Anda di halaman 1dari 23

BAB I

PENDAHULUAN

1.1 Latar belakang

Stroke merupakan penyakit cerebrovascular yang terjadi karena adanya gangguan


fungsi otak yang berhubungan dengan penyakit pembuluh darah yang mensuplai darah ke
otak (Wardhani & Santi, 2015). Stroke juga biasa disebut dengan brain attack atau serangan
otak, yaitu terjadi ketika bagian otak rusak karena kekurangan suplai darah pada bagian otak
tersebut. Oksigen dan nutrisi tidak adekuat yang dibawa oleh pembuluh darah menyebabkan
sel otak (neuron) mati dan koneksi atau hubungan antar neuron (sinaps) menjadi hilang
(Silva, et al., 2014).

Rendahnya kesadaran akan faktor risiko stroke, kurang dikenalinya gejala stroke,
belum optimalnya pelayanan stroke dan ketaatan terhadap program terapi untuk pencegahan
stroke ulang yang rendah merupakan permasalahan yang muncul pada pelayanan stroke di
Indonesia. Keempat hal tersebut berkontribusi terhadap peningkatan kejadian stroke baru,
tingginya angka kematian akibat stroke, dan tingginya kejadian stroke ulang di Indonesia
(Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2008).

Berdasarkan data (WHO, 2010), setiap tahunnya terdapat 15 juta orang di seluruh
dunia menderita stroke. Diantaranya ditemukan jumlah kematian sebanyak 5 juta orang dan 5
juta orang lainnya mengalami kecacatan yang permanen. Setiap 3 menit didapati seseorang
yang meninggal akibat stroke di Amerika Serikat. Sedangkan di Inggris, stroke menduduki
peringkat utama penyebab kecacatan (WHO, 2010). Berdasarkan data NCHS (National
Center of Health Statistics), stroke menduduki urutan ketiga penyebab kematian di Amerika
setelah penyakit jantung dan kanker (Heart Disease and Stroke Statistics—2010 Update: A
Report from American Heart Association).

1.2 Tujuan Penulisan

1.2.1 Tujuan Umum

Memberikan gambaran hasil asuhan keperawatan pada klien dengan stroke

1.2.2 Tujuan Khusus

a. Menjelaskan konsep dasar stroke yang terdiri dari pengertian, etiologi, manifestasi
klinis dan komplikasi.
b. Menjelaskan hasil asuhan keperawatan dari pengkajian sampai evaluasi.

1
c. Menguraikan tentang salah satu intervensi keperawatan berdasarkan evidence base
yang ada

1.3 Manfaat Penulisan

a. Penulis
Memberikan informasi tambahan pada penulis mengenai asuhan keperawatan pada
klien stroke hemoragik melalui sebuah pembelajaran studi kasus, memperoleh
pengetahuan dan pengalaman menganalisa dan memecahkan masalah pada sebuah
kasus dengan klien stroke, serta dapat mengembangkan minat dan kemampuan
penulisan makalah ilmiah.

b. Pembaca
Memberikan informasi tambahan bagi pembaca sebagai bahan acuan dalam
melakukan proses asuhan keperawatan pada klien dengan stroke.

2
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

2.1 Definisi Stroke

Stroke merupakan penyakit cerebrovascular yang terjadi karena adanya


gangguan fungsi otak yang berhubungan dengan penyakit pembuluh darah yang
mensuplai darah ke otak (Wardhani & Santi, 2015). Stroke juga biasa disebut dengan
brain attack atau serangan otak, yaitu terjadi ketika bagian otak rusak karena
kekurangan suplai darah pada bagian otak tersebut. Oksigen dan nutrisi tidak adekuat
yang dibawa oleh pembuluh darah menyebabkan sel otak (neuron) mati dan koneksi
atau hubungan antar neuron (sinaps) menjadi hilang (Silva, et al., 2014).
Menurut World Health Organization (WHO) dalam Muttaqin (2011) stroke
didefinisikan sebagai penyakit yang disebabkan oleh gangguan peredarah darah
diotak yang terjadi secara mendadak dengan tanda dan gejala klinik baik lokal
maupun global yang berlangsung selama 24 jam atau lebih yang dapat menyebabkan
kematian. Dari beberapa uraian diatas dapat disimpulkan bahwa pengertian stroke
adalah gangguan sirkulasi serebral yang disebabkan oleh sumbatan atau penyempitan
pembuluh darah oleh karena emboli, trombosis atau perdarahan serebral sehingga
terjadi penurunan aliran darah ke otak yang timbulnya secara mendadak.

2.2 Klasifikasi

Berdasarkan atas jenisnya, stroke terbagi atas stroke non hemoragik dan stroke
hemoragik.
a. Stroke Non Hemoragik (Iskemik Stroke)
Suatu gangguan peredaran darah otak tanpa terjadi suatu perdarahan
yang ditandai dengan kelemahan pada satu atau keempat anggota gerak atau
hemiparese, nyeri kepala, mual, muntah, pandangan kabur dan dysfhagia
(kesulitan menelan). Stroke non haemoragik dibagi lagi menjadi dua yaitu
stroke embolik dan stroke trombotik (Wanhari, 2008).
Gangguan sirkulasi selebral yang disebabkan oleh oklusi sebagian atau
lengkap dari pembuluh darah dengan transient atau efek permanen. Jenis
stroke ini sering diakibatkan oleh trombosis akibat plak aterosklerosis ateri
otak atau yang memberi vaskularisasi pada otak atau sesuatu emboli dari
pembuluh darah di luar otak dan merupakan stroke yang paling sering erjadi
(Sudoyo, 2009). Doenges, moorhouse dan Murr (2010) membagi penyebab
dari stroke iskemik yaitu trombotik pembuluh darah besar dan stroke embolik,
trombolik stroke pembuluh darah hampir 80% kecil, stroke kerdioembolik,

3
dan lain-lain. Iskemia mungkin bersifat sementara dan menyelesaikan dalam
waktu 24 jam, dapat diubah dengan resolusi gejala selama periode 1 minggu.

b. Stroke hemoragik
Suatu gangguan peredaran darah otak yang ditandai dengan adanya
perdarahan intra serebral atau perdarahan subarakhnoid. Tanda yang terjadi
adalah penurunan kesadaran, pernapasan cepat, nadi cepat, gejala fokal berupa
hemiplegi, pupil mengecil, kaku kuduk (Wanhari, 2008).
Sudoyo, dkk (2009) mengatakan bahwa stroke jenis ini terjadi hanya
sekitar 20% dari semua stroke diakibatkan oleh pecahnya suatu mikro
eneuisme dari Charot atau etat crible di otak. Dibedakan antara pendarahan
intraserebral, subdural, dan subaraknoid. Kemudian hanya 20% dari klien
mendapatkan kembali kemandririan fungsional (Nassisi, 2008 dalam Doenges,
Moorhouse, & Murr, 2010).

2.3 Etiologi

Stroke terjadi karena adanya penghambatan atau penyumbatan aliran darah


sel-sel darah merah yang menuju ke jaringan otak, sehingga menyebabkan pembuluh
darah otak menjadi tersumbat (iskemic stroke) atau pecah (hemoragik stroke). Secara
sederhana stroke terjadi jika aliran darah ke otak terputus. Otak kita sangat tergantung
pada pasokan yang berkesinambungan, yang dialirkan oleh arteri.
Asupan oksigen dan nutrisi akan dibawa oleh darah yang mengalir kedalam
pembuluh-pembuluh darah yang menuju ke sel-sel otak. Apabila aliran darah atau
aliran oksigen dan nutrisi itu terhambat selama beberapa menit saja maka dapat terjadi
stroke. Penyempitan pembuluh darah menuju sel-sel otak menyebabkan aliran darah
dan asupan nutrisi ke otak akan berkurang. Selain itu, endapan zat-zat lemak tersebut
dapat terlepas dalam bentuk gumpalan-gumpalan yang suatu saat dapat menyumbat
aliran darah ke otak sehingga sel-sel otak kekurangan oksigen dan nutrisi itulah
penyebab mendasar bagi terciptanya stroke.
Selain itu, hipertensi juga dapat menyebabkan tekanan yang lebih besar
sehingga dinding pembuluh darah menjadi lemah dan pembuluh darah akan mudah
pecah. Hemoragik stroke dapat juga terjadi pada mereka yang menderita penyakit
hipertensi (Auryn, Virzara 2009).

2.4 Faktor Risiko

Faktor risiko stroke dapat dibagi menjadi dua bagian, yaitu:


a. Faktor yang tidak dapat dimodifikasi
Faktor risiko yang tidak dapat dimodifikasi merupakan faktor yang
berupa karakteristik atau sifat pada seseorang yang dapat meningkatkan
kemungkinan berkembangnya suatu penyakit tertentu. Faktor risiko stroke
yang tidak dapat dimodifikasi yaitu faktor yang berupa karakteristik atau sifat
klien yang tidak dapat diubah. Contoh dari faktor ini yaitu usia, jenis kelamin,
berat badan lahir rendah, ras, suku, dan faktor genetik (Williams, et al., 2010).

4
b. Faktor yang dapat dimodifikasi
Faktor yang dapat dimodifikasi terdiri dari tingkatan pertama dan
kedua. Tingkat pertama faktor risiko stroke yang dapat dimodifikasi, diurutkan
dari tingkat banyaknya kejadian yaitu hipertensi, diabetes mellitus, merokok,
fibrilasi atrium dan disfungsi ventrikel kiri. Tingkatan 14 kedua yaitu terdiri
dari kolesterol, hiperlipidemia, asimtomatik karotid stenosis, sickle cell
disease, terapi hormon esterogen, diet, obesitas, alkohol, migrain, dan
hiperkoagulasi. Kebanyakan dari faktor risiko yang tingkatan kedua ini,
memiliki hubungan dengan pengembangan faktor risiko tingkat pertama,
misalnya obesitas merupakan faktor risiko untuk terjadinya hipertensi dan
diabetes (Williams, et al., 2010).

Faktor risiko yang umumnya menyebabkan stroke yaitu tekanan darah


tinggi (hipertensi). Tekanan darah tidak boleh melebihi 140/90 mmHg.
Tekanan darah yang tinggi akan menyebabkan tingginya tekanan di dinding
arteri sehingga bisa menyebabkan bocornya arteri otak, bahkan ruptur pada
arteri otak yang akan mengakibatkan terjadinya stroke hemoragik. Tekanan
darah tinggi juga bisa menyebabkan stroke iskemik yang dikarenakan oleh
adanya atherosclerosis (Silva, et al., 2014).

2.5 Patofisiologi

Otak sangat tergantung kepada oksigen, bila terjadi anoksia seperti yang
terjadi pada stroke di otak mengalami perubahan metabolik, kematian sel, dan
kerusakan permanen yang terjadi dalam 3 sampai dengan 10 menit (non aktif total).
Pembuluh darah yang paling sering terkena ialah arteri serebral dan arteri karotis
Interna. Adanya gangguan peredaran darah otak dapat menimbulkan jejas atau cedera
pada otak melalui empat mekanisme, yaitu :
a. Penebalan dinding arteri serebral yang menimbulkan penyempitan sehingga
aliran darah dan suplainya ke sebagian otak tidak adekuat, selanjutnya akan
mengakibatkan perubahan-perubahan iskemik otak.
b. Pecahnya dinding arteri serebral akan menyebabkan bocornya darah ke
kejaringan (hemorrhage).
c. Pembesaran sebuah atau sekelompok pembuluh darah yang menekan jaringan
otak.
d. Edema serebri yang merupakan pengumpulan cairan di ruang interstitial
jaringan otak.

Konstriksi lokal sebuah arteri mula-mula menyebabkan sedikit perubahan pada


aliran darah dan baru setelah stenosis cukup hebat dan melampaui batas kritis terjadi
pengurangan darah secara drastis dan cepat. Oklusi suatu arteri otak akan
menimbulkan reduksi suatu area dimana jaringan otak normal sekitarnya yang masih
mempunyai pendarahan yang baik berusaha membantu suplai darah melalui jalur-jalur
anastomosis yang ada.

5
Perubahan awal yang terjadi pada korteks akibat oklusi pembuluh darah adalah
gelapnya warna darah vena, penurunan kecepatan aliran darah dan sedikit dilatasi
arteri serta arteriole. Selanjutnya akan terjadi edema pada daerah ini. Selama
berlangsungnya perisriwa ini, otoregulasi sudah tidak berfungsi sehingga aliran darah
mengikuti secara pasif segala perubahan tekanan darah arteri.. Berkurangnya aliran
darah serebral sampai ambang tertentu akan memulai serangkaian gangguan fungsi
neural dan terjadi kerusakan jaringan secara permanen.

Stroke Non Hemoragic erat hubungannya dengan plak arterosklerosis yang


dapat mengaktifkan mekanisme pembekuan darah sehingga terbentuk trombus yang
dapat disebabkan karena hipertensi (Muttaqin, 2011). Otak terdiri dari sel-sel otak
yang disebut neuron, sel-sel penunjang yang dikenal sebagai sel glia, cairan
serebrospinal, dan pembuluh darah. Semua orang memiliki jumlah neuron yang sama
sekitar 100 miliar, tetapi koneksi di antara berbagi neuron berbeda-beda. Pada orang
dewasa, otak membentuk hanya sekitar 2% (1200-1400 gram) dari berat tubuh total,
tetapi mengkonsumsi sekitar 20% oksigen dan 50% glukosa yang ada di dalam darah
arterial.
Dalam jumlah normal darah yang mengalir ke otak sebanyak 50-60 ml per 100
gram jaringan otak per menit. Jumlah darah yang diperlukan untuk seluruh otak
adalah 700-840 ml/menit, dari jumlah darah itu di salurkan melalui arteri karotis
interna yang terdiri dari arteri karotis dekstra dan sinistra, yang menyalurkan darah ke
bagian depan otak disebut sebagai sirkulasi arteri serebrum anterior, yang kedua
adalah vertebrobasiler, yang memasok darah ke bagian belakang otak disebut sebagai
sirkulasi arteri serebrum posterior, selanjutnya sirkulasi arteri serebrum anterior
bertemu dengan sirkulasi arteri serebrum posterior membentuk suatu sirkulus Willisi.
Gangguan pasokan darah otak dapat terjadi dimana saja di dalam arteri-arteri yang
membentuk sirkulus willisi serta cabang-cabangnya.
Secara umum, apabila aliran darah ke jaringan otak terputus 15 sampai 20
menit, akan terjadi infark atau kematian jaringan. Perlu diingat bahwa oklusi di suatu
arteri tidak selalu menyebabkan infark di daerah otak yang di perdarahi oleh arteri
tersebut dikarenakan masih terdapat sirkulasi kolateral yang memadai ke daerah
tersebut. Proses patologik yang sering mendasari dari berbagi proses yang terjadi di
dalam pembuluh darah yang memperdarahi otak diantaranya dapat berupa.

a. Keadaan penyakit pada pembuluh darah itu sendiri, seperti pada aterosklerosis
dan thrombosis.
b. Berkurangnya perfusi akibat gangguan status aliran darah, misalnya syok atau
hiperviskositas darah.
c. Gangguan aliran darah akibat bekuan atau embolus infeksi yang berasal dari
jantung atau pembuluh ekstrakranium.

Dari gangguan pasokan darah yang ada di otak tersebut dapat menjadikan
terjadinya kelainan-kelainan neurologi tergantung bagian otak mana yang tidak mendapat
suplai darah, yang diantaranya dapat terjadi kelainan di sistem motorik, sensorik, fungsi
luhur, yang lebih jelasnya tergantung saraf bagian mana yang terkena.

6
2.6 Tanda dan Gejala Stroke

WHO (2016) menjelaskan bahwa gejala umum yang terjadi pada stroke yaitu
wajah, tangan atau kaki yang tiba-tiba kaku atau mati rasa dan lemah, dan biasanya
terjadi pada satu sisi tubuh saja. Gejala lainnya yaitu pusing, kesulitan bicara atau
mengerti perkataan, kesulitan melihat baik dengan satu mata maupun kedua mata,
sulit berjalan, kehilangan koordinasi dan keseimbangan, sakit kepala yang berat
dengan penyebab yang tidak diketahui, dan kehilangan kesadaran atau pingsan. Tanda
dan gejala yang 15 terjadi tergantung pada bagian otak yang mengalami kerusakan
dan seberapa parah kerusakannya itu terjadi.
Serangan stroke dapat terjadi secara mendadak pada beberapa klien tanpa
diduga sebelumnya. Stroke bisa terjadi ketika klien dalam kondisi tidur dan gejalanya
baru dapt diketahui ketika bangun. Gejala yang dimiliki klien tergantung pada bagian
otak mana yang rusak. Tanda dan gejala yang umumnya terjadi pada stroke atau TIA
yaitu wajah, lengan, dan kaki dari salah satu sisi tubuh mengalami kelemahan dan
atau kaku atau mati rasa, kesulitan berbicara, masalah pada penglihatan baik pada satu
ataupun kedua mata, mengalami pusing berat secara tiba-tiba dan kehilangan
keseimbangan, sakit kepala yang sangat parah, bertambah mengantuk dengan
kemungkinan kehilangan kesadaran, dan kebingungan (Silva, et al., 2014).

2.7 Dampak Stroke

Dampak yang umum terjadi setelah seseorang terkena stroke yaitu masalah
pada bagian fisiknya seperti kelemahan, mati rasa, dan kaku. Masalah fisik lainnya
yang dapat terjadi karena stroke yaitu dysphagia, fatigue (kekurangan energi atau
keletihan), foot drop (ketidakmampuan untuk mengangkat bagian depan kaki),
hemiparesis, inkontinensia, nyeri, kelumpuhan atau paralisis, kejang dan epilepsi,
masalah tidur, spasme otot pada tangan dan kaki, dan masalah pada penglihatan.
Stroke juga menimbulkan dampak pada emosional seperti terjadinya depresi dan
pseudobulbar affect (PBA), dan dampak pada proses berpikir dan rasa ingin 16 tahu
klien yaitu aphasia, kehilangan memory, dan vascular dementia (National Stroke
Association, 2016).
Stroke akan menimbulkan kecacatan pada seseorang setelah terkena stroke.
Kecacatan yang ditimbulkan tergantung dari otak bagian mana yang terserang dan
seberapa parah kerusakan yang dialami. Seseorang yang terkena stroke juga akan
menimbulkan dampak seperti paralisis dan sukar mengontrol pergerakan, gangguan
sensoris dan nyeri, aphasia (masalah dengan berbahasa), masalah dengan perhatian
dan ingatan, dan gangguan emosi (Silva, et al., 2014).

2.8 Komplikasi

Menurut Pudiastuti (2011) pada klien stroke yang berbaring lama dapat terjadi
masalah fisik dan emosional diantaranya:
a. Bekuan darah (Trombosis)

7
Mudah terbentuk pada kaki yang lumpuh menyebabkan penimbunan cairan,
pembengkakan (edema) selain itu juga dapat menyebabkan embolisme paru
yaitu sebuah bekuan yang terbentuk dalam satu arteri yang mengalirkan darah
ke paru.
b. Dekubitus
Bagian tubuh yang sering mengalami memar adalah pinggul, pantat, sendi
kaki dan tumit. Bila memar ini tidak dirawat dengan baik maka akan terjadi
ulkus dekubitus dan infeksi.
c. Pneumonia
Klien stroke tidak bisa batuk dan menelan dengan sempurna, hal ini
menyebabkan cairan terkumpul di paru-paru dan selanjutnya menimbulkan
pneumoni.
d. Atrofi dan kekakuan sendi (Kontraktur)
Hal ini disebabkan karena kurang gerak dan immobilisasi.
e. Depresi dan kecemasan
Gangguan perasaan sering terjadi pada stroke dan menyebabkan reaksi
emosional dan fisik yang tidak diinginkan karena terjadi perubahan dan
kehilangan fungsi tubuh.

2.9 Pemeriksaan Penunjang

Pencitraan otak sangat penting untuk mengkonfirmasi diagnosis stroke non


hemoragik. Non contrast computed tomography (CT) scanning adalah pemeriksaan
yang paling umum digunakan untuk evaluasi klien dengan stroke akut yang jelas.
Selain itu, pemeriksaan ini juga berguna untuk menentukan distribusi anatomi dari
stroke dan mengeliminasi kemungkinan adanya kelainan lain yang gejalanya mirip
dengan stroke (hematoma, neoplasma, abses).
Kasus stroke iskemik hiperakut (0-6 jam setelah onset), CT Scan biasanya
tidak sensitif mengidentifikasi infark serebri karena terlihat normal pada >50% klien,
tetapi cukup sensitif untuk mengidentifikasi perdarahan intrakranial akut dan/atau lesi
lain yang merupakan kriteria eksklusi untuk pemberian terapi trombolitik. Teknik-
teknik pencitraan berikut ini juga sering digunakan:
a. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik
seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.
b. CT-scan: memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya
infark.
c. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada
thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau
serangan iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau
perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada kasus thrombosis
sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
d. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami
infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.
e. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.

8
f. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan pada
gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
g. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang
berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada
thrombosis serebral.

2.10 Penatalaksanaan Stroke

a. Penatalaksanaan umum
Penatalaksanaan umum ini meliputi memperbaiki jalan napas dan
mempertahankan ventilasi, menenangkan klien, menaikkan atau elevasi kepala
klien 30º yang bermanfaat untuk memperbaiki drainase vena, perfusi serebral
dan menurunkan tekanan intrakranial, atasi syok, mengontrol tekanan rerata
arterial, pengaturan cairan dan elektroklit, monitor tanda-tanda vital, monitor
tekanan tinggi intrakranial, dan melakukan pemeriksaan pencitraan
menggunakan Computerized Tomography untuk mendapatkan gambaran lesi
dan pilihan pengobatan (Affandi & Reggy, 2016).
Berdasarkan Perhimpunan Dokter Spesialis Saraf Indonesia
(PERDOSSI, 2011) penatalaksanaan umum lainnya yang dilakukan pada klien
stroke yaitu meliputi pemeriksaan fisik umum, pengendalian kejang,
pengendalian suhu tubuh, dan melakukan pemeriksaan penunjang.
Pemeriksaan fisik yang dilakukan yaitu berupa pemeriksaan tekanan darah,
pemeriksaan jantung, dan neurologi. Pengendalian kejang pada klien stroke
dilakukan dengan memberikan diazepam dan antikonvulsan profilaksi pada
stroke perdarahan intraserebral, dan untuk pengendalian suhu dilakukan pada
klien stroke yang disertai dengan demam. Pemeriksaan penunjang untuk klien
stroke yaitu terdiri dari elektrokardiogram, laboratorium (kimia darah, kadar
gula darah, analisis urin, gas darah, dan lain-lain), dan pemeriksaan radiologi
seperti foto rontgen dada dan CT Scan.

b. Terapi farmakologi
Penatalaksanaan farmakologi yang bisa dilakukan untuk klien stroke
yaitu pemberian cairan hipertonis jika terjadi peninggian tekanan intra kranial
akut tanpa kerusakan sawar darah otak (Blood-brain Barrier), diuretika
(asetazolamid atau furosemid) yang akan menekan produksi cairan
serebrospinal, dan steroid (deksametason, prednison, dan metilprednisolon)
yang dikatakan dapat mengurangi produksi cairan serebrospinal dan
mempunyai efek langsung pada sel endotel (Affandi dan Reggy, 2016). Pilihan
pengobatan stroke dengan menggunakan obat yang biasa direkomendasi untuk
penderita stroke iskemik yaitu tissue 18 plasminogen activator (tPA) yang
diberikan melalui intravena.
Fungsi tPA ini yaitu melarutkan bekuan darah dan meningkatkan aliran darah
ke bagian otak yang kekurangan aliran darah (National Stroke Association,
2016).

9
Penatalaksanaan farmakologi lainnnya yang dapat digunakan untuk
klien stroke yaitu aspirin. Pemberian aspirin telah menunjukkan dapat
menurunkan risiko terjadinya early recurrent ischemic stroke (stroke iskemik
berulang), tidak adanya risiko utama dari komplikasi hemoragik awal, dan
meningkatkan hasil terapi jangka panjang (sampai dengan 6 bulan tindakan
lanjutan). Pemberian aspirin harus diberikan paling cepat 24 jam setelah terapi
trombolitik. Klien yang tidak menerima trombolisis, penggunaan aspirin harus
dimulai dengan segera dalam 48 jam dari onset gejala (National Medicines
Information Centre, 2011).

c. Penatalaksanaan medis
Penatalaksanaan medis lainnya menurut Perhimpunan Dokter Spesialis
Saraf Indonesia (PERDOSSI, 2011) terdiri dari rehabilitasi, terapi psikologi
jika klien gelisah, pemantauan kadar glukosa darah, pemberian anti muntah
dan analgesik sesuai indikasi, pemberian H2 antagonis jika ada indikasi
perdarahan lambung, mobilisasi bertahap ketika kondisi hemodinamik dan
pernapasan stabil, pengosongan kandung kemih yang penuh dengan katerisasi
intermitten, dan discharge planning. Tindakan lainnya untuk mengontrol
peninggian tekanan intra kranial dalam 24 jam pertama yaitu bisa dilakukan
tindakan hiperventilasi. Klien stroke juga bisa dilakukan terapi hiportermi
yaitu melakukan penurunan suhu 30-34ºC. Terapi hipotermi akan menurunkan
tekanan darah dan metabolisme otak, mencegah dan mengurangi edema otak,
serta menurunkan tekanan intra kranial sampai hampir 50%, tetapi hipotermi
berisiko terjadinya aritmia dan fibrilasi ventrikel bila suhu di 20 bawah 30ºC,
hiperviskositas, stress ulcer, dan daya tahan tubuh terhadap infeksi menurun
(Affandi & Reggy, 2016).

BAB III

ASUHAN KEPERAWATAN

10
3.1 Pengkajian

Pengkajian adalah langkah awal dan dasar bagi seorang perawat dalam
melakukan pendekatan secara sistematis untuk mengumpulkan data dan
menganalisa, sehingga dapat diketahui kebutuhan klien tersebut. Pengumpulan
data yang akurat dan sistematis akan membantu menentukan status kesehatan
dan pola pertahanan klien serta memudahkan menentukan status kesehatan
dan pola pertahanan klien serta memudahkan dalam perumusan diagnosa
keperawatan (Doenges dkk, 1999). Adapun pengkajian pada klien dengan
stroke (Doenges dkk, 1999) adalah :
a. Aktivitas/ Istirahat
Gejala : merasa kesulitan untuk melakukan aktivitas karena
kelemahan, kehilangan sensasi atau paralisis (hemiplegia), merasa
mudah lelah, susah untuk beristirahat (nyeri/ kejang otot).
Tanda : gangguan tonus otot, paralitik (hemiplegia), dan terjadi
kelemahan umum, gangguan penglihatan, gangguan tingkat kesadaran.
b. Sirkulasi
Gejala : adanya penyakit jantung, polisitemia, riwayat hipotensi
postural.
Tanda : hipertensi arterial sehubungan dengan adanya embolisme/
malformasi vaskuler, frekuensi nadi bervariasi, dan disritmia.
c. Integritas Ego
Gejala : perasaan tidak berdaya, perasaan putus asa
Tanda : emosi yang labil dan ketidaksiapan untuk marah, sedih, dan
gembira, kesulitan untuk mengekspresikan diri.
d. Eliminasi
Gejala : perubahan pola berkemih
Tanda : distensi abdomen dan kandung kemih, bising usus negatif.
e. Makanan/ Cairan
Gejala : nafsu makan hilang, mual muntah selama fase akut,
kehilangan sensasi pada lidah, dan tenggorokan, disfagia, adanya
riwayat diabetes, peningkatan lemak dalam darah.
Tanda : kesulitan menelan, obesitas.
f. Neurosensori
Gejala : sakit kepala, kelemahan/ kesemutan, hilangnya rangsang
sensorik kontralateral pada ekstremitas, penglihatan menurun,
gangguan rasa pengecapan dan penciuman.
Tanda : status mental/ tingkat kesadaran biasanya terjadi koma pada
tahap awal hemoragis, gangguan fungsi kognitif, pada wajah terjadi
paralisis, afasia, ukuran/ reaksi pupil tidak sama, kekakuan, kejang.
g. Kenyamanan / Nyeri
Gejala : sakit kepala dengan intensitas yang berbeda-beda
Tanda : tingkah laku yang tidak stabil, gelisah, ketegangan pada otot
h. Pernapasan
Gejala : merokok
Tanda : ketidakmampuan menelan/ batuk/ hambatan jalan nafas,
timbulnya pernafasan sulit, suara nafas terdengar ronchi.

11
i. Keamanan
Tanda : masalah dengan penglihatan, perubahan sensori persepsi
terhadap orientasi tempat tubuh, tidak mampu mengenal objek,
gangguan berespons terhadap panas dan dingin, kesulitan dalam
menelan, gangguan dalam memutuskan.
j. Interaksi Sosial
Tanda : masalah bicara, ketidakmampuan untuk berkomunikasi
k. Penyuluhan/ Pembelajaran
Gejala : adanya riwayat hipertensi pada keluarga, stroke, pemakaian
kontrasepsi oral, kecanduan alkohol.

3.2 Diagnosa Keperawatan

Setelah data-data dikelompokkan, kemudian dilanjutkan dengan


perumusan diagnosa. Diagnosa keperawatan adalah cara mengidentifikasi,
memfokuskan, dan mengatasi kebutuhan spesifik pasien serta respons
terhadap masalah aktual dan resiko tinggi (Doenges dkk, 1999). Untuk
membuat diagnosis keperawatan yang akurat, perawat harus mampu
melakukan hal berikut yaitu mengumpulkan data yang valid dan berkaitan,
mengelompokkan data, membedakan diagnosis keperawatan dari masalah
kolaboratif, merumuskan diagnosis keperawatan dengan tepat, dan memilih
diagnosis prioritas (Carpenito & Moyet, 2007). Diagnosa keperawatan pada
klien dengan Stroke (Doenges dkk, 1999) meliputi :
a. Perubahan perfusi jaringan serebral berhubungan dengan:
1) Interupsi aliran darah
2) Gangguan oklusif, hemoragi
3) Vasospasme serebral
4) Edema serebral
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan:
1) Kerusakan neuromuskuler
2) Kelemahan, parestesia
3) Paralisis spastis
4) Kerusakan perseptual/ kognitif

c. Kerusakan komunikasi verbal berhubungan dengan


1) Kerusakan sirkulasi serebral
2) Kerusakan neuromuskuler
3) Kehilangan tonus otot/ kontrol otot fasial
4) Kelemahan/ kelelahan
d. Perubahan sensori persepsi berhubungan dengan:
1) Perubahan resepsi sensori, transmisi, integrasi (trauma neurologis
atau defisit)
2) Stress psikologis (penyempitan lapang perseptual yang disebabkan
oleh ansietas)
e. Kurang perawatan diri berhubungan dengan:
1) Kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan,
kehilangan kontrol/ koordinasi otot
2) Kerusakan perseptual/ kognitif

12
3.3 Perencanaan

Perencanaan adalah kategori dari perilaku keperawatan dimana tujuan


yang berpusat pada klien dan hasil yang diperkirakan ditetapkan dan intervensi
keperawatan dipilih untuk mencapai tujuan tersebut (Potter & Perry, 2005).
Perencanaan merupakan langkah awal dalam menentukan apa yang dilakukan
untuk membantu klien dalam memenuhi serta mengatasi masalah keperawatan
yang telah ditentukan. Tahap perencanaan keperawatan adalah menentukan
prioritas diagnosa keperawatan, penetapan kriteria evaluasi dan merumuskan
intervensi keperawatan.
Tujuan yang ditetapkan harus sesuai dengan SMART, yaitu spesific
(khusus), messeurable (dapat diukur), acceptable (dapat diterima), reality
(nyata) dan time (terdapat kriteria waktu). Kriteria hasil merupakan tujuan ke
arah mana perawatan kesehatan diarahkan dan merupakan dasar untuk
memberikan asuhan keperawatan komponen pernyataan kriteria hasil.
Rencana tindakan keperawatan yang disusun pada klien dengan Stroke
( Doenges dkk, 1999) adalah sebagai berikut :

a. Diagnosa keperawatan pertama : perubahan perfusi jaringan serebral


berhubungan dengan oedema serebral.
Tujuan : kesadaran penuh, tidak gelisah
Kriteria hasil : tingkat kesadaran membaik, tanda-tanda vital stabil tidak
ada tanda-tanda peningkatan tekanan intrakranial.

Intervensi Keperawatan :

1) Pantau/catat status neurologis secara teratur dengan skala koma


glascow
Rasional: Mengkaji adanya kecenderungan pada tingkat
kesadaran.
2) Pantau tanda-tanda vital terutama tekanan darah.
Rasional: autoregulasi mempertahankan aliran darah otak yang
konstan.
3) Pertahankan keadaan tirah baring.
Rasional: aktivitas/ stimulasi yang kontinu dapat meningkatkan
Tekanan Intra Kranial (TIK).
4) Letakkan kepala dengan posisi agak ditinggikkan dan dalam posisi
anatomis (netral).
Rasional: menurunkan tekanan arteri dengan meningkatkan
drainase dan meningkatkan sirkulasi/ perfusi serebral.
5) Berikan obat sesuai indikasi: contohnya antikoagulan (heparin)

13
Rasional: meningkatkan/ memperbaiki aliran darah serebral dan
selanjutnya dapat mencegah pembekuan.

b. Diagnosa keperawatan kedua: kerusakan mobilitas fisik berhubungan


dengan kelemahan.
Tujuan : dapat melakukan aktivitas secara minimum
Kriteria hasil : mempertahankan posisi yang optimal, meningkatkan
kekuatan dan fungsi bagian tubuh yang terkena, mendemonstrasikan
perilaku yang memungkinkan aktivitas.
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji kemampuan klien dalam melakukan aktifitas
Rasional : mengidentifikasi kelemahan/kekuatan dan dapat
memberikan informasi bagi pemulihan
2) Ubah posisi minimal setiap 2 jam (telentang, miring
Rasional : menurunkan resiko terjadinya trauma/ iskemia jaringan.
3) Mulailah melakukan latihan rentang gerak aktif dan pasif pada
semua ekstremitas
Rasional : meminimalkan atrofi otot, meningkatkan sirkulasi,
membantu mencegah kontraktur.
4) Anjurkan pasien untuk membantu pergerakan dan latihan dengan
menggunakan ekstremitas yang tidak sakit.
Rasional : dapat berespons dengan baik jika daerah yang sakit
tidak menjadi lebih terganggu.
5) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi secara aktif, latihan resistif,
dan ambulasi pasien.
Rasional : program khusus dapat dikembangkan untuk
menemukan kebutuhan yang berarti/ menjaga kekurangan tersebut
dalam keseimbangan, koordinasi, dan kekuatan.
c. Diagnosa keperawatan ketiga: kerusakan komunikasi verbal
berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler.
Tujuan : dapat berkomunikasi sesuai dengan keadaannya.
Kriteria hasil : Klien dapat mengemukakan bahasa isyarat dengan tepat,
terjadi kesalah pahaman bahasa antara klien, perawat dan keluarga
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji tingkat kemampuan klien dalam berkomunikasi
Rasional : perubahan dalam isi kognitif dan bicara merupakan
indikator dari derajat gangguan serebral
2) Minta klien untuk mengikuti perintah sederhana
Rasional : melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan
sensorik
3) Tunjukkan objek dan minta pasien menyebutkan nama benda
tersebut

14
Rasional : melakukan penilaian terhadap adanya kerusakan
motorik
4) Ajarkan klien tekhnik berkomunikasi non verbal (bahasa isyarat)
Rasional : bahasa isyarat dapat membantu untuk menyampaikan isi
pesan yang dimaksud Konsultasikan dengan/ rujuk kepada ahli
terapi wicara.
5) Konsultasikan dengan/rujuk kepada ahli terapi wicara
Rasional : untuk mengidentifikasi kekurangan/ kebutuhan terapi.

d. Diagnosa keperawatan keempat: perubahan sensori persepsi


berhubungan dengan stress psikologis.
Tujuan : tidak ada perubahan perubahan persepsi.
Kriteria hasil : mempertahankan tingkat kesadarann dan fungsi perseptual,
mengakui perubahan dalam kemampuan.
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji kesadaran sensorik seperti membedakan panas/dingin,
tajam/tumpul, rasa persendian.
Rasional : penurunan kesadaran terhadap sensorik dan kerusakan
perasaan kinetic berpengaruh buruk terhadap keseimbangan.
2) Catat terhadap tidak adanya perhatian pada bagian tubuh
Rasional : adanya agnosia (kehilangan pemahaman terhadap
pendengaran, penglihatan, atau sensasi yang lain)
3) Berikan stimulasi terhadap rasa sentuhan seperti berikan pasien suatu
benda untuk menyentuh dan meraba.
Rasional : membantu melatih kembali jaras sensorik untuk
mengintegrasikan persepsi dan interprestasi stimulasi.
4) Anjurkan pasien untuk mengamati kakinya bila perlu dan menyadari
posisi bagian tubuh tertentu.
Rasional : penggunaan stimulasi penglihatan dan sentuhan membantu
dalam mengintergrasikan kembali sisi yang sakit.
5) Bicara dengan tenang dan perlahan dengan menggunakan kalimat yang
pendek.
Rasional : pasien mungkin mengalami keterbatasan dalam rentang
perhatian atau masalah pemahaman.

e. Diagnosa keperawatan kelima: kurang perawatan diri berhubungan


dengan kerusakan neuromuskuler, penurunan kekuatan dan ketahanan,
kehilangan kontrol/ koordinasi otot
Tujuan : kebutuhan perawatan diri klien terpenuhi
Kriteria hasil : klien bersih dan klien dapat melakukan kegiatan personal
hygiene secara minimal
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji kemampuan klien dan keluarga dalam perawatan diri.

15
Rasional : jika klien tidak mampu perawatan diri perawat dan keluarga
membantu dalam perawatan diri
2) Bantu klien dalam personal hygiene.
Rasional : klien terlihat bersih dan rapi dan memberi rasa nyaman pada
klien
3) Rapikan klien jika klien terlihat berantakan dan ganti pakaian klien
setiap hari
Rasional : memberi kesan yang indah dan klien tetap terlihat rapi
4) Libatkan keluarga dalam melakukan personal hygiene
Rasional : dukungan keluarga sangat dibutuhkan dalam program
peningkatan aktivitas klien
5) Konsultasikan dengan ahli fisioterapi/ ahli terapi okupasi
Rasional : memberikan bantuan yang mantap untuk mengembangkan
rencana terapi

f. Diagnosa keperawatan keenam: gangguan harga diri berhubungan


dengan perubahan biofisik, psikososial, perseptual kognitif.
Tujuan : tidak terjadi gangguan harga diri
Kriteria hasil : mau berkomunikasi dengan orang terdekat tentang situasi dan
perubahan yang terjadi, mengungkapkan penerimaan pada diri sendiri dalam
situasi.
Intervensi Keperawatan :
1) Kaji luasnya gangguan persepsi dan hubungkan dengan derajat
ketidakmampuannya.
Rasional : penentuan faktor-faktor secara individu membantu dalam
mengembankan perencanaan asuhan/ pilihan intervensi.
2) Bantu dan dorong kebiasaan berpakaian dan berdandan yang baik.
Rasional : membantu peningkatan rasa harga diri dan kontrol atas salah
satu bagian kehidupan.
3) Berikan dukungan terhadap perilaku/ usaha seperti peningkatan minat/
partisipasi dalam kegiatan rehabilitasi.
Rasional : mengisyaratkan kemampuan adaptasi untuk mengubah dan
memahami tentang peran diri sendiri dalam kehidupan selanjutnya.
4) Dorong orang terdekat agar member kesempatan pada melakukan
sebanyak mungkin untuk dirinya sendiri.
Rasional : membangun kembali rasa kemandirian dan menerima
kebanggan diri dan meningkatkan proses rehabilitasi.
5) Rujuk pada evaluasi neuropsikologis dan/ atau konseling sesuai
kebutuhan.
Rasional : dapat memudahkan adaptasi terhadap perubahan peran
yang perlu untuk perasaan/ merasa menjadi orang yang produktif.

g. Diagnosa keperawatan ketujuh: resiko tinggi kerusakan menelan


berhubungan dengan kerusakan neuromuskuler/ perseptual.
Tujuan : kerusakan dalam menelan tidak terjadi

16
Kriteria hasil : mendemonstrasikan metode makan tepat untuk situasi
individual dengan aspirasi tercegah, mempertahankan berat badan yang
diinginkan.
Intervensi Keperawatan :
1) Tinjau ulang patologi/ kemampuan menelan pasien secara individual.
Rasional : intervensi nutrisi/ pilihan rute makan ditentukan oleh faktor-
faktor ini.
2) Letakkan pasien pada posisi duduk/ tegak selama dan setelah makan
Rasional : menggunakan gravitasi untuk memudahkan proses menelan
dan menurunkan resiko terjadinya aspirasi.
3) Anjurkan pasien menggunakan sedotan untuk meminum cairan.
Rasional : menguatkan otot fasiel dan otot menelan dan menurunkan
resiko terjadinya aspirasi.
4) Anjurkan untuk berpartisipasi dalam program latihan/ kegiatan.
Rasional : meningkatkan pelepasan endorphin dalam otak yang
meningkatkan perasaan senang dan meningkatkan nafsu makan.
5) Berikan cairan melalui intra vena dan/ atau makanan melalui selang.
Rasional : memberikan cairan pengganti dan juga makanan jika pasien
tidak mampu untuk memasukkan segala sesuatu melalui mulut.

h. Diagnosa keperawatan kedelapan: kurang pengetahuan tentang kondisi


dan pengobatan berhubungan dengan Keterbatasan kognitif, kesalahan
interprestasi informasi, kurang mengingat
Tujuan : klien mengerti dan paham tentang penyakitnya
Kriteria hasil : berpartisipasi dalam proses belajar
Intervensi :
1) Kaji tingkat pengetahuan keluarga klien
Rasional : untuk mengetahui tingkat pengetahuan klien
2) Berikan informasi terhadap pencegahan, faktor penyebab, serta
perawatan.
Rasional : untuk mendorong kepatuhan terhadap program teraupetik
dan meningkatkan pengetahuan keluarga klien
3) Beri kesempatan kepada klien dan keluarga untuk menanyakan hal- hal
yang belum jelas.
Rasional: memberi kesempatan kepada orang tua dalam perawatan
anaknya
4) Beri feed back/ umpan balik terhadap pertanyaan yang diajukan oleh
keluarga atau klien.
Rasional: mengetahui tingkat pengetahuan dan pemahaman klien
atau keluarga
5) Sarankan pasien menurunkan/ membatasi stimulasi lingkungan
terutama selama kegiatan berfikir
Rasional: stimulasi yang beragam dapat memperbesar gangguan
proses berfikir.

17
BAB IV

PEMBAHASAN

Kasus 1 : Stroke

Tn. A, 72 tahun tiba-tiba tidak sadar saat sedang makan malam bersama keluarganya. Tim
gawat darurat membawanya ke RS, dan didapat data sebagai berikut : Bicara pelo,
hemiplegia tubuh bagian kanan, mengikuti perintah dengan cepat pada sisi tubuh bagian
kanan dan mampu menjawab pertanyaan. Tanda-tanda vital : Tekanan Darah 177/90 mmHg,
Nadi 88x/menit, irregular, Pernafasan 18xmenit, suhu afebris, saturasi O 2 95%. Kemudian
Tn. A dirawat dibangsal neuro.

Pertanyaan :

18
1. Jelaskan kenapa Tn. A tidak dapat menggerakan anggota tubuh bagian kanannya
secara maksimal?

Jawaban :

Pertanyaan :

2. Kenapa ia bicaranya menjadi pelo :

Jawaban :

19
Pertanyaan :

3. Pemeriksaan penunjang apa saja yang dapat dilakukan terkait kasus diatas. Jelaskan!

Jawaban :

a. Angiografi serebral: membantu menentukan penyebab stroke secara spesifik


seperti perdarahan, obstruksi arteri atau adanya titik oklusi/ ruptur.
b. CT-scan: memperhatikan adanya edema, hematoma, iskemia, dan adanya
infark.
c. Pungsi lumbal: menunjukkan adanya tekanan normal dan biasanya ada
thrombosis, emboli serebral, dan TIA (Transient Ischaemia Attack) atau
serangan iskemia otak sepintas. Tekanan meningkat dan cairan yang
mengandung darah menunjukkan adanya hemoragik subarakhnoid atau

20
perdarahan intra kranial. Kadar protein total meningkat pada kasus thrombosis
sehubungan dengan adanya proses inflamasi.
d. MRI (Magnetic Resonance Imaging): menunjukkan daerah yang mengalami
infark, hemoragik, dan malformasi arteriovena.
e. Ultrasonografi Doppler: mengidentifikasi penyakit arteriovena.
f. EEG (Electroencephalography): mengidentifikasi penyakit didasarkan pada
gelombang otak dan mungkin memperlihatkan daerah lesi yang spesifik.
g. Sinar X: menggambarkan perubahan kelenjar lempeng pineal daerah yang
berlawanan dari massa yang meluas, kalsifikasi karotis interna terdapat pada
thrombosis serebral.

Pertanyaan :
4. Apa saja diagnosa keperawatan yang dapat saudara tegakan pada kasus Tn. A?

Jawaban :
a. Gangguan menelan berhubungan dengan penurunan fungsi nervous fagus atau
hilangnya refleks muntah
b. Kerusakan mobilitas fisik berhubungan dengan hemiparesis, kehilangan
keseimbangan, dan kordinasi spastisitas, dan cedera otak.
c. Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan hemiplegia, penurunan mobilitas
d. Hambatan komunikasi verbal berhubungan dengan penurunan fungsi otot.
e. Resiko jatuh.

Pertanyaan :
5. Apa saja tindakan saudara sebagai perawat yang bertugas dan menangani tn. A saat di
rumah sakit?

Jawaban :
a. Gangguan menelan
1) Memantau tingkat kesadaran, refleks muntah, dan kemampuan menelan.
2) Mempertahankan jalan nafas.
3) Potong makanan menjadi potongan-potongan kecil dan hancurkan pil/obat
sebelum pemberian.
4) Sarankan untuk latihan berbicara.

b. Kerusakan mobilitas fisik


1) Memonitor TTV sebelum/sesudah latihan dan lihat respon pasien saat latihan.
2) Konsultasikan dengan terapi fisik tentang rencana ambulasi sesuai dengan
kebutuhan.
3) Ajarkan pasien bagaimana merubah posisi dan beri bantuan jika diperlukan.
4) Kaji kemampuan pasien dalam mobilisasi
5) Dampingi dan bantu pasien saat mobilisasi dan bantu penuhi kebutuhan ADLs.

21
Pertanyaan :
Apa perencanaan pulang yang saudara buat untuk pemulihan dan optimalisasi kondisi tn.
A?

Jawaban :
a. Mencegah terjadinya luka dikulit akibat tekanan
b. Mencegah terjadinya kekakuan otot dan sendi
c. Memulai latihan dengan mengaktifkan batang tubuh
d. Mengetahui tanda dan gejala stroke
e. Mengontrol faktor resiko stroke
f. Diet rendah lemak, garam, dan berhenti merokok

DAFTAR PUSTAKA

Carpenito, L.J & Moyet. (2007). Buku Saku Diagnosa Keperawatan edisi 10. Jakarta: EGC.

22
Doenges. M.E; Moorhouse. M.F; Geissler. A.C. (1999). Rencana Asuhan Keperawatan :
Pedoman untuk Perencanaan dan Pendokumentasian Perawatan Pasien edisi 3. Jakarta:
EGC.

Harnawatiaj. (2008). Format Dokumentasi Keperawatan (http://harnawatiaj.wordpress.com//)


di akses 16 Juli 2010.

Mansjoer, A,.Suprohaita, Wardhani WI,.& Setiowulan, (2000). Kapita Selekta Kedokteran


edisi ketiga jilid 2. Jakarta: Media Aesculapius.

Nanda. (2005-2006). Panduan Diagnosa Keperawatan. Prima medika.

Potter & Perry. (2006). Fundamental Keperawatan : Konsep, Proses dan Praktik Edisi 4 vol 1.
Jakarta: EGC

Price, S.A & Wilson. L.M. (2006). Patofisiologi : Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit Edisi
6 vol 2. Jakarta: EGC

Smeltzer, S.C & Bare, B.G. (2002). Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Edisi 8 vol 3.
Jakarta: EGC

Wanhari, M.A. (2008). Asuhan Keperawatan Stroke


(http://askepsolok.blogspot.com/2008/08/stroke.html) di akses 19 Juli 2010.

Winarni, S. (2008). Karya Tulis Ilmiah Stroke


(http://etd.eprints.ums.ac.id/2926/1/J200050072.pdf, di akses 19 Juli 2010.

23