Anda di halaman 1dari 7

BAB II

KAJIAN TEORI

2.1 Sistem Pelumasan

Gambar 2.1 Sistem Pelumasan Pada Sepeda Motor


Sumber: Honda Motor, 2014: 112

Pelumasan adalah suatu cara untuk mengurangi gesekan antara dua


permukaan benda yang saling bergesekan dengan menambahkan suatu zat pelumas
diantara permukaan tersebut. Maksud dari gesekan itu sendiri adalah suatu bentuk
gaya yang berlawanan dengan arah gerak benda yang besarnya tergantung pada
kondisi atau kekasaran permukaan dan beban normal. Adanya gesekan akan
mengakibatkan kehilangan energi dan mempercepat keausan benda.

Pelumas memegang peranan penting dalam desain dan operasi semua mesin
otomotif. Umur dan service yang diberikan oleh mobil tergantung pada perhatian
yang diberikan pada pelumasannya. Pada motor bakar, pelumasan bahkan lebih
sulit dibanding pada mesin-mesin lainnya, karena di sini terdapat panas terutama di
sekitar torak dan silinder, sebagai akibat ledakan dalam ruang pembakaran. Seperti
yang telah dijelaskan, pelumasan selain dipergunakan sebagai pencegah keausan
yang terjadi antara dinding silinder dan part mesin yang bergesekan lain, pelumas
juga memiliki fungsi sebagai pendingin dari panas yang dihasilkan dari gesekan
antara part yang bergesekan. Pelumasan juga berfungsi sebagai pembersih dari
bagian-bagian dari mesin yang bekerja. Terdapat 2 jenis sistem pelumasan, yaitu
sistem pelumasan percik dan sistem pelumasan tekan (New Step 1 training Toyota:
3-25). Kedua jenis tersebut memiliki tujuan yang sama dalam melakukan tugasnya
yaitu mensirkulasikan minyak pelumas ke seluruh bagian yang bergesekan atau
bagian mesin yang membutuhkan pelumasan secara langsung. Menurut Siskayanti,
Rini& Kosin, M.E., 2017: 02) menyatakan bahwa terdapat 3 jenis pelumas dasar
yaitu:

a) Minyak Mineral

Minyak pelumas jenis ini merupaka jenis minyak pelumas yang banyak
dipergunakan pada kendaraan. Pelumas dasar ini terdiri dari hidrokarbon yang
mengalami beberapa langakah pemurnian dan penambahan zat aditif lainnya.
Kandungan lain yang terdapat pada minyak pelumas jenis mineral adalah surfur,
nitrogen, dan logam. Minyak pelumas jenis ini banyak dipergunakan dikarenakan
beberapa alasan seperti harganya yang murah, penggunaanna yang lebih umum atau
dapat dipergunakan pada beberapa mesin baik otomotif atau mesin industri, dan
sifatnya stabil ketika dilakukan penyimpanan.

Gambar 2.2 Grafik temperatur dan umur pakai terhadap jenis oli mineral
Sumber: Darmanto, 2011: 07
Berdasarkan tabel yang disajikan di atas, menunjukkan hubungan antara
temperatur mesin terhadap umur pakai minyak pelumas jenis mineral. Semakin
penggunaan dengan temperatur yang tinggi, maka nilai fungsi dari oli akan
semakin menurun begitu juga sifat pelumasan yang ada di dalam oli jenis mineral
tersebut. Terlihat jika diambil contoh pada pemakaian pada temperatur 200 oC
maka dapat dipastikan umur pakai oli tersebut tidak akan lama, hanya berkisar
200-400 jam saja karena penggunaan ekstrim oleh mesin.

b) Minyak Nabati

Minyak pelumas jenis ini berbahan dasar dari minyak kedelai, minyak
sawit, ataupun minyak biji jarak. Minyak pelumas nabati juga memiliki beberapa
keunggulan dibandingkan dengan jenis minyak pelumas mineral, yaitu tingginya
kemampuan pelumasan, tingginya indeks viskositas, rendahnya kehilangan minyak
karena penguapan, dan rendahnya kandungan racun pada pelumasan. Namun
terdapat beberapa kerugian atau keterbatasan dari minyak pelumas jenis ini yaitu
rendahnya stabilitas thermal, hidrolitik, dan oksidatif karena mengandung asam
lemak jenuh. Sehingga dengan beberapa keterbatasan tersebut, sering kali pelumas
jenis ini jarang untuk dipergunakan.

Gambar 2.3 Grafik temperatur dan umur pemakaian terhadap oli jenis Nabati atau grease
Sumber: Darmanto, 2011: 07
Pada Grafik di atas dijelaskan bahwa semakin tingkat suhu yang dihasilkan
pada penggunaan minyak pelumas maka umur pakai yang ditawarkan akan
berbdanding terbalik atau semakin rendah. Dapat diambil contoh pada penggunaan
minyak pelumas pada tingkat suhu di bawah 100 oC akan memberikan jangka waktu
penggunaan minyak pelumas sampai 10.000 jam atau sekitar 1 tahun lebih.

c) Minyak Sintetis.

Jenis minyal pelumas ini merupakan jenis pelumas yang terbentuk dari
proses pencampuran beberapa bahan kimiawi yang kemudian menghasilkan 3 jenis
pelumas sintetis seperti Ester, Organik dan Hidrokarbon. Minyak pelumas jenis
sintetis ini lebih unggul dibandingkan dengan minyak pelumas jenis mineral karena
proses pencampurannya yang menghasilkan sifat pelumasan yang lebih kompleks
ketika dipergunakan.

Gambar 2.4 Grafik Temperatur dan umur pakai terhadap jenis oli sintetik
Sumber: Darmanto, 2011: 07
Pada jenis minyak pelumas tipe sintetis memiliki kesamaan dengan jenis
pelumas yang lain , dimana tingkat penggunaan minyak pelumas berbanding
terbalik dengan penggunaan pada suhu tertentu. Namun yang membedakan dengan
minyak pelumas lainnya adalah kestabilan pada suhu yang tinggi dan titik kerja
pada suhu terendah yang dapat dicapai minyak pelumas jenis sintetik ini.
2.2 Karakteristik Mutu

Minyak pelumas dalam menjalankan fungsinya sebagaimana telah


dipaparkan, perlu adanya karakteristik khusus sehingga minyak pelumas yang
dipergunakan sesuai dengan fungsi dan tempat penggunaanya, terdapat beberapa
karakteristik dalam minyak pelumas, sebagai berikut :

1. Viscosity

Kekentalan suatu minyak pelumas yang merupakan ukuran kecepatan


bergerak atau daya tolak suatu pelumas untuk mengalir. Pada temperatur normal,
pelumas dengan viscosity rendah akan cepat mengalir dibandingkan pelumas
dengan viscosity tinggi. Biasanya untuk kondisi operasi yang ringan, pelumas
dengan viscosity rendah yang diajurkan untuk digunakan, sedangkan pada kondisi
operasi tinggi dianjurkan menggunakan pelumas dengan viscosity tinggi

2. Viscosity Index (Indeks viskositas)

Merupakan kecepatan perubahan kekentalan suatu pelumas dikarenakan


adanya perubahan temperatur. Makin tinggi VI suatu pelumas, maka akan semakin
kecil terjadinya perubahan kekentalan minyak pelumas meskinpun terjadi
perubahan temperatur. Pelumas biasa dapat memiliki VI sekitar 100, sedang yang
premium dapat mencapai 130, untuk sithetis dapat mencapai 250.

3. Flash point

Titik nyala suatu pelumas adalah menunjukkan temperatur kerja suatu


pelumas dimana pada kondisi temperatur tersebut akan dikeluarkan uap air yang
cukup untuk membentuk campuran yang mudah terbakar dengan udara.

4. Pour point

Merupakan titik tempratur dimana suatu pelumas akan berhenti mengalir dengan
leluasa. Dalam hal ini, kondisi pelumas akan pada posisi yang membeku atau pada
saat pelumas berada pada ruang karter/ bak oli.
5. Total Base Number (TBN)

Karakteristik minyak pelumas yang menunjukkan tinggi rendahnya ketahanan


minyak pelumas terhadap pengaruh pengasaman. Nilai pengasaman tertinggi
terjadi ketika minyak pelumas masih dalam keadaan baru, nilai TBN ini akan turun
pada saat minyak pelumas sudah terlalu lama terpakai.

2.3 Jenis Sistem Pelumas

Pada dasarnya, pelumas merupakan bagian yang berperan penting dalam


menjaga antara 2 permukaan yang bergesekan agar tidak terjadi keausan yang
berlebih (Massora, Musthaqim, dkk, 2014: 192). Secara garis besar pelumas
memang memiliki fungsi seperti yang telah dipaparkan. Jika dilihat dari sudut
pengartian pelumasan yang dapat dibayangkan adalah sebuah sistem. Secara umum,
dijelaskan bahwa pelumasan merupakan tindakan menempatkan pelumas diantara
2 permukaan yang saling bergesekan untuk mengurangi keausan dan friksi (Sukirno
dalam Massora, Musthaqim, dkk, 2014: 192). Dari penjelasan tersebut arti kata
menempatkan akan berujung pada sebuah makna sistem ketika pelumas itu
dipergunakan atau dapat dikatakan cara yang digunakan untuk menempatkan
pelumas tersebut. Menurut Purnomo, Agus (2013: 07) menyebutkan bahwa pada
dasarnya cara atau jenis sistem pelumasan dibagi menjadi 3 jenis sistem pelumasan,
berikut pemaparan dari keempat jenis tersebut :

1. Sistem Pelumasan Kabut

Pada jenis ini, merupakan sistem pelumas yang mana oli dari sebuah tangki
pelumas dikabutkan bersamaan dengan bahan bakar secara bersamaan dengan
perbandingan yang sesuai untuk melumasi bagian-bagian permukaan yang
bergesekan seperti piston dan dinding silinder. Jenis sistem pelumasan ini sering
dipakai pada mesin 2 langkah yang membutuhkan pelumasan secara khusus karena
tidak memiliki bak oli di bawah poros engkol.
2. Sistem Pelumasan Kering

Pada sistem pelumasan kering, oli diletakkan pada tangki diluar blok mesin
dan disirkulasikan oleh sebuah pompa oli ke pipa-pipa yang menuju ke bagian-
bagian yang akan dilumasi dan setelah semua bagian terlumasi, minyak pelumas
akan jatuh ke tangki penampung di bagian bawah pompa. Pada jenis ini hampir
sama seperti jenis pelumasan tipe kabut, jika dilihat dari cara menempatkan tangki
oli /carter. Namun berbeda cara mensirkulasi dan metode mensirkulasikan minyak
pelumasnya. Jenis pelumasan ini, sering dipergunakan pada motor-motor balap
dengan CC yang tinggi (250-350cc) , traktor berjalan, dan mesin-mesin tak
bergerak seperti generator.

3. Sistem Pelumasan Basah

Pada jenis sistem pelumasan ini, oli ditempatkan di dasar sebuah bak
penampung oli atau Carter dengan bersamaan ditempatkannya saringan kasar dari
oli di dasar bak penampung oli. Minyak pelumas disirkulasikan oleh pompa oli
yang dipasang terpisah di atas bak penampung oli, kemudian sebelum masuk ke
bagian-bagian yang akan dilumasi, oli tersebut melewati saringan halus terlebih
dahulu. Jenis ini sering dipergunakan pada mobil-mobil modern.