Anda di halaman 1dari 10

ARTIKEL

PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG IKAN RUCAH ( Trash fish )


TERHADAP KADAR PROTEIN DAN SERAT KASAR PADA PEMBUATAN
TEMPE IKAN SERTA IMPLEMENTASI UNTUK LKS BERBASIS
BIOENTREPRENEURSHIP

Oleh
MOHAMAD YASIN
13320052

PROGRAM STUDI PENDIDIKAN BIOLOGI


FAKULTAS PENDIDIKAN MATEMATIKA DAN ILMU PENGETAHUAN
ALAM DAN TEKNOLOGI INFORMASI
UNIVERSITASPGRI SEMARANG
2017
PENGARUH PENAMBAHAN TEPUNG IKAN RUCAH ( Trash fish )
TERHADAP KADAR PROTEIN DAN SERAT KASAR PADA PEMBUATAN
TEMPE IKAN SERTA IMPLEMENTASI UNTUK LKS BERBASIS
BIOENTREPRENEURSHIP

Mohamad Yasin

Jurusan Pendidikan Biologi Fakultas Pendidikan Matematika, Ilmu Pengetahuan Alam dan
Teknologi Informasi Universitas PGRI Semarang
Jln. Lontar Nomor 1 (Sidodadi Timur) Telepon (024) 8316377 Fak. (024) 8448217
Semarang–50125
Email : yassinbio95@gmail.com

ABSTRAK

Kecukupan gizi saat ini merupakan masalah yang perlu mendapatkan perhatian yang cukup
serius. Salah satu usaha dalam mengurangi masalah kekurangan gizi adalah memperkenalkan
makanan bergizi yang terjangkau oleh masyarakat dan dapat diterima oleh konsumen yaitu
tempe ikan. Tujuan penelitian ini adalah mengetahui kadar kandungan protein dan serat kasar
pada tempe ikan hasil perlakuan variasi konsentrasi tepung ikan rucah (Trash fish) serta
implementasi untuk LKS berbasis bioentrepreneurship. Penelitian ini menggunakan
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang terdiri atas 4 perlakuan yaitu (P0) 0 gram tepung ikan,
(P1) 5 gram tepung ikan, (P2) 10 gram tepung ikan (P3) 15 gram tepung ikan, masing-masing
dengan 250 gram kedelai dan 0,5 gram ragi dengan 3 kali ulangan. Data yang diperoleh
dianalisis dengan Analisis of Variance (ANAVA), dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda
Duncan (UJGD).Hasil analisis data pada kadar protein menunjukkan bahwa Fhitung (334,603)
> Ftabel (5%) (3,50) dan > Ftabel 1% (5,95) sehingga pengaruh penambahan tepung ikan rucah
terhadap tempe ikan signifikan pada taraf 5% dan 1%. Sedangkan hasil analisis data kadar
serat kasar menunjukkan bahwa Fhitung (42,919) > Ftabel (5%) (3,50) dan > Ftabel 1% (5,95),
sehingga pengaruh penambahan tepung ikan rucah terhadap tempe ikan signifikan pada taraf
5% dan 1%.Hasil maksimum untuk kadar protein terdapat pada perlakuan P3 yaitu ( X =
26,86 %) dan untuk kadar serat kasar terdapat pada perlakuan P0 yaitu ( X = 3,80 %).
Kesimpulan dari penelitian ini adalah bahwa penambahan tepung ikan rucah berpengaruh
terhadap kadar protein dan serat kasar tempe ikan dan dapat dijadikan implementasi LKS
berbasis bioentrepreneurship.

Kata kunci :Tepung Ikan,Protein,Serat Kasar,LKS Berbasis Bioentrepreneurship.


THE LEVELS OF PROTEIN AND CRUDE FIBER IN THE MANUFACTURE
OF TEMPEH FISH AND IMPLEMENTATION BASED LKS
BIOENTREPRENEURSHIP

Mohamad Yasin

Biology Education Department Faculty of Mathematics, Natural Sciences and Information


Technology University of PGRI Semarang
Jln. Lontar Nomor 1 (Sidodadi Timur) Telepon (024) 8316377 Fak. (024) 8448217 Semarang – 50125
Email : yassinbio95@gmail.com

ABSTRACT

Nutritional adequacy is now a problem that needs serious attention. One attempt to reduce
the problem of malnutrition is introducing affordable nutritious foods by society and be
accepted by consumers as tempe fish. The purpose of this study was to determine the levels of
protein and crude fiber in tempeh fish treatment results varying concentrations of trash fish
flour (Trash fish) as well as for the implementation based bioentrepreneurship worksheets.
This study uses a completely randomized design (CRD), which consists of 4 treatments, (P0)
0 grams of fish meal, (P1) 5 grams of fish meal, (P2) 10 grams of fish meal (P3) 15 grams of
fish meal, each with 250 grams of soybeans and 0.5 grams of yeast with 3 repetitions. Data
were analyzed by Analysis of Variance (ANOVA), followed by Duncan Multiple Range Test
(UJGD). The results of the data analysis showed that the protein content of Fcount (334.603) >
Ftable (5%) (3.50) and > Ftable 1% (5.95) so that the effect of adding flour trash fish to fish
tempeh significant at the 5% level and 1%. While the results of data analysis showed that the
crude fiber content of Fcount (42.919) > Ftable (5%) (3.50) and > Ftable 1% (5.95), so that the
effect of adding flour trash fish to a significant extent tempeh fish 5% and 1%. The maximum
yield for protein content that is contained in the treatment P3 (X= 26.86%) and for crude
fiber content that is contained in the treatment P0 (X = 3.80%). The conclusion from this
study is that the addition of trash fish flour affect the levels of protein and crude fiber tempeh
fish and can be used as implementation based bioentrepreneurship worksheets.

Keywords : Fish Meal, Protein, Crude Fiber, LKS Based Bioentrepreneurship.


PENDAHULUAN
Ikan rucah adalah ikan-ikan yang meningkatkan konsumsi ikan pada
berukuran kecil dan merupakan kumpulan masyarakat dan juga bertujuan untuk
dari berbagai ikan, antara lain ikan membiasakan rasa ikan sejak usia dini.
tembang (Sardinella sp.),ikan selar (Selar Indonesia mempunyai potensi yang besar
sp.), ikan lemuru (Sardinella lemuru), dalam memproduksi tepung ikan karena
ikan petek (Leiognathussplemdens), ikan mempunyai banyak sumber ikan murah,
kembung (Restrelliger sp.), ikan kuniran produksi ikan pada musim – musim
(Upenus sulphureus), dan ikan mata besar tertentu berlimpah dan sebagian besar sisa
(Thunnusobesus) (Kaswinarni, 2015). Ikan hasil pengolahan ikan belum dapat
yang ditemukan di Tempat Pelelangan memanfaatkan sebagaimana mestinya.
Ikan (TPI) Semarang Timur antara lain Selama ikan masih bisa dimakan, ikan
ikan tembang (Sardinellasp.), ikan selar layak diolah menjadi bahan makanan yang
(Selarsp.), ikan lemuru (Sardinella dapat bermanfaat dalam pembuatan
lemuru), ikan petek (Leiognathus berbagai produk pembuatan makanan
splemdens), ikan kembung ( Restrelliger sehingga dapat menambah kandungan
sp.). Ikan rucah ini pada Tempat nilai gizi, meningkatkan nilai
Pelelangan Ikan (TPI) Semarang Timur ekonomisnya dan juga dapat
jumlahnya melimpah dan kurang diminati memperpanjang masa simpannya jika
oleh konsumen sehingga biasanya dijual dilakukan penyimpanan dengan baik.
dengan harga rendah atau bahkan dibuang Penambahan tepung ikan pada pembuatan
oleh nelayan, sehingga sampai saat ini tempe ikan dalam penelitian ini
ikan rucah masih dianggap ikan diharapkan dapat menambah nilai gizi
mempunyai nilai ekonomis rendah. terutama proteinnya pada tempe ikan yang
Walaupun demikian, ikan rucah masih dihasilkan, serta diharapkan dapat
mengandung gizi seperti protein yang menambah variasi rasa atau cita rasa pada
dapat digunakan sebagai sumber bahan tempe ikan yang ada.
pangan yang bermanfaat dengan nilai Tempe merupakan makanan yang
ekonomis yang tinggi. Upaya dihasilkan dari proses fermentasi kapang
penganekaragaman untuk memenuhi golongan Rizhopus oligosporus.
kebutuhan pangan masyarakat, maka salah Pembuatan tempe membutuhkan bahan
satu usahanya adalah memanfaatkan ikan baku kedelai, melalui proses fermentasi,
rucah menjadi tempe ikan. Untuk komponen – komponen nutrisi yang
terciptanya sumberdaya perikanan yang kompleks pada kedelai dicerna oleh
berkualitas dan memiliki peningkatan gizi kapang dengan reaksi enzimatis dan
terutama proteinnya, maka sumberdaya dihasilkan senyawa – senyawa yang lebih
tersebut dapat diolah menjadi berbagai sederhana (Cahyadi, 2007).
macam tepung melalui berbagai proses Kedelai (Glycine max (L.) Merr)
pengolahan (Haryati dkk, 2006), salah merupakan sumber protein nabati yang
satunya yaitu tepung ikan rucah. Tepung sangat penting dalam kehidupan. Protein
ikan adalah produk padat yang dihasilkan yang terdapat pada kedelai yaitu sebesar
dengan jalan mengeluarkan sebagian air 35%, bahkan pada varietas unggul
dan sebagian lemak atau seluruhnya dalam memiliki kadar protein yang tinggi sekitar
atau sisa ikan (Latif, 2006). 40-43%. Dibandingkan dengan beras,
Pemanfaatan daging ikan untuk jagung, tepung singkong, kacang hijau,
pembuatan tepung ikan ini dapat daging dan telur ayam. Kedelai
mempunyai kandungan protein yang lebih kemampuan berwirausaha serta
tinggi, hampir menyamai kadar protein menumbuhkan minat kewirausahaan siswa
susu skim kering (Cahyadi, 2007). Di dalam membangun minat kewirausahaan
Indonesia, sekitar 90% kedelai diolah berarti memadukan kepribadian, peluang,
sebagai bahan pangan didominasi oleh keuangan, dan sumber daya yang ada
tempe (sebanyak 50%) dan sisanya diolah dilingkungan.
menjadi tahu, oncom, susu kedelai, serta Berdasarkan latar belakang tersebut,
kecap (Faostat, 2005 dalam Ginting dkk, penting dilakukan penelitian pengaruh
2009). penambahan tepung ikan terhadap kadar
Penelitian ini dapat diaplikasikan protein dan serat kasar pada pembuatan
kedalam materi pembelajaran siswa SMA tempe ikan serta dapat diaplikasikan
dengan disesuaikan pada materi kedalam materi pembelajaran SMA pada
Bioteknologi khususnya pada contoh materi Bioteknologi, maka perlu adanya
bioteknologi konvesional. Sehingga diuji cobakan dalam penelitian mengenai
dengan adanya inovasi makanan seperti berbagai konsentrasi tepung ikan yang
ini, diharapkan dapat menuntun siswa diberikan pada tempe pada pembuatan
menghasilkan suatu produk yang dapat tempe ikan.
mengembangkan kreativitas siswa dalam
berwirausaha yang disampaikan melalui
praktikum sehingga dapat meningkatkan
ketrampilan proses menjadi lebih baik.
Kegiatan ini bertujuan untuk melatih

METODE PENELITIAN
a. Subyek pembuatan tepung ikan yaitu Ikan rucah.
Penelitian ini akan dilaksanakan di Bahan yang digunakan dalam pembuatan
Laboratorium Biologi Universitas PGRI tempe yaitu Kedelai, Ragi, Tepung Ikan,
Semarang pada bulan September 2016 – Air.
Desember 2016. Adapun yang menjadi
subjek penelitian adalah modifikasi tempe c. Metode
dengan campurantepung ikan rucah. Pada penelitian ini menggunakan
Alasan peneliti memilih tepung ikan jenis exsperimental yang di gunakan
rucah, karena ikanrucah itu sendiri nilai adalah Rancanga Acak Lengkap (RAL)
ekonomisnya rendah. Peneliti berupaya pada uji kandungan protein dan
untukmeningkatkan nilai ekomis ikan kandungan serat kasar. Pada uji
rucah tersebut. Serta akan kandungan protein dan serat kasar
mengimplementasikannya dalam bentuk menggunakan RAL hal ini dikarenakan
LKS berbasis bioentrepreneurship. media eksperimen yang dilakukan
homogen. Desain ini umumnya digunakan
b. Alat dan Bahan pada eksperimen skala laboratorium,
Alat yang digunakan yaitu Blender, rumah kaca, kandang ternak. Karena
oven, tampah besar, ember, plastik, media eksperimen homogen, maka
pengaduk kayu, panci, baskom, kain, perbedaan terjadi hanya disebabkan
kompor gas, tampah besar, keranjang, dan pengaruh perlakuan, dan pengaruh acak
timbangan. Bahan yang digunakan dalam saja, dengan demikian variasi total hanya
terdiri dari variasi perlakuan dan variasi tepung ikan, (P1) 5 gram tepung ikan, (P2)
acak. Pada RAL setiap perbedaan diantara 10 gram tepung ikan (P3) 15 gram tepung
satuan percobaan yang mendapat ikan, masing-masing dengan 250 gram
perlakuan yang sama dinyatakan sebagai kedelai dan 0,5 gram ragi dengan 3 kali
galat percobaan (Gomez K.A dan Gomez ulangan. Data yang diperoleh dianalisis
A.A, 1995). dengan Analisis of Variance (ANAVA),
Penelitian ini menggunakan dilanjutkan dengan Uji Jarak Ganda
Rancangan Acak Lengkap (RAL) yang Duncan(UJGD).
terdiri atas 4 perlakuan yaitu (P0) 0 gram

HASIL DAN PEMBAHASAN

A. Data Kadar Protein itu, disebabkan karena bahan – bahan


Berikut Data kadar protein dari kimia organik seperti asam amino yang
penelitian ini, menunjukkan bahwa kadar terkandung pada tepung ikan dapat
protein memberikan pengaruh nyata digunakan secara optimal oleh bakteri
setelah diberi perlakuan dengan Rhizopus sp untuk biosintesis protein
pemberian tepung ikan sebanyak 5 gram. selnya sehingga bakteri tersebut dapat
Kadar protein semakin meningkat pada tumbuh dan berkembang. Hal ini sesuai
pemberian tepung ikan sebanyak 10 gram dengan pernyataan (Ghufran, 2010) bahwa
dan 15 gram. Hal ini diperkuat dari hasil tepung ikan rucah secara umum dianggap
analisis tepung ikan yang diujikan di sumber protein paling baik, karena
Universitas Diponegoro UPT memiliki sederet asam amino esensial.
Laboratorium Terpadu, karena sebelum Perubahan struktur protein yang
dicampurkan dalam pembuatan tempe, ditimbulkan oleh panas dikenal sebagai
tepung ikan memiliki banyak kandungan denaturasi. Pengaruh panas terjadi pada
protein yaitu sebanyak 2,214%. semua protein globular, tanpa memandang
Peningkatan kadar protein pada ukuran dan fungsi biologinya, namun suhu
pemberiantepung ikan sebanyak 5 gram, yang tepat untuk fenomena ini bervariasi
10 gram dan 15 gram disebabkan adanya (Lehninger, 1995). Berdasarkan adanya
proses fermentasi yang dilakukan oleh faktor – faktor yang mempengaruhi
inokulum yaitu Rhizopus sp. Fermentasi tersebut, maka didapatkan perbedaan hasil
dapat terjadi karena adanya aktivitas peningkatan kadar protein pada tempe
mikrobia penyebab fermentasi pada ikan.
substrat organik yang sesuai. Terjadinya
fermentasi ini dapat menyebabkan B. Data Kadar Serat Kasar
perubahan sifat pangan, sebagai akibat Hasil penelitian menunjukkan
dari pemecahan kandungan bahan pangan kandungan serat kasar dalam tempe ikan
tersebut (Silvia, 2009). pada pemberian tepung ikan 0 gram,5
Peningkatan kadar protein gram, 10 gram, dan 15 gram, semakin
disebabkan karena semakin tinggi besar konsentrasi makan serat kasar akan
konsentrasi tepung ikan yang digunakan, semakin menurun, hal ini dikarenakan saat
maka asam fitat yang diuraikan pengolahan bahan tepung ikan kurang
(didegradasi) akan semakin banyak. Selain terjaga.Menurut Rasyaf (1994), kualitas
tepung ikan bervariasi berdasarkan macam dan kadar serat kasar tempe pun
ikan dan bagian mana yang dimasukkan jumlahnya tetap (tidak berbeda nyata).
ke dalam tepung ikan itu. Faktor yang Menurunnya kandungan serat kasar pada
membedakan kadar serat kasar yaitu asal kedelai terfermentasi disebabkan pada
usul tepung ikan, jenis ikan dan proses penelitian ini mengandung zat kitin pada
pembuatan tepung ikan. Sesuai dengan sisik ikan. Kitin termasuk kedalam
(Khomsan, 2004), bahwa penurunan kadar kelompok serat dari hewan yang memiliki
pangan diduga karena penanganan bahan struktur mirip selulosa. Kitin merupakan
pangan yang dapat menyebabkan zat anti bakteri, efektif dalam
terjadinya perubahan nilai gizinya. Zat menghambat pertumbuhan bakteri, hal ini
gizi yang terkandung dalam bahan pangan disebabkan karena kitin memiliki
akan rusak pada sebagian besar proses polikation alami yang mampu
pengolahan, karena sensitif pH, oksigen, menghambat pertumbuhan bakteri dan
sinar, dan panas atau kombinasi kapang. Kitin memiliki sifat-sifat yang
diantaranya. Khususnya dalam produksi dapat menghambat pertumbuhan
selama pengolahan banyak mengalami mikroorganisme perusak. Mekanisme
perubahan - perubahan, baik perubahan kerja kitin bisa membunuh bakteri, dengan
yang diharapkan maupun yang tidak cara mengikat organisme patogen dengan
diharapkan. Perubahan –perubahan polikation bermuatan positif
tersebut sebagian besar terjadi akibat (Hirano,1990).
adanya reaksi kimia didalam bahan-bahan
pangan ataupun pengaruh lingkungan C. Implementasi Hasil Penelitian
(Winarno, 2002). dalam LKS Berbasis
Proses pengeringan pada produk Bioentrepreneurship
pangan juga akan mempengaruhi
penurunan serat kasar pada tepung ikan Dari hasil penelitian yang telah
rucah. Hal ini sesuai dengan Winarno dilaksanakan, penelitian tentang pengaruh
(2002) yang menjelaskan bahwa makanan berbagai konsentrasi tepung ikan terhadap
yang dikeringkan memiliki nilai gizi yang kadar protein dan serat kasar dapat
lebih rendah dibandingkan bahan diimplementasikan melalui LKS biologi
segarnya. berbasis Bioentrepreneurship. LKS ini
Pada pembuatan tempe ikan, kadar akan memberikan bagaimana siswa
serat kasar mengalami penurunan disetiap diarahkan untuk melatih jiwa wirausaha
penambahan konsentrasi kemungkinan dengan membuat produk dan menjualnya.
karena pemberian tepung ikan rucah yang Penelitian ini dapat memberikan wawasan
membuat Rhizopus sp terhambat untuk ilmu pengetahuan kepada siswa secara
melakukan aktivitas dan bahkan kongkrit pada materi pelajaran makanan
mengalami kematian. Hal ini sesuai dan bioprosesnya bagi manusia. Guru
dengan (Sylvitria, 2010) bahwa penurunan perlu mengajak siswa untuk belajar
kadar serat kasar ataupun jumlah serat memanfaatkan kandungan gizi pada
kasar yang tidak berbeda nyata pada limbah ikan yang dibuang begitu saja oleh
tempe-tempe tersebut mengindikasikan para nelayan, salah satunya yaitu ikan
aktivitas Rhizopus sp. mulai terhambat rucah yang bila ditinjau dari segi gizinya
atau terhenti sehingga tidak terjadi proses masih memiliki gizi yang dapat diperlukan
pembentukan miselia, oleh karena itu bagi tubuh manusia, maka dari itu perlu
jumlah selulosa pada dinding sel hifa tetap pemanfaatan agar tidak dibuang begitu
saja, sehingga guru menuntun siswa agar mendiskusikan dan mengalisis
dapat mengetahui informasi dan dapat permasalahan berdasarkan data tersebut,
memanfaatkan bahan baku ini menjadi untuk menyampaikan argumen kepada
sebuah produk suatu produk makanan masing – masing kelompok harus disertai
salah satunya membuat tempe ikan kepada bukti warrant (penjamin). Hasil
siswa. Maka dari itu penelitian ini dapat pembelajaran ini diharapkan siswa
dijadikan sebagai alternatif perencanaan memiliki hand out dan mind out yang
implementasi dalam pembelajaran biologi, mampu untuk mencapai tujuan
yaitu pada kelas XII Semester 2 dengan pembelajaran yaitu memecahkan suatu
standar kompetensi dan kompetensi dasar: masalah.
SK : 5. Memahami prinsip – prinsip Setelah siswa menyampaikan
dasar bioteknologi serta implikasinya pada argumentasinya guru memperkuat gagasan
Salingtemas siswa dengan menyampaikan beberapa
KD : 5.2 Menjelaskan dan contoh produk makanan. Untuk pertemuan
menganalisis peran bioteknologi serta selanjutnya siswa ditugaskan untuk
implikasi hasil hasil bioteknologi melakukan praktik dirumah untuk
Salingtemas membuat tempe ikan dan membuat produk
Implementasi pembelajaran disekolah olahan tempe ikan tersebut yang memiliki
yaitu dengan memberikan siswa informasi nilai jual dipasaran. Penerapan penelitian
tentang hasil penelitian pengaruh dalam pembelajaran, guru harus
pemberian tepung ikan terhadap kadar mempersiapkan perencanaan seperti RPP
protein dan serat kasar pada pembuatan dan LKS sehingga pembelajaran akan
tempe ikan yang disajikan dalam Lembar terkondisi secara maksimal.
Kerja Siswa (LKS). Dalam pembelajaran
ini guru menggunakan pendekatan KESIMPULAN
inquiry, dan memerintahkan siswa untuk
membuat beberapa kelompok untuk Berdasarkan hasil penelitian
berdiskusi, sehingga siswa diharapkan kandungan protein dan serat kasar pada
dapat menemukan konsep sendiri dengan pembuatan tempe ikan dengan berbagai
cara diberikan beberapa permasalahan konsentrasi tepung ikan rucah,
untuk diselesaikan secara berkelompok. menunjukkan bahwa :
Metode yang digunakan dalam
pembelajaran ini adalah diskusi dan tanya 1. Penambahan konsentrasi tepung ikan
jawab dengan menggunakan model pada tempe ikan menunjukkan bahwa
Problem Based Learning (PBL). Dimana setiap kenaikan konsentrasi tepung
guru memberi permasalahan yang ikan rucah berpengaruh terhadap
disajikan pada Lembar Kegiatan Siswa kenaikan kandungan protein dan
(LKS) untuk diselesaikan dengan cara penurunan kandungan serat kasar.
diskusi kelompok, sintaks dalam 2. Hasil maksimum untuk kadar protein
pembelajarannya yaitu penerapan model terdapat pada perlakuan P3 yaitu ( X =
pembelajaran yang diawali dengan 26,86 %) dan untuk kadar serat kasar
mengorientasi masalah dengan terdapat pada perlakuan P0 yaitu ( X =
memberikan informasi tentang hasil 3,80 %).
penelitian pengaruh pemberian tepung 3. Implementasi hasil penelitian dalam
ikan terhadap kadar protein dan serat kasar pembelajaran Biologi pada penelitian
pada tempe ikan, setelah itu siswa kadar protein dan serat kasar pada
tempe ikan dengan berbagai
konsentrasi tepung ikanberupa LKS Kaswinarni, F. 2015. Aspek gizi,
berbasis Bioentrepreneurship pada mikrobiologis, dan
materi Bioteknologi SMA kelas XII organoleptik tempura ikan
semester 2. rucah denganberbagai
konsentrasi bawang putih
DAFTAR PUSTAKA
(Allium sativum). Universitas
Cahyadi Wisnu. 2007. Kedelai Khasiat PGRI Semarang. Pros Sem
dan Teknologi. Jakarta : Bumi Nas Masy Biodiv Indon 1 (1):
Aksara. 127-130.

Ghufran H.M. 2010.Budi Daya Ikan Khomsan, A. 2004. Peranan Pangan


Lele di Kolam Terpal. dan Gizi untuk Kualitas
Yogyakarta : Lily Publisher. Hidup. Jakarta : PT.
Gramedia Widiasarana.
Ginting, Erliana, Sri Satya Antarlina,
Sri Widowati. 2009. Varietas Latief Fauzan. 2006. Karaktristik Sifat
Unggul Kedelai untuk Bahan Fisik Tepung Ikan serta
Baku Indrustri Pangan. Tepung Daging dan Tulang.
http://pustaka.litbang.deptan.g http://repository.ipb.ac.id/bitst
o.id/publikasi/p3283091.pdf. ream/handle/123456789/3266
5/D06fla.pdf?sequence=1.
Gomez. K.A dan Gomez A.A.
1995.ProsedurStatistikuntukP Lehninger, L.A. 1995. Dasar – dasar
enelitianPertanian.Jakarta : Biokimia Jilid I. Jakarta :
UI Press. Erlangga.

Haryati, S., L. Sya’ranidan T.W. Rasyaf. 1994. Makanan Ayam Broiler.


Agustini. 2006. Kajian Kanisius: Yogyakarta.
Substitusi Tepung Ikan
Kembung, Rebon, Rajungan Silvia, I. 2009. Pengaruh Penambahan
dalam Berbagai Konsentrasi Variasi Berat Inokulum
terhadap Mutu Fisika- Terhadap Kualitas Tempe Biji
Kimiawi dan Organoleptik Durian (Durio zibhetinus).
pada Mie Instan. Jurnal Pasir Skripsi Departemen Kimia
Laut. Fakultas 81 Matematika dan
Ilmu Pengetahuan Alam.
Hirano. 1990. Production and Universitas Sumatera Utara.
Application of Chitin and Medan.
Chitosan in Japan. Dept of
Agricultural Biochemistry. Sylvitria,W. 2010. Pengaruh Lama
Tottori, Japan. Fermentasi terhadap Kadar
Serat Kasar dan Aktivitas
Antioksidan Tempe Beberapa
Varietas Kedelai (Glycine
sp.). Skripsi. Universitas
Negeri Sebelas Maret : Solo.

Winarno.F.G. 2002. Kimia Pangandan


Gizi I .Jakarta : Gramedia
Pustaka Utama.