Anda di halaman 1dari 15

www.scribd.

com/madromi
NAMA GUNUNG KAWI

Adapun nama “Kawi” berasal dari kata “Kavya (Kawi)”, yang


berarti syair yang dilagukan. Ada pula yang menghubungkan
istilah ini dengan “awi” yang berarti golongan orang-orang di
antara “watek i jro” (manilala drwya haji) (Zoedmulder, 1995: 475
; 86). Oleh karenanya, Gunung Kawi adalah sebuah gunung yang
pada masa lampau banyak dikenal oleh para pertapa, rsi atau
bujangga sebagai tempat pertapaan dan tempat pembuatan syair
(Kawi)
KRIYA YOGA NUSANTARA, RISHI AGASTYAR DAN
GUNUNG KAWI

Gunung Kawi merupakan batas alam antara Kabupaten Blitar


dengan Kabupaten Malang. Gunung ini terdiri dari Gunung Kawi-
Butak (2651 m dpl-2868 m dpl) (Bemmelen, 1949: 30), ternyata
ditilik dari segi historisnya, telah dikenal sejak masa pemerintahan
Kerajaan Kanjuruhan, yang kala itu berpusat di daerah Malang.
Kerajaan Kanjuruhan ini meninggalkan kepada kita tentang
informasi penting tentang keberadaan Gunung Kawi yang
termaktub dalam Prasasti Dinoyo I, yang bertarikh Saka 682 (760
Masehi).

Prasasti tersebut memuat inti tentang adaanya seorang raja yang


bijaksana dan berkuasa yang bernama Dewasigha. Di bawah
naungan pemerintahannya, api putikecwara memancarkan
sinarnya, yang menerangi kelilingnya.
Seorang anaknya, yakni raja Gajayana seorang raja pelindung
manusia memiliki putri yang bernama Uttejana. Raja tersebut
memberi ketentraman kepada Brahmana dan rakyat pemuja
Agastya. Raja membuat bangunan suci (candi) yang sangat bagus
bagi sang maharesi (Agastya) untuk membinasakan penyakit yang
menghilangkan (semangat) (Poerbatjaraka, 1976: 92-98).
Berdasarkan keterangan dalam Kitab Tantu Pagelaran, Agastya
mendapatkan pertapaan di Gunung Kawi. Semenjak itu Gunung
Kawi menjadi miliknya, yakni sebagai tanda penugasan bagi Batara
Guru (Ciwa). Berikut kutipan dari teks Tantu Panggelaran:
”Ucapen ta laksana bhatara Jagatwicesa, anggasta yinuganira
hinasti, siniramning tatwamrtha ciwamba, yinuganira matmahana
dewata purusangkara.
Inararan bhagawan Agasti, inanugrahan kawikun de bhatara,
kinwan matyapaha ring gunung kawi. Tinher makadrwya kang
gunung kawi pinakapacihna pawkas bhatara Guru” (Pigeaud
(1924: 92).
Artinya:
”Untuk bicara tentang cara-cara Batara Jagadwicesa; dia
mengarahkan yoganya pada ibu jarinya, dan menjadikannya abu,
yang kemudian disiramnya dengan air suci Tattwamrta dan
melakukan yoga, sehingga menjadi dewata bertubuh manusia.
Dia mendapatkan nama Agasti yang terhormat; sebagai tanda
kehormatan dia menerima kedudukan wiku dari Bhatara, dan
menerima perintah melakukan pertapaan di Gunung Kawi. Sejak
itu gunung Kawi menjadi miliknya, sebagai tanda penugasan
Bhatara Guru” (Poerbatjaraka, 1992: 40).
Lokasi Gambar : Pertapaan Gunung Kawi

BATARA GURU AGASTYAR DAN GUNUNG KAWI

Berdasarkan keterangan dalam Kitab Tantu Pagelaran, Agastya


mendapatkan pertapaan di Gunung Kawi. Semenjak itu Gunung
Kawi menjadi miliknya, yakni sebagai tanda penugasan bagi Batara
Guru (Ciwa).
Di Malang tepatnya di lereng Timur Gunung Kawi di Dukuh Gasek,
Desa Karangbesuki, Kecamatan Sukun, Kota Malang, terdapat
situs kecil yang diberi nama Candi Karangbesuki. Di situs inilah
ditemukan arca tokoh Agastya, Arca ini dahulu ditempatkan
di dalam punden makam di bawah pohon beringin.
Candi tempat Rsi Agastya didirikan itu kini lebih dikenal dengan
nama Candi Badut. Sebuah nama yang menyiratkan makna mulia.
Dalam bahasa Jawa Kuno kata badut berasal dari kata bentukan
ba berarti bintang Agastya (star of canopus) dan dyut berarti
sinar/cahaya. Jadi kata badut memiliki arti sinar atau cahaya yang
memancar dari bintang Rsi Agastya.
Jika mata diarahkan ke puncak Gunung Kawi tempat Rsi Agastya
bertapa sepanjang masa, cahaya itu masih nampak memancar.
Dusun Mentaraman merupakan pemukiman kuno yang berdiri di
selatan puncak Gunung Kawi dan pada masa itu gunung tersebut
merupakan gunung yang disucikan. Karena merupakan
reruntuhan dari potongan Gunung Meru seperti yang diceritakan
dalam Kitab Tantu Panggelaran karya di masa akhir Kerajaan
Majapahit.
“Gunung Kawi di masa Kerajaan Majapahit merupakan gunung
suci,”
Lokasi gambar : Petilasan Kraton Gunung Kawi
BABAJI DAN AGASTYAR

Babaji mendengar bahwa ada seorang Siddha besar, Master yang


sempurna, bernama Agastyar, di selatan, ia kemudian melakukan
perjalanan ziarah ke kuil suci Katirgagma, dekat dengan
perbatasan paling utara dekat Srilangka, pulau besar di dekat
India.
Di sana , ia bertemu murid Agastyar yang bernama Boganathar. Ia
belajar “dhyana” atau meditasi secara intensif dan `sidhantam’,
filsafat Sidha dari Boganathar selama empat tahun. Ia mengalami
“Sarvikalpa Samadhi” atau Kelarutan Sempurna, dan mendapat
vison tentang Lord Muruga.
Pada usia 15 tahun, Bogathar mengirimnya ke Gurunya sendiri,
Agasthyar yang legendaris, yang tinggal di Courtalam di Tamil
Nadu.
Setelah belajar latihan Yoga secara intensif di Couralam selama 48
hari, Agastyar memunculkan dirinya, dan menginisiasinya ke dalan
latihan Kundalini Pranayama, suatu sistem pernafasn yang sangat
kuat.
Ia mengarahkan anak muda bernama Nagaraj ini untuk pergi ke
Badrinat, jauh tinggi di Himalaya, dan melatih semua yang telah
didapatkannya secara intensif untuk menjadi seorang `Siddha”.
Setelah 18 bulan lebih, Nagaraj tinggal sendirian di dalam gua
melatih teknik Yoga yang diajarkan Boganatar dan Agastyar. Ia
menyerahkan seluruh “ego”nya, hinga ke sel-sel tubuhnya kepada
Tuhan, yang merasuk ke dalam dirinya. Ia menjadI Siddha, seorang
yang telah menyerahkan kekuatan dan kesadarannya kepada
Tuhan!
Tubuhnya tidak lagi terpegaruhi oleh sakit dan kematian.
Bertransformasi sebagai Siddha, ia mengabdikan diri untuk
mengangkat manusia dari penderitaan.
Menginjakkan Kaki di Keraton Gunung Kawi
terkenal sebagai tujuan wisata spiritual di Jawa Timur. Setiap
tahunnya ribuan wisatawan datang ke tempat ini untuk
melakukan ziarah. Salah satu tempat yang tenar di kawasan ini
tentu adalah Keraton Gunung Kawi.
Keraton ini menjadi lokasi yang sering dikunjungi wisatawan selain
Pasarean Eyang Jugo. Dari pasarean itu, lokasi Keraton Gunung
Kawi masih sekitar tiga kilometer lagi ke arah atas. Untuk naik ke
lokasi yang lebih tinggi ini, Anda memerlukan waktu sekitar
setengah jam dari Pasarean Eyang Jugo.
Keraton Gunung Kawi sendiri merupakan tempat wisata religius
yang di dalamnya terdapat tiga lokasi, yaitu Vihara Dewi Kwan Im,
Sanggar Pamujaan dan tempat pamuksaan Prabu Kameswara I.
Konon, menurut sebagian orang, komplek Keraton Gunung Kawi
ini dipercaya sebagai tempat yang manjur untuk ngalap (mencari)
berkah.
Pembangunan Keraton Gunung Kawi dikelola oleh juru kunci
setempat. Sumber dananya tentu dari sumbangan dari para
pengunjung.
Mereka yang mendatangi keraton yang terletak di tengah hutan
pinus yang segar ini rata-rata berasal dari sekitar Kota Malang,
bahkan ada juga yang berasal dari Jawa Tengah. Masyarakat
sekitar biasanya berkunjung ke keraton ini tiap malam Jumat
untuk melakukan ritual.
Pengunjungnya didominasi oleh etnis Tionghoa yang datang
berkunjung ke Vihara Dewi Kwan Im. Klenteng itu letaknya
berdampingan dengan pura yang berada di kawasan hutan yang
asri.
Di waktu-waktu tertentu, seperti hari Kamis Legi, Jumat Kliwon
dan malam tangga 1 Suro, bisa dipastikan kunjungan masyarakat
dan wisatawan ke Keraton Gunung Kawi mencapai puncaknya.
Banyak fasilitas yang bisa dimanfaatkan pengunjung di sekitar
area ini. Mulai dari listrik, kamar mandi, area parkir, areal
outbond, jalur extreme untuk motocross, dan warung makan.
Menurut salah seorang juru kuncinya, situs Keraton Gunung Kawi
ini sudah ada sejak tahun 861 Saka dan tercantum dalam sebuah
prasasti di Puncak Batutulis, Gunung Kawi.
Saat itu rajanya yaitu Mpu Sindok, seorang keturunan Dinasti
Sailendra yang hijrah ke Jawa Timur. Kini petilasan peninggalan
Mpu Sindok ini dijadikan tempat pemujaan (pura) dan diberi nama
Sanggar Pamujaan Keraton Gunung Kawi. Uniknya, tempat
pertapaan tersebut dibangun dengan menanam lima pohon
beringin jawa dengan batu gunung besar di tengahnya. Konon,
tempat ini juga merupakan tempat pertapaan Prabu Sri
Kameswara dari Kerajaan Kediri pada abad XII.
Saat menghadapi kemelut politik kerajaan, Prabu Kameswara
bertapa di tempat ini. Setelah bertapa, diyakini sang Prabu
berhasil menyelesaikan kekacauan politik di kerajaannya.
Setelah mengundurkan diri dari pemerintahan, akhirnya
Kameswara menyepi dan menjadi pertapa di Gunung Kawi ini. Di
dalamnya selain terdapat beberapa buah arca, ada pula lubang
untuk melakukan tapa pendem alias bertapa dalam tanah.
Di lokasi ini juga ada Pura Agung Gunung Kawi, yang di dalamnya
terdapat sebuah pohon beringin tua yang kelima akarnya
menjulang ke atas, dan menyatu pada ketinggian sekitar 1,5
meter. Sayang, kondisi pohon tersebut, saat ini sudah mati dan
tumbang, sehingga hanya tersisa akarnya yang unik itu saja yang
bisa dinikmati.
Selain itu, di kawasan ini ada pula beberapa makam, salah satunya
Makam Eyang Jayadi dan Eyang Menik yang sempat mengalami
pemugaran pada Januari 2010. Konon, keduanya merupakan
pengurus bagian pertamanan dan perkebunan pada jaman Raja
Kameswara I.
Di bagian bawahnya terdapat makam juru kunci pertama Keraton
Gunung Kawi, yakni Eyang Subroto, Eyang Djoyo, dan Eyang
Hamit. Tak ketinggalan, di sekitar kraton juga terdapat rumah
padepokan Eyang Sujo, Guci Kuno dan Pohon Dewandaru sebagai
tempat yang dikeramatkan.
Pada jaman perjuangan, tempat ini juga sering dipergunakan
sebagai tempat untuk menyucikan diri dan menenangkan hati.
Konon beberapa tokoh kemerdekaan, seperti Bung Karno dan
Shodancho Supriyadi pernah berkunjung ke tempat ini.
Seiring perkembangan zaman, masyarakat sering mendatangi
tempat ini untuk memanjatkan doa. Setelah masa perang
kemerdekaan, Keraton Gunung Kawi berkembang pesat dan
menjadi tempat favorit yang biasa dikunjungi golongan etnis
Tionghoa. Namun, pada tahun 1965 tempat ini sempat ditutup
dan bangunannya dirobohkan, karena diduga menjadi tempat
persembunyian anggota PKI.
Pada tahun 1974 lokasi ini dibangun dan dibuka lagi oleh
pemerintah. Sampai tahun 1978, bangunan di keraton ini masih
sangat sederhana, sampai akhirnya pada tahun 1978-1980 lokasi
ini mulai dipugar.
Bahkan, pada tahun 1993 mulai dilakukan pembangunan secara
menyeluruh di lingkungan bangunan keraton. Mulai dari
bangunan hingga akses jalan rayanya. Sayang, pada tahun 2002
terjadi kebakaran di salah satu bagian, sehingga bangunan
tersebut rata dengan tanah.
Secara administratif, Keraton Gunung Kawi terletak di Dusun
Gendogo, Desa Balesari, Kecamatan Ngajum, Kabupaten Malang.
Lokasinya berada tepat di kaki Gunung Kawi dan di tengah-tengah
kesejukan hutan pinus yang dikelola Perhutani. Secara
pengelolaan hutan terletak di petak 175e, RPH Gendogo, BKPH
Kepanjen, KPH Malang dengan luas baku 1,3 ha.
Keraton ini berada di ketinggian 1.115 mdpl dengan suhu 22
hingga 24 derajat Celsius dengan topografi landai dan curah hujan
rata-rata 1.300 mm/tahun. Dari Kota Malang, jaraknya sekitar 32
kilometer.
Untuk mencapainya, dari Kota Malang bisa melalui dua jalur, yaitu
melewati Wagir atau Sukun. Biasanya pengunjung melewati Wagir
karena jarak tempuhnya yang lebih pendek. Panorama di
sepanjang jalan menuju Gunung Kawi juga terbilang indah.
Namun, tetap waspada, karena di beberapa bagian ruas jalannya
agak rusak dengan lubang-lubang di mana-mana.
Menurut salah seorang juru kuncinya, situs Keraton Gunung Kawi
ini sudah ada sejak tahun 861 Saka dan tercantum dalam sebuah
prasasti di Puncak Batutulis, Gunung Kawi. Saat itu rajanya yaitu
Mpu Sindok, seorang keturunan Dinasti Sailendra yang hijrah ke
Jawa Timur.
Kini petilasan peninggalan Mpu Sindok ini dijadikan tempat
pemujaan (pura) dan diberi nama Sanggar Pamujaan Keraton
Gunung Kawi. Uniknya, tempat pertapaan tersebut dibangun
dengan menanam lima pohon beringin jawa dengan batu gunung
besar di tengahnya.
Konon, tempat ini juga merupakan tempat pertapaan Prabu Sri
Kameswara dari Kerajaan Kediri pada abad XII. Saat menghadapi
kemelut politik kerajaan, Prabu Kameswara bertapa di tempat ini.
Setelah bertapa, diyakini sang Prabu berhasil menyelesaikan
kekacauan politik di kerajaannya.
Setelah mengundurkan diri dari pemerintahan, akhirnya
Kameswara menyepi dan menjadi pertapa di Gunung Kawi ini. Di
dalamnya selain terdapat beberapa buah arca, ada pula lubang
untuk melakukan tapa pendem alias bertapa dalam tanah.
TAMAT