Anda di halaman 1dari 20

JUDUL

ETIKA DAN TANGGUNG JAWAB SOSIAL DALAM BISNIS INTERNASIONAL

TUGAS MATA KULIAH

BISNIS INTERNASIONAL

KELAS D

KELOMPOK : 3

NAMA KELOMPOK:

1. PUTRI AGUSTIN 150810301012


2. SHITA SILVIA N.R 150810301027
3. SITI KHODIJAH 150810301103
4. GITA KINANTI M. 150810301105
5. PRIANDINI RAHMAWATI P. 150810301120

FAKULTAS EKONOMI DAN BISNIS

UNIVERSITAS JEMBER

TAHUN 2017
KATA PENGANTAR

Segala puji hanya milik Allah SWT. Shalawat dan salam selalu tercurahkan kepada
Rasulullah SAW. Berkat limpahan dan rahmat-Nya penyusun mampu menyelesaikan
makalah ini guna memenuhi tugas Bisnis Internasional

Dalam penyusunan makalah ini, tidak sedikit hambatan yang kami hadapi. Namun
kami menyadari bahwa kelancaran dalam penyusunan makalah ini tidak lain berkat bantuan,
dorongan, dan bimbingan orang tua serta dosen pembimbing sehingga kendala-kendala yang
kami hadapi teratasi.

Makalah ini disusun agar pembaca dapat memperluas ilmu tentang Etika dan
Tanggung Jawab Sosial dalam Bisnis Internasional. Makalah ini di susun oleh penyusun
dengan berbagai rintangan. Baik itu yang datang dari diri penyusun maupun yang datang dari
luar. Namun dengan penuh kesabaran dan terutama pertolongan dari Allah akhirnya makalah
ini dapat terselesaikan.

Semoga makalah ini dapat memberikan wawasan yang lebih luas dan menjadi
sumbangan pemikiran kepada pembaca khususnya para mahasiswa Universitas Jember. Kami
sadar bahwa makalah ini masih banyak kekurangan dan jauh dari sempurna. Untuk itu kami
mengharapkan kritik dan saran dari para pembaca.

Jember, Oktober 2017

Penyusun
DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR .......................................................................................................

DAFTAR ISI ......................................................................................................................

BAB I PENDAHULUAN ..................................................................................................

1.1 Latar Belakang .............................................................................................................

1.2 Rumusan Masalah ........................................................................................................

1.3 Tujuan ...........................................................................................................................

BAB II PEMBAHASAN ...................................................................................................

2.1 Sifat Etika Dan Tanggung Jawab Sosial Dalam Bisnis Internasional ..........................

2.2 Etika dalam konteks lintas budaya dan internasional ..................................................

2.3 Mengelola perilaku etis Lintas Batas ............................................................................

2.4 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Konteks Lintas Budaya dan Internasional
.............................................................................................................................................

2.5 Mengelola Tanggung Jawab Sosial Lintas Batas..........................................................

2.6 Kesulitan Mengelola CSR Lintas Perbatasan ...............................................................

BAB III PENUTUP ...........................................................................................................

3.1 Kesimpulan ............................................................................................................


DAFTAR PUSTAKA ........................................................................................................
BAB I PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Di umum, pekerti bisnis dapat didefinisikan sebagai satu prinsip standar atau moril
diterapkan pada satu organisasi bisnis. Untuk berkelakuan pada satu secara etis dan secara
sosial cara bertanggung-jawab harus menjadi tanda dari tiap-tiap perilakunya businessperson,
domestik atau internasional. Masalah utama bangun dari pertanyaan moral dari apa benar dan
atau menyesuaikan bersikap itu beberapa dilema untuk pemasar domestik. Masalah dari etika
bisnis adalah infinitely lebih rumit pada bisnis internasional karena pertimbangan menghargai
membedakan secara luas antara secara cultural group berbeda. Apa itu biasanya diterima
seperti kanan di negara sesuatu dengan sepenuhnya yang tidak dapat diterima pada lain.
Beberapa aspek berhubungan ke pekerti bisnis di bisnis international meliputi definisi dan
teori dari etika, masalah etis di bisnis internasional, kode etis dari satu kemasyarakatan
organisasi bisnis dan perusahaan tanggungjawab dijelaskan. Kegiatan bisnis yang meningkat
di dunia dewasa ini, telah menimbulkan tantangan baru, yaitu adanya tuntutan praktik bisnis
yang baik, etis, dan menjadi dasar kehidupan bisnis yang dapat diterima oleh banyak negara
di dunia. Dalam kegiatan bisnis internasional, perusahaan akan mampu bertahan apabila
mampu bersaing. Untuk dapat bersaing tentunya harus memiliki daya saing, yang di
antaranya dihasilkan dari produktivitas dan efisiensi. Untuk itu diperlukan etika dalam
berusaha atau berbisnis, karena praktik usaha yang tidak etis dapat menimbulkan kegagalan
pasar , mengurangi produktivitas dan meningkatkan ketidakefisienan.

1.2 Rumusan Masalah

1. Apa yang dimaksud Etika Bisnis?

2. Masalah – masalah yang timbul didalam Etika Bisnis Internasional ?

3. Bagaimana tanggung jawab perusahaan terhadap sosial ?

1.3 Tujuan

1. Untuk Mengetahui Apa yang dimaksud Etika Bisnis

2. Untuk Mengetahui Masalah – masalah yang timbul didalam Etika Bisnis Internasional

3. Untuk Mengetahui Bagaimana tanggung jawab perusahaan terhadap sosial


BAB II PEMBAHASAN

2.1 Sifat Etika Dan Tanggung Jawab Sosial Dalam Bisnis Internasional

Alasan dasar keberadaan suatu bisnis adalah untuk menciptakan nilai (biasanya dalam
bentuk keuntungan) bagi pemiliknya. Selain itu, sebagian besar orang bekerja untuk
memperoleh penghasilan untuk kehidupan mereka atau keluarga mereka. Sebagai akibatnya,
tujuan dari setiap keputusan yang dibuat untuk kepentingan bisnis atau individu dalam bisnis
adalah meningkatkan penghasilan dan mengurangi biaya. Dalam banyak kasus pelaku bisnis
mengambil keputusan dan terlibat dalam perilaku, baik perilaku pribadi mereka maupun
perilaku organisasi mereka, yang dapat diterima oleh masyarakat. Namun terkadang mereka
menyimpang terlalu jauh dari apa yang dipandang oleh orang lain sebagai perilaku yang
diterima.

Etika sebagai kepercayaan individu tentang apakah keputusan, perilaku, atau tindakan
tertentu benar atau salah. Oleh karena itu, apa yang merupakan perilaku etis bervariasi dari
satu orang keorang lain. Mialnya , seseorang yang menemukan uang kertas pecahan 20 euro
dilantai disebuah ruang kosong mungkin merasa tidak apa – apa untuk mengambilnya,
sementara orang lain merasa terdorong untuk menyerahkannya kedepartemen barang hilang
dan orang yang ketiga akan memberikannya untuk amal. Lebih jauh, meskipun etika
didefinisikan dalam konteks keyakinan individual, Konsep perilaku etis biasanya merujuk ke
perilaku yang diterima oleh norma sosial umum. Perilaku tidak etis adalah perilaku yang
tidak sesuai dengan norma sosial umum.

Etika seseorang individu ditentukan oleh gabungan beberapa faktor. Orang mulai
membentuk kerangka etis dimasa kanak –kanak sebagai respons terhadap persepsi mereka
terhadapa perilaku orang tua atau orang dewasa lainnya yang berhubungan dengan mereka.
Seiring anak –anak tumbuh dan memasuki sekolah, mereka dipengaruhi oleh teman sebaya
yang berinteraksi dengan mereka dikelas dan tempat bermain. Kejadian sehari –hari yang
yang memaksa pelakunya mengambil pilihan moral- seorang teman yang meminta untuk
menyalin pekerjaan rumah , seorag ayah yang secara tidak sengaja menggores mobil yang
akan diparkir ketika saksinya hanyalah anaknya, atau sorang anak yang mlihat ibunya
menerima kembalian terlalu banyak dari kasir supermarket – membentuk keyakinan etis dan
perilaku seseorang seiring mereka tumbuh menjadi dewasa. Hal serupa, pelatihan keagamaan
seseorang berkontribusi pada etika orang tersebut. Beberapa keyakinan agama , misalnya,
mempromosikan kode perilaku dan standart perilaku yang kaku, sementara yang lainnya
memeberikan lebih banyak fleksibelitas. Nilai – nilai seseorang juga mempengaruhi standart
etika. Orang yang menempatkan keuntungan finansial dan kemajuan pribadi di puncak daftar
prioritas mereka, misalnya akan mengadopsi kode etika pribadi yang mementingkan
pengejaran kekayaan. Jadi mereka dapat bersikap kejm dalam usahanya untuk mendapatkan
imbalan- imbalan ini, tanpa memandang kerugiannya terhadap orang lain. Sebaliknya orang
yang jelas –jelas menetapkan keluarga atau teman mereka dipuncak prioritas mereka akan
mengadopsi standart etika yang berbeda.

Suatu masyarakat biasanya mengadopsi hukum formal yang menunjukkan standar


etika yang ada yaitu norma sosial dari anggotanya. Sebagai contoh, karena sebagian besar
orang menganggap pencurian sebagai tindakan yang tidak etis, sebagian besar negara telah
mengesahkan hukum yang membuat perilaku tersebut ilegal dan menghukum bagi mereka
yang mencurinya. Namun demikian, meskipun hukum telah diusahakan agar jelas dan tidak
ambigu, aplikasi dan interpretasinya masih menimbulkan ambiguitas etis. Oleh karena itu,
hukum telah disahkan dibeberapa negara untuk menetapkan standart kerja dan upah. Namun ,
penetapan hukum tersebut kesituasi organisasi masih dapat menimbulkan situasi ambigu yang
dapat diinterpretasikan dengan carayang berbeda. Dijepang sebagai contoh, berdasarkan adat
kebiasaan karyawan junior tidak dapat meninggalkan kantor hingga orang yang lebih senior
pergi, sementara di Amerika Serikat atasan harusah menjadi terakhir meninggalkan kantor.
Ekspektasi ini sering kali lebih kuat dalam membentuk perilaku dibandingkan eksistensi
hukum saja.

Definisi-definisi ini memberikan generalisasi sebagai berikut:

a. Setiap individu mempunyai sistem kepercayaan sendiri tentang apa yang menjelaskan
dengan mudah perilaku etis dan tidak etis.

b. Masyarakat dari konteks budaya yang sama cenderung mempunyai kesamaan


kepercayaan tetapi tidak harus identik yang membentuk perilaku etis dan yang tidak etis.

c. Setiap individu dapat merasionalisasi perilaku berdasarkan keadaan.

d. Setiap individu dapat menyimpang dari sistem kepercayaan mereka berdasarkan kondisi
keadaan.

e. Nilai etika sangat dipengaruhi oleh kebudayaan dan adat sosial.Nilai-nilai sering
berpusat pada beberapa hal seperti waktu, usia, pendidikan, dan status. Nilai-nilai juga
mempengaruhi bagaimana individu mendefinisikan perilaku etis dibandingkan yang tidak
etis.

f. Anggota suatu budaya dapat melihat perilaku tertentu tidak etis, sedangkan anggota
kelompok yang lain dapat melihatnya masuk akal.

Sekalipun demikian, yang ingin ditekankan bahwa etika ialah konsep individu yang
berbeda-beda. Organisasi sendiri tidak mempunyai etika, tetapi benar-benar mengkaitkan
dirinya dengan lingkungan mereka melalui cara-cara yang melibatkan keputusan etika oleh
individu didalam organisasi itu.

2.2 Etika dalam konteks lintas budaya dan internasional

Cara yang berguna untuk menggambarkan perilaku etika dalam konteks lintas budaya
dan internasional adalah berdasarkan bagaimana organisasi memperlakukan karyawannya,
bagaimana karyawan memperlakukan organisasi dan bagaimana organisasi dan karyawan
memperlakukan agen ekonomi yang lain.

Bagaimana organisasi memperlakukan karyawannya.

Satu hal yang penting dalam etika lintas budaya dan internasional adalah perlakuan
terhadap karyawan oleh organisasi. Pada sisi ekstrim, organisasi dapat berusaha
mempekerjakan orang-orang yang terbaik, memperluas kesempatan dan pengembangan karir,
memberikan kompensasi dan tunjangan yang bagus dan menghormati hak pribadi dan
kebebasan masing-masing karyawan. Pada sisi ekstrim lainya, perusahaan dapat
mempekerjakan berdasarkan kriteria yang merugikan atau pilih kasih, dapat sengaja
membatasi kesempatan berkembang, dapat memberikan kompensasi yang minim, dan dapat
memperlakukan karyawan secara tidak berperasaan dan denga tanpa mempertimbangkan
harga diri.

Dalam prakteknya, bidang-bidang yang rentan terhadap perbedaan etika meliputi


mengangkat dan memberhentikan, upah dan kondisi kerja, dan privasi dan menghargai
karyawan. Di beberapa negara baik pedoman etis maupun hukum menyatakan bahwa
keputusan perekrutan dan pemecatan harus didasarkan hanya pada kemampuan seseorang
individu untuk melakukan pekerjaan tersebut. Namun, dinegara lain benar –benar sah untuk
memberikan perlakuan pilih kasih terhadap individu berdasarkan gender, etnis , usia atau
faktor lainnya yang tidak sehubugan dengan pekerjaan.

Upah dan kondisi kerja, meskipun diregulasi di beberapa negara, juga merupakan area
berpoteni kontroversial. Manajer yang membayar karyawan kurang dari upah yang layak ia
terima, hanya karena manajer tersebut tahu bahwa si karyawan tidak mungkin berhenti
sehingga tidak akan berisiko kehilangan pekerjaan karena mengeluh, dapat dianggap tidak
etis. Sama halnya dibebrapa negara orang akan setuju bahwa organisasi berkewajiban
melindungi privasi karyawannya.

Manajer dalam organisasi internasional menghadapi sejumlah tantangan- tantangan


nyata yang berhubungan dengan hal ini. Perusahaan perlu mengenali norma etis lokal di
negara tertentu dalam memprlakukan karyawan mereka, tetapi juga harus siap untuk
ditandingkan dengan perbandingan internasional. Pertimbangan berbagai dilema etis yang
diakibatkan oleh outscoursing produksi kelokasi diluar negeri. Dari satu perspektif dapat
dikatakan bahwa perusahaan terikat secara etis karena tanggung jawab kepercayaan terhadap
pemegang saham untuk memindahkan pekerjaan ke tempat yang berbiaya lebih rendah.
Namun, sejumlah kritikus akan berargumen bahwa praktik ini tidak etis karena merendahkan
nilai dari banyak kontribusi pekerja terhadap perusahaan dan mengabaikan kesulitan yang
dialami oleh pekerja yang diberhentikan. Di beberapa negara , seperti jepang , outscoursing
perusahaan agresif yang menghasilkan pemberhentian domestik melanggar perjanjian inplisit
perusahaan tersebut untuk memberikan pekerjaan seumur hidup. Isu etis yang dihadapi
manajer perusahaan tidak berakhir setelah produksi dipindahkan keluar negeri atau dialihkan
dengan autscoursing. Semakin banyak MNC yang dapat menerima tanggung jawab untuk
memastiakan bahwa pemasok mereka memperlakukan pekerja mereka dengan adil dan
memberi mereka kondisi kerja yang aman.

Bagaimana Karyawan memperlakukan organisasi

Isu etis dalam hubungan ini meliputi konflik kepentingan, kerahasiaan, dan kejujuran.
Konflik kepentingan terjadi jika sebuah keputusan mempunyai potensi menguntungkan dan
merugikan organisasi. Persepsi etis mengenai pentingnya konflik kepentingan berbeda bagi
masing-masing budaya. Pertimbangkan contoh sederhana dari sebuah pemasok yang
menawarkan hadiah kepada karyawan perusahaan. Beberapa perusahaan percaya bahwa
hadiah seperti ini dapat menciptakan konflik kepentingan. Mereka khawatir bahwa karyawan
tersebut akan mulai mendahulukan pemasok yang menawarkan hadiah yang terbaik,
dibandingkan dengan pemasok yang produknya terbaik bagi perusahaan. Untuk mencegah
bahaya seperti ini, banyak perusahaan mempunyai kebijakan yang melarang pembeli mereka
untuk menerima hadiah dari pemasok.

Membuka rahasia perusahaan dipandang tidak etis di beberapa negara, tetapi tidak di
negara lainnya. Karyawan yang bekerja untuk sebuah bisnis industri yang memiliki
persaingan ketat dapat tergoda untuk menjual informasi tentang perencanaan penjualan ke
kompetitor.

Bidang yang ketiga yang diperhatikan adalah kejujuran secara umum. Problem yang
umum di bidang ini meliputi hal-hal seperti menggunakan telepon kantor untuk telepon jarak
jauh buat kepentingan pribadi, mengambil barang-barang kantor, dan menggelembungkan
biaya-biaya. Dalam beberapa budaya bisnis, tindakan-tindakan seperti ini dipandang tidak
etis, dinegara lainnya, karyawan dapat mengembangkan pengertian bahwa jika “saya bekerja
disini, maka tanggung jawab perusahaan untuk memenuhi kebutuhan saya.” Potensi
konfliknya adalah jelas ketika individu dari perspektif etis yang berlainan bekerja bersama.

Bagaimana karyawan dan organisasi memperlakukan agen ekonomi lainnya.

Perspektif utama ketiga memandang etika melibatkan hubungan antara perusahaan


dan karyawannya dengan agen ekonomi lainnya. Agen utama meliputi konsumen,
kompetitor, pemegang saham, pemasok, dealer, dan serikat pekerja. Jenis interaksi antara
organisasi dengan agen-agen ini rentan terhadap ambigu etis yang meliputi iklan dan
Promosi, pembukaan rahasia keuangan, pemesanan dan pembelian, pengiriman dan
pemindahan, tawar menawar dan negosiasi, dan hubungan bisnis lainnya.

Perbedaan dalam praktik bisnis lintas negara menciptakan kompleksitas etis yang
lebih besar bagi perusahaan dan karyawan mereka. Disejumlah negara dengan penyuapan
kecil dan pembayaran sampingan merupakan bagian yang normal dan menjadi kebiasaan
dalam melakukan bisnis; perusahaan asing sering mengikuti adat kebiasaan lokal tanpa
memandang apa yang dianggap sebagai praktik yang etis dinegara asalnya.

2.3 Mengelola perilaku etis Lintas Batas

Cara-cara yang paling umum untuk melakukan ini adalah dengan menggunakan
penunutun atau standar etika, pelatihan etika, dan melalui praktek organisasi dan budaya
perusahaan.
 Pedoman dan kode etik
Sebuah perusahaan multinasional harus mengambil keputusan apakah membuat satu
standar menyeluruh untuk semua unit global atau apakah harus menyesuaikan masing-masing
dengan konteks lokal. Sama halnya, jika sebuah perusahaan mengakuisisi cabang luar negeri,
ia harus memutuskan apakah menerapkan peraturan perusahaan terhadap cabang tersebut atau
membiarkannya memepertahankan yang telah mereka ikuti selama ini. Supaya sebuah
peraturan mempunyai nilai, tentu saja, itu harus jelas dan langsung, itu harus menyelesaikan
unsur-unsur utama pelaksanaka etika yang sesuai dengan lingkungan dan operasi bisnisnya,
dan itu harus diterapkan saat problem muncul.

 Pelatihan etika.
Beberapa perusahaan multinasional memperhatikan isu etis secara proaktif dengan
menawarkan pelatihan karyawan bagaimana mengatasi dilema etika. Sesi pelatihan
melibatkan diskusi tentang berbagai dilema etika yang mungkin dihadapi karyawan dan
bagaimana mereka mengatasi dilema ini secara terbaik.

 Praktik organisasi dan budaya organisasi


Praktek organisasi dan budaya perusahaan juga menyumbang ke pengelolaan perilaku
etika. Jika pemimipin utama di suatu perusahaan bersikap etis dan pelanggaran standar etika
diatasi secara langsung dengan benar, maka setiap orang di organisasi akan memahami
bahwa perusahaan mengharapkan mereka untuk bersikap etis, membuat keputusan yang etis
dan melakukan hal yang benar. Tetapi jika para pemimpin puncak nampak membebaskan diri
mereka dari standar etika atau memilih untuk mengabaikan atau menganggap ringan perilaku
yang tidak etis, dan memberikan kesan yang sebaliknya bahwa melakukan sesuatu yang tidak
etis dapat diterima jika anda dapat mencapai tujuan anda.

Etika bisnis yang dianut oleh Soros dan para pedagang valas lainnya patut dipertanyakan.
Ketika Soros melakukan transaksi valas, dia sudah bisa memprediksikan kehancuran negara-
negara Asia sebagai akibat dari transaksi itu. Namun, Soros tetap melakukannya dan
terjadilah krisis hebat yang menyengsarakan puluhan juta rakyat Asia Tenggara. Tetapi
menurut pendapat Soros, kesalahan terletak pada pemerintahaan yang tidak transparan dan
despotic di negara-negara Asia. Menurut Soros, pasar akan menentukan dirinya sendiri.
Artinya, bisnis yang dia lakukan hanya semata-mata memenuhi peluang pasar. Soros juga
memberikan sebagian uangnya untuk membantu rakyat miskin di berbagai negara, melalui
lembaga Soros Foundation.
2.4 Tanggung Jawab Sosial Perusahaan dalam Konteks Lintas Budaya dan
Internasional

Etika dalam bisnis berhubungan dengan manajer secara individual dan karyawan lain
serta keputusan dan perilaku mereka. Organisasi itu sendiri tidak mempunyai etika, tetapi
dapat berhubungan dengan lingkungan mereka dengan cara yang sering melibatkan dilema
etis dan keputusan oleh individu-individu dalam organisasi tersebut. Situasi ini biasanya
dirujuk dalam konteks tanggung jawab sosial organisasi. Secara spesifik, tanggung jawab
sosial perusahaan (corporate social responsibility‒CSR) adalah serangkaian tanggung jawab
yang dilakukan perusahaan untuk melindungi dan mengangkat masyarakat dimana mereka
berfungsi.

Meskipun definisi mengenai dari CSR dapat bervariasi dari satu negara ke negara lain
dan dari satu organisasi ke organisasi lain, kerangka yang paling umum digunakan untuk
mendefinisikan CSR adalah triple bottom line, yaitu gagasan bahwa perusahaan harus
memerhatikan dan menyeimbangkan tiga tujuan dalam merumuskan dan menerapkan strategi
dan keputusan mereka:

 Memenuhi misi ekonomi mereka, menghasilkan laba bagi pemegang saham mereka
serta menciptakan nilai untuk pemangku kepentingan mereka.
 Melindungi lingkungan.
 Mengangkat kesejahteraan umum masyarakat.

Misi Ekonomi

Dalam model pemegang saham (shareholder model) tradisional, tujuan sebuah


perusahaan adalah untuk memaksimalkan nilai laba sekarang setelah dikurangi pajak yang
mengalir seiring waktu kepada pemegang saham. Ini bukan tugas yang mudah dalam
ekonomi global yang sangat kompetitif. Perusahaan bisa mendapatkan laba hanya dengan
memasarkan produk yang bersedia dibeli oleh konsumen dengan harga yang bersedia
dibayarkan oleh mereka; selain itu, mereka ditekan oleh rival industri mereka untuk
memproduksi produk-produk ini sambil menggunakan sumber daya masyarakat yang langka
sesedikit mungkin. Namun, dalam beberapa dekade terakhir, model pemangku kepentingan
dari perusahaan telah menjadi lebih menonjol, yang telah membuat tugas untuk memberikan
nilai kepada pemegang saham menjadi lebih kompleks. Pendukung atas model pemangku
kepentingan (stakeholder model) berargumen bahwa perusahaan perlu mempertimbangkan
kepentingan dari pemangku lainnya serta pemegang saham dalam mencapai keputusan.
Pemangku kepentingan adalah individu, kelompok, dan organisasi yang dapat dipengaruhi
oleh kinerja dan keputusan perusahaan tersebut. Pemangku kepentingan primer (primary
stakeholders)‒individu dan organisasi yang dipengaruhi secara langsung oleh praktik
organisasi dan yang mempunyai kepentingan ekonomi dalam kinerja organisasi tersebut‒
termasuk karyawan, pelanggan, dan investor. Pemangku kepentingan sekunder (secondary
stakeholders) adalah individu atau kelompok yang dapat dipengaruhi oleh keputusan
perusahaan, tetapi yang tidak secara langsung terlibat dalam transaksi ekonomi dengan
perusahaan tersebut, seperti media berita, organisasi non pemerintah (nongovermental
organizations‒NGO), atau komunitas dimana perusahaan tersebut beroperasi.

Keberlangsungan dan Lingkungan Alam

Komponen kedua dari triple bottom line adalah melindungi lingkungan alam.
Sebagian besar negara mempunyai hukum yang berusaha melindungi dan meningkatkan
kualitas air, tanah, dan udara mereka. Sayangnya, di beberapa negara, penegakan hukum ini
lemah atau tidak dilakukan. Perusahaan terkadang memandang bahwa dengan mengikuti
hukum ‒tidak lebih, tidak kurang‒ telah memenuhi tanggung jawab mereka terhadap
lingkungan alam.

Kesejahteraan Sosial Umum

Beberapa orang percaya bahwa selain memperlakukan para pemangku kepentingan


mereka dan lingkungan secara bertanggung jawab, organisasi bisnis juga harus
mempromosikan kesejahteraan umum masyarakat. Contohnya meliputi kontribusi terhadap
kegiatan amal, organisasi filantropis, serta yayasan dan asosiasi nirlaba; dukungan kepada
museum, simfoni, serta radio dan televisi publik; dan mengambil peran dalam meningkatkan
kesehatan dan pendidikan masyarakat. Beberapa orang juga meyakini bahwa perusahaan
harus bertindak lebih luas lagi untuk mengoreksi ketidakadilan politik dan sosial yang
terdapat di dunia. Sebagai contoh, para pengamat ini berargumen bahwa bisnis seharusnya
tidak melakukan operasi di negara dengan catatan pelanggaran hak asasi manusia, seperti
Korea Utara atau Sudan.
2.5 Mengelola Tanggung Jawab Sosial Lintas Batas

Dalam hal pengelolaan tanggung jawab, bisnis biasanya membuat beberapa usaha aktif untuk
mengatasi tanggung jawab sosial. Perusahaan akan mengadopsi satu dari empat pendekatan
berbeda terhadap tanggung jawab social.

Pendekatan terhadap tanggung jawab sosial

Dasar dari pendekatan ini adalah berupa kewajiban organisasi terhadap masyarakat yang
terdapat dalam rentang dari tingkat terendah sampai tertinggi di bidang praktek tanggung
jawab socsal. Ada 4 pendirian yang dapat diambil oleh organisasi dalam pendekatan
kewajiban terhadap masyarakat, yaitu:
1. Sikap pandang menghalangi
Yaitu biasanya organisasi melakukan sedikit mungkin untuk mengatasi masalah social dan
lingkungan, umumnya berupa penolakan atau penghindaran tanggung jawab atas tindakan
mereka. Contohnya ketika perusahaan Nestle dan Danone yang dituduh telah melanggar
perjanjian internasional dengan mengendalikan pemasaran susu formula yang menggantikan
air susu ibu, padahal Nestle telah menandatangani perjanjian untuk menekankan pentingnya
peranan ibu menyususi.
2. Sikap pandang bertahan
Dimana organisasi melakukan segala sesuatu yang dipersyaratkan secara hukum tetapi tidak
lebih. Pendekatan ini sering dilakukan oleh perusahaan yang tidak simpati pada konsep
tanggung jawab sosial. Contohnya adalah perusahaan Philip Morris, perusahaan ini mengikuti
peraturan di Amerika Serikat dengan memasukkan peringatan pada perokok tentang produk
mereka dan membatasi iklan di media, akan tetapi mereka mempromosikan besar-besaran
produknya serta sedikit sekali memakai label peringatan kesehatan di beberapa negara di
Afrika.

3. Sikap pandang akomodatif


Dimana perusahaan yang memenuhi persyaratan hukum dan persyaratan etika tetapi juga
akan melakukan lebih dari persyaratan ini dalam kasus tertentu.
Sikap pandang proaktif, dimana perusahaan sungguh-sungguh mendukung tanggung jawab
social, mereka melihat diri mereka sebagai warga masyarakat dan secara proaktif mencari
kesempatan untuk menyumbang.
Mengelola kesesuaian terhadap peraturan

Seperti yang dilihat bahwa ada celah bagi manajer yang gagal untuk mengadopsi standar
etika tinggi dan bagi perusahaan untuk mengelak dari tanggung jawab hukumnya. Seharusnya
mereka bisa memandang tanggung jawab social sama seperti mereka memandang strategi
bisnis yang lain. Dengan memandang bahwa tanggung jawab social juga memerlukan
perencanaan, pengambilan keputusan, pertimbangan dan evaluasi yang cermat. Dimana
dalam pengelolaannya, tanggung jawab social harus sesuai dengan peraturan atau kesesuaian
dengan hukum yang berlaku. Misalnya pimpinan eksekutif sumber daya manusia
bertanggung jawab untuk menyesuaikan dengan hokum yang terkait dalam hal perekrutan,
pembayaran, keselamatan dan kesehatan kerja.

Pengelolaan tanggung jawab harus memiliki kesesuaian dengan etika, yaitu dengan
memberikan pelatihan mengenai etika dan menyusun panduan serta peraturan etika. Selain itu
pengelolaan tanggung jawab tidak luput dari hal pemberian bantuan kemanusiaan. Seperti
membangun pengolahan limbah sehingga masyarakat yang tinggal di daerah aliran sungai
dapat terhindar dari bahayanya limbah beracun. Contoh paling nyata adalah ketika
perusahaan Merck, mengembangkan obat untuk cacing hati pada anjing. Disaat yang sama
mereka mengetahui bahwa obat ini juga dapat menyembuhkan penyakit yang umum dikenal
dengan buta sungai akibat penyakit menular yang disebabkan oleh gigitan lalat hitam pada
penduduk yang tinggal di sub sahara yang tergolong warga termiskin di dunia. Merck
memutuskan untuk memberikan obat ini secara gratis bagi mereka, dan sejak tahun 1987
telah menyumbangkan lebih dari 250 juta dos obat kepada kira-kira 30 juta orang Afrika di
sub sahara.

Dimensi informal tanggung jawab sosial

Selain perlunya peraturan formal dalam pengelolaan tanggung jawab social, diperlukan juga
adanya dimensi informal dari perusahaan Yaitu pada prakteknya hal ini ditunjukkan oleh
kepemimpinan dan budaya organisasi didalam perusahaan. Serta bagaimana organisasi
merespon praktek Wistle Blowing yg terjadi dalam oganisasi nya sering menjadi indikasi
sikap pandang organisasi terhadap tanggung jawab sosial.

Mengevaluasi tanggung jawab sosial


Untuk melihat keefektifitasan dari pelaksanaan tanggung jawab sosial, perushaan perlu
melakukan evaluasi, dan umumnya dilakukan secara formal. Yaitu dengan rutin melakukan
audit sosial perusahaan, yang merupakan analisa formal dan teliti mengenai efektifitas kinerja
sosial perusahaan.

1. Etika didefenisikan sebagai kepercayaan individu tentang apakah keputusan, perilaku, atau
tindakan tertentu benar atau salah. Karena itu apa yang menentukan perilaku etis berbeda
bagi satu orang dengan yang lainnya. Etika seorang individu ditentukan oleh kombinasi
berbagai faktor. Orang mulai membentuk kerangka etis sejak anak-anak untuk merespon
persepsi mereka terhadap perilaku orang tua mereka dan orang dewasa lain yang
berhubungan dengan mereka. Saat anak-anak tumbuh dan masuk sekolah, mereka
dipengaruhi teman-teman yang berinteraksi dengan mereka di kelas dan tempat bermain.
Kejadian setiap hari mendorong mereka untuk melakukan pilihan moral

2. Etika Dalam Konteks Lintas Budaya dan Internasional, digambarkan dengan; bagaimana
organisasi memperlakukan karyawan, bagaimana karyawan memperlakukan organisasi dan
bagaimana organisasi dan karyawan memperlakukan agen ekonomi lainnya

3. Tanggung jawab sosial adalah kumpulan kewajiban organisasi untuk melindungi dan
memajukan masyarakat dimana organisasi bekerja. Kompleksitas bagi manajer bisnis
internasional adalah jelas yaitu kesinambungan yang ideal anara tanggung jawab social
secara global terhadap kondisi local yang mungkin memaksa perbedaan pendekatan dengan
di neagra- negara yang berbeda – beda dimana perusahaan tersebut melakukan bisnis.

4. Mengelola Tanggung Jawab Sosial Lintas Batas, dalam hal pengelolaan tanggung jawab,
bisnis biasanya membuat beberapa usaha aktif untuk mengatasi tanggung jawab social.
Perusahaan akan mengadopsi satu dari empat pendekatan berbeda terhadap tanggung jawab
social, antara lain: Pendekatan terhadap tanggung jawab social, Mengelola kesesuaian
terhadap peraturan, Dimensi informal tanggung jawab social dan Mengevaluasi tanggung
jawab sosial.
2.6 Kesulitan Mengelola CSR Lintas Perbatasan

Tantangan lain yang dihadapi perusahaan dalam menetapkan kebijakan mereka


terhadap CSR adalah bahwa peran perusahaan dalam masyarakat bervariasi di setiap negara.
MNC, yang berdasarkan definisinya beroperasi dalam banyak yurisdiksi politik dan hukum,
secara terus menerus berusaha untuk menemukan keseimbangan yang tepat antara peran dan
perilaku yang diharapkan oleh pemerintah negara asal mereka dan yang diharapkan oleh
semua pemerintah tuan rumah di negara di mana mereka beroperasi.

Sebuah model yang dikembangkan oleh dua ahli CSR dari Belanda, Rob van Tulder
dan Alex van der Zwart, memperjelas permasalahan ini. Pendekatan ini menyatakan bahwa
terdapat tiga pemain utama dalam proses perumusan kebijakan :

1. Negara, yang mengesahkan dan menegakkan hukum.


2. Pasar, yang melalui proses kompetisi dan mekanisme penetapan harga mendapatkan
input dan mengalokasikan output-nya kepada anggota masyarakat lain.
3. Masyarakat sipil, yang meliputi gereja, organisasi amal, Pramuka, serikat pekerja,
NGO, dan sebagainya. Masyarakat sipil dalam banyak cara menunjukkan nilai-nilai
budaya dari warga negara tersebut.

Pendekatan Anglo-Saxon

Dalam analisis van Tulder dan van der Zwart, negara-negara Angle-Saxon
memandang negara, pasar, dan masyarakat sipil sebagai sesuatu yang terpisah, kompetitif,
dan antagonistis. Jadi, ketika pemerintah harus mengadakan kontrak dengan sektor swasta
untuk membeli barang atau jasa, kontrak seperti ini harus dilakukan melalui proses lelang
yang terbuka dan kompetitif. Ketika bisnis dan pemerintah gagal untuk mempertahankan
pemisahan yang memadai, orang Anglo-Saxon menganggap kegagalan itu sebagai korupsi.
Demikian pula, ketika orang Amerika memandang pada hubungan masyarakat sipil dan
pemerintah, anggota masyarakat sipil dilabeli sebagai “kelompok kepentingan khusus”.
Seperti yang dikatakan oleh James Madison dalam Federalist Papers, demokrasi
menimbulkan kompetisi politik diantara kelompok-kelompok kepentingan khusus ini. jadi,
pendekatan Anglo-Saxon di AS berfokus pada kompetisi, bukan kooperasi, diantara ketiga
kelompok tersebut sebagai cara untuk mempromosikan tujuan sosial.
Pendekatan Asia

Hubungan antara ketiga pemain ini berbeda di Asia. Banyak negara Asia-seperti
jepang, Korea, Cina, dan Indonesia mengandalkan kerjasama yang erat antara sektor swasta
dan pemerintah. Memang, pengaruh ekonomi dari keiretsu di Jepang dan chaebol di Korea
terletak pada kesediaan untuk melakukan lelang pemerintah, dan sebaliknya. Banyak
pemimpin Asia memandang kooperasi ini sebagai bagian yang harus ada dalam strategi
perkembangan yang berhasil yang juga disebut sebagai “Cara Asia.”

Pendekatan Eropa Kontinental

Di Uni Eropa khususnya di negara-negara benua Eropa, seperti Austria, Jerman,


Prancis, dan Belanda, ketiga pemain tersebut mempenyai cara yang jauh lebih kooperatif
untuk bekerja satu sama lain. Di Jerman, sebagai contoh, asosiasi pemberi kerja besar
melakukan tawar-menawar dengan organisasi payung pekerja dibawah supervisi pemerintah
yang ketat. Demikian pula, kebijakan codetermination di Jerman memberi pekerja peran yang
telah ditentukan dalam pengelolaan bisnis besar di Jerman. Secara umum, proses kebijakan
publik didasarkan pada penciptaan konsensus diantara ketiga pemain tersebut. Kooperasi, dan
bukan kompetisi, yang merupakan penanda dari pendekatan ini. dengan adanya pendekatan
terhadap peran masyarakat dalam bisnis ini, tidaklah mengejutkan bahwa Eropa Kontinental
menjadi tempat lahirnya gerakan CSR dan model kapitalisme pemangku kepentingan.

Jelas bahwa masing-masing oenkedatan diatas mengonseptualisasikan tanggung


jawab pemerintah, bisnis, dan masyarakat sipil secara cukup berbeda. Ini membuat MNC
yang beroperasi di ketiga area tersebut mempunyai tugas yang kompleks dan sulit untuk
menyeimbangkan antara kepentingan mereka sendiri, cara yang baik untuk melakukan hal-
hal menurut perspektif masyarakat negara asal mereka, dan cara yang baik untuk melakukan
hal-hal menurut perspektif masyarakat dari negara tuan rumah dimana mereka beroperasi.

Meregulasi Etika dan Tanggung Jawab Internasional

Terdapat banyak usaha untuk memberikan mandat dan meregulasi perilaku etis dan
bertanggung jawab secara sosial oleh pelaku bisnis dan bisnis. Analisis yang terperinci
mengenai berbagai hukum dan regulasi berada di luar jangkauan diskusi ini. Namun, kita
akan mendeskripsikan beberapa regulasi yang lebih penting dan representatif . Terdapat
regulasi dalam bisnis Internasional diantaranya adalah :
1. Foreign Corrupt Practices Act (FCPA) disahkan oleh Kongres AS pada tahun 1977.
2. Pada 2010, pemerintah Inggris mengeluarkan Undang – Undang Penyuapan (Bribery Act),
yang berlaku untuk tindakan korupsi yang dilakukan di manapun oleh perusahaan yang
mempunyai keberadaan bisnis di Inggris.
3. Alien Tort Claims Act disahkan di Amerika Serikat pada 1789, tetapi akhir-akhir ini telah
muncul hukum yang secara signifikan berpotensi mempengaruhi MNC yang memiliki
ikatan dengan Amerika Serikat.
4. Konverensi Anti Suap dari Organisasi untuk Kerja Sama dan Pembangunan Ekonomi
(Anti-Bribery Convention of the Organization for Economic Cooperation and
Development) dikembangkan dan pertama kali diratifikasi di Kanada pada tahun 2000,
hingga sekarang telah diratifikasi oleh 37 negara lainnya.
5. Organisasi buruh internasional telah menjadi badan pengawas utama untuk memantau
kondisi kerja di pabrik-pabrik di negara berkembang.
BAB III PENUTUP

3.1 Kesimpulan
4. Etika sebagai kepercayaan individu tentang apakah keputusan, perilaku, atau tindakan
tertentu benar atau salah. Oleh karena itu, apa yang merupakan perilaku etis bervariasi
dari satu orang keorang lain. Konsep perilaku etis biasanya merujuk ke perilaku yang
diterima oleh norma sosial umum. Perilaku tidak etis adalah perilaku yang tidak
sesuai dengan norma sosial umum. Cara-cara yang paling umum untuk Mengelola
perilaku etis Lintas Batas adalah dengan menggunakan penunutun atau standar etika,
pelatihan etika, dan melalui praktek organisasi dan budaya perusahaan. tanggung
jawab sosial perusahaan (corporate social responsibility‒CSR) adalah serangkaian
tanggung jawab yang dilakukan perusahaan untuk melindungi dan mengangkat
masyarakat dimana mereka berfungsi. Dalam hal pengelolaan tanggung jawab, bisnis
biasanya membuat beberapa usaha aktif untuk mengatasi tanggung jawab sosial.
Perusahaan akan mengadopsi satu dari empat pendekatan berbeda terhadap tanggung
jawab social. Ada 4 pendirian yang dapat diambil oleh organisasi dalam pendekatan
kewajiban terhadap masyarakat, yaitu: Sikap pandang menghalangi, Sikap pandang
bertahan, Sikap pandang akomodatif
DAFTAR PUSTAKA

Griffin, Ricky W, and Pustay, Michael W, 2005, Internasional Bussines ; Fourth edition,
Pearson Education Inc. Upper Saddle River, New Jersey,07458.
https://erfanrosyadi.blogspot.co.id/2015/04/etika-dan-tanggung-jawab-sosial-bisnis.html