Anda di halaman 1dari 5

1.

Sejarah Penemuan dan Perkembangan Panas Bumi di Indonesia


Pengembangan panas bumi sebagai energi bermula di negeri Itali. Pada 4 Juli
1904, oleh Pangeran Piero Ginori Conti yang menguji generator panas bumi pertama
di Lardello, selatan Tuscany. Lalu, pada 1911, di Valle del Diavolo, Larderello,
dibangun pembangkit listrik tenaga panas bumi yang pertama.
Di Indonesia usaha pencarian panasbumi pertama dilakukan di daerah kawah
Kamojang pada tahun 1918. Diantara tahun 1920 – 1929 telah dihasilkan lima sumur
eksplorasi, dimana salah satu sumurnya, KMJ-3, masih memproduksi uap panas
kering/ dry steam hingga saat ini. Kegiatan eksplorasi panasbumi di Indonesia baru
dilakukan secara luas pada tahun 1972 setelah perang dunia. Pertamina dan Direktorat
Vulkanologi melakukan survei pendahuluan di seluruh wilayah Indonesia dengan
bantuan Pemerintah Prancis dan New Zealand. Sehingga didapatkan 217 titik prospek
panasbumi, yaitu di sepanjang jalur vulkanik mulai dari barat Sumatera, Jawa, Bali,
Nusatenggara, dan ke utara arah Maluku dan Sulawesi. Kemudian dilakukan survei
lanjutan sehingga titik panas bertambah menjadi 256, yaitu 84 prospek di Sumatra, 76
prospek di Jawa, 51 prospek di Sulawesi, 21 prospek di Nusatenggara, 3 prospek di
Irian, 15 prospek di Maluku, dan 5 prospek di Kalimantan.
Terjadinya sumberpanas di berbagai daerah Indonesia disebabkan oleh proses
subduksi antara lempeng Pasifik, India-Australia, dan Eurasia. Proses magmatisme di
Pulau Sumtra cenderung lebih dangkal daripada Pulau Jawa-Nusatenggara. Akibatnya,
sistem panas bumi di Pulau Sumatera umumnya berkaitan dengan kegiatan gunungapi
andesitis-riolitis yang disebabkan oleh sumber magma yang bersifat lebih asam dan
kental, sedangkan di Pulau Jawa, Nusatenggara dan Sulawesi umumnya berasosiasi
dengan kegiatan vulkanik bersifat andesitis-basaltis dengan sumber magma lebih cair.
Perbedaan sistem penunjaman menyebabkan tekanan dan kompresi yang dihasilkan
oleh sesar oblique antara lempeng India-Australia dan lempeng Eurasi menghasilkan
sesar regional yang memanjang disepanjang Pulau Sumatra yang berperan sebagai
sarana bagi kemunculan sumber-sumber panas bumi yang berkaitan dengan gunungapi
muda. Lalu, di Jawa sampai Sulawesi, sistem panasbuminya dikontrol oleh sistem
pensesaran yang bersifat lokal dan oleh istem depresi kaldera yang terbentuk karena
pemindahan masa batuan bawah permukaan saat erupsi eksplosif. Reservoar panas
bumi di Sumatra umumnya menempati batuan sedimen yang telah mengalami
beberapakali deformasi dan pensesaran sejak Tersier-Resen. Hal tersebut
menyebabkan batuan memiliki porositas dan permeabilitas sekunder yang lebih baik
daripada reservoar pada lapangan panasbumi di Pulau Jawa-Sulawesi.
Sistem panas bumi di Indonesia umumnya merupakan sistem hidrotermal
bertemperatur tinggi >225°C, dan beberapa bertemperatur sedang 150-225°C
(Hochstein, 1990). Sistem ini terbentuk sebagai hasil perpindahan panas dari sumber
ke sekelilingnya yang terjadi secara konduksi dan konveksi. Perpindahan panas
konduksi melalui batuan, sedangkan perpindahan panas konveksi melalui adanya
kontak dengan air. Adanya sistem hidrotermal sering ditunjukkan oleh manifestasi
berupa mata air panas, mud pools, geyser, dll. Manifestasi panasbumi di permukaan
diperkirakan terjadi karena adanya perambatan panas dari bawah permukaan atau
karena adanya rekahan-rekahan yang memungkinkan fluida panasbumi mengalir ke
permukaan.

2. Potensi Panasbumi di Indonesia


Berdasarkan paper Bertani (2015), sumber geotermal di Indonesia berasosiasi
dengan gunungapi sepanjang Sumatra, Jawa, Bali, dan kepulauan di timur Indonesia,
dengan perkiraan potensi mencapai 28 Gwe yang terdiri dari 312 lokasi potensial
geotermal. Lapangan geotermal yang telah beroperasi berjumlah 10 lokasi: Darajat
(260 MWe), Dieng (60 MWe), Kamojang (200 MWe), Gunung Salak (377 MWe),
Sibayak (11 MWe), Lahendong (87 MWe), Wayang Windu (227 MWe), Ulu Belu-
Sumatra Selatan (110 MWe), Ulumbu-Flores (5 MWe) dan Mataloko (2,5 MWe).
Kapasitas elektrik yang telah terpasang sebesar 1.340 MWe, dengan pengembangan
jangka pendek-menengah untuk tahun 2025 sebesar 6.000 MWe. Sekitar 440 MWe
dalam tahap pembangunan pada lima pembangkit di Sarulla dan Lumut-Balai (Darma
dan Gunawan, 2015). Kesimpulannya, kapasitas yang terpasang sebesar 1.340 Mwe
dan elektrik geotermal sebesar 9.600 GWh/y.

3. Pemanfaatan Panasbumi di Indonesia


Pemanfaatan energi panasbumi di Indonesia dapat dikelompokkan menjadi dua,
yaitu pemanfaatan langsung dan tidak langsung. Pemanfaatan langsung yang
dilakukan ialah pada bidang pariwisata berupa pembuatan lokasi pemandian air panas
untuk pengobatan dan pada Lapangan Dieng dibuka wisata alam yang menampilkan
manifestasi panasbumi seperti fumarol.
Selanjutnya, untuk pemanfaatan tidak langsung berupa pendirian Pembangkit
Listrik Tenaga Panasbumi pada lapangan prospeksi. Konsepnya hampir mirip dengan
PLTU, yaitu memanfaatkan sumber panasbumi yang menyalurkan panas secara
konveksi berupa air atau uap yang mempu memutar turbin (energi kinetik) untuk
diubah menjadi energi listrik.
4. Energi Panasbumi Dalam Bauran Energi Nasional
Energi yang dibutuhkan untuk mencukupi kebutuhan energi nasional
dihasilkan dari berbagai macam sumber energi sebagai bauran energi nasional. Bauran
energi nasional terdiri dari empat sumber, yaitu minyak bumi, gas bumi, batubara, dan
energi baru dan terbarukan (berdasarkan Rencana Umum Energi Nasional oleh
Dewan Energi Nasional, 2015). Adapun rencana tersebut diperuntukkan pada tahun
2015, 2025, dan 2050. Melalui data statisik, EBT(energi baru terbarukan)
berkontribusi 5% dari keseluruhan bauran energi. Pada tahun 2025 direncenakan untuk
berkontribusi sebesar 23%. Lalu, pada 2050 berkontribusi sebesar 31% dalam bauran
energi nasional.
Dalam Rencana Umum Energi nasional, target EBT di sektor panasbumi pada
tahun 2025 ditargetkan kapasitas PLTP terpasang sebesar 7.241 MW pada pada tahun
2050 menjadi 17.546 MW. Berdasarkan data tahun 2014-2017, total kapasitas PLTP
terpasang di Indonesia meningkat dari 1.430,5 MW menjadi 1.699 MW. Artinya,
dalam waktu 3 tahun terjad i kenaikan 295,5 MW. Apabila pemerintah menargetkan
kapasitas terpasang sebesar 7.241 MW pada tahun 2025, maka dalam kurun 8 tahun
kedepan harus ditambakan PLTP sebesar 5.542 MW.

Rencana Umum Energi Nasional 2015-2050 (Dewan Energi Nasional)


DAFTAR PUSTAKA

Abadi, P.dkk. 2015. An Overview of Indonesia Geothermal development - Current


Status and Its Challenges. Melbourne : World Geothermal Congress 2015.

Bertani, Ruggero. 2015. Geothermal Power Generation in the World 2010 - 2014
Update Report.Australia: Proceedings World Geothermal Congress 2015.

Saptadji, Neni. 2015. Sekilas Tentang Panas Bumi. Bandung: Institut Teknologi
Bandung.