Anda di halaman 1dari 15

BAB I

PENDAHULUAN
1. LATAR BELAKANG

Kasus – kasus ostomy pada umumnya disebabkan oleh keganasan


(kanker).Sementara pada anak – anak sering dilakukan karena ada
kelainan bawaan seperti atresia ani, hirschprung dll, stoma ada yang
permanen dan ada yang sementara.Pelayanan keperawatan yang diberikan
kepada pasien – pasien ostomi dimulai dari masa persiapan operasi sampai
masa pasien pulang dari Rumah Sakit.
Pelayanan perawatan preoperasi memegang peranan penting karena
menjadi titik awal dari perawatan selanjutnya, penjelasan yang
akurat,pendidikan kesehatan yang adekuat dan stoma sitting yang tepat
serta didukung oleh persiapan operasi yang sesuai standart dan
penatalaksanaan post operative yang baik.
Setiap orang berhak untuk hidup normal dan tetap mampu melakukan
kegiatan sehari – hari seperti sebelum dia dilakukan operasi stoma, dimana
dia tetap mampu untuk beraktifitas, melakukan perjalanan, olah raga,
berperan dikeluarga dan mampu melakukan pekerjaan meskipun mereka
memiliki stoma.

Sering sekali stoma membawa masalah bagi pasien baik fisik


maupun psikologi,hal ini memacu kita untuk selalu mengembangkan serta
meningkatkan ilmu pengetahuan dalam pelayanan keperawatan khususnya
pada pasien – pasien stoma. Sistem Pencernaan terdiri dari Mulut–
Esophagus-Lambung–Usus halus (Duodenum–Jejenum–Ileum)–Usus
besar–Rektum–Anus.Dan fungsi dari system pencernaan tersebut antara
lain : Ingesti, Digesti, Absorbsi, Eliminasi dan Regulasi cairan dan
Elektrolit.

1
Diversi usus atau fekal secara umum disebut pembedahan ostomi,
dapat permanen atau sementara. Ini dilakukan terutama pada obstruksi
usus mekanis, paling umum adalah kanker kolon, kolitis ulseratif, penyakit
divertikular, dan trauma pada usus. Ostomi dibuat melalui pembedahan
dengan membuat lubang (stoma) melaui dinding abdomen dengan
menggunakan segmen proksimal dari usus. Feses kemudian dikeluarkan
melalui stoma. Awalan yang mengikuti ostomi menunjukkan segmen usus
yang dikeluarkan melalui dinding abdomen.

1. Ileostomi : lubang stoma yang dibuat di ileum.


2. Kolostomi :
- Kolostomi ascending : pembuatan lubang stoma di kolon
ascenden (di sebelah kanan abdomen). Stool yang keluar dari
stoma berbentuk cair.
- Kolostomi Transverse : pembuatan lubang stoma di kolon
transversum (disebelah atas abdomen kearah tengah atau sisi
kanan)
- Kolostomi Descending / sigmoid : pembuatan lubang stoma di
kolon desenden dan sigmoid ( di sebelah kiri bawah abdomen).

2. Rumusan Masalah
1. Jelaskan pengertian ostomi ?
2. Apa saja jenis ostomi ?
3. Apa saja jenis kantung ostomi ?
4. Apa saja indikasi dilakukannya kolostomi ?
5. Apa saja komplikasi dari kolostomi ?
6. Apa saja tindakan dalam perawatan kolostomi ?

2
3. Tujuan
1. Untuk mengetahui pengertian ostomi
2. Untuk mengetahui apa saja jenis ostomi
3. Untuk mengetahui jenis kantung ostomi
4. Untuk mengetahui indikasi dilakukannya kolostomi
5. Untuk mengetahui komplikasi kolostomi
6. Untuk mengetahui tindakan perawatan kolostomi

3
BAB II
PEMBAHASAN
1. DEFINISI

Kolostomi adalah membuat kostomi di kolon, dibentuk bila usus


tersumbat oleh tumor. Perlengkapan ostomy terdiri atas satu lapis atau dua
lapis dengan barier kulit hipoalergenik untuk mempertahankan integritas
kulit peristomal. Kantong harus cukup besar untuk menampung feses dan
flatus dalam jumlah sedang tetapi tidak terlalu besar agar tidak membebani
bayi atau anak.
Perlindungan kulit peristomal adalah aspek penting dari perawatan
stoma. Peralatan yang sesuai ukurannya merupakan hal penting untuk
mencegah kebocoran isi.
Lokasi kolostomi menentukan konsistensi tinja baik padat ataupun cair.
Pada kolostomi transversum umumnya menghasilkan feses lebih padat.
Lokasi kolostomi ditentukan oleh masalah medis pasien dan kondisi
umum. Ada 3 jenis kolostomi, yaitu:
a. Kolostomi loop atau loop colostomy, biasanya dilakkukan dalam
keadaaan darurat.
b. End colostomy, terdiri dari satu stoma dibentuk dari ujung proksimal
usus dengan bagian distal saluran pencernaan. End colostomy adalah
hasil pengobatan bedah kanker kolorektal.
c. Double-Barrel colostomy terdiri dari dua stoma yang berbeda stoma
bagian proksimal dan stoma bagian distal. Sementara itu kolostomi
berdasarakan lokasinya kelompokkan menjadi transversokolostomi
merupakan kolostomi di kolon transversum, sigmoidostomi yaitu
kolostomi sigmoid, kolostomi desenden yaitu kolostomi dikolon
desenden dan kolostomi asenden, adalah kolostomi di asenden.

2. JENIS OSTOMI

1. Kolostomi adalah dapat permanen atau sementara. Digunakan ketika


hanya sebagian dari usus besar diangkat. Umumnya diletakkan di

4
kolon sigmoid, stoma dibuat dari usus besar dan lebih besar
dibandingkan ileostomi. Produksi feses mulai lunak sampai padat.
a) Kolostomi permanen. Pembuatan kolostomi permanen biasanya
dilakukan apabila klien sudah tidak memungkinkan untuk defekasi
secara normal karena adanya keganasan, perlengketan atau
pengangkatan kolon sigmoid atau rektum sehingga tidak
memunginkan feces melalui anus.Kolostomi permanen biasanya
berupa kolostomi single barrel (dengan satu ujung lubang).
b) Kolostomi temporer/sementara. Pembuatan kolostomi biasanya
untuk tujuan dekompresi kolon atau untuk mengalirkan feces
sementara dan kemudian kolon akan dikembalikan seperti semula
dan abdomen ditutup kembali. Kolostomi temporer ini
mempounyai dua ujung yang dikeluarkan melalui abdomen yang
disebut kolostomi double barrel.

Lubang kolostomi yang muncul dipermukaan berupa mukosa


kemerahan yang disebut Stoma. Pada minggu pertama post kolostomi
biasanya masih terjadi pembengkakkan sehingga stoma tampak
membesar. Klien dengan pemasangan kolostomi biasanya disertai
dengan tindakan laparatomi (pembukaaan dinding abdomen). Luka
laparatomi sangat beresiko mengalami infeksi karena letaknya
bersebelahan dengan lubang stoma yang kemungkinan banyak
mengeluarkan feces yang dapat mengkontaminasi luka laparatomi.
Perawat harus selalu memonitor kondisi luka dan segera
merawat luka dan mengganti balutan jika balutan terkontamiansi feces.
Perawat harus segera mengganti kantong kolostomi jika kantong telah
terisi feces atau jika kantong kolostomi bocor dan feces cair mengotori
abdomen. Perawat juga harus mempertahankan kulit klien disekitar
stoma tetap kering, hal ini penting untuk menghindari terjadinya iritasi
kulit dan untuk kenyamanan klien.
Kulit sekitar stoma yang mengalami iritasi harus segera diberi
zink salep/zink oil atau segera konsultasikan pada dokter ahli jika klien

5
alergi terhadap perekat kantong kolostomi. Pada klien yang alergi
tersebut mungkin perlu dipikirkan untuk remodifikasi kantong
kolostomi agar kulit klien tidak teriritasi.

2. Ileostomi adalah dapat permanen atau sementara. Digunakan ketika


seluruh usus besar diangkat. Stoma dibuat dari usus halus dan lebih
kecil dibandingkan kolostomi. Produksi feses berkisar menyerupai
pasta sampai cair.

3. Urostomi adalah digunakan ketika dilakukan pemintasan kandung


kemih atau harus diangkat seluruhnya.

3. JENIS KANTONG OSTOMY

1) Drainable Pounches / Open-ended pouch


Jenis ini memungkinkan anda untuk membuka bagian bawah dari
kantong untuk mengalirkan output. tipe ini biasanya di tutup dg
menggunakan klem.tipe ini biasanya di gunakan untuk pasien dengan
kolostomi ascenden dan kolostomi transversum.
2) Close Pounches/ Close-ended pouch
Jenis kantong ini, ketika kantong telah terisi kemudia diambil dan
dibuang, kemudian di pasang lagi dengan yang baru. Kantong ini
biasanya digunakan oleh pasien dengan kolostomi desenden dan
sigmoid. Output dari jenis kantong kolostomi ini tidak perlu untuk
dialirkan .
3) Valve/tap closure Pounches
Digunakan untuk menampung urin output dari stoma urinary. Dapat
digunakan sampai beberapa hari

Jenis Kantong berdasarkan Jumlah Bagian Kantong :


1) One-piece
Kantong ini terdiri dari kantong kecil dan penghalang kulit.
Penghalang kulit mudah lengket (adesif) yang ditempatkan disekitar

6
stoma dan ditempelkan ke kulit sekitar stoma. Ketika kantong kecil
akan diganti dengan baru, kantong kecil baru harus di rekatkan
kembali ke kulit.
2) Two-piece
Kantong ini terdiri dari dua bagian : Face plate yang bersifat adesif
dan kantong penampung faeces. Face plate tetap berada dalam
tempatnya saat kantong yang telah terisi faeces di ambil dan diganti
dengan kantong baru kemudian kantong baru dihubungkan ke face
plate. Kantong baru tidak perlu dilengketkan kembali kekulit setiap
kali pergantian kantong,cukup di hubungkan kembali dengan face
plate, sehingga sistem ini sangat menolong untuk pasien dengan kulit
sensitive.

Jenis kantong berdasarkan warna kantong :


1) Clear Pounch/transparent pounch : kantong kolostomi transparan /
bening, cocok di gunakan untuk post operasi karena dapat
mengobservasi kondisi stoma.
2) Opaque Pounch /white pounch : kantong berwarna coklat/putih

4. INDIKASI DILAKUKANNYA KOLOSTOMI MELIPUTI

a. Atresia Ani
Penyakit atresia ani adalah tidak terjadinya perforasi membran yang
memisahkan bagian entoderm mengakibatkan pembuatan lubang anus
yang tidak berhubungan langsungdengan rectum. Atresia ani adalah
kelainan kongenital yang dikenal sebagai anus imperforate meliputi
anus, rectum atau keduanya.
b. Hirschprung
Penyakit Hirschprung atau megakolon aganglionik bawaan disebabkan
oleh kelainan inervasi usus,mulai pada sfingter ani interna dan meluas
keproksimal, melibatkan panjang usus yang bervariasi. Penyakit
Hirschprung disebut juga kongenital aganglionosis atau megacolon

7
yaitu tidak adanya sel ganglion dalam rectum dan sebagian tidak ada
dalam colon.
c. Malforasi Anorektum
Istilah Malforasi anorektum merujuk pada suatu spektrum cacat.
Perhatian utama ditujukan pada pengendalian usus selanjutnya, fungsi
seksual saluran kencing.
d. Atresia Rektum
Atresia Rektum adalah cacat yang jarang terjadi, hanya 1% dari
anomali anorektum.
e. Fistula Vestibular
Fistula Vestibular adalah cacat yang paling sering ditemukan pada
perempuan. Kolostomi proteksi diperlukan sebelum dilakukan operasi
koreksi, walaupun kolostomi ini tidak perlu dilakukan sebagai suatu
tindakan darurat karena fistulanya sering cukup kompeten untuk
dekomperasi saluran cerna urologi harus ditegakkan untuk
megosongkan saluran kencing, jika perlu pada saat yang bersamaan
dilakukan kolostomi.

5. KOMPLIKASI OSTOMY

Komplikasi dilaksanakannya kolostomi adalah insidens komplikasi untuk


pasien dengan kolostomi sedikit lebih tinggi dibandingkan pasien
ileostomi. Beberapa komplikasinya adalah sebagai berikut :

1. Obstruksi/penyumbatan
Penyumbatan dapat disebabkan oleh adanya perlengketan usus atau
adanya pengerasan feces yang sulit dikeluarkan. Untuk menghindari
teiadinya sumbatan, klien perlu dilakukan irigasi kolostomi secara
teratur. Pada klien dengan kolostomi permanent tindakan irigasi ini
perlu diajarkan agar klien dapat melakukannya secara mandiri dikamar
mandi.
2. Infeksi
Kontaminasi feces merupakan factor yang paling sering menjadi
penyebab terjadinya infeksi pada luka sekitar stoma. Oleh karena itu

8
pemantauan yang terus menerus sangat diperlukan dan tindakkan
segera mengganti balutan luka dan mengganti kantong kolostomi
sangat bermakna untuk mencegah infeksi.
3. Retraksi stoma/mengkerut.
Stoma mengalami peningkatan karena kantong kolostomi yang lerlalu
sempit dan juga karena adanya jaringan scar yang terbentuk di sekitar
stoma yang mengalamI pengerutan
4. Prolaps pada stoma
Terjadi karena kelemahan otot abdomen atau karena fiksasi struktur
penyokong stoma yang kurang adequat pada saat pembedahan.
5. Stenosis
Penyempitan dari kuman stoma yang terjadi karena adanya jaringan
parut / scar pada pertemuan mukosa stoma dan kulit.
6. Pendarahan stoma

6. PERAWATAN KOLOSTOMI

Fungsi kolostomi akan mulai tampak pada hati ke 3 sampai hari ke 6


pascaoperatif. Perawat menangani kolostomi sampai pasien dapat
mengambil alih perawatan ini. Perawatan kulit harus diajarkan bersamaan
dengan bagaimana menerapkan drainase kantung dan melaksanakan
irigasi. Ada beberapa yang harus diperhatikan dalam menangani
kolostomi, antara lain :

1) Perawatan kulit
Rabas efluen akan bervariasi sesuai dengan tipe ostomi. Pada
kolostomi transversal terdapat feses lunak dan berlendir yang
mengiritasi.
Pada kolostomi desenden atau kolostomi sigmoid, feses agak padat dan
sedikit mengiritasi kulit. Pasien dianjurkan melindungi kulit peristome
dengan sering mencuci area tersebut menggunakan sabun ringan,
memberikan barrier kulit protektif di sekitar stoma, dan
mengamankannya dengan meletakkan kantung drainase. Kulit

9
dibersihkan dengan perlahan menggunakan sabun ringan dan waslap
lembab serta lembut. Adanya kelebihan barrier kulit dibersihkan.
Sabun bertindak sebagai agen abrasive ringan untuk mengangkat
residu enzim dari tetesan fekal. Selama kulit dibersihkan, kasa dapat
digunakan untuk menutupi ostoma.
2) Memasang kantung
Stoma diukur untuk menentukan ukuran kantung yang tepat. Lubang
kanutng harus sekitar 0,3 cm lebih besar daru stoma. Kulit dibersihkan
terlebih dahulu. Barrier kulit peristoma dipasang. Kemudian kantung
dipasang dengan cara membuka kertas perekat dan menekannya di atas
stoma. Iritasi kulit irngan memerlukan tebaran bedak stomahesive
sebelum kantung diletakkan.
3) Mengangkat alat drainase
Alat drainase diganti apabila isisnya telah mencapai sepertiga sampai
seperempat bagian sehingga berat isinya tidak menyebabkan kantung
lepas dari diskus perekatnya dan keluar isinya. Pasien dapat memilih
posisi duduk atau berdiri yang nyaman dan dengan perlahan
mendorong kulit menjauh dari permukaan piringan sambil menarik
kantung ke atas dan menjauh dari stoma. Tekanan perlahan mencegah
kulit dari trauma dan mencegah adanya isi fekal yang tercecer keluar,
4) Mengirigasi kolostomi
Tujuan pengirigasian kolostomi adalah untuk mengosongkan kolon
dari gas, mucus, dan feses. Sehingga pasien dapat menjalankan
aktivitas sosial dan bisnis tanpa rasa takut terjadi drainase fekal.
Dengan mengirigasi stoma pada waktu yang teratur, terdapat sedikit
gas dan retensi cairan pengirigasian.

CARA MELAKUKAN PERAWATAN KOLOSTOMI


1) Pengertian
Menjaga higienitas dengan mengosongkan kantung kolostomi dan
membersihkan lokasi kolostomi secara teratur.

10
2) Tujuan
1) Mencegah kebocoran
2) Mencegah ekskoriasi kulit dan stoma
3) Memantau stoma dan kulit sekitarnya
4) Mengajarkan pasien dan keluarganya mengenai cara perawatan
kolostomi dan kantung penampungnya.
3) Persiapan Klien
1. Memberi penjelasan pada klien tentang tujuan tindakan dll
2. Mengatur posisi tidur klien (supinasi)
3. Mengatur tempat tidur klien dan lingkungan klien (menutup gorden
jendela, pintu memasang penyekat tempat tidur (k/p),
mempersilahkan keluarga untuk menunggu diluar kecuali jika
diperlukan untuk belajar merawat kolostomi klien dll)
4) Sikap Perawat Saat Merawat Kolostomi
1. Tidak menunjukkan rasa jijik
2. Terampil dan tidak ragu-ragu
3. Menjalankan komunikasi terapeutik
4. Menunjukkan sikap empati
5. Efektif dan efisien
6. Menjaga privacy klien.
5) Tahap Pre-Interaksi
1. Mengucapkan salam terapeutik
2. Memperkenalkan diri
3. Menjelaskan pada klien dan keluarga tentang prosedur dan tujuan
tindakan yang akan dilaksanakan
4. Penjelasan yang disampaikan dimengerti klien/keluarganya
5. Selama komunikasi digunakan bahasa yang jelas, sistemis serta
tidak mengancam
6. Klien/keluarga diberi kesempatan bertanya untuk klarifikasi
7. Privasi klien selama komunikasi dihargai
8. Memperlihatkan kesabaran, penuh empati, sopan, dan perhatian
serta respek selama berkomunikasi dan melakukan tindakan.

11
9. Membuat kontrak ( waktu, tempat dan tindakan yang akan
dilakukan )
6) Persiapan Alat dan Bahan
1. Colostomy bag atau cincin tumit, bantalan kapas, kain berlubang,
dan kain persegi empat
2. Kapas sublimate/kapas basah/NaCl
3. Kapas kering atau tissue
4. 1 pasang sarung tangan bersih
5. Kantong untuk balutan kotor
6. Baju ruangan/celemek
7. Bethadine (bila perlu/bila mengalami iritasi)
8. Zink salep
9. Perlak dan alasnya
10. Plester dan gunting
11. Obat desinfektan (bila perlu)
12. Bengkok
13. Set ganti balutan
7) Persiapan Lingkungan
Mengatur tempat tidur pasien dan lingkungan pasien (menutup gorden
jendela, pintu, memasang penyekat tempat tidur, mempersilahkan
keluarga untuk belajar merawat kolostomi pasien.
8) Tahap Orientasi
1. Memberi salam
2. Panggil klien dengan panggilan yang disenangi
3. Memperkenalkan nama perawat
4. Menjelaskan prosedur dan tujuan tindakan pada klien
5. Menjelaskan kerahasiaan
9) Tahap Kerja
1. Cuci tangan
2. Gunakan sarung tangan
3. Letakkan perlak dan alasnya dibagian kanan atau kiri pasien sesuai
letak stoma

12
4. Meletakkan bengkok di atas perlak dan didekatkan ke tubuh pasien
5. Mengobservasi produk (warna, konsistensi, dll)
6. Membuka kantong kolostomi secara hati – hati dengan
menggunakan pinset dan tangan kiri menekan kulit pasien
7. Meletakkan kolostomi bag kotor dalam bengkok
8. Melakukan observasi terhadap kulit dan stoma
9. Membersihkan kolostomi dan kulit disekitar kolostomi dengan
kapas sublimat/kapas hangat (air hangat)/ NaCl
10. Mengerongkan kulit sekitar kolostomi dengan sangat hati – hati
dengan hati – hati menggunakan kassa steril
11. Memberikan Zink salep (tipis – tipis) jika terdapat iritasi pada kulit
sekitar stoma
12. Menyesuaikan lubang kolostomi dengan stoma kolostomi
13. Menempelkan kantung kolostomi dengan posisi
vertikel/horizontal/miring sesuai kebutuhan pasien
14. Memasukkan stoma melalui lubang kantong ostomi
15. Merekatkan/memasang kolostomi bag dengan tepat tanpa udara
didalamnya
16. Merapikan klien dengan lingkungannya
17. Membereskan alat – alat dan membuang kotoran
18. Melepas sarung tangan
19. Mencuci tangan
10) Tahap Terminasi
1. Menyimpulkan hasil prosedur yang dilakukan
2. Menanyakan pada pasien apa yang dirasakan setelah dilakukan
tindakan
3. Kontrak untuk tindakan selanjutnya
4. Berikan reinforcement sesuai dengan kemampuan klien

13
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN

Ostomy adalah Sebuah lubang buatan yang dibuat oleh dokter ahli
bedah pada dinding abdomen untuk mengeluarkan feces (M. Bouwhuizen,
1991)
Kolostomi adalah membuat kostomi di kolon, dibentuk bila usus
tersumbat oleh tumor. Perlengkapan ostomy terdiri atas satu lapis atau dua
lapis dengan barier kulit hipoalergenik untuk mempertahankan integritas
kulit peristomal. Kantong harus cukup besar untuk menampung feses dan
flatus dalam jumlah sedang tetapi tidak terlalu besar agar tidak membebani
bayi atau anak.

B. SARAN

Pada perawatan pasien ostomi atau kolostomi harus di butuhkan


ketelitian dan keahlian dalam perawatan pasien ostomy dan harus selalu
berfokus pada kebutuhan Bio-Psiko-Sosial-Kultural dan Spiritual pasien.

14
DAFTAR PUSTAKA

Jacob, Annama dkk. 2014. Buku Ajar Clinical Nursing ProcedursJilidSatu.


Tangerang : BINAPURA AKSARA Publisher (Bahasa Indonesia)
Modul Keperawatan Medikal Bedah I Politeknik Kesehatan Kemenkes Mataram.
2015
Myers, Ehren.2012.Keterampilan Klinis untuk Perawat. Jakarta: Erlangga.
(Rewritten by Dimas Erda Widyamarta: www.ithinkeducation.blogspot.com)
diakses pada tanggal 23 Oktober 2016 pukul 14.30 WITA

15