Anda di halaman 1dari 14

BAB I

PENDAHULUAN

1.1.Latar Belakang
Indonesia dikenal dunia memiliki sumber daya alam (SDA) yang melimpah,
terutama minyak bumi dan gas alam. Hal ini yang menjadikan Indonesia
memanfaatkan sumber daya alam tersebut dalam jumlah yang besar untuk
kesejahteraan masyarakatnya. Indonesia termasuk negara penyumbang minyak
terbesar di dunia oleh karena itu hal ini dikhawatirkan berdampak kepada sumber
daya alam tersebut, dimana kita ketahui SDA minyak bumi dan gas alam adalah
sumber daya alam yang tidak dapat diperbaharui dan lama-kelamaan akan habis di
gali. Turnip (2017), menyatakan bahwa peningkatan pertumbuhan ekonomi global
menyebabkan permintaan bahan bakar meningkat sehingga ketersediaan bahan
bakar fosil menipis. Selain itu, penggunaan bahan bakar fosil mengakibatkan
bahaya lingkungan seperti emisi gas rumah kaca dan polutan. Jadi hal ini sangat
mendesak untuk menemukan sumber energi yang bersih dan terbarukan untuk
menggantikan bahan bakar fosil. Fitriani (2016) menyatakan bahwa sumber energi
minyak bumi saat ini mulai menipis seiring meningkatnya pembangunan dan
penggunaannya di bidang industri maupun transportasi. Cadangan dan produksi
bahan bakar minyak bumi (fosil) di Indonesia mengalami penurunan 10% setiap
tahunnya sedangkan tingkat konsumsi minyak rata-rata naik 6% per tahun
(Kuncahyo, 2013). Permasalahan yang terjadi di Indonesia saat ini yaitu produksi
bahan bakar minyak bumi tidak dapat mengimbangi besarnya konsumsi bahan
bakar minyak, sehingga Indonesia melakukan impor minyak untuk memenuhi
kebutuhan energi bahan bakar minyak setiap harinya.
Ketergantungan terhadap minyak bumi sudah saatnya dikurangi dengan
mengembangkan sumber energi alternatif yang memiliki sifat dapat diperbaharui.
Sumber-sumber energi terbarukan mendapat perhatian serius seiring dengan
peningkatan jumlah penduduk dan berkurangnya cadangan minyak bumi sebagai
sumber energi utama yang dikonsumsi oleh penduduk dunia. Sebagai solusi
permasalahan tersebut diperlukannya diversifikasi energi selain minyak bumi.
Indonesia adalah Negara kaya dengan sumber daya alam yang dapat diperbaharui,

1
sehingga banyak pula bahan baku yang dapat digunakan untuk memproduksi bahan
bakar alternatif pengganti minyak bumi salah satunya biodiesel. Biodiesel
merupakan salah satu potensial permasalahan energi yang dapat dimanfaatkan
sebagai pengganti solar/diesel. Biodiesel merupakan bahan bakar alternatif dari
sumber terbarukan (renewable), dengan komposisi ester asam lemak dari minyak
nabati antara lain minyak kelapa sawit, minyak kelapa, minyak jarak pagar, minyak
biji kapuk, dan masih ada lebih dari 30 macam tumbuhan Indonesia yang potensial
untuk dijadikan biodiesel. Pada sektor darat dan laut, total sumber penghasil minyak
biodiesel lebih dari 50 jenis, meliputi kelapa sawit, jarak pagar, minyak jelantah,
kelapa, alga, dan lain sebagainya (Kuncahyo, 2013). Banyaknya bahan baku
penghasil minyak biodiesel dapat menjadi keunggulan Indonesia untuk melakukan
pengembangan produksi minyak biodiesel. Bahan baku yang dijadikan sebagai
suplemen ataupun pengganti minyak bumi tentu harus memiliki nilai potensi yang
tinggi. Biodiesel ini dapat dijadikan sebagai bahan bakar pengganti solar, sebab
komposisi fisika-kimia antara biodiesel dan solar tidak jauh berbeda.
1.2.Rumusan Masalah
1. Apakah yang dimaksud dengan biodiesel?
2. Bagaimana cara pembuatan biodiesel?
3. Bahan baku apa saja yang dapat digunakan sebagai bahan pembuatan
biodiesel?
4. Faktor-faktor apa yang mempengaruhi pembuatan biodiesel?
5. Apakah yang dimaksud dengan energi terbarukan?
6. Apakah manfaat dari energi terbarukan?

1.3.Tujuan
1. Mahasiswa dapat mengetahui pengertian dari biodiesel.
2. Mahasiswa dapat mengetahui cara pembuatan biodiesel.
3. Mahasiswa dapat mengetahui bahan baku dalam pembuatan biodiesel.
4. Mahasiswa dapat mengetahui factor-faktor yang mempengaruhi pembuatan
biodiesel.
5. Mahasiswa dapat mengetahui tentang energi terbarukan.
6. Mahasiswa dapat mengetahui tentang manfaat energi terbarukan.

2
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Pengertian Biodiesel


Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil
ester dari rantai panjang asam lemak yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan
bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak nabati
atau lemak hewan (Saputra dkk, 2017). Biodiesel merupakan monoalkil ester dari
asam-asam lemak rantai panjang yang terkandung dalam minyak nabati atau lemak
hewani untuk digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel (Hikmah & Zuliyana
,2010). Minyak biodiesel merupakan bahan bakar alternatif yang terbuat dari
sumber daya alam yang dapat diperbarui, diantara sumber daya yang dapat
diperbarui adalah minyak tumbuhan dan hewan, baik di darat maupun di laut
(Fitriani, 2016). Menurut Turnip (2017), biodiesel merupakan bahan bakar
alternatif yang ramah lingkungan karena diproduksi dari sumber daya alam.
Biodiesel umumnya diproduksi secara transesterifikasi minyak nabati atau lemak
hewan dengan alkohol seperti metanol atau etanol dengan adanya katalis asam atau
katalis alkali. Biodiesel yang merupakan pengganti bahan bakar, terbuat dari
monoalkil ester rantai panjang asam lemak yang disiapkan dari minyak sayuran
terbarukan atau lemak hewan, telah mampu menjadi pertimbangan menarik sebagai
sebuah bahan bakar terbarukan alternatif untuk mesin diesel. Bahan baku biodiesel
bermacam-macam., yang umum digunakan adalah minyak sayur yang berasal dari
kelapa sawit, kacang kedelai minyak kanola (repressed) atau bunga matahari.
Dalam pengertian umum, istilah biodiesel berarti adalah bahan bakar mesin diesel
yang terdiri dari ester-ester metil (etil) asam-asam lemak (Shimmamah, 2017).
Pada sektor darat dan laut, total sumber penghasil minyak biodiesel lebih
dari 50 jenis (Kuncahyo dkk, 2013). Biodiesel selain sebagai energi alternatif juga
lebih ramah lingkungan dibandingkan dengan bahan bakar fosil. Pembakaran bahan
bakar fosil menghasilkan salah satu polutan yaitu sulfur dioksida (SO2) dan
mengakibatkan polusi udara meningkat. Menurut Aziz (dalam Suputra, 2017),
pembuatan biodiesel memerlukan alkohol untuk memecah rantai trigliserida yang
terdapat dalam minyak nabati. Alkohol yang biasa digunakan adalah metanol dan

3
etanol. Metanol merupakan jenis alkohol yang paling disukai karena lebih reaktif
selain itu untuk mendapatkan hasil biodieselyang sama, penggunaan etanol 1,4 kali
lebih banyak dibandingkan methanol.
2.2 Cara Pembuatan Biodiesel
Biodiesel dibuat melalui suatu proses kimia yang disebut transesterifikasi
dimana gliserin dipisahkan dari minyak nabati. Proses ini menghasilkan dua produk
yaitu metil ester (biodiesel)/mono-alkyl esters dan gliserin yang merupakan produk
samping (Akbar, 2016). Biodiesel dapat diperoleh melalui reaksi transesterikasi
trigliserida dan atau reaksi esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas
minyak nabati yang digunakan sebagai bahan baku. Berdasarkan kandungan FFA
dalam minyak nabati maka proses pembuatan biodiesel secara komersial dibedakan
menjadi 2 yaitu esterifikasi dan transesterifikasi (Fitriani, 2016).
2.2.1 Esterifikasi
Esterifikasi adalah konversi dari asam lemak bebas menjadi ester.
Esterifikasi mereaksikan minyak lemak dengan alkohol. Katalis-katalis yang
cocok adalah zat berkarakter asam kuat merupakan katalis-katalis yang biasa
dipakai dalam industri. Reaktan metanol harus ditambahkan dalam jumlah yang
sangat berlebih dan air sebagai produk samping reaksi disingkirkan dari fasa reaksi,
yaitu fasa minyak. Melalui kombinasi-kombinasi yang tepat dari kondisi-kondisi
reaksi dan metode penyingkiran air, konversi sempurna asam-asam lemak ke ester
metilnya dapat dituntaskan dalam waktu 1 jam (Listiadi & Putra, 2013). Reaksi
esterifikasi terlihat pada Gambar 1.

Asam Lemak Alkohol Ester air


Gambar 1. Reaksi Esterifikasi
2.2.2 Transesterifikasi
Transesterifikasi adalah reaksi antara lemak atau minyak nabati dengan
alkohol untuk membentuk ester dan gliserol. Biasanya dalam reaksi ini digunakan
katalis untuk meningkatkan laju reaksi dan jumlah yield produk (Akbar, 2016).
Transesterifikasi (reaksi alkoholis) adalah lemak atau minyak nabati direaksikan
dengan alkohol yang akan menghasilkan ester dan gliserol sebagai produk samping

4
dengan bantuan katalis basa. Katalis digunakan untuk meningkatkan laju reaksi
dan jumlah produk (Listiadi & Putra, 2013). Metanol ataupun etanol merupakan
alkohol yang umumnya digunakan. Reaksi ini cenderung lebih cepat menghasilkan
metil ester daripada reaksi esterifikasi dengan bantuan katalis asam. Namun,
penggunaan bahan baku pada reaksi transesterifikasi harus mempunyai angka asam
lemak bebas yang kecil (< 2%) untuk menghindari pembentukan sabun (Pristiyani,
2015). Reaksi transesterifikasi terlihat pada Gambar 2 berikut ini:

Gambar 2. Proses Transesterifikasi


Ada beberapa aspek yang mempengaruhi proses transesterifikasi minyak nabati,
yaitu: pemilihan katalis, rasio molar alkohol/minyak nabati, kemurnian reaktan, dan
suhu (Hidayati, Arianto & Septiawan, 2017).
2.3 Bahan Baku Pembuatan Biodiesel
Minyak nabati adalah minyak yang diekstrak dari berbagai bagian tumbuhan.
Minyak nabati pada umumnya memiliki kandungan asam lemak yang tinggi
sehingga bias dijadikan sebagai bahan baku produksi biodiesel. Bahan baku minyak
nabati yang bisa digunakan antara lain: minyak jelantah, minyak jarak pagar, dan
minyak nyamplung (Ramadhani dkk, 2017).
1. Minyak Jelantah
Minyak jelantah merupakan suatu limbah dari minyak goreng yang
memiliki potensi besar untuk menghasilkan biodiesel (Ramadhani dkk, 2017).
Minyak jelantah dapat diubah menjadi biodiesel (alkil ester) melalui proses
transesterifikasi. Minyak jelantah adalah minyak limbah yang bisa berasal dari
jenis-jenis minyak goreng seperti halnya minyak jagung, minyak sayur, minyak
samin dan sebagainya. Minyak ini biasanya merupakan minyak bekas pemakaian

5
kebutuhan rumah tangga, umumnya dapat digunakan kembali untuk keperluan
kuliner. Pada umumnya minyak goreng bekas mengandung senyawa – senyawa
antara lain: polimer, aldehida, asam lemak, senyawa aromatik dan lakton (Turnip
dkk, 2017)
Pada proses ini minyak jelantah sebagai sumber trigliserida direaksikan
dengan alcohol menghasilkan campuran alkil ester dan gliserol dengan adanya
katalis basa kuat. Pada umumnya minyak goreng memiliki kandungan asam lemak
bebas yang tinggi, oleh karena itu transesterifikasi minyak ini dengan bantuan
katalis basa NaOH atau KOH tidak tepat. Alternatif katalis lain adalah katalis basa
padat. Menurut Zabeti (2009), CaO merupakan material yang tersedia melimpah di
Indonesia dan dapat dimanfaakan sebagai katalis untuk transesterifikasi. Selain itu
harganya murah dan memiliki kelarutan yang rendah dalam methanol.
2. Minyak Jarak Pagar
Jarak pagar (Jatropha curcas L.) merupakan tanaman yang sejak puluhan
tahun lalu sudah dimanfaatkan minyaknya sebagai bahan bakar. Ciri khas yang
dimiliki minyak jarak adalah kandungan asam lemak tidak jenuh yang mengandung
gugus hidroksil (unsaturated hydroxyl fatty acid), berupa oleic acid, atau yang biasa
disebut asam oleat ((Ramadhani dkk, 2017). Pembuatan biodiesel dengan minyak
jarak pagar melalui 2 tahap yaitu proses esterifikasi dan proses transesterifikasi
(Sudrajat, Jaya, & Setiawan, 2005)
 Proses Esterifikasi
Minyak jarak pagar hasil pengepresan disaring menggunakan kertas saring,
setelah itu diendapkan dan dipisahkan selanjutnya larutan pada lapisan atas
kemudian direaksikan dengan methanol untuk menkonversi asam lemak bebas
melalui proses esterifikasi dengan bantuan katalis HCl pada suhu 600C.
Pencucian dilakukan dengan menggunakan air suling hangat mengandung basa
lemah (NaHCO3).
 Proses Transesterifikasi
Minyak yang kadar asam lemak bebasnya sudah rendah, ditransesterifikasi oleh
methanol teknis dengan bantuan katalis NaOH suhu 600C. Pada tahap ini
diperoleh metil ester (biodiesel) yang masih bercamour dengan sisa katalis dan
gliserol. Gliserol berupa endapan kental yang berada di bawah biodiesel

6
dipisahkan dengan mengalirkannya ke luar dari larutan biodiesel. Biodiesel
selanjutnya dibersihkan dari katalis dengan air hangat yang mengandung asam
aseta (CH3COOH).
3. Minyak Nyamplung
Nyamplung (Calophyllum inopyllum) merupakan suatu tanaman yang
dimanfaatkan bijinya menjadi minyak nabati atau lebih dikenal dengan minyak
nyamplung dan dapat dijadiakan sebagai bahan baku biodiesel (Ramadhani, dkk
2017)
2.4 Faktor Yang Mempengaruhi Pembuatan Biodiesel
Tahapan reaksi transesterifikasi pembuatan biodiesel selalu menginginkan
agar didapatkan produk biodiesel dengan jumlah yang maksimum. Beberapa
kondisi reaksi yang mempengaruhi konversi serta perolehan biodiesel melalui
transesterifikasi adalah sebagai berikut (Freedman et al, 1984 ):
1. Pengaruh air dan asam lemak bebas
Minyak nabati yang akan ditransesterifikasi harus memiliki angka asam
yang lebih kecil dari 1. Banyak peneliti yang menyarankan agar kandungan
asam lemak bebas lebih kecil dari 0.5% (<0.5%). Selain itu, semua bahan yang
akan digunakan harus bebas dari air. Karena air akan bereaksi dengan katalis,
sehingga jumlah katalis menjadi berkurang. Katalis harus terhindar dari kontak
dengan udara agar tidak mengalami reaksi dengan uap air dan karbon dioksida.
2. Pengaruh perbandingan molar alkohol dengan bahan mentah
Secara stoikiometri, jumlah alkohol yang dibutuhkan untuk reaksi adalah 3
mol untuk setiap 1 mol trigliserida untuk memperoleh 3 mol alkil ester dan 1
mol gliserol. Perbandingan alkohol dengan minyak nabati 4,8:1 dapat
menghasilkan konversi 98% (Burt and Meuly, 1944). Secara umum
ditunjukkan bahwa semakin banyak jumlah alkohol yang digunakan, maka
konversi yang diperoleh juga akan semakin bertambah.
3. Pengaruh jenis alkohol
Pada rasio 6:1, metanol akan memberikan perolehan ester yang
4. Pengaruh jenis katalis
Alkali katalis (katalis basa) akan mempercepat reaksi transesterifikasi bila
dibandingkan dengan katalis asam. Katalis basa yang paling populer untuk
reaksi transesterifikasi adalah natrium hidroksida (NaOH), kalium hidroksida

7
(KOH), natrium metoksida (NaOCH dan kalium metoksida (KOCH Katalis
sejati bagi reaksi sebenarnya adalah ion metilat (metoksida). Reaksi
transesterifikasi akan menghasilkan konversi yang maksimum dengan jumlah
katalis 0,5-1,5%-b minyak nabati. Jumlah katalis yang efektif untuk reaksi
adalah 0,5%-b minyak nabati untuk natrium metoksida dan 1%-b minyak
nabati untuk natrium hidroksida.
5. Jenis minyak nabati
Perolehan metil ester akan lebih tinggi jika menggunakan minyak nabati
murni (refined) dibandingkan minyak kasar (crude). Namun apabila produk
metil ester akan digunakan sebagai bahan bakar mesin diesel, cukup digunakan
bahan baku berupa minyak yang telah dihilangkan getahnya dan disaring.
6. Pengaruh temperatur
Reaksi transesterifikasi dapat dilakukan pada temperatur 30 - 65°C (titik
didih metanol sekitar 65°C). Semakin tinggi temperatur, konversi yang
diperoleh akan semakin tinggi untuk waktu yang lebih singkat.

2.5 Energi Terbarukan


Energi terbarukan adalah sumber-sumber energi yang bisa habis secara
alamiah. Energi terbarukan berasal dari elemen-elemen alam yang tersedia di bumi
dalam jumlah besar seperti matahari dan angin (Notosudjono, Suhendi, &
Wismiana, 2016). Indonesia sesungguhnya memiliki potensi sumber energi
terbarukan dalam jumlah besar. Beberapa diantaranya bisa segera diterapkan di
tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti bensin, biodiesel untuk pengganti
solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga surya, tenaga angin (Indartono, 2005).
1. Bioethanol
Bioethanol adalah ethanol yang diproduksi dari tumbuhan. Brazil, dengan
320 pabrik bioethanol, adalah negara terkemuka dalam penggunaan serta ekspor
bioethanol saat ini. Di tahun 1990-an, bioethanol di Brazil telah menggantikan
50% kebutuhan bensin untuk keperluan transportasi. Bioethanol tidak saja
menjadi alternatif yang sangat menarik untuk substitusi bensin, namun dia
mampu menurunkan emisi CO2 hingga 18% di Brazil. Dalam hal prestasi
mesin, bioethanol dan gasohol (kombinasi bioethanol dan bensin) tidak kalah
dengan bensin bahkan dalam beberapa hal, bioethanol dan gasohol lebih baik

8
dari bensin. Pada dasarnya pembakaran bioethanol tidak menciptakan CO2 neto
ke lingkungan karena zat yang sama akan diperlukan untuk pertumbuhan
tanaman sebagai bahan baku bioethanol. Bioethanol bisa didapat dari tanaman
seperti tebu, jagung, singkong, ubi, dan sagu; ini merupakan jenis tanaman yang
umum dikenal para petani di tanah air. Efisiensi produksi bioethanol bisa
ditingkatkan dengan memanfaatkan bagian tumbuhan yang tidak digunakan
sebagai bahan bakar yang bisa menghasilkan listrik.
2. Tenaga Panas Bumi
Sebagai negara yang terletak di daerah ring of fire, Indonesia
diperkirakan memiliki cadangan tenaga panas bumi tak kurang dari 27 GW.
Jumlah tersebut tidak jauh dari daya total pembangkitan listrik nasional yang
saat ini mencapai 39.5 GW. Pemanfaatan tenaga panas bumi di Indonesia masih
sangat rendah, yakni sekitar 3%. Tenaga panas bumi berasal dari magma (yang
temperaturnya bisa mencapai ribuan derajad celcius). Panas tersebut akan
mengalir menembus berbagai lapisan batuan di bawah tanah. Bila panas tersebut
mencapai reservoir air bawah tanah, maka akan terbentuk air/uap panas
bertekanan tinggi. Ada dua cara pemanfaatan air/uap panas tersebut, yakni
langsung (tanpa perubahan bentuk energi) dan tidak langsung (dengan
mengubah bentuk energi). Untuk uap bertemperatur tinggi, tenaga panas bumi
tersebut bisa dimanfaatkan untuk memutar turbin dan generator yang selanjutnya
menghasilkan listrik. Sedangkan uap/air yang bertemperatur lebih rendah
(sekitar 1000C) bisa dimanfaatkan secara langsung untuk sektor pariwisata,
pertanian, industri, dsb. Dengan adanya UU No 27 Tahun 2003 tentang panas
bumi serta inventarisasi data panas bumi yang telah dilakukan Kementrian
Energi dan Sumber Daya Mineral, maka eksploitasi tenaga panas bumi ini bisa
segera direalisasikan untuk mengurangi ketergantungan Indonesia terhadap
bahan bakar fosil.
3. Mikrohidro
Mikrohidro adalah pembangkit listrik tenaga air skala kecil (bisa mencapai
beberapa ratus kW). Relatif kecilnya energi yang dihasilkan mikrohidro
(dibandingkan dengan PLTA skala besar) berimplikasi pada relatif sederhananya
peralatan serta kecilnya areal tanah yang diperlukan guna instalasi dan

9
pengoperasian mikrohidro. Hal tersebut merupakan salah satu keunggulan
mikrohidro, yakni tidak menimbulkan kerusakan lingkungan. Mikrohidro cocok
diterapkan di pedesaan yang belum terjangkau listrik dari PT PLN. Mikrohidro
mendapatkan energi dari aliran air yang memiliki perbedaan ketinggian tertentu.
Energi tersebut dimanfaatkan untuk memutar turbin yang dihubungkan dengan
generator listrik. Mikrohidro bisa memanfaatkan ketinggian air yang tidak
terlalu besar, misalnya dengan ketinggian air 2.5 m bisa dihasilkan listrik 400 W
Potensi pemanfaatan mikrohidro secara nasional diperkirakan mencapai 7,500
MW, sedangkan yang dimanfaatkan saat ini baru sekitar 600 MW. Meski potensi
energinya tidak terlalu besar, namun mikrohidro patut dipertimbangkan untuk
memperluas jangkauan listrik di seluruh pelosok nusantara.
4. Tenaga Surya
Energi yang berasal dari radiasi matahari merupakan potensi energi terbesar
dan terjamin keberadaannya di muka bumi. Berbeda dengan sumber energi
lainnya, energi matahari bisa dijumpai di seluruh permukaan bumi. Pemanfaatan
radiasi matahari sama sekali tidak menimbulkan polusi ke atmosfer. Perlu
diketahui bahwa berbagai sumber energi seperti tenaga angin, bio-fuel, tenaga
air, dsb, sesungguhnya juga berasal dari energi matahari. Pemanfaatan radiasi
matahari umumnya terbagi dalam dua jenis, yakni termal dan photovoltaic. Pada
sistem termal, radiasi matahari digunakan untuk memanaskan fluida atau zat
tertentu yang selanjutnya fluida atau zat tersebut dimanfaatkan untuk
membangkitkan listrik. Sedangkan pada system photovoltaic, radiasi matahari
yang mengenai permukaan semikonduktor akan menyebabkan loncatan elektron
yang selanjutnya menimbulkan arus listrik.
5. Tenaga Angin
Pembangkit listrik tenaga angin disinyalir sebagai jenis pembangkitan
energi dengan laju pertumbuhan tercepat di dunia dewasa ini. Saat ini kapasitas
total pembangkit listrik yang berasal dari tenaga angin di seluruh dunia berkisar
17.5 GW. Jerman merupakan Negara dengan kapasitas pembangkit listrik tenaga
angin terbesar, yakni 6 GW, kemudian disusul oleh Denmark dengan kapasitas
2 GW. Listrik tenaga angin menyumbang sekitar 12% kebutuhan energi nasional
di Denmark; angka ini hendak ditingkatkan hingga 50% pada beberapa tahun

10
yang akan datang. Berdasar kapasitas pembangkitan listriknya, turbin angin
dibagi dua, yakni skala besar (orde beberapa ratus kW) dan skala kecil (dibawah
100 kW). Perbedaan kapasitas tersebut mempengaruhi kebutuhan kecepatan
minimal awal (cut-in win speed) yang diperlukan: turbin skala besar beroperasi
pada cut-in win speed 5 m/s sedangkan turbin skala kecil bisa bekerja mulai 3
m/s. Untuk Indonesia dengan estimasi kecepatan angin rata-rata sekitar 3 m/s,
turbin skala kecil lebih cocok digunakan, meski tidak menutup kemungkinan
bahwa pada daerah yang berkecepatan angin lebih tinggi (Sumatra Selatan,
Jambi, Riau, dsb) bisa dibangun turbin skala besar. Perlu diketahui bahwa
kecepatan angin bersifat fluktuatif, sehingga pada daerah yang memiliki
kecepatan angin rata-rata 3 m/s, akan terdapat saat-saat dimana kecepatan
anginnya lebih besar dari 3 m/s pada saat inilah turbin angin dengan cut-in win
speed 3 m/s akan bekerja. Selain untuk pembangkitan listrik, turbin angin sangat
cocok untuk mendukung kegiatan pertanian dan perikanan, seperti untuk
keperluan irigasi, aerasi tambak ikan, dsb.
2.6 Manfaat Energi Terbarukan
Adapun manfaat dari energi terbarukan diantaranya adalah sebagai berikut
(Notosudjono, 2016):
1. Tersedia secara melimpah dan tidak akan habis.
2. Ramah lingkungan Rendah atau tidak ada limbah dan polusi)
3. Sumber energi dapat digunakan secara cuma-cuma dengan investasi
teknologi yang sesuai.
4. Tidak memerlukan perawatan yang banyak dibandingkan dengan sumber-
sumber energi konvensional dan mengurangi biaya operasi.
5. Membantu mendorong perekonomian dan menciptakan peluang kerja..
6. Mandiri energi (tidak perlu mengimpor bahan bakar fosil dari Negara lain)
7. Lebih mudah dibandingkan energi konvensional dalam jangka panjang
(bebas dari fluktuasi harga pasar terbuka bahan bakar fosil.
8. Beberapa teknologi mudah digunakan di tempat-tempat terpencil

11
BAB III
SIMPULAN

1. Biodiesel merupakan bahan bakar yang terdiri dari campuran mono alkil ester
dari rantai panjang asam lemak yang dipakai sebagai alternatif bagi bahan
bakar dari mesin diesel dan terbuat dari sumber terbaharui seperti minyak
nabati atau lemak hewan.
2. Biodiesel dapat diperoleh melalui reaksi transesterikasi trigliserida dan atau
reaksi esterifikasi asam lemak bebas tergantung dari kualitas minyak nabati
yang digunakan sebagai bahan baku.
3. Bahan baku minyak nabati yang bisa digunakan antara lain: minyak jelantah,
minyak jarak pagar, dan minyak nyamplung.
4. Energi terbarukan adalah sumber-sumber energi yang bisa habis secara
alamiah. Energi terbarukan berasal dari elemen-elemen alam yang tersedia di
bumi dalam jumlah besar seperti matahari dan angin. Beberapa diantaranya
bisa segera diterapkan di tanah air, seperti: bioethanol sebagai pengganti
bensin, biodiesel untuk pengganti solar, tenaga panas bumi, mikrohidro, tenaga
surya, tenaga angina.
5. Adapun manfaat dari energi terbarukan diantaranya adalah yaitu tersedia secara
melimpah dan tidak akan habis, ramah lingkungan Rendah atau tidak ada
limbah dan polusi) dan sumber energi dapat digunakan secara cuma-cuma
dengan investasi teknologi yang sesuai.

12
DAFTAR PUSTAKA

Fitriani, 2016. Produksi Biodiesel Dari Minyak Jelantah Melalui Transesterifikasi


Dengan Bantuan Gelombang Ultrasonik. Skripsi. Fakultas Pertanian.
Universitas Lampung
Hidayati, N., Ariyanto, T.S., & Septiawan, H. 2017. Transesterifikasi Minyak
Goreng Bekas Menjadi Biodiesel Dengan Katalis Kalsium Oksida. Jurnal
Teknologi Bahan Alam. ISSN 2407-8476. 1(1), 1-5
Hikmah, M. N. dan Zuliyana. 2010. Pembuatan Metil Ester (Biodiesel) dari
Minyak Dedak dan Metanol dengan Proses Esterifikasi danTransesterifikasi.
Skripsi. Universitas Diponegoro. Semarang.
Kuncahyo, P., Fhatallah, A.Z., & Semin. 2013. Analisa Prediksi Potensi Bahan
Baku Biodiesel Sebagai Suplemen Bahan Bakar Motor Diesel Di Indonesia.
Jurnal Teknik Pomits. 2(1), 62-66
Listiadi, A. P. dan I M. B. Putra. 2013. Intensifikasi Biodiesel dari Minyak Jelantah
dengan Metode Transesterifikasi dan Pemurnian Dry Washing. Skripsi.
Universitas Sultan Agung Tirtayasa. Banten.
Pristiyani, R.. 2015. Sintesis Biodiesel Dan Fuel Bioadditive Triasetin Secara
Simultan dengan Metode Interesterifikasi Minyak Jarak (Jatropha curcas).
Skripsi. Universitas Negeri Semarang. Semarang.
Ramadhani, R.A., Riyadi, D.H.S., Triwibowo, B., Kusumaningtyas, R.D. 2016.
Review Pemanfaatan Design Expert Untuk Optimasi Komposisi Campuran
Minyak Nabati Sebagai Bahan Baku Sintesis Biodiesel. Jurnal Teknik Kimia
dan Lingkungan. e-ISSN 2579-9746
Saputra, A.T., Wicaksono, M.A., & Irsan. 2017. Pemanfaatan Minyak Goreng
Bekas Untuk Pembuatan Biodiesel Menggunakan Katalis Zeolit Alat
Teraktivasi. Jurnal Teknologi Kimia. 2(2), 1-6
Shimmamah, S. 2017. Karakteristik Unjuk Kerja Mesin Diesel Generator Set
Sistem Dual Fuel Biodiesel Minyak Sawit dan Syngas Dengan Penambahan
Preheating Sebagai Pemanas Bahan Bakar. Skrispsi. Jurusan Teknik Mesin.
Fakultas Teknologi Industri ITS

13
Sudrajat, R., Iskandar, H., & Setiawan, D. 2005. Teknologi Pembuatan Biodisel
Dari Minyak Biji Tanaman Jarak Pagar. Jurnal Penelitian Hasil Hutan. 23(1),
1-20

Turnip, J.R., Tarigan, T.F.L., & Sinaga, M.S. 2017. Pengaruh Massa Katalis Dan
Waktu Reaksi Pada Pembuatan Biodiesel Dari Limbah Minyak Jelantah
Dengan Menggunakan Katalis Heterogen K2o Dari Limbah Kulit Kakao.
Jurnal Teknik Kimia. 6(2), 24-29

14