Anda di halaman 1dari 13

INTRAMEDULLARY NAILING DENGAN PENDEKATAN SUPRAPATELLAR

DAN PENGGUNAAN PROSTHESIS CONDYLAR SEBAGAI PENANGANAN


FRAKTUR BIKONDILUS PADA KASUS FRAKTUR TIBIA PLATEAU

Christos Garnavos, MD, PhD


Investigasi dilakukan di Bagian Ortopedi, Rumah Sakit Umum "Evangelismos", Athena,
Yunani

Abstrak

Latar Belakang: Fraktur bikondilus tibia plateau telah dapat ditangani dengan hasil
yang berbeda- beda, baik dengan teknik penggunaan plate atau teknik fiksasi eksternal.
Teknik yang baru-baru ini diperkenalkan melibatkan kombinasi penggunaan antara
intramedullary nailing yang dilakukan dengan pendekatan suprapatellar dan prosthesis
condylar dapat menjadi teknik baru sehubungan dengan penanganan yang lebih baik
bagi cedera yang tergolong parah ini.
Metode: Laporan ini menjelaskan penelitian retrospektif dan prospektif terhadap
keseluruhan 17 orang pasien (rentang usia: 25 sampai 75 tahun) yang ditangani oleh
penulis terkait penanganan fraktur tertutup bikondilus tibia plateau antara tahun 2013
dan 2015. Semua pasien setuju untuk menjalani fiksasi fraktur dengan intramedullary
nailing yang dilakukan dengan pendekatan suprapatellar dan dengan penggunaan
prosthesis condylar. Permukaan artikular yang direkonstruksi turut didukung dengan
allograft kering dan beku yang telah direndam dalam sumsum tulang terkonsentrasi
sebelumnya. Pasien di-follow-up secara berkala dan hasil akhir dinilai dengan
menggunakan Knee injury and Osteoarthritis Outcome Score (KOOS).
Hasil: Semua pasien di-follow-up minimal 1 tahun (rata-rata dan standar deviasi: 25,23
± 8,95 bulan; kisaran: 12 sampai 46 bulan). Semua fraktur akan bersatu antara 10
hingga 22 minggu, baik berdasarkan klinis maupun berdasarkan radiografi (rata-rata
15,1 ± 2,91 minggu), tanpa komplikasi neurovaskular, infeksi, atau kegagalan implan.
Satu orang pasien mengalami revisi awal dari fiksasi karena reduksi pada permukaan
artikular yang kurang baik, serta 1 orang pasien mengalami pergeseran fraktur sekunder.
Satu prosthesis condylar dilepas setelah penyembuhan fraktur karena iritasi pada lokasi
insersi. Namun, semua pasien mendapatkan kembali gerakan lutut mereka yang normal
tanpa fisioterapi dan semuanya mendapatkan kembali fungsi weight-bearing secara total
pada bulan kelima pasca-operasi.
Kesimpulan: Hasil jangka pendek dan jangka menengah terkait dengan penggunaan
teknik yang diusulkan tampaknya memuaskan. Namun, keefektifan teknik ini harus
terus dinilai ulang dengan penelitian jangka panjang serta penelitian perbandingan yang
melibatkan teknik fiksasi lainnya.
Tingkat Bukti: Terapeutik Tingkat IV. Lihat Petunjuk untuk Penulis terkait dengan
deskripsi lengkap tentang tingkat bukti ini.

Penilaian Sejawat: Artikel ini telah dinilai kembali oleh salah satu ko-editor, dan
mendapat ulasan dengan metode pembutaan oleh dua orang ahli atau lebih dari luar. Ko-
editor meninjau setiap revisi artikel dan melakukan tinjauan akhir sebelum
dipublikasikan. Koreksi dan klarifikasi akhir terjadi dalam satu atau lebih pertukaran
antara penulis dan ko-editor.

Pengungkapan: Tidak ada sumber pendanaan eksternal untuk penelitian ini. Dalam
formulir Pengungkapan Potensi Konflik Kepentingan, yang disertakan dengan versi
artikel online, di mana penulis mencentang "ya" untuk menunjukkan bahwa penulis
memiliki hubungan keuangan yang relevan dalam lingkup biomedis di luar pekerjaan
yang diajukan (http://links.lww.com/JBJSOA/A9).

Hakcipta © Penulis 2017. Diterbitkan oleh Journal of Bone and Joint Surgery,
Incorporated. Hak cipta dilindungi oleh undang- undang. Ini adalah artikel dengan
akses terbuka yang didistribusikan berdasarkan ketentuan Creative Commons
Attribution-Non Commercial-No Derivatives License 4.0 (CCBY-NC-ND), di mana
diperbolehkan untuk mengunduh dan berbagi karya yang diberikan. Artikel ini tidak
dapat diubah dengan cara apapun atau digunakan secara komersial tanpa izin dari
pembuat jurnal.

Akses Terbuka JBJS • 2017: e0017.


http://dx.doi.org/10/2106/JBJS.OA.16.00017
openaccess.jbjs.org

Fraktur bikondilus tibia plateau (klasifikasi AO / OTA tipe 41C atau klasifikasi
Schatzker tipe V dan VI) [1,2] merupakan cedera pada sendi lutut yang cukup parah.
Fiksasi internal dengan teknik penggunaan plate, baik dengan teknik terbuka atau
minimal invasif dan konstruksi fiksasi eksternal yang melingkar atau hibrida telah
digunakan untuk menangani luka ini, meskipun dengan hasil akhir yang beragam [3-
11].
Upaya untuk memperbaiki implan dan teknik yang digunakan, dan / atau untuk
menemukan pilihan baru yang dapat menawarkan hasil yang lebih baik sambil
mengurangi angka kesakitan dan komplikasi telah berlangsung selama bertahun-tahun.
Sebuah teknik bedah baru yang melibatkan penggunaan intramedullary nailing dan
prosthesis condylar telah diusulkan dan diuji secara biomekanis [12-16].
Laporan ini menjelaskan hasil penanganan jangka pendek dan jangka menengah
dari penanganan fraktur bikondilus tibia plateau dengan menggunakan teknik baru ini.
Keterbatasan dan potensi manfaat dari teknik baru ini juga turut dibahas.

Gambar 1 dan 3 sampai 7. Kasus 17.


Gambar 1-A sampai 1-D. Radiograf anteroposterior dan lateral (Gambar 1-A dan 1-B)
serta pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT-scan) pre-operatif (Gambar 1-C dan
1-D) menunjukkan suatu fraktur bikondilus tibia plateau yang kompleks dengan
impaksi artikular yang substansial.
Bahan dan Metode

Teknik Bedah
Perencanaan pra-operasi yang dilakukan secara rinci dengan menggunakan
radiografi anteroposterior dan lateral serta pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT-
scan) pada sendi lutut sangat penting dalam setiap kasus fraktur tibia plateau (Gambar
1).
Pasien diposisikan di meja operasi pada posisi supine, dengan non-inflated
tourniquet di paha dari ekstremitas yang terluka, traksi di kaki yang dilakukan secara
perlahan, dan fleksi dari sendi lutut sekitar 10° sampai 20°, di mana ekstremitas bawah
lainnya berada dalam posisi fleksi dan abduksi (Gambar 2). Daerah antara bagian distal
dari femur dan sendi pergelangan kaki harus dapat diakses dengan bebas setelah
dilakukan persiapan dan pembalutan pada ekstremitas yang terluka. Daerah fraktur
antara metafisis dan diafisis biasanya dapat direduksi dengan cukup baik melalui traksi
dengan ligamentotaksis, sedangkan permukaan artikular yang tidak mengalami fraktur
dapat direduksi secara perkutan dengan menggunakan penjepit panggul (pelvic clamp).
Jika terjadi impaksi artikular, maka permukaan artikular yang tertekan dapat dielevasi
dan dikembalikan dengan tuas di bawah kontrol pengukur gambar (Gambar 3) melalui
cortical window (yang biasanya sudah terbentuk akibat fraktur). Bone graft kemudian
dimasukkan untuk mendukung permukaan artikular yang telah dikembalikan, namun
allograft kanselus beku kering yang telah direndam dalam sumsum tulang
terkonsentrasi terkadang lebih sering digunakan [17]. Prosthesis condylar kemudian
dimasukkan dari medial ke lateral, yakni 0,5 sampai 1,0 cm distal ke permukaan
artikular di bidang koronal dan pada setengah posterior dari tibia plateau di bidang
sagital. Sebuah prosthesis condylar tambahan dapat digunakan dalam kasus yang terkait
dengan keterlibatan artikular yang luas (Gambar 4). Prosthesis harus dapat mendukung
fragmen posteromedial atau posterolateral, dan perlu diperhatikan agar tidak menekan
tibia plateau. Intramedullary nailing kemudian dilakukan dengan pendekatan
suprapatellar untuk memperbaiki fraktur non-artikuler pada tibia bagian proksimal dan
memberikan dukungan tambahan pada permukaan artikular. Portal masuk untuk
intramedullarry nailing harus se-proksimal mungkin di sudut anterior dari tibia plateau.
Pergeseran atau angulasi yang tampak di area metafisis dapat diatasi dengan
menggunakan blocking screw atau free lag screw (Gambar 5).
Pergerakan sendi lutut dan berjalan tanpa weight-bearing dengan menggunakan
kruk dapat dilakukan 48 sampai 72 jam setelah operasi. Splint lutut yang bisa dilepas
yang memungkinkan gerakan fleksi dan ekstensi total dari sendi lutut digunakan selama
4 sampai 6 minggu pada kasus fraktur yang sangat kominutif atau fraktur yang
osteoporotik. Kemajuan dalam hal weight-bearing tergantung pada tingkat keparahan
fraktur dan kominusi yang terjadi. Namun, secara umum weight-bearing parsial dapat
dimulai pada 6 minggu pasca-operasi dan weight-bearing penuh dapat dimulai pada 10
sampai 12 minggu pasca-operasi.

Gambar 2. Foto yang menunjukkan posisi pasien untuk fiksasi pada fraktur bikondilus
tibia plateau.

Gambar 3-A, 3-B, dan 3-C. Radiografi intraoperatif.


Gambar 3-A. Radiografi anteroposterior menunjukkan elevasi dari permukaan artikular
yang tertekan dengan penggunaan tuas yang telah dimasukkan melalui cortical window
lateral tanpa membuka sendi lutut.
Gambar 3-B dan 3-C. Radiografi anteroposterior (Gambar 3-B) dan lateral (Gambar 3-
C) yang dibuat setelah dilakukan elevasi kartilago artikular.

Kelompok Penelitian
Laporan ini menjelaskan penelitian retrospektif dan prospektif yang mencakup
keseluruhan 17 orang pasien (usia rata-rata: 45,9 tahun; kisaran: 25 sampai 75 tahun)
yang ditangani oleh penulis terkait dengan penanganan fraktur bikondilus tibia plateau
tertutup dari bulan Februari 2013 sampai Desember 2015 (Tabel I). Semua pasien setuju
untuk menjalani fiksasi fraktur dengan prosthesis condylar dan intramedullary nailing.
Sedangkan dalam kasus fraktur impaksi, para pasien juga setuju untuk menjalani
aspirasi perkutan sumsum tulang yang dilakukan dari iliac wing pada awal operasi.
Fraktur diklasifikasikan menurut 3 sistem klasifikasi yang paling populer, yakni: AO /
OTA [1], Schatzker [2], dan Luo [18] (Tabel I).
Operasi dilakukan 3 sampai 18 hari setelah kecelakaan, di mana panjang interval
ini terutama bergantung pada tingkat keparahan cedera konkomitan dan komorbiditas,
dan kurang bergantung pada kondisi jaringan lunak lokal oleh karena insisi utama
dalam prosedur pembedahan terletak jauh dari daerah yang mengalami lepuhan atau
edema. Nail T2 tibia (Stryker) dan prosthesis condylar (Stryker) digunakan dalam
semua kasus.
Semua pasien memulai pergerakan lutut saat nyeri mulai berkurang dan tetap
tidak menjalani fungsi weight-bearing selama 6 minggu pasca-operasi. Pasien- pasien
yang berusia di atas 60 tahun dan mereka yang mengalami fraktur kompleks diberi
splint berengsel yang dapat dilepas yang memungkinkan pergerakan lutut yang tidak
terbatas selama 4 sampai 6 minggu.

Gambar 4-A dan 4-B. Radiografi anteroposterior (Gambar 4-A) dan lateral
intraoperatif (Gambar 4-B) yang dibuat setelah pemasangan 2 prosthesis kompresi.
Radiografi lateral juga menunjukkan titik masuk dari intramedullary nail. Daerah
fraktur pada metafisis anterior ditangani dengan pelepasan traksi calcaneal secukupnya
dan pemasangan 2 free lag screw anteroposterior pada tahap selanjutnya, seperti yang
ditunjukkan pada Gambar 5.

Gambar 5-A dan 5-B. Radiografi intraoperatif menunjukkan pergeseran metafisis yang
cukup besar, yang ditangani dengan blocking screw anteroposterior.
Gambar 5-C. Fiksasi pada area fraktur di metafisis anterior dilakukan dengan
pemasangan 2 free lag screw.

Gambar 6-A sampai 6-F. Foto ini dibuat pada masa follow-up terakhir.
Gambar 6-A dan 6-B. Radiografi anteroposterior (Gambar 6-A) dan lateral (Gambar 6-
B) dari sendi lutut.
Gambar 6-C dan 6-D. Radiografi anteroposterior (Gambar 6-C) dan lateral (Gambar 6-
D) menunjukkan tibia secara keseluruhan.
Gambar 6-E dan 6-F. Foto-foto dari ekstremitas bawah yang menunjukkan pemulihan
secara anatomi dan fungsi dari sendi lutut serta sifat invasif yang minimal dari teknik
yang telah digunakan.
Gambar 7-A sampai 7-D. Pemindaian dengan tomografi terkomputerisasi (CT-scan)
pasca-operasi menunjukkan reduksi permukaan artikular dari tibia plateau yang hampir
anatomik, seperti yang ditunjukkan pada tampakan melintang (Gambar 7-A), koronal
(Gambar 7-B dan 7-C), dan sagital (Gambar 7-D).

Hasil

Waktu operasi rata-rata (dan standar deviasi) adalah 107,7 ± 18,63 menit
(kisaran: 80 sampai 150 menit). Tidak ada masalah intraoperatif yang terjadi dan tidak
ada pasien yang menerima transfusi darah selama atau setelah operasi. Tidak ada kasus
komplikasi neurovaskular, infeksi, atau kegagalan implan. Seluruh pasien mendapatkan
kembali fungsi ekstensi dan fleksi dari sendi lutut pada saat follow-up kedua di klinik
rawat jalan pada waktu 8 sampai 10 minggu pasca-operasi, terlepas dari 3 orang pasien
yang mengalami komplikasi (dijelaskan di bawah). Semua fraktur telah sembuh secara
klinis dan secara radiografi dengan durasi rata-rata 15,1 ± 2,91 minggu pasca-operasi
(kisaran: 10 sampai 22 minggu). Pemulihan permukaan artikular dan alignment tibia
dinilai dengan radiograf anteroposterior dan lateral dari sendi lutut dan tibia (dari lutut
hingga pergelangan kaki) pasca-operasi. Radiograf tidak menunjukkan hilangnya
reduksi pada pasien lain (Gambar 6), terlepas dari kasus 1 orang pasien (kasus 10).
Dalam 1 kasus dilakukan penilaian kualitas restorasi artikular secara rinci dengan
menggunakan pemindaian tomografi terkomputerisasi (CT-scan) pasca-operasi atas
persetujuan pasien (Gambar 7).
Pasien di-follow-up secara klinis dan secara radiografi pada interval 4 sampai 6
minggu sampai union fraktur dan mobilisasi penuh dicapai, serta mereka diperiksa
ulang pada bulan ke-6, ke-12, dan ke-24 sesudahnya. Durasi masa follow-up rata-rata
adalah 25,2 ± 8,95 bulan (kisaran: 12 sampai 46 bulan). Rata-rata rentang pergerakan
sendi lutut pada saat follow-up terakhir adalah 130° ± 9,84° (kisaran: 110° sampai
140°).
Refiksasi fraktur dilakukan Ppda 1 orang pasien (kasus 8) oleh karena reduksi
permukaan artikular yang tidak memuaskan, seperti yang ditunjukkan pada radiografi
yang dibuat 5 hari setelah operasi awal (Tabel I). Pada pasien lain (kasus 11), prosthesis
condylar dikeluarkan 1 tahun setelah fiksasi karena terjadi iritasi pada tempat insersi
posteromedial (Tabel I). Pasien yang sama mengalami perkembangan tendinitis patela,
tendonitis Achilles, dan nyeri tekan di samping tendon peroneal kaki ipsilateral saat ia
memulai weight-bearing parsial. Gejala ini berhasil ditangani 2 bulan kemudian dengan
perawatan fisioterapi. Pada pasien ketiga (kasus 10), suatu pergeseran sekunder dalam
bentuk translasi dan angulasi varus (10°) pada daerah fraktur metafisis terlihat setelah
pasien mencoba weight-bearing awal atas inisiatifnya sendiri (Tabel I). Semua pasien
lain memperoleh kembali fungsi ekstensi dan fleksi dari sendi lutut saat follow-up kedua
di klinik rawat jalan (8 sampai 10 minggu pasca-operasi). Toe-touch dan weight-
bearing parsial diizinkan dari minggu ke-enam hingga minggu ke-empat belas,
tergantung pada pola fraktur dan usia pasien. Semua pasien benar-benar menjalani
fungsi weight-bearing pada bulan kelima pasca-operasi.
Fungsi tersebut dinilai dengan menggunakan Knee injury and Osteoarthritis
Outcome Score (KOOS) [19]. Skor rata-rata pada saat follow-up terakhir adalah 95,8 ±
5,22 poin (kisaran: 83,4 sampai 100 poin). Pada saat follow-up terakhir, semua pasien
telah melanjutkan aktivitas normal mereka dan tidak ada pasien yang mengalami
pemindahan fiksasi internal setelah union fraktur terjadi, selain daripada pasien yang
menjalani pengangkatan prosthesis kompresi karena iritasi pada area medial lutut.

Diskusi

Tidak ada konsensus yang membahas mengenai teknik bedah yang optimal
[10,20-22], meskipun telah diterima secara umum bahwa fraktur bikondilus tibia
plateau harus ditangani secara operasi untuk meminimalkan risiko kekakuan,
deformitas, dan artritis dari sendi lutut.
Reduksi terbuka dan fiksasi internal yang dilakukan secara konvensional dengan
menggunakan dual plating telah memberikan hasil yang beragam karena pelepasan
jaringan lunak yang luas dapat memicu masalah yang mempengaruhi reduksi dari
permukaan artikular dan mobilisasi awal dari sendi lutut [5,23,24]. Antusiasme awal
yang tercipta oleh pengenalan minimally invasive plate osteosynthesis (MIPO) dengan
locking plate menghilang oleh karena tingginya tingkat komplikasi seperti infeksi
profunda (sampai 18%), reduksi fraktur yang buruk (sampai 23%), kebutuhan akan
pemindahan implan (sampai 30%), dan iritasi pada lokasi implan (sampai 12%) [8,9,25-
28]. Selain itu, berbagai penelitian klinis dan biomekanik telah menunjukkan bahwa
osteosintesis dengan 1 locking plate lateral tidak lebih baik jika dibandingkan dengan
teknik penggunaan plate ganda secara konvensional. Sedangkan pengangkatan locking
plates and screws terkadang bermasalah [16,29-31]. Pada akhirnya, insisi lateral dan /
atau medial yang berkaitan dengan pemasanagan dan pengangkatan dari suatu
prosthesis logam besar, serta tingkat infeksi yang besar dapat menimbulkan masalah
dalam hal penyembuhan luka setelah prosedur artroplasti lutut total di masa depan
[32,33].
Fiksator eksternal dalam bentuk bingkai melingkar atau konstruksi hibrida juga
telah digunakan sebagai penanganan definitif dari fraktur bikondilus tibia plateau
[5,34,35]. Namun, kebanyakan pasien tidak dapat mentolerir perangkat prosthesis
eksternal berukuran besar yang nantinya dapat mengganggu mobilisasi lutut dan
kelangsungan program rehabilitasi. Selanjutnya, fiksator memerlukan perawatan pin-
track yang terus-menerus dan dikaitkan dengan kerugian lainnya terkait dengan
perkiraan kabel pada sendi lutut, di mana kehilangan reduksi dan malunion fraktur
cukup sering terjadi pada pasien dengan fraktur osteoporotik [36-38].
Gabungan penggunaan prosthesis intramedullary nailing dan prosthesis condylar
untuk penanganan fraktur bikondilus tibia plateau tanpa depresi artikular yang berat
telah dijelaskan pada 2 penelitian sebelumnya [12,13]. Intramedullary implants
merupakan pertimbangan penting terutama untuk pasien yang lebih tua, di mana implan
tersebut merupakan alat load-sharing yang mampu mendistribusikan gaya aksial secara
merata dan memungkinkan mobilisasi dini dan fungsi weight-bearing. Selanjutnya,
tingkat infeksi setelah prosedur nailing lebih rendah daripada setelah pemasangan plate
atau fiksasi eksternal [39]. Intramedullary nailing mampu mendukung pertumbuhan
dari jaringan lunak dengan lebih baik daripada penggunaan plate atau circular frame
pada kasus fraktur terbuka. Pada akhirnya, pemindahan intramedullary nailing dan
prosthesis condylar biasanya merupakan prosedur yang dapat langsung dilakukan.
Kecurigaan awal bahwa 3 sekrup proksimal mungkin tidak akan mampu
mendukung permukaan artikular yang mengalami fraktur secara memadai tidak
dikonfirmasi karena tidak ada kejadian pergeseran atau ruptur artikular. Meskipun
demikian, prosthesis condylar mampu mereduksi permukaan artikular dan
meningkatkan fiksasi, serta mampu bertindak sebagai pendukung tambahan untuk
permukaan artikular. Nail T2 tibia (Stryker) dan 3 screws berlainan yang digunakan
dalam semua kasus dalam penelitian ini mampu memberikan tekukan yang sangat
proksimal untuk menangani fraktur tibia plateau. Namun, nail khusus dengan posisi
locking screw yang lebih proksimal akan menjadi pilihan, di mana nail tersebut harus
dikonfigurasikan untuk menyokong tibia plateau yang sedang berada dalam masa
penyembuhan.
Posisi pasien di meja operasi untuk pendekatan suprapatellar tidak hanya
memungkinkan reduksi tertutup bagian ekstra-artikular dari fraktur (melalui traksi),
tetapi juga memfasilitasi radiografi anteroposterior dan lateral dari sendi lutut dengan
intensifier gambar selama operasi. Hal ini juga memungkinkan insersi nail melalui
lokasi fraktur pada bagian proksimal dari tibia tanpa menggeser fraktur [12]. Teknik
pemasakan suprapatellar (atau retropatellar) baru-baru ini telah dijelaskan sebagai
pendekatan alternatif untuk penanganan fraktur tibia proksimal ekstraartikuler dan
diafisial [40-44]. Telah diakui bahwa pendekatan suprapatellar mampu memfasilitasi
titik awal yang tepat untuk insersi nail pada tibia, meskipun telah dicatat bahwa
mungkin ada risiko substantif berupa kerusakan tulang rawan artikular dari kedua
kondilus femoralis dan patella, serta menisci dan ligamen intermeniskal. Selain itu,
tendon patela tidak berada dalam ketegangan sehingga tidak ada gaya distraktif yang
dapat mempengaruhi lokasi fraktur pada sisi anterior bila menggunakan pendekatan
suprapatellar. Berkaitan dengan sendi patellofemoral, Eastman dan kawan- kawan
melaporkan bahwa tidak ada kerusakan tulang rawan artikular secara visual yang
diamati pada lutut kadaver setelah pemasangan nail tibia melalui portal retropatellar
dengan penggunaan lengan pelindung dan teknik bedah yang dilakukan dengan hati-hati
[41]. Namun, penelitian jangka panjang pada pasien yang telah menjalani prosedur
intramedullary nailing dengan teknik suprapatellar mungkin dapat atau tidak
mengkonfirmasi pengamatan awal mengenai teknik ini.
Dari 3 penelitian yang telah mengkonfirmasi keunggulan teknik biomekanik dari
teknik yang diajukan, sebanyak 2 penelitian telah menyelidiki fraktur tibia proksimal
dengan celah yang terdapat di antara metafisis dan diafisis [14,15], sedangkan penelitian
yang ketiga [16] (dengan keikutsertaan penulis penelitian ini di dalamnya) turut
melibatkan teknik fiksasi yang dijelaskan dalam laporan ini. Model yang digunakan
dalam penelitian ketiga adalah tulang plastik yang telah disiapkan secara komersial
dengan bidang fraktur yang dapat direduksi dengan kontak yang sangat baik, di mana
model ini tidak memiliki implikasi artikular atau bidang fraktur ataupun kominusi.
Prosthesis transverse-locking kira-kira diletakkan tegak lurus terhadap bidang fraktur,
karena bidang fraktur yang terjadi berada dalam arah sagital atau parasagital, sehingga
nampaknya fraktur bikondilus yang serupa dalam skenario klinis mungkin terkait
dengan kominusi yang lebih besar, kepadatan tulang lebih rendah, impaksi yang lebih,
dan / atau lokasi dan orientasi lokasi fraktur yang kurang menguntungkan. Namun,
model plastik yang digunakan dalam penelitian tersebut memiliki sifat biomekanik yang
serupa dengan tulang kadaver yang masih berkualitas baik. Pola fraktur dipilih agar
seolah- olah menyerupai fraktur Schatzker tipe-VI tanpa depresi artikular, karena pada
saat itu hanya fraktur tanpa depresi artikular yang dipilih untuk ditangani dengan
suprapatellar nailing dan prosthesis condylar. Setelah hasil yang menguntungkan dari
penelitian biomekanik tersebut dan hasil yang menggembirakan untuk pasien dengan
fraktur yang non-impaksi, maka diputuskan untuk memperluas indikasi penggunaan
teknik yang diusulkan kepada semua kasus fraktur bikondilus tibia plateau yang
kompleks, terlepas dari adanya depresi artikular.
Salah satu keterbatasan dalam penelitian ini adalah bahwa kualitas reduksi
permukaan artikular dan keselarasan tibial dievaluasi dengan menggunakan penilaian
visual terhadap radiografi intraoperatif dan radiografi pasca-operasi. Karena pemulihan
artikular dan malalignment yang tidak adekuat dapat menggangu fungsi dan hasil
jangka panjang, maka kita perlu untuk mengukur dan memperbaiki parameter ini.
Parameter ini sebagian besar merupkan parameter intraoperatif, dan penilaiannya dapat
dilakukan dalam penelitian masa depan untuk mencapai hasil yang lebih baik [45].
Keterbatasan lain dari penelitian ini ialah analisis hasil yang tidak mengalami metode
pembutaan, tidak adanya kelompok pembanding yang dikelola dengan teknik operasi
konvensional, dan durasi follow-up yang relatif singkat. Oleh karen itu dibutuhkan suatu
penelitian besar yang membandingkan teknik ini dengan teknik bedah lainnya dalam
jangka waktu yang lebih lama.
Penanganan pada fraktur bikondilus tibia plateau dengan intramedullary nailing
dan prosthesis condylar dengan pendekatan suprapatellar memerlukan pengalaman yang
baik sehubungan dengan tindakan intramedullary nailing ini. Oleh karena itu,
diperlukan pelatihan yang memadai sebelum melakukan teknik ini.

Kesimpulan

Penggunaan kombinasi antara intramedullary nailing dan prosthesis condylar


dapat menawarkan pilihan yang efisien dalam menangani fraktur bikondilus tibia
plateau dan dikaitkan dengan keuntungan yang spesifik. Langkah selanjutnya adalah
melakukan penelitian perbandingan klinis yang melibatkan teknik fiksasi konvensional
lainnya untuk mendapatkan validasi dan penilaian lebih lanjut terhadap teknik yang
telah dijelaskan dalam penelitian ini.

--

Christos Garnavos, MD, PhD1


1
Bagian Orthopedi, Rumah Sakit Umum "Evangelismos"
Athena, Yunani
Alamat e-mail untuk C. Garnavos: cgarn@otenet.gr