Anda di halaman 1dari 34

BAB I

PENDAHULUAN

A LATAR BELAKANG
Dukungan nutrisi merupakan suatu bagian yang tidak bisa dipisahkan dari
manajemen holistik terutama untuk pasien yang sakit kritis oleh karena tindakan
bedah atau non bedah. Pada banyak kasus keadaan pasien memburuk atau bisa
meninggal yang bukan disebabkan oleh penyakit utama namun sebagai komplikasi
sekunder dari malnutrisi. Hal ini penting bagi para klinisi untuk memahami
perubahan metabolisme tubuh yang terjadi pada proses tersebut. Hal penting lain
yang tidak bisa dilupakan adalah bagaimana mendukung pasien dengan nutrisi yang
baik. Nutrisi enteral merupakan pilihan pertama untuk pasien, namun jika ada
kontraindikasi, harus selalu dipertimbangkan untuk menggunakan nutrisi parenteral
(Surya B, 2006).
Nutrisi seperti halnya oksigen dan cairan senantiasa dibutuhkan oleh tubuh.
Penderita yang tidak dapat makan atau tidak boleh makan harus tetap mendapat
masukan nutrisi melalui cara enteral (pipa nasogastrik) atau cara parentral (intravena).
Nutrisi parenteral tidak menggantikan fungsi alamiah usus, karena itu hanya
merupakan jalan pintas sementara sampai usus berfungsi normal kembali (Ramli,
2009).
Teknik nutrisi parenteral memang tidak mudah dan penuh liku-liku masaalah
biokimia dan fisiologi. Juga harga relatif mahal tetapi jika digunakan dengan benar
pada penderita yang tepat, pada akhirnya akan dapat dihemat lebih banyak biaya yang
semestinya keluar untuk antibiotik dan waktu tinggal dirumah sakit. Contoh
kesalahan yang masih banyak ditemukan di rumah sakit yaitu pemberian protein
tanpa kalori karbohidrat yang cukup dan Pemberian cairan melalui vena perifer
dimana osmolaritas cairan tersebut lebih dari 900 m Osmol yang seharusnya melalui
vena sentral. Jika krisis katabolisme kecil sedang tubuh mempunyai cukup cadangan

1
tidak timbul masalah apapun. Penderita dewasa mudah sehat dengan status gisi yang
baik, dapat menjalani pembedahan, puasa 5-7 hari setelah operasi sembuh dan pulang
dengan selamat hanya dengan kerugian penurunana berat badan. Tetapi pada
kenyataannya lebih banyak penderita yang kondisi awalnya sudah jelek (berat badan
kurang, kadar albumin < 3,5 gr/dl), untuk penderita ini puasa puasa pasca bedah /
pasca trauma 5-7 hari hanya mendapat infus elektrolit sudah cukup untuk
mencetuskan hipoalbuminemia, hambatan penyenbuhan luka, penurunan daya tahan
tubuh sehingga infeksi mudah menyebar. Sehingga banyak diantara penderita pasca
bedah laparotomi karena perforasi ileum (typhus abdominalis), invaginasi, volvulus,
atau hernia inkarserata kemudian mengalami kebocoran jahitan usus yang
menyebabkan peritonitis atau enterofistula ke kulit . Dengan bantuan nutrisi yang
baik penyulit-penyulit fatal ini dapat dihindari (Ramli, 2009).

B RUMUSAN MASALAH
1 Apa pengertian dari Nutrisi Parenteral?
2 Apa saja Indikasi dan Kontraindikasi dari Nutrisi Parenteral?
3 Apa saja Susunan Nutrien dalam Formula Parenteral?
4 Apa saja Komplikasi dari Nutrisi Parenteral?
5 Apa saja Jenis-Jenis dari Formula Parenteral?
6 Bagaimana Penatalaksanaan dari Nutrisi Parenteral?
7 Bagaimana Metode Pemberian Nutrisi Parenteral?
8 Bagaimana prosedur Pemasangan Kateter Vena Sentral?
9 Bagaimana Asuhan Keperawatan Pasien yang Menerima Nutrisi secara
Parenteral?

2
C TUJUAN
1 Mampu memahami pengertian dari Nutrisi Parenteral.
2 Mampu memahami Indikasi dan Kontraindikasi dari Nutrisi Parenteral.
3 Mampu memahami Susunan Nutrien dalam Formula Parenteral
4 Mampu memahami Komplikasi dari Nutrisi Parenteral
5 Mampu memahami Apa saja Jenis-Jenis dari Formula Parenteral
6 Mampu memahami Penatalaksanaan dari Nutrisi Parenteral
7 Mampu memahami Metode Pemberian Nutrisi Parenteral
8 Mampu memahami prosedur Pemasangan Kateter Vena Sentral
9 Mampu memahami Asuhan Keperawatan Pasien yang Menerima Nutrisi
secara Parenteral

3
BAB I I

PEMBAHASAN

KONSEP DASAR

A PENGERTIAN NUTRISI PARENTERAL

Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah balik


yang bisa berupa vena perifer atau vena sentral. Jenis terapi nutrisi parenteral total
dilakukan untuk pertama kalinya oleh Rhoads dan Dudrick dalam pertengahan
tahun 1960an. Karena pemasangan kateter ke dalam vena sentral (yang merupakan
teknik pemberian nutrisi parenteral total / TPN) umumnya dikerjakan oleh dokter
spesialis anestesi, nutrisi parenteral dianggap sebagai bagian spesialisasi tersebut.
Namun, jika nutrisi parenteral hendak dibahas dari segi komplikas metabolik yang
mungkin terjadi, bidang ini bisa dianggap pula sebagai bagian spesialisasi endokrin
(interne). Peranan ahli gizi dalam nutrisi parenteral terutama terletak pada
perhitungan komposisi nutriennya kendati masalah ini dapat teratasi dengan
penggunan larutan nutrisi parenteral yang memiliki pelbagai nutrien dengan
komposisi yang tepat menuruti indikasi dan kebutuhan pasien.

Nutrisi parenteral diperlukan bagi pasien-pasien yang menghadapi resiko


malnutrisi namun tidak mampu dan/atau tidak boleh mendapatkan kecukupan nutrien
lewat saluran cerna. Nutrisi parenteral perlu dibedakan dengan pemberian cairan infus
yang hanya terdiri atas cairan, elektrolit, dan karbohidrat untuk mempertahankan
hidrasi, keseimbangan elektrolit serta memberikan sedikit kalori.

Nutrisi parenteral disebut nutrisi parenteral total jika seluruh kebutuhan nutrisi
pasien diberikan lewat pembuluh darah, atau nutrisi parenteral parsial bila hanya
sebagian kebutuhan saja yang diberikan lewat pembuluh darah. Nutrisi parenteral bisa
pula disebut sebagai terapi nutrisi primer atau sebagian terapi nutrisi suplemental atau
suportif.

4
Apabila asupan nutrisi pasien kurang secra bermakna dibanding yang
diperlukan oleh tubuh untuk memenuhi penggunaan energy, maka akan
mengakibatkan status keseimbangan nitrogen negatif. Ini berarti bahwa lebih
banyak protein digunakan daripada yang dapat dibuat. Nutrisi Parenteral Total (NPT)
adalah metode pemberian nutrisi pada tubuh dengan rute intarvena. Nutrient ini
mencakup kestrosa, asam amino, elektrolit, vitamin, mineral, dan emulsi lemak.
Sasaran NPT adalah untuk mendaptkan status nutrisi yang baik, penambahan berat
badan dan mencapai proses penyembuhan.

Cairan IV (Intra Vena) tradisional tidak mengandung kalori atau nitrogen


yang adekuat untuk memenuhi kebutuhan harian tubuh. Pada responsnya, tubuh
mulai mengubah protein menjadi karbohidrat dengan proses glikogenesis. Larutan
NPT, mengandung kalori dan nitrogen yang cukup untuk memenuhi kebutuhan
nutrisi harian pasien. Secara umum, NPT mengandung 30 sampai 35 kkal dan 1,0
sampai 1,5 g/kg protein.

Rata – rata pasien dewasa pascaoperatif memerlukan kira – kira 1500 kalori
sehari untuk menghindari penggunaan simpanan protein oleh tubuh. Pasien yang
mempunyai kondisi demam, trauma, luka bakar, bedah mayor, atau penyakit
hipermetabolik memerlukan tambahan kalori sampai 10.000 setiap hari. Jumlah
volume yang diperlukan untuk memenuhi kalori ini akan melampaui toleransi cairan
dan menimbulkan edema paru atau gagal jantung kongestif. Untuk memenuhi kalori
yang diperlukan dalam volume sedikit, maka konsentrasi pwrlu ditingkatkan melalui
penggunaan rute pemberian yang akan dengan cepat elarutkan nutiren yang maruk
sesuai tingkat toleransi tubuh.

Bila glukosa hipertonik diberikan, ini memenuhi kebutuhan kalori dan


memungkinkan asam amino dilepaskan untuk sintesi protein, daripada digunakan
untuk energy. Kalium tambahan diberikan untuk memberikan keseimbangan
elektrolit yang tepat dan mentranspor glukosa dan asam amino melewati membran

5
sel. Untuk mencegah defisiensi dan pemenuhan kebutuhan sintesis jaringan maka
ditambahkan elemen lain, seperti kalsium, fosfor, magnesium, dan natrium klorida.

NPT dan CNT. Dua jenis larutan intravena nutrisi saat ini digunakan dalam
praktik klinis : NPT dan CNT. NPT merupakan formula asam amino-dekstrosa. Dua
sampai tiga liter larutan diberikan lebih dari periode 24 jam dengan menggunakan
filter halus terhadap bakteri. Sebelim pemberian, infus NPT harus diinspeksi terhadap
prespitat. Emulsi lemak (Intralipid) dimasukan secara simultan dengan NPT.
Biasanya 500 ml dari emulsi 10 % diberikan lebih dari 6 jam, satu sampai tiga kali
seminggu. Emulsi lemak memberikan 30 % masukan kalori harian total.

Larutan nutrisi parenteral jenis kedua adalah CNT ( Campuran Nutrien Total).
CNT merupakan asam amino-lipid-dekstrosa dan umunya disebut formula “3 in-1”.
Satu liter CNT diberikan pada pasien lebih dari 24 jam. Filter halus terhadap bakteri
tidak dapat digunakan dengan larutan ini. Sebelum pemberian CNT, larutan
diobservasi terhadap doplet minyak yang telah terpisah dari larutan yang membentuk
lapisan yang dapat terlihat (pecahan emulsi lemak); larutan ini harus dibuang.
Keuntungan dari CNT terhadap NPT adalah penghematan biaya dalam persiapan dan
peralatan, penurunan kesempatan kontaminasi dengan interupsi jalur IV (Intra Vena )
minimal, sedikit waktu asuhan, peningkatan kenyaman serta kepuasan pasien.

Persiapan Larutan. Ahli farmasi menyiapkan larutan intravena nutrisi yang


diresepkan. Ada yang camuran, dengan menggunakan kewaspadaan aseptic ketat,
dibawah sinar aliran laminar filter-udara. Pada dasarnya, larutan mengandung 25 %
glukosa dan asam amino sintetis (FreAmine), yang mengandung 1000 kalori dan 6 g
nitrogen per liter. Elektrolit ditambahkan sesuai ketentuan berdasarkan kebutuhan
elektrolit serum pasien. Larutan yang diberikan di unit keperawatan disimpan dalam
lemari es sampai saat diperlukan dan kemudian duhangatkan dalam suhu ruangan.
Sediaan komersial ( Amigen, Aminosol, FreAmine, Hyprotigen C, dan lain – lain )
tersedia dan dapat dimodifiikasi untuk memenuhi kebutuhan individual.

6
B INDIKASI KLINIS

NPT diindikasikan untuk pasien berikut

 Yang asupannya kurang untuk mempertahankan status anabolis ( mis. ,


paseindengan luka bakar berat, malnutrisi, sindrom usus pendek, AIDS,
sepsi, kanker ).
 Pasien yang tidak mampu mencerna makanan secara oral atau dengan selang (
mis., pasien dengan ileus paralitik, penyakit Crohn dengan obstruksi, enteritis
pascaradiasi, hyperemesis gravidarum berat pada kehamilan)
 Pasien yang menolak untuk mencerna nutrient secara adekuat ( mis., pasien
dengan anoreksia nervosa, pasien lansia pascaoperatif)
 Pasien yang tidak boleh makan per oral atau dengan selang (mis., pasien
dengan pankreatitis akut atau fistula enterokutan tinggi )
 Pasien yang memerlukan dukungan nutrisi praoperatif dan pascaopertaif
secara terus menerus (mis., setelah pembedahan usus).

Kriteria yang dapat digunakan untuk mengevaluasi kebutuhan pasien terhadap


nutrisi parenteral total mencakup berat badan kurang dari 10 % ; tidak mampu
makan per oral atau minum dalam 7 hari pascaoperatif ; dan situasi
hipermerabolik seperti pada infeksi berat disertai demam.

Sebagai terapi nutrisi primer, nutrisi parenteral diberikan pada keadaan :


ketidakmampuan untuk mempertahankan, mencerna atau menyerap makanan.
Keadaan ini dapat terjadi pada kasus-kasus bedah seperti keadaan akut abdomen yang
meliputi saluran cerna (misalnya, ileus obstruksi, peritonitis, fistula enterokutaneus)
atau pada kasus-kasus interne seperti enteritis regional, sindrom malabsorpsi berat,
vomitus, dan diare yang berat.

Nutrisi parenteral dapat dilakukan sebagai terapi suportif pada pasien yang bisa
makan atau mendapatkan nutrisi lewat sonde (nutrisi enteral) namun tidak mampu

7
mengkonsumsi cukup kalori serta nutrien lain guna memenuhi kebutuhan gizinya.
Keadaan berikut ini mungkin memerlukan nutrisi parenteral sebagai terapi
suplemental atau suportif :

1) Prabedah pada pasien yang mengalami emasiasi, deplesi nutrien yang berat,
atau yang kehilangan berat badannya sampai lebih dari 10% berat badan
semula.
2) Pascabedah pada pasien yang tidak mampu makan secara normal selama lima
hari atau lebih.
3) Keadaan trauma seperti luka bakar atau fraktur multipel dengan komplikasi
lain seperti sepsis yang kebutuhan nutriennya sangat tinggi.
4) Penyakit kanker, khususnya sebagai terapi penunjang pada terapi utama
kanker yang terdiri atas pembedahan, radioterapi, dan kemoterapi.
5) Malnutrisi protein atau protein-kalori atau kalau berat badan tanpa
edema/asites turun sampai 10% lebih di bawah berat badan idealnya.
6) Penolakan atau ketidakmampuan makan seperti pada keadaan koma,
anoreksia nervosa, atau kelainan neurologis seperti pseudobulbar palsy yang
membuat pasien tidak dapat memakan makanan secara normal.

C KONTRAINDIKASI

Nutrisi parenteral tidak boleh diberikan pada krisis hemodinamik seperti


keadaan syok atau dehidrasi yang belum terkoreksi (kontraindikasi absolut). Keadaan
seperti kegagalan pernapasan yang membutuhkan bantuan respirator merupakan
kontraindikasi relatif mengingat metabolisme glukosa dapat menambah produksi
CO2 yang memperberat keadaan tersebut.

8
D PERENCANAAN NUTRISI PARENTERAL

Untuk menentukan apakah seorang pasien bisa diberi nutrisi per oral ataukah
harus memperoleh terapi nutrisi enteral atau parenteral, barangkali algoritma bisa
membantu kita.

9
E SUSUNAN NUTRIEN DALAM FORMULA PARENTERAL

Sebagai ahli gizi, masalah terpenting dalam terapi nutrisi parenteral adalah
komposisi nutriennya karena hal tersebut perlu diketahui jiak dokter menghendaki
campuran preparat nutrisi parenteral dalam terapi nutrisi parenteral tersebut.
Pembuatan campuran nutrisi parenteral ini dilakukan di bagian farmasi dan
memerlukan persyaratan farmasi yang ketat, seperti osmolaritas, pirogenisitas,
sterilitas, dll. Sebagai contoh, larutan dekstrosa dan ringer laktat atau saline dapat
dicampurkan dengan larutan asam amino seperti aminofusin.

Berikut ini merupakan nutrien yang harus diketahui oleh ahli gizi dalam
pemberian nutrisi parenteral :

Kalori. Kebutuhan kalori bagi seorang dewasa yang sehat dengan berat badan
normal dan aktivitas terbatas adalah sekitar 30 kal per kg BB per hari. Keadaan stres
seperti demam, pembedahan, tumor, luka bakar, trauma atau sepsis atau peningkatan
berat badan dapat meningkatkan kebutuhan kalori hingga 50% sampai 100%. Respon
pasien terdapat terapi nutrisi dapat diukur lewat penambahan berat dan/atau
keseimbangan nitrogen yang positif atau negatif.

Protein. Sumber protein pada formula nutrisi parenteral terdapat dalam


bentuk larutan kristalin asam amino dan hidrolisat protein. Jumlah total nitrogen yang
diberikan harus cukup untuk memenuhi kebutuhan harian dan keseluruhan delapan
asam amino esensial harus terdapat dengan jumlah yang memadai serta
keseimbangan yang tepat. Biasanya pada nutrisi parenteral, jumlah protein yang
dibutuhkan berkisar 0,8-2,5 gm/kgBB untuk orang dewasa dan 3-4 gm/kgBB untuk
anak-anak. Jumlah ini bergantung pada asupan kalorinya, keadaan stres dan simpanan
protein dalam otot seperti terlihat pada luka bakar atau enteropati. Protein tidak dapat
disimpan tanpa asupan kalori yang memadai dan aktivitas fisik.

Larutan dengan rasio jumlah kalori nonprotein terhadap jumlah gram nitrogen
yang besarnya kurang-lebih 150:1 hingga 200:1 diperlukan dan sudah memadai bagi

10
kebanyakan pasien dewasa untuk meningkatkan balans nitrogen yang positif,
menggalakkan sintesis protein dan menaikkan berat badan di samping untuk
meminimalkan proses glukoneogenesis. Anak-anak umumnya membutuhkan rasio
yang lebih tinggi lagi, yaitu 230-300:1 agar balans nitrogen tetap positif.

Pengurangan kandungan protein dalam formula nutrisi parenteral diperlukan


pada pasien insufisiensi hati atau ginjal karena pemberian protein yang berlebih dapat
meningkatkan kadar amonia atau ureum. Sebaliknya pasien dengan kehilangan
protein yang berat seperti pasien penyakit kanker akan membutuhkan peningkatan
asupan protein yang sangat besar. Formula parenteral dengan kandungan protein yang
khusus sudah tersedia di Indonesia dengan nama dagang seperti EAS Pfrimmer untuk
gagal ginjal dan Comafusin Hepar atau Aminofusin Hepar untuk gagal hati (sirosis
hepatik).

Lemak. Lemak diberikan dalam bentuk emulsi lemak seperti preparat


Intralipid. Sebaiknya pemberian lemak dilakukan melalui selang infus terpisah atau
bercabang dan bertujuan untuk meningkatkan asupan kalori dalam keadaan ketika
jumlah kalori dari larutan karbohidrat saja tidak mencukupi kebutuhan pasien, di
samping pemberian preparat parenteral lemak juga bertujuan untuk menghindari
kemungkinan defisiensi asam lemak esensial.

Vitamin dan Mineral. Konsentrat multivitamin dapat ditambahkan ke dalam


formula parenteral menurut RDA dan kebutuhan pasien. Vitamin C kadang-kadang
disuntikkan langsung ke dalam pembuluh vena atau lewat selang infus. Vitamin K
dan B12 tidak bisa ditambahkan ke dalam formula parenteral karena aktivitasnya
akan hilang. Karena itu, vitamin B12 harus diberikan melalui suntikkan intramuskuler
sebulan sekali. Vitamin K juga bisa disuntikkan melalui intramuskuler menurut hasil
pemeriksaan waktu protrombin. Dosis pemberian vitamin K biasanya 10 mg per
minggu. Asam folat tidak dapat bercampur dengan riboflavin sehingga harus
disuntikkan tersendiri dengan dosis 5 mg per minggu.

11
Pasien yang mendapatkan nutrisi secara parenteral lebih dari satu bulan dapat
mengalami deplesi trace minerals. Untuk itu, pemberian formula trace minerals
dianjurkan oleh Asosiasi Medik Amerika. Di Indonesia, penyuntikkan preparat trace
minerals masih belum lazim dilakukan.

F KOMPLIKASI PADA NUTRISI PARENTERAL

Penggunaan vena perifer hanya digunakan pada terapi nutrisi parenteral yang
tidak melampaui waktu dua minggu. Setelah itu, pemberian nutrisi harus beralih
kepada nutrisi enteral atau oral. Jika hal tersebut tidak mungkin dilakukan, pemberian
nutrisi parenteral harus dilakukan lewat vena sentral seperti vena subklavia untuk
mencegah flebitis atau trombosis karena hipertonisitas larutan nutriennya.
Pemasangan kateter vena sentral untuk pemberian nutrisi parenteral ini umumnya
dikerjakan oleh dokter spesialis anestesi.

Ada tiga komplikasi yang bisa terjadi dalam pemberian nutrisi parenteral :

1 Komplikasi teknis yang berkaitan dengan pemasangan kateter seperti


pneumotoraks, ruptura atau penetrasi arteri subklavia, emboli udara, dan
tromboemboli.
2 Komplikasi infeksi yang ditandai oleh demam, hipotensi, oliguria, dan
kemunduran keadaan umum. Indikasi absolut pelepasan kateter adalah syok
septik, bakteremia, infeksi pada tempat pemasangan, gejala emboli, dan
demam persisten tanpa ditemukan penyebab lain.
3 Komplikasi metabolik yang berkaitan dengan gangguan keseimbangan
glukosa, asam-basa, dan elektrolit seperti hiper/hipoglikemia,
hiper/hipokalemia, hiper/hipokalsemia, hiper/hipomagnesemia, dan
hiper/hipofosfatemia.

Karena adanya kemungkinan komplikasi di atas, pasien-pasien yang mendapat


NP harus selalu menjalani pemeriksaan monitoring. Di samping pemeriksaan

12
antropometrik dan laboratorium (Hb/Hmt, albumin, kolesterol/TG) untuk
mengevaluasi status nutrisi, pemeriksaan klinis dan laboratorium lain seperti BSG,
elektrolit, ureum/kreatinin, SGOT/SGPT perlu dilakukan secara periodik.

Pemeriksaan faal gastrointestinal juga harus terus dilaksanakan. Begitu fungsinya


pulih kembali dan kontraindikasi pemberian nutrisi enteral tidak terdapat, saluran
cerna harus digunakan sebagai organ untuk pemberian nutrisi. Jika pasien bersedia
dan mampu makan, pemberian per oral merupakan pilihan; kalau tidak, pemakaian
kateter lambung (NGT) diperlukan untuk menyalurkan nutrien ke dalam saluran
cerna (lambung atau duodenum). Saluran cerna yang tidak digunakan dalam waktu
lama akan membawa akibat atrofi sel-sel usus karena pergantian brush-border usus
yang terjadi tiap hari memerlukan glutamin yang ada dalam formula nutrisi enteral
(isolat kedelai). Ketika pemberian nutrisi enteral sudah dimungkinkan, pemberian
nutrisi parenteral harus dikurangi secara bertahap (tapering-off).

G JENIS FORMULA PARENTERAL YANG TERSEDIA DI PASARAN

Formula parenteral yang tersedia di pasaran umumnya dibuat oleh PT


Pfrimmer dan Otsuka. Formula ini tersedia dalam ragam jenis yang luas untuk
pelbagai kebutuhan diet seperti TKTP, insufisiensi hati serta ginjal, dan juga bisa
terdiri atau pelbagai nutrien seperti asam amino esensial, asam lemak esensial,
dekstrosa, elektrolit, dsb.

Jenis-Jenis Formula Parenteral yang Tersedia di Indonesia

Nama Dagang Nama Produsen Komposisi Indikasi


Aminofusin L Pfrimmer Asam amino, Keadaan katabolik
600 sorbitol, xylitol, seperti infeksi berat,
vitamin dan luka bakar, cedera berat
elektrolit. dll. Dengan balans
nitrogen yang negatif.

13
Aminofusin Paed Pfrimmer Asam amino, Neonatus prematur dan
vitamin dan bayi yang menderita
elektrolit. defisiensi protein atau
penyakit dengan
peningkatan kebutuhan
protein.
Aminofusin TPN Pfrimmer Asam amino, Keadaan katabolik
sorbitol, xylitol, dengan balans nitrogen
vitamin dan yang negatif.
elektrolit.
Aminoleban Otsuka Asam amino rantai Keadaan ensefalopati
cabang dengan pada penderita penyakit
konsentrasi tinggi hati yang akut maupun
dan asam amino kronis. Aminoleban
aromatik dengan tidak boleh diberikan
konsentrasi rendah. pada kelainan ginjal
yang berat dan
gangguan metabolisme
asam amino lainnya.
Aminovel Otsuka Asam amino, Status gizi yang tidak
600/1000 sorbitol, vitamin memadai dan
dan elektrolit (pada memerlukan nutrisi
aminovel 1000 juga parenteral seperti short
terdapat etanol) bowel syn-, drome,
anoreksia dan
gangguan
gastrointestinal yang
berat.

14
Amiparen Otsuka Asam amino bebas Hipoproteinemia,
malnutrisi dan keadaan
pra atau pasca-bedah
yang memerlukan
tambahan protein lewat
jalur perenteral.
Amiparen dapat
diberikan lewat vena
perifer.
EAS Pfrimmer Pfrimmer Asam amino Keadaan azotemia,
esensial, termasuk gagal ginjal akut dan
histidin yang insufisiensi renal yang
esensial bagi kronis. EAS juga dapat
uraemia diberikan pada pasien
pasca-dialisis untuk
menggantikan asam
amino yang hilang.
Intrafusin 10% Pfrimmer Asam amino tanpa Keadaan yang
karbohidrat dan memerlukan nutrisi
elektrolit parenteral parsial.
Larutan intrafusin 10%
dapat diberikan
bersama larutan yang
mengandung kalori dan
elektrolit.
Intrafusin 3,5% Pfrimmer Asam amino, Keadaan yang
SX-E sorbitol, xylitol, memerlukan nutrisi
elektrolit parenteral total jangka-

15
pendek dan parsial
jangka-panjang.
Larutan dapat
menstimulasi sintesis
albumin.
Intralipid Pfrimmer Soybean oil, egg Kaceksin atau
10%/20% phospholipids, malnutrisi yang
gliserol memerlukan suplemen
kalori dalam waktu
yang lama seperti
malnutrisi yang
menyertai cedera otak
berat yang tidak
sadarkan diri. Intralipid
tidak boleh diberikan
pada pasien
dislipidemia,
insufisiensi hati yang
berat dan syok
mendadak.
PE 900 Pfrimmer Asam amino, Keadaan yang
sorbitol, xylitol, memerlukan nutrisi
elektrolit parenteral perifer total
atau parsial jangka-
pendek.
Pan Amin G Otsuka 8 asam amino Malnutrisi atau
esensial, arginin, hipoproteinemia yang
histidin, asam memerlukan pasokan

16
amino asetat, asam amino. Tidak
sorbitol boleh diberikan pada
koma hepaktikum,
kelainan ginjal yang
berat, gangguan
metabolisme asam
amino dan intoleransi
fruktosa herediter.
Triofusin Pfrimmer Fruktosa, glukosa, Keadaan yang
500/1000/1600 xylitol memerlukan kalori
lewat nutrisi parenteral
total dan parsial,
khususnya selama
metabolisme post-
agresi.
Triofusin E 1000 Pfrimmer Fruktosa, glukosa, Keadaan yang
xylitol, elektrolit, memerlukan kalori dan
vitamin elektrolit lewat nutrisi
parenteral total dan
parsial.

H PENATALAKSANAAN

Perawat pendukung nutrisi, ahli nutrisi, atau dokter menentukan kebutuhan


pasien akan NPT dengan mengevaluasi kriteria tertentu : derajat penurunan berat
badan, keeimbangan nitrogen, jumlah kehilangan otot dan total massa tubuh kurus,
serta ketidakmampuan pasien untuk mentoleransi pencernaan makanan memalui
saluran GI. Idealnya. Perawat pendukung nutrisi, ahli farmasi, ahli nutrisi, dan dokter
berkolaborasi untuk menentukan formula khusu yang diperlukan.

17
Larutan NPT diberikan dengan perlahan dan secara bertahap ditingkatkan
setiap hari dengan kecepatan yang diinginkan dan sesuai toleransi cairan dan glukosa
pasien. Respons pasien terhadap terapi NPT dan nilai laboratorium dipantau terus
menerus oleh tim pendukung nutrisi. Standing order dilakukan untuk penimbangan
berat badan pasien, mendapatkan jumlah darah lengkap, jumlah trombosit, masa
prortrombin, elektrolit (SMA – 18), magnesium dan glukosa ujung jari. Pada
kebanyakan rumah sakit. Larutan NPT diresepkan oleh dokter dalam bentuk pesanan
nutrisi parenteral harian. Formulasi larutan NPT harus dihitung dengan cermat untuk
memenuhi kebutuhan pasien secara lengkap.

I METODE PEMBERIAN

Berbagai metode dan rute digunakan untuk memberikan larutan NPT pada
praktik klinis : perifer, sentral, dan atrial. Metode ini tergantung pada kondisi pasien
dan lamanya antisipasi terapi.

1. Metode secara Perifer

Larutan NPT digunakan sebagai masukan suplemen per oral larutan yang
digunakan kurang hipertonik dibanding larutan yang digunakan untuk NPT.
Konsentrasi dekstrosa diatas 10% tidak boleh dibrikan melalui vena perifer karena
dapat mengiritasi intima vena kecil ( dinding paling dalam ). Lamanya terapi untuk
NPP kurang 2 minggu.

2. Metode secara Sentral

Karena larutan NPT mempunyai lima atau enam kali konsentrasi darah ( dan
melebihi tekanan osmotic kira – kira 2000 mOsm/l) maka larutan ini berbahaya
untuk intima vena perifer. Karenanya, iuntuk mencegah flebitis dan komplikasi vena
lainnya, larutan ini diberikan ke dalam system sirkulasi melalui kateter yang
dimasukan ke dalam pembuluh darah besar beraliran tinggi ( sering vena subklavia ).

18
Larutan pekat kemudian diencerkan dengan sangat cepat sampai ke tingkat isotonic
oleh darah di dalam pembuluh ini.

Kateter sentral yang dipasang perifer ( PIC ) digunakan sebagai terapi


intravena sedang sampai jangka panjang di rumah sakit atau lingkungan rumah.
Kateter PIC dimasukkan oleh perawat terampil berserifikat. Vena basilica atau
sefalika dikaji sepanjang area antekubital dan selang dijahitkan ke lokasi yang
ditentukan tergantung pada jenis larutan yang diinfuskan ( vena kava superior untuk
NPT).

Kateter vena sentral yang dipasang secara perkutan juga digunakan untuk
terapi intarvena sedang sampai jangka panjang. Kateter ini dipasang di tempat tidur
oleh dokter. Vena subklavia dan vena jugularis internal adalah dua pembuluh darah
yang paling umum digunakan. Vena subklavia digunakan lebih sering daripada vena
jugularis karena areanya stabil untuk pemasangan kateter, memungkinkan pasien
bebas bergerak, dan memberi akses mudah untuk sisi balutan.

Kateter berlumen tunggal, ganda, dan tripel tersedia untuk jalur subklavia.
Untuk menjamin aksesibilitas, penggunaan kateter subklavia lumen-tripel dianjurkan
karena kateter ini mempunyai tiga lubang untuk berbagai penggunaan. Lumen distal
(16G) digunakan untuk infus darah atau cairan kental lain untuk pengambilan darah.
Lumen tengah digunakan untuk infus NPT. Lumen proksimal (18G) digunakan
untuk menyalurkan darah, memberikan obat, dan mengambil darah.

Bila kateter lumen tunggal digunakan, berbagai pembatasan diberlakukan.


Obat-obatan tidak diberikan melalui kateter utama karena obat dapat bercampur
dengan larutan nutrisi yang memungkinkan obat menjadi tidak tepat (kecuali
insulin). Bila obat harus diberikan, obat harus diinfuskan melalui jalur IV perifer,
bukan dengan piggyback pada jalur NPT. Transfusi produk darah juga tidak dapt
diberikan melalui jalur utama, karena sel darah merah dapat menyelimuti lumen
kateter, sehingga menurunkan aliran larutan nutrisi.

19
3. Metode Pemberian Secara Atrial

Dua alat yang digunakan untuk terapi IV jangka panjang di rumah adalah kateter
atrial kanan eksternal dan lubang subkutan. Kateter atrial kanan eksternal
mempunyai lumn tunggal atau ganda ; dua jenis yang ada adalah kateter
Hickman/Broviag dan katater Groshog. Kateter ini dipasang memalui pembedaha.
Kateter ini dijahit dibawah kulit ( menurunkan risiko infeksi asenden ) pada vena
subklavia, dan ujung distal kateter dimasukan kedalam vena kava superior 2 sampai
3 cm diatas sambungan dengan atrium kanan.

Jenis alat kedua yang digunakan untuk terapi intravena jangka panjang di rumah
adalah lubang subkutan. Sebagai pengganti yang keluar dari kulit (seperti kateter
Hickman/Broviag dan Groshog), ujung kateter dilekatkan pada serambi lecil yang
ditempatkan di kantung subkutan baik di dinding dada anterior atau pada lengan.
Lubang subkutan memerlukan sedikit perawatan dan memungkinkan pasien bebas
beraktivitas. Alat ini lebih mahal daripada kateter eksternal dan aksesnya ke dalam
vena memerlukan pemasukan jarum (Huber) melalui kulit kedalam serambi untuk
memulai terapi IV.

20
J PEMASANGAN KATETER VENA SENTRAL/SUBKALVIA
 PERSIAPAN PASIEN

Prosedur dijelaskan sehingga pasien memahami pantingnya untuk tidak


menyentuh sisi pemasangan kateter dan sadar terhadap apa yang diharapkan selam
prosedur pemasangan, untuk pemasangan kateter, pasien ditemaptkan pada posisi
telentang, posisi kepala rendah (untuk mendilatasi pembuluh darah leher dan bahu,
yang membuat pemasukan lebih mudah dan mencegah emboli udara). Area dicukur,
bila perlu, dan kult dipersiapkan dengan aseton atau alcohol untuk menghilangkan
minyak di permukaan. Persiapan kulit akhir mencakup mencuci dengan iodin tinktur
atau larutan povidon iodin. Untuk mengupayakan penempatan selang secara
maksimal, pasien dinstruksikan (1) untuk memutar kepala menjauh dari sisi fungsi
vena dan (2) untuk tetap tidak bergerak saat kateter dimasukkan dan luka dibalut.

 PEMASANGAN KATETER VENA SENTRAL

Rute yang dipilih adalah vena subklavia, yang mengarah pada vena kava superior.
Rute alternative ke vena kava superior adalah melalui vena jugularis internal. Karena
kateter indwelling adalah sumber infeksi potensial, maka dianjurkan bahwa sisi ini
diganti setiap 4 minggu.

Balutan steril diberikan diatas dada. Pasien diminta untuk menggunakan masker
wajah untuk mencegah penyebab mikroorganisme. Prokain dan lidokain diinjeksikan
untuk menganastesi kulit dan jaringan dibawahanya. Area target adalah batas inferior
pada titik tengah klavikula sampai memasuki vena. Spuit kemudian dilepaskan dan
kateter radiopaque dipasang melalui jarum masuk ke dalam vena.

Apabila kateter telah diposisikan dengan benar, jarum ditarik dan kateter
diletakkan pada selang intravena. Sampai spuit diambil dari jarum kateter
dimasukkan, pasien dapat diminta untuk melakukan manuver Valsalva. ( Untuk
melakukan ini, pasien diinstruksikan untuk mengambil napas dalam, menahannya,
dan mengejan dengan mulut tertutup). Maneuver Valsalva dilakukan untuk

21
menghasilkan fase positif pada tekanan vena sentral untuk megurangi kemungkinan
udara masuk kedalam system sirkulasi( emboli udara ). Dokter mejahit kateter
kedalam kulit untu menghindari perubahan posisi tanpa disengaja.

Sisi pemasangan kateter diusap dengan larutan germisida, dan salep antibiotic
diberikan langsung pada sisi pemasangan. Kasa atau balutan transparan diberikan
dengan meggunakan teknik aseptic ketat. Larutan intravena isotonic (mis. , D5W)
diberikan untuk mempertahankan kepatenan vena.

Posisi ujung kateter diperiksa pada titik ini dengan sinar-X untuk memastikan
posisinya pada vena superior dan mengesampingkan pneumotoraks akibat fungsi
tanpa sengaja terhadap pleura. Bila posisi kateter dipastikan, larutan NPT yang
diresepkan dimulai. Kecepatan awal infus biasanta diatur pada 50 ml/jam dan secara
bertahap meningkat sampai pada kecepatan untuk fungsi pemeliharaan atau dosis
yang ditentukan sebelumnya ( 100 sampai 125 ml/jam).

Setiap lumen dari kateter diamankan dengan penutup Luer-lok dan dilabel sesuai
dengan lokasi ( proksimal, tengah, distal ). Untuk mejamin kepatenan, pada awalnya
semua lumina dibilas degan bilasan heparin encer, dua kali sehari bila tidak
digunakan, setelah setiap infus intermiten, setelah pengambilan darah, dan setelah
infus dihentikan. Jangan pernah menggunakan tekanan untuk membilas kateter, bila
ditemukan tahanan, dojter diberi tahhu ; bekuan mungkin perlu dilarutkan dengan
urokinase. Bila upaya untuk membesihkan lumen tidak berhasil, lumen diberi label
sebagai “tersumbat”.

K PENGHENTIAN NUTRISI PARENTERAL TOTAL

NPT dihentikan secara bertahap untuk memungkinkan pasein menyesuaikan


dengan penurunan kadar glukosa. Setelah pengehentian larutan NPT, glukosa isotonic
diberikan selama beberapa jam untuk mencegah hipoglikemia rebound. Karbohidrat
oral akan memperpendek masa penyesusaian ini. Gejala khusus hipoglikemia
rebound mencakup kelemahan, pusing, berkeringat, gemetar, perasaan dingin ,

22
bingung, dan peningkatan frekuensi jantung. Bila semua terapi semua terapi IV
selesai, perawat dapat mengangkat kateter subklavia dan menggunakan balutan
oklusif untuk sisi keluar.

23
KONSEP ASUHAN KEPERAWATAN

ASUHAN KEPERAWATAN PASIEN YANG MENERIMA NUTRISI SECARA


PARENTERAL TOTAL

A PENGKAJIAN

Perawat membantu dalam mengindentifikasi pasien yang mungkin dicalonkan


untuk NPT. Indicator untuk mengobservasi mencakup adanya penurunan berat badan
yang bermakna (10 % atau lebih dari berat badan sehat ), penurunan asupan makanan
per oral selama lebih dari q minggu, adanya tanda bermakna akibat penurunan protein
( kadar albumin serum dibawah 3,2 g/dl [32 g/L]), penggunaan otot, penurunan
penyembuhan jaringan, atau ekskresi nitrogen urea abnormal, muntah, dan diare
menetap. Perawat dengan cermat memantau hidrasi pasien, keseimbangan elektrolit,
dan masukan kalori.

B DIAGNOSA KEPERAWATAN

Berdasarkan pada semua data pengkajian, diagnose keperawatan utama dapat


mencakup yang berikut :

 Perubahan nutrisi, kurang dari kebutuhan tubuh, berhubungan dengan masukan


nutrient yang tidak adekuat.
 Risiko infeksi berhubungan dengan kontaminasi sisi kateter atau jalur infus.
 Risiko kelebihan atau kekurangan volume cairan berhubungan dengan perubahan
kecepatan infus
 Risiko intoleran aktivtas berhubungan dengan takut bahwa kateter akan berubah
posisi atau tersumbat
 Kurang pengetahuan tentang terapi NPT di rumah.

24
MASALAH KOLABORATIF KOMPLIKASI POTENSIAL

Komplikasi terapi NPT secara umum diklasifikasikan kedalam empat kelompok :

 Mekanis atau teknis ( kateter, pompa )


 Infeksius
 Metabolic ( glukosa, cairan, elektrolit )
 Nutrisi ( defisiensi atau kelebihan )

Komplikasi paling umum mencakup pneumotorak, embolime udara, bekuan atau


perubahan kateter, sepsis, hiperglikemia, hipoglikemia rebound, dan kelebihan beban
cairan yang berhubungan dengan :

NO. KOMPLIKASI PENYEBAB TINDAKAN KEPERAWATAN


DAN INTERVENSI
KOLABORATIF
 Tempatkan pada posisi fowler
Penyempitan kateter tidak  Berikan ketenangan
1. PNEUMOTORAKS tepat dan fungsi terhadap  Pantau tanda vital
pleura kurang hati- hati  Siapkan untuk torasintesis atau
pemasangan selang dada
 Plester semua sisi sambungan
selang degan aman
 Terlepasnya selang  Ganti selang dengan cepat dan
 Tutup terlepas dari beritahu dokter
EMBOLISME
2. lubangnya  Gantikan penutup dan beri tahu
UDARA
 Segmen blok dari dokter
system vaskuler  Miringkan pasien pada sisi kiri
dan tempatkan kepala pada
posisi rendah. Beri tahu dokter

25
 Berikan bilasan heparin pada
jalur yang tidak digunakan dua
 Bilasan heparin tidak kali sehari
JALUR KATETER
3. adekuat/tidak sering  Pantau kecepatan infus setiap
TERSUMBAT
 Penghentian infus jam dan periksa integritas jalur
 Pada kejadian jarang, bilasan
dengan urokinase sesuai resep
 Hentikan infus dan beri tahu
 Gerakan berlebihan,
dokter
kemungkinan terjadi
 Plester semua sisi sambungan
PERUBAHAN pada kateter yang tidak
4. selang
POSISI KATETER diamankan
 Hindari penghentian jalur utama
 Pemisahan selang dan
atau membuat piggyback jalur
kontaminasi
lain
 Kuatkan kembali atau ganti
balutan dengan cepat denga
 Penggantian balutan menggunakan teknik aseptic
 Larutan terkontaminasi  Buang. Beri tahu ahli farmasi
5. SEPSIS
 Infeksi pada sisi  Beritahu dokter. Pantau tanda
pemasangan kateter vital setiap 4 jam
 Ganti sisi kateter setiap 4
minggu
 Pantau kadar glukosa ( darah
dan urine )
 Pantau haluan urin
6. HIPERGLIKEMI Intolerasnsi glukosa
 Observasi terhadap stupor,
bingung. Letargi
 Beri tahu dokter ; tambahan

26
insulin pada larutan NPT dapat
diresepkan
 Kurangi kecepatan infus
 Pantau tanda vital
 Beritahu dokter
KELEBIHAN Cairan di infuskan dengan  Atasi gawat pernapasan oksigen
7.
BEBAN CAIRAN cepat mendudukan pasien dengan
tegak dan berikan oksigen
sesuai kebutuhan, bila
diprogramkan
 Pantau terhadap gejala
(kelemahan, tremor,
diaphoresis, sakit kepala, lapar,
HIPOGLIKEMIA Pemberian makan
8. dan gelisah ); beritahu dokter
REBOUND dihentikan terlalu tiba-tiba
bila perlu
 Secara bertahap sapih pasien
dari NPT

C PERENCANAAN DAN IMPLEMENTASI

Tujuan. Tujuan utama mTujuan utama mencakup mendapatkan tingkat


nutrisi yang optimal, tidak terdapat infeksi, mempertahankan volume cairan yang
adekuat, mencapai tingkat aktivitas optimal dalam keterbatasan individu.
Pengetahuan tentang dan keterampilan dalam perawatan diri tidak terjadi komplikasi

27
INTERVENSI KEPERAWATAN

 Mempertahankan Nutrisi Optimal

Infus kontinu larutan NPT lebih dari periode 24 jam adalah yang diinginkan. Pada
beberapa kasus, (mis. , pasien dirawat di rumah) nutrisi parenteral siklis mungkin
tepat. Dengan nutrisi parenteral siklis terdapat waktu pemberian selama periode 24
jam bila NPT diinfudkan dan waktu penghentian. Periode waktu untuk infus cukup
untuk memeuhi kebutuhan nutrisi dan farmakologis pasien. Idealnya, NPT siklis
diinfuskan lebih dari periode 8 sampai 10 jam selama malam hari.

Pasien ditimbang dua sampai tiga klai seminggu pada waktu yag sama dengan
kondisi yang sama, untuk keakuratan perbandingan. Dibawah program NPT (tanpa
tambahan penggunaan energy), biasanya tercapai penambahan berat badan yang
memuaskan. Catatan asupan dan haluaran akurat dan keseimbangan cairan disimpan.
Jumlah kalori dipertahankan dari nutrien oral. Elemen renik (tembaga, zink, krom,
mangan, dan selenium) termasuk dalam larutan NPT dan bersifat individual pada
setiap pasien. Larutan NPT dievaluasi dan dipesan setiap hari oleh dokter pada format
pesanan nutrisi parenteral sesuai dengan nilai laboratorium dan toleransi pasien.

 Mencegah Infeksi

Larutan nutrisi parenteral total adalah media kultur idela untuk bakteri
pertumbuhan jamur. Kateter vena sentral mempunyai port de entri bagi bakteri.
Candida albicans adalah organisme infeksius paling umum. Organisme infeksius lain
mencakup Staphylococcus aureus, S. epidermidis, danKleibsiella pneumonia.
Karenanya, teknik yang tepat penting untuk mengurang risiko infeksi.

Balutan diganti secara aseptic, biasanya dua sampai tiga kali seminggu dan
sesuai kebutuhan. Pasien ditempatkan pada posisi fowler rendah penggantian balutan.
Perawat dan pasien dapat mengurangi kemungkinan kontaminasi lewat udara dengan
menggunakan masker selama penggantian balutan. Balutan lama dibuang dengan

28
hati-hati untuk mencegah kateter berubah posisi. Area diperiksa terhadap adanya
kebocoran, kateter terlipat, dan reaksi kulit seperti inflamasi, kemerahan, bengkak,
nyeri tekan, atau drainase purulent. Perawat memakai sarung tangan steril dan
membersihkan dengan aseton atau apusan alcohol, diikuti dengan apusan iodin
tinktur. Alcohol dapat digunakan dengan cara yang sama untuk menghilangkan iodin.
Salep antibiotic diberikan pada sisi pemasangan bila diresepkan, dan sisi tersebut
ditutup dengan balutan kecil, kemudian diplester mengelilingi kateter. Bantalan kasa
atau balutan transparan ditempatkan di tengah area.

Keuntungan dari penggunaan balutan transparan daripada bantalan kasa


adalah balutan ini memungkinkan untuk dilakukan pemeriksaan yang lebih sering
terhadap sisi kateter, melekat dengan baik, dan lebih nyaman untuk pasien. Bila
tambahan selang IV diganti, maka ganti dengan cepat untuk mencegah bertumbuhnya
organisme sepanjang lumen selang. Penyatuan selang dan kateter kemudian ditutup
dan diamankan dengan plester perekat untuk mencegah pemisahan dan pemajanan
terhadap udara. Selang IV jalur utama dan filter diganti setiap 24 jam, dan semua
sambungan diplester dengan aman untuk menghindari rusaknya integritas system.
Balutan dan selang diberi label tentang tanggal, waktu penggantian alutan, dan inisial
orang yang melakukan prosedur.

Bila pasien mempunyai luka berair, seperti trakeostomi, pada area diekatnya,
kewaspadaan tambahan dilakukan untuk mempertahankan luka tetap kering dengan
memberikan penutup plastic transparan berperekat tahan air diatas balutan. Plester
hipoalergis dapat digunakan bila pasien mengeluh gatal karena plester biasa.
Penggantian balutan didokumentasikan, dan kondisi area serta reaksi pasien
dilaporkan.

 Mempertahankan Keseimbangan Volume Cairan yang Adekuat

Pompa infus dianjurkan pada NPT untuk mempertahankan keakuratan dan


kecepatan yag diresepkan. Kecepatan diatur dan ditentukan dengan milliliter per jam.

29
Kecepatan diperiksa setiap setengah jam sampai 1 jam; alarm menandakan adanya
masalah. Kecepatan infus tidak dapat ditingkatkan atau diturunkan untuk
memgkompensasi cairan yag diinfuskan terlalu cepat atau terlalu lambat. Bila IV
habis, dekstrose 10% dan air sampai wadah NPT selanjutkan tersedia dari farmasi.

Bila kecepatan aliran terlalu lambat, pasien tidak mendapat keuntungan


kalori dan nitrogen maksimal.

Asupan dan haluaran dicatat setiap 8 jam sehingga ketidakseimbangan cairan


dapat terdeteksi. Pasien ditimbang dua sampai tiga kali seminggu; pada situasi idela,
pasien akan menunjukan baik penurunan berat badan maupun penambahan berat
badan secara bermakna. Perwat mengkaji terhadap tanda dehidrasi (haus, penurunan
turgor kulit, penurunan tekanan vena sentral) dan laporkan temuan ini pada dokter
dengan segera. Penting untuk memantau status glukosa darah karena hiperglikemia
dapat menyebabkan diuresis dan kehilangan cairan berlebihan.

 Mendorong Aktivitas

Aktivitas dan ambulasi dianjrkan bila pasie secara fisik mampu. Dengan
kateter plastic pada vena subklavia, pasien bebas untuk menggerakan ektremitas dan
harus didorong untuk mempertahnakan tonus otot yang baik. Pemyuluhan dan
program latihan yang dilakukan di departemen terapi okupasi dan terapi fisik harus
ditekankan.

 Penyuluhan Pasien dan Pertimbangan Perawatan di Rumah

Keberhasilan NPT di rumah memerlukan penyuluhan pasien dan keluarga


tentang keterampilan khusu dengan menyelenggrakan program pelatihan intensif dan
pengawasan lnjt di rumah. Program ini diselesaikan secara tim. Biaya finansial
program ini, dianggap tinggi, disbanding jika diselenggarakan di rumah sakit. Grant
(1992) mengidentifikasi calon ideal untuk NPT di rumah yaitu mereka yang
mengalami kegagalan usus, mempunyai harapan hidup yang lebih baik setelah

30
pemindahan ke rumah, tidak menderta karena orang lain atau mengalami keterbatasan
akibat penyakit medis lain (penting bahwa pasien tidak menderita kegagalan dari
system organ utama), dan pasien yang sangat termotivasi dan mendaapat kepuasan
diri. Selain itu, kemampuan untuk belajar, ketersediaan minat dan dukungan keluarga,
keuangan yang adekuat, dan tatanan fisik rumah adalah factor yang harus dikaji bila
keputusan untu NPT di rumah dibuat. Institusi yang mensponsoro program NPT di
rumah telah mengembangkan brosur penyuluhan untuk setiap aspek pengobatan,
termasuk perawatan kateter dan balutan, penggunaan pompa infus, pemberian emulsi
lemak, dan pengaliran bilasan heparin.

Perawat harus sadar bahwa rata-rata pasien memerlukan waktu 2 minggu


untuk pemberian instruksi dan penguatan. Tambahan waktu diperlukan perawat
pendukung nutrisi atau ahli farmasi untuk pasien yang akan mencampur larutan
mereka sendiri di rumah sebagai pengganti penggunaan larutan yang dicampur
sebelumnya yang didapat dari supplier farmasi atau pedagang.

Penatalaksanaan NPT. Program penyuluhan perawatan di rumah


menyiapkan pasien untuk menatalakasnakam format NPT yang tepat. Pasien
diajarkan tentang cara menyimpan larutan, menyusun infus, membilas jalur dengan
heparin, mengganti balutan, dan menyiapkan larutan.

Penatalaksanaan Kesulitan Mekanis. Masalah mekanis biasanya timbul dari


komplikasi teknis pada pompa infus atau sisi kateter, pasien diajarkan tentang cara
mengatasi masalah kateter (kebocoran, lepasnya penutup, rusaknya selang, bekuan
darah) dan diberikan daftar petunjuk yang menjelaskan apa yang harus dilakukan
untuk setiap masalah. Malfungsi pompa biasanya dapat diatasi dalam 24 jam.

Mengenali Komplikasi Metabolik. Pasien diberikan daftar gejala yang


mengindikasikan komplikasi metabolic (neuropati, perubahan mental, diare, mual,
perubahan kulit, haluaran urin) dan diarahkan untuk menghubungi perawat atau
dokter perawatan kesehatan rumah bila terjadi komplikasi. Pasien diinstruksikan

31
untuk melakukan pemantauan heamtologi dan kimia serum setiap minggu dan
memeriksa kadar glukosa urin setiap hari.

Dukungan Psikososial. Aspek psikososil nutrisi parenteral di rumah adalah


penting dan merupakan masalah fisiologis makan dan perubahan gaya hidup yang
mempengaruhi gangguan tidur (sering berkemih selama penggunaan infus, biasanya
dua sampai tiga kali selama malam hari). Reaksi psikososial utama mencakup
depresi, marah, menarik diri, ansietas, dan perubahan citra tubuh. Keberhasilan
program nutrisi parenteral di rumah tergantung pada motivasi, stabilitas emosi, dan
kompentensi teknis. Kelompok pendukung juga tersedia di komunitas untuk
membantu pasien dan keluarga mengahadapi transisi dan meminimalkan gangguan
pada gaya hidup pasien.

D EVALUASI
Hasil yang Diharapkan
1. Mendapatkan atau mempertahankan keseimbangan nutrisi
2. Bebas infeksi
a. Tidak demam
b. Tidak mempunyai drainase purulent dari sisi pemasangan kateter
c. Integritas jalur IV dipertahankan
3. Terhidrasi dibuktikan oleh turgor kulit yang baik
4. Mencapai tingkat aktivitas optimal dalam keterbatasan individu
5. Mendemonstrasikan keterampilan dalam mengatasi program NPT
6. Tidak mengalami komplikasi
a. Kateter dan fungsi alat baik
b. Tidak ada gejala sepsis atau infeksi
c. Keseimbangan metabolic dipertahankan dalam batas normal
d. Status nutrisi membaik dan stabil.

32
BAB III

PENUTUP

A KESIMPULAN
Nutrisi parenteral adalah pemberian nutrien melalui pembuluh darah balik
yang bisa berupa vena perifer atau vena sentral. Jenis terapi nutrisi parenteral total
dilakukan untuk pertama kalinya oleh Rhoads dan Dudrick dalam pertengahan
tahun 1960an.

Ada tiga komplikasi yang bisa terjadi dalam pemberian nutrisi parenteral :

1 Komplikasi teknis
2 Komplikasi infeksi
3 Komplikasi metabolik

B SARAN
Demikian makalah yang telah kami buat, jika ada kekurangan dalam
pembuatan makalah ini, kami mohon maaf. Kami juga memohon untuk saran dan
kritik untuk makalah kami apabila ada yang kurang berkenan.

33
DAFTAR PUSTAKA

Hartono, Andry. (1999). Asuhan nutrisi rumah sakit : diagnosis, konseling dan
preskripsi. Jakarta : EGC.

Smeltzer, Suzanne C. (2001). Buku ajar medikal-bedah Brunner & Suddarth – Ed. 8.
Jakarta : EGC.

https://id.scribd.com/doc/78924190/Isi-Makalah-Nutrisi-Parenteral

34