Anda di halaman 1dari 4

KEHIDUPAN EKOSISTEM TERUMBU KARANG (CORAL REEFS)

DI PULAU NUSA PENIDA, KABUPATEN KLUNGKUNG, BALI


Umul Baitul Mu’amanah (08161085)
Perencanaan Wilayah dan Kota
Mata Kuliah: Pengantar Lingkungan Pesisir
Dosen Pengampu: Ariyaningsih, S.T., M.T., M.Sc.

I. PENDAHULUAN
Indonesia merupakan Negara kepulauan terbesar di dunia, yang kaya akan sumber
wilayah pesisirnya, baik sumber daya hayati maupun non-hayati. Menurut Nontji (2002),
wilayah pesisir adalah wilayah pertemuan antara daratan dan laut, ke arah darat meliputi
bagian daratan yang masih dipengaruhi oleh sifatsifat laut seperti pasang surut, angin laut
dan intrusi garam, sedangkan ke arah laut mencakup bagian laut yang masih dipengaruhi
oleh proses alami yang ada di darat seperti sedimentasi dan aliran air tawar serta daerah
yang dipengaruhi oleh kegiatan-kegiatan manusia di daratan. Hal ini sejalan dengan apa
yang disebutkan pada Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2007 bahwa
wilayah pesisir adalah daerah peralihan antara ekosistem darat dan laut yang dipengaruhi
oleh perubahan di darat dan laut. Salah satu bentuk dari sumber daya alam hayati yang
berada di ekosistem pesisir adalah terumbu karang (Coral reefs).
Timotius (2003) menjelaskan, terumbu karang merupakan ekosistem khas perairan
tropis yang memiliki diversifikasi taksonomik dan produktifitas yang tinggi, serta bernilai
estetika yang tinggi. Selain itu, sebagai lingkungan hidup, terumbu karang mempunyai
fungsi untuk menjadi tempat tinggal, tempat berlindung dan berkembang biota di dalamnya.
Indonesia secara keseluruhan merupakan perairan yang mempunyai kekayaan jenis karang
terbesar di dunia. Sumber daya terumbu karang dengan biotanya yang beragam memberi
banyak kegunaan sebagai sumber obat-obatan yang menunjang industri farmasi, daerah
rekreasi dengan nilai alami untuk industri pariwisata, menunjang kebudayaan, tempat
perkembangbiakan, pemijahan, dan pembuatan sarang biota laut; memiliki mekanisme
pengontrol erosi pantai secara alami; sebagai daerah yang menunjang transpor laut,
dijadikan pelabuhan, dan daerah penambangan karang, petroleum, bahan pasir, dan logam
dasar.
Nusa Pelida merupakan pulau terbesar dari gugus kepulauan Nusa Lembongan-
Nusa Ceningan-Nusa Penida. pulau yang beberapa kali lipat lebih luas dari Nusa
Lembongan ini menyimpan pesona alam bawah laut yang tak kalah mengagumkan dari
tetangganya tersebut. Bahkan, bisa dikatakan, terumbu karang di perairan sekeliling
Nusa Penida jauh lebih unggul dalam aspek keanekaragaman hayati. Tak kurang dari
200 spesies terumbu karang dan 500 spesies ikan hidup di perairan dangkal di sekeliling
pulau seluas 200 kilometer persegi ini. Tetapi, keadaannya kini mengalami kerusakan
akibar faktor eksternal seperti lalu lintas ponton ataupun wisata bahari yang tidak terkontrol.
Oleh karena itu, diperlukan ketegasan pemerintah terhadap perlindungan ekosistem
terumbu karang di Pulau Nusa Penida, Bali.
II. PEMBAHASAN
Adanya ancaman global seperti global warming, meningkatnya suhu air laut
ditambah dengan praktik perikanan yang menyimpang semakin mengancam keberlanjutan
hidup terumbu karang. Ancaman pada terumbu karang dapat mengakibatkan musnahnya
hutan bawah laut di dunia yang menjadi sumber dari perikanan, pariwisata, maupun
pelindung garis pantai dari berbagai negara. Padahal planet bumi sebagaian besar atau
70% terdiri dari air dan mayoritas berasal dari air laut sehingga banyak negara didunia
bergantung pada sumber daya laut. Adapun yang menjadi pusat dari terumbu karang dunia
adalah kawasan segitiga terumbu karang yang mencakup sebagian Asia Tenggara dan
Pasifik Barat yang membentang di sebagian wilayah enam negara, yaitu Indonesia,
Malaysia, Papua Nugini, Filipina, Kepulauan Solomon, dan Timor-Leste (Burke at all., 2012).
Dari kawasan segitiga terumbu karang, Indonesia menjadi salah satu negara yang
kerusakan terumbu karangnya sangat tinggi. Indonesia memiliki kerusakan terumbu karang
hingga 70% dan hanya 30% terumbu karang berada dalam kondisi baik (Indonesia green
news, 2012).
Berdasarkan hasil Rapid Ecologi Assesment (REA) Marine – Kajian Ekologi Laut
secara cepat pada bulan November 2008, di Nusa Penida, Dr. Emre Turak (coral expert)
menemukan 296 jenis karang. Di perairan Nusa Penida juga dijumpai ikan pari manta, hiu,
penyu, lumba-lumba, paus, bahkan dijumpai ikan Mola mola (Sunfish) yang menjadi icon
bawah laut Nusa Penida, bahkan pulau Bali. Terumbu karang merupakan rumah, tempat
berkembang-biak, mencari makan dan berlindung bagi ikan-ikan dan biota laut lainnya.
Disisi lain, terumbu karang di Nusa Penida, Bali ini berfungsi sebagai pelindung pantai alami
dari gempuran ombak sehingga pantai tidak terabrasi
Pada kenyataannya ekosistem Terumbu Karang di perairan Nusa Penida, Bali kian
terancam rusak. Beberapa faktor yang menyebabkan kondisi ekosistem Terumbu Karang
Nusa Penida, Bali kian memburuk yaitu
1. Menurut keterangan warga sekitar, kondisi ini salah satunya dipicu keberadaan ponton
(dermaga terapung) dengan pemberat berupa beton di dasar laut. Kerusahan terumbu
karang ini sebagai imbas pemakaian fasilitas wisata bahari yang tak terkendali, seperti
ponton dan skuter di bawah laut.
2. Penggundulan perbukitan yang ada beberapa meter di sebelah selatan dermaga
mengakibatkan erosi saat turun hujan. Air bercampur lumpur kemudian masuk ke laut
melalui tukad yang mengalir dari perbukitan menuju laut. Sehingga masuknya air
bercampur lumpur akibat erosi itulah yang menyebabkan terjadinya kerusakan terumbu
karang yang cukup parah. Selain itu aktivitas pengeboman ikan, pencarian bibit ikan
menggunakan potasium, termasuk aktivitas wisatawan. Khusus aktivitas wisatawan,
wisatawan yang melakukan aktivitas penyelaman, tak seluruhnya ingin menikmati
panorama bawah laut. Sebagian ada yang sengaja mencari jenis terumbu karang baru
dan diambil untuk dilakukan tanplantasi di daerah mereka. Selain di sekitar dermaga,
kerusakan terumbu karang juga terjadi di beberapa titik di perairan Nusa Penida.
Beberapa dampak yang ditimbulkan akibat kerusakan terumbu karang Nusa Penida, Bali
yaitu:
1. Apabila kondisi terumbu karang rusak maka pariwisata pada Nusa Dua, Bali akan
menjadi terhambat dan menyebabkan kehilangan lapangan pekerjaan bagi
masyarakat asli karena sepi peminat.
2. Apabila terumbu karang yang berfungsi sebagai rumah, tempat berkembang-biak,
mencari makan dan berlindung bagi ikan dan biota laut lainnya rusak, maka dapat
dipastikan ikan juga akan berkurang, sehingga nelayan Nusa Penida pada gilirannya
harus berlayar jauh dan mengeluarkan biaya yang besar untuk melaut guna mencari
ikan.
3. Ombak dan gelombang akan langsung membentur pantai dan akibatnya pantai akan
terabrasi. Jika sudah terabrasi maka pemerintah Kabupaten Klungkung harus
mengeluarkan dana yang cukup besar untuk membangun senderan (tanggul) guna
melindungi pantai. Namun senderan ini juga tidak permanen sifatnya, karena dalam
kurun waktu 5 - 10 tahun, ada saja bagian senderan yang rusak dan runtuh sehingga
perlu pendanaan kembali untuk memperbaikinya.
Untuk menanggulangi dan mengantisipasi permasalahan ini, NGO internasional
yakni The Nature Conservancy bekerja sama dengan pemerintah Indonesia, komunitas
lokal, maupun stakeholder untuk bersama-sama melestarikan terumbu karang dan
lingkungan pesisir di Bali yang masuk kedalam segitiga pusat terumbu karang, melalui
program coral triangle center yang didirikan pada tahun 2000.
Selain itu, keberhasilan program ini dapat dilihat dari kesadaran lingkungan
masyarakat yang semakin meningkat melalui dibentuknya kebijakan adat. Peraturan yang
dimuat dalam kebijakan desa adalah pelarangan untuk penebangan mangrove,
pengambilan pasir pantai, dan larangan untuk pengambilan terumbu karang. Melalui
pembentukan kawasan konservasi, masyarakat juga dapat merasakan keuntungan dengan
tetap terjaganya persediaan ikan untuk di masa depan, sehingga hasil perikanan di Nusa
Penida terjadi peningkatan. Selain itu, masyarakat juga dapat menggunakan panorama
sumber daya alam yang tersedia sebagai sebuah lapangan kerja dan wisatawan juga
datang ke Nusa Penida untuk menyaksikan keindahan panorama bawah laut Perairan Nusa
Penida.
Hal lain yang turut dilakukan pemerintah untuk mengantisipasi kerusakan terumbu
karang Nusa Penida, Bali yaitu berdasarkan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP)
menetapkan perairan Nusa Penida di Kabupaten Klungkung, Bali, sebagai kawasan
konservasi perairan melalui Keputusan Menteri Kelautan dan Perikanan Nomor 24/2014.
Penetapan itu bertujuan melindungi kekayaan laut dan mengembangkan pariwisata,
sehingga dapat meningkatkan ekonomi masyarakat setempat. Menurut IUCN (2008)
Kawasan Konservasi Perairan adalah suatu ruang yang dibatasi secara geografis dengan
jelas, diakui, diabdikan dan dikelola, menurut aspek hukum maupun aspek lain yang efektif,
untuk mencapai tujuan pelestarian alam jangka panjang, lengkap dengan fungsi-fungsi
ekosistem dan nilai-nilai budaya yang terkait.
Saat ini, KKP juga telah menjadi bagian dalam program nasional pemerintah
Indonesia. Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mencanangkan program nasional
untuk melindungi laut Indonesia seluas 20 juta hektar pada tahun 2020 melalui
pembentukan KKP.

DAFTAR PUSTAKA
Burke, L., Reytar, K., Spalding, M., & Perry, A. (2012). Reefs at risk revisited in the coral
triangle. World Resources Institute: Creative Commons Attribution-NonCommercial-
NoDerivative Works 3.0 License. Available from www.coraltriangleinitiative.org
Indonesia green news: 70% of Indonesia’s coral reefs damaged. (2012, July 15). Retrieved
January 20, 2014, from Mongabay.com: http://news.mongabay.com/2012/071 5-
indonewswrap.html
Nontji, A. 2002. Laut Nusantara. Djambatan. Jakarta
PROFIL Kawasan Konservasi Perairan (KKP) Nusa Penida (PDF Download Available).
Available from:
https://www.researchgate.net/publication/279916996_PROFIL_Kawasan_Konservasi_P
erairan_KKP_Nusa_Penida [accessed Mar 19 2018].
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 27 tahun 2007 tentang Pengelolaan Wilayah
Pesisir dan Pulau-Pulau Kecil
Timotius. 2003. Karakteristik terumbu karang. Makalah training course. Yayasan Terumbu
Karang Indonesia.