Anda di halaman 1dari 21

MAKALAH STUDI ISLAM

HAJI, UMROH, QURBAN

DISUSUN OLEH:

1. AMELIA FITRI
2. ANNISA MARDHATILLA
3. FATMA YULIA
4. KESI FARDHILA
5. PUTRI AYU FATMA
6. RIZA YULIANI

DOSEN PEMBIMBING: Dra. WARNIATI

STIKes YARSI SUMBAR BUKITTINGGI

TAHUN AJARAN 2016/2017


KATA PENGANTAR

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

Segala puji bagi Allah yang maha megetahui dan maha bijaksana yang telah member
petunjuk agama yang lurus kepada hamba-Nya dan hanya kepada-Nya. Salawat serta salam
semoga tercurahkan kepada nabi Muhammad SAW yang membimbing umat nya degan suri
tauladan-Nya yang baik .
Syukur kehadiran Allah SWT yang telah memberikan anugrah,kesempatan dan
pemikiran kepada kami untuk dapat menyelesaikan makalah ini . makanlah ini merupakan
pengetahuan tentang HAJI UMRAH serta QURBAN semua ini di rangkup dalam makalah
ini, agar pemahaman terhadap permasalahan lebih mudah di pahami dan lebih singkat dan
akurat .
Sistematika makalah ini dimulai dari pengantar yang merupakan apersepsi atas materi
yang telah dan akan dibahas dalam bab tersebut .Selanjutnya , membaca akan masuk pada inti
pembahasaan dan di akhiri dengan kesimpulan , saran dan makalah ini. Diharapkan
pembaxca dapat mengkaji berbagai permasalahan tentang HAJI,UMRAH serta QURBAN
Akhirnya, kami penyusun mengucapkan terimakasih kepada semua pihak yang telah
membantu proses pembuatan makalah ini. Semoga makalah ini bermanfaaat bagi anda
semua.
Terimakasih.

Wassalamu’alaikum warahmatullahi wabarakatuh.

BUKITTINGGI, MARET 2017

PENULIS

i
DAFTAR ISI

HALAMAN JUDUL

KATA PENGANTAR .............................................................................................. i

DAFTAR ISI ........................................................................................................... ii

BAB I PENDAHULUAN

A. Latar Belakang ................................................................................................... 1


B. Rumusan Masalah .............................................................................................. 2
C. Tujuan Masalah .................................................................................................. 3

BAB II TINJAUAN PUSTAKA

A. Pengertian Haji, Umrah, dan qorban .................................................................. 4


B. Ketentuan dan tata cara haji, umrah dan qurban ................................................ 8
C. Cara-cara Manajemen Waktu Haji dan Umrah ........................................... 9
D. Hikmahnya bagi kita dan juga manfaatnya .............................................. 15

BAB III PENUTUP

A. Kesimpulan ...................................................................................................... 17
B. Saran................................................................................................................. 17

DAFTAR PUSTAKA

ii
BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah

Ibadah haji merupakan penyempurna ibadah dalam agama Islam, orang-orang muslim
berbondong-bondong menunaikan ibadah haji setiap tahunnya sampai selalu memadati
lingkungan kabah dan hal ini dikarnakan juga haji ini sebagai penyempurna rukun islam yaitu
yang paling terakhir.
Namun akhir-akhir ini kendala sangat terlihat dari sekian banyak jemaah haji,
keluhan-keluhan terdengar dari para jamaah yang kurang beruntung mendapatkan fasilitas
yang tidak sesuai dengan materi yang telah dikeluarkan begitu juga dengan prosedur
pendaftarannya.
Berita yang kita dengar baru-baru ini bahwa para jemaah haji mengalami kelaparan
bahkan ada yang sakit dan meninggal dunia.
Hal ini sangat miris terdengar dan membutuhkan perhatian yang sangat intensif dari
pemerintah kita dalam penyelenggaraan ibadah haji selanjutnya, karena ibadah haji bukan
lagi merupakan kepentingan individual tapi juga sudah termasuk dalam daftar kerja
pemerintah.
Permasalahan-permasalahan yang muncul itu memicu perhatian para ahli-ahli Islam
untuk kembali menata penyelenggaraan ibadah haji yang efisien agar tidak terulang kembali
permasalahan yang membuat kita miris mendengarnya.
Yang diatas merupakan pandangan para calon jama’ah haji. Tetapi marikita liahat
bagai mana cara menuntaskannya haji tersebut pada orang-orang yang naik haji sebagai
terkrsan mewah,karna banyak membawa pulang oleh-oleh dari sana agar membawa
kewibawaan atau terpandangan individual seseorang karna membagikan dan
memamerkannya kepada khalayak ramai. Mengapa kita harus memerhatikan ini karna
banyak dari pada calon jama’ah haji yang tidak dapat mendaftar pada tahun yang
diinginkannya kira-kira mengapa apakah mungkin karena ada salah seorang yang berniat
demikian?. Pasti ada yang demikian dan mungkin kita tidak mengetahuinya karna terbatasnya
penglihatan kita hanya pada sebatas anggota tubuh seseorang saja tidak sampai tertinjau
hingga niat dan pemikirannya. Padahal niat yang demikiatn akan membawa masalah atau
bencana besar bagi diri individu tersebut walau datangnya tidak sekarang. Dan dosanya pun
tak terhingga beratnya. Pada sebuah hadis Rasulullah pernah bersabda:

1
‫ ِإنَّ َما‬: ‫س ْو َل هللاِ صلى هللا عليه وسلم يَقُ ْو ُل‬ ُ ‫س ِم ْعتُ َر‬ َ : ‫ي هللاُ َع ْنهُ قَا َل‬
َ ‫ض‬ ِ ‫ب َر‬ ِ ‫طا‬ َّ ‫ع َم َر ب ِْن ْال َخ‬
ُ ‫ص‬ ٍ ‫َع ْن أ َ ِمي ِْر ْال ُمؤْ ِمنِيْنَ أ َ ِب ْي َح ْف‬
ُُ‫َت هِجْ َرته‬ ْ
ْ ‫ َو َمن كَان‬،‫س ْو ِل ِه‬ َ ُ َ
ُ ‫س ْو ِل ِه ف ِهجْ َرتهُ إِلى هللاِ َو َر‬ َ ُ
ُ ‫َت هِجْ َرتهُ إِلى هللاِ َو َر‬ ْ َ
ْ ‫ ف َمن كَان‬. ‫ئ َما ن ََوى‬ ِ ‫اْأل َ ْع َما ُل بِالنِيَّا‬
ٍ ‫ت َوإِنَّ َما ِل ُك ِل ا ْم ِر‬
. ‫ُص ْيبُ َها أ َ ْو ْام َرأَةٍ يَ ْن ِك ُح َها فَ ِهجْ َرتُهُ ِإلَى َما هَا َج َر ِإلَ ْي ِه‬
ِ ‫ِلد ُ ْنيَا ي‬
‫[رواه إماما المحدثين أبو عبد هللا محمد بن إسماعيل بن إبراهيم بن المغيرة بن بردزبة البخاري وابو الحسين مسلم بن‬
]‫الحجاج بن مسلم القشيري النيسابوري في صحيحيهما اللذين هما أصح الكتب المصنفة‬

Arti Hadits / ‫ترجمة الحديث‬:


Dari Amirul Mu’minin, Abi Hafs Umar bin Al Khottob radiallahuanhu, dia berkata: Saya
mendengar Rasulullah Shallallahu’alaihi wasallam bersabda : Sesungguhnya setiap
perbuatan tergantung niatnya. Dan sesungguhnya setiap orang (akan dibalas)
berdasarkan apa yang dia niatkan. Siapa yang hijrahnya karena (ingin mendapatkan
keridhaan) Allah dan Rasul-Nya, maka hijrahnya kepada (keridhaan) Allah dan Rasul-Nya.
Dan siapa yang hijrahnya karena dunia yang dikehendakinya atau karena wanita yang ingin
dinikahinya maka hijrahnya (akan bernilai sebagaimana) yang dia niatkan.
(Riwayat dua imam hadits, Abu Abdullah Muhammad bin Isma’il bin Ibrahim bin Al
Mughirah bin Bardizbah Al Bukhori dan Abu Al Husain, Muslim bin Al Hajjaj bin Muslim Al
Qusyairi An Naishaburi dan kedua kitab Shahihnya yang merupakan kitab yang paling
shahih yang pernah dikarang) .
Dan alangkah baiknya kita berniat baik yang pahalanya berlimpah walau belum
tercapai perbuatannya apalagi dengan niat buruk pasti sejak awal niat telah berlipat dosanya
apalagi telah terjadi perbuatannya.
Dan Alhamdulillah bagi yang ingin naik haji dengan niat menuntaskan ibadah,
ketakwaan maupun keimanannya dengan ikhlas tanpa niat untuk memamerkannya.untuk itu
kami menyajikan berbagai macam hal maka dari itu mari kita simak pada bab yang
selanjutnya tentang permasalahan haji dan umrah dan cara melaksanakannya.
Begitu juga dengan melaksanakan Qurban dan Akikah. Kita harus melaksanakan
ibadah tersebut dengan baik dan ikhlas. Dan bagaimana pula cara mengerjakannya dengan
baik dan ikhlas itu?, mari kita lihat pada bab setelah pembahasan haji dan umrah yaitu pada
bab yang ke dua.
Uraian pada makalah ini tersaji dan terkait dengan apa yang dimaksud dengan haji,
umrah, qurban dan akikah itu?. Dengan demikian kami menyusun makalah ini menggunakan
bahasa yang komunikatif agar sesuai dengan bahasa para pelajar.

B. Rumusan Masalah
1. Apa Pengertian Haji dan Umrah juga apa itu Qurban dan Akikah

2. Bagaimana Cara-cara melaksanakkannya

3. Bagaimana Cara-cara Manajemen Waktu Haji dan Umrah

4. Dan apakah hikmahnya bagi kita dan juga manfaatnya

2
C. Tujuan Pembahasan

1. Mengetahui Pengertian Haji dan Umrah juga apa itu Qurban dan Akikah

2. Memahami Cara-cara melaksanakannya

3. Memahami Cara-cara Manajemen Waktu Haji dan Umrah

4. Mengetahui hikmahnya bagi kita dan juga manfaatnya

3
BABII
PERMASALAHAN

I. PENGERTIAN IBADAH HAJI DAN UMRAH


A. Ibadah Haji
1. Pengertian ibadah haji
Haji menurut bahasa artinya menyengeja atau menuju, sedangkan menurut istilah haji
adalah sengaja mengunjungi ka’bah di mekah untuk melaksanakan ibadah kepada Allah SWT
pada waktudan dengan cara tertentu.
Perintah wajib menunaikan ibadah haji tertera di dalam Al-quran Surah Ali-imran ayat
97 yang berbunyi:
   
    
     
   
     
   
Yang artinya:
“Di situ ada tanda-tanda keterangan yang nyata (yang menunjukkan kemuliaannya
diantaranya ialah) Maqam Nabi Ibrahim. Dan sesiapa yang masuk ke dalamnya, aman
tenteramlah dia. Dan Allah mewajibkan manusia mengerjakan ibadat Haji dengan
mengunjungi Baitullah, iaitu sesiapa yang mampu sampai kepadanya. Dan sesiapa yang
kufur (ingkarkan kewajipan ibadat Haji itu), maka sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak
berhajatkan sesuatu pun) dari sekalian makhluk”.

 
   
   
   
  
    
     
    
    
  
  
    
    
   
    
     
  

4
   
   
 
196. dan sempurnakanlah ibadah haji dan 'umrah karena Allah. jika kamu terkepung (terhalang oleh
musuh atau karena sakit), Maka (sembelihlah) korban[120] yang mudah didapat, dan jangan kamu mencukur
kepalamu[121], sebelum korban sampai di tempat penyembelihannya. jika ada di antaramu yang sakit atau ada
gangguan di kepalanya (lalu ia bercukur), Maka wajiblah atasnya berfid-yah, Yaitu: berpuasa atau bersedekah
atau berkorban. apabila kamu telah (merasa) aman, Maka bagi siapa yang ingin mengerjakan 'umrah sebelum
haji (di dalam bulan haji), (wajiblah ia menyembelih) korban yang mudah didapat. tetapi jika ia tidak
menemukan (binatang korban atau tidak mampu), Maka wajib berpuasa tiga hari dalam masa haji dan tujuh hari
(lagi) apabila kamu telah pulang kembali. Itulah sepuluh (hari) yang sempurna. demikian itu (kewajiban
membayar fidyah) bagi orang-orang yang keluarganya tidak berada (di sekitar) Masjidil Haram (orang-orang
yang bukan penduduk kota Mekah). dan bertakwalah kepada Allah dan ketahuilah bahwa Allah sangat keras
siksaan-Nya.

2. Hukum melaksanakan ibadah haji


Hukum melaksanakan haji adalah wajib, namun demikian dalam keadaan tertentu
hukum melaksanakan ibadah haji bisa menjadi sunnah , makruh bahkan haram.
a. Hukumnya wajib , untuk pertama kali dan telah mampu untuk menjalankannya, apabila
bernazar untuk haji maka wajib melaksanakannya.
b. Hukumnya sunnah, apabila dapat mengerjakan haji untuk kedua kali dan seterusnya.
c. Hukumnya makruh, apabila sudah pernah pergi haji sementara masyarakat yang hidup
di sekelilinngnya serba kekurangan dan butuh- bantuan untuk kelangsungan hidupnya jika
ia berangkat haji lagi maka hukumnya makkruh.
d. Hukumnya haram, apabila ia pergi haji dengan maksud membuat kerusakann di negri
Mekkah.

3. Syarat wabib dan syarat sah haji


a. syarat wajib haji
 Islam, orang yang tidak beragama selain islam tidak wajib dan tidak sah menjalankan haji.
 Baligh, anak yang belum baligh tidak wajib naik haji, akan tetapi jikalau ia melakukan
maka hajinya dianggap sah. Tetapi dikategorikan sebagai haji sunah.
 Merdeka, yang dimaksud disini adalah bukan budak belian atau hamba sahaya yang terikat
dengan dengan tugas kewajiban yang di emban dari tuannya, sedangkan ibadah haji
memerlukan waktu yang cukup lama.
Berakal, seseorang yang di anggap sah ibadah hajinya adalah mereka yang berakal sehat ,
dengan dinyatakan oleh dokter. Seseorang yang meskipun sudah baligh (dewasa).namun
akal dikiranya tidak sehat seperti terkena penyakit gila, ayan (stres) hingga hilang
akalnya. Orang-orang tersebut tidak diwajibkan naik haji.
 Kuasa atau mampu (istiqa’ah) maksudnya kondisinya memungkinkan untuk pergi haji
diantaranya adalah :
a). Mampu jasmani dan rohani.
b). Mempunyai bekal yang cukup untuk pergi dan pulang serta
cukup bekal bagi keluarga yang di tinggal.
c). Ada kendaraan.
d) aman dalam perjalanan.
e). Ada mahram (muhrim) bagi wanita.
b. syarat sah haji
Dilaksanakan sesuai waktunya.
Melaksanakan urutan-urutan rukun haji tidak bolak-balik (tertib).
Dipenuhi syarat-syaratnya.

5
Dilaksanakan di tempat yeng telah ditentukan.

4. Rukun dan Wajib Haji


a. Rukun haji
 Ihram adalah niat untuk melaksanakan ibadah haji dengan menggunakan pakaian ihram
dan meninggalkan semua yang diharamkan dalam haji.

 Niat melakukan ibadah haji


 Memakai pakaian ihram
1.Bagi pria terdiri dari dua lembar kain putih yang tidak berjahit, selembar untuk sarung dan
selembar lagi untuk selendang.
2.Bagi wanita cukup memakai pakaian yang menutupi tubuh kacuali muka dan telapak
tangan dan biasanya berwarna putih.
 Sebelum melaksanakan ihram disunahkan untuk mandi, memakai parfum, bercukur,
menyisir rambut dan memotong kuku.
 Selama ihram di larang
1.Bagi pria, di larang memakai pakaian yang berjahit, sepatu yang menutupi mata kaki dan
penutup kepala yang melekat.
2.Bagi wanita, di larang menutupi muka atau memakai sarung tangan.
3.Bagi pria dan wanita, di larang
 Memakai parfum , bercukur, memotong kuku, mencabut bulu badan, mencabut pohon
(tumbuhan), berburu atau mengganggu binatang serta bercumbu (bersetubuh).
 Nikah, menikahi, melamar atau meminang
 Bertengkar, berbantahan, mencaci atau mengucapkan kata-kata cabul atau kasar.
Setelah mematuhi hal-hal tersebut barulah mulai berniat dengan bacaan do’a
sebagai berikut:

Artinya: “Ya Aku menyambut panggilan Engkau untuk haji, ya Allah, sengaja aku berniat
untuk haji dan ihram untuk umrah karena Allah Ta’ala”
 Wukuf yaitu hadir di Padang Arafah pada waktu yang telah ditentukan yaitu mulai dari
tergelincirnya matahari tanggal 9 zulhijjah sampai terbitnya fajar tanggal 10 zulhijjah. Orang
yang sedang menngerjakan haji wajib berada di Padang Arafah pada waktu tersebut. Wukuf
di awali dengan mendengarkan khutbah wukuf yang di sampaikan oleh penceramah yang
tunjuk. Kemudian dilanjutkan dengan shalat dzuhur dan ashar di jamak taqdim dan di qasar.
Selesai shalat lalu berdo’a, berdzikir, istighfar, salawat dan membaca Al-quran sebanyak-
banyaknya.
 Tawaf yaitu mengellilingi ka’bah sebanyak tujuh kali keliling dan dimulai dari hajar
aswad. Tawaf untuk haji di sebut tawaf ifadah. Ketika seseorang melaksanakan tawaf maka
harus memerhatikan hal-hal sebagai berikut:
 Menutup aurat
 Suci dari hadas besar dan kecil
 Ka’bah hendaknya berada di sebelah kiri dari orang yang tawaf
 Tawaf dimulai dari Hajar Aswad dan Disunahkan untuk menciumnya
 Tawaf dilakukan sebanyak tujuh kali
 Pelaksanaan tawaf jangan sampai keluar dari lingkungan Masjidil Haram contohnya di
dalam Masjidil Haram
Menurut jenisnya tawaf di bagi menjadi enam yaitu:
 Tawaf qudum yaitu tawaf yang dilakukan ketika baru sampai di Baitullah (sebagai shalat
Tahiyatul masjid)

6
 Tawaf ifadah yaitu tawaf yanng dilakukan ketika menunaikan rukun haji.
 Tawaf tahallul yaitu tawaf yang dilakukan ketika hendak meninggalkan Kota Mekah.
 Tawaf nazar yaitu tawaf yang harus dilakukan orang yang bernazar.
 Tawaf sunnah yaitu tawaf yang hukumnya sunnah (sewaktu-waktu dapat dilakukan).
Adapun lafadz bacaan do’anya sebagai berikut:

Artinya:
“Maha suci Allah, dan segala puji bagi Allah, dan tiada tuhan yang pantas di sembah selain
Allah,dan Allah maha besar dan tiada daya dan upaya dan kekuatan kecuali dengan
pertolongan Allah”

b. Wajib haji
Perbuatan yang merupakan wajib haji sebagai berikut:
 Ihram dan Miqat yaitu memakai pakaian ihram yang di mulai dari batas waktu dan tempat
yang telah ditentukan, miqat di bagi dua yaitu:
 Miqat zamani adalah batas waktu pemakaian ihram, sejak tanggal 1 syawal hingga tangal
10 zulhijjah.
 Miqat makani adalah batas mulai memakai pakaian ihram.
Miqat bagi jama’ah haji yaitu:
 Mekah bagi penduduk asli Mekah
 Zulhulaifah Bin Ali bagi jama’ah yang berasal dari Madinah atau dari negara-negara yang
searah dengannya.
 Robig atau Zugfah bagi jama’ah haji yang datang dari Mesir dan sekitarnya.
 Jeddah bagi jama’ah yang masuk ketanah suci lewat Jeddah.
 Yatamtam bagi jama’ah yang berasal dari daerah Yaman dan negara-negara yang searah
dengannya.
 Qarnul manazil bagi jama’ah yang berasal Nejd dan sekitarnya.
 Zatuiraqin bagi jama’ah yang berasal dari Iraq, Afganistan, Rusia dan negara-negara
sekitarnya.
 Jama’ah haji yang tinggalnya di sekitar Kota Mekah maka miqatnya di rumah masing-
masing.
 Bermalam di Mudzalifah yaitu setelah wukuf di padang Arafah pada malam tanggal 10
zulhijjah.
 Bermalam di Mina.
 Melempar jumrah yaitu jumrah ula, wusta dan aqabah menggunakan batu kerikil
sebanyak tujuh butir.
 Meningggalkan segala yang haram karena ihram.
 Melaksanakan Tawaf Wada’ atau tawaf perpisahan.

5. Macam-macam haji dan perbedaannya.


a. Haji ifrad yaitu melaksanakan haji terlebih baru melaksanakan umrah.
b. Haji tamattu yaitu mmelaksanakan umrah terlebih dahulu pada bulan-bulan haji baru
melaksanakan haji. Orang yang melaksanakann haji dengan cara tamattu aka dikenai
denda(dam) yaitu menyembelih seekor kambing atau berpuasa sepuluh hari (tiga hari di tanah
suci dan tujuh hari lagi di tanah air).

7
c. Haji qiran yaitu melaksanakan ibadah haji dan umrah bersamaan dan haji ini juga
mendapat denda(dam) berupa menyembelih seekor kambing.

6. Sunnah haji
a. Mendahulukan haji daripada umrah.
b. Mandi ketika hendak ihram atau sebelum memakai baju ihram
c. Shalat sunah ihram dua rakaat.
d. Memperbanyak membaca taibiyah, zikir, dan berdo’a setelah berihram sampai tahallul.
Bagi pria ketika membaca taibiyah hendaklah bersuara keras, sedangkan bagikan cukup
dengan suara pelan.
e. Melakukan tawaf qudum ketika baru masuk ke Masjidil Haram.
f. Menunaikan shalat dua rakaat setelah tawaf qudum.
g. Masuk ke dalam Ka’bah(Baitullah).
h. Minum air zam-zam ketika selesai tawaf.

7. Larangan ketika melaksanakan haji serta damnya.


a. Larangan bagi jama’ah pria:
 Memakai pakaian yang berjahit selama ihram.
 Memakai tutup kepala sewaktu ihram.
 Memakai yang menutupi mata kaki sewaktu ihram.
b. Larangan bagi jama’ah wanita:
 Memakai tutup muka
 Memmakai sarung tangan
c. Larangan bagi jama’ah pria dan wanita:
 Memotong dan mrencabut kuku
 Memotong atau mencabut bulu kepala
 Mencabut bulu badan lainnya
 Menyisir rambut kepala dan lain-lain
 Memakai harum-haruman pada badan, pakaian maupun rambut, kecuali yang di pakai
sebelum ihram.
 Memburu atau membunuh binatang darat dengan cara apapun ketika dalam ihram.
 Mengadakan perkawinan, mengawinkan orang lain atau menjadi wali dalam akad nikah
atau melamar .
 Bercumburayu sahwat atau bersenggama.
 Mencacimaki, mengupat, bertengkar.
 Mengucapkan kata-kata kotor, dan lain-lain.
 Memotong atau menebang pohon atau menabur segala macam yang tumbuh di tanah suci.

Berikut adalah jenis larangan dan damnya:


 Orang yang meninggalkan wajib haji:
 Tidak ihram dan miqat
 Tidak bermalam di Mudzalifah
 Tidak bermalam di Mina
 Tidak melempar jumrah
 Tidak wakkaf wada’
 Terlambat hadir pada padang Arafah
 Melaksanakan haji dan umrah secara tamattu dan qiran
Dam yang harus di bayar:

8
 Menyembelih kambing jika tidak dapat diperbolehkan puasa 10 hari, tiga hari di tanah
suci dan tujuh hari lagi di tanah air.
 Orang yang melanggar salah satu larangan ihram:
 Memakai pakaian yang berjahit
 Memaki tutup muka atau memakai sarung tangan bagi wanita
 Mencukur rambut
 Memotong kuku
 Memakai harum-haruman
Dam yang harus di bayar:
 Menyembelih kambing jika tidak dapat diperbolehkan puasa 10 hari, atau memberi
sedekah tiga sha’ atau tiga gharan atau 9,3 litter beras kepada emam orang fakir
miskin selama tiga hari berturut-turut.
 Orang yang memburu binatang yang ada di tanah suci
Dam yang harus di bayar :
 Menyembelih binatang yang semisal atau bersedekah kepada fakir miskin seharga
binatanng yang di bunuh atau berpuasa dengan menghargakan dengan beberapa gathan
kurma (1/4 gathan sehari)
 Orang yang memotong pepohonan
Dam yang harus di bayar :
 Menyembelih satu ekor unta atau sapi jika yang di potong besar dan satu ekor kambing
jika di potong kecil.
 Orang yang bersenggama(bersetubuh) suami istri
 Jika dilakukan sebelum tahallul awal maka hajinya batal
 Jika dilakukan setelah tahallul awal maka harus membayanr dam
Dam yang harus dibayar :
 Menyembelih seekor unta atau sapi atau tujuh ekor kambing atau bersedekah seharga
satu ekor sapi atau unta atau tujuh ekor kambing.
 Orang yang sedang haji tetapi hajinya terhalang oleh sesuatu yang menyebabkan hajinya
tidak dapat disempurnakan olehnya.
Dam yang harus di bayar:
 Menyembelih hewan qurban

8. Tata urutan pelaksanaan ibadah haji


a. Ihram
Pelaksanaan ihram paling lambat tanggal 9 zulhijjah pada miqat yang telah di
tentukan. Hal yang dianjurkan yang termasuk sunah haji sebelum berihram adalah mandi,
berwudu, memakai pakaian ihram, dan memakai wangi-wangian terlebih dahulu.

b. Wukuf di Arafah
Berkumpul di Padang Arafah beberapa saat yang di nilai dari tergelincirnya matahari
pada tanggal 9 zulhijjah hingga menjelang fajar tanggal 10 zulhijjah. Wukuf dapat di lakukan
dimana saja asal masih di sekitar Arafah.

c. Mabit di Mudzalifah
Selesai melaksanakan wukuf, lalu berangkat menuju mudzalifah untuk mabit atau
menginap di sana walaupun sebentar, waktunya di mulai dari tergelincirnya matahari pada 9
zulhijjah hingga terbitnya fajar pada tanggal 10 zulhijjah. Sambil menunggu waktu tengah
malam tiba dan bagi yang belum shalat magrib dan isya dapat menggantinya dengan shalat

9
qhasar takhir yaitu magrib tiga rakaat dan isya dua rakaat. Di mudzalifah jamaah haji juga
mengambil batu kerikil empat puluh sembilan butir atau tujuh puluh butir untuk melempar
jumrah di Mina nantinya. Selesai mengambil batu jamaah tidur sampai waktu subuh dan
shalat subuh di tempat ini juga. Kemudia menuju mina sambil membaca taibiyah lalu
berhenti sejenak di Masy’aril Haram (monumen suci) untuk berdzikir kepada Allah SWT.

d. Melontar jumrah aqabah


Setibanya di Mina (waktu duha tanggal 10 zulhijjah) lalu melontar jumrah aqabah
(tempat untuk melontar batu yang terletak di Bukit Aqabah) dengan tujuh batu kerikil sambil
membaca:

Artinya:
“Allah maha besar, Ya Allah! Jadikanlah haji ini diterima dan pengampunan dosa”.

Setelah selesai kemudian dilanjutkan dengan menyembelih hewan qurban (yang


penyelenggaraannya diserahkan kepada bank Al-Rajhi)

e. Tahallul awal
Setelah melontar jumrah aqabah, kemudian dilanjutkan dengan tahallul (bebas dari
kewajiban ihram haji sesudah selesai mengerjakan amalan-amalan haji) awal dengan cara
mencukur atau menggunting rambut sekurang-kurangnya tiga helai. Dengan dilakukannya
tahallul awal ini berarti kita boleh memakai pakaian biasa dan melakukan semua perbuatan
yang di larang selama ihram, kecuali bersetubuh atau jimak (melakukan hubungan suami
istri).
f. Tawaf ifadah
Bagi jama’ah haji yang akan melakukan tawaf ifadah pada hari itu juga (10 zulhijjah)
dapat langsung pergi ke Mekah untuk melakukan tawaf, yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak
tujuh kali di mulai dari arah yang sejajar dengan Hajar Aswad dan berakhir di sana pula. Pada
saat memulai tawaf putaran pertama mengangkat tangan ke arah hajar aswad dan usahakan
badan menghadap ka’bah jika tidak memungkinkan , maka cukup dengan isyarat mengangkat
tangan sambil mengucapkan:

Artinya:
“Dengan nama Allah dan Allah maha besar”.

Begitu seterusnya setiap tiba di garis Hajar Aswad setelah melewati garis Hajar

Aswad dianjurkan membaca do’a:


Artinya: “maha suci Allah, segala puji bagi Allah, tiada tuhan yang berhak di sembah selain
Allah, Allah maha besar. Tiada daya dan kemampuan, kecuali bersumber dari Allah Yang
maha tinggi dan maha agung”.
Apabila do’a tersebut tidakm hafal, boleh membaca do’a apa saja yang hafal, jika
tidak hafal maka ucapkan saja Allahu Akbar. Jika mengucapkan ini pun tidak bisa, cukup
diam saja. Sebab yang penting adalah mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali. Selama
melakukan tawaf, kita harus selalu suci dari hadas kecil, hadas besar dan najis atau dalam
keadaan berwudhu, selesai tawaf disunahkan mencium Hajar Aswad (batu hitam) lalu shalat
sunnah. Dua rakaat di dekan makam Nabi Ibrahim jika tidak memungkinkan dapat dilakukan

10
di mana saja- asal masih di sekitar ka’bah atau di dalam masjidil haram. Kemudian berdo’a di
Multazan dan meminum air zam-zam.

g. Sa’i
Setelah melakukan tawaf ifadah, dilanjutkan melakukan sa’i yaitu berjalan dari bukit safa ke
bukit marwah dan kembali lagi kebukit safa sebanyak tujuh kali, sebelum memulai sa’i kita
dihadapkan badan ke arah Ka’bah sambil membaca:

Artinya:
“Dengan nama Allah dan Allah maha besar”.
sebanyak tiga kali. Selama dalam perjalan antara safa dan marwah, dianjurkan membaca:
Artinya:
“Tiada tuhan yang berhak disembah selain Allah, Allah maha besar. Tak ada tuhan yang
berhak disembah selain Allah yang maha esa, tiada sekutu baginya. Kerajaan dan pijian
hanya milik-Nya. Dialah yang menghidupkan dan mematikan. Di tanganNya segala
kebajikan. Dialah yang berkuasa di segala sesuatu. Tiada tuhan selain Allah yang maha esa.
Dia telah menepati janjiNya, menolong hamba-hambaNya dan mengalahkan sediri
kelompok-kelompokNya”.
Apabila do’a tersebut tidak hafal boleh membaca do’a apa saja yang hafal, jika tidak bisa
juga cukump diam saja sebab yang penting adalah berjalan dari Bukit Safa dan Marwah,
bolak-balik sebanyak tujuh kali selanjutnya kembali ke Mina sebelum mataari terbenam
untuk mabit di sana.

h. Tahallul kedua
Setelah melakukan sa’i, lalu dilanjutkan dengan tahallul kedua (akhir) dengan tahallul
ini, berarti sesseorang telah melakukan tiga perbuatan yakni melontar jumrah aqabah, tawaf
ifadah dan sa’i. Dan dengan demikian bagi suami istri terbebas dari larangan untuk
bersetubuh.
i. Mabit (bermalam) di Mina
Setelah tiba di Mina, jama’ah haji bermalam di sana selama tiga malam. Yaitu malam
11, 12 dan 13 zulhijjah atau yang di sebbut hari tasyrik. Pada siang harinya tanggal 11
zulhijjah setelah waktu dzuhur barulah melontar tiga jumrah, yaitu ula, wusta dan aqabah
masing-masing tujuh kali dengan menggunakan batu kerikil, hal yang sama dilakukan pada
tanggal 12 dan 13 zulhijjah. Waktu dan sarana yang sama juga.
Namun ada juga para jama’ah yang melontar ketiga jumrah hanya sampai pada
tanggal 12 zulhijjah sore harinya dan kemudian mereka meninggalkan Mina menuju menuju
Mekkah. Hal ini diperbolehkan, dan mereka itu di sebut nafar awal. Sedangkan para jama’ah
yang melakukan pelontaran jumrah sampai tanggal 13 zulhijjah sore harinya, mereka di sebut
nafar sani.
Dengan selesainya kegiatan pelontaran di atas, bagi mereka yang mengerjakan haji
tamattu dan haji qiran selesailah seluruh rangkaian kegiatan ibadah haji dan kembali ke
Mekkah. Akan tetapi, bagi mereka yang mengerjakan haji ifrad masih di haruskan
mengerjakan umrah, yaitu dimulai dengan ihram untuk umrah lalu tawaf, sa’i dan di akhiri
dengan tahallul, setelah selesai umrah berarti selesailah seluruh rangkaian kegiatan ibadah
hajinya (haji ifrad).
Bagi mereka yang ingin meninggalkan tanah suci mekah dan kembali ke tanah airnya
harus melahsanakan tawaf wada atau tawaf perpisahan. Caranya sama saja dengan tawaf
ifadah, tetapi pada tawaf wada tidak di sertai dengan sa’i dan dalam berpakaian biasa

9. Hikmah haji

11
Hikmah secara etimologi berarti mengetahui keunggulan sesuatu melalui suatu
pengetahuan sempurna, bijaksana, dan sesuatu yang tergantung kepadanya akibat sesuatu
yang terpuji.
Dalam istilah ushul fikih, hikmah diartikan dengan suatu motivasi dalam pensyariatan
hukum dalam rangka pencapaian suatu kemaslahatan atau menolak suatu kemafsadatan.
Pengertian di atas menegaskan bahwa setiap pensyariatan hukum pasti mempunyai
motivasi hukum. Namun, motivasi hukum tersebut ada yang mudah diketahui dan banyak
jumlahnya dan ada pula yang sulit digali dan sedikit jumlahnya.
Seberapa banyak motivasi hukum yang dikandung oleh pensyariatan suatu hukum,
amat bergantung kepada kualitas seorang mujtahid dan usahanya dalam menggali motivasi
hukum tersebut.
Oleh sebab itu, pensyariatan ibadah haji yang terwujud melalui berbagai jenis
gerakan, tentu mempunyai banyak hikmah. Sebab menurut sabda Rasulullah SAW, “Setiap
pekerjaan harus (pasti) disertai oleh niat (motivasi).” (HR. Bukhari, Muslim, An-Nasa’i, Ibn
Majah, Abu Daud dan Tirmidzi).
Ibadah haji dan umrah sarat dengan nilai dan hikmah yang dapat diambil sebagai
i’tibar. Di antara hikmah-hikmah tersebut adalah:
Pertama, menghilangkan dosa. Hal ini dapat diketahui melalui beberapa hadits
Rasulullah SAW berikut ini:
“Siapa yang melaksanakan ibadah haji, dia tidak melakukan perbuatan-perbuatan
maksiat dan tidak pula mengeluarkan kata-kata yang kotor, maka ia akan kembali ke negeri
asalnya tanpa dosa, sebagaimana ia dilahirkan ibunya pertama kali.” (HR. Bukhari,
Muslim, An-Nasa’i, Ibnu Majah dan Tirmidzi dari Abu Hurairah).
“Dosa-dosa yang dilakukan antara umrah dan umrah berikutnya diampuni. Ibadah
umrah dan haji yang mabrur (yang diterima) tiada lain imbalannya selain surga.” (HR.
Bukhari, Muslim, Tirmidzi, An-Nasa’i, Ibnu Majah, Imam Malik, dan Ahmad ibnu Hanbal).
“Orang-orang yang melaksanakan haji dan umrah adalah tamu-tamu Allah SWT.
Jika mereka berdoa, Allah akan mengabulkannya, dan jika mereka meminta ampun, Allah
akan mengampuni mereka.” (HR. An-Nasa’i, Ibnu Majah, Ibnu Khuzaimah, dan Ibnu Hibban
dari Abu Hurairah).
Dari ketiga hadits di atas, tidak ada pembedaan antara dosa kecil dan dosa besar. Oleh
sebab itu, menurut Mazhab Hanafi, dosa yang dihapus tersebut adalah dosa besar dan dosa
kecil. Bila dosa kecil dan besar sudah dihapuskan oleh Allah SWT, tentunya seseorang akan
terhindar dari siksaan neraka.
Berkenaan dengan ini terdapat hadits Rasulullah SAW yang diriwayatkan oleh Jabir
bin Abdullah, “Pada saat wukuf itu, Allah turun ke langit dunia dan berfirman kepada
Malaikat: “Lihatlah hamba-hamba-Ku, mereka datang kepada-Ku dengan rambut kusut,
berdebu, berbondong-bondong dari segenap pelosok bumi yang jauh untuk mengharapkan
keridhaan-Ku dan memohon dijauhi dari siksa api neraka. Dan tidak ada orang yang lebih
banyak dibebaskan dari api neraka kecuali pada hari Arafah.”]\

10. Manfaat menunaikan haji


a. Dapat terbukanya wawasan, sehingga benar benar memahami bahwa ajaran islam itu
luas. Begitu banyak perbedaan dalam pelaksanaan ibadah, namun para jama’ah tetap
bersatu beribadah dan sama-sama mendapat ridha Allah. Sikap ini tentu akan berpengaruh

12
luar biasa dalam kehidupan karena hampir semua masalah yang melanda umat islam,
bersumber pada kepicikan dan kesempitan wawasan dan pandangannya tentang islam.
b. Timbulnya pemahaman akan agungnya syi’ar islam. Dengan begitu, akan timbul
kesadaran untuk selalu mensyukuri nikmat-nikmat Allah.
c. Semakin meningkatkan ‘ubudiah, hal ini akan menambah keimananb terhadap kebesaran
Allah, sehingga sanggup menghindari sikap sombong, takabur, dan lain-lain.
d. Dapat mengendalikan diri dari perilaku kotor (rafas, fusuk dan jidal).
e. Didikan selama di makam Nabi Ibrahim, sa’i juga di Mudzalifah. Akan melahirkan
kkematangan hidup. Dengan berbekal perenungan masa lalu persiapan yang matang dan di
sertai optimisme luar biasa, akan selalu siap menyonsong masa depan yang cerah dalam
kehidupan yang cerah.

II. Umrah

1. Pengertian dan hukum umrah


Menurut bahasa umrah berarti ziarah ataun berkunjung, sedangkan menurut istilah
syara’, umrah adalah menziarahi ka’bah di Mekah dengan niat beribadah kepada Allah di
sertai syarat-syarat tertentu.
Umrah di sebut juga dengan haji kecil, umrah ada dua macam yaitu:
a. Umrah sunnah, yaitu umrah yang dilaksanakan sewaktu-waktu atau kapan saja di luar
batas waktu haji (bulan-bulan haji).
b. Umrah wajib yaitu yang dilaksanakan dalam rangkaian ibadah haji dan dilaksanakan
pada batas waktu haji (bulan-bulan haji).
Hukum melaksanakan ibadah umrah adalah fardhu ‘ain (wajib) atas tiap-tiap orang
islam laki-laki atau perempuan bagi yang mampu. Untuk umrah kedua, ketiga dan seterusnya
hukunya sunnah. Allah berfirman:

   


     
   
    
     
  
158. Sesungguhnya Shafaa dan Marwa adalah sebahagian dari syi'ar Allah[102]. Maka Barangsiapa yang
beribadah haji ke Baitullah atau ber-'umrah, Maka tidak ada dosa baginya[103] mengerjakan sa'i antara
keduanya. dan Barangsiapa yang mengerjakan suatu kebajikan dengan kerelaan hati, Maka Sesungguhnya Allah
Maha Mensyukuri[104] kebaikan lagi Maha mengetahui.

2. Syarat, rukun dan wajib umrah


a. Syarat-syarat umrah itu ada lima, yaitu :
1. Islam
2. Baligh
3. Berakal sehat
4. Merdeka
5. Kuasa atau mampu mengerjakannya
b. Rukun umrah itu ada lima, yaitu :
1. Ihram, yaitu niat memulai mengerjakan ibadah umrah.
2. Tawaf, yaitu mengelilingi ka’bah sebanyak tujuh kali

13
3. Sa’i
4. Tahalul (mencukur atau menggunting rambut paling sedikit tiga helai rambut)
5. Tertib (dilakukan secara berurutan)
c. Wajib umrah ada dua macam, yaitu sebagai berikut :
1. Niat ihram dari miqat
2.Meninggalkan dari segala larangan umrah , sebagaimana halnya larangan dalam
mengerjakan haji

3. Miqat umrah
Seperti halnya dalam ibadah haji, dalam ibadah umrahnya terdapat miqat maqani yang
pada prinsipnya sama dengan miqat makani untuk haji,yaitu tempat memulai ihram
sebagaimana telah diuraikan di atas.

4.Larangan dalam ibadah umrah


Karena umrah merupakan ibadah yang khusus dikerjakan di tanah suci Mekah, maka
larangan-larangan yang terdapat pada ibadah haji berlaku juga dalam umrah.
5. Tata urutan (praktik) pelaksanaan umrah
Melakukan ihram dengan niat umrah dari miqat makani yang telah di tentukan, sebelumm
berihram ada beberapa ha yang perlu dilakukan:
i. Memotong kuku, mencukur kumis, mencabut bulu ketiak, mandi, menyisir rambut
dan merapikan jenggot.
ii. Memakai mwangi-wangian.
iii. Mengganti pakaian biasa dengan pakaian ihram.
iv.Mengerjakan shalat sunah dua rakaat.
Setelah melakukan hal-hal tersebut di atasbarulah memulai dengann mengucapkan niat:

Artinya:
“Ya Allah aku penuhi panggilanMu untuk menunaikan ibadah umrah”.
 Masuk ke Masjidil Haram untuk melakukan tawaf sebanyak tujuh kali sekali putaran,
yang di mulai dari sudut hajar aswad dan berakhir di sana pula.
 Selesai tawaf, dilanjutkan dengan sa’i antara bukit Safa dan Marwah, perjalanan dari
bukit safa dan marwah di hitung satu kali, sa’i dilakukan sebanyak tujuh kali dan
berakhir di bukit marwah. Setiap sampai di dua bukit tersebut, kita berhenti sejenak
untuk memanjatkan do’a sambil menghadap ke ka’bah.
 Selesai sa’i dilanjutkan tahallul. Dengan demikian bebaslah kita dari segala larangan
ihram. Tahallul juga menandai selesainya pelaksanaan umrah

4. Perbedaan haji dan umrah


 Haji dilaksanakan pada bulan-bulan tertentu, yaitu syawal, zulkaidah dan zulhijjah.
Sedangkan umrah waktunya tidak di tentukan boleh di laksanakan sewaktu-waktu.
 Dalam ibadah haji ada perintah hukum di padang Arafah sedangkan dalam ibadah umrah
tidak ada rukun wukuf di padang Arafah.
 Dalam ibadah haji ada dua kali tahallul, yaitu tahallul pertama tahallul soghir dan tahallul
kedua adalah tahallul akbar. Sedangkan dalam umrah cukup dengan sekali tahallul saja.

III. PENGERTIAN QURBAN

14
1. Pengertian qurban

Menurut bahasa, kurban berarti mendekatkan diri dengan Allah. Sedangkan menurut
istilah , kurban adalah menyembelih hewan pada hari raya Idul Adha dan hari Tasyrik, yaitu
tanggal 11,12, dan13 Zulhijjah dengan maksud beribadah kepada Allah SWT.

2. Hukum qurban
Sebagian ulama berpendapat bahwa kurban itu wajib, dan sebagian lain berpendapat
sunat.
Alasan berpendapat wajib: Firman Allah SWT dalam surah Al-kautsar :1-2
   
   
Yang artinya:
“sesungguhnya kami telah memberikan kamu nikmat yang banyak”(1). “maka dirikanlah
shalat karena Tuhanmu”(2).
Binatang yang sah untuk kurban ialah yang tidak cacat, seperti pincang , kurus, sakit,
putus ekor dan telinganya, dan telah beumur sebagai berikut :
1. Domba (Dha’ni) yang telah berumur satu tahun atau sudah berganti giginya.
2. Kambing yang telah berumur dua tahun lebih atau sudah berganti giginya.
3. Unta yang telah berumur lima tahun labih.
4. Sapi, Kerbau yang telah berumur dua tahun lebih.
Seekor kambing atau domba hanya untuk kurban satu orang, diqiaskan dengan denda
meninggalkan wajib haji, tetapi seekor unta, sapi, kerbau, boleh buat kurban tujuh orang.

3. Waktu menyembelih qurban


Waktu menyembelih kurban mulai dari terbit matahari pada hari raya Idul Adha
pertama sampai terbenam matahari pada hari tasyrik yang ke-3.
Yang dimaksud dimaksud shalat hari raya dalam hadis ialah waktunya, bukan shalatnya,
karena mengerjakan shalat tidak menjadi syarat kurban.

4. Nadzar qurban
Apabila seorang bernadzar akan menyembelih kurban , karna itu talah menjadi wajib
baginya atas kurban sebagaimana nadzar-nadzar yang lain, dan dia wajib menyedekahkan
semuanya, dan tidak boleh ia memakan daging tersebut walaupun kulitnya.

5. Qurban sunat
Pokok yang dimaksud dengan kurban ialah untuk mengembirakan fakir miskin di hari
raya Idul Adha sebagaimana di hari raya idul fitri mereka digembrakrn dengan zakat fitrah.
Maka oleh karenanya, daging kurban yang sunat hendaklah disedekahkan terkecuali sedikit
dimakan oeh yang berkurban. Kurban tidak boleh dijual walau kulitnya sekalipun
Firman Allah dalam surah Al-Hajj:28
  
   
   
  
   
 
 

15
Yang artinya:
“supaya mereka menyaksikan berbagai manfaat bagi mereka dan supaya mereka menyebut
nama Allah pada hari yang telah ditentukan atas rezeki yang Allah telah berikan kepada
mereka berupa binatang ternak. Maka makanlah sebahagian daripadanya dan (sebahagian
lagi) berikanlah untuk dimakan orang-orang yang sengsara lagi fakir”(28).

6. Cara penyembelihan
Cara penyembelihan binatang dapat dilakukan dengan cara tradisional atau moderen.
Penyembelihan secara tradisional adalah penyembelihan yang biasa dilakukan oleh
masyarakat dengan mempergunaan alat sederhana seperti pisau yang tajam. Biasanya dalam
penyembelihan tradisional jumlah binatanag yang di sembelih sangat sedikit dan hanya untuk
di konsumsi kalangan terbatas. Sedangkan penyembelihan secara moderen adalah
penyembelihan dengan cara menggunakan mesin dan alat-alat moderen. Dan alangkah
baiknya menyembelih hewan baik qurban maupun akikah atau yang lainnya harus dengan
cara sebagai berikut:
 Orang yang menyembelih
 Beragama islam atau ahli kitab
 Menyebut nama Allah SWT
 Baligh dan berakal sehat
 Mumayiz

 Binatang yang disembelih
 Merupakan binatang yang halal
 Masih dalam keadaan hidup
 Tidak cacat
 Alat yang digunakan:
 Tajam dan dapat melukai atau tidak tumpul
 Terbuat dari batu, bambu, besi dan benda logam lainnya
 Benda tersebut tidak terbuat dari kuku, gigi, dan tulang

16
BAB III
PENUTUP
1. Kesimpulan
 Ternya haji dan umrah merupakan ibadah yang multidimensi, artinya selalu dapat di
temukan hikmah dan mamfaatnya dari berbagai segi.
 Dan ibadah haji dalam pelaksanaannya memerlukan kerja fisik yang prima karena
diperlukan fisik yang sehat, pada dasarnya ibadah haji dan umrah merupakan perjalanan
spiritual atau rohani.
 Menasik haji juga penuh makna-makna yang terkait dengan rohani. Karna itu, tidak ada
bekal yang paling baik bagi orang yang melaksanakan haji dan umrah kecuali bekal
ketaqwaanya. Dan ibadah haji wajib dilaksanakan oleh orang-orang yang mampu.
 Sebagaimana ibadah yang lain, kurban maupun aqiqah juga bukan badah yang tidak
memiliki makna atau mamfaat untuk kehidupan sehari-hari seperti mendidik anak
diperlukan kesungguhan dan kesabaran, semangat berkurban dan kesetiakawanan sosial
juga untuk giat berusaha.

2. Saran
 Seharusnya masyarakat yang melaksanakan haji dan umrah wajib mematuhi syarat-syarat
dan rukun yag telah di tetapkan.
 Kepada pemerintah diharapkan fasilitas-fasilitas untuk jamaah haji dan umrah sangat
diperhatikan karena ketidaknyamanan tersebut sangat berpengaruh terhadap jamaah.
Sebaiknya bagi orangtua yang mampu mengakikah anaknya lebih baik dilaksanakan pada
hari ketujuh sesudah kelahiran.
Alangkah baiknya bagi yang mampu berkurban berkurbanlah kalian.

17
Daftar Pustaka

Muslih Muhammad. 2007. Fiqih untuk siswa kelas 1 SMA/MA. Bogor: Yudhistira
Giyono, dkk. 2008. LKS Fiqih untuk MTs kelas VIII. Jawa Tengah: CV. Sindunata
Rasyid H. Sulaiman. 1992. Fiqh Islam (hukum fiqh lengkap). Bandung: Penerbit Sinar Baru
http://haditsarbain.wordpress.com/2007/06/09/hadits-1-ikhlas/
http://hmjmduinbdg.blogspot.com/2011/04/makalah-haji-dan-umrah.html
http://hadirukiyah2.blogspot.com/2009/09/q-s-al-baqarah-ayat-196-197-tentang.html
http://www.jurnalhaji.com/pernik-haji/hikmah-menunaikan-ibadah-haji-dan-umrah-1.html
http://www.sigalayan-multazam.blogspot.com
http://qultummedia.com/Kabar-Qultum/Review-Buku/cara-mudah-dan-selamat-pergi-haji-
dan- umrah.html
http://qultummedia.com/Kabar-Qultum/Review-Buku/mudah-dan-praktis-melaksanakan-haji-
dan-umrah.html

18