian
terhadap kehidupan sosial/masyarakt secara santai, mempersiapkan diri untuk kematiannya
dan kematian pasangan.

2.2 Konsep Dasar Penyakit Hiperkolesterol


2.2.1 Pengertian
Kolesterol adalah sterol terbanyak di dalam tubuh, bentuknya dapat sebagai
kolesterol bebas ataupun terikat pada asam lemak sebagai kolesterilester. Umumnya
kolesterol dalam darah dan limfe terlihat sebagai kolesterilester Sedangkan yang dalam
sel-sel darah otot, hepar, dan jaringan lain dalam bentuk bebas (Irawan dan Poestika,
1997 dalam Yudhasari, 2008).
Struktur kimia dasar kolesterol berupa steroid. Terdapat dalam jaringan dan
lipoprotein plasma dalam bentuk kolesterol bebas atau gabungan dari asam lemak rantai
panjang sebagai ester kolesteril. Senyawa kolesterol ini disintesis dalam banyak jaringan
dari asetil-Ko A dan akhirnya dikeluarkan dari tubuh melalui empedu sebagai garam
kolesterol atau empedu. Kolesterol adalah produk khas hasil metabolisme hewan
sehingga terdapat dalam semua bahan makanan yang berasal dari hewan, misalnya
kuning telur, otak, daging dan hati (Sulistyowati, 2006).
Menurut Rahayu (2005), kolesterol merupakan unsur penting dalam tubuh yang
diperlukan untuk mengatur proses kimiawi di dalam tubuh, tetapi kolesterol dalam
jumlah tinggi bisa menyebabkan terjadinya aterosklerosis (penyempitan dan pengerasan
pembuluh darah). Jika aterosklerosis ini terjadi di pembuluh darah jantung, maka akan
menyebabkan penyakit jantung koroner. Penggumpalan darah yang bercampur dengan
lemak yang menempel di pembuluh darah akan menyebabkan serangan jantung. Rahayu
(2005) juga menyatakan, terdapat korelasi yang jelas antara penyakit aterosklerosis
arteria koroner dengan kadar kolesterol total dalam darah, yang terutama mencerminkan
kandungan kolesterol pada LDL (Kolesterol LDL).
Hiperkolesterolemia merupakan hasil dari meningkatnya produksi dan atau
meningkatnya penggunaan LDL (Low Density Lipoprotein). Hiperkolesterolemia dapat
merupakan hiperkolesterol familial atau dapat disebabkan karena konsumsi kolesterol
tinggi. Menurut Prawitasari dkk. (2011), hiperkolesterolemia familial (HF) merupakan
kelainan genetik tersering penyebab terjadinya penyakit jantung koroner/aterosklerosis.
Hiperkolesterol terutama fraksi LDL, adalah faktor terpenting terbentuknya
aterosklerosis (Murwani dkk., 2006).
Proses aterosklerosis yang terjadi di pembuluh darah jantung dapat menyebabkan
terjadinya jantung koroner, apabila terjadi di pembuluh darah otak dapat menyebabkan
terjadinya stroke. HDL (High Density Lipoprotein) disebut juga kolesterol baik karena
mempunyai efek antiaterogenik yaitu mengangkut kolesterol bebas dari pembuluh darah
dan jaringan lain menuju hati, selanjutnya mengeluarkannya lewat empedu. Kadar LDL
yang tinggi cenderung disertai dengan kadar trigliserida yang tinggi pula, sedangkan
apabila kadar HDL tinggi maka kadar trigliserida cenderung rendah (Yudhasari, 2008).

2.2.2 Etiologi
Banyak faktor yang menyebabkan terjadinya hiperkolesterolemia. Bisa disebabkan
oleh faktor genetik seperti pada hiperkolesterolemia familial dan hiperkoleterolemia
poligenik, juga bisa disebabkan faktor sekunder akibat dari penyakit lain seperti diabetes
mellitus, sindroma nefrotik serta faktor kebiasaan diet lemak jenuh (saturated fat),
kegemukan dan kurang olahraga.
Beberapa faktor resiko yang dapat menyebabkan seseorang beresiko tinggi
menderita hiperkolesterolemia. beberapa faktor dapat dikurangi atau dihilangkan dengan
pengubahan gaya hidup, beberapa faktor sulit untuk diubah. tapi setidaknya pengurangan
faktor resiko harus dilakukan semaksimal mungkin. faktor resiko utama penyebab
tingginya kolesterol darah antara lain obesitas atau kegemukan, makanan tinggi asam
lemak dan lemak jenuh, biasanya makanan yg digoreng, makanan rendah serat, kurang
beraktifitas fisik, stress, merokok, tinggal di area dengan tingkat polusi tinggi (industri,
kota yg padat kendaraan bermotor), diabetes, underactive thyroid, dan polycystic ovary
syndrome.
1. Hiperkolesterolemia Poligenik
Tipe ini merupakan hiperkolesterolemia yang paling sering ditemukan, merupakan
interaksi antara kelainan genetik yang multipel, nutrisi dan faktor-faktor lingkungan
lainnya serta memiliki lebih dari satu dasar metabolik. Penyakit ini biasanya tidak
disertai dengan xantoma.
2. Hiperkolesterolemia Familial
Penyakit yang diturunkan ini terjadi akibatkan oleh adanya defek gen pada reseptor
LDL permukaan membran sel tubuh. Ketidakadaan reseptor ini menyebabkan hati
tidak bisa mengabsorpsi LDL. Karena mengganggap LDL tidak ada, hati kemudian
memproduksi VLDL yang banyak ke dalam plasma. Pada pasien dengan
Hiperkolesterolemia familial ditemukan kadar kolesterol total mencapai 600 sampai
1000 mg/dl atau 4 sampai 6 kali dari orang normal. Banyak pasien ini meninggal
sebelum berumur 20 tahun akibat infark miokard.
3. Kebiasaan Diet lemak Jenuh, Kurang olahraga dan Kegemukan
Pada tubuh manusia, reseptor LDL menangkap LDL yang tidak teroksidasi dan
disimpan di dalam sel tubuh. Jika sudah berlebih, LDL tidak masuk ke dalam sel
kemudian dimetabolime di hepar untuk menjadi asam empedu dan diekskresikan
keluar. Pada proses patologi, oksidan LDL ditangkap oleh makrofag dan kemudian
menjadi sel busa dan menumpuk di dalam tubuh, tidak diekskresi dan apabila
menumpuk didalam pembuluh darah menimbulkan plak aterome dan lama-kelamaan
menjadi aterosklerosis.
Penelitian pada binatang yang ditingkatkan kadar serumnya menunjukkan
LDL memicu atrogenesis. Ada bentuk kelainan gen pada manusia yang menyebabkan
peningkatan LDL secara berat yang menimbulkan penyakit kardiovaskuler pada usia
muda. LDL menimbulkan penumpukan kolesterol pada dinding arteri. LDL juga
menyebabkan rangsangan inflamasi dani inflamasi pada lesi aterogenik. Peningkatan
LDL berhubungan dengan semua tingkatan aterogenik yaitu disfungsi endotel,
pembentukan dan pertumbuhan plak, ketidakstabilan plak dan thrombosis.
Peningkatan LDL plasma menyebabkan retensi partikel LDL pada dinding arteri
meningkat, oksidasi LDL dan pengeluaran zat-zat mediator inflamasi. Terapi terhadap
peningkatan LDL menunjukkan fungsi endotel koroner menjadi normal.
Akibat Penyakit Lain
Berikut ini dislipidemia yang disebabkan oleh penyakit lain:
Tabel 3
Penyebab Hiperkolesterolemia yang disebabkan oleh penyakit
No. Penyakit penyebab Kelainan lipid
1. Diabetes mellitus (DM) TG dan HDL
2. Gagal ginjal kronis TG
3. Sindrom nefrotik Kolesterol total
4. Hipotiroidisme Koleterol total
5. Penyalahgunaan alcohol TG
6. Kholestasis Kolesterol total
7. Kehamilan TG
8. Obat-obatan (kontrasepsi oral, diuretic, beta bloker, kortikosteroid) TG dan
atau Kolesterol total , HDL.

Keterangan:
 TG = Trigliserida
 HDL = High Density Lipoprotein
 Meningkat
 Menurun
Peningkatan prevalensi Diabetes seiring dengan peningkatan faktor risiko
yaitu obesitas (kegemukan), kurang aktivitas fisik, kurang konsumsi serat, tinggi
lemak, merokok, hiperkolesterol, hiperglikemia dan lain-lain. Prevalensi faktor risiko
DM dari 2001-2004 yaitu : obesitas dari 12,7% menjadi 18,3%. Hiperglikemia dari
7,9% menjadi 11,3% dan hiperkolesterol dari 6,5% menjadi 12,9%. Diabetes
berpotensi menyebabkan hiperkolesterolemia dengan meningkatkan kadar kolesterol
LDL.
Sindrom nefrotik adalah sindroma klinis yang ditandai dengan adanya
proteinuria, hipoalbunemia, edema, dan hiperkolesterolemia. Patogenesis terjadinya
hiperkolesterolemia adalah kebocoran pada membrane basalis glomerulus
menyebabkan proteinuria sehingga terjadi hipoalbiminemia. Hipoalbuminemia
dikompensasi oleh hepar dengan memprodusksi kolesterol sehingga terjadi
hiperkolesterolemia. Terjadi hipoalbuminemia yang selanjutnya merangsang hepar
untuk memprodusksi kolesterol sehingga terjadi hiperkolesterolemi.

2.2.3 FAKTOR RESIKO


Faktor Resiko yang Dapat dimodifikasi
 Tekanan darah tinggi
 Merokok
 Diabetes Mellitus
 Penyakit jantung lain
 Obesitas
 Intake alkohol yang tinggi
 Penggunaan obat-obatan ilegal
 Usia

2.2.4 TANDA DAN GEJALA

Tanda dan gejala pada masa awalnya adalah kolesterol tinggi muncul tanpa gejala apa
pun. Karena ini screening awal melalui pemeriksaan lab secara rutin lebih baik jika
dilakukan. untuk tingkat lanjut, hiperkolesterolemia bisa menimbulkan gejala penumpukan
lemak pada tendon dan kulit (xanthoma), pembesaran hati dan limpa, sakit pada perut akibat
pankreatitis jika trigliserida tertumpuk pada pankreas (umumnya saat level trigliserida di atas
800 mg/dL), sakit pada dada dan mungkin serangan jantung akibat penumpukan kolesterol
pada dinding pembuluh darah yang mengalirkan darah untuk jantung.

Tabel 1

o Klasifikasi dislipidemia menurut WHO


 Fredrickson Klasifikasi dislipidemia Peningkatan lipoprotein
 I Kilomikron
 Iia Hiperkolesterolemia LDL
 Iib Dislipidemia kombinasi LDL + VLDL
 III Dislipidemia remnant VLDL remnant + kilomikron
 IV Dislipidemia endogen VLDL
 V Dislipidemia campuran VLDL + kilomikron
Keterangan:
LDL = Low Density Lipoprotein
VLDL = Very Low Density Lipoprotein(Trigliserida)

Hiperkolesterolemia adalah peningkatan kadar kolesterol melebihi batas


normal (>200 mg/dl). Semakin lanjutnya usia risiko menderita hiperkolesterolemia
semakin besar. Ada beberapa faktor yang dapat mempengaruhi kejadian
hiperkolesterolemia, diantaranya jenis kelamin, pola makan, obesitas, kebiasaan olah
raga dan kebiasaan merokok terhadap hiperkolesterolemia pada lansia.
Tabel 2
Klasifikasi kadar lipid plasma (mg/dl)
No. Kadar Lipid Plasma
o Kolesterol total < 200 Batas tinggi ≥ 240
o 2 LDL < 100 Optimal 100 – 129 Mendekati optimal 130 –
159 Batas tinggi 160 – 189 Tinggi ≥ 190 Sangat
tinggi
o 3 HDL < 40 Rendah ≥ 60 Tinggi 4 Trigliserida < 150
Normal 150 – 199 Batas tinggi 200-499 Tinggi ≥500
Sangat tinggi.

2.2.5 PEMERIKSAAN PENUNJANG dan PENEGAKAN DIAGNOSA


a. CVA
a) Terapi
Hiperkolesterolemia dapat dicegah dengan pengendalian berat badan,
meningkatkan aktivitas fisik (disarankan untuk secara teratur berolahraga ringan
selama 30 menit setiap harinya), dan pengaturan diet. Diutamakan untuk banyak
mengonsumsi makanan kaya serat.
1. Terapi non farmakologi
2. Terapi nutrisi medis
Diet tinggi lemak merupakan salah satu penyebab hiperkolesterolemia. Makan
makanan yang banyak mengandung trans fat dan saturated fat seperti
margarine/mentega, es krim, minyak kelapa dan lemak hewan dapat
meningkatkan kadar LDL dan menurunkan koleterol HDL. Maka harus dikurangi
sebanyak 7% perhari. Saturated fat dapat digantikan dengan unsaturated fat yang
relatif kurang meningkatkan kadar LDL. Unsaturated dibagi dua antara lain Multi
Unsaturated Fatty Acid (MUFA) contohnya minyak zaitun, alpokat dan Poli
Unsaturated Fatty Acid (PUFA) contoh ikan. Dengan perubahan pola makan,
mampu menurunkan kadar kolesterol dalam darah sebesar 10-15% . Makan ikan
yang banyak mengandung omega 3 dapat menurunkan kadar LDL. Begitu juga
dengan mengkonsumsi protein kedelai. Diet tinggi serat yang larut dalam air
seperti oat dan buah/sayuran 20-30 gram sehari dapat menurunkan 5-15% kadar
kolesterol total dan LDL.
Tabel 4
Komposisi makanan untuk hiperkolesterolemia menurut Perkeni 2004
No.Makanan Asupan yang dianjurkan
1 Total lemak 20-25% dari kalori total
2 Lemak jenuh < 7 % dari kalori total
3 Lemak PUFA Sampai 10% dari kalori total
4 Lemak MUFA Sampai 10 % dari kalori total
5 Karbohidrat 60% dari kalori total (terutama karbohidrat kompleks)
6 Serat 30 gr perhari
7 Protein Sekitar 15% dari kalori total
8 Kolesterol < 200 mg/hari

Tabel 5
Untuk di Rumah Sakit Dr.Soetomo menggunakan Diet B (Tjokroprawiro) dengan
komposisi:
No.Makanan Asupan yang dianjurkan
1 Karbohidrat 68%
2 lemak kolesterol < 300 mg/hari
3 lemak jenuh dan trans 5%
4 PUFA 5%
5 MUFA 10%
6 protein 12%
7 serat 25-35 gr/hari.
b) Aktivitas fisik
Olahraga yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan berat badan. Olahraga
disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan penderita. Penurunan 10 % berat
badan berarti menurunkan 30% lingkar perut yang mana terdapat lemak sentral di
sana. AHA merekomendasikan olahraga selama 30 menit dengan aktivitas sedang
3-4 kali dalam seminggu
c) Menghindari rokok
Merokok berhubungan dengan proses metabolis yang berefek pada lipoprotein
termasuk didalamnya meningkatkan asam lemak bebas, glukosa dan VLDL serta
menurunkan HDL. Berhenti merokok berhubungan dengan peningkatan rata-rata
HDL 6-8 mg/dl.
d) Terapi farmakologis
Berikut ini obat- obatan yang mampu menurunkan kadar kolesterol darah, terdapat
beberapa golongan obat, antara lain statin, resin, niasin, ezetimibe dan asam lemak
omega-3.
Tabel 6
Obat-obatan hipolipidemik
No.Obat Kolesterol LDL Koleterol HDL Trigliserida
1 Statin 20-55% 5-15% 10-20%
2 Resin 15-30% 3-5%-/
3 Fibrat 10-15% 10-20% 35-50%
4 Niasin 10-25% 10-35% 25-50%
5 Ezetimibe 15-25% 3-5% 5-10%
6 Asam lemak Omega-35-10% 1-3% 20-30%

Tabel 7
Efek Obat hipolipidemik terhadap kadar lipid serum
No.Dislipidemia Obat pilihan
1 hiperkolesterolemia Statin/resin/kombinasi
2 Dislipidemia campuran Statin/resin/kombinasi
3 Hipertrigliseridemia fibrat
4 Isolated low HDL fibrat
Diagnosa Hiperkolesterolemia
Penegakkan diagnosa Hiperkolesterol didasarkan atas adanya keluhan dan gejala yang khas
ditambah hasil pemeriksaan kolesterol > 200 mg/dl.

2.2.6 PENCEGAHAN
 Menghentikan merokok
 Mengurangi konsumsi kolesterol
 Mempertahankan kadar gula normal
 Latihan fisik (senam) secara teratu
 Periksa tekanan darah
 Lakukan latihan olahraga.
 Konsumsi makanan yang bergizi
 Kurangi makanan berlemak.
 Jauhi alkohol

2.2.7 PENATALAKSANAAN
Terapi Hiperkolesterolemia
Menurut National Choleteroslemia Education Programme Adult Therapy
Programme (NCEP ATP III) sasaran LDL disesuaikan dengan faktor risiko yang
dimiliki seseorang yaitu (5):

1. Risiko tinggi

a. Riwayat penyakit jantung koroner (PJK)

b. Risiko yang disamakan dengan PJK

 Diabetes Melitus, stroke, penyakit obstruksi arteri tepi, aneurisma aorta abdominalis
 Faktor risiko multiple (> 2 faktor risiko dan mempunyai faktor risiko PJK dalam
waktu 10 tahun menurun skor Framingham)
2. Risiko Multipel

≥ 2 faktor risiko dengan risiko PJK dalam kurun waktu 10 tahun < 20% (skor
Framingham)

3. Risiko rendah (0;1 faktor risiko)

Dengan risiko PJK dalam kurun 10 tahun < 10 %

Terapi non farmakologis (perubahan gaya hidup) antara lain terapi nutrisi medis,
aktivitas fisik, menghindari rokok, menurunkan berat badan, pembatasan asupan
alkohol. Faktor risiko utama (selain kolesterol LDL) yang menetukan sasaran kolesterol
LDL yang ingin dicapai :

- Kebiasaan merokok

- Hipertensi (≥140/90 mmHg atau sedang mendapat obat hipertensi

- Kolesterol HDL rendah (<40 mg/dL)

- Riwayat PJK dini yaitu ayah < 55 tahun dan ibu < 65 tahun

- Umur pria ≥ 45 tahun dan wanita ≥ 55 tahun

Tabel 2. Tiga kelompok risiko untuk menentukan sasaran kolesterol LDL

Kelompok risiko Sasaran kolesterol LDL (mg/dL)


Risiko tinggi < 100
Faktor risiko multiple (≥ 2 faktor risiko) < 130
Risiko rendah (0-1 faktor risiko) < 160

Terapi non farmakologi

Terapi nutrisi medis

Diet tinggi lemak merupakan salah satu penyebab hiperkolesterolemia. Makan


makanan yang banyak mengandung trans fat dan saturated fat seperti
margarine/mentega, es krim, minyak kelapa dan lemak hewan dapat meningkatkan
kadar LDL dan menurunkan koleterol HDL. Maka harus dikurangi sebanyak 7%
perhari. Saturated fat dapat digantikan dengan unsaturated fat yang relatif kurang
meningkatkan kadar LDL. Unsaturated dibagi dua antara lain Multi Unsaturated Fatty
Acid (MUFA) contohnya minyak zaitun, alpokat dan Poli Unsaturated Fatty Acid
(PUFA) contoh ikan. Dengan perubahan pola makan, mampu menurunkan kadar
kolesterol dalam darah sebesar 10-15% . Makan ikan yang banyak mengandung omega
3 dapat menurunkan kadar LDL. Begitu juga dengan mengkonsumsi protein kedelai.
Diet tinggi serat yang larut dalam air seperti oat dan buah/sayuran 20-30 gram sehari
dapat menurunkan 5-15% kadar kolesterol total dan LDL.

Tabel 3. Komposisi makanan untuk hiperkolesterolemia menurut Perkeni 2004

Makanan Asupan yang dianjurkan


Total lemak 20-25% dari kalori total
Lemak jenuh < 7 % dari kalori total
Lemak PUFA Sampai 10% dari kalori total
Lemak MUFA Sampai 10 % dari kalori tota
Karbohidrat 60% dari kalori total (terutama
karbohidrat kompleks)
Serat 30 gr perhari
Protein Sekitar 15% dari kalori total
Kolesterol < 200 mg/hari

Untuk di Rumah Sakit Dr.Soetomo menggunakan Diet B (Tjokroprawiro) dengan


komposisi karbohidrat 68%, lemak : kolesterol < 300 mg/hari, lemak jenuh dan trans
5%, PUFA 5%, MUFA 10%, protein 12%, serat 25-35 gr perhari.

Aktivitas fisik

Olahraga yang dilakukan secara teratur dapat menurunkan berat badan. Olahraga
disesuaikan dengan kondisi dan kemampuan penderita. Penurunan 10 % berat badan
berarti menurunkan 30% lingkar perut yang mana terdapat lemak sentral di sana. AHA
merekomendasikan olahraga selama 30 menit dengan aktivitas sedang 3-4 kali dalam
seminggu
Menghindari rokok

Merokok berhubungan dengan proses metabolis yang berefek pada lipoprotein


termasuk didalamnya meningkatkan asam lemak bebas, glukosa dan VLDL serta
menurunkan HDL. Berhenti merokok berhubungan dengan peningkatan rata-rata HDL
6-8 mg/dl.

Hipertensi

Kriteria hipertensi berdasarkan JNC-VII, yaitu TD sistolik ≥ 140 mmHg dan TD


diastolik ≥ 90mmHg (As). Cara menangani hipertensi dengan perubahan pola hidup,
meningkatkan aktivitas fisik, diet rendah garam, kurangi alcohol dan tingkatkan diet
sayuran dan buah serta rendah lemak. Juga minum obat antihipertensi seperti ACE
Inhibitor dan thiazid.

Terapi farmakologis

Berikut ini obat- obatan yang mampu menurunkan kadar kolesterol darah, terdapat
beberapa golongan obat, antara lain statin, resin, niasin, ezetimibe dan asam lemak
omega-3.

Tabel 4. Obat-obatan hipolipidemik

Obat Kolesterol LDL Koleterol HDL Trigliserida


Statin 20-55% 5-15% 10-20%
Resin 15-30% 3-5% -/
Fibrat 10-15% 10-20% 35-50%
Niasin 10-25% 10-35% 25-50%
Ezetimibe 15-25% 3-5% 5-10%
Asam lemak 5-10% 1-3% 20-30%
Omega-3
Tabel 5. Efek Obat hipolipidemik terhadap kadar lipid serum

Dislipidemia Obat pilihan


Hiperkolesterolemia Statin/resin/kombinasi
Dislipidemia campuran Statin/resin/kombinasi
Hipertrigliseridemia fibrat
Isolated low HDL fibrat
Daftar Pustaka

1. Arza. 2009. Kenalan Dengan Hiperkolesterolemia. 21 Januari 2009. Diakses


dari www.wordpress.com 27 September 2017, pukul 20.47.
2. Halim, Herman. 2006. Mutasi reseptor LDL penyebab hiperkolesterolemia
Familier. Bagian biologi kedokteran fakultas kedokteran unika atrna jaya.
Majalah Kedokteran Damianus. Vo1.5. No. 3.
3. Hiperkolesterolemia (Bagian1). Diakses dari Error! Hyperlink reference not
valid..
4. Hiperkolesterolemia (Bagian 2). Diakses dari Error! Hyperlink reference not
valid..
5. Hiperkolesterolemia (Kelebihan Kolesterol). 27 September 2017 Diakses dari
http://copeebreak.blogspot.com/search/label/healthly.
6. Hubungan merokok dengan risiko terjadinya hiperkolesterolemia pada pasien
kardiovaskuler. 2004. RS Panti Wilasa Citarum Semarang. Diakses dari
http://www.fkm.undip.ac.id/data/index.php?action=4&idx=2730.
7. Hiperkolesterolemia (bagian 2). http://dokter-
medis.blogspot.co.id/2009/07/hiperkolesterolemia-bagian-2.html. diakses pada
tanggal 27 September 2017.