Anda di halaman 1dari 11

BAB II

ISLAM AGAMA RAHMATAN LIL ALAMIN

Setiap agama di dunia kebanyakan mengambil nama dari penemunya atau tempat
dimana agama tersebut dilahirkan dan dikembangkan, sebagaimana agama Nasrani yang
mengambil nama dari tempat Nazareth, agama Budha yang berasal dari nama pendirinya
Budha Gautama. Tetapi tidaklah demikian untuk agama Islam, agama Islam tidak
mempunyai hubungan dengan orang, tempat, atau masyrakat tertentu dimana agama ini
dilahirkan atau disiarkan.
Agama Islam adalah agama yang allah turunkan sejak manusia pertama,yaitu
Nabi Adam as kemudian Allah turunkan secara berkesinambungan kepada Nabi atau
Rosul berikutnya. Akhir dari penurunan agama Islam itu terjadi pada masa kerosulan
Muhammad Saw pada abat ke VII masehi.
Ketika Islam mulai disampaikan oleh Rosulullah Saw kepada masyarakat Arab,
beliau mengajak masyarakat untuk menerima dan mentaati ajaran Islam, tanggapan yang
mereka sampaikan pada Rosulullah adalah sikap heran dan aneh. Islam dianggapnya
sebagai ajaran yang menyimpang dari tradisi leluhur yang telah mendarah daging bagi
masyrakat Arab, yang telah mereka taati secara turun menurun, dan mereka tidak mau
tahu apakah tradisi tersebut salah atau benar, di dalam hadist (Qs. Al Baqarah : 170) juga
digambarkan bahwa “Islam datangnya dianggap asing dan akan kembali diaggap asing,
namun berbahagialah orang yang dianggap asing tersebut”.
Kata Islam berarti damai, selamat, selamat, penyerahan diri, tunduk dan patuh.
Pengertian tersebut menunjukan bahwa agana Islam adalah agama yang mengandung
ajaran untuk menciptakan kedamaian, kerukunan, keselamatan, dan kesejahteraan bagi
kehidupan umat manusia pada khususnya dan semua makhluk Allah pada umumnya,
bukan untuk mendatangkan dan membuat bencana atau kerusakan di muka bumi.
Fungsi Islam sebagai Agama Rahmatan Lil Alamin tidak tergantung pada
peneriman atau penilaian manusia, substansi rahmat terletak pada fungsi ajaran
tersebut,dan fungsi itu baru akan terwujud dan dapat dirasakan oleh manusia sendiri
maupun oleh makhluk-makhluk yang lain , apabila manusia sebagai pengemban amanat

1
Allah telah dapat mentaati dan menjalankan aturan-aturan ajaran Islam dengan benar dan
khaffah.
Fungsi Islam juga sebagai rahmat dan bukan sebagai agama pembawa bencana,
dijelaskan oleh Allah dalam Alqur’an surat Al Anbiya’: 170 yang artinya:”Dan tidaklah
Kami mengutus kamu Muhammad, melainkan untuk menjadi rahmat sebagai semesta
alam.” Sedangkan bentuk-bentuk kerahmatan Allah pada ajaran Islam itu adalah:
1. Islam menunjukan Manusia jalan hidup yang benar.
2. Islam menghormati dan menghargai semua manusia sebagai hamba Allah, baik
mereka muslim maupaun non muslim.
3. Islam mengatur pemanfaatan alam secara baik dan professional.
4. Islam memberikan kebebasan kepada manusia untuk menggunakan potensi yang
diberikan oleh Allah secara tanggung jawab, dll.

2
BAB III
UKHUWAH

1.1 Pengertian Ukhuwah


Makna ukhuwah berarti persaudaraan, yang maksudnya adanya perasaan
simpati dan empati antara dua orang atau lebih. Masing-masing pihak memiliki satu
kondisi atau perasaan yang sama, baik sama suka maupun duka, baik senang maupun
sedih. Jalinan perasaan ini menimbulkan sikap timbal balik untuk saling membantu
bila pihak lain menglami kesulitan, dan sikap saling membagi kesenangan. Ukhuwah
yang perlu kita jalin bukan hanya intern seagama saja akan tetapi yang lebih penting
lagi adalah antar umat beragama.

1.2 Macam-macam Ukhuwah


1. Ukhuwah Islamiyah
Yaitu persaudaraan yang berlaku antar sesama umat Islam atau persaudaraan
yang diikat oleh aqidah/keimanan, tanpa membedakan golongan selama
aqidahnya sama maka itu adalah saudara kita dan harus kita jalin dengan sebaik-
baiknya. Sebagaimana dijelaskan Allah SWT dalam Alqur’an surat Al Hujarat :
10, yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman itu adalah saudara,
oleh karena itu peralatlah simpul persaudaraan diantara kamu, dan bertaqwalah
kepada Allah, mudah-mudahan kamu mendapatkan rahmatnya “.
Dari ayat di atas jelas bahwa kita sesama umat islam ini adalah saudara, dan
wajib menjalin terus persaudaraan di antara sesama umat Islam dan marilah yang
mana saudara kita jadikan saudara dan janganlah saudara kita anggap sebagai
musuh,hanya karna masalah masalah-masalah sepele yang tidak berarti.yang pada
akhirnya mengancam ukhuwah Islamiyah yang pada akhirnya dapat
melumpuhkan kerukunan dan keutuhan bangsa.
2. Ukhuwah Insaniyah/Basyariyah
Yaitu persaudaraan yang berlaku pada semua manusia secara universal
tanpa membedakan ras, agama, suku dan aspek-aspek kekhususan lainnya.
Persaudaraan yang di ikat oleh jiwa kemanusiaan, maksudnya kita sebagai

3
manusia harus dapat memposisikan atau memandang orang lain dengan penuh
rasa kasih sayang, selalu melihat kebaikannya bukan kejelekannya.
Ukhuwah Insaniyah ini harus dilandasi oleh ajaran bahwa semua orang
umat manusia adalah makhluk Allah, sekalipun Allah memberikan kebebasan
kepada setiap manusia untuk memilih jalan hidup berdasarkan atas pertimbangan
rasionya. Jika ukhuwah insyaniyah tidak dilandasi dengan ajaran agama keimanan
dan ketaqwaan, maka yang akan muncul adalah jiwa kebinatangan yang penuh
keserakahan dan tak kenal halal dan haram bahkan dapat bersikap kanibal
terhadap sesama.
3. Ukhuwah Wathoniyah
Yaitu persaudaraan yang diikat oleh jiwa nasionalisme tanpa membedakan
agama, suku, warna kulit, adat istiadat dan budaya dan aspek-aspek yang lainnya.
Semua itu perlu untuk dijalin karena kita sama-sama satu bangsa yaitu Indonesia.
Mengingat pentingnya menjalin hubungan kebangsaan ini Rosulullah bersabda
“Hubbui wathon minal iman”, artinya: Cinta sesama saudara setanah air termasuk
sebagian dari iman.
Sebagai seorang muslim, harus berupaya semaksimal mungkin untuk
mengaktualisasikan ketiga macam ukhuwah tersebut dalam kehidupan sehari-hari.
Apabila ketiganya terjadi secara bersama, maka ukhuwah yang harus kita
prioritaskan adalah ukhwah Islamiyah, karena ukhuwah ini menyangkut
kehidupan dunia dan akherat.

1.3 Urgensi Ukhuwah


Di tengah-tengah kehidupan Zaman modern, yang cenderung individulis dan
materilis ini, persaudaraan atau ukhuwah menjadi hal yang sangat urgen untuk
dibangun demi terciptanya tatanan masyarakat yang rukun dan damai. Urgensi
ukhuwah itu diantaranya:
1. Ukhuwah menjadi pilar kekuatan islam.
Rosulullah SAW bersabda: “Al Islamu ya’lu wala yu’la alaih”, artinya Islam
itu agama yang tinggi tidak ada yang lebih tinggi dari Agama Islam. Ketinggian
dan kehebatan Islam itu akan menjadi realita manakala umat Islam mampu

4
menegakkan ukhuwah terhadap sesamanya, memperbanyak persmaan dan
memperkecil perbedaan. Jika umat Isam sering bermusuhan maka Islam akan
lemah dan tidak mempunyai kekuatan.
2. Ukhuwah merupakan bagian terpenting dari iman.
Iman tidak akan sempurna tanpa disertai dengan ukhuwah dan ukhuwah
tidak akan bermakna tanpa dilandasi keimanan. Manakala ukhuwah lepas kendali
iman, maka yang menjadi perekatnya adalah kepentingan pribadi, kelompok
kesukuan, maupun hal-hal lain yang bersifat materi yang semuanya itu bersifat
semu dan sementara.
3. Ukhuwah merupakan benteng dalam menghadapi musuh Islam.
Orang-orang non Islam mempunyai misi yang sama yaitu memusuhi dan
menghancurkan Islam,dan mereka selalu bersama-sama antara yang satu dengan
yang lain. Realitanya seperti sekarang ini Islam selalu “diobok obok” dan selalu di
kambing hitamkan oleh mereka. Oleh karena itu umat Islam jangan mudah
terpengaruh dan jangan mudah terprofokasi dengan mereka kita harus
menghadapi dengan barisan ukhuwah yang rapi dan teratur, jika kita bermusuhan
maka mereka akan mudah memecah belah dan menghancurkan Islam.
4. Ukhuwah yang solid,dapat memudahkan membangun masyarakat madani.
Masyarakat madani adalah masyarakat yang ideal yang memiliki
karakteristik dan mejujung tinggi kedamaian, kerukunan, dan saling tolong
menolong. Nilai-nilai tersebut akan mudah terwujud manakala manusia memiliki
ketulusan dan kemauan yang tinggi untuk merajut dan membangun simpul
ukhuwah yang sudah terpoyak.

1.4 Hal-hal yang Dapat Menghancurkan Ukhuwah Islam


Dalam situasi dan kondisi seperti sekarang ini, menjalin ukuwah memang
tidaklah semudah membalikkan kedua telapak tangan, mengingat banyak masalah
yang dapat menghancurkan ukhuwah Islam tentunya membutuhkan perjuangan dan
proses yang panjang di bawah ini adalah contoh masalah yang dapat menghacurkan
ukhuwah Islam diantaranya:
1. Pemahaman Islam yang tidak komperehensif dan kaffah.

5
Berbagai pertentangan atau permusuhan diantara sesama yang sering terjadi
adalah dikarenakan oleh pemahaman umat Islam sendiri yang masih dangkal.
Umat Islam masih parsial dalam mengkaji Islam belum integral, belum kaffah,
sehingga mereka cenderung untuk mencari perbedaan-perbedaan yang tidak
prinsip dari kesamaannya. Karena pemahaman Islam yang masih sempit inilah
yang menjadi salah satu embrio atau bibit munculnya permusuhan terhadap
sesama umat beragama.
2. Ta’asub atau fanatisme yang berlebihan.
Sikap fanatik yang berlebihan dengan mengagung-agungkan kelompokya,
menganggap kelompoknya paling benar, paling baik dan meremehkan kelompok
lain, padahal masih satu agama itu pun merupakan perbuatan tidak terpuji dan
tidak dibenarkan dalam islam, karena dapat merusak tali ukhuwah.
3. Suka bermusuhan antar umat beragama.
Ini adalah merupakan masalah yang dapat menghancurkan ukhuwah Islam
yang sangat berbahaya, jika dala hati manusia sudah dirasuki sifat hasut, dengki,
iri hati maka yang ada dalam hatinya hanyalah dendam dan permusuhan. Jika hal
ini kita akhiri maka ukhuwah akan damai dan tentram.
4. Kurangnya toleransi atau tasamuh.
Kurangnya sikap toleransi atau sikap saling menghargai dan menghormati
terhadap peredaan-perbedaan pendapat yang terjadi, sehingga menutup pintu
dialog secara terbuka dan kreatif, juga dapat penghalang dalam merajut kembali
ukhuwah. Oleh karena itu perlu kita optimalkan secara terus menerus untuk
mengembangkan sikap toleransi tersebut dalam kehidupan sehari-hari.

1.5 Upaya dalam Mewujudkan Ukhuwah


Ukhuwah sebagai rahmat dan karunia dari Allah SWT, harus terus menerus di
upayakan penerapannya dalam kehidupan umat maanusia dalam rangka mewujudkan
kerukunan dan perdamaian di muka bumi. Hal ini akan dapat tercipta manakala
ukhuwah atau persaudaraan dapat di wujudkan.
Adapun langkah-langkah konkret yang harus kita lakukan dalam mewujudkan
ukhuwah atau persaudaraan adalah sebagai berikut:

6
1. Secara terus-menerus melakukan kegiatan dakwah Islamiah terhadap umat Islam,
tentang pentingnya menjalin ukhuwah terhadap sesamanya dan menjelaskan pada
mereka tentang bahayanya jika kita saling bermusuhan. Tentunya dengan metode
yang teratur dan sistematis, baik melalui dakwal bil lisan, dakwal bil hal dan
dakwal bil qolam.
2. Berusaha meningkatkan frekuensi silaturrahmi, saling mengunjungi, saling
bertegur sapa baik dalam forum formal maupun informal terutama kepada mereka
yang memutuskan hubungan baik dengan kita. Silaturrahmi ini di samping dapat
merajut ukhuwah, juga banyak segi manfaatnya bagi pelaku silaturahm,
sebagaimana di sabdakan oleh rosulullah SAW yang artinya: “Barang siapa yang
ingi dilapangkan rizqinya dan di panjangkan umumnya maka yang senang
silaturahmi”.
3. Memperbanyak dialog internal maupun antar umat beragama untuk menyamakan
persepsi terhadap setiap permasalahan yang fundamental dalam arti mencari
persamaan bukan perbedaa, untuk mengantisipasi terhadap perbedaan pendapat
yang mengarah pada konflik kontroversial, menahan diri dari komentar-komentar
yang belum jelas, tidak mudah emosional dan senantiasa mengedepankan rasional
dan pertimbangan akal sehat dan pada akhirnya tercipta budaya dialog yang sehat
yang mengarah mempererat tali ukhuwah dan terciptanya kerukunan.
4. Meningkatkan lembaga-lembaga lintas organisasi dan lembaga-lembaga
pemerintahan untuk terus menerus melakukan berbagai macam kegiatan yang
berorientasi pada upaya merajut simpul ukhuwah agar tercapai tatanan
masyarakat penuh kerukunan dan kedamaian sebagaimana yang kita cita-citakan
bersama.
5. Menghimbau kepada semua umat manusia terutama umat Islam untuk berupaya
semaksimal mungkin meningkatkan kualitas iman dan takwanya, karena iman dan
takwanya berkulitas dan sempurna, maka mereka mempunyai kecenderungan
untuk melakukan kebaikan dan kebenaran termasuk dalam hal mengaktualisasi
ukhuwah dalam kehidupan sehari-hari.

7
BAB IV
KERUKUNAN DAN KEBERSAMAAN DALAM PLURALITAS
AGAMA

4.1 Pengertian Kerukunan Menurut Islam


Kerukunan dalam Islam diberi istilah “tasamuh” atau toleransi. Sehingga
yang dimaksud toleransi adalah kerukunan social kemasyarakatan, bukan dalam hal
akidah Islamiyah (keimanan), karena akidah telah digariskan secara jelas dan tegas
dalam Alqur’an dan Hadits. Dalam hal akidah atau keimanan seorang muslim
hendaknya meyakini bahwa Islam adalah satu-satunya agama dan keyakinan yang
dianutnya sesuai dengan firman Allah SWT dalam surat Al Kafirun ayat 1-6 sebagai
berikut:

Pada era globalisasi sekarang ini, umat beragama dihadapkan kepada


serangkaian tantangan baru yang tidak terlalu berbeda dengan yang pernah dialami
sebelumnya. Pluralitas merupakan hukum alam (sunnatulah) yang mesti terjadi dan
tidak mungkin terelakkan. Hal itu sudah merupakan kodrati dalam kehidupan dalam
QS. Al Hujarat: 13, Allah menggambarkan adanya indikasi yang cukup kuat tentang
pluralitas tersebut.
Namun, pluralitas tidak semata menunjukkan pada kenyataan adanya
kemajemukan, tetapi lebih dari itu adanya ketrlibatan akti terhadap kenyataan adanya
pluralitas tersebut. Pluralitas agama dapat kita jumpai dimana-mana, seprti di dalam
masyarakat tertentu, di kantor tempat bekerja dan di perguruan tinggi tempat belajar
dll. Seseorang baru dikatakan memiliki sikap keterlibatan aktif dalam pluralitas
apabila dia dapat berinteraksi secara positif dalam lingkungan kemajemukan.
Pemahaman pluralitas agama menuntut sikap pemeluk agama untuk tidak hanya
mengakui keberadaan dan hak agama lain,tetapi juga harus terlibat dalam usaha
memahami perbedaan dan persamaan guna mencapai kerukunaan dan kebersamaan.

8
Bila dilihat, eksistensi manusia dalam kerukunaan dan kebersamaan ini,
diperoleh pengertian bahwa arti sesungguhnya dari manusia bukan terletak pada
akunya, tetapi pada kitanya atau pada kebersamaannya. Kerukunan dan kebersamaan
ini bukan hanya harus tercipta intern seagama tetapi yang lebih penting adalah
”antar umat beragama didunia” (pluralitas Agama).
Kerukunan dan kebersamaan yang didambakan dalam islam bukanlah yang
bersifat semu, tetapi yang dapat memberikan rasa aman pada jiwa setiap manusia.
Oleh karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah mewujudkannya
dalam setiap diri individu, setelah itu melangkah pada keluarga, kemudian
masyarakat luas pada seluruh bangsa di dunia ini dengan demikian pada akhirnya
dapat tercipta kerukunan, kebersamaan dan perdamaian dunia.
Itulah konsep ajaran Islam tetang “Kerukunaan Antar Umat Beragama”,
kalaupun kenyataannya berbeda dengan realita, bukan berarti konsep ajarannya yang
salah, akan tetapi pelaku atau manusianya yang perlu dipersalahkan dan selanjutnya
diingatkan dengan cara-cara yang hasanah dan hikmah.

4.2 Pandangan Islam Tehadap Pemeluk Agama Lain


1. Darul Harbi (daerah yang wajib diperangi)
Islam merupakan agama rahmatan lil-‘alamin yang memberikan makna
bahwa perilaku Islam terhadap nonmuslim dituntut untuk kasih sayang dengan
memberikan hak dan kewajiban yang sama seperti halnya penganut islam sendiri
dan tidak saling mengganggu dalam hal kepercayaan. Islam membagi daerah
(wilayah) berdasarkan agamanya atas Darul Muslim dan Darul Harbi. Darul
Muslim adalah suatu daerah yang didiami oleh masyarakat muslim dan
diberlakukan hokum Islam. Sedangkan Darul Harbi adalah suatu wilayah yang
penduduknya memusuhi Islam. Penduduk Darul Harbi selalu mengganggu
penduduk Darul Muslim, menghalangi dakwah Islam, bahkan melakukan
penyerangan terhadap Darul Muslim. Menghadapi penduduk Darul Harbi yang
demikian, umat Islam wajib melakukan jihad melawannya, seperti difirmankan
dalam Alqur’an surat Al Mumtahanah: 90 yang artinya: “Sesungguhnya Allah
hanya melarang kamu menjadikan sebagai kawanmu orang-orang yang

9
memerangi kamu karena agama dan mengusir kamu dari negarimu, dan
membantu (orang lain) untuk mengusirmu. Dan barang siapa menjadikan mereka
sebagai kawan, maka mereka itulah orang-orang yang zalim”.
2. Kufur Zimmy
Dalam suatu perintah Islam, tidaklah akan memaksa masyarakat untuk
memeluk Islam dan Islam hanya dismpaikan melalui dakwah (seruan) yang
merupakan kewajiban bagi setiap muslim berdasarkan pemikiran wahyu yang
menyatakan : “Tidak ada paksaan untuk memasuki agama Islam”. Kufur Zimmy
adalah sekelompok individu bukan Islam, akan tetapi mereka tidak membenci
Islam, t\idak membuat kerusakan, dan tidak menghalangi dakwah Islam. Mereka
harus dihormati oleh pemerintah Islam dan diperlakukan seperti umat Islam dalam
pemerintahan serta berhak diangkat sebagai tentara dalam melindungi daerah
Darul Muslim. Adapun agama dan keyakinan Kufur Zimmy adalah diserahkan
kepada mereka sendiri dan umat Islam tidak diperbolehkan mengganggu
keyakinan mereka. Adapaun pemikiran Alqur’an mengenai Kufur Zimmy seperti
dalam surat Al Muntahanah: 8 yang artinya: “Allah tiada melarang kamu untuk
berbuat baik dan berlaku adil terhadap orang-orang yang tiada memerangimu
karena agama dan tidak (pula) mebgusir kamu dari negerimu. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang berlaku adil.”
3. Kufur Musta’man
Kufur Musta’man adalah pemeluk agama lain yang meminta perlindungan
keselamatan dan keamanan terhadap diri dan hartanya. Kepada mereka
pemerintah Islam tidak memberlakukan hak dan hukum negara. Diri dan harta
kaum musta’man harus dilindungi dari segala kerusakan dan kebinasaan serta
bahaya laiinya, selama mereka di bawah perlindungan pemerintah Islam.
4. Kufur Mu’ahadah
Kufur Mu’ahadah adalah negara bukan Negara Islam yang membuat
perjanjian damai dengan pemerintah Islam, baik disertai perjanjian tolong-
menolong dan bela-membela atau tidak.

4.3 Kerukunan Intern Umat Islam

10
Kerukunan intern umat Islam di Indonesia harus berdasarkan atas semangat
ukhuwah Islamiyah (persaudaraan sesama muslim) sesuai dengan firman-Nya dalam
surat Al-Hujurat: 10. Kesatuan dan persatuan intern umat Islam diikat oleh kesamaan
akidah (keimanan), akhlak, dan sikap beragamanya didasarkan atas Alqur’an dan Al-
Hadits.
Adanya perbedaan di antara umat Islam adalah rahmat asalkan perbedaan
pendapat itu tidak membawa perpecahan dan permusuhan.

4.4 Kerukunan Antar Umat Beragama Menurut Islam


Kerukunan umat Islam dengan penganut agama lainnya telah jelas disebutkan
dalam Alqur’an dan Al-hadits. Hal yang tidak diperbolehkan adalah dalam masalah
akidah dan ibadah, seperti pelaksanaan sosial, puasa dan haji, tidak dibenarkan
adanya toleransi, sesuai dengan firman-Nya dalam surat Al Kafirun: 6, yang artinya:
“Bagimu agamamu, bagiku agamaku.”

11