Anda di halaman 1dari 5

16 Tahun Tragedi Trisakti: Tragedi

Kemanusiaan

DISUSUN OLEH : -M. IQBAL

-JOKO MULYONO

-EKA P

-ALI DESTIAN N

-ROBI RAMDANI
16 Tahun Tragedi Trisakti: Tragedi
Kemanusiaan
OPINI | 12 May 2014 | 09:29 Dibaca: 3977 Komentar: 32 5
Dokumentasi pribadi

Hari ini, 16 tahun lalu merupakan awal dari momentum bersejarah sekaligus momentum
yang cukup memilukan dan tragis. Momentum bersejarah karena peristiwa yang terjadi
merupakan awal dari rentetan peristiwa yang berujung dengan tumbangnya Orde Baru.
Momentum tragis karena peristiwa ini harus mengorbankan darah manusia sebagai
martirnya. 16 tahun lalu peristiwa penembakan mahasiswa Trisakti oleh aparat
keamanan menyebabkan tewasnya 4 mahasiswa Trisakti, mereka adalah Elang Mulia
Lesmana (Fakultas Arsitektur 1996), Heri Hertanto (Fakultas Teknik Industri 1995),
Hafidin Royan (Fakultas Teknik Sipil 1995) dan Hendriawan Sie (Fakultas Ekonomi
1996). Peristiwa penembakan ini yang di awali dengan aksi damai mahasiswa dalam
menuntut Presiden Soeharto turun kemudian dikenal dengan Tragedi Trisakti.

Tragedi Trisakti merupakan awal dari tragedi – tragedi yang terjadi diproses
peralihan dari Orde Baru menuju era Reformasi. Setelah peristiwa di depan kampus
Trisakti tersebut berlanjut peristiwa – peristiwa lainnya yang tak kalah memilukan
seperti tragedi Semanggi I dan Semanggi II. Peristiwa trisakti ini bermula dari kondisi
perekonomian Indonesia yang sedang jatuh di awal 1998. Krisis ekonomi yang
menerpa Asia pada waktu itu cukup berimbas terhadap perekonomian Indonesia.
Berlatar belakang krisis finansial tersebut mahasiswa menuntut Presiden Soeharto yang
telah berkuasa lebih dari 3 dekade untuk turun. Demonstrasi besar – besaran pun
terjadi menuntut DPR/MPR menurunkan Soeharto.

Di awali dengan mimbar bebas oleh civitas akademika Universitas Trisakti


dengan rasa keprihatinan terhadap kondisi bangsa pada saat itu, mahasiswa kemudian
bergerak keluar kampus menuju gedung DPR/MPR. Di tengah long march menuju
gedung DPR/MPR aksi mahasiswa di hadang oleh satuan petugas dari kepolisian
dengan perlengkapan pentungan dan tameng lengkap. Setelah melalui negoisasi yang
cukup alot akhirnya long march mahasiswa dihentikan disana tepat di depan kantor
Walikota Jakarta Barat. Aksi spontan mahasiswa berlanjut dengan mimbar bebas di
depan kantor Walikota Jakbar tersebut, seiring dengan bertambahnya aparat dari
Pengendalian massa (Dalmas), Kodam Jaya dan aparat kepolisian lainnya.

Di tengah – tengah hujan negoisasi antara Mahasiswa dengan Dandim dan


Kapolres berlanjut, akhirnya terjadi kesepakatan setelah dari pihak Mahasiswa di bujuk
oleh Dekan FE dan Dekan FH Universitas Trisakti bahwa kedua belah pihak sama –
sama mundur. Aparat dan mahasiswa sama – sama mundur teratur sampai terjadi
provokasi oleh seorang oknum yang mengaku sebagai alumni Trisakti dan
menyebabkan suasana menjadi tegang.

Setelah terjadi negoisasi kembali, akhirnya mahasiswa mundur secara teratur


kembali ke kampus Trisakti. Di tengah – tengah teraturnya mahasiswa kembali ke
kampus Trisakti beberapa aparat provokatif kepada mahasiswa yang menyebabkan
beberapa mahasiswa terpancing emosinya. Bersamaan dengan itu aparat secara
membabi buta menyerang mahasiswa dengan tembakan dan gas air mata. Kepanikan
yang terjadi membuat mahasiswa lari menuju kampus, tetapi oleh aparat tetap di kejar,
dipukul, diinjak dipopor senjata dan tindakan kekerasan lainnya. Tembakan dan
pelemparan gas air mata semakin merajalela kearah mahasiswa. Tidak lama berselang,
pasukan Unit Reaksi Cepat (URC) bermotor mengejar mahasiswa sampai gerbang
kampus. Mahasiswa yang telah berada didalam kampus tak luput dari sasaran tembak,
dengan formasi siap tembak dan beberapa sniper mahasiswa yang telah di dalam
kampus berjatuhan oleh peluru dari aparat. Dan tidak dapat di elakkan lagi 4
mahasiswa Trisakti tewas dan puluhan lainnya luka – luka.

16 tahun telah berlalu, tragedi Trisakti masih menyisahkan pilu bagi gerakan
mahasiswa di tanah air. Peristiwa yang terjadi tepat pada tanggal 12 Mei 1998 itu
merupakan saksi bagaimana aparat mengesampingkan rasa kemanusiaannya demi
tugas komandannya. Tragedi Trisakti merupakan saksi bagaimana pelanggaran Hak
Asasi Manusia (HAM) dihalalkan untuk mencapai suatu tujuan kelompok tertentu.
Tragedi Trisakti merupakan tragedi kemanusiaan yang memicu tragedi kemanusiaan
lainnya di tanah air.

16 tahun telah berlalu, sampai hari ini penyelesaian tragedi Trisakti belum
menemukan titik temu. Siapa dalang di balik pelanggaran HAM ini? sudah tentu diduga
kuat (Alm) Soeharto mantan penguasa Orde Baru terlibat disini, tetapi pion – pion yang
dipakainya pada waktu itu siapa saja? Wiranto selaku Panglima ABRI pada saat itu?
Prabowo Subiyanto Pangkostrad sekaligus pimpinan “Tim Mawar” Kopassus TNI AD
pada saat itu? Atau Timur Pradopo yang menjabat sebagai Kapolres Jakarta Barat?.
Beberapa nama yang disebutkan punya alibi tersendiri dengan merasa tidak
bertanggung jawab terhadap tragedi kemanusiaan tersebut. Tetapi pasti dan nyata
tragedi Trisakti ini ada dalang dan pion – pionnya yang harus segera di ungkap agar
tidak terus – menerus mengendap. Melawan Lupa, 16 Tahun Doa untuk korban
pejuang Demokrasi, Korban Tragedi Trisakti.

Jember, 12 Mei 2014