Anda di halaman 1dari 7

BAB 1

PENDAHULUAN

Kanker kandung kemih adalah kanker yang berasal dari mukosa kandung kemih
(urotel). Kanker ini merupakan keganasan ketujuh paling sering pada pria dan ke-17
pada wanita.1 Insidensi di seluruh dunia adalah 9 per 100.000 untuk laki-laki dan 2 per
100.000 untuk perempuan (GLOBOCAN 2008). Di Eropa, insiden kanker kandung
kemih mencapai 27 per 100.000 untuk laki-laki dan 6 per 100.000 untuk perempuan.2,3
Insidensi di Indonesia belum diketahui dengan pasti. Menurut data GLOBOCAN 2008,
insidensi di Indonesia mencapai 5,8 per 100.000 penduduk.4 Data Rumah Sakit Hasan
Sadikin (RSHS) Bandung dalam 7 tahun terakhir terdapat 351 kasus kanker kandung
kemih, 253 kasus (72%) adalah Karsinoma Sel Transisional (KST). Usia rerata 60,8
tahun, dengan usia terbanyak > 60 tahun, dan rasio pria:wanita adalah 6:1.5 Di Rumah
Sakit Cipto Mangunkusumo (RSCM) dan Rumah Sakit Kanker Dharmais (RSKD)
Jakarta, terdapat 340 penderita kanker kandung kemih selama periode Januari 1995 –
Desember 2004, dimana terdapat peningkatan sekitar 15% pertahun di kedua rumah
sakit tersebut dengan rerata usia 54 tahun. Karsinoma Sel Transisional (KST)
merupakan jenis terbanyak (78.8%) dan sekitar 60% penderita didiagnosis sebagai
tingkat lokal lanjut dan lanjut.5 Data di RS Soetomo selama 5 tahun (2008-2012),
terdapat 126 pasien KST kandung kemih dengan usia rerata 60,6 tahun dan terbanyak
pada usia > 60 tahun dengan rasio perbandingan pria dan wanita 4,2 : 1.6
Angka kematian global akibat kanker kandung kemih adalah 3.2 per 100.000
dengan perbandingan 3 laki-laki berbanding 1 wanita per 100.000. Sedangkan data di
Indonesia, menurut GLOBOCAN 2008 mencapai 3.1 per 100.000 populasi dewasa.1
Di negara maju, pasien kanker kandung kemih masih berada pada stadium awal yang
lazim disebut sebagai Kanker Kandung Kemih Non Invasi Otot (KKKNIO) atau Non
Muscle Invasive Bladder Cancer (NMIBC) dan 30% pasien ditemukan dalam stadium
yang disebut Kanker Kandung Kemih Invasi Otot (KKKIO) atau Muscle Invasive
Bladder Cancer (MIBC).1,2 Di RSHS, stadium terbanyak berdasarkan AJCC 2010
adalah KKKIO/MIBC sebesar 90,8%.4 Di RSCM, dari 254 KST didapatkan 95 kasus
(37.4%) KKKNIO/NMIBC dan sebanyak 159 kasus (62.6%) adalah KKKIO/MIBC.7
Diagnosis dari kanker kandung kemih berdasarkan keluhan, tanda dan gejala,
pemeriksaan fisik, dan pemeriksaan penunjang.
Sistoskopi dan biopsi/reseksi merupakan standar diagnostik untuk kanker
kandung kemih. Diagnosis pasti ditegakkan berdasarkan hasil pemeriksaan patologi
anatomi. 7
Penatalaksanaan kanker kandung kemih dibagi 2, berdasarkan invasi ke otot
kandung kemih, yakni penatalaksanaan KKKNIO/NMIBC dan KKKIO/MIBC.
Penatalaksaan untuk KKKNIO/NMIBC dapat berupa reseksi tumor transuretra disertai
dengan pemberian obat kemoterapi intravesika. Sedangkan untuk KKKIO/MIBC dapat
berupa sistektomi radikal, radiasi eksterna dan/atau kemoterapi. Angka kekambuhan
kanker kandung kemih ini cukup tinggi oleh karena itu perlu pemantauan secara
berkala. 7
BAB II
STATUS PASIEN

II.1 Identitas
Nama : Ny. T
No CM : 165157
Umur : 66, 93 tahun
Jenis kelamin : Perempuan
Agama : Islam
Pekerjaan : Ibu Rumah Tangga
Alamat : Teluk
Tanggal masuk RS : 13 Januari 2018 (Poli)

II.2 Anamnesis
Keluhan utama:
Pasien mengeluh pipis keluar tidak terkontrol dengan sendirinya sejak 1 bulan SMRS.

Riwayat penyakit sekarang:


Pasien datang ke poli bedah RST dr. Soedjono Magelang dengan keluhan tidak
terkontrolnya air kencing sejak 1 bulan SMRS. Pasien mengatakan bahwa setiap hari
merasa celana dalamnya basah dikarenakan tidak terkontrolnya air kencing yang keluar
dan terasa selalu seperti rembes. Pasien mengatakan keluahan seperti ini belum pernah
dirasakan sebelumnya. Pasien menyangkal pernah mengalami rasa tidak selesai saat
berkemih. Pasien mengatakan terkadang pasien merasa sakit ketika bekemih.
Sebelumnya, pasien sering merasa sakit pada pinggang ketika beraktivitas. Pasien
mengatakan bahwa keluhan tersebut tidak pernah dikonsulkan ke dokter sebelumnya.
Pasien mengakui bahwa ketika muda pasien selalu sering meminum teh dan kopi.
Frekuensi meminum teh
Pasien datang ke poli RST dr. Soedjono Magelang dengan sakit saat BAK,
sakkit saat BAK ini sudah dirasakan sejak 4 bulan yang lalu, sakit saat BAK dirasakan
ketika kencing sudah hampir habis, saat memulai kencing dan saat kencing tidak
dirasakan sakit, pasien merasakan sakit sekali saat BAK, pasien juga mengakui sakit di
daerah perut tengah bawah dan saat di tekan sakit, keluhan ini juga dialami sejka 4
bulan yang lalu. Selain itu, pasien juga mengakui pernah BAK berwarna kemerahan,
namun tidak dirasakan nyeri saat BAK berwarna kemerahan, BAK kemerahan ini juga
sudah dialami pasien sejak 4 bulan yang lalu.
Pasien mengakui bahwa lebih baik saat di infus d rumah sakit, namun saat infus
di lepas, sakit tersebut muncul kembali. BAK 2-3 kali sehari, Demam (-), sakit yang
menjalar (-), sakit pinggang (-), BAK anyang anyangan (-), nanah (-), BAK terputus
(-), BAK sering pada malam hari (-). Pasien mengaku tidak pernah meminum air putih,
selalu minum teh dan merokok sejak usia 15 tahun hingga sekarang, dalam sehari bisa
menghabiskan ½ bungkus rokok, alkohol (-).

Riwayat penyakit dahulu


Pernah sakit pada kaki, dan batu ginjal 10 tahun yang lalu, di obati dan keluar
batu sebesar kurma hipertensi (-), DM (-), asma (-), Alergi (-), trauma (-)
Riwayat Kebiasaan
Merokok (+), Alkohol (-),
II.3 Pemeriksaan Fisik
Status generalis
Keadaan umum : tampak sakit ringan
Kesadaran : compos mentis
Tanda Vital : TD : 120/80 mmHg
Nadi : 82 x/menit
RR : 20 x/ menit
S : 36,0°C
Kepala : konjungtiva tidak anemis, Sklera tidak ikterik,
Pupil bulat, isokor Ø 3 mm
Leher : Tidak ada pembesaran KGB
Thoraks :
Cor : Inspeksi : ictus cordis tidak terlihat
Palpasi : ictus cordis teraba
Perkusi : batas jantung normal
Auskultasi : BJ I-II reguler, murmur -, gallop –
Pulmo: Inspeksi : pergerakan dinding dada kanan dan kiri simetris
Palpasi : stem fremitus kiri = kanan
Perkusi : sonor di seluruh lapang paru
Auskultasi : vesikuler, rhonki -/-, wheezing -/-
Abdomen
Inspeksi : tampak datar
Auskultasi : bising usus (+) normal
Palpasi : Nyeri tekan (+) regio suprapubis, nyeri ketok CVA -/-
Perkusi : timpani
Ekstremitas atas & Ekstremitas bawah : Tidak ada kelainan
Genital : tidak terdapat trauma, tanda infeksi dan massa (-)
Status Lokalis
Inspeksi : Regio Suprapubis tidak tampak adanya massa
Palpasi : nyeri tekan (+)

Hasil USG Abdomen


Kesan :
-Lesi echoic dinding VU Latero Anterior sinistra dengan kalsifikasi (+), pada
CDFI tampak hipervaskular, curiga CA VU
- Sonography tak tampak kelainan pada morfologi Hepar, VF, ren bilateral, lien,
[ankreas, dan prostat
-tak tampak limfadenopati para aortici

II.4 Resume
Bapak usia 67 tahun datang ke poli bedah RST dr. Soedjono Magelang dengan
keluhan sakit saat BAK sejak 4 bulan yang lalu.
Dari pemeriksaan lokalis di regio supra pubis tampak regio supra pubis tidak
terdapat massa . Saat di palpasi terdapat nyeri tekan regio suprapubis.
Dari USG Abdomen didapatkan :
Lesi echoic dinding VU Latero Anterior sinistra dengan kalsifikasi (+), pada
CDFI tampak hipervaskular, curiga CA VU
- Sonography tak tampak kelainan pada morfologi Hepar, VF, ren bilateral, lien,
[ankreas, dan prostat
-tak tampak limfadenopati para aortici