Anda di halaman 1dari 7

MENIMBANG KEKUATAN MILITER INDONESIA

Pratma Julia Sunjandari (Pegiat Politik)


Pada hari jadinya ke-72, TNI mendapat kado istimewa. Pada tahun 2017 ini,kekuatan militer
Indonesiamenempati posisi terbaik di Asia Tenggara dan berada pada posisi 14 dunia.
Setidaknyaversi Global Fire Power (GFP) -lembaga pemeringkat kekuatan militer- yang merilis
2017 Military Strength Rankingpada 133 negara.1GLobal FirepowerIndex (GFI) diukur berdasar
50 faktor penilaian. Indonesia masuk 15 besar karena memiliki anggaran militer sebanyak USD
6,9 milyar, jumlah personel aktif sebanyak 876.000 pasukan, dengan alutsista (alat utama
sistem pertahanan) 468 tank, 420 pesawat, dan 5 unit kapal selam.2
Benarkah Indonesia memiliki keistimewaan sebagaimana yang dilansir GFP ?Indonesia berada
di urutan teratas karena keunggulan kategori nonmiliter, yakni faktor-faktor pendukung strategis
seperti aspek geografi dengan panjang garis pantai dan sumber daya manusia dengan
penduduk berusia cukup untuk dimobilisasi dalam militer. Karena ternyata, bila dibandingkan
negara Asia Tenggara lainnya, Indonesia cukup tertinggal. Berdasarkan dataGFP, jumlah
tentara aktif Indonesia berada di urutan kedua terbanyak di Asia Tenggara di bawah Vietnam.
Tetapi kalau dibandingkan dengan jumlah penduduk, militer aktif Indonesia berada di urutan
terbawah (0,17 persen), sama dengan Filipina.3Padahal jumlah penduduk Indonesia mencapai
258 juta, sedangkan personel tentara aktif hanya 435 ribu dan 540 ribu tentara cadangan.4
Sungguh tidak berimbang antara penjaga hankam dan besaran penduduk serta luasan wilayah
yang harus dijaga.
Demikian pula dalam kemampuan tempur kemiliteran. Sekalipun pada puncak peringatan HUT
TNI ke-72, publik disuguhi berbagai atraksi yang menunjukkan akurasi dan kemampuan militer
Indonesia, namun kondisi itu belummampu menunjukkan realitas di lapang. Apalagi dalam
menentukan peringkat militer versiGFP, penilaian tidak memperhitungkan kepemimpinan
politik/militer (political / military leadership). Faktor manpower yang diperhitungkan hanyalah
tenaga kerja aktual yang menyusun kekuatan militer. Karena itu, negara dengan populasi besar
cenderung berperingkat lebih tinggi5karena SDM yang berlimpah. Namun, jumlah tentara aktif
itupun kualitasnya masih dipertanyakan. Muradi - Ketua Pusat Studi Politik dan Keamanan
(PSPK) Universitas Padjadjaran-menyatakan hanya 20 persen tentara yang berkualitas.
Sedangkan jumlah terbesar tentara hanyaberfungsi untuk mobilisasi.6
Bagaimana dengan alutsista? Sekalipun alutsista Indonesia memberi andil dalam
pemeringkatan GFP Indonesia, nyatanya, di Asia Tenggara Indonesia hanya unggul dalam
jumlah peralatan di matra laut. Indonesia kalah dari Vietnam untuk matra darat dan kalah dari
Thailand untuk matra udara. Belum lagi kualitasnya. Alutsista milik Indonesia tergolong tua,
rata-rata berusia di atas 30 tahun. 7
Posisi militer Indonesia yang belum terbukti kehebatannya, tentu bergantung pada jumlah
anggaran yang dialokasikan pemerintah bagi dana pertahanan. Berdasarkan data GFP,
anggaran pertahanan Indonesia berada di urutan kedua setelah Singapura. Tahun 2017 ini,
Kementerian Pertahanan mendapat kucuran Rp108 triliun, alokasi anggaran terbesar dalam
belanja Kementerian/Lembaga pada APBN 2017. Namun dana terbesar itu sangat kecil ketika
dibandingkan dengan PDB serta kebutuhan tentara di Indonesia karena hanya mendapat porsi
0,8 persen dari PDB. Menurut Muradi, Indonesia sebagai negara besar seharusnya bisa

1
https://www.globalfirepower.com/countries-listing.asp
2
https://www.goodnewsfromindonesia.id/2017/07/18/kekuatan-militer-indonesia-adalah-yang-terbaik-di-asia-
tenggara-15-besar-di-dunia
3
https://beritagar.id/artikel/berita/menakar-kekuatan-tentara-indonesia
4
Ibidem 1
5
Ibidem 1
6
Ibidem 3
7
Ibidem 2
menganggarkan dana pertahanan sampai 4,5 persen dari PDB atau sekitar Rp300-an
triliun.8Pendapat itu wajar, mengingat tantangan dan potensi ancaman yang dihadapi militer
Indonesia.
Hankam Indonesia :Antara Ancaman dan Potensi
Pada kuliah umum di hadapan mahasiswa Universitas Indonesia tanggal 16 November 2016
dan mahasiswa Universitas Padjadjaran pada 24 November 2016, Panglima TNI Jendral Gatot
Nurmantyo mengungkapkan bahwa Indonesia terancam oleh peningkatan kehadiran pasukan
AS di Pangkalan militernya di Darwin, Australia. Personil militer AS meningkat dari 1.500
menjadi 2.500 pasukan. Padahal, jarak Darwin dan pulau Masela –salah satu pulau terluar
Indonesia- hanya 90 kilometer.9Ungkapan Jendral Gatot itu selaras dengan laporan berjudul
Asia-Pacific Rebalance 2025, Capabilities, Presence, and Partnership, yang diterbitkan Centre
for Strategic and International Studies (CSIS)Washington. Laporan itu menyebutkan bahwa
Australia utara akan menjadi perlindungan bagi pasukan Amerika jika terjadi konflik militer di
Asia. Lebih dari 2.500 marinir akan beroperasi dalam berbagai kondisi di area pantai,
pelabuhan dan lapangan udara.10
Kenyataan di atas, hanya salah satu dari ancaman yang harus dihadapi militer Indonesia.
Apakah sanggup Indonesia menghadapi ancaman tersebut? Pernyataan Mantan Wakil Menteri
Energi Sumber Daya Mineral (ESDM), Susilo Siswoutomo yang diungkapkannya pada tahun
2013 setidaknya mencerminkan kemampuan Indonesia. Dikatakannya, jika Indonesia
menghadapi perang, negara kepulauan ini hanya bisa bertahan tiga hari. Alasannya, Indonesia
tidak punya cadangan strategis BBM yang disimpan secara khusus jika terjadi hal darurat
seperti bencana alam atau perang. "Cadangan BBM kita nol! Bandingkan dengan Malaysia
yang punya 30 hari, Jepang, Korea, dan Singapura 50 hari," tegasnya. 11
Kusnanto Anggoro-peneliti politik dan keamanan internasional/dosen Universitas Pertahanan
Indonesia- turut memprihatinkan kemampuan militer Indonesia. Ia menilai, selama ini
pembahasan soal perang di kalangan militer masih berkutat pada perang tradisional. Rencana
strategis dari program pembangunan kekuatan pertahanan—yang tertuang dalam kebijakan
Minimum Essential Force (MEF) hingga 2024—masih berkutat pada ancaman internal berupa
"separatisme dalam negeri." Padahal konstelasi Cina di Laut Cina Selatan dan penempatan
pasukan AS di Darwin, mengharuskan rencana jangka panjanghingga 2045.12
Sementara Indria Samego -peneliti hubungan militer-sipil dari LIPI- menyebut posisi daya tawar
Indonesia terhadap negara-negara besar masih cukup lemah.Menurutnya, kepemilikan Sukhoi,
Leopard, dan alutsista terbaru lain hanya memunculkan detterent effect(efek kejut) semata yang
membuat musuh berpikir kembali ketika hendak menyerang.13
Berbicara mengenai salah satu kemampuan pembangunan militer Indonesia, salah satunya
adalah kemampuan memproduksi alutsista, sebenarnya Indonesia memiliki potensi yang tak
kalah membanggakan. Rakyat Indonesia telah memiliki Badan Usaha Milik Negara Industri
Strategis (BUMNIS) yang di antaranya memproduksi kepentingan militer. BUMNIS terdiri dua
klaster besar di Kementerian BUMN, yaitu National Defence and Hitech Industry (NDHI) dan
National Shipbuilding and Heavy Industry (NSHI). Di antara klaster NDHIterdapat PT
Dirgantara Indonesia (Persero) alias PTDI, PT Pindad (Persero) dan PT Industri Nuklir

8
Ibidem 3
9
https://www.merdeka.com/peristiwa/berulang-kali-panglima-tni-sebut-as-dan-australia-ancaman-bagi-nkri.html
10
http://internasional.kompas.com/read/2016/01/26/14332741/Australia.Utara.Tolak.Rencana.Pembangunan.Pan
gkalan.Militer.AS.di.Wilayahnya
11
https://tirto.id/kekuatan-tni-gagap-menghadapi-ancaman-perang-modern-cxP4
12
Ibidem 11
13
Ibidem 11
Indonesia (Persero) alias Inuki.Sementara klaster NSHI berisi PT PAL Indonesia (Persero), PT
Dok & Perkapalan Kodja Bahari (Persero) alias DKB dan sebagainya.14
Keunggulan PT PAL telah diakuai mancanegara. Seperti saat rombongan Atase Pertahanan
15 Negara - Australia, Brazil, China, Perancis, Iran, Jepang, Rusia, Singapura, Spanyol,
Swedia, Thailand, Timor Leste, Inggris, Amerika, dan Vietnam- menyaksikan langsung
kemampuan produksinya November 2016 lalu. Salah satu produksi PT PAL turut dipamerkan
pada perayaan HUT TNI ke-72 tanggal 5 Oktober 2017 di Dermaga PT Indah Kiat, Cilegon,
Banten yaitu KRI R.E. Martadinata-331. Kapal yangdikukuhkan sebagai Flagship15itudibangun
di galangan kapal PT PAL Indonesiabekerja sama dengan Damen Schiede Naval Ship Building
- perusahaan galangan kapal Belanda-. Salah satu keistimewaannya, adalah memiliki teknologi
siluman (stealth) yang tidak akan terlihat oleh sensor kapal musuh.16PT PAL dianggap sebagai
galangan kapal militer elit di Asia, karena mampu membangun perlengkapan kapal dengan
teknologi mutakhir dalam kapal selam, jugapembuatan Sealift Strategis Vessel (SSV)/ Landing
Helicopter Docks (LHD) danlight frigate modern.17 Kapabilitas dan kompetensi perusahaan plat
merah ini diakui melalui keberhasilannyamemenuhi pesanan Kapal Perang Strategic Sealift
Vessl (SSV) Kementerian Pertahahan Filipina secara tepat waktu.
Tidak hanya keunggulan produksi matra laut, untuk matra udara masyarakat Indonesia juga
bangga dengan kehadiran PT Dirgantara Indonesia (PT DI). Enam tahun setelah berdiri pada
1976, PTDI yang dulu bernama IPTN sudah mulai memproduksi helikopter multiguna Super
Puma EC725 alias H225M bermesin ganda untuk keperluan militer yang diproduksi secara
berbarengan oleh Airbus dan PTDI. Kebanyakan EC725 digunakan sebagai helikopter angkut
dan pernah diterjunkan di Afghanistan, Mali dan Libya. Salah satu produk unggulan PT DI
adalah helikopter atas lisensi Bell Helicopter– perusahaan Amerika Serikat- yakni Bell 412EP.
Sejak mendapat lisensi, PTDI telah memproduksi 63 unit Bell 412EP, 30 diantaranya dipesan
oleh TNI dan Polri. Demikian pula capung besi bernama AS565 MBeyang mendapat lisensi dari
Airbus Helicopter. Dilengkapi dengan mesin ganda, helikopter yang di Eropa bernama Panther
ini juga digunakan oleh TNI dan Badan SAR Nasionaldalam misi medis, perang dan anti kapal
selam. Selanjutnya, pesawat CN235-220 varian terbaru yang sepenuhnya diproduksi di dalam
negeri. Pesawat multiguna bermesin ganda ini paling banyak digunakan militer Turkidengan
memilikinya sebanyak 59 unit.18
Demikian juga untuk persenjataan. Pemerintah Indonesia telah memiliki Pabrik Alat Peralatan
Angkatan Darat pada 1958, lalu berubah nama menjadi Perindustrian TNI Angkatan Darat
(Pindad) pada 1962, menjadi Komando Perindustrian TNI Angkatan Darat pada 1972, dan
kembali bernama Pindad pada 1976. Industri ini telah menghasilkan pelbagai jenis peluru untuk
meriam, mortir, senapan, granat tangan, dan bom.Pada 1983, pabrik senjata Pindad menjadi
perusahaan negara dan Angkatan Darat adalah satu-satunya angkatan militer yang punya
pabrik senjata. Sebagai angkatan dengan personel terbanyak, tentu saja banyak senjata ringan
buatan Pindad dipakai prajurit Angkatan Darat.19Semua pencapaian itu membuktikan bahwa
Indonesia sebenarnya memiliki potensi yang luar biasa dalam pembangunan kekuatan
pertahanan, khususnya industri strategis.
Tersandera Kepentingan Global
Namun potensi anak bangsa yang luar biasa dalam memenuhi kebutuhan kekuatan
pertahanan, belum diapresiasi, apalagi dimanfaatkan secara optimal oleh negara. Kondisi

14
http://www.imq21.com/news/read/461022/20170920/073040/13-BUMN-Industri-Strategis-Pamer-Inovasi.html
15
kapal utama yang punya spesifikasi persenjataan paling mumpuni di suatu
armadahttp://www.indomiliter.com/kri-gadjah-mada-flagship-dan-destroyer-pertama-tni-al/
16
https://jakartagreater.com/tni-al-unjuk-gigi-pamer-alutsista-baru-dan-inovasi-di-hut-tni-2017/
17
https://jakartagreater.com/sadar-gak-betapa-dasyatnya-pt-pal-indonesia/
18
http://www.dw.com/id/daftar-pesawat-terbaik-buatan-indonesia/g-37990432
19
https://tirto.id/riwayat-pindad-penyedia-bedil-tni-ad-cxP6
tersebut bisa dimengerti karena pemerintah yang berada dalam era globalisasi ini telah
tersandera dalam bingkai reinventing government (regom)pada pengelolaan negara, termasuk
dalam perencanaan dan pembangunan kekuatan pertahanan. Pada paradigma ini, negara
dilihat hanya seperti“perusahaan jasa modern”sehingga peran dan fungsinya sebagai
pelaksana dan penjamin semua hajat rakyat tidak tertunaikan.
Minimum Essential Force (MEF) yang disusun oleh Kementrian Pertahanan, Kemen-
PPN/Bappenas, Kemenkeu, dan TNI sebagai kebijakan bersama (collegial policy) juga tak
dapat menghindari konsep regom. MEF yang merupakan pembangunan kekuatan pertahanan
militer - terdiri atas Alutsista, sarana dan prasarana, organisasi, dan SDM- menjadikan
Kementerian Pertahanan sebagai fungsi pemerintah pada aspek regulator, administrator, dan
fasilitator20 saja.
Pada aspek perencanaannya sendiri, tampaknya Indonesia tidak mampu bersikap mandiri.
Keberadaan AS sebagai ‘penguasa dunia’ saat ini menjadikan negara-negara lain, termasuk
Indonesia berada di bawah kendali strateginya. Sejak November 2011, ketika Barrack Obama
mendeklarasikan perhatian negaranya bergeser ke Asia Pasifik, semua sumberdaya dikerahkan
dalam konstruksi militer demi mendukung kehadiran AS di kawasan ini.21 Sekalipun saat ini
kepemimpinan Obama digantikan Donald Trump, tampaknya AS belum mau mengubah strategi
militernya di kawasan Asia Pasifik. AS masih menginginkan keberlangsungan kerjasama
dengan sekutu-sekutu dan mitra-mitranya bahkan AS kian melebarkan ekspansinya di kawasan
yang bakal menjadi penyelamat krisis ekonominya.22
Sebagai peneguhan komitmen Indonesia dalam menjalankan demokratisasi, terlebih lagi
setelah peristiwa 11 September 2001, AS terlibat intensif dalam pendidikan dan pelatihan militer
di Indonesia. Khususnya setelah pencabutan embargo militer pada tahun 2005. Susilo
Bambang Yudhoyono dan Obama bahkan menguatkan kerjasama hankam sebagai salah satu
prioritas dalam Comprehensive Patnershipyang disepakati sejak 2010. Realisasinya, 500
perwira militer Indonesia belajar di AS sejak 2014.23
Karena itulah, bisa dipahami bila strategi hankam, termasuk dalam menentukan potensi
ancaman di Indonesia ini sesuai dengan dikte-dikte AS. Seperti yang disebut sebagai ancaman
aktual dalam MEF adalah terorisme, separatisme, beragam kegiatan ilegal, konflik horizontal,
cyber crime dan kelangkaan energi. Sedangkan ancaman potensial adalah pemanasan global,
beragam kegiatan ilegal di ALKI(Alur Laut Kepulauan Indonesia), pencemaran lingkungan,
pandemik, krisis finansial, agresi militer, serta kelangkaan air bersih dan pangan.24
Pendefinisian semua ancaman tersebut tidak terlepas dari tafsir tunggal ala AS dalam
menempatkan siapa kawan dan lawannya.
Ironisnya, jika pembangunan MEFjuga disusun dari kemampuan yang menjadi kemandirian
(capability based defense)25, justru kondisi tersebut tidak terealisir dalam strategi pertahanan
Indonesia. Masih ingat polemik yang dimunculkan Panglima TNI Gatot Nurmantyo di depan
purnawirawan TNI dengan mengembuskan isu tentang institusi nonmiliter yang berencana
membeli 5000 senjata secara illegal?26 Polemik itu berakhir ketika ratusan senjata dan ribuan
amunisi di Gudang Kargo Unex, Bandara Soekarno Hatta, diakui sebagai milik Korps Brigade
(Brimob) Polri. Menurut situs lpse.polri.go.id, proses lelang impor senjata dan amunisi untuk

20
PERATURAN MENTERI PERTAHANAN REPUBLIK INDONESIA NOMOR 19 TAHUN 2012 TENTANG KEBIJAKAN
PENYELARASAN MINIMUM ESSENTIAL FORCE KOMPONEN UTAMA
21
Asia-Pacific Rebalance 2025. Capabilities, Presence, and Partnerships, CSIS January 19, 2016
22
Ibidem 21
23
Ibidem 21
24
Ibidem 20
25
Ibidem 20
26
https://www.cnnindonesia.com/nasional/20171001114351-32-245361/polemik-impor-senjata-dan-kegagalan-
komunikasi-jenderal-gatot/
Korps Brimob ini dimulai pada Januari 2017 silam. Lelang akhirnya dimenangkan PT. Mustika
Dutamas dengan penawaran sekitar Rp49,091 miliar pada Oktober 2017.27
Mengapa dana yang sedemikian besar harus dikeluarkan untuk membeli senjata impor?
Bukankah PT Pindad juga mampu untuk diarahkan memproduksi senjata sejenis? Nyatanya,
meski Pindad sudah memproduksi pistol, senapan ringan untuk infanteri (Senapan Serbu /SS)
hingga panser, tetapi tak semua peralatan tempur untuk TNI betul-betul dipasok dari produk
dalam negeri alias buatan Pindad.28 Hal itu terjadi, sekali lagi karena Indonesia telah menjadi
pasar potensial bagi industri militer Barat. Data CSISWashington menyebutkan bahwa pada
tahun 2013, pemasok utama persenjataan militer Indonesia adalah AS (19 persen) diikuti Rusia
–langganan Indonesia sejak lama- (14 persen), Perancis (13 persen), Jerman (9persen) dan
Inggris (9 persen). Industri milter lokal Indonesia hanya berkontribusi sebesar 11 persen dari
seluruh kebutuhan senjata, sekalipun industri militer lokal Indonesia mampu memasarkan
kendaraan lapis baja untuk kebutuhan pasukan penjaga perdamaian PBB. Dan secara khusus,
buntut kesepakatan Comprehensive Patnership antara AS dan Indonesia menghasilkan
penjualan perlengkapan militer AS ke Indonesia sebesar 1.5 milyar dollar AS pada tahun
2014.29 Padahal, secanggih apapun spesifikasi senjata yang diimpor, produsen manapun tidak
akan memberikan spesifikasi mutakhir pada pembelinya. Apalagi industri kemiliteran selalu
terkait pada aspek ketahanan dan kedaulatan sebuah negara yang sarat akan strategi dan tipu
daya.
Sungguh sayang bila anggaran pertahanan yang besar hanya dihabiskan untuk pembelian
senjata impor. Sekali lagi, bila merujuk pada MEF, penganggaran ketahanan disesuaikan
dengan kemampuan ekonomi negara dengan konsep capability based planninguntuk mencapai
tingkat kekuatan tertentu.30 Realitasnya, kemampuan ekonomi Indonesia masih kedodoran
dalam memenuhi kebutuhan pembangunan kekuatan militer. Dalam daftar pagu indikatif 2018,
Kementerian Pertahanan masih mendapatkan anggaran yang paling tinggi sebesar Rp 106,9
triliun31. Sekalipun itu anggaran tertinggi, tapi masih sangat kurang dengan kebutuhan, bahkan
anggaran 2018 turun dari APBN-P 2017 yang sebesar Rp 114,8 triliun.32 Merujuk pendapat
Muradi, jumlah tersebut masih jauh dari keperluan ideal militer Indonesia.
Dengan semua kondisi tersebut, bagaimana mungkin faktor penggentar (deterrence factor) –
sebagai pembangunan MEF keempat33-, mampu terwujud? Apalagi, kekuatan yang
menggentarkan itu bukan hanya sekedar ditentukan oleh jumlah pasukan dan kepemilikan
senjata canggih dan mutakhir. Faktor utama penentu kedigdayaan militer sebuah negara justru
amat ditentukan oleh kedaulatan yang dimiiki Negara tersebut.
Kedaulatan terkait dengan pemerintahan yang memiliki kendali penuh urusan dalam negerinya
sendiri dalam suatu wilayah teritorial atau geografisnya.34 Kedaulatan-lah yang menjadikan
suatu negara mampu menentukan sikapnya secara mandiri dalam konstelasi politik
internasional, terutama pembangunan kekuatan dan ketahanannya. Saat ini, sungguh mustahil
menemukan negara yang benar-benar berdaulat dan bebas dari intervensi negara lain,
sekalipun masyarakat dunia melihat mereka terus menerus melancarkan permusuhan. Hal itu
terjadi karena politik acap kali terjadi melalui strategi ataupun tipu daya yang amat rumit, yang
sulit dipahami oleh mata awam.

27
Ibidem 24
28
Ibidem 19
29
Ibidem 21
30
Ibidem 20
31
https://finance.detik.com/berita-ekonomi-bisnis/3471953/sri-mulyani-bocorkan-jatah-anggaran-2018-siapa-
dapat-paling-besar
32
https://www.merdeka.com/uang/anggaran-di-2018-turun-tni-tetap-pertimbangkan-pengadaan-alutsista.html
33
Ibidem 20
34
https://id.wikipedia.org/wiki/Kedaulatan
Mewujudkan Supremasi Militer
Kalaupun AS dianggap sebagai negara yang memiliki kekuatan militer kelas wahid,
kenyataannya, kemampuan militer AS tidak sehebat yang ditampakkan dalam film-film
Hollywood. AS keok pada banyak pertempuran, bahkanketika berhadapan dengan kekuatan
yang ‘tak berimbang’ seperti pada perang Vietnam, perang Teluk, apalagi perang Afghanistan.
Bahkan pada 19 Juli 2017 lalu, Presiden Trump terus terang mengeluhkan kepada para
bawahannya bahwa AS kalah perang di Afghanistan.35Apalagi banyak peperangan yang terjadi
hanya untuk melancarkan niat busuk AS dalam melakukan infiltrasi, agresi dan penjajahan.
Jadi, tidak sepantasnya Indonesia berkaca dan menjadikan AS sebagai mentor dalam
menyusun kekuataan pertahanannya.
Lalu, harus berkaca pada siapakah dalam menyusun kekuatan militer? Bila bangsa modern
saat ini hanya mengacu pada kecanggihan strategi pertahanan yang disusun AS dan sekutu-
sekutunya, itu sungguh keliru, karena AS sesungguhnya adalah musuh dalam selimut.
Sehingga strategi ataupun konsep pertahanan yang mereka tawarkan, hanya akan
menguntungkan AS secara sepihak, tidak pernah membangun kekuatan militer riil negara yang
dipandunya. Karena itulah, tidak ada sebaik-baik teladan kecuali berkaca pada konsep dan
strategi pembangunan kekuataan yang direalisasikan oleh Rasulullah Muhammad SAW dan
dilanjutkan oleh para Khalifah setelahnya.
Teringat sebuah hadits Rasulullah SAW yang menyatakan, ”Konstantinopel akan jatuh di
tangan seorang pemimpin yang sebaik-baik pemimpin, tentaranya sebaik-baik tentara, dan
rakyatnya sebaik-baik rakyat.” Sekalipun untuk ‘membuktikan’ hadits tersebut membutuhkan
waktu 800 tahun, namun Konstantinopel –supremasi kejayaan sebuah imperium yang berumur
11 abad- memang jatuh di tangan Sultan Muhammad Al-Fatih dari Dinasti Usmaniyah pada
tahun 1453 M. Keteguhan, kecerdikan, kesabaran dan berbagai keunggulan mental militer
memang dimiliki oleh pasukan yang telah menggepung pertahanan tangguh benteng Bizantium
selama 50 hari.
Sejarah membuktikan bahwa kemampuan yang dimiliki dalam membangun kekuatan
pertahanan dan militer sebuah negara, tidak cukup berbekal data-data tentang jumlah
anggaran, personil tentara ataupun jumlah alutsistanya. Pembangunan kekuatan militer jelas
membutuhkan banyak faktor, bukan sekedar kemampuan fisik dan hitung-hitungan matematis
yang materialistis. Yang seringkali dilupakan, adalah faktor transendental, faktor ruhiyah yang
harus menjadi landasan konsep pembangunan negara, termasuk dalam aspek militer. Bukan
sekedar faktor religius spiritual –seperti membuat kompi khusus sholawat- namun konsep yang
dilandasi oleh wahyu Allah SWT harus menjadi dasar dalam perencanaan dan pembangunan
militer. Karena, hanya Allah yang Maha Tahu dan Maha Bijaksana dalam menuntun manusia
menjalani kehidupan dengan peraturan-peraturan yang telah diturunkannya dalam konsep
kenegaraan.
Syari’at Islam yang berasal dari Allah SWT meniscayakan Khilafah sebagai kepemimpinan
umum bagi seluruh kaum muslimin untuk menegakkan hukum-hukum syari’at Islam dan
mengemban dakwah ke seluruh dunia. Aktifitas pengembanan dakwah ke seluruh dunia, tidak
bisa dipisahkan dari jihad. Militer berfungsi sebagai kekuatan untuk melaksanakan jihad.
Keberadaaan militer juga sebagai kekuatan yang melindungi kekuasaan secara internal dan
eksternal. Dalam hal ini, kekuatan militer terkait dengan keberadaannya sebagai ruh bagi
kekuasaan dan pemerintahan. Karena itu kedudukan militer dan angkatan bersenjata adalah
kedudukan yang amat penting dalam menjaga kekuasaan.36
“Diwajibkan atas kamu berperang, Padahal berperang itu adalah sesuatu yang kamu benci.
boleh Jadi kamu membenci sesuatu, Padahal ia Amat baik bagimu, dan boleh Jadi (pula) kamu

35
https://www.kiblat.net/2017/08/03/trump-sebut-kalah-perang-di-afghanistan-frustrasi/
36
An Nabhani, Taqiyuddin. Syakhshiyyah Islamiyyah Jilid II. HTI Press 2011.
menyukai sesuatu, Padahal ia Amat buruk bagimu; Allah mengetahui, sedang kamu tidak
mengetahui.” (QS: 2;216)
Kewajiban jihad tetap melekat pada kaum muslimin, ada atau tiada Khilafah. Namun ketika
Khilafah tegak, wajib atas Khalifah untuk mencurahkan kemampuannya untuk berperang sendiri
atau mengutus pasukannya melakukan ekspedisi. Karena wajib bagi Khalifah untuk
mempersiapkan segala jenis kekuatan yang dapat membentengi Negara dan umat dari
kekuatan yang mengancam mereka.
Khalifah adalah panglima tertinggi militer. Dialah yang memimpin jihad. Khalifah merancang
sendiri seluruh politik kemiliteran dan politik perang yang sifatnya internal maupun eksternal,
baik konsep, strategi dan persiapan perang. Karena itu Khalifah harus mengerti permasalahan
yang terkait politik luar negeri, kedudukan militer serta berbagai pertimbangan kemiliteran.
Semuanya dalam rangka mewujudkan supremasi kekuatan militer yang diakui dan disegani
musuh. Untuk mewujudkan posisi tersebut, umat Islam juga terus menerus dipupuk
keyakinannya bahwa perang antara negara Islam dan negara lain mungkin akan terjadi setiap
waktu. Politik negara harus didirikan di atas dasar persiapan jihad untuk menakut-nakuti musuh
dan untuk berperang. 37 Demi merealisakan hal itu, jelas diperlukan kekuatan mandiri yang
bebas dari intervensi negara manapun.

Persiapan keperluan militer dalam negara Islam, diawali dengan penyediaan anggaran yang
cukup dalam baitul maal. Anggaran inilah yang digunakan untuk mempersiapkan dan
menggadakan keperluan logistik ketentaraan, alutsista, industri strategis dan hal-hal lainnya.
Jika dana dalam baitul maal tidak mencukupi anggaran kebutuhan jihad, maka Khalifah boleh
mengumpulkan dana dari kaum muslimin. Maka politik negara Islam mengarah pada
penciptaan kondisi yang mengarah pada persiapan untuk memasuki kancah peperangan, jika
aktifitas pengembanan dakwah menuntut hal itu. Tujuannya adalah untuk mencapai
kemenangan, mempertahankan eksistensi wilayah Islam atau melindungi kehormatan kaum
muslim.38
Sekalipun jihad adalah dasar politik Khilafah, namun tabiat militeristik Khilafah sungguh jauh
dari perusakan, kesewenang-wenangan ataupun penjajahan. Islam mensyariatkan bahwa
memerangi musuh secara riil tidak boleh dilakukan sebelum dakwah Islam disampaikan pada
bangsa manapun dengan cara yang menarik hati.
‘Dan tidak (pula) menginjak suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan
tidak menimpakan suatu bencana kepada musuh, kecuali (semua) itu akan dituliskan bagi
mereka sebagai suatu amal kebajikan. Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-
orang yang berbuat baik.” [TQS At Taubah ayat 120]
Pembangunan persiapan militer bagi Khilafah bukanlah sekedar persiapan pertahanan semata.
Tetapi agar negara mampu melaksanaakan apa yang telah diwajibkan Allah SWT atasnya.
Agar Negara dapat menjaga kesinambungan perjalanan politiknya secara benar dan produktif.
Karena itu pembangunan kekuatan militer kepentingannya lebih dari sekedar keberadaannya
sebagai satu-satunya pelindung bagi umat dari teror serangan kafir.
Itulah yang terpatri dalam tinta emas sejarah : supremasi kekuatan militer Negara adi kuasa
yang bertahan berabad-abad lamanya. Pada masa Utsmaniyyah, tentara Islam telah sampai ke
benteng Vienna di Austria, setelah menaklukkan Eropa, yakni Yunani, Bulgaria, Rumania,
Albania dan Yugoslavia. Dan Khilafah membentangkan kekuasaan Islam di wilayah tersebut.
Sampai-sampai opini umum di Eropa menyatakan bahwa tentara Islam tidak terkalahkan. Inilah
wujud kekuatan riil sebuah Negara : kekuatan berdaulat, mandiri dan riil. Tak mustahil bagi
Indonesia untuk mendapatkannya, dengan satu kondisi : berada dalam naungan Khilafah
Islamiyyah. Wallahu ‘alam bish hsowab.

37
Ibidem 36
38
Ibidem 36