Anda di halaman 1dari 3

INDONESIA

Nama Provinsi Sumatera Barat bermula pada zaman Vereenigde Oostindische


Compagnie (VOC), dimana sebutan wilayah untuk kawasan pesisir barat Sumatera
adalah Hoofdcomptoir van Sumatra's westkust. Kemudian dengan semakin menguatnya
pengaruh politik dan ekonomi VOC, sampai abad ke 18 wilayah administratif ini telah
mencangkup kawasan pantai barat Sumatera mulai dari Barus sampai Inderapura.Seiring
dengan kejatuhan Kerajaan Pagaruyung dan keterlibatan Belanda dalam Perang Padri,
pemerintah Hindia Belanda mulai menjadikan kawasan pedalaman Minangkabau sebagai
bagian dari Pax Nederlandica, kawasan yang berada dalam pengawasan Belanda, dan wilayah
Minangkabau ini dibagi atas Residentie Padangsche Benedenlanden dan Residentie
Padangsche Bovenlanden.Pada awal kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945, wilayah
Sumatera Barat tergabung dalam provinsi Sumatera yang berpusat di Bukittinggi. Empat
tahun kemudian, Provinsi Sumatera dipecah menjadi tiga provinsi, yakni Sumatera Utara,
Sumatera Tengah dan Sumatera Selatan. Sumatera Barat beserta Riau dan Jambi merupakan
bagian dari keresidenan di dalam Provinsi Sumatera Tengah.Provinsi Sumatera Tengah
dipecah lagi menjadi tiga provinsi yakni Provinsi Sumatera Barat, Provinsi Riau dan Provinsi
Jambi.Selanjutnya ibu kota provinsi Sumatera Barat yang baru ini masih tetap di Bukittinggi.
Kemudian berdasarkan Surat Keputusan Gubernur Sumatera Barat No. 1/g/PD/1958, tanggal
29 Mei 1958 ibu kota provinsi dipindahkan ke Padang.
Rumah adat Sumatra Barat dikenal dengan “Rumah Gadang “. Rumah gadang ini
mempunyai ciri-ciri yang sangat khas. Bentuk dasarnya adalah balok segi empat yang
mengembang ke atas. Garis melintangnya melengkung tajam dan landai dengan bagian
tengah lebih rendah. Lengkung atap rumahnya sangat tajam seperti tanduk kerbau, sedangkan
lengkung badan dan rumah landai seperti badan kapal. Atap rumahnya terbuat dari ijuk.
Bentuk atap yang melengkung dan runcing ke atas itu disebut gonjong. Karena atapnya
membentuk gonjong, maka rumah gadang disebut juga rumah bagonjong. Fungsi utama
rumah Gadang adalah sebagai tempat tinggal bersama keluarga.
Sumatra barat yang dikenal dengan sebutan Minangkabau ini memiliki banyak
kesenian daerah yang dimilikinya , diantara nya :
1. Pencak Silat
Pencak silat mempunyai dua peranan sebagai permainan (pencak) dan sebagai seni bela diri
(silat) . Silat diutamakan untuk pertahanan, dengan jurus utamanya tangkok (tangkap)
dan elak(mengelak).
2. Tarian Pencak
dalam tarian pencak para pemain tidak boleh saling bersinggungan dan gerakannya diikuti
oleh bunyi-bunyian
3. Tarian Perintang
Tari perintang merupakan tari-tarian untuk kegembiraan dan pengisi waktu sehari-hari
diantaranya:

 Tari Piring, dimana pada telapak tangan penarinya memegangi piring. Penari
menggunakan cincin di ujung jari tengahnya untuk dijentikkan pada piring,
 Tari Galuk, yaitu tari dengan menggunakan galuk (tempurung/batok) di kedua tangan.
 Tari Kabau Jalang, yaitu tari yang mengimprovisasi gerakan kerbau liar yang tengah
menggila

4. Randai
Randai dimainkan dengan membentuk legaran (lingkaran), sambil penarinya melangkah
kecil-kecil dan bernyanyi bergantian.
5. Gamat
Gamat merupakan jenis tari pergaulan yang biasanya dimainkan oleh laki-laki dan
perempuan secara berpasangan. Sambil menari mereka akan bersahut-sahutan pantun. Jenis
tariannya yang terkenal yaitu Tari Payung, Tari Selendang, dan Tari Sapu Tangan.

6. Tabut
Tabut berkembang di daerah pesisir Minangkabau. Tabut diperingati untuk mengenang
terbunuhnya Husein, cucu Nabi Muhammad SAW dalam Perang Karbala. Peristiwa tersebut
diperingati setiap tanggal 10 Muharram dengan membuat arakan tabut.

Berbagai permainan anak Nagari Sumatra Barat yaitu Sepak Rago Sepak rago
merupakan sebuah olahraga tradisional. Permainannya mirip sepak takraw. Bedanya, bola
sepak rago terbuat dari daun kelapa muda yang dianyam dan berbentuk kubus. Jumlah
pemain antara 5 – 10 orang .yang kedua yaitu permainan bakiak . “Bakiak” sebenarnya
permainan tradisional anak-anak di Sumatera Barat. Orang Minang kelahiran hingga
pertengahan 1970-an biasa memainkannya dan ketika acara 17 Agustusan mengikuti
perlombaan di desa atau kecamatan. Tapi anak-anak kelahiran setelah itu hampir tidak
mengenal lagi, karena jarang digunakan. Adapun permainan lainnya yaitu Ulu Ambek,
Alang-alang (Darek dan Pasisia), Randai (Silek), Buru Babi, Pacu Jawi, Adu Kabau, Pacu
Itiak, Pacu Kudo, Basijobang, Salawat Dulang, Bagurau (Saluang), Batombe, Adu Ayam,
Lukah Gilo, Adu Baruak, Palabak, Gandang-gandang, Main Congkak, Mamanjek Batang
Pinang, Adu Balam, Adu Jawi, Patok Lele, Slaju Sampan, Tumbuak Lasuang,
Dabuih, Barabuik-rabuik karambia 5 buah, Antak-antak aia, Ratik tabajuah/ratik sabatang
mambantai, Mariam batuang, Simancik, Mambuek dan main oto-otoan dari batuang dan dari
potongan palapah karambia mudo, Maluncua jo palapah karambia atau pelepah pinang dari
kelandaian bukik, Gasiang, Mancari lundi, Cak bur, Main kelereng, Main kajai, Main Dama,
Tikuak anam, Barabab, Basaluang, Manciang, Sepak tekong, Main galah, Main suruk-
surukan/ Cirik Mancik, Semba lakon, Kudo kepang, Engrang, Tamtam Tabuku, Gasiang dari
tutuik limun/boto, Pacu anjiang dan sebagainya. Permainan tersebut tersebar diberbagai
tempat di ranah Minangkabau. Barangkali jumlahnya ratusan, tapi beberapa puluh permainan
seperti yang teridentifikasi diatas barangkali ada yang sama bentuk memainkannya tapi beda
penyebutan nama dari satu tempat ke tempat lainnya.