Anda di halaman 1dari 5

Peran Pejabat Fungsioal Teknik Pengairan Ahli Pertama Dalam Pengelolaan

Dan Pengembangan Infrastruktur Sumber Daya Air Indonesia

Air adalah faktor esenesial yang menjadi syarat mutlak adanya kehidupan.
Dari air bermula kehidupan dan karena air peradaban tumbuh dan berkembang, dan
tanpa air berbagai proses kehidupan tidak akan bisa berlangsung. Sebagian besar
permukaan bumi (72 %) ditutupi oleh perairan. Badan air terbesar di permukaan bumi
adalah air asin yang terdapat di laut sebesar 97% sedangkan sisanya adalah air tawar.
2/3 dari air tawar tersebut berbentuk gletser yang terdapat di kutub utara dan kutub
selatan yang berfungsi sebagai stabilitator iklim global. Hanya satu per tiganya saja
yang dapat dimanfaatkan oleh manusia untuk tetap dapat hidup dan menunjang
kehidupannya. 50% dari cadangan air tawar dunia tersebut tersebar di 6 negara yaitu
Brazil, Rusia, Kanada, Indonesia dan Kolombia dan isu besar ketahanan air dunia
adalah kurang dari 1% warga dunia yang dapat akses air bersih.
Indonesia sendiri memiliki potensi sumber daya air yang sangat besar, negara
ini memiliki 5590 Sungai (aliran permukaan) yang tersebar ke dalam 133 Wilayah
Sungai, 397 buah cekungan tanah yang tersebar dengan total luas area 736,629 𝑘𝑚2 .
Diperkirakan total potensi ketersediaan air tawar di Indonesia adalah 2.783 triliun 𝑚3
per tahun dan yang dapat dimanfaatkan sebesar 691 milyar 𝑚3 per tahun. Sampai
dengan saat ini, pemanfaatan air baru 32 persennya saja yaitu 222 milyar 𝑚3 pertahun.
Sedangkan yang belum termanfaatkan adalah 469 milyar 𝑚3 per tahun atau 67,8,
dimana pemanfaatan terbesarnya adalah sebagai sumber irigasi (80%) dan 20 %
sisanya dimanfaatkan untuk memenuhi kebutuhan air baku, rumah tangga dan
perindustrian.
Berkaca dari data-data di atas, secara makro dapat disimpulkan dengan mudah
bahwa ketahanan air Indonesia sangat kuat, karena jumlah ketersediaan (supply) lebih
besar daripada kebutuhan (demand). Akan tetapi Indonesia bukanlah negara yang
menganut system ekonomi kapitalis, tetapi ekonomi kerakyatan yang mandiri dan
berkeadilan, termasuk dalam hal pengelolaan dan pemanfaaatan sumber daya air.
Negara harus dapat memastikan seluruh rakyat mendapatkan hak akses, hak
menggunakan dan hak memanfaatkan Sumber Daya Air (SDA), sesuai dengan amanat
konstitusi pasal 33 ayat 3 UUD 1945 yang berbunyi : Bumi air dan kekayaan alam yang
terkandung di dalamnya dikuasai oleh negara dan dipergunakan untuk sebesar-besar
kemakmuran rakyat.
Adapun Tantangan dan hambatan pengelolaan SDA di Indonesia salah satu
diantaranya adalah karena luasnya negara ini. Secara geografis Indonesia adalah negara
maritim ataupun kepulauan dengan ± 17.000 pulau, 1.922.570 𝑘𝑚2 daratan, 3.257.483
𝑘𝑚2 perairan, dan 99,093 km garis pantai. Hal ini menyebabkan sebuah kondisi dimana
Indonesia mendapatkan musim hujan dan musim kemarau yang hampir seimbang dan
bergantian (setiap 6 bulan sekali), karena dipengaruhi oleh iklim laut dan angin muson.
Akibatnya setiap tahun pada wilayah tertentu mengalami banjir akibat tingginya curah
hujan dan kurangnnya daya tampung badan air, sementara di wilayah lainnya
mengalami kekeringan dan semakin diperparah dengan perubahan iklim global.
Tantangan lainnya adalah masalah kependudukan, yaitu berkaitan dengan
pertumbuhan penduduk dan migrasi. Jumlah penduduk Indonesia berdasarkan hasil
data Badan Pusat Statistik adalah 261,1 juta (2016), dan diproyeksikan akan menjadi
284,829 juta pada tahun 2025. Pada tahun tersebut, 65% penduduk Indonesia akan
tinggal di kota khususnya di pulau Jawa, sementara itu jumlah kuantitas air dalam
suatu siklus hidrologi adalah sama sepanjang tahun. Permasalahan disparitas
penyebaran penduduk ini, menggambarkan sebuah kondisi potensi kelangkaan air yang
akan terjadi di daerah padat penduduk. Data saat ini menempatkan Pulau Jawa, Pulau
Bali dan sebagian Pulau Sulawesi pada posisi defisit air. Selain itu daerah yang padat
akan menciptakan banyak hunian liar, kumuh dan tidak layak huni yang biasanya
didirikan di sepanjang bantaran sungai. Hal ini selain akan menyebabkan pendangkalan
akibat sampah dan berkurangnya dimensi badan air, juga akan menurunkan kualitas air
pada badan air tersebut akibat pencemaran yang terjadi, sehingga air sungai tidak dapat
lagi dimanfaatkan untuk kebutuhan rumah tangga. Jadi secara garis besar dapat
dikatakan bahwa tantangan dan hambatan pengelolaan SDA untuk ketahanan air di
Indonesia terbagi atas 3 kondisi atau keadaan yaitu : adalah kondisi air yang terlalu
banyak (banjir), terlalu sedikit (kekeringan) dan terlalu kotor (penurunan kualitas air).
Menjawab permasalahan tersebut Kementerian Pekerjaan Umum dan
Perumahan Rakyat (PUPR) melalui Direktorat Jenderal Sumber Daya Air (Ditjen
SDA), sebagai unit organsasi kementerian PUPR yang bertanggung jawab dalam
pengelolaan infrastruktur SDA negara, telah menetapkan tiga pilar umum pengelolaan
SDA di Indonesia. Yang pertama adalah konservasi yaitu upaya memelihara keadaan
serta keberlanjutan sifat, keadaan dan fungsi SDA seperti perlindungan kawasan hulu,
pembuatan tampungan (waduk) dan penanaman kawasan hutan. Selanjutnya
pendayagunaan SDA yaitu upaya penatagunaan, penyediaan, penggunaan,
pengembangan dan pengusahaan SDA. Adapun Contoh usaha tersebut daintaranya :
pembangunan tampungan multi fungsi (waduk), pengembangan jaringan irigasi,
pengembangan sarana dan prasarana penyediaan air baku. dan pengendalian daya
rusak air. Yang terakhir adalah pengendalian daya rusak air yaitu upaya untuk
mencegah menanggulangi dan memulihkan kerusakan kualitas lingkungan akibat daya
rusak air seperti pembangunan sarana dan prasarana pengendali banjir, lahar dingin,
pengendali sedimen dan pengaman pantai. Pada akhirnya pembangunan infrastruktur
khususnya dibidang keairan bertujuan mewujudkan kemanfaatan Sumber Daya Air
untuk kesejahteraan bangsa dan negara, sehingga akan meningkatkan produktivitas
nasional dan daya saing bangsa.
Tahun 2017 indeks daya saing global atau Global competitivenes index
Indonesia masih berada pada ranking 41, berada di bawah Singapura (2) Malaysia (25)
dan Thailand (34). Pertumbuhan infrastruktur adalah salah satu dari dua belas
komponen yang menentukan tinggi rendahnya daya saing suatu bangsa. Mengacu
kepada Indeks Daya Saing Infrastruktur atau Infrastructure Competitiveness Index
(ICI), Indonesia berada pada ranking 60 pada tahun 2017. Posisi ranking Indonesia ini
sebenarnya dapat diapresiasi karena terus meningkat setiap tahunnya, dimana 6 tahun
sebelumnya (2011) ranking ICI Indonesia di posisi 90. Walaupun jika dibandingkan
dengan negara di regional ASEAN lainnya bahwa ranking infrastruktur Indonesia saat
ini masih tertinggal, akan tetapi tren melonjaknya peringkat ICI Indonesia enam tahun
terakhir menunjukkan bahwa saat ini negara sedang giat dan akan terus membangun
untuk mengejar ketertinggalan.
Sebagai contoh dalam bidang SDA telah ditetapkan target terdekat yaitu 2015
– 2019 Indonesia berdaulat atas air, pangan dan energi. Penjabaran dari narasi tersebut
adalah ditetapkannya pekerjaan infrastruktur vital keairan diantaranya : pembangunan
65 buah waduk ( 49 baru, 16 lanjutan, 29 selesai), 3 juta hektar rehabilitasi jaringan
irigasi, 1 juta hektar pembangunan jaringan irigasi baru, 67,52 𝑚3 /𝑠 air baku, 306 buah
bangunan pengendali lahar dan sedimen, 3000 km bangunan pengendali banjir dan 530
km bangunan pengaman pantai. Dalam mewujudkan itu semua dibutuhkan insan-insan
PUPR handal dan professional yang memiliki fungsi keahlian pada bidangnya.
Kelompok ahli tersebut, berhimpun dalam suatu Jabatan Fungsional Tertentu yang
salah satunya adalah Jabatan Fungsional Teknik Pengairan Ahli Pertama
Peran Penjabat Teknik Pengairan Ahli Pertama dalam perencanaan,
pengembangan dan pengelolaan SDA antara lain : menyiapkan bahan dan kebijakan
PPSDA tingkat provinsi dan satuan wilayah sungai (SWS), menginterpretasi peta untuk
kesiapan data dan informasi, melakukan studi pendahulun untuk menyusun kebijakan
PPSDA,merencanakan pemeliharaan sungai/danau/waduk/embung/muara/delta/pantai
dan daerah tangkapan air, menganalisis upaya pengelolaan SDA, mengenalisis strategi
kebijakan SDA untuk pertanian, air minum, industri, pariwisata, perikanan dan tambak,
lalu lintas dan pelayaran dan keberlanjutan sistem pengelolaan, memantau alokasi air,
menyusun alternatif paket-paket kegiatan studi kelayakan perencanaan pengembangan
dan pengelolaan irigasi, merencanakan survei dan investigasi (SI) perencanaan teknis,
menyusun petunjuk teknis O&P, mengadakan analisis data studi kelayakan, menyusun
alternatif paket-paket kegiatan bendungan, menyusun kriteria desain bangunan sungai,
menyusun kriteria desain bendungan, melakukan inspeksi dan investigasi keamanan
bendungan, melakukan analisis dan rekomendasi keamanan bendungan dst. Produk
atau hasil kerja dari seorang pejabat Teknik Pengairan Ahli Pertama tersebut baik
berupa hasil kajian, analisa, gambar, data dan informasi nantinya akan dijadikan acuan
dalam pengambilan kebijakan oleh pejabat struktural, ataupun menjadi hipotesa
ataupun bukti pendahuluan untuk dikaji lebih dalam oleh pejabat Teknik Pengairan
Ahli yang berada diatasnya jika diperlukan.
Maka melihat dari tugas dan peran seorang penjabat Teknik Pengairan Ahli
Pertama, sangat menentukan dalam berhasil tidaknya suatu pekerjaan pengembangan
dan pengelolaan SDA bangsa. Jika kajian, rekomendasi, data dan informasi dsb yang
diberikan salah atau tidak valid, hasil akhir pekerjaan yaitu infrastruktur SDA tidak
bisa dimanfaatkan secara optimal oleh masyarakat, dan yang lebih parah lagi jika
sampai terjadi gagal konstruksi. Pada akhirnya akan merugikan bangsa dan
menghambat produktivitas nasional. Namun sebalinya apabila Jika kajian,
rekomendasi, data dan informasi dsb benar, hasil akhir pekerjaan yaitu infrastruktur
SDA dapat dimanfaatkan secara optimal, sehingga akan meningkatkan kualitas hidup
manusia Indonesia, meningkatkan produktivitas rakyat dan daya saing di pasar
internasional dan mewujudkan kemandirian ekonomi sesuai dengan nawacita yang
telah dicanangkan pemerintah.