Anda di halaman 1dari 24

1

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Farmasi adalah ilmu yang mempelajari cara membuat, mencampur,
meracik formulasi obat, indentifikasi, kombinasi, analisis dan
standardisasi/pembakuan obat serta pengobatan, termaksud pula sifat-sifat
obat dan distribusinya serta penggunanya yang aman. Farmasi dalam
bahasa Yunani disebut Farmakon yaitu medika atau obat (Syamsuni,
2006).
Sejalan dengan perkembangan ilmu pengetahuan, ilmu farmasi pun
mengalami perkembangan hingga terpecah menjadi yang lebih khusus
tetapi saling berkaitan, antara farmakologi, farmakognosi, galenika dan
kimia farmasi. Kimia farmasi adalah ilmu yang mempelajari tentang kimia
obat yang berhubungan dengan zat anorganik maupun organik, baik untuk
tujuan pengobatan analisis atau pemeriksaan dan pembakuan (Syamsuni,
2006).
Kimia Farmasi Analisis merupakan penggunaan sejumlah tehnik dan
metode untuk memperoleh aspek kualitatif, kuantitatif, dan informsi
struktur dari suatu senyawa obat pada khususnya dan bahan kimia pada
umumnya. Faktor pendorongnya praktikum analisis kualitatif ini dilakukan
karena praktikan harus mengetahui dan mengenal cara-cara analisis
kualitatif. Praktikum diperlukan untuk mendukung pengetahuan farmasis
tentang analisa kualitatif, selain pengetahuan teori. Perlunya diadakan
pengenalan terhadap dasar-dasar dalam malakukan analisa pada kegiatan-
kegiatan praktikum di farmasi. Kita dapat lebih mengenal sifat-sifatnya
dan cara-cara analisanya dengan bantuan praktikum.
Pengetahuan tentang analisa ini akan memberi manfaat kedepan
untuk mengetahui seberapa aman senuah produk yang digunakan, apakah
mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagikesehatan manusia.
Perlunya diadakan pengenalan terhadap anion sebagai dasar dalam
malakukan analisa pada kegiatan-kegiatan praktikum di farmasi. Kita

1
2

dapat lebih mengenal sifat-sifatnya dan cara-cara analisanya dengan


bantuan praktikum. Dalam hal ini pemeriksaan atau pemisahan senyawa
kation dan anion merupakan salah satu cara analisis kualitatif. Dengan
memakai reagensia golongan secara sistematik, dapat ditetapkan
keberadaan suatu kation maupun anion.
Pengetahuan tentang analisa ini akan memberi manfaat ke depan
untuk mengetahui seberapa aman sebuah produk digunakan, apakah
mengandung bahan-bahan yang berbahaya bagi kesehatan manusia.
Berdasarkan hal di atas maka perlu dilakukan praktikum mengenai analisis
anion dan kation.
1.2. Maksud dan Tujuan Percobaan
I.2.1 Maksud Percobaan
Mengetahui dan memahami tehnik analisis senyawa kation dan
anion pada sampel.
I.2.2 Tujuan Percobaan
Menentukan adanya kation dan anion pada suatu sampel.
I.2.3 Prinsip Percobaan
Adapun prinsip percobaan dari praktikum adalah uji kation dan
anion ini yaitu pengidentifikasian anion dan kation berdasarkan analisis
kualitatif pada larutan-larutan kimia tertentu sampel direaksikan dengan
menambahkan reagen dan dilihat adanya perubahan warna dan endapan.
3

BAB 2
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Dasar teori
Analisis kualitatif merupakan suatu proses dalam mendeteksi
keberadaan suatu unsur kimia dalam cuplikan yang tidak diketahui.
Analisa kualitatif merupakan salah satu cara yang paling efektif untuk
mempelajari kimia dan unsur-unsur serta ion-ionnya dalam larutan. Dalam
metode analisis kualitatif kita menggunakan beberapa pereaksi diantaranya
pereaksi golongan dan pereaksi spesifik, kedua pereaksi ini dilakukan
untuk mengetahui jenis anion atau kation suatu larutan. Regensia golongan
yang dipakai untuk klasifikasi kation yang paling umum adalah asam
klorida, hidrogen sulfida, ammonium sulfida, dan amonium
karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah suatu kation bereaksi
dengan reagensia-reagensia ini dengan membentuk endapan atau tidak.
Sedangkan metode yang digunakan dalam anion tidak sesistematik kation.
Namun skema yang digunakan bukanlah skema yang kaku, karena anion
termasuk dalam lebih dari satu golongan (Keenan, 1999).
2.1.1 Anion
Anion merupakan ion yang muatan totalnya negatif akibat adanya
kenaikan jumlah elektron. Misalnya : atom klorin (Cl) dapat memperoleh
tambahan satu elektron untuk mendapat ion klorida (Cl-). Natrium klorida
(NaCl), yang dikenal sebagai garam dapur, disebut senyawa ionik (ionik
compound) karena dibentuk dari kation dan anion. Atom dapat kehilangan
atau memperoleh lebih dari satu elektron (ismail besari, 1982).
Reaksi identifikasi yang lebih sederhana dikenal sebagai reaksi
spesifik untuk golongan tertentu. Reaksi golongan untuk anion golongan
III adalah AgNO3 yang hasilnya adalah endapan coklat merah bata (Ismail
Besari, 1982). Pada anion, istilah yang perlu dipakai adalah gugus lain
yang terikat pada ion logam, yang dikelompokkan sebagai berikut :
1. Anion sederhana seperti O2, F2, CN
2. Anion okso diskret seperti NO3- dan SO

3
4

3. Anion polimer okso seperti silikat atau fosfat kondensi.


Anion kompleks halida seperti anion kompleks berbasa banyak
seperti oksalat misalnya (CO(C2O4)3)3- dan anion oksa dari oksigen
(Ismail Besari, 1982). Pengujian anion dilakukan setelah uji kation.
Pengujian terhadap anion relatif lebih sederhana karena gangguan-
gangguan dari ion-ion lain yang ada dalam larutan minimal (dapat
diabaikan). Pada umumnya anion-anion dapat digolongkan sebagai berikut
:
1. Golongan sulfat:
SO4, SO3, PO4, Cr2O, BO3, Cr2O4, ASO4, ASO3. Anion-anion ini
mengendap dengan Ba2+ dalam suasana basa.
2. Golongan halida:
Cl-, Br-, I, S2-
Anion golongan ini mengendap dengan Ag+ dalam larutan asam
(HNO3).
3. Golongan nitrat :
NO3-, NO2-,C2H3O2-.
Semua garam dari golongan ini larut. NO3-, NO2-, CH3OO-.
2.1.2 Kation
Kation adalah ion bermuatan positif yang terbentuk ketika sebuah
atom kehilangan satu atau lebih elektron selama reaksi kimia. Ini memiliki
muatan listrik positif, karena memiliki lebih banyak proton daripada
elektron, dan akan tertarik kepada anion, yang memiliki muatan negatif.
Kation adalah ion bermuatan positif yang terbentuk ketika sebuah atom
kehilangan satu atau lebih elektron selama reaksi kimia (keenan, 1984).
Untuk tujuan analisis kualitatif sistematik kation-kation
diklasifikasikan dalam lima golongan berdasarkan sifat-sifat kation itu
terhadap beberapa reagensia. Dengan memakai apa yang disebut reagensia
golongan secara spesifik, dapat kita tetapkan ada tidaknya golongan-
golongan kation, dan dapat juga memisahkan golongan-golongan ini
dengan pemeriksaan lebih lanjut. Selain merupakan cara yang tradisional
5

untuk menyajikan bahan, urut-urutan ini juga memudahkan dalam


mempelajari reaksi-reaksi. Reagensia golongan yang dipakai untuk
klasifikasi kation yang paling umum adalah asam klorida, hidrogen
sulfida, dan amonium karbonat. Klasifikasi ini didasarkan atas apakah
suatu kation bereaksi dengan reagensia-reagensia ini dengan membentuk
endapan atau tidak. Jadi boleh kita katakan bahwa klasifikasi kation yang
paling umum, didasarkan atas perbedaan kelarutan klorida, sulfida, dan
karbonat dari kation tersebut (Vogel, 1985).
Dalam analisa kualitatif cara memisahkan ion logam tertentu harus
mengikuti prosedur kerja yang khas. Zat yang diselidiki harus disiapkan
atau diubah dalam bentuk suatu larutan. Untuk zat padat kita harus
memilih pelarut yang cocok. Ion-ion pada golongan-golongan diendapkan
satu per satu, endapan dipisahkan dari larutan dengan cara disaring atau
diputar dengan centrifuga. Endapan dicuci untuk membebaskan dari
larutan pokok atau filtrat dan tiap-tiap logam yang mungkin akan
dipisahkan (Cokrosarjiwanto,1977).
Kation-kation golongan I adalah kation-kation yang akan
mengendap bila ditambahkan dengan asam klorida(HCl). Yaitu Ag+, Pb²,
dan Hg²+yang akan mengendap sebagai campuran AgCl, HgCl2, dan
PbCl2. Pengendapan ion-ion golongan I harus pada temperatur kamar atau
lebih rendah karena PbCl2 terlalu mudah larut dalam air panas. Juga harus
dijaga agar asam klorida tidak terlalu banyak ditambahkan. Dalam larutan
HCl pekat, AgCl dan PbCl2 melarut, karena Ag+ dan Pb²+ membentuk
kompleksi dapat larut (Keenan,1984).
Kation golongan II tidak bereaksi dengan asam klorida, tetapi
membentuk endapan dengan hidrogen sulfide dalam suasana asam mineral
encer. Ion-ion golongan ini adalah Merkurium (II), Tembaga, Bismut,
Kadnium, Arsenik (II), Arsenik (V), Stibium (III), Stibium (V), Timah (II),
Timah (III), dan Timah (IV). Keempat ion yang pertama merupakan sub
golongan 2A dan keenam yang terakhir sub golongan 2B. Sementara
6

sulfida dari kation dalam golongan 2A tak dapat larut dalam amonium
polisulfida. Sulfida dari kation dalam golongan 2B justru dapat larut.
Kation golongan III tidak bereaksi dengan asam klorida encer
ataupun dengan hidrogen sulfida dalam suasana asam mineral encer.
Namun, kation ini membentuk endapan dengan amonium sulfida dalam
suasana netral atau amoniak. Kation-kation golongan ini adalah Cobalt
(II), Nikel (II), Besi (II), Besi (III), Aluminium, Zink, dan Mangan (II).
Kation golongan IV tidak bereaksi dengan reagensia golongan I, II,
dan III. Kation-kation ini membentuk endapan dengan amonium karbonat
dengan adanya amonium klorida, dalam suasana netral atau sedikit asam.
Kation-kation golongan ini adalah Kalsium, Strontium, dan Barium.
Kation-kation golongan V merupakan kation-kation yang umum
tidak bereaksi dengan reagensia golongan sebulumnya. Yang termasuk
anggota golongan ini adalah ion-ion Magnesium, Natrium, Kalium,
Amonium, Litium, dan Hidrogen (Vogel,1985).

II.2 Uraian Bahan

1. Asam Sulfat (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi : Acidum sulfuricum
Nama lain : Asam sulfat
Rumus molekul : H2SO4
Berat molekul : 98,07 gr/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Cairan jernih, seperti minyak, tidak berwarna, bau


sangat tajam
Kelarutan : Bercampur dengan air dan dengan etanol
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai reagen
7

2. Natrium Klorida (Dirjen POM, 1979)


Nama resmi : Natrii Chloridum
Nama lain : Natrium klorida
Rumus molekul : NaCI
Berat molekul : 58,44 gr/mol
Rumus struktur :

Na-Cl
Pemerian : Habur heksahedral. Tidak berwarna atau serbuk
halus putih, tidak Berbau dan rasa asin.
Kelarutan : Larut dalam 2,8 bagian air, dalam 2,7 bagian air
mendidih dan Lebih kurang dalam 10 bagian
gliserol, sukar larut dalam etanol 95%P.
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pereaksi
3. Asam Klorida(Dirjen,POM 1979)
Nama resmi : Acidum hydrochloridum
Nama lain : Asam klorida
Rumus molekul : HCI
Berat molekul : 36,46 gr/mol
Rumus struktur :

H-Cl
Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang,
jika diencerkan dengan 2 bagian air asap dan bau
hilang
Kelarutan : Larutan yang sangat encer masih bereaksi dengan
asam kuat

Terhadap kertas lakmus

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat


Kegunaan : Sebagai zat tambahan
8

4. Perak Nitrat (Dirjen,POM 1979)


Nama resmi : Argenti Nitras
Nama lain : Perak nitrat
Rumus molekul : AgNO3
Berat molekul : 169,87 gr/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Hablur transparan atau serbuk hablur berwarna


putih,tidak Berbau, menjadi gelap jika kena cahaya
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air, larut etanol (95%)
Penyimpanan : Dalam Wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pereaksi
5. Natrium Hidroksida (Dirjen,POM 1979)
Nama resmi : Natrii Hydroxydum
Nama lain : Natrium hidroksida
Rumus molekul : NaOH
Berat molekul : 40,00 gr/mol
Rumus struktur :

Na-OH
Pemerian : Bentuk batang, butiran, massa hablur atau keping,
kering, mudah Meleleh basah, sangat alkalis dan
korosif, segera menyerap Karbondioksida
Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air dan etanol (95%)
Kegunaan : Sebagai Pereaksi
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup baik
6. Kalium Iodida (Dirjen,POM 1979)
Nama resmi : Kalii Iodidum
Nama lain : Kalium iodida
9

Rumus molekul : KI
Berat molekul : 166,0 gr/mol
Rumus struktur :

K-I
Pemerian : Hablur, heksa hidral, transparan atau tidak
berwarna, opak dan putih, atau serbuk putih,
higroskopik
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Sebagai pembanding dalam reaksi
7. Kaliu Kromat (Dirjen,POM 1979)
Nama Resmi : Kalium Kromat
Nama lain : kalium kromat
Rumus molekul : K2CrO4
Berat molekul : 194,1902 gr/mol
Rumus struktur :

Pemerian : Massa hablur kuning


Kelaruan : Sangat mudah larut dalam air jernih
Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat
Kegunaan : Reaktan dalam metatis
10

BAB III
METODE PERCOBAAN

III.1 Waktu Dan Tempat


Praktikum Kimia Farmasi dilaksanakan pada hari Senin tanggal 23
Oktober tahun 2017. Pada pukul 10.30 WITA yang bertempat di
Laboratorium Kimia Farmasi, Jurusan Farmasi, Fakultas Olahraga dan
Kesehatan, Universitas Negeri Gorontalo.
III.1.1 Alat dan Bahan
III.1.1 Alat
No. Nama Gambar

1. Pembakar bunsen

2. Labu erlenmeyer

3. Penjepit

Pipet
4.

10
11

5. Tabung reaksi

III.1.2 Bahan
No. Nama Gambar

1. Alkohol 70%

2. Asam Sulfat

3. AgNO3

4. CuSO4
12

5. K2CrO4

5. Kalium Iodida

6. NaCl

7 NaOH

6. Tissu
13

III.2 Cara Kerja


III.2.1 Penentuan Kation
a. Identifikasi Ag+ dengan reagen NaOH
1. Dimasukan AgNO3 kedalam dua tabung reaksi yang berbeda
2. Diteteskan NaOH kedalam tabung reaksi yang berisi AgNO3 sampai
terbentuk endapan cokelat (endapan perak hidroksida (AgNO3 +
NaOH )
3. Ditunggu sampai terjadi endapan berwarna cokelat
b. Identifikasi Ag+ dengan reagen HCl
1. Dimasukan HCl kedalam tabung reaksi yang kedua yang berisi
larutan AgNO3 sampai terbentuk endapan putih (AgNO3 + HCl).
2. Dimasukan larutan NaCl kedalam tabung reaksi yang ketiga
3. Ditetesi larutan AgNO3 sampai terbentuk endapan putih
III.2.2 Penentuan Anion
a. Identifikasi K2CrO4 dengan reagen H2SO4
1. Dimasukan kalium kromat kedalam tabung reaksi
2. Direaksikan kalium kromat dengan H2SO4 sampai terjadi perubahan
warna dari kuning menjadi jingga
3. Dimasukan CuSO4 kedalam tabung reaksi dan direaksikan dengan
kalium kromat sampai terjadi perubahan warna menjadi kuning
kecoklatan
4. Dimasukan kalium iodida kedalam tabung reaksi dan direaksikan
dengan CuSO4 sampai terjadi perubahan warna
5. Didiamkan sampai terbentuk endapan
b. Identifikasi CuSO4 dengan reagen K2CrO4
1. Dimasukan kalium kromat kedalam tabung reaksi
2. Direaksikan kalium kromat dengan H2SO4 sampai terjadi perubahan
warna dari kuning menjadi jingga
3. Dimasukan CuSO4 kedalam tabung reaksi dan direaksikan dengan
kalium kromat sampai terjadi perubahan warna menjadi kuning
kecoklatan.
14

4. Dimasukan kalium iodida kedalam tabung reaksi dan direaksikan


dengan CuSO4 sampai terjadi perubahan warna
5. Didiamkan sampai terbentuk endapan
b. Identifikasi CuSO4 dengan reagen KI
1. Dimasukan kalium kromat kedalam tabung reaksi
2. Direaksikan kalium kromat dengan H2SO4 sampai terjadi perubahan
warna dari kuning menjadi jingga
3. Dimasukan CuSO4 kedalam tabung reaksi dan direaksikan dengan
kalium kromat sampai terjadi perubahan warna menjadi kuning
kecoklatan
4. Dimasukan kalium iodida kedalam tabung reaksi dan direaksikan
dengan CuSO4 sampai terjadi perubahan warna
5. Didiamkan sampai terbentuk endapan
15

BAB IV
HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN
IV.1 Hasil Pengamatan

Hasil
No Prosedur Gambar
pengamatan

1 Kation Golongan I, Ag+


AgNO3+NaCl→AgCl+NaNO3 Endapan
putih

2 AgNO3+NaOH→AgOH+NaNO3 Endapan
cokelat

IV.2 Pembahasan
Kimia analisis secara garis besar dibagi dalam dua bidang yang
disebut analisis kualitatif dan analisis kuantitatif. Analisis kualitatif
membahas identifikasi zat-zat. Urusannya adalah unsur atau senyawaan
apa yang terdapat dalam suatu sampel atau contoh. Pada pokoknya tujuan
analisis kualitatif adalah memisahkan dan mengidentifikasi sejumlah unsur
Analisis kuantitatif berurusan dengan penetapan banyak suatu zat tertentu
yang ada dalam sampel atau contoh (Underwood,1986).
Dalam percobaan kali ini kami melakukan analisis kualitatif
terhadap senyawa golongan anion dan kation.
IV.2.1 Analisis Kation
Pada percobaan kali ini, kami menganalisis kation yang termasuk
dalam golongan I yaitu Ag+. Hal pertama yang dilakukan adalah
membersihakan alat dan bahan yang digunakan menggunakan alkohol

15
16

70%, karena menurut Salim (2013), berguna agar menghilangkan semua


jenis organisme hidup yang terdapat dalam alat yang akan digunakan.
AgNO3 0,1N dipipet 2 tetes kedalam tabung reaksi, kemudian
ditambahkan ke dalam tabung reaksi yang berisi larutan garam dapur
(NaCl), menghasilkan endapan putih dari senyawa AgCl. Penambahan
NaCl berfungsi untuk mempercepat adanya endapan karena Ag (perak)
tidak dapat larut dengan NaCl. Menurut G. Svehla (1985), kation
golongan I akan membentuk endapan dengan asam klorida encer.
Sehingga, terbentuk reaksi antara larutan AgNO3 dengan larutan NaCl
yaitu : AgNO3+NaCl→AgCl+NaNO3.
Percobaan selanjutnya direaksikan antara larutan AgNO3 dengan
larutan NaOH. AgNO3 0,1 N dipipet 2 tetes kedalam tabung reaksi,
kemudian ditambahkan kedalam tabung reaksi yang berisi larutan NaOH
dan menghasilkan endapan cokelat yang tidak dapat larut dalam reagenesia
berlebihan namun akan melarut dalam larutan amonia dan asam nitrat.
17

BAB V
PENUTUP
V.1 Kesimpulan
Berdasarkan dari hasil praktikum pada analisis Ag+ setelah
direaksikan menghasilkan endapan putih yang berarti senyawa tersebut
mengandung gugus kation. Pada analisis selanjutnya setelah direaksikan
suatu senyawa dengan menggunakan reagen CuSO4 sampel pertama
menghasilkan endapan coklat dan berwarna putih sedangkan pada reaksi
kedua menghasilkan endapan kuning tua, dan pada reaksi ketiga terjadi
perubahan warna dari kuning menjadi jingga yang berarti ketiga senyawa
tersebut mengandung gugus anion.
V.2 Saran
V.2.1 Laboratorium
Untuk laboratorium, kami harap agar lebih dapat melengkapi alat dan
bahan yang akan digunakan pada saat praktikum
V.2.2 Asisten
Untuk asisten kami harap dapat lebih memperhatikan praktikan agar
dalam melakukan praktikum, praktikan lebih mengerti

17
18

DAFTAR PUSTAKA

Besari, Ismail, dkk. (1982). Kimia Organik untuk Universitas Edisi I. Bandung:
Armiko bandung.
Dirjen POM. 1979. Farmakope Indonesia Edisi III. Jakarta: Departemen
Kesehatan Republik Indonesia
Cokrosarjiwanto. 1997. Kimia Analitik Kualitatif I. Yogyakarta : UNY Press.

Vogel. 1985. Buku Teks Analisis Anorganik Kualitatif Makro dan Semi Mikro.
Jakarta: PT. Kalman Pusaka.
Keenan, dkk. 1984. Kimia Untuk Universitas. Jakarta : Erlangga.

Keenan, W. Kleinfelter. 1999, Kimia Untuk Universitas, Erlangga, Jakarta

Syamuni. 2006. Ilmu Resep. Jakarta: Penerbit Buku Kedokteran EGC


19

DIAGRAM ALIR

1. Analisis Kation
AgNO3

- Disiapkan tabung reaksi


- Dimasukkan beberapa tetes AgNO3 pada tabung pertama
- Ditambahkan beberapa tetes larutan NaOH pada tabung reaksi

Endapan coklat
(+ Ag)

AgNO3

- Disiapkan tabung reaksi


- Dimasukkan beberapa tetes sampel larutan HCl dalam
tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes AgNO3
Endapan putih (+ Ag)

Ag+

- Disiapkan tabung reaksi


- Dimasukkan beberapa tetes sampel larutan HCl dalam
tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes NaCl
Endapan putih (+ Ag)
20

2. Analisis Anion
I

- Disiapkan tabung reaksi


- Dimasukkan beberapa tetes KI ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes larutan H2SO4

Perubahan warna dari


kuning menjadi jingga

Cu+

- Disiapkan tabung reaksi


- Dimasukkan beberapa tetes CuSO4 ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes larutan KI

Kuning kecoklatan

Cu+

- Disiapkan tabung reaksi


- Dimasukkan beberapa tetes KI ke dalam tabung reaksi
- Ditambahkan beberapa tetes larutan CuSO4
Endapan
21

SKEMA KERJA

Gambar Skema Kerja


II.1 Kation

Dimasukkan AgNO3
Dibersihkan alat dengan
kedalam tabung reaksi
alkohol 70 %
yang berbeda

Dimasukkan HcL
kedalam tabung reaksi
Diteteskan NaOH
kedalam tabung reaksi yang kedua yang berisi
yang bersisi larutan larutan AgNO3 sampai
AgNO3 sampai
terbentuk endapan terbentuk endapan
coklat. putih
22

Ditetesi larutan
Dimasukkan larutan AgNO3 sampai
NaCL kedalam tabung terbentuk endapan
reaksi yang ketiga
putih
23

II.2 Anion

Dimasukkan KcrO4
Dibersihkan alat
kedalam tabung reaksi
dengan alkohol 70 %

Dimasukkan CuSO4
kedalam tabung reaksi
Direaksikan KcrO4 dan direaksikan
dengan H2SO4 sampai
terjadi perubahan dengan KcrO4 sampai
warna dari kuning terjadi perubahan
menjadi jingga
warna menjadi kuning
kecoklatan
24

Dimasukkan KI
kedalam tabung reaksi Didiamkan sampai
dan direaksikan
dengan CuSO4 sampai terjadi endapan.
terjadi perubahan
warna