Anda di halaman 1dari 18

MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN JIWA DISTRESS SPIRITUAL

Dosen pengampu : Akde Triyoga, S.Kep., Ns., MM

DISUSUN OLEH :
DWI CHRISMON PETER 01.2.16.00535
FEBINDA DWI ARIMBI 01.2.16.00539
IVANA CINDY IRANDA 01.2.16.00543
MEILINDA KRISNA P 01.2.16.00547
NANDA MARIA ULFA 01.2.16.00551
RAHMAT AJI WIBOWO 01.2.16.00555
TIGO KARISMAYANA 01.2.16.00560
YEDIJA DWIKA A.E 01.2.16.00564

SEKOLAH TINGGI ILMU KESEHATAN RS BAPTIS KEDIRI


PRODI KEPERAWATAN STRATA 1
TAHUN AJARAN 2017/2018
BAB I
PENDAHULUAN

1.1 Latar Belakang


Manusia adalah mahluk yang paling tinggi derajatnya dibandingkan makhluk tuhan
yang lainnya. Mengapa demikian?,tentu jawabannya karena manusia telah diberkahi
dengan akal dan fikiran yang bisa membuat manusia tampil sebagai khalifah dimuka bumi
ini. Akal dan fikiran ini lah yang membuat manusia bisa berubah dari waktu ke
waktu.Dalam kehidupan manusia sulit sekali dipredeksi sifat dan kelakuannya bisa berubah
sewaktu-waktu. Kadang dia baik,dan tidak bisa bisa dipungkiri juga banyak manusia yang
jahat dan dengki pada sesame manusia dan makhluk tuhan lainnya.
Setiap manusia kepercayaan akan sesuatu yang dia anggap angung atau
maha.kepercyaan inilah yang disebut sebagai spriritual. Spiritual ini sebagai kontrol
manusia dalam bertindak, jadi spiritual juga bisa disebut sebagai norma yang mengatur
manusia dalam berperilaku dan bertindak.
Dalam ilmu keperawatan spiritual juga sangat diperhatikan.Berdasarkan konsep
keperawatan, makna spiritual dapat dihubungkan dengan kata-kata : makna, harapan,
kerukunan, dan sistem kepercayaan (Dyson, Cobb, Forman, 1997). Dyson mengamati
bahwa perawat menemukan aspek spiritual tersebut dalam hubungan seseorang dengan
dirinya sendiri, orang lain, dan dengan Tuhan. Menurut Reed (1992) spiritual mencakup
hubungan intra-, inter-, dan transpersonal. Spiritual juga diartikan sebagai inti dari manusia
yang memasuki dan mempengaruhi kehidupannya dan dimanifestasikan dalam pemikiran
dan prilaku serta dalam hubungannya dengan diri sendiri, orang lain, alam, dan Tuhan

1.2 Rumusan Masalah


a. Apa definisi dari distress spiritual?
b. Apa saja etiologinya?
c. Bagaimana asuhan keperawatannya?

1.3 Tujuan
a. Menjelaskan definisi dari distress spiritual
b. Menyebutkan dan menjelaskan etiologi distress spiritual
c. Mejelaskan asuhan keperawatan mengenai distress spiritual
BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Definisi
Distres spiritual adalah suatu keadaan menderita yang berhubungan dengan gangguan
kemampauan untuk mengalami makna hidup melalui hubungan dengan diri sendiri dunia
atau kekuatan yang tinggi (Herdman,2015).
Distress spiritual adalah suatu gangguan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip
kehidupan, keyakinan, atau kegamaan dari pasien yang menyebabkan gangguan pada
aktivitas spiritual, yang merubuan akibat dari masalah - masalah fisik atau psikososial
yang dialami

2.2 Etiologi
1) Faktor Predisposisi
Gangguan pada dimensi biologis akan mempengaruhi fungsi kognitif seseorang
sehingga akan mengganggu proses interaksi dimana dalam proses interaksi ini akan
terjadi transfer pengalaman yang penting bagi perkembangan spiritual seseorang.
Faktor predisposisi sosiokultural meliputi usia, gender, pendidikan, pendapatan,
okupasi, posisi sosial, latar belakang budaya, keyakinan, politik, pengalaman sosial,
tingkatan sosial.

2) Faktor Presipitasi
a. Kejadian Stresfull
Mempengaruhi perkembangan spiritual seseorang dapat terjadi karena perbedaan
tujuan hidup, kehilangan hubungan dengan orang yang terdekat karena kematian,
kegagalan dalam menjalin hubungan baik dengan diri sendiri, orang lain,
lingkungan dan zat yang maha tinggi.
b. Ketegangan Hidup
Beberapa ketegangan hidup yang berkonstribusi terhadap terjadinya distres
spiritual adalah ketegangan dalam menjalankan ritual keagamaan, perbedaan
keyakinan dan ketidakmampuan menjalankan peran spiritual baik dalam keluarga,
kelompok maupun komunitas.

2.3 Asuhan Keperawatan


2.3.1 Pengkajian
Ketepatan waktu pengkajian merupakan hal yang penting, yaitu sebaiknya
dilakukan setelah pengkajian aspek psikososial klien. Selanjutnya, jika klien
menanyakan tentang aspek psikososial ini, perawat langsung dapat menjelaskan bahwa
keyakinan spiritual seseorang juga merupakan bagian penting untuk memelihara
kesehatan.

Pengkajian dilakukan untuk mendapatkan data subjektif dan data objektif. Pada
dasarnya, informasi awal yang perlu digali secara umum adalah sebagai berikut.

1. Afiliasi agama :
a. Partisipasi klien dalam kegiatan agama apakah dilakukan secara aktif atau tidak
aktif
b. Jenis partisipasi dalam kegiatan agama
2. Keyakinan agama atau spiritual, mempengaruhi :
a. Praktik kesehatan : diet, mencari dan menerima terapi ritual atau upacara agama
b. Persepsi penyakit : hukuman, cobaan terhadap keyakinan
c. Strategi koping
3. Nilai agama atau spiritual, mempengaruhi :
a. Tujuan dan arti hidup
b. Tujuan dan arti kematian
c. Kesehatan dan pemeliharaannya
d. Hubungan dengan Tuhan, diri sendiri, dan orang lain

2.3.1.1 Pengkajian Data Subjektif


Pedoman pengkajian spiritual yang disusun oleh Stoll dalam Craven & Hirnle (1996);
mencakup empat area, yaitu :
a. Konsep tentang Tuhan atau Ketuhanan
b. Sumber harapan dan kekuatan
c. Praktik agama dan ritual
d. Hubungan antara keyakinan spiritual dan kondisi kesehatan. Pertanyaan yang
dapat diajukan perawat untuk memperoleh informasi tentang pola fungsi
spiritual klien, anatar lain, sebagai berikut :
1) Apakah agama atau Tuhan merupakan hal penting dalam kehidupan Anda?
2) Kepada siapa Anda biasanya meminta bantuan?
3) Apakah Anda merasa kepercayaan (agama) membantu Anda? Jika ya,
jelaskan bagaimana dapat membantu Anda?

4) Apakah sakit (atau kejadian penting lainnya yang pernah Anda alami) telah
mengubah perasaan Anda terhadap Tuhan atau praktik kepercayaan yang anda
anut?

Fish dan Shelly dalam Craven & Hirne (1996) juga menambahkan beberapa
pertanyaan yang bermanfaat untuk mengkaji data subjektif, yaitu :
a. Mengapa Anda berada dirumah sakit?
b. Apakah kondisi sakit yang Anda alami telah mempengaruhi cara Anda
memandang kehidupan?
c. Apakah penyakit Anda telah mempengaruhi hubungan Anda dengan orang
yang paling berarti dalam khidupan Anda?
d. Apakah kondisi sakit, yang Anda alami telah mempengaruhi cara Anda
melihat diri Anda sendiri?
e. Apa yang paling Anda butuhkan saat ini?
Pertanyaan juga dapat diajukan untuk mengkaji kebutuhan spiritual anak, antara
lain, sebagai berikut :
a. Bagaimana perasaanmu ketika dalam kesulitan?
b. Kepada siapa engkau meminta perlindungan ketika sedang merasa takut
(selain kepada orangtua)?
c. Apa kegemaran yang dilakukan ketikda sedang merasa bahagia/gembira?
Ketika sedang bersedih?
d. Engaku tahu siapakah Tuhan itu? Seperti apakah Tuhan itu?

2.3.1.2 Pengkajian Data Objektif


Pengakjain data objektif dilakukan melalui pengkajian klinis yang meliputi
pengkajian afek dan sikap, perilaku, verbalisasi, hubungan interpersonal, dan
lingkungan. Pengkajian data objektif terutama dilakukan melalui observasi.
Perawat perlu mengobservasi aspek berikut untuk mendapatkan data objektif
atau data klinis.
a. Afek dan sikap : Apakah klien tampak kesepian, depresi, marah, cemas, agitasi,
apatis, atau prekopusi?
b. Perilaku
1) Apakah klien tampak berdoa sebelum makan, membaca kitab suci, atau buku
keagamaan?
2) Apakah klien sering kali mengeluh, tidak dapat tidur, bermimpi buruk dan
berbagai bentuk gangguan tidur lainnya, serta bercanda yang tidak sesuai atau
mengekspresikan kemarahannya terhadap agama?
c. Verbalisasi
1) Apakah klien menyebut Tuhan, doa, rumah ibadah, atau topik keagamaan
lainnya (walaupun hanya sepintas)?
2) Apakah klien pernah meminta dikunjungi pemuka agama?
3) Apakah klien mengekspresikan takutnya terhadap kematian, kepedulian
dengan arti kehidupan, konflik batin tentang keyakinan agama, kepedulian
tentang hubungan dengan Maha Penguasa, pertanyaan tentang arti
keberadaannya di dunia, arti penderitaan, atau implikasi terapi terhadap nilai
moral/etik?
d. Hubungan interpersonal
1) Siapa pengunjung klien?
2) Bagaimana klien berespons terhadap pengunjung?
3) Apakah pemuka agama datang mengunjungi klien?
4) Bagaimana klien berhubungan dengan klien yang lain dan dengan tenaga
keperawatan?
e. Lingkungan
1) Apakah klien membawa kitab suci atau perlengkapan sembahyang lainnya?
2) Apakah klien menerima kiriman tanda simpati dari unsur keagamaan?

2.3.2 Diagnosa Keperawatan


Apabila dari hasil pengkajian data ternyata terdapat masalah spiritual yang
dapat diatasi dengan intervensi keperawatan secara mandiri, istilah yang bisa digunakan
adalah distress spiritual. Istilah ini selanjutnya dijabarkan dengan lebih spesifik, yaitu
kepedihan spiritual (spiritual pain), pengasingan diri (alienation), ansietas, rasa
bersalah, marah, kehilangan, atau putus asa.
Distress spiritual mungkin memengaruhi fungsi manusia lainnya. Berikut ini
adalah diagnosa keperawatan distress spiritual sebagai etiologiatau penyebab masalah
lain.
1) Gangguan penyesuaian terhadap penyakit yang berhubungan dengan
ketidakmampuan untuk merekonsiliasi penyakit dengan keyakinan spiritual.

2) Ketidakefektifan koping individual yang berhungan dengan kehilangan agama


sebagai dukungan utama (merasa ditinggalkan oleh Tuhan.
3) Takut yang berhubungan dengan belum siap menghadapi kematian dan pengalaman
kehidupan setelah kematian.
4) Berduka yang disfungsional: keputusasaan yang berhubungan dengan keyakinan
bahwa agama tidak mempunyai anti.
5) Keputusasaan yang berhubungan dengan keyakinan bahwa tidak ada yang peduli,
termasuk Tuhan.
6) Ketidak berdayaan yang berhubungan dengan perasaan menjadi korban.
7) Gangguan harga diri yang berhubungan dengan kegagalan untuk hidup sesuai
dengan ajaran agama.
8) Disfungsi seksual yang berhubungan dengan konflik nilai.
9) Gangguan pola tidur yang berhubungan dengan distress spiritual.
10) Risiko perilaku kekerasan terhadap diri sendiri yang berhungan dengan perasaan
bahwa hidup ini tidak berarti.

2.3.3 Perencanaan
Setelah diagnosa keperawatan dan faktor yang berhubungan dengan
teridentifikasi, selanjutnya perawat dank lien menyusun kriteria hasil dan rencana
intervensi. Tujuan asuhan keperawatan pada klien yang mengalami distress spiritual
harus difokuskan pada menciptakan lingkuan yang mendukung praktik keagamaan dan
keyakinan yang biasanya dilakukan tuuan ditetapkan secara individual dengan
mempertimbangkan riwayat klien, area berisiko, dan tanda-tanda disfungsi, serta data
objektif yang relevan.
Contoh tujuan untuk klien distress spiritual meliputi, klien akan:
a. Mengidentifikasi keyakinan spiritual yang memenuhi kebutuhan untuk memperoleh
arti dan tujuan, mencintai, keterikatan, dan pengampuan.
b. Menggunakan kekuatan keyakinan, harapan, dan rasa nyaman ketika menghadapi
tantangan berupa penyakit, cedera, atau krisis kehidupan lain.
c. Mengembangkan praktek spiritual yang memupuk komunikasi dengan diri sendiri,
dengan Tuhan, dan dengan dunia luar.
d. Mengekspresikan kepuasan dengan keharmonisan antara keyakinan spiritual
dengan kehidupan sehari-hari.

Pada dasarnya, perencanaan pada klien dengan distress spiritual dirancang untuk
memenuhi kebutuhan spiritual klien dengan:

a. Membantu klien memenuhi kewajiban agamanya.


b. Membantu klien menggunakan sumber dari dalam dirinya dengan cara lebih efektif
untuk mengatasi yang sedang dialaminya.
c. Membantu klien mempertahankan atai membina hubungan personal yang dinamik
dengan Maha Pencpta ketia sedang menghadapi peristiwa yang kurang menyenangkan.
d. Membantu klien mencari arti keberadaannya dan situasi yang sedang dihadapinya.
e. Meningkatkan perasaan penuh harapan.
f. Memberi sumber spiritual atau cara lain yang relevan.

2.3.4 Implementasi
Pada tahap implementasi, perawat menerapkan rencana intervensi dengan
melakukan prinsip – prinsip kegiatan asuhan keperawatan sebagai berikut:
1. Periksa keyakinan spiritual pribadi perawat
2. Fokuskan perhatian pada persepsi klien terhadap kebutuhan spiritualnya
3. Jangan mengasumsi klien tidak mempunyai kebutuhan spiritual
4. Mengetahui pesan non-verbal tentang kebutuhan spiritual pasien
5. Berespons secara singkat, spesifik, dan faktual
6. Mendengarkan secara aktif dan menunjukkan empati yang berarti menghayati
masalah klien
7. Menerapkan teknik komunikasi terapeutikk dengan mendukung,
menerima,bertanya, memberi informasi, refleksi, serta menggali perasaan dan
kekuatan yang dimiliki klien
8. Meningkatkan kesadaran dengan kepekaan pada ucapan atau pesan verbal klien
9. Bersikap empati yang berarti memahami dan mengalami perasan klien
10. Memahami masalah klien tanpa menghukum walaupun tidak berarti menyetujui
klien
11. Menentukan arti dari situasi klien, bagaimana klien berespons terhadap penyakit?
12. Apakah klien menganggap penyakit yang dideritanya merupakan hukuman,
cobaan, atau anugrah dari Tuhan?
13. Membantu memfasilitasi klien agar dapat memenuhi kewajiban agama
14. Memberi tahu pelayanan spiritual yang tersedia di rumah sakit

Intervensi keperawatan perlu disesuaikan dengan tahap perkembangan keyakinan


agama tiap individu klien berdasarkan usia. Craven & Hirnle (1996) mengklasifikasikan
intervensi berdasarkan kelompok usia mulai dari bayi, todler, dan prasekolah, anak dan
remaja, hingga dewasa, dan lansia.

1. Bayi. Hospitalisasi dan penyakit yang dialamianak akan memengaruhi rasa percaya
yang mendasar terhadap orang tuanya. Perawat berperan mendukung kebutuhan
spiritual orang tua, yang selanjutnya memungkinkan orang tua untuk memenuhi
kebutuhan bayi. Pemenuhan kebutuhan spiritual pada orang tua dengan bayi yang
dirawat inap adalah dengan mendengarkan, menawarkan dukungan, dan
meningkatkan stabilitas sistem dukungan keluarga. Untuk mencapai hal ini, orang tua
harus dianjurkan untuk tetap mempertahankan kontak dengan bayinya serta terlibat
semaksiamal mungkin dalam merawat bayinya yang sedang sakit.
2. Todler dan anak prasekolah. Menghadapi todler atau prasekolah, perawat diharapkan
melakukan kegiatan kegiatan secara rutin dan berespons terhadap pertanyaan anak
senyata atau sekonkret mungkin. Peran perawat terutama mendukung keluarga untuk
melakukan ritualitas keyakinan agama. Jika keluarga tidak dapat melakukannya,
perawat diharapkan untuk membantu melakukannya. Anak – anak pada usia ini,
sangat peka terhadap isu baik buruk. Oleh karena itu, jangan sampai mengatakan
kepada anak bahwa rasa sakit atau terapi yang menakutkan merupakan suatu hukuman
baginya, walaupun mereka mungkin merasakan demikian. Perlu ditekankan kepada
anak bahwa mereka tetap dicintai oleh orang tuanya, perawat, dan bahkan Tuhan serta
yang lainnya yang merupakan sumber kekuatan bagi anak.
3. Anak dan remaja. Perawat perlu memahami bahwa pada usia ini, anak dan remaja
sudah tidak beranggapan lagi bahwa penyakitnya disebabkan karena pernah berbuat
salah sehingga mendapat hukuman dari Tuhan. Justru pada masa ini, anak dan remaja
merasa takut dan cemas dengan lingkungan sekitarnya. Penerimaan dan klarifikasi
pengalaman merupakan cara yang efektif untuk membantu menemukan arti dari
peristiwa yang dialaminya.
Perkembangan interaksi dengan teman sebaya tetap merupakan prioritas meskipun
remaja sedang sakit. Oleh karena itu, perawat perlu menjalin hubungan baik dengan
temannya dan menyarankan mereka untuk secara rutin mengunjungi temannya yang
sedang dirawat, kecuali jika kondisi klien tidak memungkinkan. Remaja mempunyai
kemampuan untuk mengonsepsualisasi hubungan personalnya dengan Tuhan. Pada
saat sakit, remaja mungkin mempertanyakan pengalamannya dan mencoba
mengintegrasikan pengalaman tersebut dalam kehidupan mereka, sama halnya dengan
orang dewasa. Perawat sebaiknya menindaklanjuti data tentang kebutuhan spiritual
yang diperoleh pada saat pengkajian, dan jika diperlukan, memfasilitasi kunjungan
pemuka agama atau orang yang dekat dengan remaja sebagimana yang diinginkannya.
4. Dewasa dan lanjut usia. Klien usia dewasa muda cenderung mengklarifikasi
keyakinan, pribadi, dan komitmennya berdasarkan pengalaman dan hubungan pada
masa lalu. Pada saat ini, klien membina keyakinan pribadi dan mencari arti dari
kehidupan yang dijalaninya. Dalam hubungan jangka panjang dengan klien yang
dirawat, perawat diharapkan bersedia menjadi pendengar aktif, memberi dukungan,
dan membantu memvalidasi perasaan dan pengalaman klien yang selanjutnya akan
memfasilitasi penggalian pengalaman arti kehidupan dan kematian bagi klien, pada
saat bersamaan, perawatan juga perlutetap menjalin hubungan dengan keluarga klien
karena hubungan ini juga akan memberi arti tertentu dalam kehidupan klien. Pada
pasien lanjut usia, perawat perlu mendengarkan dan memberi dukungan kepada klien
yang sedang menghadapi situasi sehat – sakit dengan menunjau kembali pengalaman
masa lalu lansia. Perawat memberi kesempatan kepada lansia untuk menggali
pengalaman masa lalunya dan memahami pengalaman lansia tersebut. Apabila karena
proses penuaan yang dialami lansia, tidak memungkinkan mereka untuk berhubungan
atau berperan serta dalam kegiatan keagamaan, perawat perlu memfaslitasi hubungan
klien lansia dengan individu atau kelompok yang ada dimasyarakat.

2.3.5 Evaluasi
Perawat perlu mengumpulkan data terkait dengan pencapaian tujuan asuhan
keperawatan untuk mengevaluasi apakah klien telah mencapai kriteria hasil yang
ditetapkan pada fase perencanaan. Tujuan asuhan keperawatan tercapai apabila secara
umum klien:
1) Mampu beristirahat dengan tenang
2) Menyatakan penerimaan keputusan moral/etika
3) Mengekspresikan rasa damai berhubungan dengan Tuhan
4) Menunjukan hubungan yang hangat dan terbuka dengan pemuka agama
5) Menunjukkan efek positif, tanpa perasaan marah, rasa bersalah, dan ansietas
6) Menunjukan perilaku lebih positif
7) Mengekspresikan arti positif terhadap situasi dan keberadaannya.

2.4 Role Play

Sp. 1-P : Bina hubungan saling percaya dengan pasien, kaji faktor penyebab gangguan spiritual
pada pasien, bantu pasien mengungkapkan perasaan dan pikiran akan terhadap
spiritual yang diyakininya, bantu klien mengembangkan skill untuk mengatasi
perubahan spiritual dalam kehidupan.

a. Orientasi
Perawat : Assalamualaikum pak, nama saya suster Lily Puspita Rini saya dipanggil Lily,
Nama bapak siapa?
Pasien : Iya suster, nama saya Anton.
Perawat : Bapak suka dipanggil apa?
Pasien : Panggil saja saya Anton.
Perawat : Oh, baik. Saya dari Politeknik Kesehatan Depkes Tasikmalaya Program Studi
Keperawatan Cirebon yang akan merawat bapak selama 2 minggu di sini.
Bagaimana perasaan bapak pagi ini.
Pasien : Saya sedang sedih suster.
Perawat : Bagaimana kalau kita berbicara tentang masalah - masalah yang bapak alami,
kita ngobrol selama 30 menit ya? Dimana menurut bapak tempat yang cocok
untuk kita ngobrol?
Pasien : Di bawah pohon rindang saja suster.
Perawat : Oh disana? Mari pak kalau begitu.
b. Kerja

Perawat : Apa masalah yang bapak rasakan saat ini?


Pasien : Saya marah sama tuhan, saya tidak mau shalat dan tidak mau mengaji lagi.
Saya merasa tidak berguna lagi.
Perawat : Coba bapak sampaikan apa yang menyebabkan bapak tidak sholat dan mengaji
seperti dulu?
Pasien : Semenjak musibah tsunami itu saya kehilangan pekerjaan dan harta saya
suster.
Perawat : Oh, ya! selain itu faKtor apa lagi yang menyebabkan bapak tidak sholat dan
mengaji.
Pasien : Sekarang saya merasa sudah tidak berguna lagi.
Perawat : Coba bapak sampaikan pendapat bapak tentang agama atau keyakinan yang
bapak anut selama ini?
Pasien : Agama yang saya anut adalah agama yang membawa kedamaian.
Perawat : Menurut bapak, apakah agama yang bapak anut bisa membawa kedamaian dan
ketenangan dalam kehidupan bapak saat ini?
Pasien : Saya merasa ini tidak seperti yang saya yakini.
Perawat : Apakah hal tersebut yang mempengaruhi bapak sehingga kurang aktif
melakukan sholat dan mengaji?
Pasien : Iya suster.
Perawat : Apa saja kegiatan ibadah yang bapak jalankan?
Pasien : Shalat, shalawat dan zikir, suster.
Perawat : Yang mana kira-kira yang ingin bapak jalankan?
Pasien : Shalawat dan zikir, suster.
Perawat : Mari bapak coba misalnya sholawat atau zikir.
Pasien : Shalatullah salaamullah ‘alatoha rasulillah, salaatullah salamullah ‘alaa yasiin
habibillah.
Perawat : Bagus sekali! Bagaimana perasaan bapak setelah mencoba?
Pasien : Saya merasa tenang, suster.
Perawat : Apa keuntungan giat beribadah yang pernah bapak rasakan?
Pasien : Saya merasa tenang, suster.
Perawat : Betul sekali, setelah beribadah kita merasa tenang.
c. Terminasi
Perawat : Bagaimana perasaan bapak setelah berbincang – bincang?
Pasien : Saya merasa lebih lega, suster.
Perawat : Tampaknya bapak semangat menjawab pertanyaan suster ya?
Pasien : Iya suster.
Perawat : Coba bapak ulangi apa yang sudah kita diskusikan bersama - sama hari ini!
Pasien : Saya merasa tidak maksimal beribadah dan tadi saya sudah mencoba
bershalawat, suster.
Perawat : Bagus sekali, jadi bapak sudah tahu penyebab masalah bapak ya? Selain itu
bapak juga telah mengungkapkan perasaan dan pikiran bapak tentang agama
dan tahu kegiatan yang bapak bisa lakukan.
Pasien : Iya suster.
Perawat : Nah sekarang ibadah mana yang bapak coba lakukan? Jangan lupa ya pak!
Pasien : Iya suster.
Perawat : Besok lagi kita bertemu untuk mengetahui manfaat kegiatan ibadah yang bapak
lakukan serta belajar cara ibadah lain.
Pasien : Iya suster.
Perawat : Sampai jumpa bapak, Assalamualaikum!
Pasien : Waalaikumsalam.

Sp. 2-P : Fasilitasi pasien dengan alat-alat ibadah sesuai keyakinan atau agama yang dianut
oleh pasien, fasilitasi klien untuk menjalankan ibadah sendiri atau dengan orang
lain, bantu pasien untuk ikut serta dalam kegiatan keagamaan.

a. Orientasi

Perawat : Assalamualaikum, bapak bagaimana keadaan dan perasaan bapak saat ini?
Sudah dicoba melakukan ibadah?
Pasien : Baik suster, sudah.
Perawat : Bagaimana perasaan bapak setelah mencoba?
Pasien : Lebih tenang.
Perawat : Hari ini kita akan mendiskusikan tentang persiapan alat-alat sholat dan cara-
cara menjalankan sholat baik sendiri maupun berjamaah. Bagaimana kalau kita
ngobrol selama 30 menit. Dimana bapak mau ngobrol? Atau bagaimana kalau
disini saja?
Pasien : Iya suster boleh.
b. Kerja
Perawat : Pak, sepengetahuan bapak, apa saja persiapaan sholat, baik alat maupun diri
kita?
Pasien : Pakai sarung, kopiah, dan sajadah.
Perawat : Bagus sekali! Menyiapkan kopiah, sajadah dan sarung dan sebelum sholat bapa
harus mandi dulu dan berwudlu.
Pasien : iya.
Perawat : Coba bapak sebutkan sholat lima waktu dalam sehari?
Pasien : Subuh, dzuhur, ashar, magrib, isya.
Perawat : Sholat subuh jam berapa? Bagaimana ucapannya?
Pasien : jam 4.30 wib. Ussholli fardossubkhi rok’ataini mustaqbilal kiblati fadollillah
hita’ala.
Perawat : Bagus sekali, Selain itu, bapak dapat melakukan sholat berjamaah?
Pasien : Dulu sering tapi sekarang tidak pernah.
c. Terminasi
Perawat : Bagaimana perasaan bapak setelah kita diskusi tentang cara-cara
mempersiapkan alat sholat dan mengerjakan sholat.
Pasien : Lebih tenang dan legah sekarang suster.
Perawat : Berapa kali sehari bapak mencoba? Mari kita buat jadwalnya, kalau sudah
dilakukan beri tanda ya!
Pasien : 3x sehari dzuhur, ashar dan magrib saja suster.
Perawat : Besok saya akan datang untuk mendiskusikan tentang perasaan bapak dalam
melakuakn sholat serta membahas kegiatan ibadah yang lainnya.
Pasien : Iya suster terimakasih.
Perawat : Kalau begitu saya permisi dulu. Sampai jumpa besok. Assalamualaikum.
Pasien : Wa’alaikum salam.

Sp. 1-K : Bantu keluarga mengidentifikasi masalah yang dihadapi dalam merawat
pasien, bantu keluarga untuk mengetahui proses terjadinya masalah spiritual
yang dihadapi.

a. Orientasi
Perawat : Assalamualaikum, bu. Bagaimana keadaan keluarga ibu hari ini?
Ibu : Wa’alaikum salam. Alhamdulilah baik suster.
Perawat : Hari ini kita akan mendiskusikan tentang masalah yang ibu hadapi dalam
merawat atau membantu anak ibu, selama 30 menit. Disini saja yah bu!
Ibu : Iya suster silakan.
b. Kerja
Perawat : Bu, menurut ibu apa masalah yang ibu hadapi dalam merawat atau membantu
anak ibu?
Ibu : Iya suster, anak saya jadi malas sholat dan tidak mau mengikuti pengajian.
Pada hal dia sangatlah rajin beribadah sebelumnya.
Pewat : Apakah hal tersebut terjadi setelah gempa atau akibat tsunami yang lalu. Oh,
jadi masalah yang ibu hadapi adalah susah memberitahu dan mengajak dia untuk
sholat lima waktu ya?
Ibu : Benar suster. Sekarang dia susah banget untuk di ajak sholat semenjak kejadian
stunami itu.
Perawat : Bagaimana dengan kegiatan keagamaan lainnya, apakah anak ibu mau
melakukannya?
Ibu : Tidak suster, dia males malesan saja di rumah. Diemm saja
Perawat : Jadi ibu kewalahan menasehati agar dapat melakukan ibadah dan ini terjadi
sesudah tsunami.
Ibu : Iya, saya sudah angkat tangan menyuruh dia untuk sholat.
Perawat : Ibu, biasanya kalau ada kejadian bencana seperti gempa tsunami, kadang
seseorang akan mengalami kejadian seperti itu anak ibu tersebut. Oleh karena
itu mari saya bantu ibu untuk bersama-sama dan merawat anak ibu ya.
Ibu : Iya suster. Apa yang harus saya lakukan?
Perawat : Bu cara untuk membantu anak ibu yang malas sholat adalah dengan selalu
mengingatkan, mengajak atau memberi contoh solat pada waktu sholat telah
tiba. Selain itu ibu menyiapkan perlengkapan sholat untuk anak ibu misalnya
kopiah, sarung dan sajadah. Lalu bu bersama-sama satu keluarga melakukan
sholat berjamah ya? Jangan lupa mengajak anak-anak untuk bersama-sama
sholat berjamaah. Bila perlu ajak anak ibu untuk menjadi imam.
Ibu : Oh, begitu yah suster. Ings’allah saya akan melakukannya.
Perawat : Iya bu. Setelah sholat ibu ajak anak ibu untuk berdoa semoga diberi kekuatan
dan ketabahan dalam menghadapi masalah akibat adanya bencana alam yang
dialami tersebut.
Ibu : Iyah suster
Perawat : Jangan lupa, agar ibu mengigatkan anak ibu untuk sholat Jum’at berjamaah di
masjid bersama warga lainnya. Ya bu yah?
Ibu : Siap suster.
Perawat : Kemudian, ibu jangan segan-segan untuk meminta nasehat dan bantuan kepada
ustadz setempat. Saya yakin mereka akan dengan senang hati membantu ibu dan
terutama memberi nasehat keagamaan kepada anak ibu.
Ibu : Iya suster
Perawat : Sudah bisa mengerti cara merawat dan membantu anak ibu yang mengalami
masalah tersebut. Dengan demikian, ibu bisa membantu agar dia aktif dan rajin
sholat lima waktu serta mengikuti pengajian, ya kan bu?
Ibu : Terimakasih suster atas nasehat ya.
c. Terminasi
Perawat : Bagaimana perasaan ibu setelah kita diskusi tentang masalah-masalah yang ibu
hadapi dalam merawat anak ibu?
Ibu : Lebih tenang suster dan semangat untuk mengajak anak saya sholat lima
waktu.
Perawat : Bisa ulangi kembali apa saja cara untuk masalah yang ibu hadapi dalam
merawat anak ibu tersebut?
Ibu : Dengan cara menasehati, mengajak dan selalu mengigatkan untuk selalu
beribadah suster.
Perawat : Bagus sekali bu, ibu sudah mengetahui semua permasalahan yang terjadi ya?
Ibu : Iya suster.
Perawat : Kalau begitu saya pamit dulu. Assalamualaikum.
Ibu : Terimakasih bayak suster atas bantuannya. Wa’alaikum salam.
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
Distress spiritual adalah suatu gangguan yang berkaitan dengan prinsip-prinsip
kehidupan, keyakinan, atau kegamaan dari pasien yang menyebabkan gangguan pada
aktivitas spiritual, yang merubuan akibat dari masalah - masalah fisik atau psikososial
yang dialami.

3.2 Saran
Mahasiswa perlu mempelajari asuhan keperawatan jiwa distress spiritual yang telah
kelompok paparkan di makalah ini agar menjadi pengetahuan baru bagi perawatannya
kepada pasien dengan gangguan spiritual. Tidak hanya membaca dan mengerti materi ini
namun perlu dipraktekkan saat mahasiswa melakukan raktik klinik.
DAFTAR PUSTAKA

Achir Yani S.Hamid.2008.Asuhan Keperawatan Kesehatan Jiwa.Jakarta.EGC

Herdman, T.Heather.2015. Nanda Internasional Inc.Jakarta.EGC

Anda mungkin juga menyukai