Anda di halaman 1dari 24

PENGGOLONGAN SUMBER DAYA ALAM

1. Berdasarkan Pembentukannya

a. Sumber daya alam yang dapat diperbaharui

Sumber daya alam yang dapat diperbaharui adalah sumber daya alam yang jika
dimanfaatkan tidak akan habis karena dapat diperbaharui kembali dengan budi daya maupun
secara alami.
Pembaharuan bisa dilakukan melalui dua cara:
1) Reproduksi, terjadi pada sumber daya alam hayati karena hewan dan tumbuhan dapat berkembang
biak sehingga jumlahnya selalu bertambah.
2) Siklus, terjadi pada air, udara, tanah, dan energi matahari dapat diperbaharui dengan proses yang
melingkar membentuk siklus.

b. Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui


Sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui adalah sumber daya alam yang jika
dimanfaatkan terus-menerus akan habis, karena tidak dapat diperbaharui.
Berdasarkan daya pakai dan nilai konsumtifnya:
1) Sumber daya alam yang tidak cepat habis, karena nilai konsumtif terhadap barang itu relatif kecil.
Contoh: Intan, emas, dan batu permata.
2) SDA yang cepat habis, karena nilai konsumtif akan barang ini relatif tinggi.
Contoh: gas alam, batu bara, dan minyak bumi.

2. Berdasarkan bagian atau bentuk yang dimanfaatkan


a. Sumber daya alam materi, adalah materi yang berupa benda mati diambil dari alam melalui
penambangan dan pengolahan sehingga bermanfaat. Contoh: batu kapur dan tanah liat diolah
menjadi semen sebagai bahan bangunan.
b. Sumber daya alam hayati, terdiri dari tumbuhan dan hewan.
c. Sumber daya alam energi, contoh: bahan bakar minyak, gas alam, batu bara, dan kayu bakar
dimanfaatkan untuk memasak dan menggerakkan kendaraan atau mesin.
d. Sumber daya alam ruang, adalah ruang atau tempat yang diperlukan manusia untuk hidup. Contoh:
tempat tinggal, tempat bermain, ruang untuk mata pencaharian.
e. Sumber daya alam waktu, adanya waktu terikat dengan pemanfaatan sumber daya alam lainnya.
Contoh: saat musim kemarau sulit mendapat air, akibat mengganggu tanaman pertanian.

B. TANAH
Tanah adalah lapisan kulit bumi paling luar yang merupakan hasil pelapukan dan
pengendapan batuan yang dalam proses terjadinya telah bercampur dengan bermacam-macam
bahan organis.
Jenis-Jenis Tanah di Indonesia
a. Tanah Humus
Tanah humus adalah tanah hasil pelapukan tumbuh-tumbuhan (bahan organik). Tanah
jenis ini terdapat di Sumatra, Kalimantan, Sulawesi dan Irian.
b. Tanah Vulkanis
Tanah vulkanis adalah tanah hasil pelapukan bahan padat dan bahan cair yang
dikeluarkan oleh gunung berapi. Jenis tanah ini terdapat di Pulau Jawa (Utara), Sumatra, Bali,
Lombok, Halmahera dan Sulawesi.
c. Tanah Podzol
Tanah podzol adalah tanah yang terjadi karena pengaruh suhu rendah dan curah hujan
tinggi. Jenis tanah ini terdapat di pegunungan tinggi.

d. Tanah Laterit
Tanah laterit adalah tanah yang terjadi karena suhu tinggi dan curah hujan tinggi,
mengakibatkan berbagai mineral yang dibutuhkan oleh tumbuh-tumbuhan larut dan meninggalkan
sisa oksidasi besi dan aluminium. Tanah ini terdapat di Jawa Timur, Jawa Barat,dan Kalimantan
Barat.
e. Tanah Pasir
Tanah pasir adalah tanah hasil pelapukan batuan beku dan sedimen, tidak terstruktur.
Tanah pasir terdapat di Pantai Barat Sumatera Barat, Jawa Timur,dan Sulawesi.
f. Tanah Gambut
Tanah gambut adalah tanah yang berasal dari bahan organik yang selalu tergenang air.
Karena kekurangan unsur hara dan peredaran udara di dalamnya tidak lancar, proses penghancuran
tanah sempurna. Tanah ini terdapat di Pantai Timur Sumatra, Kalimantan, dan Irian Jaya.
g. Tanah Mergel
Tanah mergel adalah tanah yang terjadi dari campuran batuan kapur, pasir, dan tanah liat.
Pembentukan tanah ini dipengaruhi oleh hujan yang tidak merata sepanjang tahun. Tanah ini
banyak terdapat di lereng pegunungan dan dataran rendah, misalnya Solo, Madiun, Kediri, dan
Nusa Tenggara.
h. Tanah Kapur (Renzina)
Tanah kapur adalah tanah yang terjadi dari bahan induk kapur (batu endapan) dan telah
mengalami laterisasi lemah. Jenis tanah ini terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi, Nusa
Tenggara, Maluku, dan di Sumatera.
i. Tanah Padas
Tanah padas adalah tanah yang amat padat karena mineral di dalamnya dikeluarkan oleh
air yang terdapat di lapisan tanah sebelah atasnya. Jenis tanah ini terdapat hampir diseluruh
wilayah Indonesia.
j. Tanah Endapan
Tanah endapan adalah tanah yang terjadi akibat pengendapan batuan induk yang telah
mengalami proses pelarutan dan pada umumnya merupakan tanah yang subur. Jenis tanah ini
terdapat di Jawa bagian utara, di Sumatera bagian timur, Kalimantan bagian barat, dan Selatan.
Jenis tanah endapan adalah:
1) Tanah endapan laterit
2) Tanah endapan pasir, dan
3) Tanah endapan vulkanis.
k. Tanah Terrarosa
Tanah terrarosa adalah tanah yang terbentuk dari pelapukan batuan kapur. Tanah ini
banyak terdapat di dasar dolina-dolina dan merupakan tanah pertanian yang subur di daerah batu
kapur. Tanah ini banyak terdapat di Jawa Timur, Jawa Tengah, Sulawesi, Nusa Tenggara, Maluku,
dan Sumatera.

C. AIR
Air yang meresap ke dalam tanah akan menempati pori-pori batuan sebagai air tanah.
Kedalaman air tanah berbeda-beda tergantung pada tinggi-rendahnya permukaan bumi dan musim
yang sedang berlaku.
Berdasarkan hal itu, dapat dibedakan menjadi dua:
1. Air di Daratan
a. Air permukaan
Air permukaan adalah air yang mengalir di atas permukaan bumi dan dapat terlihat
wujudnya. Air permukaan meliputi sungai, danan, rawa, daerah aliran sungai, teluk, selat,
laut/lautan.
1) Sungai
Sungai adalah bagian daratan yang lebih rendah dari daerah sekitarnya sehingga menjadi
tempat aliran air.
Berdasarkan sumber airnya,dibedakan tiga:
a) Sungai hujan, sumber airnya berasal dari hujan.
b) Sungai gletser, sumber airnya berasal dari gletser yang mencair.
c) Sungai campuran.
Berdasarkan keadaan airnya sepanjang tahun:
a) Sungai permanen, sungai yang alirannya tetap sepanjang tahun.
b) Sungai periodik, sungai yang airnya tidak tetap sepanjang tahun. Pada musim hujan airnya meluap
dan pada musim kemarau airnya kering.
2) Danau
Danau adalah cekungan di daratan yang berisi air. Permukaannya lebih tinggi dari
permukaan air laut.
Berdasarkan proses terjadinya, danau terbagi atas:
a) Danau tektonik, terjadi akibat tenaga tektonik. Contoh: Danau Tanganyika dan Danau Nyassa.
b) Danau bendungan, terjadinya karena terbendungnya oleh alam (seperti Danau Laut Tawar di Aceh
dan Danau Tordano di Sulawesi Utara) dan oleh manusia (seperti Waduk Jatiluhur, Waduk
Sanguling, Waduk Cirata di Jawa Barat, dll).
c) Danau Karit, terjadi karena larutnya batuan kapur. Misalnya Dolin, Polye dan Lokva di daerah
Gunung Kidul.
d) Danau Vulkanik, terjadi karena adanya gunung berapi yang meletus dan mengeluarkan
ekshalasi.
Danau vulkanik ada 3 macam:
(1) Danau Kawah, terjadi karena kawah yang meletus atau kepundan gunung api tergenang air hujan.
(2) Danau Maar, merupakan lubang berbentuk corong yang terjadi sesudah letusan gunung api dan
lubang tersebut terisi air hujan.
(3) Danau Kaldera, terjadi karena peletusannya yang kuat.
e) Danau Tektovulkanik, terjadi karena adanya tenaga tektonik vulkanik. Misalnya Danau Toba,
Batur dan Dana Ranau.
3) Rawa
a) Rawa selalu tergenang, kadar keasamannya tinggi, di dasarnya terdapat gambut yang tebal.
b) Rawa yang mengalami pergantian air, terjadi karena pengaruh pasang naik dan surut. Airnya tidak
terlalu asam dan lapisan gambut di dasarnya tidak terlalu tebal.

b. Air Bawah Tanah


Air bawah tanah (air tanah) ialah air yang terdapat pada pori-pori batuan. Beberapa
macam air tanah, sebagai berikut:
1) Air tanah dangkal, adalah air yang terdapat di atas lapisan kedap air yang paling dekat dengan
permukaan bumi.
2) Air tanah dalam, ialah air tanah yang terdapat pada lapisan air. Salah satu sumber air yang berasal
dari air tanah dalam adalah sumber air artesis.
2. Air di Lautan (Air Laut)
Berdasarkan kedalamannya, digolongkan menjadi empat:
a. Wilayah pasang (Zona Lithoral)
Tergenang pada waktu pasang dan kering pada waktu surut.
b. Wilayah laut dangkal (Zone Neritis)
Mempunyai kedalaman sampai 200 meter. Sinar matahari masih dapat menembus sampai
ke dasar laut.
c. Wilayah laut dalam (Zone Bathyal)
Kedalamannya antara 200-1000 meter. Matahari tidak dapat menembus ke dasar laut.
d. Wilayah laut sangat dalam (Zone Abysad)
Kedalamannya lebih dari 1000 meter. Merupakan wilayah yang gelap karena sinar
matahari tidak dapat menembus ke dasar laut.
Wilayah laut di Indonesia berdasarkan terjadinya:
a. Laut Regresi, terjadi karena menyempitnya luas permukaan laut diseluruh dunia akibat turunnya
permukaan laut.
b. Laut Transegresi, terjadi karena genangan air laut terhadap daratan sebagai akibat naiknya
permukaan air laut.
c. Laut Ingresi, adalah laut dalam yang makin dalam akibat dasar laut yang bergerak turun.
Berdasarkan letaknya terhadap benua:
a. Laut Tepi, adalah laut yang letaknya di tepi benua.
b. Laut Pedalaman, letaknya di pedalaman suatu benua.
c. Laut Tengah, laut yang diapit oleh dua benua atau lebih.
Berdasarkan sifat fìisik dan kimianya:
a. Suhu Air Laut
Makin dalam laut makin rendah suhu air laut karena sumber suhu air laut adalah
penyinaran matahari.
b. Kadar Garam Air Laut (Salinitas)
Tinggi rendahnya kadar garam bergantung pada faktor penguapan, curah hujan, dan
jumlah sungai yang bermuara ke laut.
c. Gerakan Air Laut
Gerakan air laut terdiri atas ombak (gelombang), arus laut, pasang naik dan pasang surut.

D. UDARA
Udara adalah campuran berbagai gas yang tidak berwarna dan tidak berbau yang
memenuhi ruang di atas bumi. Lapisan udara atau uap yang sudah terbentuk oleh kekuatan dan
proses alam sehingga bermanfaat bagi kehidupan makhluk hidup.
1. Pemanfaatan udara untuk kehidupan
a. Pernapasan manusia dan binatang
b. Pernapasan dan fotosintesis tumbuh-tumbuhan, dan lain-lain.
2. Manfaat gerakan udara (angin) bagi kehidupan
a. Salah satu medium untuk merambatkan bunyi dan cahaya
b. Untuk pelayaran, perhubungan, dan komunikasi
c. Untuk kincir angin
d. Untuk kegiatan nelayan
E. BARANG TAMBANG
Barang tambang merupakan sumber daya yang banyak dibutuhkan untuk kehidupan
manusia, pendukung pembangunan, dan bahan dasar industri.
1. Jenis dan Persebaran Barang Tambang.
Digolongkan sebagai berikut:
a. Barang Tambang Energi, terdiri atas minyak bumi, gas bumi dan batu bara.
b. Barang Tambang Mineral Logam, terdiri atas timah, bauksit/aluminium, besi, tembaga, nikel,
emas, perak, dan mangan.
c. Barang Tambang Mineral Bukan Logam/Tambang Industri, terdiri atas intan, belerang, fosfat,
gamping/batu kapur, lempung/tanah liat, marmer, batu, pasir, dan lain-lain.
2. Persebaran Barang Tambang di Indonesia.
a. Minyak Bumi, terdapat di Sumatera, Pulau Jawa, Pulau Kalimantan, Seram, dan Irian Jaya.
b. Gas Bumi, terdapat di Bontang dandi Arun.
c. Batu Bara, terdapt di Ombilin/Sawahlunto, Bukit Asam, dal Kalimantan Timur.
d. Timah Putih, terdapat di Bangka, di Belitung, Sinkep, dan Bangkinang.
e. Bauksit/Aluminium, terdapat di Bintan.
f. Tembaga, terdapat di Tembaga Pura di Irian Jaya.
g. Besi, bijih besi terdapat di Kalimantan Selatan, Sulawesi Selatan, dan Sulawesi Tenggara.
Sedangkan pasir besi ditemukan di Lampung, pantai selatan Jawa Tengah.
h. Nikel, terdapat di Sulawesi Tenggara (Bulubulang, Pomala Utara dan Selatan).
i. Emas dan Perak, tambang emas utama di Cikotok.
j. Bahan Tambang Industri
1) Intan, terdapat di Cempaka, Kal-Sel.
2) Belerang, terdapat di sekitar kepundan gunung api.
3) Batu gamping/kapur, terdapat di Pegunungan kapur Pulau Jawa, Sumatera Utara, Sumatera
Selatan, dan Sulawesi Tenggara, Bali, dan Irian Jaya bagian Selatan.
4) Marmer atau Batu Pualam, terdapat di Trenggalek dan Tulung Agung (Jawa Timur), di dekat
Banjarnegara Jawa Tengah, dan Lampung.
5) Fosfat, terdapat di Pegunungan kapur dan di Pulau Jawa.
6) Aspal, terdapat di Pulau Buton dan Sulawesi Tenggara.
3. Peranan Barang Tambang dan Pembangunan Indonesia.
a. Untuk memenuhi kebutuhan lokal
b. Untuk memenuhi kebutuhan nasional
c. Sebagai sumber devisa negara
d. Sebagai bahan batu industri

F. PELESTARIAN SUMBER DAYA ALAM


Pemanfaatan sumber daya alam dapat mengganggu keseimbangan ekologi. Oleh karena
itu, harus memperhatikan sifat dan ciri sumber daya alam itu.
1. Bentuk kerusakan sumber daya alam
Agar pemanfaatan sumber daya alam tetap lestari, beberapa hal perlu diperhatikan:
a. Hemat dan memperhatikan kebutuhan untuk masa depan.
b. Mencapai efektivitas pemakaian tertinggi.
c. Tidak mengganggu keutuhan sumber daya lain dan lingkungan sekitar.
2. Usah Pelestarian Sumber Daya Alam
a. Usaha Preventif (Pencegahan)
Dilakukan sebelum suatu permasalahan timbul, yaitu dengan menggunakan kemampuan
melihat atau menjangkau kemasa yang akan datang.
b. Usaha Kuratif (bersifat perbaikan)
Suatu usaha yang dilakukan setelah kerusakan terjadi. Jadi, usaha kuratif berupa
rehabilitasi situasi agar kerugian dapat dikurangi.
Permasalahan SDA dan Penguasaan
struktur SDA
Sumber daya alam dimanfaatkan untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat dengan tetap
memperhatikan kelestarian fungsi lingkungan hidupnya. Dengan demikian sumber daya alam
memiliki peran ganda, yaitu sebagai modal pertumbuhan ekonomi (resource based economy) dan
sekaligus sebagai penopang sistem kehidupan (life support system). Hingga saat ini, sumber daya
alam sangat berperan sebagai tulang punggung perekonomian nasional, dan masih akan diandalkan
dalam jangka menengah. Hasil hutan, hasil laut, perikanan, pertambangan, dan pertanian
memberikan kontribusi 24,8 persen dari produk domestik bruto (PDB) nasional pada tahun 2002,
dan menyerap 45 persen tenaga kerja dari total angkatan kerja yang ada. Namun di lain pihak,
kebijakan ekonomi yang lebih berpihak pada pertumbuhan jangka pendek telah memicu pola
produksi dan konsumsi yang agresif, eksploitatif, dan ekspansif sehingga daya dukung dan fungsi
lingkungan hidupnya semakin menurun, bahkan mengarah pada kondisi yang mengkhawatirkan.

Atas dasar fungsi ganda tersebut, sumber daya alam senantiasa harus dikelola secara seimbang
untuk menjamin keberlanjutan pembangunan nasional. Penerapan prinsip-prinsip pembangunan
yang berkelanjutan (sustainable development) di seluruh sektor dan wilayah menjadi prasyarat
utama untuk diinternalisasikan ke dalam kebijakan dan peraturan perundangan, terutama dalam
mendorong investasi pembangunan jangka menengah (2004-2009). Prinsip-prinsip tersebut saling
sinergis dan melengkapi dengan pengembangan tata pemerintahan yang baik (good governance)
yang mendasarkan pada asas partisipasi, transparansi, dan akuntabilitas yang mendorong upaya
perbaikan pengelolaan sumber daya alam dan pelestarian fungsi lingkungan hidup.

PERMASALAHAN

Berbagai permasalahan muncul dan memicu terjadinya kerusakan sumber daya alam dan
lingkungan hidup sehingga dikhawatirkan akan berdampak besar bagi kehidupan makhluk di
bumi, terutama manusia yang populasinya semakin besar. Beberapa permasalahan pokok dapat
digambarkan berikut ini:

Terus menurunnya kondisi hutan Indonesia. Hutan merupakan salah satu sumber daya yang
penting, tidak hanya dalam menunjang perekonomian nasional tetapi juga dalam menjaga daya
dukung lingkungan terhadap keseimbangan ekosistem dunia. Indonesia merupakan negara dengan
luas hutan terbesar dibanding dengan negara ASEAN lainnya. Namun, bersama Filipina, Indonesia
memiliki laju deforestasi tertinggi. Laju deforestasi yang pada periode 1985-1997 adalah 1,6 juta
hektar per tahun meningkat menjadi 2,1 juta hektar per tahun pada periode 1997-2001. Salah satu
akibatnya jumlah satwa Indonesia yang terancam punah tertinggi dibandingkan negara ASEAN
lainnya.
Kerusakan DAS (Daerah Aliran Sungai). Praktik penebangan liar dan konversi lahan
menimbulkan dampak yang luas, yaitu kerusakan ekosistem dalam tatanan DAS. Akibatnya, DAS
berkondisi kritis meningkat dari yang semula 22 DAS pada tahun 1984 menjadi berturut-turut
sebesar 39 dan 62 DAS pada tahun 1992 dan 1998. Pada saat ini diperkirakan sekitar 282 DAS
dalam kondisi kritis. Kerusakan DAS tersebut juga dipacu oleh pengelolaan DAS yang kurang
terkoordinasi antara hulu dan hilir serta kelembagaan yang masih lemah. Hal ini akan mengancam
keseimbangan ekosistem secara luas, khususnya cadangan dan pasokan air yang sangat dibutuhkan
untuk irigasi, pertanian, industri, dan konsumsi rumah tangga.

Habitat ekosistem pesisir dan laut semakin rusak. Kerusakan habitat ekosistem di wilayah
pesisir dan laut semakin meningkat, khususnya di wilayah padat kegiatan seperti pantai utara Pulau
Jawa dan pantai timur Pulau Sumatera. Rusaknya habitat ekosistem pesisir seperti deforestasi
hutan mangrove serta terjadinya degradasi sebagian besar terumbu karang dan padang lamun telah
mengakibatkan erosi pantai dan berkurangnya keanekaragaman hayati (biodiversity). Erosi ini juga
diperburuk oleh perencanaan tata ruang dan pengembangan wilayah yang kurang tepat. Beberapa
kegiatan yang diduga sebagai penyebab terjadinya erosi pantai, antara lain pengambilan pasir laut
untuk reklamasi pantai, pembangunan hotel, dan kegiatan-kegiatan lain yang bertujuan untuk
memanfaatkan pantai dan perairannya. Sementara itu, laju sedimentasi yang merusak perairan
pesisir juga terus meningkat. Beberapa muara sungai di Sumatera, Kalimantan, dan Jawa
mengalami pendangkalan yang cepat, akibat tingginya laju sedimentasi yang disebabkan oleh
kegiatan di lahan atas yang tidak dilakukan dengan benar, bahkan mengabaikan asas konservasi
tanah. Di samping itu, tingkat pencemaran di beberapa kawasan pesisir dan laut juga berada pada
kondisi yang sangat memprihatinkan. Sumber utama pencemaran pesisir dan laut terutama berasal
dari darat, yaitu kegiatan industri, rumah tangga, dan pertanian. Sumber pencemaran juga berasal
dari berbagai kegiatan di laut, terutama dari kegiatan perhubungan laut dan kapal pengangkut
minyak serta kegiatan pertambangan. Sementara praktik-praktik penangkapan ikan yang merusak
dan ilegal (illegal fishing) serta penambangan terumbu karang masih terjadi dimana-mana yang
memperparah kondisi habitat ekosistem pesisir dan laut.

Citra pertambangan yang merusak lingkungan. Sifat usaha pertambangan, khususnya tambang
terbuka (open pit mining), selalu merubah bentang alam sehingga mempengaruhi ekosistem dan
habitat aslinya. Dalam skala besar akan mengganggu keseimbangan fungsi lingkungan hidup dan
berdampak buruk bagi kehidupan manusia. Dengan citra semacam ini usaha pertambangan
cenderung ditolak masyarakat. Citra ini diperburuk oleh banyaknya pertambangan tanpa ijin
(PETI) yang sangat merusak lingkungan.

Tingginya ancaman terhadap keanekaragaman hayati (biodiversity). Sampai saat ini 90 jenis
flora dan 176 fauna di Pulau Sumatera terancam punah. Populasi orang-utan di Kalimantan
menyusut tajam, dari 315.000 ekor di tahun 1900 menjadi 20.000 ekor di tahun 2002. Hutan bakau
di Jawa dan Kalimantan menyusut tajam, disertai rusaknya berbagai ekosistem. Gambaran tersebut
menempatkan Indonesia pada posisi kritis berdasarkan Red Data Book IUCN (International Union
for the Conservation of Nature). Di sisi lain, pelestarian plasma nutfah asli Indonesia belum
berjalan baik. Kerusakan ekosistem dan perburuan liar, yang dilatarbelakangi rendahnya kesadaran
masyarakat, menjadi ancaman utama bagi keanekaragaman hayati di Indonesia.

Pencemaran air semakin meningkat. Penelitian di 20 sungai Jawa Barat pada tahun 2000
menunjukkan bahwa angka BOD (Biochemical Oxygen Demand) dan COD (Chemical Oxygen
Demand)nya melebihi ambang batas. Indikasi serupa terjadi pula di DAS Brantas, ditambah
dengan tingginya kandungan amoniak. Limbah industri, pertanian, dan rumah tangga merupakan
penyumbang terbesar dari pencemaran air tersebut. Kualitas air permukaan danau, situ, dan
perairan umum lainnya juga menunjukkan kondisi yang memprihatinkan. Umumnya disebabkan
karena tumbuhnya phitoplankton secara berlebihan (blooming) sehingga menyebabkan terjadinya
timbunan senyawa phospat yang berlebihan. Matinya ikan di Danau Singkarak (1999), Danau
Maninjau (2003) serta lenyapnya beberapa situ di Jabodetabek menunjukkan tingginya
sedimentasi dan pencemaran air permukaan. Kondisi air tanah, khususnya di perkotaan, juga
mengkhawatirkan karena terjadinya intrusi air laut dan banyak ditemukan bakteri Escherichia Coli
dan logam berat yang melebihi ambang batas.

Kualitas udara, khususnya di kota-kota besar, semakin menurun. Kualitas udara di 10 kota
besar Indonesia cukup mengkhawatirkan, dan di enam kota diantaranya, yaitu Jakarta, Surabaya,
Bandung, Medan, Jambi, dan Pekan Baru dalam satu tahun hanya dinikmati udara bersih selama
22 sampai 62 hari saja. Senyawa yang perlu mendapat perhatian serius adalah partikulat (PM10),
karbon monoksida (CO), dan nitrogen oksida (NOx). Pencemaran udara utamanya disebabkan oleh
gas buang kendaraan dan industri, kebakaran hutan, dan kurangnya tutupan hijau di perkotaan. Hal
ini juga diperburuk oleh kualitas atmosfer global yang menurun karena rusaknya lapisan ozon di
stratosfer akibat akumulasi senyawa kimia seperti chlorofluorocarbons (CFCs), halon, carbon
tetrachloride, methyl bromide yang biasa digunakan sebagai refrigerant mesin penyejuk udara,
lemari es, spray, dan foam. Senyawa-senyawa tersebut merupakan bahan perusak ozon (BPO) atau
ODS (ozone depleting substances). Indonesia terikat Montreal Protocol dan Kyoto Protocol yang
telah diratifikasi untuk ikut serta mengurangi penggunaan BPO tersebut, namun demikian sulit
dilaksanakan karena bahan penggantinya masih langka dan harganya relatif mahal.

Selain permasalahan tersebut di atas, juga terdapat berbagai permasalahan lain yang pada
akhirakhir ini justru sangat menonjol, termasuk masalah-masalah sebagai dampak dari bencana
dan permasalahan lingkungan lainnya yang terjadi karena fenomena alam yang bersifat musiman.

Sistem pengelolaan hutan secara berkelanjutan belum optimal dilaksanakan. Sejak tahun
1970-an hutan telah dimanfaatkan sebagai mesin ekonomi melalui ekspor log maupun industri
berbasis kehutanan. Sistem pengelolaan hutan didominasi oleh pemberian hak pengusahaan hutan
(HPH) kepada pihak-pihak tertentu secara tidak transparan tanpa mengikutsertakan masyarakat
setempat, masyarakat adat, maupun pemerintah daerah. Saat ini sekitar 28 juta hektar hutan
produksi pengelolaannya dikuasai oleh 267 perusahaan HPH atau rata-rata 105.000 hektar per
HPH. Kontrol sosial tidak berjalan, kasus KKN marak, dan pelaku cenderung mengejar
keuntungan jangka pendek sebesar-besarnya. Pada masa yang akan datang, sistem pengelolaan
hutan harus bersifat lestari dan berkelanjutan (sustainable forest management) yang
memperhatikan aspek ekonomi – sosial – lingkungan secara bersamaan.

Pembagian wewenang dan tanggung jawab pengelolaan hutan belum jelas. Otonomi daerah
telah merubah pola hubungan pusat–daerah. Titik berat otonomi daerah di Kabupaten/Kota
mengakibatkan pola hubungan Pemerintah Pusat–Propinsi–Kabupaten/Kota berubah, dan karena
kurang diatur dalam peraturan perundang-undangan, menjadi berbeda-beda penafsirannya.
Akibatnya kondisi hutan cenderung tertekan karena belum ada kesepahaman antara Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah dalam pengelolaan sumber daya alam. Misalnya, Undang-Undang
Nomor 41 Tahun 1999 tentang Kehutanan lebih menitikberatkan pada aspek-aspek pengelolaan
hutan secara ideal, sementara aspek kewenangan pengelolaan hutan tidak terakomodasi secara
jelas. Undang-Undang Nomor 32 Tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah yang merupakan revisi
Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999, walaupun sudah menegaskan hubungan Pemerintah
Pusat dan Pemerintah Daerah dalam hal kewenangan, tanggung jawab, pemanfaatan,
pemeliharaan, pengendalian, bagi hasil, penyerasian lingkungan dan tata ruang, masih
memerlukan peraturan perundang-undangan lebih lanjut.

Lemahnya penegakan hukum terhadap pembalakan liar (illegal logging) dan


penyelundupan kayu. Tingginya biaya pengelolaan hutan, lemahnya pengawasan dan penegakan
hukum mengakibatkan perencanaan kehutanan kurang efektif atau bahkan tidak berjalan. Kasus
tebang berlebih (over cutting), pembalakan liar (illegal logging), penyelundupan kayu ke luar
negeri, dan tindakan illegal lainnya banyak terjadi. Diperkirakan kegiatan-kegiatan illegal tersebut
saja telah menyebabkan hilangnya hutan seluas 1,2 juta hektar per tahun, melebihi luas hutan yang
ditebang berdasarkan ijin Departemen Kehutanan. Selain penegakan hukum yang lemah, juga
disebabkan oleh aspek penguasaan lahan (land tenure) yang sarat masalah, praktik pengelolaan
hutan yang tidak lestari, dan terhambatnya akses masyarakat terhadap sumber daya hutan.

Rendahnya kapasitas pengelola kehutanan. Sumber daya manusia, pendanaan, saranaprasarana,


kelembagaan, serta insentif bagi pengelola kehutanan sangat terbatas bila dibandingkan dengan
cakupan luas kawasan yang harus dikelolanya. Hal ini mempersulit penanggulangan masalah
kehutanan seperti pencurian kayu, kebakaran hutan, pemantapan kawasan hutan, dan lain-lain.
Sebagai contoh, jumlah polisi hutan secara nasional adalah 8.108 orang. Hal ini berarti satu orang
polisi hutan harus menjaga sekitar 14.000 hektar hutan. Dengan pendanaan, sarana dan prasarana
yang terbatas, jumlah tersebut jelas tidak memadai karena kondisi yang ideal satu polisi hutan
seharusnya menangani 100 hektar (untuk kawasan konservasi di Jawa), sementara untuk kawasan
konservasi di luar Jawa sekitar 5.000 hektar. Di samping itu, partisipasi masyarakat untuk ikut
serta mengamankan hutan juga sangat rendah.

Belum berkembangnya pemanfaatan hasil hutan non-kayu dan jasa-jasa lingkungan. Hasil
hutan non-kayu dan jasa lingkungan dari ekosistem hutan, seperti nilai hutan sebagai sumber air,
keanekaragaman hayati, udara bersih, keseimbangan iklim, keindahan alam, dan kapasitas
asimilasi lingkungan yang memiliki manfaat besar sebagai penyangga sistem kehidupan, dan
memiliki potensi ekonomi, belum berkembang seperti yang diharapkan. Berdasarkan hasil
penelitian, nilai jasa ekosistem hutan jauh lebih besar dari nilai produk kayunya. Diperkirakan nilai
hasil hutan kayu hanya sekitar 7 persen dari total nilai ekonomi hutan, sisanya adalah hasil hutan
non-kayu dan jasa lingkungan. Dewasa ini permintaan terhadap jasa lingkungan mulai meningkat,
khususnya untuk air minum kemasan, obyek penelitian, wisata alam, dan sebagainya.
Permasalahannya adalah sampai saat ini sistem pemanfaatannya belum berkembang secara
maksimal.

Belum terselesaikannya batas wilayah laut dengan negara tetangga. Wilayah laut ZEEI (Zona
Ekonomi Ekslusif Indonesia) yang belum diselesaikan meliputi perbatasan dengan Malaysia,
Filipina, Palau, Papua New Guinea, Timor Leste, India, Singapura, dan Thailand. Sedangkan batas
laut teritorial yang belum disepakati meliputi perbatasan dengan Singapura (bagian barat dan
timur), Malaysia, dan Timor Leste. Penyebabnya karena Indonesia belum mempunyai undang-
undang tentang pengelolaan wilayah laut, termasuk lembaga yang memiliki otorita mengatur batas
wilayah dengan negara tetangga. Di samping itu, kemampuan diplomasi Indonesia dalam kancah
internasional juga masih lemah, sehingga merupakan kendala tersendiri yang perlu diatasi.

Potensi kelautan belum didayagunakan secara optimal. Sektor kelautan menyumbang sekitar
20 persen dari PDB nasional (2002). Kontribusi terbesar berasal dari migas, diikuti industri
maritim, perikanan, jasa angkutan laut, wisata bahari, bangunan laut, dan jasa-jasa lainnya. Namun
demikian, bila dibandingkan dengan potensinya, sumber daya laut masih belum tergarap secara
optimal. Kebijakan pembangunan nasional selama ini cenderung terlalu berorientasi ke wilayah
daratan, sehingga alokasi sumber daya tidak dilakukan secara seimbang dalam mendukung
pembangunan antara wilayah darat dan laut.

Merebaknya pencurian ikan dan pola penangkapan ikan yang merusak. Pencurian ikan
(illegal fishing), baik oleh kapal-kapal domestik dengan atau tanpa ijin maupun kapal-kapal asing
di perairan teritorial maupun di Zona Ekonomi Eksklusif Indonesia (ZEEI), menyebabkan
hilangnya sumber daya ikan sekitar 1-1,5 juta ton per tahun dengan nilai kerugian negara sekitar
US$ 2 milyar. Hal ini diperburuk oleh upaya pengendalian dan pengawasan yang belum optimal
akibat kurangnya sarana dan alat penegakan hukum di laut. Selain itu, jumlah dan kapasitas
petugas pengawas, sistem pengawasan, partisipasi masyarakat, dan koordinasi antar instansi
terkait juga masih lemah. Sementara itu, penangkapan ikan yang merusak (destructive fishing)
seperti penggunaan bahan peledak dan racun (potasium) masih banyak terjadi, yang dipicu oleh
meningkatnya permintaan ikan karang dari luar negeri dengan harga yang cukup tinggi. Kegiatan
ini menyebabkan rusaknya ekosistem terumbu karang yang merupakan habitat ikan yang sangat
penting.

Pengelolaan pulau-pulau kecil belum optimal. Indonesia memiliki banyak sekali pulaupulau
kecil, tetapi lebih dari tiga dasawarsa terakhir pulau-pulau kecil tersebut kurang atau tidak
memperoleh perhatian dan atau tersentuh kegiatan pembangunan. Pulau kecil, yang didefinisikan
sebagai pulau yang luasnya kurang dari 10.000 km² yang umumnya jumlah penduduknya kurang
dari 200.000 jiwa, sangat rentan terhadap perubahan alam karena daya dukung lingkungannya
sangat terbatas dan cenderung mempunyai spesies endemik yang tinggi. Ciri lainnya adalah jenis
kegiatan pembangunan yang ada bersifat merusak lingkungan pulau itu sendiri atau
“memarjinalkan” penduduk lokal. Hal lain yang perlu diperhatikan adalah adanya beberapa pulau
kecil yang berpotensi memiliki konflik dengan pihak asing, terutama pulau-pulau kecil yang
berada di wilayah perbatasan. Pada saat ini terdapat 92 pulau-pulau kecil menjadi base point (titik
pangkal) perbatasan wilayah RI dengan 10 negara-negara tetangga. Sampai sekarang baru dengan
satu negara, yaitu Australia telah dibuat perjanjian yang menetapkan pulau-pulau kecil Nusantara
sebagai titik pangkal batas wilayah. Oleh karena itu, diperlukan perhatian khusus dalam
pembangunan pulau-pulau kecil yang ada, yang berbeda pola pendekatannya dengan pulau-pulau
besar lainnya. Pada saat ini telah tersusun rancangan Kebijakan dan Strategi Nasional (Jakstranas)
Pengelolaan Pulau-pulau Kecil yang integratif sebagai dasar pengembangannya.

Sistem mitigasi bencana alam belum dikembangkan. Banyak wilayah Indonesia yang rentan
terhadap bencana alam. Secara geografis Indonesia terletak di atas tiga lempeng aktif besar dunia
yaitu lempeng Indo-Australia, Eurasia, dan Pasifik. Disamping itu, juga merupakan wilayah
pertemuan arus panas dan dingin yang berada di sekitar Laut Banda dan Arafura. Kondisi ini, dari
satu sisi, menggambarkan begitu rentannya wilayah Indonesia terhadap bencana alam, seperti
gempa bumi, tsunami dan taufan. Apabila tidak disikapi dengan pengembangan sistem
kewaspadaan dini (early warning system) maka bencana alam tersebut akan mengancam
kehidupan manusia, flora, fauna, dan infrastruktur prasarana publik yang telah dibangun; seperti
yang terjadi di NAD, Sumatra Utara, Papua, dan Nusa Tenggara Timur. Dalam jangka menengah
ini, pengembangan kebijakan sistem mitigasi bencana alam menjadi sangat penting, yang antara
lain melalui pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi yang mampu membantu mengurangi
dampak negatif bencana tersebut. Disamping itu, dukungan pemahaman akan “kawasan rawan
bencana geologi” (Geological Hazards Mapping) perlu dipetakan secara baik, dan rencana tata
ruang yang disusun dengan memperhitungkan kawasan rawan bencana geologi dan lokasi kegiatan
ekonomi, serta pola pembangunan kota disesuaikan dengan daya dukung lingkungan lokal. Upaya-
upaya lain yang perlu dilakukan adalah pembangunan sabuk alami (hutan mangrove dan terumbu
karang) di wilayah pesisir.
Terjadinya penurunan kontribusi migas dan hasil tambang pada penerimaan negara.
Penerimaan migas pada tahun 1996 pernah mencapai 43 persen dari APBN, dan pada tahun 2003
menurun menjadi 22,9 persen. Penurunan ini tampaknya akan terus terjadi. Cadangan minyak
bumi dewasa ini sekitar 5,8 miliar barel dengan tingkat produksi 500 juta barel per tahun. Apabila
cadangan baru tidak ditemukan dan tingkat pengurasan (recovery rate) tidak bertambah, maka
sebelas tahun lagi cadangan minyak kita akan habis. Cadangan gas-bumi-terbukti tahun 2002
sebesar 90 TCF (trillion cubic feet) baru dimanfaatkan setiap tahun 2,9 TCF saja. Rendahnya
tingkat pemanfaatan ini karena kurangnya daya saing Indonesia dalam hal suplai. Berbeda dengan
Malaysia dan Australia yang selalu siap dengan produksinya, ladang gas di Indonesia baru
dikembangkan setelah ada kepastian kontrak dengan pembeli, sehingga dari sisi supply readiness
Indonesia kurang bersaing. Pertambangan mineral seperti timah, nikel, bauksit, tembaga, perak,
emas, dan batubara tetap memberikan kontribusi walaupun penerimaannya cenderung menurun.
Penerimaan negara dari pertambangan pada tahun 2001 sebesar Rp2,3 triliun, tahun 2002 menjadi
Rp1,4 triliun, dan tahun 2003 Rp1,5 triliun.

Ketidakpastian hukum di bidang pertambangan. Hal ini terjadi akibat belum selesainya
pembahasan RUU Pertambangan sebagai pengganti Undang-Undang Nomor 11 Tahun 1967
tentang Pokok-pokok Pertambangan. Selain itu, otonomi daerah juga menambah ketidakpastian
berusaha karena banyaknya peraturan daerah yang menghambat iklim investasi, seperti retribusi,
pembagian saham, serta peraturan lainnya yang memperpanjang rantai perijinan usaha
pertambangan yang harus dilalui.

Tingginya tingkat pencemaran dan belum dilaksanakannya pengelolaan limbah secara


terpadu dan sistematis. Meningkatnya pendapatan dan perubahan gaya hidup masyarakat
perkotaan berdampak pada peningkatan pencemaran akibat limbah padat, cair, maupun gas secara
signifikan. Untuk limbah padat, hal ini membebani sistem pengelolaan sampah, khususnya tempat
pembuangan akhir sampah (TPA). Sebagai gambaran, di Jakarta-Bogor-Depok-Tangerang-Bekasi
(Jabodetabek) umur operasi TPA rata-rata tinggal 3-5 tahun lagi, sementara potensi lahan sangat
terbatas. Selain itu, sampah juga belum diolah dan dikelola secara sistematis, hanya ditimbun
begitu saja, sehingga mencemari tanah maupun air, menimbulkan genangan leacheate, dan
mengancam kesehatan masyarakat. Penurunan kualitas air di badan-badan air akibat kegiatan
rumah tangga, pertanian, dan industri juga memerlukan upaya pengelolaan limbah cair yang
terpadu antar sektor terkait. Semakin tingginya intensitas kegiatan industri dan pergerakan
penduduk menjadi pemicu memburuknya kualitas udara, terutama di perkotaan. Pengaturan
mengenai sistem pengelolaan dan pengendalian gas buang (emisi), baik industri maupun
transportasi diperlukan sebagai upaya peningkatan perbaikan kualitas udara. Selain itu, limbah B3
(bahan berbahaya dan beracun) yang berasal dari rumah sakit, industri, pertambangan, dan
permukiman juga belum dikelola secara serius. Walaupun Indonesia telah meratifikasi Basel
Convention, saat ini hanya ada satu fasilitas pengolahan limbah B3 yang dikelola swasta di
Cibinong. Tingginya biaya, rumitnya pengelolaan B3, serta rendahnya pemahaman masyarakat
menjadi kendala tersendiri dalam upaya mengurangi dampak negatif limbah terutama limbah B3
terhadap lingkungan.
Adaptasi kebijakan terhadap perubahan iklim (climate change) dan pemanasan global
(global warming) belum dilaksanakan. Fenomena kekeringan (El Niño) dan banjir (La Niña)
yang terjadi secara luas sejak tahun 1990-an membuktikan adanya perubahan iklim global.
Dibandingkan 150 tahun lalu, suhu rata-rata permukaan bumi kini meningkat 0,6 °C akibat emisi
gas rumah kaca (greenhouse gases) seperti CO2, CH4, dan NOx dari negara-negara industri maju.
Sampai tahun 2100 mendatang suhu rata-rata permukaan bumi diperkirakan akan naik lagi sebesar
1,4-5,8 °C. Keseimbangan lingkungan global terganggu, glacier dan lapisan es di kutub mencair,
permukaan laut naik, dan iklim global berubah. Indonesia, sebagai negara kepulauan di daerah
tropis, pasti terkena dampaknya. Oleh karena itu adaptasi terhadap perubahan iklim tersebut
mutlak dilakukan, khususnya yang terkait dengan strategi pembangunan sektor kesehatan,
pertanian, permukiman, dan tata-ruang. Di lain pihak, isu perubahan iklim memberi peluang
tersendiri bagi Indonesia, yang telah meratifikasi Kyoto Protocol, di mana negara-negara industri
maju dapat ‘menurunkan emisinya’ melalui kompensasi berupa investasi proyek CDM (Clean
Development Mechanism) di negara berkembang seperti Indonesia.

Alternatif pendanaan lingkungan belum dikembangkan. Alokasi dana pemerintah untuk sektor
lingkungan hidup sangat tidak memadai. Dari total alokasi dana pembangunan, sektor lingkungan
hidup hanya menerima sekitar 1 persen setiap tahunnya. Dengan terbatasnya keuangan negara,
maka upaya pendanaan alternatif harus diperjuangkan terus menerus sesuai dengan amanat
Undang-Undang Nomor 23 Tahun 1997 tentang Lingkungan Hidup, antara lain melalui skema
DNS (debt for nature swap), CDM (Clean Development Mechanism), Trust Fund Mechanism, dan
green tax. Upaya ke arah itu masih tersendat karena sistem dan aturan keuangan negara sangat
kaku dan tidak fleksibel untuk mengantisipasi berbagai skema pembiayaan inovatif. Selain itu,
perlu dikembangkan pula alternatif pendanaan dari sumber-sumber pendanaan dalam negeri
dengan mengembangkan berbagai mekanisme pengelolaan pendanaan melalui lembaga keuangan
maupun lembaga independen lainnya.

Isu lingkungan global belum dipahami dan diterapkan dalam pembangunan nasional dan
daerah. Tumbuhnya kesadaran global tentang kondisi lingkungan dan sumber daya alam yang
semakin buruk, telah mendesak seluruh negara untuk merubah paradigma pembangunannya, dari
ekonomi-konvensional menjadi ekonomi-ekologis. Untuk itu telah dihasilkan 154 perjanjian
internasional dan multilateral agreement yang terkait langsung maupun tidak langsung dengan isu
lingkungan global. Indonesia telah meratifikasi 14 perjanjian internasional di bidang lingkungan
tetapi sosialisasi, pelaksanaan dan penaatan terhadap perjanjian internasional tersebut kurang
mendapat perhatian sehingga pemanfaatannya untuk kepentingan nasional belum dirasakan secara
maksimal. Selain itu, masukan Indonesia untuk memperjuangkan kepentingan nasional di berbagai
konvensi internasional juga masih terbatas mengingat lemahnya kapasitas institusi, sumber daya
manusia, serta sistem perwakilan Indonesia di berbagai konvensi tersebut. Dengan aktifnya
Indonesia pada perjanjian perdagangan baik regional seperti AFTA dan APEC atau global seperti
WTO, maka pembangunan nasional dan daerah perlu mengantisipasi dampaknya terhadap
lingkungan.

Belum harmonisnya peraturan perundangan lingkungan hidup. Hukum lingkungan atau


peraturan perundangan di bidang lingkungan hidup masih kurang bersinergi dengan peraturan
perundangan sektor lainnya. Banyak terjadi inkonsistensi, tumpang tindih dan bahkan saling
bertentangan baik peraturan perundangan yang ada baik di tingkat nasional maupun peraturan
perundangan daerah. Untuk memberikan penguatan sebagai upaya pengarusutamaan prinsip-
prinsip pembangunan berkelanjutan maka pengembangan hukum lingkungan perlu terus
dilakukan.

Masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pemeliharaan lingkungan. Masyarakat


umumnya menganggap bahwa sumber daya alam akan tersedia selamanya dalam jumlah yang
tidak terbatas, secara cuma-cuma. Air, udara, iklim, serta kekayaan alam lainnya dianggap sebagai
anugerah Tuhan yang tidak akan pernah habis. Demikian pula pandangan bahwa lingkungan hidup
akan selalu mampu memulihkan daya dukung dan kelestarian fungsinya sendiri. Pandangan
demikian sangat menyesatkan, akibatnya masyarakat tidak termotivasi untuk ikut serta
memelihara sumber daya alam dan lingkungan hidup di sekitarnya. Hal ini dipersulit dengan
adanya berbagai masalah mendasar seperti kemiskinan, kebodohan, dan keserakahan.
Konsep konsep Dan Jenis Sumber Daya Alam Dan Energi
BAB 11
PEMBAHASAN
Konsep konsep Dan Jenis Sumber Daya Alam Dan Energi
A. Pengertian sumber daya alam
Sumberdaya merupakan sesuatu yang berguna dan mempunyai nilai di dalam kondisi di mana kita
menemukannya. Sumberdaya alam dan energi meliputi semua yang terdapat di bumi baik yang hidup
maupun benda mati, berguna bagi manusia, terbatas jumlahnya dan pengusahaannya memenuhi
kriteria-kriteria teknologi, ekonomi, sosial dan lingkungan. Sumberdaya adalah suatu konsep yang
dinamis sehingga ada kemungkinan bahwa perubahan dalam informasi, teknologi dan relatif
kelangkaannya dapat berakibat sesuatu yang semula di anggap tidak berguna menjadi berguna dan
bernilai.
Secara umum sumberdaya alam dan energi diklasifikasikan :
1. Sumberdaya tanah dan air.
2. Sumberdaya tanaman dan pepohonan.
3. Sumberdaya “akuatik”.
4. Sumber energi dan bahan mineral. Sumber Energi meliputi:
1] Energi: Fosi, yangterdiri dari Minyak Bumi, Gas Bumi Batubara:hidro,uranium, Geothermal dan solar.
2] Endapan Bijih Mineral, yang terdiri dari bauksit, timah, nikel, tembaga,
emas, perak, mangan, pasirbesi dan bahan galian lain yang termasuk
Sumberdaya tak terbarukan;
3] Bahan Mineral untuk “bangunan” kaolin, limestone, dolomites .
PENDAHULUAN
1.1 latar belakang
Alam pada dasarnya mempunyai sifat yang beraneka ragam, namun serasi dan seimbang. Oleh karena
itu, perlindungan dan pengawetan alam harus terus dilakukan untuk mempertahankan keserasian dan
keseimbangan itu.
Semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik, yang dapat dimanfaatkan untuk kesejahteraan
manusia merupakan sumber daya alam. Tumbuhan, hewan, manusia, dan mikroba merupakan sumber
daya alam hayati, sedangkan faktor abiotik lainnya merupakan sumber daya alam nonhayati.
Pemanfaatan sumber daya alam harus diikuti oleh pemeliharaan dan pelestarian karena sumber daya
alam bersifat terbatas.
Sumber daya alam ialah semua kekayaan bumi, baik biotik maupun abiotik yang dapat dimanfaatkan
untuk memenuhi kebutuhan manusia dan kesejahteraan manusia, misalnya: tumbuhan, hewan, udara,
air, tanah, bahan tambang, angin, cahaya matahari, dan mikroba (jasad renik).
1.2 Perumusan masalah
1. pengertian sumber daya alam dan energi ?
2, bagaimana cara mengatasi kelangkaan sumber daya alam dan energi ?
3. apa dampak sumber daya alam dan energi bagi Negara ?
4. apa pengaruh sumber daya alam terhadap lingkungan ?
5. maafaat dari sumber daya alam dan energi ?

21. daya dukung sumber daya alam


Ketersediaan sumber daya alam untuk memenuhi kebutuhan dasar, dan tersedianya cukup ruang untuk
hidup pada tingkat kestabilan sosial tertentu disebut daya dukung lingkungan. Singkatnya, daya dukung
lingkungan ialah kemampuan lingkungan untuk mendukung perikehidupan semua makhluk hidup.
Di bumi ini, penyebaran sumber daya alam tidak merata letaknya. Ada bagianbagian bumi yang sangat
kaya akan mineral, ada pula yang tidak. Ada yang baik untuk pertanian ada pula yang tidak.
agar pemanfaatannya dapat berkesinambungan, maka tindakan eksploitasi sumber daya alam harus
disertai dengan tindakan perlindungan. Pemeliharaan dan pengembangan lingkungan hidup harus
dilakukan dengan cara yang rasional antara lain sebagai berikut :
1. Memanfaatkan sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan
hati-hati dan efisien, misalnya: air, tanah, dan udara.
2. Menggunakan bahan pengganti, misalnya hasil metalurgi (campuran).
3. Mengembangkan metoda menambang dan memproses yang efisien,
serta pendaurulangan (recycling).
4. Melaksanakan etika lingkungan berdasarkan falsafah hidup secara
damai dengan alam.
2.2 Macam-macam sumber Daya Alam
Sumber daya alam dapat dibedakan berdasarkan sifat, potensi, dan jenisnya.
a. Berdasarkan sifat
Menurut sifatnya, sumber daya alam dapat dibagi 3, yaitu sebagai berikut :
1. Sumber daya alam yang terbarukan (renewable), misalnya: hewan,
tumbuhan, mikroba, air, dan tanah. Disebut ter barukan karena dapat
melakukan reproduksi dan memiliki daya regenerasi (pulih kembali).
2. Sumber daya alam yang tidak terbarukan (nonrenewable), misalnya:
minyak tanah, gas bumf, batu tiara, dan bahan tambang lainnya.
3. Sumber daya alam yang tidak habis, misalnya, udara, matahari,
energi pasang surut, dan energi laut.
b. Berdasarkan potensi
Menurut potensi penggunaannya, sumber daya alam dibagi beberapa macam, antara lain sebagai
berikut.
1. Sumber daya alam materi; merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan dalam bentuk fisiknya. Misalnya, batu, besi, emas,
kayu, serat kapas, rosela, dan sebagainya.
2. Sumber daya alam energi; merupakan sumber daya alam yang
dimanfaatkan energinya. Misalnya batu bara, minyak bumi, gas bumi,
air terjun, sinar matahari, energi pasang surut laut, kincir angin, dan
lain-lain.
3. Sumber daya alam ruang; merupakan sumber daya alam yang berupa
ruang atau tempat hidup, misalnya area tanah (daratan) dan
angkasa.
c. Berdasarkan jenis
Menurut jenisnya, sumber daya alam dibagi dua sebagai berikut :
1. Sumber daya alam nonhayati (abiotik); disebut juga sumber daya
alam fisik, yaitu sumber daya alam yang berupa benda-benda mati.
Misalnya : bahan tambang, tanah, air, dan kincir angin.
2. Sumber daya alam hayati (biotik); merupakan sumber daya alam
yang berupa makhluk hidup. Misalnya: hewan, tumbuhan, mikroba,
dan manusia.

2.3 manfaat sumber daya alam


agar sumber daya alam dapat bermanfaat dalam waktu yang panjang maka hal-hal berikut sangat perlu
dilaksanakan.
1. Sumber daya alam harus dikelola untuk mendapatkan manfaat yang
maksimal, tetapi pengelolaan sumber daya alam harus diusahakan
agar produktivitasnya tetap berkelanjutan.
2. Eksploitasinya harus di bawah batas daya regenerasi atau asimilasi
sumber daya alam.
3. Diperlukan kebijaksanaan dalam pemanfaatan sumber daya alam yang
ada agar dapat lestari dan berkelanjutan dengan menanamkan
pengertian sikap serasi dengan lingkungannya.
4. Di dalam pengelolaan sumber daya alam hayati perlu adanya
pertimbangan-pertimbangan sebagai berikut :
a. Teknologi yang dipakai tidak sampai merusak kemampuan sumber
daya untuk pembaruannya.
b. Sebagian hasil panen harus digunakan untuk menjamin
pertumbuhan sumber daya alam hayati.
c. Dampak negatif pengelolaannya harus ikut dikelola, misalnya
dengan daur ulang.
d. Pengelolaannya harus secara serentak disertai proses
pembaruannya.

2.4. Sumber Daya Manusia


Manusia dibedakan dari sumber daya alam hayati lainnya karena manusia memiliki kebudayaan, akal,
dan budi yang tidak dimiliki oleh tumbuhan maupun hewan. Meskipun paling tinggi derajatnya, namun
dalam ekosistem, manusia juga berinteraksi dengan lingkungannya, mempengaruhi dan dipengaruhi
lingkungannya sehingga termasuk dalam salah satu faktor saling ketergantungan. Berbeda dengan
sumber daya hayati lainnya, penggunaan sumber daya manusia dibagi dua, yaitu sebagai berikut :
a. Manusia sebagai sumber daya fisik
Dengan energi yang tersimpan dalam ototnya manusia dapat bekerja
dalam berbagai bidang, antara lain: bidang perindustrian,
transportasi, perkebunan, perikanan, perhutanan, dan peternakan.
b. Manusia sebagai sumber daya mental
Kemampuan berpikir manusia merupakan suatu sumber daya alam
yang sangat penting, karena berfikir merupakan landasan utama bagi kebudayaan. Manusia sebagai
makhluk hidup berbudaya, mampu
mengolah sumber daya alam untuk kepentingan hidupnya dan mampu
mengubah keadaan sumber daya alam berkat kemajuan ilmu dan
teknologinya. Dengan akal dan budinya, manusia menggunakan
sumber daya alam dengan penuh kebijaksanaan. Oleh karena itu,
manusia tidak dilihat hanya sebagai sumber energi, tapi yang
terutama ialah sebagai sumber daya cipta (sumber daya mental) yang
sangat penting bagi perkembangan kebudayaan manusia.

B. sumber daya energi


Konsep energi terbaharui diperkenalkan pada 1970-an sebagai baigan dari usaha mencoba bergerak
melewati pengembangan bahan bakar nuklir dan fosil. Definisi paling umum adalah sumber energi yang
dapat dengan cepat diisi kembali oleh alam, proses berkelanjutan. Di bawah definisi ini, bahan bakar
nuklir dan fosil tidak termasuk ke dalamnya.
C.Macam macam sumber energi
1.Energi sustainable
Seluruh energi terbaharui secara definisi juga merupakan energi sustainable, yang berarti mereka
tersedia dalam waktu jauh ke depan yang membuat perencanaan bila mereka habis tidak diperlukan.
Meskipun tenaga nuklir bukan energi diperbaharui, namun pendukung nuklir dapat sustainable dengan
penggunaan reaktor breeder menggunakan uranium-238 atau thorium atau keduanya. Di sisi lain
banyak penentang nuklir menggunakan istilah energi sustainable sebagai sinonim untuk energi
terbaharui, dan oleh karena itu tidak memasukkan nuklir ke dalam energi sustainable.
2. Energi geothermal
Energi geothermal berasal dari penguraian radioaktif di pusat Bumi, yang membuat Bumi panas dari
dalam, dan dari matahari, yang membuat panas permukaan bumi.
Emerge ini dapat digunakan dengan tiga cara:
• Listrik geothermal
• pemanasan geothermal, melalui pipa ke dalam Bumi
• pemanasan geothermal, melalui sebuah pompa panas.
3.Energi surya
Karena kebanyakan energi terbaharui pusatnya adalah "energi surya" istilah ini sedikit membingungkan.
Namun yang dimaksud di sini adalah energi yang dikumpulkan langsung dari cahaya matahari.
Tenaga surya dapat digunakan untuk:
• menghasilkan listrik menggunakan sel surya
• menghasilkan listrik menggunakan pembangkit tenaga panas surya
• menghasilkan listrik menggunakan menara surya
• memanaskan gedung, secara langsung
• memanaskan gedung, melalui pompa panas
• memanaskan makanan, menggunakan oven surya.
4. Energi angin
Karena matahari memanaskan permukaan bumi secara tidak merata, maka terbentuklah angin. Energi
kinetik dari angin dapat digunakan untuk menjalankan turbin angin, beberapa mampu memproduksi
tenaga 5 MW. Tenaga keluaran adalah fungsi kubus dari kecepatan angin, maka turbin tersebut paling
tidak membutuhkan angin dalam kisaran 5,5 m/d (20 km/j), dan dalam praktek sangat sedikit wilayah
yang memiliki angin yang bertiup terus menerus. Namun begitu di daerah pesisir atau daerah di
ketinggian, tersedia angin yang cukup konstan.
5.Tenaga air
Energi air dapat digunakan dalam bentuk gerak atau perbedaan suhu. Karena air ribuan kali lebih berat
dari udara, maka aliran air yang pelan pun dapat menghasilkan sejumlah energi yang besar.
6.Tenaga Biomass
Tumbuhan biasanya menggunakan fotosintesis untuk menyimpan tenaga surya, air, dan CO2. Bahan
bakar bio adalah bahan bakar yang diperoleh dari biomass - organisme atau produk dari metabolisme
mereka, seperti tai dari sapi. Dia merupakan energi terbaharui.
Biomass dapat digunakan langsung sebagai bahan bakar atau untuk memproduksi bahan bakar bio cair.
Biomass yang diproduksi dengan teknik pertanian, seperti biodiesel, ethanol, dan bagasse (seringkali
sebuah produk sampingan dari pengkultivasian Tebu) dapat dibakar dalam mesin pembakaran dalam
atau pendidih.
Sebuah hambatan adalah seluruh biomass harus melalui beberapa proses berikut: harus dikembangkan,
dikumpulkan, dikeringkan, difermentasi dan dibakar. Seluruh langkah ini membutuhkan banyak sumber
daya dan infrastruktur.

D. Kelangkaan Sumber Daya Alam


Masalah sumber daya timbul karena adanya ketidakseimbangan antara sumber daya yang tersedia
dengan kebutuhan manusia yang terus meningkat. Ada empat masalah yang berkaitan dengan
keberadaan sumber daya, yaitu masalah kependudukan dengan lingkungan hidup, masalah
produktivitas lahan dan manusia, masalah kualitas lingkungan dan masalah penyebaran sumber daya.
Hukum kelangkaan merupakan landasan fundamental bagi keberadaan ekonomi sumber daya manusia
dan ekonomi sumber daya alam. Ekonomi sumber daya manusia sebagai cabang khusus dari ilmu
ekonomi pada dasarnya menjelaskan bagaimana memanfaatkan sumber daya manusia yang terbatas
dalam rangka menghasilkan berbagai barang dan jasa untuk memenuhi kebutuhan manusia seoptimal
mungkin. Sejalan dengan itu, ekonomi sumber daya alam juga merupakan cabang khusus dari ilmu
ekonomi yang kajiannya memfokuskan pada masalah pemanfaatan sumber daya alam yang ada, baik
pada waktu sekarang maupun masa yang akan datang.
E. Sumber Daya Manusia dan Alam serta Pembangunan Ekonomi
Konsep pembangunan ekonomi dengan pertumbuhan ekonomi merupakan hal yang berbeda.
Terjadinya pembangunan ekonomi selalu dibarengi dengan pertumbuhan ekonomi, tetapi pertumbuhan
ekonomi belum tentu mencerminkan terjadinya pembangunan ekonomi. Pertumbuhan ekonomi
merupakan salah satu kriteria. Keberhasilan pembangunan ekonomi.
Peranan sumber daya alam dalam pembangunan ekonomi akan ditentukan oleh tingkat teknologi,
modal dan juga kualitas sumber daya manusianya itu sendiri. Memacu pembangunan ekonomi berarti
pula mengurangi persediaan sumber daya alam. Karena itu diperlukan pengertian pemanfaatan sumber
daya alam yang bijaksana dan lestari, yang disertai pula dengan pengertian tentang pembangunan yang
berwawasan lingkungan.

F.Persediaan Sumber Daya Alam


Konsep persediaan sumber daya alam memiliki kesepadanan makna dengan kata “reserve” atau “stock”
atau cadangan sumber daya alam. Sedangkan cadangan sumber daya merupakan sumber daya alam
yang sudah kita ketahui jumlahnya dan bernilai ekonomis.
Sejauhmana sumber daya alam itu dapat melayani kebutuhan manusia terdapat dua kelompok
pemikiran yaitu kelompok pertama adalah kelompok pesimis dimana mereka menyatakan bahwa
sumber daya alam terbatas adanya. Sedangkan kelompok lain adalah kelompok yang merasa optimis
yang mengatakan bahwa sumber daya alam itu berlimpah persediannya dan tidak akan pernah habis.
G.Klasifikasi Sumber Daya Alam
Pada dasarnya sumber daya alam itu dapat dikelompokkan menjadi tiga kelompok yaitu sumber daya
alam yang tak dapat pulih atau tak dapat diperbaharui, sumber daya alam yang pulih atau dapat
diperbaharui dan sumber daya alam yang mempunyai sifat gabungan antara yang dapat diperbaharui
dan yang tidak dapat diperbaharui.
Perbedaan antara sumber daya alam yang dapat diperbaharui dengan sumber daya yang tak dapat
diperbaharui hanyalah tergantung pada derajat keberadaannya. Perubahan jumlah dan kualitas sumber
daya alam sepanjang waktu, tanpa melihat penggunaan sumber daya tersebut, dapat berarti
peningkatan atau pengurangan, membaik ataupun memburuk, terus menerus ataupun bertahap pada
laju yang konstan ataupun laju yang berubah-rubah.
H. Masalah Konservasi Sumber Daya Alam
Konservasi adalah tindakan untuk mencegah pengurasan sumber daya alam dengan cara pengambilan
yang tidak berlebihan sehingga dalam jangka panjang sumberdaya alam tetap tersedia. Di lain pihak
deplisi menunjukkan pengurasan sumber daya alam yang ada.
Ada dua pandangan terhadap konservasi sumber daya alam, yaitu
1.kelompok optimisme
2.kelompok pesimisme.
Meskipun keduanya sama-sama mendukung konservasi sumber daya alam, tetapi keyakinan terhadap
konservasi keduanya berbeda.
Banyak faktor yang akan menentukan ketersediaan sumber daya alam di masa datang. Faktor-faktor
tersebut tidak seluruhnya dapat dikendalikan. Oleh karena itu, diperlukan suatu kebijakan pengelolaan
dan pemanfaatan sumber daya alam tertentu, yang dalam hal ini dikenal sebagai kebijakan sumber daya
alam yang bertanggung jawab.
Permasalahan dalam konservasi sumber daya alam mencakup dua hal, yaitu pertimbangan konservasi
dan masalah alokasi sumber daya alam antarwaktu.
Masalah pertimbangan konservasi dicerminkan oleh tiga hal, yaitu apakah konservasi itu
menguntungkan, apakah masyarakat menginginkan untuk mengadakan konservasi, dan bagaimana
menanggulangi hambatan konservasi yang mungkin muncul. Di lain pihak, masalah alokasi sumber daya
alam antarwaktu berkenaan dengan masalah periode waktu perencanaan yang sangat panjang serta
adanya risiko dan ketidakpastian, baik dalam bentuk ketidakpastian teknologi maupun ketidakpastian
permintaan