Anda di halaman 1dari 42

LAPORAN LENGKAP

PRAKTIKUM BIOLOGI DASAR FARMASI

ANATOMI BUAH & BIJI

Kelompok : II ( dua )

Kelas : Farmasi B

Asisten pj : Ika Pertiwi Dewi Putri S.Farm

LABORATORIUM BIOLOGI FARMASI DASAR

JURUSAN FARMASI

FAKULTAS KEDOKTERAN DAN ILMU KESEHATAN

UNIVERSITAS ISLAM NEGERI ALAUDDIN MAKASSAR

2017-2018
BAB I

PENDAHULUAN

A. Latar belakang

Pada perkembangan zaman sekarang ini, banyak penduduk indonesia

khusunya di daerah Sulawesi Selatan yang memiliki banyak jenis tanaman yang

dibudidayakan karena bermanfaat bagi manusia dalam hal pengobatan terutama pada

buah dan biji.

Pada percobaan kali ini tentang anatomi buah dan biji terdapat banyak

manfaat khusunya untuk diri sendiri yang bisa mengenali jenis struktur selnya pada

buah dan biji, bisa mengamati langsung pada mikroskop bagaimana bentuk sel-sel

bagian penyusunnya pada buah dan biji dan menambah pengalaman dan

pembelajaran untuk masa depan. Selain bermanfaat pada diri sendiri juga bermanfaat

bagi orang lain karena yang telah melakukan percobaan ini mereka juga bisa

mengetahui bagaimana itu bentuk struktur selnya dan khasiatnya.

Percobaan pada anatomi buah dan biji dilakukan untuk mengetahui bagaimana

bentuk dari sel makhluk hidup yang lebih spesifik pada sel tumbuhan dan dapat

menggambarkan bagaimana bentuk dari sel yang diamati. Adapun hal yang ingin

dicapai pada percobaan ini ialah mendapatkan bentuk sel yang sesuai dengan jelas

dengan perbesaran yang tinggi, agar struktur sel yang diamati jelas terlihat bagian-

bagiannya dari sel sel tersebut.


Di dalam Al-Quran sendiri dijelaskan tentang buah dan biji dalam Q.S Al-

An’am ayat 95 yang berbunyi :

Artinya : Sesungguhnya Allah menumbuhkan butir tumbuh-tumbuhan

dan biji buah-buahan. Dia mengeluarkan yang hidup dari yang mati dan

mengeluarkan yang mati dari yang hidup. (Yang memiliki sifat-sifat)

demikian ialah Allah, maka mengapa kamu masih berpaling? (Q.S Al-An’am

: 95)

Dalam ayat ini dijelaskan tentang bagaiamana kuasa Allah menciptakan buah

dan biji-bijian, dengan mempelajari ayat dan kandungan dari ayat ini akan

meningkatkan rasa syukur kita kepada Allah yang telah menciptakan segala sesuatu

dengan kuasanya di bumi seperti buah dan biji-bijian yang tidak lain hanya untuk

keberlangsungan hidup umat manusia di bumi.

Dalam dunia farmasi, proses pembuatan obat-obatan ada yang berasal dari

bahan kimia adapun yang berasal dari bahan alam yaitu tumbuh-tumbuhan. Salah satu

bagian tumbuhan yang memiliki khasiat yaitu buah dan biji. Pada buah banyak sekali

mengandung vitamin yang sangat bermanfaat bagi tubuh manusia. Contohnya yaitu

pada buah jeruk yang dimana banyak sekali kandungan vitamin yang sudah bisa

dijadikan sebagai bahan-bahan untuk membuat obat. Adapun obat yang mengandung

buah yaitu pada suplemen penambah nafsu makan.


B. Maksud dan Tujuan Percobaan

1. Maksud Percobaan

Maksud diadakannya percobaan ini adalah untuk mengamati bentuk sel dan

jaringan yang menyusun bagian buah dan biji pada tumbuhan.

2. Tujuan Percobaan

Tujuan diadakannya percobaan ini adalah untuk memberikan kemampuan

kepada mahasiswa dalam mengenali dan mengamati anatomi pada tumbuhan

diantaranya buah adas (Foeniculum vulgare), buah buncis (Phaseolus vulgaris L.),

buah dan biji cabai rawit (Capsicum frustescens L.), buah jagung segar (Zea mays),

dan biji kacang hijau (Phaseolus radiatus L.).

C. Prinsip Percobaan

Prinsip percobaan pada praktikum ini yaitu dilakukan penentuan bagian-

bagian anatomi buah dan biji pada sampel buah adas (Foeniculum vulgare), buah

buncis (Phaseolus vulgaris L.), buah dan biji cabai rawit (Capsicum frustescens L.),

buah jagung segar (Zea mays), dan biji kacang hijau (Phaseolus radiatus L.) dimana

sampel diiris setipis mungkin dan diletakkan pada objek glass. Kemudian preparat
tersebut ditutup dengan deg glass lalu diamati pada perbesaran 4x dan 10x

menggunakan mikroskop.
BAB II

TINJAUAN PUSTAKA

A. Teori Umum

Peristiwa pembuahan menyebabkan bakal buah berkembang menjadi buah

dan bakal biji berkembang menjadi biji. Zigot yang terdapat dalam biji juga

berkembang menjadi embrio. Pada saat yang sama, bunga mengalami perubahan

yang menyebakan perkembangan bakal buah menjadi buah. Perhiasan bunger dan

benang sari biasanya layu, lalu gugur, dan kemudian, setelah polinasi, tangkai putik

(stilus) mengering. Namun, bakal buah bertambah besar dan mengalami berbagai

modifikasi histologis yang menyebabkan berbagai jaringan berubah bentuk selnya.

Beberapa atau seluruh modifikasi dapat berperan dalam megahasilkan mekenisme

untuk penyebaran biji. Jika diikuti perkembangannya, buah sebenarnya terdiri dari

bakal buah yang telah dewasa (Hidayat, 2005: 36).

Secara normal perkembangan buah terjadi setelah pembuahan. Bakal buah

meluas ke arah plassenta dan ovarium. Bertambahnya ukuran buah disebabkan oleh

adanya dua proses, yaitu pembelahan sel (yang diawakili dengan membesarnya,
sebelum pembelahan mitosis) dan pembesaran sel selanjutnya. Biasanya awal

terjadinya pembesaran sel tergantung pada pembelahan sel, dan dimulai sebelum

antesis, kemudian berlanjut sampai buah nyata. Tingkat ini kemudian secara

berangsur diganti dengan perkembnagn sel dan diikuti oleh pertumbuhan memanjang

(Sumardi, 1993: 53).

Setelah terjadi pembuahan, bakal buah akan berkembang menjadi buah dan

bakal biji menjadi biji. Namun ada pula peristiwa pembentukan buah yang tidak
didahului dengan pembuahan. Peristtiwa itu disebut partenokarpi. Pada dasarnya

jaringan penyusun buah berasal dari perkembangan jaringan penyusun bakal buah.

Seharusnya dinamakan kulit buah (perikarpium) adalah perkembangan dari dinding

ovarium, tetapi pada prakteknya kadang-kadang kulit buah tidak hanya berasal dari

dinding ovarium saja. Buah semu tidak dibentuk dari bakal buah saja tetapi mungkin

dari bagian bunga lain (Savitri, 2008: 75).

Secara umum buah berkembang sesudah pembuahan (ferstilisasi), tetapi tidak

selalu demikian. Buah pada banyak tumbuhan, seperti misalnya varietas tertentu dari

Musa, Citrus, dan Vitis, berkembang tanpa pembentukan bijinya. Fenomena ini

disebut partenokarpi. Pada beberapa tumbuhan umpamanya Kacang tanah (Arachis

hypogaea), buahnya itu hanya berkembang setelah ginofor atau tiang putih menembus

kedalam tanah dengan membawa serta karpel atau daun buah dengan ovul atau bakal

biji yang telah dibuahi (Fahn, 1982: 26).

Berdasar struktur kulit buahnya dapat dibedakan buah kering dan buah

berdaging. Buah bedaging adalah buah yang mempunyai kulit buah tebal dan

berdaging. Sedangkan buah kering mempunyai kulit buah yang tipis. Perikarp dapat

mengalami diferensiasi menjadi 2 bagian, yang luar disebut ektokarp dan bagian
dalam menjadi endokarp. Pada babarapa jenis buah, perikarp berdiferensiasi menjadi

3 bagian, yaitu eksokarp, mesokarp, dan endokarp. Pada buah terkadang hanya

mempunyai lebih dari satu ruangan berisi satu biji atau beberapa biji. Adapula buah

yang mempunyai lebih dari satu ruang dan setiap ruang dapat berisi satu biji atau

lebih(Hidayat, 2005: 38).

Biji merupakan alat perkembangbiakan tumbuhan Angiospermae karena di

dalam biji tersebut ditemukan embrio yang merupakan calon tumbuhan baru. Untuk
berkecambah biji memerlukan tenaga yang diperoleh dari cadangan makanan.

Berdasarkan letak cadangan makanannya yaitu jaringan biji yang albuminus dan

eksalbuminus. Biji dibentuk dengan adanya perkembangan bakal biji. Pada saat

pembuahan tabung sari memasuki kantong embrio melalui mikrofil dan

menempatkan dua buah inti gamet jantan padanya. Satu diantaranya bersatu dengan

inti sel telur dan yang lain bersatu dengan inti polar atau hasil penyatuannya, yakni

inti sekunder. (Hidayat, 2005: 38).

Selain cadangan makanan kulit biji juga mempunyai struktur yang bermacam-

macam. Kulit biji seharusnya merupakan perkembangan integumen tetapi kadang-

kadang tidak hanya integument saja. Jaringan yang mungkin membentuk kulit biji

adalah kalaza, raphe, dan sebagian jaringan nuselus, sel tannin, sel skelerenkim, dsb.

Jaringan yang mugkin tampak pada penampang melintang biji diantaranya : jaringan

kulit biji yang tersusun dari lapisan sel makrosklereida atau osteosklereida, hilum,

endospermae yang berisi butir amilum atau bahkan mungkin aleuron, embrio dsb.

(Savitri, 2008: 76).

1. Bagian-Bagian Biji

Bagian-bagian biji dapat dibedakan menjadi 2 bagian yaitu: bagian dasar biji
dan bagian non dasar biji.

a. Bagian-bagian dasar biji:(Sutopo, 2002: 56).

1. Embrio, adalah suatu tanaman baru yang terjadi dari bersatunya gamet-

gamet jantan dan betina pada suatu proses pembuahan. Embrio yang berkembangnya

sempurna terdiri dari struktur-struktur sebagai berikut : epikotil (calon pucuk),

hipokotil (calon batang), kotiledon (calon daun) dan radikula (calon akar). Tanaman

di dalam kelas Angiospermae diklasifikasikan oleh banyaknya jumlah kotiledon.


Tanaman monokotiledon mempunyai satu kotiledon misalnya : rerumputan dan

bawang. Tanaman dikotiledon mempunyai dua kotiledon misalnya kacang-kacangan

sedangakan pada kelas Gymnospermae pada umumnya mempunyai lebih dari 2

kotiledon misalnya pinus, yang mempunyai sampai sebanyak 15 kotiledon. Pada

rerumputan (grasses) kotiledon yang seperti ini disebut scutellum, kuncup

embrioniknya disebut plumulle yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut

koleoptil, sedangkan pada bagian bawah terdapat akar embrionik yang disebut

radicule yang ditutupi oleh upih pelindung yang disebut coleorhiza.

2. Jaringan penyimpan cadangan makanan Pada biji ada beberapa struktur

yang dapat berfungsi sebagai jaringan penyimpan cadangan makanan, yaitu :

Kotoledon, misalnya pada kacang-kacangan, semangka dan labu. Endosperm, misal

pada jagung, gandum, dan golongan serelia lainnya. Pada kelapa bagian dalamnya

yang berwarna putih dan dapat dimakan merupakan endospermnya. Perisperm, misal

pada famili Chenopodiaceae dan Caryophyllaceae, Gametophytic betina yang

haploid misal pada kelas Gymnospermae yaitu pinus. Cadangan makanan yang

tersimpan dalam biji umumnya terdiri dari karbohidrat, lemak, protein dan mineral.

Komposisi dan presentasenya berbeda-beda tergantung pada jenis biji, misal biji
bunga matahari kaya akan lemak, biji kacang-kacangan kaya akan protein, biji padi

mengandung banyak karbohidrat.

3. Pelindung biji dapat terdiri dari kulit biji, sisa-sisa nucleus dan endosperm

dan kadang-kadang bagian buah. Tetapi umumnya kulit biji (testa) berasal dari

integument ovule yang mengalami modifikasi selama proses pembentukan biji

berlangsung. Biasanya kulit luar biji keras dan kuat berwarna kecokelatan sedangkan

bagian dalamnya tipis dan berselaput. Kulit biji berfungsi untuk melindungi biji dari
kekeringan, kerusakan mekanis atau serangan cendawan, bakteri dan insekta.Dalam

hal penggunaan cadangan makanan terdapat beberapa perbedaan diantara sub kelas

monokotiledon dan dikotiledon dimana pada : Sub kelas monokotiledon : cadangan

makanan dalam endosperm baru akan dicerna setelah biji masak dan dikecambhakan

serta telah menyerap air. Contoh jagung, padi, gandum. Sub kelas dikotiledon :

cadangan makanan yang terdapat dalam kotileodon atau perisperm sudah mulai

dicerna dan diserap oleh embrio sebelum biji masak. Contoh kacang-kacangan, bunga

matahari dan labu.

b. Bagian-bagian non dasar biji:(Hariana, 2005: 30)

1. Kulit Biji (spermodermis), berasal dari selaput bakal biji (integumentum).

Oleh sebab itu biasanya kulit biji dari tumbuhan biji tertutup (Angiospermae) terdiri

atas dua lapisan, yaitu :

a. Lapisan Kulit Luar (testa), ada yang tipis, ada yang kaku seperti kulit, ada

yang keras seperti kayu atau batu. Bagian ini merupakan pelindung utama bagian biji

yang di dalam. Lapisan luar ini dapat memperlihatkan warna dan gambaran yang

berbeda-beda: merah, biru, perang, kehijau-hijauan, ada yang licin rata, mempunyai

permukaan keriput.
b. Lapisan Kulit Dalam (tegmen), tipis seperti selaput, dinamakan juga kulit

ari. Pada pembentukan kulit biji dapat pula ikut serta bagian bakal biji yang lebih

dalam daripada integumentumnya, misalnya lain bagian jaringan nuselus yang terluar.

Biji yang kulitnya terdiri atas dua lapisan itu umumnya adalah biji tumbuhan biji

tertutup (Angiospermae). Pada tumbuhan biji talanjang (Gymnospermae), biji

malahan mempunyai tiga lapisan seperti pada biji belinjo (Gnetum gnemon K),

padahal bakal biji tumbuhan biji telanjang umumnya hanya mempunyai satu
integementum saja. Ketiga lapisan kulit biji seperti pada melinjo itu masing-masing

dinamakan:

1) Kulit luar (sarcotesta), biasanya tebal berdaging, pada waktu masih

muda berwarna hijau, kemudian berubah menjadi kuning, dan akhirnya merah.

2) Kulit tengah (sclerotesta), suatu lapisan yang kuat dan keras, berkayu,

menyerupai kulit dalam (endocarpium) pada buah batu.

c. Kulit dalam (endotesta), biasanya tipis seperti selaput, serigkali melekat

erat pada inti biji Pada kulit luar biji itu masih dapat ditemukan bagian-bagian lain,

misalnya:

1) Sayap (ala), alat tambahan berupa sayap pada kulit luar biji, dan

dengan demikian biji mudah dipencarkan oleh angin, ch. pada spatodea (Spathodea

campanulata P.B.), kelor (Moringa oleifera Lamk).

2) Bulu (coma), yaitu penonjolan sel-sel kulit luar biji yang berupa

rambut-rambut yang halus, memudahkan biji ditiup oleh angin, ch. pada kapas

(Gossypium), biduri (Calotropis gigantean Dryand).

3) Salut biji (arillus), yang biasanya berasal dari pertumbuhan tali pusar,

misalnya pada biji durian (Durio zibethinus Murr).


4) Salut Biji semu (arillodium), seperti salu biji, tetapi tidak berasal dari

tali pusar. Melainkan tumbuh dari bagian sekitar liang bakal biji (micropyle). Macis

pada biji pala sebenarnya adalah suatu salut biji semu.

5) Pusar biji (hilus), yaitu bagian kulit luar biji bekas perlekatan dengan

tali pusar, biasanya kelihatan kasar dan mempunyai warna yang berlainan dengan

bagian lain kulit biji. Pusar biji jelas kelihatan pada biji tumbuhan berbuah polong,

misalnya ; Kacang panjang (Vigna Sinensis Edl), kacang merah (Phaseolus vulgaris
L). Dll.Liang biji (micropyle), ialah liang kecil bekas jalan masuknya buluh serbuk

sari ke dalam bakal biji pada peristiwa pembuahan. Tepi liang inii seringkali tumbuh

menjadi badan berwarna keputih-putihan, lunak, yang disebut karunkula (caruncula).

Jika badan yang berasal dari tepi liang ini sampai merupakan salut biji, maka disebut

salut biji semu (arillodium).

6) Bekas-bekas pembuluh pengangkutan (chalaza), yaitu tempat

pertemuan integumen dengan nuselus, masih kelihatan pada biji anggur (Vitis

vinifera.L).

7) Tulang biji (raphe), yaitu tali pusar pada biji, biasanya hanya kelihatan

pada biji yang berasal dari bakal biji yang mengangguk (anatropus), dan pada biji

biasanya tak begitu jelas lagi, masih kelihatan misalnya pada biji jarak (Ricinus

communis L).

2. Tali pusar (funiculus), merupakan bagian yang menghubungkan biji dengan

tembuni, jadi merupakan tangkainya biji. Jika biji masak, biasanya bijii terlepas dari

tali pusarnya (tangkai biji), dan pada biji hanya tampak bekasnya yang dikenal

sebagai pusar biji (lihat perihal kulit biji).

3. Inti biji atai isi biji (nucleus seminis), ialah semua bagian biji yang terdapat
di dalam kulitnya, oleh sebab itu inti biji juga dapat dinamakan isi biji, inti biji terdiri

dari:

a. Lembaga (embryo), yang merupakan calon individu baru.

b. Putih Lembaga (albumen), jaringan berisi cadangan makanan untuk

masa permulaan kehidupan tumbuhan baru (kecambah) sebelum dapat mencari

makanan sendiri.
Pada dasarnya biji mempunyai susunan yang tidak berbeda dengan bakal biji,

tetapi dipergunakan nama-nama yang berlainan untuk bagian-bagian yang sama

asalnya, misalnya : Integumentum pada bakal biji, kalau sudah menjadi biji

merupakan kulit biji (spermodermis) (Rifai, 1976: 18).

B. Uraian Bahan

1. Alkohol (Dirjen POM, 1979 : 65)

Nama resmi :AETHANOLUM

Nama lain : Alkohol, etanol, ethyl alkohol

Rumus senyawa : C2H6O

Berat molekul : 46,07 g/mol

Rumus struktur :

Pemerian : Cairan tidak berwarna, jernih, mudah menguap dan

mudah bergerak; bau khas rasa panas, mudah terbakar

dan memberikan nyala biru yang tidak berasap.

Kegunaan : Sebagai pembersih preparat.

Penyempanan : Dalam wadah tertutup baik.

2. Asam klorida (Dirjen POM, 1979 : 53)

Nama resmi :ACIDUM HYDROCHLORIDUM

Nama lain : Asam klorida

Rumus senyawa : HCl

Berat molekul : 34,46 g/mol


Rumus struktur : H-Cl

Pemerian : Cairan tidak berwarna, berasap, bau merangsang, jika

diencerkam dengan dua bagian air asap dan bau

hilang.

Kegunaan : Sebagai zat tambahan.

Penyempanan : Dalam wadah tertutup rapat.

3. Floroglusin (Dirjen POM, 1979 : 675)

Nama resmi :PHLOROGLUCINOL

Nama lain : Floroglusin

Berat molekul : 26,11 g/mol

Rumus struktur :

Pemerian : Habiur/ serbuk habiur putih atau kekuningan.

Kelarutan : Sukar larut dalam air, larut dalam etanol 95% dan

dalam eter.

Kegunaan : Untuk memperjelas struktur anatomi pada tumbuhan

saat dilakukan pengamatan dengan mikroskop.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.


4. Iodium (Ditjen POM, 1979 : 316)

Nama resmi : IODIUM

Nama lain : Iodium, iod, Triodo methane, formyl triiodide,

formylum triiodatum.

Rumus molekul : I2

Berat molekul : 126,1 g/mol


Pemerian : Keping atau butir, berat mengkilat, seperti logam,

hitam kelabu, bau khas.

Kelarutan : Larut dalam 3500 bagian air, 13 bagian etanol 95% P,

dalam lebih kurang 80 bagian gliserol P, dan dalam

lebih kurang 4 bagian karbon disulfide P, larut dalam

kloroform P dan karbon tetraklorida P.

Kegunaan : Untuk memperjelas kandungan amilum.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

5. Kalium Iodida (Ditjen POM, 1979 : 330)

Nama resmi : KALIUM IODIDUM

Nama lain : Kalium Iodida, Potassium iodide

Rumus molekul : KI

Berat molekul : 166,00 g/mol

Pemerian : Habiur heksahedral transparan/ tidak berwarna.

Kelarutan : Sangat mudah larut dalam air

Kegunaan : Sebagai zat tambahan.

Penyimpanan : Dalam wadah tertutup rapat.

C. Uraian Tanaman

1. Buah Adas (Foeniculum vulgare)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Spematophyta
Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Sub Kelas : Dialypetalae

Ordo : Apiales

Family : Apiaceae

Genus : Foeniculum

Spesies : Foeniculum vulgare(Tjitrosoepomo, 1988 : 315)

b. Deskripsi

Tanaman adas berupa perdu menahun dan tingginya mencapai 2 m.

Batang lunak, berlubang, beruas dengan alur-alur vertical, berwarna

hijau.Daun majemuk menyirip ganda, berbentuk jarum, ujung dan pangkal

daun runcing. Bunga majemuk bentuk paying. Buah lonjong, beralur, warna

hijau, setelah tua menjadi keabu-abuan. (Gunawan, 1999 : 26)

2. Buah Buncis (Phaseolus valgaris)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Spematophyta
Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Sub Kelas : Dialypetalae

Ordo : Apiales

Family : Apiaceae

Genus : Phaseolus

Spesies : Phaseolus vulgaris (Tjitrosoepomo, 1988 : 163)


b. Deskripsi

Tanaman semusim berbentuk perdu. Tanaman buncis memiliki

susunan daun majemuk. Bunganya merupakan bunga sempurna, sehingga

menyerbuk sendiri. Warna dan ukuran polong bervariasi. Warna dan bentuk

biji juga bervariasi (Nasikhun Amin, 2014 : 20)

3. Buah dan biji Cabai rawit (Capsicum frustescens)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Spematophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Sub Kelas : Sympetalae

Ordo : Solanales

Family : Solanaceae

Genus : Capsicum

Spesies : Capsicum fristescens (Tjitrosoepomo, 1988 : 354)

b. Deskripsi
Batang tanaman cabai rawit memiliki struktur yang khas dan

berkayu, berwarna hijau gelap, berbentuk bulat, halus dan bercabang banyak.

Daun cabai rawit berbentu bulat telur dengan ujung runcing dan tepi daun

rata. Daun merupakan daun tunggal dengan kedudukanagar mendatar, tulang

daun menyirip. Bunga tanaman cabai rawit merupakan bunga tunggal yang

berbentuk bintang. Buah cabai rawit dapat berbentuk bulat pendek dengan

ujung runcing atau berbentuk kerucut. Biji cabai rawit berwarna putih
kekuningan, berbentuk bulat pipih, tersusun kelompok, ukuran biji cabai

rawit sangat kecil. (Cahyono., 2003 : 11-12)

4. Buah Jagung (Zea Mays)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae

Divisi : Spematophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Monocotyledonae

Sub Kelas :-

Ordo : Poales

Family : Poaceae

Genus : Zea

Spesies : Zea mays (Tjitrosoepomo, 1988 : 165)

b. Deskripsi

Jagung merupakan tanaman semusim jenis padi-padian, tinggi dapat

mencapai 3 meter, batangnya tegak, sedikit kasar, berbulu, berakar serabut.

Daun berbentuk pipih panjang, sedikit kasar, berbulu panjang dapat


mencapai 1 m, ujung daun runcing, bagian tepi bergelombang. Bunga jantan,

warna putih kekuningan. Bakal berbentuk telur, tangkai sangat panjang,

dengan ujung bercabang dua yang pendek. Buah masak berwarna kuning.

(Sunanto, 2009 : 34)

5. Biji kacang hijau (Phaseolus radiatus)

a. Klasifikasi

Regnum : Plantae
Divisi : Spematophyta

Sub Divisi : Angiospermae

Kelas : Dicotyledonae

Sub Kelas : Dialypetalae

Ordo : Fabales

Family : Fabaceae

Genus : Phaseolus

Spesies : Phaseolus radiatus(Tjitrosoepomo, 1988 : 163)

b. Deskripsi

Batang tanaman kacang hijau berukuran kecil, berbulu berwarna

hijau kecoklat-coklatan, atau kemerah-merahan; tumbuhan tegak mencapai

ketinggian 30 cm-110 cm dan bercabang menyebar kesemua arah. Daun

tumbuh majemuk, tiga anak helai daun per tangkai. Helaian daun berbentuk

oval dengan ujung lancip dan berwarna hijau. Bunga kasang hijau

berkelamin sempurna, berbentuk kupu-kupu dan berwarna kuning. Buah

berpolong, panjangnya antara 6 cm-15 cm. Tiap polong berisi 6-16 butir biji.

Biji kacang hijau berbentuk bulat kecil dan berwarna hijau sampai mengilap
(Rukmana, 1997: 16).

BAB III

METODE KERJA

A. Alat dan Bahan

1. Alat
Alat-alat yang digunakan pada percobaan ini adalah deg glass, empulur ketela

pohon, jarum preparat, kobokan, lampu spritus, mikroskop cahaya, objek glass,

pinset, dan pipet tetes.

2. Bahan

Bahan-bahan yang digunakan pada percobaan ini adalah alkohol, asam klorida

25%, buah adas (Foeniculum vulgare), buah dan biji buncis (Phaseolus vulgaris),

buah dan biji cabai rawit (Capsicum frustescens), buah jagung segar (Zea mays), biji

kacang hijau (Phaseolus radiatus L.), empulur ketela pohon (Manihot

utilisima),floroglusin, IKI (Iodium Kalium Iodida).

B. Cara Kerja

1. Buah adas (Foeniculum vulgare)

a. Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

b. Disiapkan alat dan bahan

c. Diiris tipis secara melintang buah adas dengan bantuan empulur ketela pohon.

d. Diletakkan pada objek glass

e. Ditutup dengan deg glass


f. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

g. Dibuka deg glass

h. Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

i. Ditutupi kembali dengan deg glass

j. Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

k. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

l. Dibandingkan hasil sebelum dan sesudah pemberian reagen IKI/lugol


m. Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

2. Buah dan biji buncis (Phaseolus vulgaris)

a. Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

b. Disiapkan alat dan bahan

c. Diiris tipis secara melintang buah dan biji buncis dengan bantuan empulur ketela

pohon.

d. Diletakkan pada objek glass

e. Ditutup dengan deg glass

f. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

g. Dibuka deg glass

h. Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

i. Ditutupi kembali dengan deg glass

j. Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

k. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

l. Dibandingkan hasil sebelum dan sesudah pemberian reagen IKI/lugol

m. Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

3. Buah dan biji cabai rawit (Capsicum frustescens)

a. Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

b. Disiapkan alat dan bahan

c. Diiris tipis secara melintang buah dan biji cabai rawit dengan bantuan empulur

ketela pohon.

d. Diletakkan pada objek glass


e. Ditutup dengan deg glass

f. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

g. Dibuka deg glass

h. Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

i. Ditutupi kembali dengan deg glass

j. Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

k. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

l. Dibandingkan hasil sebelum dan sesudah pemberian reagen IKI/lugol

m. Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

4. Buah jagung (Zea mays)

a. Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

b. Disiapkan alat dan bahan

c. Diiris tipis secara membujur buah jagung dengan bantuan empulur ketela pohon.

d. Diletakkan pada objek glass

e. Ditutup dengan deg glass

f. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto


g. Dibuka deg glass

h. Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

i. Ditutupi kembali dengan deg glass

j. Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

k. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

l. Dibandingkan hasil sebelum dan sesudah pemberian reagen IKI/lugol

m. Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.


5. Biji kacang hijau (Phaseolus radiatus L)

a. Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

b. Disiapkan alat dan bahan

c. Diiris tipis secara melintang biji kacang hijau

d. Diletakkan pada objek glass

e. Ditutup dengan deg glass

f. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

g. Dibuka deg glass

h. Ditetesi dengan reagen floroglusin, IKI/ lugol, dan HCl 25% pada masing-masing

preparat.

i. Ditutupi kembali dengan deg glass

j. Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

k. Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

l. Dibandingkan hasil sebelum dan sesudah pemberian reagen floroglusin, IKI/ lugol,

dan HCl 25% pada masing-masing preparat.

m. Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

BAB IV

HASIL PENGAMATAN DAN PEMBAHASAN

A. Tabel Pengamatan
Keterangan
NO. Gambar yang diamati Gambar literatur
Buah adas (Foeniculum
vulgare)
Sebelum diberi reagen
Perbesaran 4×
1. Exocarp
1 1 2. Mesocarp
3. Endocarp
2 2

3 3

Perbesaran 10×

1 1

2 2

3 3

1.
Setelah diberi reagen
Perbesaran 4×

Perbesaran 10×

3
Buah jagung (Zea mays)

Sebelum diberi reagen


Perbesaran 4×
1. Exocarp
1 1 2. Mesocarp
3. Endocarp
2 2

3 3

Perbesaran 10×

1 1

2 2

3 3
2.

Setelah diberi reagen


Perbesaran 4×

Perbesaran 10×

3
Buah dan biji buncis
(Phaseolus vulgaris)
a. Buah buncis
Sebelum diberi reagen
Perbesaran 4×
1. Exocarp
1 1 2. Mesocarp
3. Endocarp
2 2

3 3

Perbesaran 10×

1 1

2 2

3 3
3.
Setelah diberi reagen
Perbesaran 4×

Perbesaran 10×

3
b. Biji buncis
Sebelum diberi reagen
Perbesaran 4×
1 1. Testa
1 2. Aleuron
2 2 3. Radikula
3 4. Endosperm
4 3 5. Hypokotil
5 6. kotiledon
6

Perbesaran 10×
1
1
2 2
3
5 3
6

Setelah diberi reagen


Perbesaran 4×

Perbesaran 10×

1
2
3
5
6
Biji kacang hijau
(Phaseolus radiatus)

Sebelum diberi reagen


Perbesaran 4×
1. Testa
2. Aleuron
1 1

2 2

Perbesaran 10×

1 1

2 2

4.
Setelah diberi reagen
a) IKI/Lugol
Perbesaran 4×
1. Testa
2. Aleuron
1

Perbesaran 10×

2
b) Floroglusin
Perbesaran 4×

1
1. Testa
2 2. Aleuron
3. Embrio
3

Perbesaran 10×

c) HCl 25%
Perbesaran 4×

1. Testa
1
2. Aleuron
3. Embrio
2

Perbesaran 10×

3
Buah dan biji cabai rawit
(Capsicum frustescen)
a. Buah cabai rawit
Sebelum diberi reagen
Perbesaran 4×
1. Exocarp
1 1 2. Mesocarp

2 2

Perbesaran 10×

1 1

2 2

5.

Setelah diberi reagen


Perbesaran 4×
1. Exocarp
1 2. Mesocarp

Perbesaran 10×

2
b. Biji cabai rawit
Setelah diberi reagen
Perbesaran 4×

1 1. Testa
1 2. Aleuron
2 3. Embrio
2
3
3

Perbesaran 10×
1
1
2
2
3
3

Setelah diberi reagen


Perbesaran 4×

1
1. Testa
2. Aleuron
2
3. Embrio
3

Perbesaran 10×

3
B. Pembahasan

Buah adalah organ pada tanaman berbunga yang merupakan hasil dari buah

(ovarium). Buah terbentuk seteelah terjadi penyerbukan. Jika penyerbukan berhasil

dimana serbuk sari berhasil mencampai , maka akan terbentuk buah dan biji. Buah

biasanya membungkus dan melindungi biji. Aneka rupa dan bentuk buah tidak

terpisah dengan fungsi utama buah, sebagai pemencar biji tumbuhan. Pada buah

terdaapat buah kering dan buah berdaging yang bagiannya yaitu pada buah kering

terdapat pericarp dan seed. Sedangkan pada buah berdaging terdapat lapisan luar

(eksocarp), lapisan tengah (mesocarp), dan lapisan dalam(endocarp), terdapat pula

inti (seed). (Savitri, 2008 : 115)

Biji (bahasa latin : semen) adalah biji (ovulum) dari tumbuhan berbunga yang

telah masak. Biji bisa terlindungi oleh organ lain (Buah pada angiospermae atau

magnoliophyta). Pada anatomi biji ada dua yaitu biji dikotil dan biji monokotil. Pada

biji dikotil terdapat ; testa, aleuron, cotyledon, hypokotil, radicula. Pada biji

monokotil terdapat ; pericarp,endosperm, coleoptile, radicle, dan coleorhizae.

(Sumardi, 1993 :21)

Berdasarkan praktikum yang telah dilakukan maka didapatkan hasil dari


percobaan mengamati anatomi buah dan biji daintaranya pada sampel buah adas adas

(Foeniculum vulgare), buah dan biji buncis (Phaseolus vulgaris), buah dan biji cabai

rawit (Capsicum frustescens), buah jagung segar (Zea mays), dan biji kacang hijau

(Phaseolus radiatus).

Pada pengamatan pertama yaitu pada buah adas (Foeniculum vulgare), sel

yang diamati pada buah adas (Foeniculum vulgare), yang bertipe buah kering
jaringan-jaringan penyusun anatominya terdiri dari pericarp yang terdiri dari

eksocarp, mesocarp, dan endocarp dan seed (inti).

Pada pengamatan yang kedua yaitu pada buah dan biji buncis (Phaseolus

vulgaris), sel yang di amati pada buah dan biji buncis (Phaseolus vulgaris) pada

jaringan-jaringannya yaitu pada buah terdapat pericarp (eksocarp, mesocarp,

endocarp, dan seed). Pada buah yang sudah di tetesi IKI/ lugol tampak terdapat butir-

butir amilum. Pada biji buncis (Phaseolus vulgaris)terlihat jaringan penyusunnya

tests, hypokotil, cotyledon, aleuron, dan radicula.

Pada pengamatan yang ketiga yaitu pada buah dan biji cabai rawit (Capsicum

frustescens), sel yang di amati yaitu pada buahnya terlihat bagian penyusunnya di

antaranya eksocarp, mesocarp, endocarp, dan seed/inti. Pada buah yang telah ditetesi

IKI/lugol tampak butir butir amilum. Sedangkan pada bijinya bagian penyusun yang

Nampak yaitu; testa, aleuron, radicula, hypocotil, dan kotyledon.

Pada pengamatan yang keempat yaitu buah jagung segar (Zea mays), sel yang

diamati pada buah jagung (Zea mays), yaitu pada buahnya yang bertipe buah kering

terdapat jaringan penyusun yang tampak ; pericarp, endosperm, cotyledon, radicula,

coleorhiza, karena termasuk ke dalam biji monokotil. Pada buah jagung (Zea mays)
yang sudah di tetesi IKI/lugol tampak butiran-butiran amilum.

Pada pengamatan yang terakhir yaitu pada biji kacang hijau (Phaseolus

radiatus), sel yang diamati dimana jaringan penyusun yang terlihat yaitu pericarp,

radicula, hypocotil, dan cotyledon betuk selnya berlekuk dan setelah di tetesi

IKI/lugol tampak butir-butir amilum.


Perbandingan hasil pengamatan dengan literature yang kami dapatkan, adalah

pada buah adas (Foeniculum vulgare), pada gambar literature terlihat jelas bagian

antar selnya. Bentuk selnya juga tampak jelas dan tidak terdapat gelembung.

Pada buah dan biji buncis (Phaseolus vulgaris), terlihat jelas bagian lekukan

dari sel, pada gambar literature warnanya lebih terang. Sedangkan pada pengamatan

langsung masih terdapat jaringan yang tidak selengkap gambar literature.

Pada buah dan biji cabai rawit (Capsicum frustescens), warna pada

pengamatan langsung lebih terang daripada gambar literature yang kami dapatkan.

Bentuk sel dari hasil dan literature juga tampak berbeda.

Pada buah jagung segar (Zea mays), hasil pengamatan dan literature tampak

selnya lebih rapat dan tidak terdapat bulatan. Perbedaannya hanya terdapat dari warna

dan kejelasan gambarnya.

Pada pada biji kacang hijau (Phaseolus radiatus) pada literature gambarnya

tampak lebih terang, yaitu berwarna hijau dan tampak terdapat berkas-berkas

sedangkan pada hasil pengamatan tidak terdapat warna lain.

Faktor kesalahan yang mempengaruhi percobaan kali ini yaiitu pemberian

reagen pada sampel yang terlalu banyak sehingga mengakibatkan jaringan penyususn
buah dan biji tampak kurang jelas, karena tertutupi oleh warna reagen yang terlalu

terang.

Alasan perlakuan pemberian reagen IKI/lugol bertujuan untuk melihat adanya

kaandungan amilum atau tidak pada masing-masing sampel, pemberian reagen

floroglusin bertujuan untuk member warna pada sel. Adapun pemberian reagen HCl

25 % bertujuan untuk memperjelas ruang-ruang antar sel.


BAB V

PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan hasil praktikum yang telah dilakukan dapat disimpulkan bahwa

buah ada yang berbentuk lonjong panjang dan ada pula yang bentuk lain. Pada buah

tampak jelas lapisan luarnya (exocarp) serta lapisan lainnya yaitu lapisan tengah
(mesocarp) dan lapisan dalam (endocarp). Sedangkan pada biji tampak lapisan luar

yaitu testa, aleuron, endosperm dimana berfungsi sebagai tempat penyimpan

cadangan makanan, kotiledon sebagai bakal daun, embrio sebagai calon tanaman

baru, hypokotil sebagai calon batang dan radikula sebagai calon akar.

B. Saran

1. Untuk Asisten

Diharapkan para asisten lebih menguasai para praktikan pada saat praktikum

karena kebanyakan praktikan yang kurang fokus pada saat proses praktikum.

2. Untuk Laboratorium

Diharapkan agar fasilitas segera terpenuhi dan dilengkapi, terkhusus pada

penyediaan mikroskop.

DAFTAR PUSTAKA

Cahyono, Bambang. Cabai Rawit: Teknik Budi Daya Dan Analisis Usaha Tani.

Niaga Swadaya. Jakarta. 2003

Dirjen, Pom. Farmakope Indonesia Edisi Iii. Departemen Kesehatan Ri. Jakarta. 1979

Fahn, A. Anatomi Tumbuhan. Gadjah Mada University Press. Yogyakarta. 1982


Gunawan, Didik. Ramuan Tradisional Untuk Keharmonisan Suami Istri. Niaga

Swadaya. Jakarta. 1999

Hariana, A. Tumbuhan Obat Dan Khasiatnya. Pt Penebar Swadaya. Depok. 2005

Hidayat, Estiti B. Anatomi Tumbuhan Berbiji. Itb. Bandung. 2005

Nasikhun Amir, Muhammad. Sukses Bertani Buncis: Sayuran Obat Kaya Manfaat.

Garudhawaca. Jakarta. 2014

Rukmana, Rahmat. Kacang Hijau Budi Daya Dan Pascapanen. Kanisus. Yogyakarta.

1997

Savitri. Petunjuk Praktikum Struktur Perkembangan Tumbuhan (Anatomi

Tumbuhan). Uin Press. Malang. 2008

Sumardi, Isserep. Struktur Dan Perkembangan Tumbuhan. Ugm. Yogyakarta. 1993

Sunanto, Hardi. 100 Resep Sembuhkan Hipertens, Asam Urat Dan Obesitas. Elex

Media K. Jakarta. 2009

Sutopo, L. Teknologi Benih. Fakultas Pertanian Unbraw. Malang. 2002

Tjitrosoepomo, Gembong. Taksonomi Tumbuhan (Spermatophyta). Gadjah Mada

University Press. Yogyakarta. 1988

SKEMA KERJA

1. Buah adas (Foeniculum vulgare)


Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

Disiapkan alat dan bahan


Diiris tipis secaramelintangbuahadasdengan
bantuanempulurketelapohon

Diletakkan pada objek glass

Ditutup dengan dek glass

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibuka dek glass

Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

Ditutupi kembali dengan dek glass

Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibandingkan hasil sebelum dan sesudahpemberian reagen IKI/lugol

Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.


2. Buah dan biji buncis (Phaseolus vulgaris)
Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

Disiapkan alat dan bahan

Diiris tipis secaramelintangbuahdan biji buncis


denganbantuanempulurketelapohon

Diletakkan pada objek glass

Ditutup dengan dek glass

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibuka dek glass

Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

Ditutupi kembali dengan dek glass

Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibandingkan hasil sebelum dan sesudahpemberian reagen IKI/lugol


Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

3. Buah dan biji cabai rawit (Capsicum frustescens)


Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

Disiapkan alat dan bahan

Diiris tipis secaramelintangbuahdan biji cabai


rawit denganbantuanempulurketelapohon

Diletakkan pada objek glass

Ditutup dengan dek glass

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibuka dek glass

Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

Ditutupi kembali dengan dek glass

Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul


Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibandingkan hasil sebelum dan sesudahpemberian reagen IKI/lugol

Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

4. Buah jagung (Zea mays)


Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

Disiapkan alat dan bahan

Diiristipis secara membujurbuah


jagungdenganbantuanempulurketelapohon

Diletakkan pada objek glass

Ditutup dengan dek glass

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibuka dek glass

Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

Ditutupi kembali dengan dek glass


Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibandingkan hasil sebelum dan sesudahpemberian reagen IKI/lugol

Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

5. Biji kacang hijau (Phaseolus radiatus)


Diucapkan bismillah sebelum memulai praktikum

Disiapkan alat dan bahan

Diiristipis secara membujurbiji kacang


hijaudenganbantuanempulurketelapohon

Diletakkan pada objek glass

Ditutup dengan dek glass

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibuka dek glass


Ditetesi dengan reagen IKI/ lugol

Ditutupi kembali dengan dek glass

Dilakukan fiksasi sampai tidak ada gelembung yang muncul

Diamati di bawah mikroskop, kemudian difoto

Dibandingkan hasil sebelum dan sesudahpemberian reagen IKI/lugol

Dibandingkan hasil pengamatan dengan literature yang ada.

Anda mungkin juga menyukai