Anda di halaman 1dari 27

BLOK KEDOKTERAN KOMUNITAS

WRAP UP
SKENARIO 1
“KEJADIAN PENYAKIT DAN PELAYANAN KESEHATAN MASYARAKAT”

Kelompok B-09

Ketua : Nadhila Adani (1102013196)


Sekretaris : Tetty Prasetya Ayu L (1102013283)
Anggota : Topo Riansa (1102009285)
Ranty Rizky Puspadewi (1102012226)
Nidya Annisa Putri (1102013211)
Reynaldi Fattah Z (1102013246)
Riesha Amanda F (1102013250)
Satriyo Madipurwo (1102013265)
Trisna Zulia Bahari (1102013290)
Wenny Damayanti (1102013299)

FAKULTAS KEDOKTERAN
UNIVERSITAS YARSI
2014-2015
Jl. Letjen Suprapto, Cempaka Putih, Jakarta 10510
Telp. 62 21 4244574 Fax 62 21 4244574
Skenario 2

Kejadian Penyakit dan Pelayanan Kesehatan Masyarakat

Pada tahun 2011, ditetapkan KLB (Kejadian Luar Biasa) Demam Berdarah Dengue di
Kota Pekanbaru. Pernyataan resmi ini disampaikan pejabat Wali Kota Pekanbaru setelah
mendengar laporan Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekanbaru dalam rapat koordinasi. Pada
bulan Februari tahun 2010 terdapat sebanyak 202 kasus dan bulan Februari tahun 2011
mencapai 450 kasus. Hal ini menunjukkan peningkatan sebesar kurang lebih dua kali lipat
dari periode tahun sebelumnya. IR (Incidence rate) DBD menurut WHO di Indonesia adalah
sebesar < 50 per 100.000 penduduk dengan CFR (Case Fatality Rate) 0,2. Kematian yang
terjadi pada kasus DBD disebabkan masih kurangnya pengetahuan dan pemahaman
masyarakat terhadap gejala DBD. Sering kali pasien datang ke puskesmas dalam stadium
lanjut, dimana terdapat perdarahan spontan dan syok. Pada stadium demam terdapat
kebiasaan masyarakat yang cenderung untuk mengobati diri sendiri dengan cara membaluri
badan dengan bawang merah yang dicampur minyak goreng terlebih dahulu kemudian
membeli obat penurun panas di warung atau took obat. Masyarakat tidak mengerti kalau pada
saat mulai demam harus segera dibawa ke puskesmas.
Karena adanya KLB tersebut, puskesmas melakukan penyelidikan epidemiologi (PE)
ke lapangan untuk mengetahui penyebab terjadinya KLB. Berdasarkan hasil penyelidikan
epidemiologi tersebut, puskesmas melakukan tindakan yang diperlukan untuk
menanggulangi KLB.
Banyaknya penderita DBD di puskesmas membutuhkan obat-obatan dan cairan infuse
bagi pasien yang jumlahnya sangat banyak, sementara persediaan di puskesmas juga terbatas.
Untuk mengatasi hal tersebut, puskesmas melakukan rujukan kesehatan masyarakat ke Dinas
Kesehatan Kota Pekanbaru.
Program penanggulanan DBD yang berjalan seharusnya bukan hanya dikerjakan oleh
puskesmas sendiri secara lintas program, tetapi juga dikerjakan secara lintas sektoral demi
untuk meningkatkan mutu pelayanan. Pada saat yang bersamaan, terjadi ledakan kasus
Campak dalam 3 tahun terakhir selalu berada pada kisaran <50%.
Dalam pertemuan lintas sektoral, tokoh agama juga terlibat dalam ikut urun rembuk
penyelesaian masalah kesehatan di masyarakat. Tokoh agama menyampaikan, bahwa dalam
pandangan Islam menciptakan kemaslahatan insane yang hakiki adalah merupakan salah satu
tujuan syariat Islam dan hukum menjaga kesehatan dan berobat adalah wajib.

2
Kata sulit

1. CFR (Case Fatality Rate) : Presentasi angka kematian yang di sebabkan


penyakit tertentu untuk menentukan sebab keganasan atau kegawatan kasus tersebut
2. KLB (Kejadian Luar Biasa) : Status yang di tegakkan di Indonesia untuk
mengklasifikasikan merebaknya suatu penyakit
3. IR (Incidence Rate) : Frekuensi suatu penyakit baru yang terjangkit
pada masyarakat di suatu tempat/wilayah/negara dalam waktu tertentu
4. PE (Penyelidikan Epidemiologi) : Penyelidikan yang bertujuan utuk mendapatkan
gambaran terhadap suatu masalah kesehatan secara menyeluruh

3
Pertanyaan

1. Mengapa perlu di lakukan penyelidikan epidemiologi?


2. Apa tindakan puskesmas untuk menanggulangi KLB?
3. Kriteria penyakit seperti apa yang di katakan sebagai KLB?
4. Bagaiman cara melakukan penyelidikan epidemiologi?
5. Apa yang di maksud dengan lintas sektoral?
6. Siapa saja yang terlibat dalam lintas sektoral?
7. Bagaimana cara menjaga kesehatan dan adab berobat dalam pandangan islam?
8. Bagaimana penanganan KLB secara agama islam?
9. Bagaiman sistem rujukan pada kasus tersebut?
10. Mengapa masyarakat masih menggunakan pengobatan tradisional?
11. Bagaimana peran tenaga kesehatan terhadap pengobatan tradisional?
12. Bagaimana aspek sosial budaya dalam perilaku pencarian pengobatan?
13. Mengapa kasus campakmasi tinggi pada puskesmas tersebut?

Jawaban

1. – Untuk mengetahui penyebab


- Untuk mencari tahu cara untuk menanggulangi kasus tersebut
- Untuk merumuskan program untun menanggulangi kasus tersebut
2. Melakukan penyeluhan 3M, mengenali gejala-gejala DBD, edukasi penanganan DBD
dengan baik
3. Peningkatan kejadian angka kesakitan dalam tiga kurun waktu tertentu , penyakit
yang belum terjadi di wilayah tersebut terutama pada wilayah yang padat dan terjadi
secara mendadak serta penyakit yang bersifat menular
4. Melakukan survey, pengumupulan data, pengolahan data, pengumpulan hasil dan
penyuluhan
5. Yang terlibat dalam penanganan bukan hanya petugas kesehatan, namun ada pihak
lain, seperti: ketua adat, pemuka agama, tokoh masyarakat, pejabat yang terkait
6. Jawaban digabung dengan no.5
7. Makan makanan yang halal, menjaga kebersihan, berobat hukumnya wajib, menjaga
organ tubuh dengan baik dan selalu husnuzon
8. Berdasarkan cerita Nabi Ayub A.S beliau di berikan kesabaran atas penyakit yang
dideritanya
9. Puskesmas  RSUD  RS Pusat
10. Karena pengetahuan masyarakat kurang, akses ke pelayanan kesehatan jauh, pengaruh
budaya, ekonomi
11. Penyuluhan bagaimana tentang obat tradisional dan kapan harus di rujuk ke RS
apabila tidak ada respon dari obat tradisional tersebut
12. Kepercayaan turun menurun, harga ekonomis dan mudah di dapat
13. Karena program imunisasi kurang berjalan dengan lancar dan pegetahuan masyarakat
tentang imunisasi masih kuang.

4
HIPOTESIS

Ada beberapa faktor dan beberapa kriteria penyakit yang dapat dikatakan sebagai
KLB yaitu, peningkatan kejadian angka kesakitan dalam tiga kurun waktu tertentu , penyakit
menular yang belum terjadi di wilayah tersebut, penyakit yang terjadi secara mendadak serta
aspek sosial budaya dalam pemilihan terapi yang menggunakan pengobatan obat tradisional.
Terdapat beberapa cara untuk mengupayakan pencegahan agar tidak terjadi KLB tersebut
yaitu dengan melakukan imunisasi dan memperhatikan aspek kebersihan lainnnya. Setelah
dilaporkan terjadi KLB maka dilakukan penyelidikan epidemiologi dan dilanjutkan dengan
penanganan serta merujuk ke bagian yang ahlinya apabila di perlukan.

5
SASARAN BELAJAR

L.I 1. Memahami dan Menjelaskan KLB wabah penyakit di masyarakat berdasarkan angka
morbitas dan mortalitas

L.I 2. Memahami dan Menjelaskan Penyelidikan Epidemiologi

L.I 3. Memahami dan Menjelaskan Sosial budaya dalam mengakses pelayanan kesehatan di
fasilitas pelayanan kesehatan

L.I 4. Memahami dan Menjelaskan Sistem rujukan kesehatan masyarakat

L.I 5. Memahami dan Menjelaskan Perilaku kesehatn individu dan masyarakat pada
pencarian pengobatn atau “care seeking behaviour”

L.I 6. Memahami dan Menjelaskan Cakupan dan mutu pelayanan kesehatan serta imunisasi

L.I 7. Memahami dan Menjelaskan Hukum menjaga kesehatan dan berobat dalam islam

L.I 8. Memahami dan Menjelaskan Tujuan syariat islam dan konsep KLB

6
L.I 1. Memahami dan Menjelaskan KLB wabah penyakit di masyarakat berdasarkan
angka morbitas dan mortalitas
 Definisi
- Kejadian luar biasa adalah timbulnya atau meningkatnya kejadian kesakitan atau
kematian yang bermakna secara epidemiologis dalam kurun waktu dan daerah
tertentu (Depkes RI,2000).
- Menurut UU : 4 Tahun 1984, kejadian Luar Biasa (KLB) adalah timbulnya atau
meningkatnya kejadian kesakitan/kematian yang bermakna secara epidemiologis
pada suatu daerah dalam kurun waktu tertentu.

 Kriteria
Suatu penyakit dikatakan sebagai kejadian luar biasa apabila memenuhi criteria sebagai
berikut : (Efendi & Makhfudli, 2009)
1. Timbulnya suatu penyakit /kesakitan yang sebelumnya tidak ada/tidak diketahui
2. Peningkatan kejadian penyakit/ kematian terus menerus selama tiga kurun waktu berturut-
turut menurut jenis penyakitnya (jam, hari, bulan, tahun)
3. Peningkatan kejadian penyakit/kematian, dua kali atau lebih dibandingkan dengan
periode sebelumnya ( hari, minggu, bulan, tahun)
4. Jumlah penderita baru dalam satu bulan menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau lebih
bila dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dalam tahun sebelumnya.
5. Angka rata-rata per per bulan dalam satu tahun menunjukkan kenaikan dua kali lipat atau
lebih dibandingkan dengan angka rata-rata per bulan dari tahun sebelumnya.
6. Case Fertility Rate(CFR) dari suatu penyakit dalam satu kurun waktu tertentu
menunjukkan kenaikan 50% atau lebih dibandingkan dengan CFR dari periode
sebelumnya.
7. Propotional Rate (PR) penderita baru dari suatu periode tertentu menunujukkan kenaikan
dua kali atau lebih dibanding periode yang sama dan kurun waktu atau tahun sebelumnya.
8. Beberapa penyakit khusus: kolera, DHF/DSS :
- Setiap peningkatan kasus dari periode sebelumnya (pada daerah endemis)
- Terdapat satu atau lebih penderita baru dimana pada periode 4minggu sebelumnya
daerah tersebut dinyatakan bebas dari penyakit yang bersangkutan.
9. Beberapa penyakit yang dialami oleh satu atau lebih penderita (Keracunan makanan,
keracunan pestisida)

 Klasifikasi
Tiga aspek penyebaran penyakit ini yang perlu dibicarakan adalah masa generasi,
imunitas kelompok, dan secondary attack rate.
a) Masa generasi
Interval waktu penyebaran penyakit dari orang ke orang ditentukan oleh masa generasi,
yakni periode antara terkenanya infeksi oleh seseoarang dan saat penularan paling
maksimal. Pada umumnya masa generasi adalah sama dengan waktu inkubasi yakni
waktu antara terkenanya infeksi dan timbulnya penyakit.( Sutrisna, 1986)
b) Imunitas kelompok (herd immunity)
Imunitas kelompok adalah keadaan dimana sebuah agen infektif tidak dapat masuk atau
menyebar di kalangan suatu kelompok orang atau masyarakat oleh karena sebagian besar
anggota kelompok atau masyarakat imun terhadap penyebab infeksi tersebut. Imunitas
kelompok adalah faktor penting sekali dalam menentukan penyebaran maupun
periodisitas wabah, dapat digambarkan dalam contoh hipotesis sebagai berikut
ini.(Sutrisna, 1986). Sekelompok masyarakat yang berdiam di suatu daerah terpencil,
terserang wabah pertama kali oleh suatu penyakit, katakanlah campak. Mereka yang tidak

7
meninggal akan merupakan orang-orang yang imun terhadap campak. Dua minggu tiga
bulan sesudah wabah berhenti masuklah ke daerah itu beberapa penderita campak. Tetapi
tidak ada orang lain yang terserang, wabah tidak dapat timbul oleh karena sebagian
besar(barangkali juga semua) orang di tempat tersebut imun. Sesudah lima tahun sudah
banyak pula anak yang dilahirkan di daerah itu sehingga katakanlah presentasi mereka
yang imun menurun hingga di kalangan anak-anak di bawah umur 10 tahun hanya 50%
yang imun, seseorang berpenyakit campak yang masuk ked lam wilayah itu dalam fase
sangat menular dapat menyebabkan wabah kedua di daerah itu. Dikatakan bahwa tidak
perlu mempunyai imunitas kelompok tinggi 100% untuk menghentikan atau memberantas
wabah; contoh: 90-95% untuk cacar dan kurang lebih 70% untuk diphtheria.
c) Secondary attack rate; keluarga, rumah tangga, asrama,sekolah, hotel dan tempat tinggal
serupa adalah unit epidemiologi dimana penyakit infeksi mempunyai kecenderungan
untuk menyebar. Kasus yang pertama-tama ditemukan di dalam unit-unit tersebut yang
diketahui oleh keluarga, orang lain, atau petugas kesehatan disebut kasus indeks(‘indeks
case’), dari kasus indeks inilah diselidiki bagaimana terjadi penyebaran kepada lain
anggota keluarga lain anak sekolah, dan seterusnya. Kita sekarang ingin mengetahui
berapa besar attack rate akibat penularan yang disebabkan oelh kasus indeks, yang
disebut Secondary Attack Rate

Menurut Sumber KLB


a) Manusia : jalan napas, tenggorokan, tangan, tinja, air seni,
muntahan, seperti : Salmonella, Shigella, Staphylococus, Streptoccocus,Protozoa,
Virus Hepatitis.
b) Kegiatan manusia : Toxin biologis dan kimia (pembuangan tempe
bongkrek, penyemprotan, pencemaran lingkungan, penangkapan ikan dengan
racun).
c) Binatang seperti : binatang piaraan, ikan, binatang mengerat, contoh :
Leptospira, Salmonella, Vibrio, Cacing dan parasit lainnya, keracunan
ikan/plankton. Serangga (lalat, kecoa, dan sebagainya) misal : Salmonella,
Staphylokok, Streptokok.
d) Udara : Staphyloccoccus, Streptococcus, Virus, pencemaran
udara.
e) Permukaan benda-benda/alat-alat misal : Salmonella.
f) Air, misalnya : Vibrio Cholerae, Salmonella.
g) Makanan/minuman : Keracunan singkong, jamur, makanan dalam kaleng.

 Pengukuran epidemiologi
- ANGKA MORBIDITAS
Angka morbiditas adalah jumlah penderita yang dicatat selama 1 tahun per 1000 jumlah
penduduk pertengahan tahun. Angka ini dapat digunakan untuk menggambarakan keadaan
kesehatan secara umum, mengetahui keberahasilan program program pemberantasan
penyakit, dan sanitasi lingkungan. Secara umum ukuran yang banyak digunakan dalam
menentukan morbiditas adalah angka, rasio, dan pororsi
a) RATE
Rate atau angka merupakan proporsi dalam bentuk khusus perbandingan antara
pembilang dengan penyebut atau kejadian dalam suatu populasi teterntu dengan jumlah
penduduk dalam populasi tersebut dalam batas waktu tertentu. Rate terdiri dari berbagai jenis
ukuran diataranya adalah :
1. Proporsi atau jumlah kelompok individu yang terdapat dalam penduduk suatu wilayah
yang semula tidak sakit dan menjadi sakit dalam kurun waktu tertentu dan pembilang

8
pada proporsi tersebut adalah kasus baru.Tujuan dari Insidence Rate adalah sebagai
berikut
a. Mengukur angka kejadian c. Perbandinagan antara berbagai populasi dengan
penyakit pemaparan yg berbeda
b. Untuk mencari atau mengukur d. Untuk mengukur besarnya risiko yang
faktor kausalitas ditimbulkan oleh determinan tertentu
Rumus:
P= Estimasi incidence rate
𝑑 d= Jumlah incidence (kasus baru)
𝑃 =( )×𝐾 n= Jumlah individu yang semula tidak sakit (
𝑛
population at risk)

2. PR ( Prevalence)
Ukuran prevalensi suatu penyakit dapat digunkan
a. Menggambarkan tingkat keberhasilan program pemberantasan penyakit
b. Untuk penyusunan perencanaan pelayanan kesehatan. Misalnya, penyediaan obat-
obatan, tenaga kesehatan, dan ruangan
c. Menyatakan banyaknya kasus yang dapat di diagnosa
d. Digunakan untuk keperluan administratif lainnya
e. Angka prevalensi dipengaruhi oleh tingginya insidensi dan lamanya sakit. Lamanya
sakit adalah suatu periode mulai dari didiagnosanya suatu penyakit hingga
berakhirnya penyakit teresebut yaitu sembuh, kronis, atau mati

3. PePR (Periode Prevalence Rate)


PePR yaitu perbandingan antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah
penduduk selama 1 periode
Rumus:
𝑃 P = jumlah semua kasus yang dicatat
𝑃𝑒𝑃𝑅 = ( ) × 𝐾 R = jumlah penduduk
𝑅 k = pada saat tertentu

4. PoPR (Point Prevlene Rate)


Point Prevalensi Rate adalah nilai prevalensi pada saat pengamatan yaitu perbandingan
antara jumlah semua kasus yang dicatat dengan jumlah penduduk pada saat tetentu.
Rumus:

P = jumlah semua kasus yang dica


𝑃𝑜 perbandingan antara jumlah semua kasus yang
𝑃𝑜𝑃𝑅 = ( )×𝐾 dicatat tat
𝑅 R = jumlah penduduk
k = pada saat tertentu

Point prevalensi meningkat pada Point prevalensi menurun pada


 Imigrasi penderita  Imigrasi orang sehat
 Emigrasi orang sehat  Emigrasi penderita
 Imigrasi tersangka penderita atau mereka  Meningkatnya angka
dengan risiko tinggi untuk menderita kesembuhan
 Meningkatnya masa sakit  Meningkatnya angka
 Meningkatnya jumlah penderita baru kematian

9
 Menurunnya jumlah penderita
baru
 Masa sakit jadi pendek

5. AR (Attack Rate)
Attack rate adalah andala angaka sinsiden yang terjadi dalam waktu yang singkat
(Liliefeld 1980) atau dengan kata lain jumlah mereka yang rentan dan terserang penyakit
tertentu pada periode tertentu. Attack rate penting pada epidemi progresif yang terjadi
pada unit epidemi yaitu kelompok penduduk yang terdapat pada ruang lingkup terbatas,
seperti asrama, barak, atau keluarga.

b) RASIO
Rasio adalah nilai relatif yang dihasilkan dari perbandingan dua nilai kuantittif yang
pembilangnya tidak merupakan bagian dari penyebut. Contoh:Kejadian Luar Biasa(KLB)
diare sebanyak 30 orang di suatu daerah. 10 diantaranya adalah jenis kelamin pria. Maka
rasio pria terhadap wanitaadalah R=10/20=1/2

c) PROPORSI
Proporsi adalah perbandingan dua nilai kuantitatif yang pembilangnya merupakan bagian
dari penyebut. Penyebaran proporsi adalah suatu penyebaran persentasi yang meliputi
proporsi dari jumlah peristiwa-peristiwa dalam kelompok data yang mengenai masing-
masingkategori atau subkelompok dari kelompok itu.Pada contoh di atas, proporsi pria
terhadap permapuan adalahP= 10/30=1/3

- ANGKA MORTALITAS
a) Case Fatality Rate (CFR) Angka kefatalan kasus
CFR adalah perbandingan antara jumlah kematian terhadap penyakit tertentu yang terjadi
dalam 1 tahun dengan jumlah penduduk yang menderita penyakit tersebut pada tahun yang
samaRumus:

P = Jumlah kematian terhadap penyakit


𝑃 tertentu
𝐶𝐹𝑅 = ( ) × 𝐾
𝑇 T = jumlah penduduk yang menderita penyakit
tersebut pada tahunyang sama

Perhitungan ini dapat digunakan untuk mengetahui tingkat penyakit dengan tingkat kematian
yang tinggi. Rasio ini dapatd ispesifikkan menjadi menurut golongan umur, jenis kelamin,
tingkat pendidikan dan lain-lain

b) Crude Death Rate (CDR) Angka Kematian Kasar


Angka keamtian kasar adalah jumlah angka kematian dicatat selama 1 tahun per 1000
penduduk pada pertengahan tahun yang sama. Disebut kasar karena angka ini dihitung secra
menyeluruh tanpa memperhatikan kelompok-kelompok tertentu di dalam populasi dengan
tingkat kematian yang berbeda-beda. Rumus:

D= jumlah keamtian yang dicata selama 1


𝐷 tahun
𝐶𝐷𝑅 = ( ) × 𝐾
𝑃 P=Jumlah penduduk pada pertengahan tahun
yang sama

10
Manfaat CDR
 Sebagai gambaran status kesehatan masyarakat
 Sebagai gambaran tingkat permasalahan penyakit dalam masyarakat
 Sebagai gambaran kondisi sosial ekonomi
 Sebagai gambaran kondisi lingkungan dan biologis
 Untuk menghitung laju pertumbuhan penduduk

c) Age Spesific Death Rate (ASDR) angka kematian menurut golongan umur
Angka kematian menurut golongan umur adalah perbandingan antara jumlah kematian
yang dicatat selama 1 tahun padas penduduk golongan umur x dengan jumlah penduduk
golongan umur x pada pertengaha n tahun. Rumus:

dx = jumlah kematian yang dicatat selama 1


𝑑𝑥 tahun pada golongan umur x
𝐴𝑆𝐷𝑅 = ( ) × 𝐾
𝑝𝑥 px = jumlah penduduk pada golonga umur x
pada pertengahan tahun yang sama

Manfaat ASDR sebagai berikut:


 untuk mengetahui dan menggambarkan derajat kesahatan masyarakat dengan melihat
kematian tertinggi pada golongan umur
 untuk membandingkan taraf kesehatan masyarakat di bebagai wilayah
 untuk menghitung rata-rata harapan hidup
 Under Five Mortality Rate (UFMR) Angka kematian Balita
d) Angka kematian Balita adalah gabungan antara angka kematian bayi dengan angka
kematian anak umur 1-4 tahun yaitu jumlahkematian balita yang dicatat selam satu tahun
per 1000 penduduk balita pada tahun yang sama. Rumus:

M = Jumlah kematian balita yang dicatat


𝑀
𝑈𝐹𝑀𝑅 = ( ) × 𝐾 selama satu tahun
𝑅
R = Penduduk balita pada tahun yang sama

Angka kematian balita sangat penting untuk mengukur taraf kesehatan masyarakat karena
angka ini merupakan indikator yang sensitif untuk sataus keseahtan bayi dan anak
e) Neonatal Mortality Rate (NMR) Angka Kematian Neonatal
Neonatal adalah bayi yang berumur kurang dari 28 hari. Angka Kematian Neonatal
adalah jumlah kematian bayi yang berumur kurang dari 28 hari yang dicatata selama 1 tahun
per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama. Rumus:

di = Jumlah kematian bayi yang berumur


𝑑𝑖
𝑁𝑀𝑅 = ( ) × 𝐾 kurang dari 28 hari
𝐵 B = Kelahiran hidup pada tahun yang sama

Manfaat dari angka kematian neonatal adalah sebgai berikut;


 untuk mengetahuai tinggi rendahnya perawatan post natal
 Untuk mengetahui program Imuninsasi
 Untuk pertolongan persalina
 untuk mengetahui penyakit infeksi

f) Perinatal Mortality Rate (PMR) angka kematian perinatal

11
Angka kematian perinatal adalah jumlah kematian janin yang dilahirkan pada usia
kehamilan berumur 28 minggu atau lebih ditambah kematian bayi yang berumur kurang dari
7 hari yang dicatat dalam 1 tahun per 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun yang
sama.Rumus:
P = ∑ kematian janin yg dilahirkan pdusia
kehamilan berumur 28 mg
𝑃+𝑀 M =ditambah kematian bayi yang berumur
𝑃𝑀𝑅 = ( )×𝐾
𝑅 kurang dari 7 har
R = 1000 kelahiran kelahiran hidupn pada tahun
yang sama
Manfaat dari angka kematian perinatal adalah untuk menggambarkan keadaan kesehatan
masyarakat terutama kesehatan ibu hamil dan bayi. Faktor yang mempengaruhi tinggnya
PMR adalah sebagai berikut:
a. Banyak bayi dengan berat badan  Penyakit infeksi terutama ISPA
lahir rendah  Pertolongan persalinan
 Status gizi ibu dan bayi
 Keadaan sosial ekonomi

g) Infant Mortality Rate (IMR) Angka Kematian Bayi


Angka Kematian Bayi adalah perbandingan jumlah penduduk yang berumur kurang dari
1 tahun yang diacat selama 1 tahun dengan1000 kelahiran hidup pada tahun yang
sama.Rumus:

d0 = Jumlah penduduk yang berumur kurang


𝑑0 dari 1 tahun
𝐼𝑀𝑅 = ( ) × 𝐾
𝐵 B = Jumlah lahir hidup pada thun yang sama

Manfaat dari perhitungan angka kematian bayi adalah sebagai berikut:


- Untuk mengetahui gambaran tingkat permasalahan kesehatan masyarakat yg
berkaitan dengan faktor penyebab kematian bayi
- Untuk Mengetahui tingkat pelayanan antenatal
- Untuk mengetahui status gizi ibu hamil
- Untuk mengetahui tingkat keberhasilan program kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
dan Program Keluaga berencana (KB)
- untuk mengetahui kondisi lingkungan dan social ekonomi
h) Maternal Mortality Rate (MMR) Angka Kematian Ibu
Angka kematian ibu adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi kehamilan, persalinan,
dan masa nifas yang dicatat selama 1 tahun per 1000 kelahiran hidup pada tahun yang sama.
Rumus:
I = adalah jumlah kematian ibu akibat komplikasi
𝐼
𝑀𝑀𝑅 = ( ) × 𝐾 kehamilan, persalinan, dan masa nifas
𝑇
T = Kelahiran hidup pada tahun yang sama
Tinggi rendahnya angka MMR tergantung kepada:
- Sosial ekonomi - Pelayanan terhadap ibu hamil
- Kesehatan ibu sebellum hamil, - Pertolongan persalinan dan
persalinan, dan masa nasa nifas perawatan masa nifas
 Penanggulangan

12
Penaggulangan KLB Adalah kegiatan yg dilaksanakan utk menangani penderita, mencegah
perluasan KLB, mencegah timbulnya penderita atau kematian baru pada suatu KLB yg
sedang terjadi

Tujuan penanggulangan KLB :


 Mengenal dan mendeteksi sedini mungkin terjadinya KLB
 Melalukan penyelidikan KLB
 Memberikan petunjuk dalam mencari penyebab dan diagnose KLB
 Memberikan petunjuk pengiriman dan penanggulangan KLB
 Mengembangkan sistem pengamatan yang baik dan menyeluruh, dan menyusun
perencanaan yang mantap untuk penanggulangan KLB

Upaya Penanggulangan KLB :


 Penyelidikan epidemiologis
 Pemeriksaan, pengobatan, perawatan dan isolasi penderita termasuk tindakan
karantina
 Pencegahan dan pengendalian
 Pemusnahan penyebab penyakit
 Penanganan jenazah akibat wabah
 Penyuluhan kepada masyarakat

Indikator Program penanggulangan KLB adalah :


 Terselenggaranya system kewaspadaan dini KLB di unit-unit pelayanan wilayan
puskesmas, kabupaten/kota, propinsi dan nasional.
 Deteksi dan respon dini KLB
 Tidak terjadi KLB besar.

Indikator Keberhasilan Penanggulangan KLB :


 Menurunnya frek KLB
 Menurunnya jumlah kasus pada setiap KLB
 Menurunnya jumlah kematian pada setiap KLB
 Memendeknya periode KLB
 Menyempitnya penyebarluasan wilayah KLB

Penanggulangan pasien saat KLB :

1. Jangka pendek
 Menemukan dan mengobati pasien
 Melakukan rujukan dengan cepat
 Malakukan kaporasi sumber air dan disinfeksi kotoran yang tercemar
 Memberi penyuluhan tentang hygiene dan sanitasi lingkungan
 Melakukan koordinasi lintas program dan lintas sektoral
2. Jangka panjang
 Memperbaiki faktor lingkungan
 Mengubah kebiasaan tidak sehat menjadi sehat
13
 Pelatihan petugas

Upaya penaggulangan KLB DBD :


 Pengobatan/ perawatan penderita
 Penyelidikan epidemiologi
 Pemberantasan vector
 Penyuluhan kepada mayarakat
 Evaluasi/ penilaian penanggulangan KLB

Indikator keberhasilan penanggulangan KLB


1. Menurunnya frekuensi KLB.
2. Menurunnya jumlah kasus pada setiap KLB.
3. Menurunnya jumlah kematian pada setiap KLB.
4. Memendeknya periode KLB.
5. Menyempitnya penyebarluasan wilayah KLB.

14
L.I 2. Memahami dan Menjelaskan Penyelidikan Epidemiologi
 Definisi
Penyelidikan epidemiologi (PE) adalah rangkaian kegiatan untuk mengetahui suatu kejadian
baik sedang berlangsung maupun yang telah terjadi, sifatnya penelitian, melalui pengumpulan
data primer dan sekunder, pengolahan dan analisa data, membuat kesimpulan dan
rekomendasi dalam bentuk laporan.
 Manfaat Epidemiologi
Manfaat Epidemiologi antara lain:
1. Membantu pekerjaan Administrasi Kesehatan
2. Dapat menerangkan penyebab masalah kesehatan
3. Dapat menerangkan perkembangan alamiah penyakit
4. Dapat menerangkan keadaan suatu masalah kesehatan
a. Epidemi (singkat dan tinggi)
b. Pandemi (peningkatan yang sangat tinggi dan telah amat luas)
c. Endemi (frekuansi tetap dalam waktu yang lama)
d. Sporadik (berubah-ubah menurut perubahan waktu)
 Tujuan Penyelidikan Epidemiologi (PE)
Mendapatkan besaran masalah yang sesunguhnya, Mendapatkan gambaran klinis dari suatu
penyakit, Mendapatkan gambaran kasus menurut variabel Epidemiology, Mendapatkan
informasi tentang faktor risiko (lingkungan, vektor, perilaku, dll) dan etiologi, Dari ke empat
tujuan di tersebut dapat dianalisis sehingga dapat memberikan suatu penanggulangan atau
pencegahan dari penyakit itu.
 Kegiatan Penyelidikan Epidemiologi (PE)
Tahap Survei pendahuluan:
a. Menegakan diagnosa
b. Memastikan adanya KLB
c. Buat hypotesa mengenai penyebab, cara penyebaran, dan faktor yg
mempengaruhinya
Tahap pengumpulan data :
a. Identifikasi kasus kedalam variabel epid(orang, tempat, waktu )
b. Tentukan agen penyebab, cara penyebaran, dan faktor yg mempengaruhinya.
c. Menentukan kelompok yang rentan/beresiko
Tahap pengolahan data :
Lakukan pengolahan data menurut variabel epidemiologi, menurut ukuran epid (Angka
insiden, Angka prevalen, Case fatality), menurut nilai statistik (Mean, median
mode,deviasi)
Lakukan analisa data :
1. Menurut variabel epid, menurut ukuran epid, menurut nilai statistik.
2. Bandingkan nilai-nilai tsb dengan kejadian atau nilai-nilai yg sudah ada
Buat intepretasi hasil analisa
Buat laporan hasil PE

Tentukan tindakan penanggulangan dan pencegahannya


1. Tindakan penanggulangan :
a. Pengobatan penderita
b. Isolasi kasus
2. Tindakan pencegahan :
a. Surveilans yg ketat
b. Perbaikan mutu lingkungan

15
c. Proteksi diri
d. Perbaikan status kes masyarakat

L.I 3. Memahami dan Menjelaskan Sosial budaya dalam mengakses pelayanan


kesehatan di fasilitas pelayanan kesehatan

Aspek Pelayanan Kesehatan Dilihat Dari Aspek Sosbud


Pengaruh sosial budaya terhadap kesehatan masyarakat Tantangan berat yang masih
dirasakan dalam pembangunan kesehatan di Indonesia adalahsebagai berikut.
1. Jumlah penduduk yang besar dengan pertumbuhan yang cukup tinggi serta penyebaran
penduduk yang tidak merata di seluruh wilayah.
2. Tingkat pengetahuan masyarakat yang belum memadai terutama pada golongan wanita.
3. Kebiasaan negatif yang berlaku di masyarakat, adat istiadat, dan perilaku yang kurang
menunjang dalam bidang kesehatan.
4. Kurangnya peran serta masyarakat dalam pembangunan bidang kesehatan.Aspek sosial
budaya yang berhubungan dengan kesehatanAspek soaial budaya yang berhubungan
dengan kesehatan anatara lain adalah faktorkemiskinan, masalah kependudukan, masalah
lingkungan hidup, pelacuran dan homoseksual.

Kemiskinan
Konsep dasar kemiskinana.
Kemiskinan merupakan masalah kompleks yang dipengaruhi oleh berbagai faktor
yang saling berkaitan antara lain tingkat pendapatan, kesehatan, pendidikan, aksesterhadap
barang dan jasa, lokasi, geografi, gender dan kondisi lingkungan.
Mengacu pada Strategi Nasional Penanggulangan Kemiskinan. Kemiskinan
adalahkondisi dimana seseorang atau sekelompok orang baik laki-laki maupun
perempuanyang tidak terpenuhi hak-hak dasarnya untuk mempertahankan dan
mengembangkankehidupan yang bermatabat. Definisi ini beranjak dari pendekatan berbasis
hak yangmengakui bahwa masyarakat miskin mempunyai hak-hak dasar yang sama
dengananggota masyarakat lainnya.
Kemiskinan membahayakan kesehatan, baik secara fisik dan mental. Penyakit
umumyang sering terjadi berkaitan dengan faktor kemiskinan adalah kekurang
vitamin,penyakit cacing, gusi berdarah, beri-beri, penyakit mata, Kurang Kalori
Protein(KKP), busung lapar, dan lain-lain.
Miskin adalah mereka yang tidak mendapatkan makanan yang cukup sehat dan
akancukup kandungan gizinya. Fakta saat ini derajat kesehatan penduduk miskin masih
rendah, hal ini ditandaidengan:
a. Kematian penduduk miskin tiga kali lebih tinggi daripada penduduk yangtidak miskin.
b. Pengetahuan masyarakat tentang kesehatan dan pendidikan belummendukung.
c. Perilaku hidup bersih di masyarakat belum membudaya.
d. Angka kematian bayi (AKB), angka kematian anak, serta angka kematian ibu
(AKA/AKI) pada penduduk miskin jauh lebih tinggi dari yang tidak miskin.

L.I 4. Memahami dan Menjelaskan Sistem rujukan kesehatan masyarakat


 Definisi
Rujukan adalah sesuatu yang digunakan pemberi informasi (pembicara) untuk
menyokong atau memperkuat pernyataan dengan tegas. Rujukan mungkin menggunakan
faktual ataupun non faktual. Rujukan faktual terdiri atas kesaksian, statistik contoh, dan
obyek aktual. Rujukan dapat berwujud dalam bentuk bukti. Nilai-nilai, dan/atau kredibilitas.
Sumber materi rujukan adalah tempat materi tersebut ditemukan.

16
 Jenis-jenis rujukan
a) Rujukan Medis (rujukan pasien, dan rujukan laboratorium)
Rujukan ini berkaitan dengan upaya penyembuhan penyakit dan pemulihan kesehatan
pasien. Disamping itu juga mencakup rujukan pengetahuan (konsultasi medis) dan
bahan-bahan pemeriksaan.Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya penyembuhan
penyakit serta pemulihan kesehatan. Dengan demikian rujukan medik pada dasarnya
berlaku untuk pelayanan kedokteran (Medical Service). Sama halnya dengan rujukan
kesehatan. Maka rujukan ini dibedakan dengan tiga macam yaitu :
a. Rujukan penderita. Konsultai penderita untuk keperluan diagnosis, pengobatan,
tindakan operatif dan lain- lain yang disebut transfer of patien.
b. Pengetahuan. Mendatangkan atau mengirimkan tenaga yang lebih kompeten atau
ahli untuk meningkatkan mutu pelayanan pengobatan setempat disebut transfer of
knowlwdge/ personel.
c. Bahan- bahan pemeriksaan. Pengiriman bahan (spesimen) untuk pemeriksaan
laboratorium yang lebih lengkap disebut transfer of spesimen.
b) Rujukan Kesehatan (rujukan iptek dan keterampilan yaitu pengalihan pengetahuan dan
keterampilan)
Rujukan ini berkaitan dengan upaya pencegahan penyakit (preventif) dan peningkatan
kesehatan (promosi). Rujukan ini mencakup rujukan teknologi, sarana dan
operasional.Rujukan ini terutama dikaitkan dengan upaya pencegahan penyakit dan
peningkatan derajat kesehatan. Dengan demikian rujukan kesehatan pada dasarnya
berlaku untuk pelayanan kesehatan masyarakat (public health service). Adapun rujukan
kesehatan ini dibedakan atas tiga macam yakni rujukan teknologi, sarana, dan
operasional.
c) Rujukan Manajemen(pengiriman informasi guna kepentingan monitoring semua
kegiatan pelayanan kesehatan diperlukan sistem informasi)

 Tujuan rujukan
- Tujuan Khusus
1. Dihasilkannya upaya pelayanan kesehatan klinik yang bersifat kuratif dan
rehabilitatif
2. Dihasilkannya upaya kesehatan masyarakat yang bersifat preventif dan
promotif.
3. Setiap penderita mendapat perawatan dan pertolongan yang sebaik-baiknya.
4. Menjalin kerjasama dengan cara pengiriman penderita atau bahan
laboratorium dari unit yang kurang lengkap ke unit yang lengkap fasilitasnya.
5. Menjalin pelimpahan pengetahuan dan keterampilan (Transfer knowledge
and skill) melalui pendidikan dan latihan antara pusat pendidikan dan daerah
perifen.

17
 Manfaat rujukan
Beberapa manfaat juga akan diperoleh jika ditinjau dari unsure pembentuk pelayanan
kesehatan yaitu sebagai berikut :
- Dari sudut pandang pemerintah sebagai penentu kebijakan (Police Maker) :
a. Membantu penghematan dana, karena tidak perlu menyediakan berbagai macam
peralatan kedokteran pada setiap pelayanan kesehatan.
b. Memperjelas system pelayanan kesehatan, akrena terdapat hubungan kerja antara
berbagai sarana kesehatan yang tersedia.
c. Memudahkan administrasi pada setiap aspek perencanaan.
- Dari sudut masyarakat sebagai pemakai jasa pelayanan (Health Consumer) :
d. Meringankan biaya pengobatan, karena dapat dihindari pemeriksaan yang sama secara
berulang- ulang.
e. Mempermudah masyarakat dalam mendapatkan pelayanan, karena telah diketahui
dengan jelas fungsi dan wewenang setiap sarana kesehatan.
- Dari sudut kalangan kesehatan sebagai penyedia pelayanan kesehatan (Health
Provider) :
a. Memperjelas jenjang karier tenaga kesehatan dengan berbagai akibat positif lainnya
seperti semangat kerja, ketekunan, & dedikasi.
b. Membantu peningkatan ketrampilan dan pengetahuan yakni melalui kerjasama yang
terjalin.
c. Memudahkan atau meringankan beban tugas, karena setiap sarana kesehatan
mempunyai tugas dan kewajiban tertentu.

L.I 5. Memahami dan Menjelaskan Perilaku kesehatan individu dan masyarakat pada
pencarian pengobatan atau “care seeking behaviour”

Perilaku kesehatan adalah suatu respon seseorang terhadap stimulus yang berkaitan
dengan sakit dan penyakit, system pelayanan kesehatan, makanan, serta lingkungan. Bentuk
dari perilaku tersebut ada dua yaitu pasif dan aktif. Perilaku pasif merupakan respon internal
dan hanya dapat dilihat oleh diri sendiri sedangkan perilaku aktif dapat dilihat oleh orang
lain. Masyarakat memiliki beberapa macam perilaku terhadap kesehatan. Perilaku tersebut
umumnya dibagi menjadi dua, yaitu perilaku sehat dan perilaku sakit. Perilaku sehat yang
dimaksud yaitu perilaku seseorang yang sehat dan meningkatkan kesehatannya tersebut.
Perilaku sehat mencakup perilaku-perilaku dalam mencegah atau menghindari dari penyakit
dan penyebab penyakit atau masalah, atau penyebab masalah (perilaku preventif). Contoh
dari perilaku sehat ini antara lain makan makanan dengan gizi seimbang, olah raga secara
teratur, dan menggosok gigi sebelum tidur.

18
Yang kedua adalah perilaku sakit. Perilaku sakit adalah perilaku seseorang yang sakit
atau telah terkena masalah kesehatan untuk memperoleh penyembuhan atau pemecahan
masalah kesehatannya. Perilaku ini disebut perilaku pencarian pelayanan kesehatan (health
seeking behavior). Perilaku ini mencakup tindakan-tindakan yang diambil seseorang bila
terkena masalah kesehatan untuk memperoleh kesembuhan melalui sarana pelayanan
kesehatan seperti puskesmas dan rumah sakit.
Secara lebih detail, Becker (1979) membagi perilaku masyarakat yang berhubungan dengan
kesehatan menjadi tiga, yaitu:
1. perilaku kesehatan : hal yang berkaitan dengan tindakan seseorang dalam memelihara
dan meningkatkan kesehatannya. Contoh : memilih makanan yang sehat, tindakan-
tindakan yang dapat mencegah penyakit.
2. perilaku sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan seseorang individuyang
merasa sakit, untuk merasakan dan mengenal keadaan kesehatannya atau rasa sakit.
Contoh pengetahuan individu untuk memperoleh keuntungan.
3. perilaku peran sakit : segala tindakan atau kegiatan yang dilakukan oleh individu yang
sedang sakit untuk memperoleh kesehatan.

Terdapat dua paradigma dalam kesehatan yaitu paradigma sakit dan paradigma
sehat.Paradigma sakit adalah paradigma yang beranggapan bahwa rumah sakit adalah
tempatnya orang sakit. Hanya di saat sakit, seseorang diantar masuk ke rumah sakit. Ini
adalah paradigma yang salah yang menitikberatkan kepada aspek kuratif dan rehabilitatif.
Sedangkan paradigma sehat Menitikberatkan pada aspek promotif dan preventif,
berpandangan bahwa tindakan pencegahan itu lebih baik dan lebih murah dibandingkan
pengobatan.

Model treatment seeking behavior dan factor-faktornya


1. Perilaku pemeliharaan kesehatan ( health maintenance) : Adalah perilaku atau usaha-
usaha seseorang untuk memelihara atau menjaga kesehatan agar tidak sakit dan usaha untuk
penyembuhan bila sakit. Oleh karena itu, perilaku pemeliharaan kesehatan terdiri dari 3 aspek
yaitu:
a. Perilaku pencegahan penyakit, dan penyembuhan penyakit bila sakit, serta pemulihan
kesehatan bila telah sembuh dari penyakit.
b. Perilaku peningkatan kesehatan, apabila seseorang dalam keadaan sehat. Perlu
dijelaskan disini, bahwa kesehatan itu sangat dinamis dan relatif, maka dari itu orang
yang sehat pun perlu diupayakan supaya mencapai tingkat kesehatan yang seoptimal
mungkin.
c. Perilaku gizi (makanan) dan minuman. Makanan dan minuman dapat memelihara
serta meningkatkan kesehatan seseorang, tetapi sebaliknya makanan dan minuman
dapat menjadi penyebab menurunnya kesehatan seseorang, bahkan dapat
mendatangkan penyakit. Hal ini sangat tergantung pada perilaku orang terhadap
makanan dan minuman tersebut.

2. Perilaku pencarian dan penggunaan sistem atau fasilitas pelayanan kesehatan, atau sering
disebut perilaku pencarian pengobatan (health seeking behavior). Perilaku ini adalah
menyangkut upaya atau tindakan seseorang pada saat menderita penyakit atau
kecelakaan. Tindakan atau perilaku ini di mulai dari mengobati sendiri (self treatment)
sampai mencari pengobatan ke luar negeri.

3. Perilaku kesehatan lingkungan.

19
Bagaimana seseorang merespons lingkungan, baik lingkungan fisik maupun sosial
budaya, dan sebagainya, sehingga lingkungan tersebut tidak mempengaruhi
kesehatannya. Dengan perkataan lain, bagaimana seseorang mengelola lingkungannya
sehingga tidak mengganggu kesehatannya sendiri, keluarga, atau masyarakat. Misalnya
bagaimana mengelola pembuangan tinja, air minum, tempat pembuangan sampah,
pembuangan limbah, dan sebagainya.

Seorang ahli lain (Becker, 1979) membuat klasifikasi lain tentang perilaku kesehatan ini.
a. Perilaku hidup sehat
Adalah perilaku-perilaku yang berkaitan dengan upaya atau kegiatan seseorang untuk
mempertahankan dan meningkatkan kesehatannya.Perilaku ini mencakup antara lain:
1) Makan dengan menu seimbang (appropriate diet). Menu seimbang disini dalam arti
kualitas (mengandung zat-zat gizi yang diperlukan tubuh), dan kuantitas dalam arti
jumlahnya cukup untuk memenuhi kebutuhan tubuh (tidak kurang, tetapi tidak juga
lebih). Secara kualitas mungkin di Indonesia dikenal dengan ungkapan 4 sehat 5
sempurna.
2) Olahraga teratur, juga mencakup kualitas (gerakan), dan kuantitas dalam arti
frekuensi dan waktu yang digunakan untuk olahraga. Dengan sendirinya kedua
aspek ini akan tergantung dari usia, dan status kesehatan yang bersangkutan.
3) Tidak merokok. Merokok adalah kebiasaan jelek yang mengakibatkan berbagai
macam penyakit. Ironisnya kebiasaan merokok ini, khususnya di Indonesia, seolah-
olah sudah membudaya. Hampir 50% penduduk Indonesia usia dewasa merokok.
Bahkan dari hasil suatu penelitian, sekitar 15% remaja kita telah merokok. Inilah
tantangan pendidikan kesehatan kita.
4) Tidak minum minuman keras dan narkoba. Kebiasaan minum miras dan
mengonsumsi narkoba (narkotik dan bahan-bahan berbahaya lainnya, juga
cenderung meningkat). Sekitar 1% penduduk Indonesia dewasa diperkirakan sudah
mempunyai kebiasaan minum miras ini.
5) Istirahat yang cukup. Dengan meningkatnya kebutuhan hidu akibat tuntutan untuk
penyesuaian dengan lingkungan modern, mengharuskan orang untuk bekerja keras
dan berlebihan, sehingga waktu istirahat berkurang. Hal ini juga dapat
membahayakan kesehatan.
6) Mengendalikan stres. Stres akan terjadi pada siapa saja, dan akibatnya bermacam-
macam bagi kesehatan. Lebih-lebih sebagai akibat dari tuntutan hidup yang keras
seperti diuraikan di atas. Kecenderungan stres akan meningkat pada setiap orang.
Stres tidak dapat kita hindari, yang penting dijaga agar stres tidak menyebabkan
gangguan kesehatan, kita harus dapat mengendalikan atau mengelola stres dengan
kegiatan-kegiatan yang positif.
7) Perilaku atau gaya hidup lain yang positif bagi kesehatan, misalnya: tidak berganti-
ganti pasangan dalam hubungan seks, penyesuaiaan diri kita dengan lingkungan,
dan sebagainya.
b. Perilaku sakit (illness behavior)
Perilaku sakit ini mencakup respons seseorang terhadap sakit dan penyakit, persepsinya
terhadap sakit, pengetahuan tentang penyebab dan gejala penyakit, pengobatan penyakit, dan
sebagainya.
c. Perilaku peran sakit (the sick role behavior)
Dari segi sosiologi, orang sakit (pasien) mempunyai peran yang mencakup hak-hak orang
sakit (right) dan kewajiban sebagai orang sakit (obligation). Hak dan kewajiban ini harus
diketahui oleh orang sakit sendiri maupun orang lain (terutama keluarganya), yang
selanjutnya disebut perilaku peran orang sakit (the sick role). Perilaku ini meliputi:

20
1) Tindakan untuk memperoleh kesembuhan
2) Mengenal/ mengetahui fasilitas atau sarana pelayanan/ penyembuhan penyakit yang
layak
3) Mengetahui hak (misalnya: hak memperoleh perawatan, memperoleh pelayanan
kesehatan, dan sebagainya) dan kewajiban orang sakit (memberitahukan
penyakitnya kepada orang lain terutama kepada dokter/ petugas kesehatan, tidak
menularkan penyakitnya kepada orang lain, dan sebagainya).

Perilaku kesehatan pada dasarnya adalah suatu respons seseorang (organisme) terhadap
stimulus yang berkaitan dengan sakit dan penyakit, sistim pelayanan kesehatan, makanan,
serta lingkungan.

L.I 6. Memahami dan Menjelaskan Cakupan dan mutu pelayanan kesehatan serta
imunisasi

 Syarat pokok pelayanan kesehatan


Suatu pelayanan kesehatan dikatakan baik apabila:
1. Tersedia (available) dan berkesinambungan (continuous)
Artinya semua jenis pelayanan kesehatan yang dibutuhkan masyarakat tidak sulit
ditemukan, serta keberadaannya dalam masyarakat adalah pada setiap saat yang
dibutuhkan.
2. Dapat diterima (acceptable) dan bersifat wajar (appropriate)
Artinya pelayanan kesehatan tersebut tidak bertentangan dengan keyakinan dan
kepercayaan masyarakat. Pelayanan kesehatan yang bertentangan dengan adat istiadat,
kebudayaan, keyakinan dan kepercayaan mesyarakat, serta bersifat tidak wajar, bukanlah
suatu pelayanan kesehatan yang baik.
3. Mudah dicapai (accessible)
Ketercapaian yang dimaksud disini terutama dari sudut lokasi. Dengan demikian, untuk
dapat mewujudkan pelayanan kesehatan yang baik, maka pengaturan distribusi sarana
kesehatan menjadi sangat penting. Pelayanan kesehatan yang terlalu terkonsentrasi di
daerah perkotaan saja, dan sementara itu tidak ditemukan didaerah pedesaan, bukanlah
pelayanan kesehatan yang baik.
4. Mudah dijangkau (affordable)
Keterjangkauan yang dimaksud adalah terutama dari sudut biaya. Untuk dapat
mewujudkan keadaan yang seperti itu harus dapat diupayakan biaya pelayanan kesehatan
tersebut sesuai dengan kemampuan ekonomi masyarakat. Pelayanan kesehatan yang
mahal hanya mungkin dinikmati oleh sebagian kecil masyarakat saja bukanlah kesehatan
yang baik.
5. Bermutu (quality)
Mutu yang dimaksud disini adalah yang menunjuk pada tingkat kesempurnaan pelayanan
kesehatan yang diselenggarakan, yang disatu pihak tata cara penyelenggaraannya sesuai
dengan kode etik serta standart yang telah ditetapkan.

 Prinsip pelayanan prima di bidang kesehatan


1. Mengutamakan pelanggan
Prosedur pelayanan disusun demi kemudahan dan kenyamanan pelanggan, bukan untuk
memeperlancar pekerjaan kita sendiri. Jika pelayanan kita memiliki pelanggan eksternal
dan internal, maka harus ada prosedur yang berbeda, dan terpisah untuk keduanya. Jika
pelayanan kita juga memiliki pelanggan tak langsung maka harus dipersiapkan jenis-jenis
layanan yang sesuai untuk keduanya dan utamakan pelanggan tak langsung.

21
2. System yang efektif
Proses pelayanan perlu dilihat sebagai sebuah system yang nyata (hard system), yaitu
tatanan yang memadukan hasil-hasil kerja dari berbagai unit dalam organisasi. Perpaduan
tersebut harus terlihat sebagai sebuah proses pelayanan yang berlangsung dengan tertib
dan lancar dimata para pelanggan.
3. Melayani dengan hati nurani (soft system)
Dalam transaksi tatap muka dengan pelanggan, yang diutamakan keaslian sikap dan
perilaku sesuai dengan hati nurani, perilaku yang dibuat-buat sangat mudah dikenali
pelanggan dan memperburuk citra pribadi pelayan. Keaslian perilaku hanya dapat muncul
pada pribadi yang sudah matang.
4. Perbaikan yang berkelanjutan
Pelanggan pada dasarnya juga belajar mengenali kebutuhan dirinya dari proses
pelayanan. Semakin baik mutu pelayanan akan menghasilkan pelanggan yang semakin
sulit untuk dipuaskan, karena tuntutannya juga semakin tinggi, kebutuhannya juga
semakin meluas dan beragam, maka sebagai pemberi jasa harus mengadakan perbaikan
terus menerus.
5. Memberdayakan pelanggan
Menawarkan jenis-jenis layanan yang dapat digunakan sebagai sumberdaya atau
perangkat tambahan oleh pelanggan untuk menyelesaikan persoalan hidupnya sehari-hari.

 Program Pokok Puskesmas


1. Promosi Kesehatan (Promkes)
a. Penyuluhan Kesehatan Masyarakat
b. Sosialisasi Program Kesehatan
c. Perawatan Kesehatan Masyarakat (Perkesmas)
2. Pencegahan Penyakit Menular (P2M) :
a. Surveilens Epidemiologi
b. Pelacakan Kasus : TBC, Kusta, DBD, Malaria, Flu Burung, ISPA, Diare, IMS (Infeksi
Menular Seksual), Rabies
3. Program Pengobatan :
a. Rawat Jalan Poli Umum
b. Rawat Jalan Poli Gigi
c. Unit Rawat Inap : Keperawatan, Kebidanan
d. Unit Gawat Darurat (UGD)
e. Puskesmas Keliling (Puskel)
4. Kesehatan Ibu dan Anak (KIA)
a. ANC (Antenatal Care) , PNC (Post Natal Care), KB (Keluarga Berencana),
b. Persalinan, Rujukan Bumil Resti, Kemitraan Dukun
5. Upaya Peningkatan Gizi
a. Penimbangan, Pelacakan Gizi Buruk, Penyuluhan Gizi
6. Kesehatan Lingkungan :
a. Pengawasan SPAL (saluran pembuangan air limbah), SAMI-JAGA (sumber air
minum-jamban keluarga), TTU (tempat-tempat umum), Institusi pemerintah
b. Survey Jentik Nyamuk
7. Pencatatan dan Pelaporan :
a. Sistem Pencatatan dan Pelaporan Terpadu Puskesmas (SP2TP)

 Program Tambahan/Penunjang Puskesmas :


Program penunjang ini biasanya dilaksanakan sebagai kegiatan tambahan, sesuai kemampuan
sumber daya manusia dan material puskesmas dalam melakukan pelayanan

22
1. Kesehatan Mata : pelacakan kasus, rujukan
2. Kesehatan Jiwa : pendataan kasus, rujukan kasus
3. Kesehatan Lansia (Lanjut Usia) : pemeriksaan, penjaringan
4. Kesehatan Reproduksi Remaja : penyuluhan, konseling
5. Kesehatan Sekolah : pembinaan sekolah sehat, pelatihan dokter kecil
6. Kesehatan Olahraga : senam kesegaran jasmani

 Target Indikator Pelayanan Minimal Puskesmas Pelayanan Kesehatan Dasa


1. Cakupan kunjungan Ibu hamil K4 95 % pada Tahun 2015;
2. Cakupan komplikasi kebidanan yang ditangani 80 % pada Tahun 2015;
3. Cakupan pertolongan persalinan oleh tenaga kesehatan yang memiliki kompetensi
kebidanan 90% pada Tahun 2015;
4. Cakupan pelayanan nifas 90% pada Tahun 2015;
5. Cakupan neonatus dengan komplikasi yang ditangani 80% pada Tahun 2010;
6. Cakupan kunjungan bayi 90%, pada Tahun 2010;
7. Cakupan Desa/Kelurahan Universal Child Immunization (UCI) 100% pada Tahun 2010;
8. Cakupan pelayanan anak balita 90% pada Tahun 2010;
9. Cakupan pemberian makanan pendamping ASI pada anak usia 6 - 24 bulan keluarga
miskin 100 % pada Tahun 2010;
10. Cakupan balita gizi buruk mendapat perawatan 100% pada Tahun 2010;
11. Cakupan Penjaringan kesehatan siswa SD dan setingkat 100 % pada Tahun 2010;
12. Cakupan peserta KB aktif 70% pada Tahun 2010;
13. Cakupan penemuan dan penanganan penderita penyakit 100% pada Tahun 2010;
14. Cakupan pelayanan kesehatan dasar masyarakat miskin 100% pada Tahun 2015.

Pelayanan Kesehatan Rujukan


1. Cakupan pelayanan kesehatan rujukan pasien masyarakat miskin 100% pada Tahun
2015;
2. Cakupan pelayanan gawat darurat level 1 yang harus diberikan sarana kesehatan (RS) di
Kabupaten/Kota 100 % pada Tahun 2015.

Penyelidikan Epidemiologi dan Penanggulangan Kejadian Luar Biasa /KLB


1. Cakupan Desa/ Kelurahan mengalami KLB yang dilakukan penyelidikan epidemiologi <
24 jam 100% pada Tahun 2015.

Promosi Kesehatan dan Pemberdayaan Masyarakat


1. Cakupan Desa Siaga Aktif 80% pada Tahun 2015.

 Pelayanan Imunisasi
Cakupan imunisasi dalam program imunisasi nasional merupakan parameter kesehatan
nasional. Besar cakupan imunisasi harus mencapai lebih dari 80%, artinya di setiap desa,
anak-anak berusia di bawah 12 bulan, 80% harus sudah mendapatkan imunisasi dasar
lengkap. Tetapi saat ini, cakupan imunisasi belum memuaskan. Salah satu dampak cakupan
imunisasi yang tidak sesuai target adalah terjadinya kejadian luar biasa (KLB). Penyakit
dapat dicegah bila cakupan imunisasi sebesar 80% dari target. Penularan berbanding searah
dengan cakupan imunisasi. Apbila anak yang tidak diimunisasi semakin banyak maka
penularan akan semakin meningkat. Sedangkan cakupan imunisasi yang tinggi akan
mengurangi penularan (majalah farmacia, 2012).
Rendahnya cakupan imunisasi dapat diakibatkan oleh beberapa faktor. Faktor tersebut
adalah aspek geografis dimana di daerah pelosok akses pelayanan kesehatan masih minim

23
termasuk imunisasi. Selain itu, masyarakat sering menganggap bahwa anak yang menderita
batuk pilek tidak boleh diimunisasi. Faktor lain adalah kurangnya kesadaran masyarakat atas
imunisasi akibat minimnya pendidikan. Sehingga tenaga kesehata seperti dokter, bidan atau
perawat memiliki kewajiban mengingatkan pasien tentang jadwal imunisasi. Faktor lain
adalah munculnya kelompok anti vaksin. Selain itu, kesalahan pemahaman masyarakat
mengenai ASI juga turut mempengaruhi kesediaan untuk melakukan imunisasi. ASI memang
meningkatkan daya tahan, namun perlindungan ASI juga akan berkurang seiring munculnya
paparan pada anak (majalah farmacia, 2012).
Dalam program Intensifikasi Imunisasi Rutin, upaya pemberian imunisasi harus lebih
intensif dibandingkan tahun lalu. Imunisasi dasar diketahui sangat efektif dalam memberikan
perlindungan terhadap suatu penyakit pada masa depan kehidupan. Imunisasi dasar berfungsi
membentuk sel memori yang akan dibawa seumur hidup. Jika imunisasi dasar diberikan
lengkap dan sel memori terbentuk semakin dini, maka semakin bagus perlindungan yang
diberikan (Hadinegoro, 2012).
Namun pada vaksin tertentu (vaksin mati atau vaksin komponen, misalnya hepatitis B
atau DTP), imunisasi dasar saja tidak cukup memberikan perlindungan dalam jangka panjang
sehingga harus dilakukan booster atau penguat. Kekebalan yang diberikan imunisasi dasar
tidak berlangsung seumur hidup dan ditandai dengan titer antibodi yang semakin lama
semakin menurun. Pemberian booster dimaksudkan membangkitkan kembali sel memori
untuk membentuk antibodi agar titer antibodi selalu di atas ambang pencegahan (protective
level) (Hadinegoro, 2012).
Vaksin DTP misalnya yang diberikan usia 2, 4, 6 bulan perlu diberikan booster pada usia
18-24 bulan dan 5 tahun. Di usia lima tahun kekebalan kembali turun sehingga perlu booster
kedua bahkan ketiga dalam jangka waktu setiap 5-10 tahun. Komponen T (tetanus) pada
vaksin DTP juga harus bisa memberikan perlindungan seumur hidup terhadap tetanus
neonatorum (penting untuk melindungi bayi yang dilahirkan dari infeksi tetanus apabila
pemotongan tali pusat tidak steril). Vaksin TT diberikan pada anak usia sekolah dan ibu
hamil (Hadinegoro, 2012).
Sampai kapan booster diberikan, tergantung data epidemiologi dan pola penyakit dari
kelompok usia yang rentan terkena penyakit. Misalnya penyakit difteri, pertusis, dan tetanus
yang bisa dicegah dengan vaksin DTP bisa mengancam anak-anak maupun dewasa sehingga
semua usia rentan terhadap penularan penyakit-penyakit ini (Hadinegoro, 2012).

L.I 7. Memahami dan Menjelaskan Hukum menjaga kesehatan dan berobat dalam
islam

 Hukum menjaga kesehatan dalam islam


Islam menetapkan tujuan pokok kehadirannya untuk memelihara agama, jiwa,
akal, jasmani, harta, dan keturunan.Setidaknya tiga dari yang disebut berkaitan
dengankesehatan. Tidak heran jika ditemukan bahwa Islam amat kayadengan tuntunan
kesehatan. Paling tidak ada dua istilah literatur keagamaan yang digunakan untuk
menunjuk tentang pentingnya kesehatan dalampandangan Islam.
1. Kesehatan, yang terambil dari kata sehat;
2. Afiat.
Keduanya dalam bahasa Indonesia, sering menjadi kata majemuk sehat afiat.
Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesra, kata "afiat" dipersamakan dengan "sehat". Afiat
diartikan sehat dan kuat,sedangkan sehat (sendiri) antara lain diartikan sebagai keadaan
baik segenap badan serta bagian-bagiannya (bebas dari sakit).Kalau sehat diartikan sebagai
keadaan baik bagi segenap anggota badan, maka agaknya dapat dikatakan bahwa mata
yang sehat adalah mata yang dapat melihat maupun membaca tanpa menggunakan

24
kacamata. Tetapi, mata yang afiat adalah yang dapat melihat dan membaca objek-objek
yang bermanfaat serta mengalihkan pandangan dari objek-objek yang terlarang, karena itulah
fungsi yang diharapkan dari penciptaan mata. Dalam konteks kesehatan fisik, misalnya
ditemukan sabda Nabi Muhammad Saw.:

“Sesungguhnya badanmu mempunyai hak atas dirimu.”

Demikian Nabi Saw. menegur beberapa sahabatnya yang bermaksud melampaui


batas beribadah, sehingga kebutuhan jasmaniahnya terabaikan dan kesehatannya terganggu.
Pembicaraan literatur keagamaan tentang kesehatan fisik, dimulai dengan meletakkan
prinsip:
“Pencegahan lebih baik daripada pengobatan.”

Karena itu dalam konteks kesehatan ditemukan sekian banyak petunjuk Kitab
Suci dan Sunah Nabi Saw. yang pada dasarnya mengarah pada upaya pencegahan.
Salah satu sifat manusia yang secara tegas dicintai Allah adalah orang yang menjaga
kebersihan. Kebersihan digandengkan dengan taubat dalam surat Al-Baqarah (2): 222:
Sesungguhnya Allah senang kepada orang yang bertobat,dan senang kepada orang yang
membersihkan diri. Tobat menghasilkan kesehatan mental, sedangkan kebersihan lahiriah
menghasilkan kesehatan fisik.Wahyu kedua (atau ketiga) yang diterima Nabi Muhammad
Saw. adalah: “ Dan bersihkan pakaianmu dan tinggalkan segala macam kekotoran (QS Al-
Muddatstsir [74]: 4-5)”.

 Hukum berobat dalam islam


- Pendapat pertama mengatakan bahwa berobat hukumnya wajib, dengan alasan
adanya perintah Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam untuk berobat dan asal
hukum perintah adalah wajib, ini adalah salah satu pendapat madzhab Malikiyah,
Madzhab Syafi’iyah, dan madzhab Hanabilah.
- Pendapat kedua mengatakan sunnah/ mustahab, sebab perintah Nabi shallallahu
‘alaihi wa sallam untuk berobat dan dibawa kepada hukum sunnah karena ada
hadits yang lain Rosululloh shallallahu ‘alaihi wa sallam memerintahkan
bersabar, dan ini adalah madzhab Syafi’iyah.
- Pendapat ketiga mengatakan mubah/ boleh secara mutlak , karena terdapat
keterangan dalil- dalil yang sebagiannya menunjukkan perintah dan sebagian lagi
boleh memilih, (ini adalah madzhab Hanafiyah dan salah satu pendapat madzhab
Malikiyah).
- Pendapat kelima mengatakan makruh, alasannya para sahabat bersabar dengan
sakitnya, Imam Qurtubi rahimahullah mengatakan bahwa ini adalah pendapat
Ibnu Mas’ud, Abu Darda radhiyallahu ‘anhum, dan sebagian para Tabi’in.
- Pendapat ke enam mengatakan lebih baik ditinggalkan bagi yang kuat
tawakkalnya dan lebih baik berobat bagi yang lemah tawakkalnya, perincian ini
dari kalangan madzhab Syafi’iyah.

L.I 8. Memahami dan Menjelaskan Tujuan syariat islam dan konsep KLB

“Dan apa saja musibah yang menimpa kamu, maka adalah disebabkan oleh
perbuatan tanganmu sendiri, dan Allah memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-
kesalahanmu).” (Q.s. As-Syura: 30).

25
Dalam sudut pandang wahyu Allah terakhir, musibah dan bencana ada kaitannya
dengan dosa atau maksiat yang dilakukan oleh manusia-manusia pendurhaka.Bencana alam
berupa letusan gunung api, banjir bandang, wabah penyakit, kekeringan, kelaparan,
kebakaran, dan lain sebagainya, dalam pandangan alam Islam (Islamic worldview), tidaklah
sekedar fenomena alam. Al-Qur’an menyatakan dengan lugas bahwa segala kerusakan dan
musibah yang menimpa umat manusia itu disebabkan oleh “perbuatan tangan mereka
sendiri”. Tentu saja kata ‘tangan’ sebatas simbol perbuatan dosa/maksiat, karena suatu
perbuatan maksiat melibatkan panca indera, dan juga dikendalikan dan diprogram sedemikian
rupa oleh otak, kehendak dan hawa nafsu manusia. Maksiat, sebagaimana taat, ada yang
bersifat menentang tasyri’ Allah seperti melanggar perkara yang haram, dan ada yang bersifat
menentang takwin Allah (sunnatullah) seperti melanggar dan merusak alam lingkungan
Bahkan sebelum dunia mengenal karantina, Nabi Muhammad Saw. telah menetapkan
dalam salah satu sabdanya, Apabila kalian mendengar adanya wabah di suatu
daerah,janganlah mengunjungi daerah itu, tetapi apabila kalian berada di daerah itu,
janganlah meninggalkannya

26
DAFTAR PUSTAKA

Ahmad, Jurnal. 2013. Konsep Kesehatan dalam Islam.


Anonim. Pedoman Penanggulangan KLB-DBD bagi keperawatan di RS dan Puskesmas
Efendi, Ferry & Makhfudli. 2009. Keperawatan Kesehatan Komunitas : Teori dan Praktik
dalam Keperawatan. Jakarta : Salemba Medika
Hadinegoro, Sri Rezeki. 2011. Panduan Imunisasi Anak, ed.1. Ikatan Dokter Anak Indonesia
http://ahmadbinhanbal.wordpress.com/2013/04/20/konsep-kesehatan-dalam-islam/(21 Mei
2013)
Notoatmodjo, Soekidjo. 2011. Kesehatan Masyarakat. Jakarta : Rineka Cipta
Rajab, Wahyudin. 2008. Buku Ajar Epidemiologi Untuk Mahasiswa Kebidanan. Jakarta :
EGC
Tamher dan Noorsiani. 2008. Flu Burung : Aspek Klinis dan Epidemiologis . Jakarta :
Salemba Medika
Trihono. 2010. Arrimes : Manajemen Puskesmas berbasis paradigma sehat. Jakarta : Sagung
Seto

27