Anda di halaman 1dari 24

LAPORAN KASUS MINI-CEX

G1P0A0 24 Tahun, Hamil 40 minggu

HbsAg (+)
Untuk memenuhi tugas Kepaniteraan Klinik di Bagian Obstetri dan Ginekologi

di RSUD Tugurejo Semarang

Pembimbing :

dr. Muhammad Taufiqy, Sp.OG

Disusun oleh :

Durotul Farida

H2A012036

FAKULTAS KEDOKTERAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH SEMARANG

2018

1
LEMBAR PENGESAHAN KOORDINATOR KEPANITERAAN
ILMU OBSTETRI DAN GINEKOLOGI

Laporan Kasus Mini-Cex

G1P0A0 24 tahun, hamil 40 minggu


HbsAg (+)
Disusun untuk Memenuhi Syarat Mengikuti Ujian Kepaniteraan Klinik

di Bagian Ilmu Obstetri dan Ginekologi

RSUD Tugurejo Semarang

Disusun Oleh:

Durotul Farida
H2A012036

Telah disetujui oleh Pembimbing:


Tanggal : ...........................................

Pembimbing Klinik

Ilmu Obstetri dan Ginekologi

dr. Muhammad Taufiqy, Sp.OG

2
BAB 1

PENDAHULUAN

Infeksi virus hepatitis B (HBV) merupakan masalah kesehatan dunia.

Organisasi kesehatan dunia atau WHO memperkirakan bahwa lebih dari 2 miliar

orang di dunia terinfeksi HBV atau pernah terinfeksi HBV dan 350 juta orang di

dunia menderita hepatitis kronis oleh karena infeksi HBV ini, dan 1 juta orang

diantaranya meninggal setiap tahunnya akibat penyakit hati yang berkaitan

dengan infeksi HBV. Penyebaran infeksi HBV kronis sangat bervariasi secara

global, di Asia misalnya, terutama negara-negara di Asia Tenggara prevalensinya

mencapai 8-15% dari populasi. Ini berarti di Asia Tenggara memiliki endemisitas

yang cukup tinggi terhadap hepatitis B. Sebagian besar penyebaran infeksi HBV

terkait dengan usia pada saat terinfeksi, yang berbanding terbalik dengan risiko

kronisitas.(1,2)

Di daerah endemik, infeksi HBV dominan pada periode perinatal atau

pada anak usia dini. Infeksi kronis jauh lebih mungkin terjadi pada pasien bayi

(90%) dan anak-anak (30%) sedangkan tingkat infeksi akut lebih sering

ditemukan pada orang dewasa, namun tingkat pengembangan dari infeksi akut

menjadi infeksi kronis kurang dari 5% untuk pasien dewasa yang terinfeksi

HBV.(1,2,5)

Resiko penularan infeksi HBV dari ibu ke bayi berhubungan dengan status

replikasi dari virus itu sendiri yang dapat diihat dari adanya HBeAg pada ibu.

Pada ibu dengan HBeAg positif, 90% mereka menularkan infeksi HBV pada anak

3
mereka dibandingkan dengan anak dari ibu dengan HBeAg negatif yang

jumlahnya hanya sekitar 10-20% .(1)

Penularan infeksi dari ibu ke anak dikenal sebagai infeksi perinatal (periode

perinatal dimulai dari 28 minggu kehamilan dan berakhir pada 28 hari setelah

melahirkan). Oleh karena itu, istilah "transmisi perinatal" tidak benar-benar

termasuk infeksi dan dengan demikian dapat diganti dengan istilah "penularan ibu

ke anak (MTCT/mother to child transmission)" yang mempertimbangkan semua

infeksi HBV baik sebelum lahir, pada saat lahir dan pada anak usia dini. Untuk

bayi baru lahir yang ibunya positif (HBsAg dan HBeAg) dengan tidak

diberikannya imunisasi setelah lahir, risiko untuk infeksi HBV kronis adalah 70%

hingga 90% pada usia 6 bulan. Vaksinasi HBV dapat mencegah 70% -95% dari

infeksi HBV pada bayi yang lahir dari ibu HBeAg dan HBsAg positif. (1)

4
BAB II

LAPORAN KASUS

1. IDENTITAS PASIEN

Nama : Ny.BR
Umur : 25 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Suku : Jawa
Alamat : Mijen
Pekerjaan : ibu rumah tangga
Pendidikan : SMP
Status : Menikah
Tanggal periksa : 20 Februari 2018
Biaya pengobatan : BPJS

Nama Suami : Tn. A


Umur : 27 tahun
Jenis kelamin : Laki – laki
Suku : Jawa
Agama : Islam
Alamat : Mijen
Pekerjaan : Swasta
Pendidikan : SMA
2. ANAMNESIS
Anamnesis dilakukan secara autoanamnesis tgl 20 Februari 2018 pukul
10.00 WIB di poli kandungan RSUD Tugurejo
a. Keluhan : kontrol
b. Riwayat Penyakit Sekarang
Pasien datang ke poli kandungan RSUD Tugurejo dengan tujuan
memerikskan kandungannya, pasien tidak mengeluhkan apa-apa. Pada

5
awal kehamilan pasien mengeluh mual muntah, kemudian pasien
memeriksaakan kandungannya ke bidan, oleh bidan dianjurkan untuk
cek lab di puskesmas, setelah keluar hasil, HbsAg pasien (+), oleh
dokter puskesmas dirujuk ke RSUD Tugurejo semarang , pasien tidak
mengeluhkan apa-apa, tetapi pasien mencemaskan kandungannya.
mual ,muntah dirasakan pasien sampai usia kandungan mendekati 5
bulan. keluhan lemas (+) kadang-kadang, nyeri perut (-), demam (-),
sakit kepala (-), BAB, BAK tidak ada keluhan, selain itu pasien juga
mengeluh kenceng-kenceng tetapi masih jarang sekali, keluar air dari
jalan lahir (-), lendir darah (-).
Menarche : 12 tahun
Lama Haid : 7 hari
Siklus Haid : 28 hari
Banyaknya Haid : 2-3 x sehari ganti pembalut.
Nyeri Haid : Nyeri setiap kali hari pertama haid dan tidak
menggangu aktifitas
1. Riwayat Perkawinan
Merupakan pernikahan pertama dan sudah menikah selama 1,5 tahun.
2. Riwayat Obstetri
G1P0A0, 24 tahun, hamil 40 minggu, janin 1 hidup intra uterin , presentasi
kepala, punggung kiri, HbsAg (+)
Tabel 1. Riwayat Obstetri Pasien
Keadaaan
Tahun Tempat Umur Jenis BB
No Penolong Penyulit anak
Partus Partus Kehamilan Persalinan Lahir
sekarang
1 Hamil
ini

3. Riwayat ANC : lebih dari 4x di bidan, 3x di Puskesmas, 3x di Sp.OG,


imunisasi TT 2 kali
4. Riwayat KB : -
c. Riwayat Penyakit Dahulu
- Riwayat Hipertensi : Disangkal

6
- Riwayat DM : Disangkal
- Riwayat Asma : Disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
- Riwayat Penyakit Ginjal : Disangkal
- Riwayat Alergi : Disangkal
- Riwayat penyakit selama kehamilan : Disangkal
- Riwayat sakit kuning : Disangkal
- Riwayat penggunaan obat-obatan dan jamu : Disangkal, hanya konsumsi
vitamin dan tablet penambah darah dari bidan.
d. Riwayat Penyakit Keluarga
- Riwayat Hipertensi : Disangkal
- Riwayat DM : Disangkal
- Riwayat Asma : Disangkal
- Riwayat Penyakit Jantung : Disangkal
- Riwayat Alergi : Disangkal
- Riwayat sakit kuning : Disangkal
e. Riwayat Sosial Ekonomi
Pasien seorang ibu rumah tangga, dan suami pasien bekerja sebagai
wiraswasta. Biaya pengobatan menggunakan BPJS NON PBI
f. Riwayat Pribadi
- Merokok : Disangkal
- Minum Alkohol : Disangkal
- Riwayat Konsumsi Obat-obatan : Disangkal
3. PEMERIKSAAN FISIK
Pemeriksaan fisik dilakukan pada tanggal 20 Februari 2018 pukul 10.30 WIB
di Bangsal VK RSUD dr. Adhyatma MPH Semarang
 Keadaan umum : Baik
 Kesadaran : compos mentis
 Vital sign :
- TD : 110/70 mmHg
- Nadi : 82 x/ menit, irama reguler, isi dan tegangan cukup

7
- RR : 21 x/ menit
- Suhu : 36,3 0C
 Status Gizi
- BB : 56 kg
- TB : 166 cm
- BMI : 20,29 kg/m2
- Kesan : status gizi baik

 Status internus :
- Kepala : bentuk mesocephal
- Mata : konjunctiva palpebra anemis (-/-), sklera ikterik (-/-),
reflex cahaya (+/+), pupil bulat isokor (3 mm / 3 mm).
- Telinga : normotia, discharge (-/-), massa (-/-)
- Hidung : simetris, napas cuping hidung (-/-), sekret (-/-), darah (-/-),
septum di tengah, concha hiperemis (-/-).
- Mulut : sianosis (-), bibir pucat (-), lidah kotor (-), karies gigi (-),
faring hiperemis (-), tonsil (T1/T1).
- Leher : pembesaran kelenjar thyroid (-), kelenjar getah bening
membesar (-)
- Thoraks :
Cor :
Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba di ICS V, 2 cm medial linea
midclavicularis sinistra
Perkusi : konfigurasi jantung dalam batas normal
Auskultasi : normal, tidak ada suara tambahan
Pulmo :
Inspeksi : simetris, statis, dinamis, retraksi (-)
Palpasi : stem fremitus kanan = kiri
Perkusi : sonor seluruh lapang paru
Auskultasi : suara dasar vesikuler +/+, suara tambahan -/-

8
- Abdomen : sesuai status obstetrikus
- Ekstremitas
Superior Inferior

Oedema -/- -/-

Sianosis -/- -/-

Akral dingin -/- -/-

Clubbing finger -/- -/-

 Status obstetrikus :
- Pemeriksaan luar :
Inspeksi :
Perut membuncit, membujur dan striae gravidarum (+)
Genitalia Eksterna : air ketuban (-), Lendir (-) darah (-)
Palpasi :
Pemeriksaan leopold
I. Teraba bulat, besar, ballotement (-). Kesan bokong.
TFU 31 cm  TBJ 2945 gram
II. Teraba tahanan besar memanjang sebelah kiri (kesan punggung),
teraba tahanan kecil-kecil sebelah kanan (kesan ekstremitas).
DJJ 12-11-12 (140 x/ menit)
III. Teraba bagian janin bulat, keras, tidak bisa digoyang (kesan
kepala)
IV. Kesan konvergen, bagian bawah belum masuk pintu atas panggul.
His (-) jarang
Auskultasi :
Denyut jantung janin terdengar paling keras di sebelah kiri bawah
umbilikus dengan frekuensi 12-11-12. (140 x/menit)

9
- Pemeriksaan Dalam
VT : Ø kuncup, KK (-), eff 10 %
Portio medial, kenyal
Bagian bawah janin: presentasi kepala, belum masuk PAP

4. PEMERIKSAAN PENUNJANG LAIN :


- USG
Usia kehamilan :40 minggu
Taksiran Persalinan : 20 Februari 2018
Letak Janin : Letak Kepala
TBJ : 2980 gram
Placenta : di fundus medial ke corpus anterior

5. DIAGNOSIS KERJA
G1P0A0, 24 tahun, hamil 40 minggu
Janin1 hidup intra uterin
Presentasi kepala U puki
Belum inpartu
HbsAg (+)

6. INITIAL PLAN
a. Ip Dx
G1P0A0, 25 tahun, hamil 40 minggu
Janin1 hidup intra uterin
Pres kep U puki
Belum inpartu
HbsAg (+)
- Cek darah lengkap
- SGOT SGPT

10
b. Ip Tx
- Vit BC / C/ SF 1 tab / 12 jam
- Konsul TS interna
c. Ip Mx
- Keadaan Umum
- DJJ, TTV, His, PPV, Tanda tanda inpartu (mandiri / bidan terdekat)
d. Ip Ex
- Jika 7 hari tidak ada tanda-tanda persalinan kontrol kembali ke poli, atau
jika kurang dari 7 hari sudah ada tanda-tanda persalinan (kenceng-
kenceng, keluar darah, keluar lendir, keluar air dari jalan lahir) langsung
memeriksakan diri ke IGD
- Menjelaskan rencana persalinan, bisa dilkukan dengan persalinan normal
jika tidak ada penyulit lain
- Menganjurkan untuk berhubungn intim dengan suami untuk memancing
kontraksi
- Menganjurkan untuk berjalan kaki disekitar rumah, sering sujud
- Menganjurkan untuk melakukan rangsangan puting
- Menjelaskan tujuan konsultasi ke spesialis penyakit dalam untuk
pengobatan hepatitis B
- Menjelaskan tentang infeksi yang diderita
- Menjelaskan pengobatan, dan komplikasi penyakit
- Menganjurkan untuk pengobatan hepatitis B sampai tuntas
- Menganjurkan untuk memisahkan peralatan makan dan mandi dengan
keluarga

7. PROGNOSIS
Quo ad Vitam : dubia ad bonam

Quo ad Sanam : dubia ad bonam

Quo ad Fungsionam : dubia ad bonam

11
BAB III

TINJAUAN PUSTAKA

HEPATITIS B PADA KEHAMILAN

1.1. Pengertian

Hepatitis adalah inflamasi dari hepar yang dapat disebabkan oleh


terpaparnya hepar dengan bahan kimia tertentu, penyakit autoimun, atau infeksi
bakteri tetapi paling sering disebabkan oleh beberapa virus.(3)
Seorang ibu dikatakan mengidap atau menderita hepatitis B kronik apabila :
1. Bila ibu mengidap HBsAg positif untuk jangka waktu lebih dari 6 bulan
dan tetap positif selama masa kehamilan dan melahirkan.
2. Bila status HbsAg positif tidak disertai dengan peningkatan SGOT/PT
maka, status ibu adalah pengidap hepatitis B.
3. Bila disertai dengan peningkatan SGOT/PT pada lebih dari 3 kali
pemeriksaan dengan interval pemeriksaan setiap 2-3 bulan, maka status
ibu adalah penderita hepatitis B kronik.
4. Status HbsAg positif tersebut dapat disertai dengan atau tanpa HBeAg
positif. (4)
1.2. Etiologi dan Faktor Risiko
Infeksi hepatitis B disebabkan oleh virus hepatitis B virus (HBV), sebuah
virus DNA berkapsul yang dapat menginfeksi hepar dan menyebabkan nekrosis
hepatoselular dan inflamasi. HBV adalah salah satu virus terkecil yang diketahui
dapat menginfeksi manusia, dan masih termasuk ke dalam famili hepadnavirus.
HBV juga dikenal sebagai virus onkogenik karena merupakan salah satu fator
resiko terbesar untuk terjadinya hepatoseluler karsinoma. Virus ini dapat
bersirkulasi dalam serum manusia (berukuran 42 nm), double-shelled particle,
dengan HBsAg yang merupakan komponen diluar kapsul dan komponen didalam
nukleokapsul adalah hepatitis B core antigen (HBcAg). HBV DNA dapat
dideteksi dalam serum dan dapat digunakan untuk memonitor replikasi virus. (5)
1.3. Patogenesis

12
Infeksi virus HBV biasanya ditularkan melalui perkutaneus atau mukosa
yang terpapar dengan darah yang terinfeksi dan berbagai cairan tubuh lainnya,
termasuk saliva, darah menstruasi, cairan vagina, dan cairan mani.(5) Menurut
teori, ada tiga rute yang mungkin untuk transmisi HBV dari ibu yang terinfeksi
kepada bayinya (1):
1. Transmisi transplasental dalam rahim.
a. Melewati barrier plasenta: darah ibu yang mengandung HbeAg positif dapat
melewati plasenta yang dapat diinduksi oleh kontraksi uterus selama
kehamilan dan gangguan barrier plasenta (seperti persalinan prematur atau
abortus spontan).
b. Penelitian lain juga menyebutkan bahwa HBV- DNA ada pada oosit wanita yang
terinfeksi dan sperma dari pria yang terinfeksi. Oleh karena itu, janin dapat
terinfeksi HBV sejak konsepsi jika salah satu pasangan terinfeksi HBV.
c. Kemungkinan lain transmisi intrauterin selain melalui darah ibu adalah
melalui sekret vagina yang mengandung virus.(1)
1. Transmisi saat melahirkan.
Transmisi HBV dari ibu ke janin saat persalinan dipercaya karena akibat
dari terpaparnya janin dengan sekret serviks dan darah yang terinfeksi saat
persalinan.(1)
2. Transmisi postnatal selama perawatan atau melalui ASI.
Infeksi HBV dapat terjadi postnatal, bukan hanya karena transmisi dari ibu
ke bayi namun dapat pula antar anggota keluarga yang terinfeksi ke bayi.
Selain itu, meskipun HBV-DNA ada pada ASI ibu yang terinfeksi,
menyusui bayi mereka bukan merupakan resiko tambahan untuk transmisi
HBV asalkan sudah diberikan imunoprofilaksis atau imunisasi sesaat setelah
lahir dan diberikan sesuai jadwal. Tidak perlu menunda menyusui hingga
bayi tersebut divaksin lengkap sesuai usia. (1,5)

13
1.4. Gejala Klinik
2.4.1 Fase Akut

Fase pre-ikterik atau fase prodormal dari gejala awal sampai fase ikterik
biasanya berkisar antara 3 hingga 10 hari. Fase ini biasanya tidak memiliki gejala
spesifik, namun biasanya pasien merasa tidak enak badan, anorexia, mual,
muntah, nyeri perut pada kuadran kanan atas, demam, sakit kepala, myalgia, rash
pada kulit, arthralgia dan arthritis, dan urin berwarna gelap, gejala-gejala ini dapat
terjadi 1 sampai 2 hari sebelum fase ikterik. Fase ikterik biasanya terjadi selama 1
hingga 3 minggu dan ditandai dengan ikterik, feses yang berwarna pucat atau
keabu-abuan, dan hepatomegali (splenomegali jarang terjadi). (6)

Hepatitis B akut terdiri dari fase ikterik dan fase resolusi. Fase ikterik ditandai
dengan sklera menjadi kuning dengan waktu rata-rata 90 hari sejak terinfeksi
sampai menjadi kuning. Pada pasien dengan bilirubin lebih dari 10 mg/dL,
keluhan lemas dan kuning biasanya berat dan keluhan dapat bertahan sampai
beberapa bulan sebelum resolusi sempurna. Gejala akut dapat berupa mual,
muntah, nafsu makan menurun, demam, nyeri perut dan ikterik.(7) McMahon dkk,
melaporkan hanya sekitar 30-50% orang dewasa mengalami fase ikterik pada
hepatitis B akut, sedangkan pada bayi dan anak-anak lebih jarang terjadi ikterik
pada hepatitis B akut. Resolusi dari hepatitis B akut berhubungan dengan
eliminasi virus dari darah dan munculnya anti-HBs.(8) Pasien hepatitis B akut
dengan sistem imun yang baik dapat sembuh spontan pada lebih dari 95% pasien,
sedangkan sisanya dapat berkembang menjadi infeksi hepatitis B kronik atau
hepatitis fulminan walaupun jarang terjadi. (9)

2.4.2 Fase Kronik

Secara sederhana manifestasi klinis Hepatitis B Kronik dapat dikelompokkan


menjadi 2 yaitu :
1 Hepatitis B kronik aktif. HbsAg positif dengan DNA VHB lebih dari 10 5
IU/ml didapatkan kenaikkan ALT (alanin aminotransferase) yang menetap

14
atau intermiten. Pada pasien sering didapatkan tanda-tanda penyakit hati
kronis. Pada biopsi hati didapatkan gambaran peradangan yang aktif.
Menurut status HBeAg pasien dikelompokkan menjadi Hepatitis B Kronik
HbeAg positif dan Hepatitis B Kronik HBeAg negatif.
2 Carrier VHB Inaktif ( Inactive HBV Carrier State). Pada kelompok ini
HBsAg positif dengan titer DNA VHB yang rendah yaitu kurang dari 10 5
IU/ml. Pasien menunjukkan kadar ALT normal dan tidak didapatkan
keluhan.
Pada hepatitis B tidak semua orang memiliki gejala dan tidak mengetahui
dirinya telah terinfeksi, khususnya pada anak-anak. Kebanyakan pada orang
dewasa gejalanya terjadi setelah 3 bulan paparan. Jika telah kronis akan
memunculkan gejala yang sama dengan infeksi akut setelah bertahun-tahun.(10)

Masa Inkubasi infeksi hepatitis B adalah 90 hari (rata-rata 60-150 hari).


Onset penyakit ini sering tersembunyi dengan gejala klinik yang tergantung usia
penderita. Kasus yang fatal dilaporkan di USA sebesar 0,5-1 %. Sebagian infeksi
akut VHB pada orang dewasa menghasilkan penyembuhan yang sempurna
dengan pengeluaran HBsAg dari darah dan produksi anti HBs yang dapat
memberikan imunitas untuk infeksi berikutnya. Diperkirakan 2-10 % infeksi VHB
menjadi kronis dan sering bersifat asimptomatik dimana 15-25 % meninggal
sebelum munculnya sirosis hepatis atau kanker hati. Gejala akut dapat berupa
mual, muntah, nafsu makan menurun, demam, nyeri perut dan ikterik. (7)

2.4.3 Laboratorium (11)

Hepatitis B surface antigen Mendeteksi protein pada permukaan virus


(HBsAg) hepatitis B. Jika hasilnya positif,
mengindikasikan bahwa orang tersebut
terinfeksi virus hepatitis B (akut atau kronis).
Hepatitis B e-antigen Menggambarkan replikasi dari virus hepatitis
(HBeAg) B. Beberapa pasien bisa saja tidak terdeteksi
memiliki HBeAg tapi positif terinfeksi virus

15
ini.

Hepatitis B surface antibody Menggambarkan imunitas atau kekebalan


(Anti HBs) tubuh seseorang terhadap HBsAg, baik karena
infeksi yang dialami atau karena vaksinasi.
Hepatitis B e antibody Menunjukkan imunitas seseorang yang
(Anti HBe) berespon terhadap virus yang bereplikasi.
Hepatitis B core antibody Menggambarkan sudah terinfeksi hepatitis
(Anti HBC) B.
Bisa terdapat IgG dan/atau IgM. IgM
menggambarkan infeksi akut dan dapat
menghilang jika infeksi sudah lama. Anti-
HBc (total) menggambarkan infeksi yang
akut, kronis atau sudah pernah terinfeksi
sebelumnya.
Hepatitis B virus DNA load Mengukur jumlah virus dalam darah dan
(HBV DNA) sebagai indikator seberapa aktifnya virus
tersebut bereplikasi.

2.5 Penatalaksanaan

2.5.1 Pada saat kehamilan

Profilaksis pada wanita hamil yang telah tereksposure dan rentan terinfeksi
adalah sebagai berikut:

1. Ketika kontak seksual dengan penderita hepatitis B terjadi dalam 14 hari

 Berikan vaksin VHB ke dalam musculus deltoideus. Tersedia 2


monovalen vaksin VHB untuk imunisasi pre-post eksposure yaitu
Recombivax HB dan Engerix-B. Dosis HBIg yang diberikan 0,06
ml/kgBB IM pada lengan kontralateral.

16
 Untuk profilaksis setelah tereksposure melalui perkutan atau luka
mukosa, dosis kedua HBIg dapat diberikan 1 bulan kemudian.
2. Ketika tereksposure dengan penderita kronis VHB

Pada kontak seksual, jarum suntik dan kontak nonseksual dalam rumah
dengan penderita kronis VHB dapat diberikan profilaksis post eksposure
dengan vaksin hepatitis B dengan dosis tunggal.(12)

Wanita hamil dengan carrier VHB dianjurkan memperhatikan hal-hal


sebagai berikut:

 Tidak mengkonsumsi alkohol dan obat-obatan hepatotoksik seperti


asetaminophen
 Jangan mendonorkan darah, organ tubuh, jaringan tubuh lain atau semen
 Tidak memakai bersama alat-alat yang dapat terkontaminasi darah seperti
sikat gigi, alat cukur dan sebagainya.
 Memberikan informasi pada ahli anak, kebidanan dan laboratorium bahwa
dirinya penderita hepatitis B carrier.
 Pastikan bayinya mendapatkan HBIg saat lahir, vaksin hepatitis B dalam
1 minggu setelah lahir, 1 bulan dan 6 bulan kemudian.(12)
Beberapa obat antiviral Hepatitis B yang direkomendasikan pada ibu hamil
menurut American Association for the Study of Liver Disease Practice Guidelines
Committee ditampilkan pada tabel berikut.

17
Tabel 2.1 Pengobatan Hepatitis B pada kehamilan (12)

2.5.2 Pada Saat Persalinan

Persalinan pengidap VHB tanpa infeksi akut tidak berbeda dengan penanganan
persalinan umumnya.(13)

 Pada infeksi akut VHB dan adanya hepatitis fulminan persalinan


pervaginam usahakan dengan trauma sekecil mungkin dan rawat bersama
dengan spesialis penyakit dalam (spesialis hepatologi). Gejala hepatitis
fulminan antara lain sangat ikterik, nyeri perut kanan atas, kesadaran
menurun, dan hasil pemeriksaan urin; warna seperti teh pekat, urobilin dan
bilirubin positif, pada pemeriksaan darah selain urobilin dan bilirubin
positif, SGOT dan SGPT sangat tinggi biasanya diatas 1000.
 Pada ibu hamil dengan Viral Load tinggi dapat dipertimbangkan
pemberian HBIG atau lamivudin pada 1 – 2 bulan sebelum persalinan.
Mengenai hal ini masih ada beberapa pendapat yang menyatakan

18
lamivudin tidak ada pengaruh pada bayi, tetapi ada yang masih
mengkhawatirkan pengaruh teratogenik obat tersebut.
 Persalinan sebaiknya jangan dibiarkan berlangsung lama, khususnya pada
ibu dengan HbsAg positif. Wong menyatakan persalinan berlangsung
lebih dari 9 jam, sedangkan Surya menyatakan persalinan berlangsung
lebih dar 16 jam, sudah meningkatkan kemungkinan penularan VHB
intrauterin. Persalinan pada ibu hamil dengan titer VHB tinggi (3,5 pg/ml)
atau HbsAg positif, lebih baik seksio sesarea. Demikian juga jika
persalinan yang lebih dari 16 jam pada pasien pengidap HbsAg positif.(13)

2.5.3 Pada Masa Nifas

Menyusui bayi tidak merupakan masalah. Pada penelitian telah dibuktikan


bahwa penularan melalui saluran cerna membutuhkan titer virus yang jauh lebih
tinggi dari penularan parenteral.(13)

2.5.4 Pada Neonatus

Indonesia masih merupakan negara endemis tinggi untuk Hepatitis B, di


dalam populasi, angka prevalensi berkisar 7-10%. Pada ibu hamil yang menderita
Hepatitis B, transmisi vertikal dari ibu ke bayinya sangat mungkin terjadi, apalagi
dengan hasil pemeriksaan darah HbsAg positif untuk jangka waktu 6 bulan, atau
tetap positif selama kehamilan dan pada saat proses persalinan, maka risiko
mendapat infeksi hepatitis kronis pada bayinya sebesar 80 sampai 95%. Perlu
adanya komunikasi aktif antara ibu, dengan dokter kandungan, dokter anak, atau
dengan bidan penolong agar memanajemen terhadap BBL dapat segera dimulai.
(14)

Penanganan secara multidisipliner antara dokter spesialis penyakit dalam,


spesialis kebidanan & kandungan dan spesialis anak. Satu minggu sebelum
taksiran partus, dokter spesialis anak mengusahakan vaksin hepatitis B
rekombinan dan imunoglobulin hepatitis B. Pada saat partus, dokter spesialis anak
ikut mendampingi, apabila ibu hamil ingin persalinan diltolong bidan, hendaknya
bidan diberitahukan masalah ibu tersebut, agar bidan dapat juga memberikan

19
imunisasi yang diperlukan. Ibu yang menderita hepatitis akut atau test serologis
HBsAg positif, dapat menularkan hepatitis B pada bayinya. (14)

 Berikan dosis awal Vaksin Hepatitis B (VHB) 0,5 ml segera setelah lahir,
seyogyanya dalam 12 jam sesudah lahir disusul dosis ke-2, dan ke-3 sesuai
dengan jadwal imunisasi hepatitis.
 Bila tersedia pada saat yang sama beri Imunoglobulin Hepatitis B 200 IU IM
(0,5 ml) disuntikkan pada paha yang lainnya, dalam waktu 24 jam sesudah
lahir (sebaiknya dalam waktu 12 jam setelah bayi lahir).
Mengingat mahalnya harga immunoglobulin hepatitis B, maka bila orang
tua tidak mempunyai biaya, dilandaskan pada beberapa penelitian,
pembelian HBIg tersebut tidak dipaksakan. Dengan catatan, imunisai aktif
hepatitis B tetap diberikan secepatnya.
 Yakinkan ibu untuk tetap menyusui dengan ASI, apabila vaksin diatas
sudah diberikan (Rekomendasi CDC), tapi apabila ada luka pada puting susu
dan ibu mengalami Hepatitis Akut, sebaiknya tidak diberikan ASI. (14)
Tatalaksana khusus sesudah periode perinatal :

a. Dilakukan pemeriksaan anti HBs dan HBsAg berkala pada usia 7 bulan (satu
bulan setelah penyuntikan vaksin hepatitis B ketiga) 1, 3, 5 tahun dan
selanjutnya setiap 1 tahun.

1) Bila pada usia 7 bulan tersebut anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan
ulang anti HBs dan HBsAg pada usia 1, 3, 5 dan 10 tahun.
2) Bila anti HBs dan HBsAg negatif, diberikan satu kali tambahan dosis
vaksinasi dan satu bulan kemudian diulang pemeriksaan anti HBs. Bila
anti HBs positif, dilakukan pemeriksaan yang sama pada usia 1, 3, dan 5
tahun seperti pada butir a.
3)
Bila pasca vaksinasi tambahan tersebut anti HBs dan HBsAg tetap negatif,
bayi dinyatakan sebagai non responders dan memerlukan pemeriksaan
lanjutan yang tidak akan dibahas pada makalah ini karena terlalu teknis.

20
4) Bila pada usia 7 bulan anti HBs negatif dan HBsAg positif, dilakukan
pemeriksaan HBsAg ulangan 6 bulan kemudian. Bila masih positif,
dianggap sebagai hepatitis kronis dan dilakukan pemeriksaan SGOT/PT,
USG hati, alfa feto protein, dan HBsAg, idealnya disertai dengan
pemeriksaan VHB-DNA setiap 1-2 tahun.
b. Bila HBsAg positif selama 6 bulan, dilakukan pemeriksaan SGOT/PT setiap
2-3 bulan. Bila SGOT/PT meningkat pada lebih dari 2 kali pemeriksaan
dengan interval waktu 2-3 bulan, pertimbangkan terapi anti virus. (14)
2.6 Pengaruh Terhadap Kehamilan dan Bayi

Dilaporkan 10-20 % ibu hamil dengan HBsAg positif yang tidak


mendapatkan imunoprofilaksis menularkan virus pada neonatusnya dan ± 90 %
wanita hamil dengan seropositif untuk HBsAg dan HBeAg menularkan virus
secara vertikel kepada janinnya dengan insiden ± 10 % pada trimester I dan 80-
90% pada trimester III. Adapun faktor predisposisi terjadinya transmisi vertikal
adalah:

1. Titer DNA VHB yang tinggi

2. Terjadinya infeksi akut pada trimester III

3. Pada partus memanjang yaitu lebih dari 9 jam(14)

Sedangkan ± 90 % janin yang terinfeksi akan menjadi kronis dan


mempunyai risiko kematian akibat sirosis atau kanker hati sebesar 15-25 % pada
usia dewasa nantinya. Infeksi VHB tidak menunjukkan efek teratogenik tapi
mengakibatkan insiden Berat Badan Lahir Rendah ( BBLR ) dan Prematuritas
yang lebih tinggi diantara ibu hamil yang terkena infeksi akut selama kehamilan.
Dalam suatu studi pada infeksi hepatitis akut pada ibu hamil (tipe B atau non B)
menunjukkan tidak ada pengaruh terhadap kejadian malformasi kongenital, lahir
mati atau stillbirth, abortus, ataupun malnutrisi intrauterine. Pada wanita dengan
karier VHB tidak akan mempengaruhi janinnya, tapi bayi dapat terinfeksi pada
saat persalinan (baik pervaginam maupun perabdominal) atau melalui ASI atau
kontak dengan karier pada tahun pertama dan kedua kehidupannya. Pada bayi

21
yang tidak divaksinasi dengan ibu karier mempunyai kesempatan sampai 40 %
terinfeksi VHB selama 18 bulan pertama kehidupannya dan sampai 40% menjadi
karier jangka panjang dengan risiko sirosis dan kanker hepar dikemudian harinya.
(14)

Ibu hamil yang karier VHB dianjurkan untuk memberikan bayinya


Imunoglobulin Hepatitis B (HBIg) sesegera mungkin setelah lahir dalam waktu 12
jam sebelum disusui untuk pertama kalinya dan sebaiknya vaksinasi VHB
diberikan dalam 7 hari setelah lahir. Imunoglobulin merupakan produk darah yang
diambil dari darah donor yang memberikan imunitas sementara terhadap VHB
sampai vaksinasi VHB memberikan efek. Vaksin hepatitis B kedua diberikan
sekitar 1 bulan kemudian dan vaksinasi ketiga setelah 6 bulan dari vaksinasi
pertama.(14)

Tes hepatitis B terhadap HBsAg dianjurkan pada semua wanita hamil pada
saat kunjungan antenatal pertama atau pada wanita yang akan melahirkan tapi
belum pernah diperiksa HbsAg-nya. Lebih dari 90 % wanita ditemukan HbsAg
positif pada skreening rutin yang menjadi karier VHB. Tetapi pemeriksaan rutin
wanita hamil tua untuk skreening tidak dianjurkan kecuali pada kasus-kasus
tertentu seperti pernah menderita hepatitis akut, riwayat tereksposure dengan
hepatitis, atau mempunyai kebiasaan yang berisiko tinggi untuk tertular seperti
penyalahgunaan obat-obatan parenteral selama hamil, maka test HbsAg dapat
dilakukan pada trimester III kehamilan. HbsAg yang positif tanpa IgM anti HBc
menunjukkan infeksi kronis sehingga bayinya harus mendapat HBIg dan vaksin
VHB.(14)

22
DAFTAR PUSTAKA

1. Navabaksh B. Hepatitis B Virus Infection During Pregnancy :


Transmission and Prevention. Iran: Midle East Journal of Digestive
Diseases; 2011. p. 92-102.

2. Khakhkhar Vipul. Sero-Prevalence of Hepatitis B Amongst Pregnant


Women Attending the Antenatal Clinic of a Tertiary Care Hospital,
Jamnagar (Gujarat).Jamnagar: National Journal of Medical Research;
2012. p. 362-65.

3. Olaitan AO. Prevalence of Hepatitis B Virus and Hepatitis C Virus in


ante-natal patients in Gwagwalada-Abuja, Nigeria. Nigeria: Deprtment of
Biological Sciences; 2010. p. 48-50

4. Indarso F. Penatalaksanaan Bayi Baru Lahir yang Bermasalah. Surabaya;


2011.

5. Guidelines for the Prevention, Care and Treatment of Persons with


Chronic Hepatitis B Infection. World Health Organization. 2015.

6. Epidemiology and Prevention of Vaccine-Preventable Diseases. Centers


for Disease Control and Prevention. 2015. 13th edition. p. 149-74

7. Gerberding JL, Snider DE, Popovic T. A Comprehensive Immunization


Strategy to Eliminate Transmission of Hepatitis B Virus Infection in the
United States. Cent. Dis. Control Prev. 2005;54

23
8. Shiffman ML. Management of Acute Hepatitis B. Clin. Liver Dis.
2010;14:75–91

9. Tillmann HL, Zachou K, Dalekos GN. Management of Severe Acute to


Fulminant Hepatitis. Liver Int. 2011;1–10

10. Department of Health & Human Service. Center for Disease Control and

Prevention, Hepatitis B General Information. Cent. Dis. Control. 2010

11. Government of Western Australia. Department of Health. Women and


Newborn Health Service. King Edward Memorial Hospital. Antenatal
Care Hepatitis B in Pregnancy. Australia. 2015

12. Apuzzio J, Block JM, Cullison S, Cohen C, Leong SL, London WT, et al.
Chronic Hepatitis B in Pregnancy. Female Patient (Parsippany).
2012;37(April)

13. Prawirohardjo S. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Bina Pustaka Sarwono


Prawirohardjo; 2014. p. 906 – 907

14. Shiffman ML. Management of Acute Hepatitis B. Clin. Liver Dis.


2010;14:75–91

15. World Health Organization. Hepatitis B. 2002;2.

16. Giles ML, Grace R, Tai A, Michalak K, Walker SP. Prevention of Mother
to Child Transmission of Hepatitis B Virus During Pregnancy and The
Puerperium. Aust. New Zeal. J. Obstet. Gynaecol. 2013

24